
Yuki memutuskan mengirim Dazai dengan Je keluar dari markas setelah memastikan pelarian Akashi.
Lewat kamera cctv yang tersembunyi Yuki, Mizutani, dan Ogura mengawasi dari dalam markas.
Terlihat Dazai sedang mengintip dari dalam toko. Toko yang sudah tutup di jam larut seperti ini membuat Dazai tidak terlihat dari luar. Je bergerak cepat dan tak terlihat seperti biasanya, mendekat ke tempat kejadian.
Layar komputer menunjukkan apa yang burung hantu itu lihat. Tempat di sekitar toko sudah sepi. Je bergerak dalam kegelapan bayang-bayang gedung, terus naik ke atas.
Tidak di duga posisi Chibi, Ame, dan anggota BIN berada di tempat yang berbeda. Je menemukan Chibi sedang tergeletak di belakang atap toko bersama Ame yang terus menekan perut pria itu.
Layar bergerak menunjukkan tempat BIN berada yang tidak jauh dari toko. Ke empat anggota BIN sedang menghadapi anak buah Youtaro Taiki. Perang tembakan terjadi diantara kedua kubu. Yuki menyimpulkan Chibi mendapatkan peluru nyasar saat hendak kembali ke markas.
"Dai chan, pertempuran mereka akan berlangsung lama, jangan menunggu. Segera bawa Chibi san ke rumah sakit, aku akan melakukan sesuatu kepada kedua kubu." Titah Yuki.
Dazai mengangguk paham mendengar perintah Yuki dari alat di telinganya.
Dazai melirik keadaan di luar, ia harus bergerak tanpa orang-orang itu sadari. Tempat pertempuran dengan toko cukup terbuka memungkinkan mereka melihat bayangan seseorang keluar/masuk ke dalam toko.
Dazai seperti bayangan yang bergerak di dalam bayangan, melompat keluar lewat jendela. Tangannya langsung merangkak naik ke atap. Satu detik kemudian terdengar suara sirine pemberitahuan bahaya gempa bumi dari pusat kontrol terdekat, mengaum keras memberitahukan warga untuk keluar dari rumah masing-masing melakukan penyelamatan diri berkumpul di tempat yang sudah tersedia yang di peruntukan untuk pengungsian terbuka jika ada bencana alam gempa bumi.
Dazai yang langsung mengerti rencana Yuki segera meraup Chibi menggendongnya di atas punggung dan berlari masuk ke dalam rombongan kecil warga. Lain dengan Ame, wanita itu berlari cepat mempersiapkan mobil di ujung jalan. BIN dan anak buah Youtaro Taiki segera berpencar menghentikan pertarungan mereka dengan berat hati, membaur dengan warga yang lain lalu diam-diam memisahkan diri.
"Menyebalkan." Gerutu Yuki menatap anggota BIN pada layar komputer.
"Ogura san tolong jemput Je ke dalam markas." Pinta Yuki.
"Baik ojou sama." Ogura segera menjalankan tugasnya.
"Bagaimana menurutmu keadaan Chibi?." Tanya Mizutani.
"Buruk, tapi kita tepat waktu. Dai chan akan menolongnya. Chibi san akan baik-baik saja." Jawab Yuki yakin.
Mereka berdua berjalan ke meja rapat. Suara pintu berdesing terbuka. Je segera melayang menghampiri Yuki. Mizutani menatap lamat-lamat burung hantu itu.
"Bagaimana anda mencari semua informasi itu?, melakukan peretasan di luar jepang begitu mudahnya?, apa yang di lakukan burung hantu ini?." Mizutani resah akan keberadaan Je, begitu juga dengan para bayangan dan Daren.
"Aku mengerti ketakutan kalian. Je sama berbahayanya dengan alat yang aku ciptakan puluhan tahun yang lalu." Yuki membuka telapak tangannya membiarkan Je mendarat di sana.
"Jangan khawatir, Je dan aku adalah satu. Jika aku mati nanti, Je akan ikut bersamaku. Je tidak bisa hidup jika aku tidak hidup." Yuki memberitahukan rahasia terbesarnya.
"Tsuttsun, Ogura san." Keduanya langsung berdiri di depan kursi masing-masing.
"Ya, ojou sama?." Jawab keduanya serempak melihat Yuki dalam mode serius.
"Jaringan seluruh negara di lima benua berada dalam genggamanku. Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau, yang berbahaya di sini bukanlah Je atau pun alat itu, melainkan keberadaanku sendiri." Mizutani dan Ogura tidak dapat berkata-kata, karena yang Yuki katakan adalah benar.
"Je tidak bisa bergerak sendiri tanpa kode, fitur pendukung yang aku tanamkan. Aku memberikan otak ke dua pada Je. Tidak. Sebenarnya aku memiliki tiga otak." Yuki melirik Je yang seperti benda mainan itu.
"Jadi jangan mengkhawatirkan Je. Sekarang, informasi apa lagi yang kalian miliki?." Tanya Yuki seraya duduk di kursinya memberikan kode untuk Mizutani dan Ogura melakukan hal yang sama.
"Perempuan yang di sekap Hiza, kondisinya memburuk. Ia tidak mau makan atau pun minum selama tiga hari ini." Lapor Ogura.
"Kenapa tidak melapor langsung padaku?." Tanya Yuki.
"Kami mengkhawatirkan kemungkinan sinyal jaringan anda bisa terlacak oleh klan naga putih." Jawab Ogura.
"Kemampuan meretas mereka memang sangat luar biasa tapi belum sebanding denganku. Apa kalian masih ragu?." Yuki melirik Ogura.
"Berarti anda sudah menemukan markas klan naga putih?." Sambung Mizutani mencoba mendapatkan informasi lain dari Yuki.
"Ya, aku tahu dimana markas mereka. Dan kamu berpikir kenapa kita tidak langsung menyerang?, kenapa mengulur waktu?." Ucap Yuki santai.
"Jawabannya mudah." Yuki menyangga dagunya dengan satu tangan, menatap datar Mizutani.
"BD tidak berada di markas klan naga putih mana pun. Dia menyembunyikan dirinya dengan metode tradisional. Berkamuflase lebih cerdas dari iblis itu." Jelas Yuki.
"Dan semua yang kami lakukan semata-mata untuk memancing BD keluar?." Tebak Ogura.
"Tepat." Jawab Yuki.
"Aku akan menyusul Hiza, sedikit mencuci otak wanita itu agar lebih menurut." Yuki memutuskan lalu tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
"Sulit untuk lepas dari Hotaru. Seharusnya aku memenangkan pertandingan tadi siang." Gumam Yuki.
"Mau aku bantu?." Yuki melirik Je.
"Tidak."
"Kita pergi akhir bulan ini. Aku akan mengirimkan Hiza suntikan nutrisi, untuk memperpanjang hidup wanita itu beberapa minggu ke depan." Jelas Yuki.
"Ojou san." Yuki melirik Mizutani.
"Bagaimana dengan FBI dan badan intelejen lainnya?. Jojo mengirimkan laporan, mereka sedang berdatangan ke jepang." Yuki menegakkan tubuhnya.
"Penyerangan di hongkong yang dilakukan oleh iblis itu akan menarik perhatian mereka. Pastinya tujuan mereka pun berubah ke sana." Jawab Yuki.
"Boleh kami tahu rencana anda sebenarnya?." Tanya Ogura berhati-hati.
"Aku sedang berlomba dengan iblis itu. Mencari BD. Kamu sudah melihat sendiri bukan. Iblis menggunakan cara yang sama. Berkamuflase. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Karena itu aku membutuhkan kalian." Jelas Yuki.
"Kepergian anda menyusul Hiza akan sangat beresiko." Ogura mengungkapkan pikirannya.
"Menyuntikkan nutrisi ke dalam tubuh wanita itu secara terus menerus pun tidak baik bagi kesehatannya. Aku bukan psikopat atau orang yang haus darah. Wanita itu juga manusia." Balas Yuki tegas.
"Laporan lainnya?." Imbuh Yuki menahan rasa kesal.
"Kelompok mafia china mencoba menghancurkan perusahaan Shejin." Yuki mengerutkan kening mendengar laporan itu.
"Apa ayah kebobolan atau apa?." Mizutani menggelengkan kepalanya pelan.
"Data base perusahaan, mereka mengincarnya. Selain itu pergerakan mereka terasa ganjil, seakan data base perusahaan hanya pengalihan semata." Yuki berpikir.
"Nenek tahu?."
"Ya, nyonya besar sedang menangani kasus ini." Jawab Mizutani.
"Tsuttsun, apa ada yang terlewat olehku yang tidak aku ingat?." Yuki merasa ada beberapa potongan yang hilang.
"Karena itu saya mengajak anda kemari. Ogura, kita mulai." Tiba-tiba Mizutani dan Ogura berdiri dari duduk mereka mengambil sesuatu yang cukup besar membentangkannya di atas meja.
"Anda bisa membacanya?." Yuki terdiam.
"Apa ini?." Yuki ikut berdiri mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Peninggalan tetua yang tuan besar salin." Jawab Ogura.
"Ini mirip dengan, garis rencana penyerangan pelindung pada yakuza. Tapi kenapa setiap titik henti garis di tulis dengan simbol?. Sulit untuk membacanya, ini cukup rumit." Yuki mencondongkan tubuhnya lebih rendah, mengamati setiap garis.
"Bukankah anda bisa membaca yang seperti ini sebelumnya?." Tanya Mizutani.
"Ya, aku menghitung jumlah musuh yang mati mencoba menyambungkannya ke titik-titik tempat yang sudah di serang. Itu membantuku membacanya, tapi ini berbeda. Tunggu." Sergah Yuki cepat menatap Mizutani.
"Kamu bilang ini salinan milik kakek buyut. Lalu siapa yang membuat pola garis penyerangan yakuza tahun lalu?." Mizutani menjawab tanpa ragu.
"Hanya penerus langsung darah keluarga utama. Yang tidak lain adalah waka (tuan muda) sendiri." Yuki menutup matanya sejenak.
"Aku pikir sudah mengetahui semua rahasia klan. Lalu apa hubungannya ini dengan nenek?." Otak Yuki kembali bekerja.
"Lusi sama yang memegang alih kepemimpinan perusahaan-perusahaan di jepang, menggantikan tuan besar. Perusahaan di jepang memiliki sejarah masing-masing yang berhubungan dengan pemimpin-pemimpin klan sebelumnya." Yuki mendengarkan dengan serius.
"Tuan besar sudah mengantisipasinya sebelum tetua memberikan gulungan rahasia ini kepada cucu penerusnya. Tuan besar sudah menyalin ini dan menyimpannya untuk anda." Yuki semakin berpikir keras.
"Kakek buyut memberikan ini kepada iblis. Sedangkan kakek memberikannya kepadaku?. Masalahnya bukan pada kakek buyut?. Tsuttsun, kapan gulungan ini di berikan kepada iblis itu?."
"Satu hari setelah anda dan waka mendapatkan tato." Jawab Mizutani. Yuki masih tidak bisa menebak tujuan kakeknya.
"Apa kakek tidak pernah mengatakan tujuan dan rencananya melakukan semua ini?." Yuki menatap kembali garis-garis panjang yang memenuhi seluruh kertas.
"Tidak. Tidak ada yang tahu." Yuki menatap Ogura dan beralih kepada Mizutani.
"Apa alasan sebenarnya kalian di bentuk?." Tanya Yuki datar.
"Anda sudah tahu alasannya ojou sama. Karena kami di beri kesempatan untuk menggapai cita-cita kami, dengan syarat menjadi pelindung rahasia, bayangan." Mizutani mengingatkan.
"Bukan, aku merasa alasan itu hanya alibi kakek. Astaga, Tsuttsun!." Yuki terpekik kaget.
Kedua pria itu pun ikut terkejut. Yuki yang selalu tenang tiba-tiba terkejut oleh sesuatu.
"Kenapa aku sangat bodoh. Kenapa aku tidak terpikirkan sampai ke sana. Kenapa aku bisa melewati informasi penting ini. Yuki no baka! (Dasar Yuki bodoh!)." Gerutu Yuki menyalahkan kebodohannya.
"Ojou san?." Panggil Mizutani khawatir melihat tingkah gadis itu. Yuki menatap lurus manik Mizutani.
"Youtaro san mengatakannya padaku. Dulu mereka masuk ke dalam kelompok yang sama, yakuza. Kakek masuk lebih dulu di susul oleh BD. Mereka memiliki usia yang terpaut tidak jauh atau mungkin sama. Dan satu tempat yang tidak pernah terpikirkan olehku untuk mencari BD di sana." Jelas Yuki, sementara waktu perhatiannya teralihkan dari gulungan di atas meja.
"Dimana?." Tanya Mizutani penasaran.
"Panti jompo. Tangan cacat, dan luka tembak di dada. BD tidak akan bertahan memiliki luka-luka itu untuk berkamuflase di luar." Jawab Yuki lirih. Lalu beralih menatap gulungan.
"Tempat." Ucap Yuki seraya menunjuk acak simbol aneh pada gulungan.
"Waktu." Yuki menggerakkan jarinya mengikuti garis.
"History (Sejarah)." Mizutani dan Ogura ikut memperhatikan gulungan.
"Semuanya ada di sini." Manik Yuki berbinar cerah.
"Meskipun aku tidak bisa membacanya. Tapi hanya untuk saat ini. Je, rekam isi gulungan." Titah Yuki.
Je melakukan tugasnya.
"Apa hubungannya panti jompo dan gulungan warisan tetua, ojou sama?." Tanya Ogura.
"Karena BD menggunakan nama klan yang sudah punah sejak jaman dahulu. Musuh jepang dulu bukan hanya dari luar, aku yakin ada juga musuh dari dalam." Yuki menjelaskan isi pikirannya.
"Dan itu bisa dikaitkan dengan selir kaisar pertama. Dimana aku bisa mendapatkan buku tentang sejarah mereka?." Sergah Yuki cepat. Mizutani tertegun dengan analisis cepat dan rinci dari Yuki.
"Pandora." Jawab Ogura lirih.
"Baik, aku tahu apa yang harus aku lakukan lebih dulu." Yuki kembali duduk.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan Shejin. Apa perlu aku ikut menanganinya?." Mizutani dan Ogura menggulung kembali gulungan besar itu.
"Bisakah anda membantu melindungi perusahaan Shejin secara diam-diam?." Pinta Mizutani.
"Aku akan melakukannya."
Pembicaraan berhenti karena Yuki langsung bertindak untuk menangani perusahaan Shejin lewat komputer. Gadis itu begadang sampai pagi. Dan tertidur di perjalanan kembali ke sekolah.
Yuki selalu sarapan di asrama, memakan hidangan yang Suzune masakan untuknya. Benar, Yuki melupakan niatnya untuk mengunjungi rumah lama, bertemu Masamune dan kucingnya.
Setelah sarapan dan melakukan kegiatan lainnya Yuki hampir saja terlambat latihan. Hotaru mendekatinya tanpa bertanya atau mengatakan apa pun, hanya berdiri di samping gadis itu.
Mereka berlatih seperti biasanya, Yuki juga melakukan rutinitas menejernya. Sayuri beberapa kali mengajaknya mengobrol, membantu, dan melindungi Yuki dari orang-orang yang berniat mendekati gadis itu.
Sampai pada waktu istirahat Yuki sudah di hadang oleh dua siswi dari klub cheerleaders, terlihat dari seragam yang mereka pakai.
"Mmmm ..." Sambung satunya.
"Apa yang kalian inginkan?." Srobot Sayuri. Yuki melirik gadis loli itu menegurnya.
"Maaf senpai." Ucap Sayuri lirih.
"Hachibara san." Yuki beralih kepada kedua siswi itu.
"Apa kalian di ancam Hazuki?." Tebak Yuki. Aneh rasanya sudah dua puluh detik dari waktu istirahat namun Natsume belum muncul dan membuat kehebohan seperti biasanya.
"Tidak, kami hanya di mintai tolong oleh Natsume senpai untuk menjemput Hachibara san." Itu sama saja, kalian pasti di ancam dulu olehnya, batin Yuki.
"Kemana?." Tanya Yuki.
"Lapangan tengah, di dekat lapangan sepak bola." Jelas anggota cheerleaders itu.
"Aku mengerti." Yuki berjalan mengikuti kedua siswi itu.
Hotaru yang melihat kembarannya pergi dengan siswi lain segera mengikutinya.
Yuki melihat banyak siswi dan siswa sekolah lain berkeliaran di sekolah lamanya. Ia juga mulai mendengar suara bising dari arah tempat yang ia tuju.
Ada apa?, kenapa ramai begini?, tadi pagi masih sepi-sepi saja, batin Yuki yang mulai merasakan perasaannya berubah tidak enak.
Waw, lirih Yuki dalam hati melihat kerumunan di depan matanya.
Sebuah panggung kecil dengan alat band lengkap beserta pemainnya. Yang membuat Yuki terkesan adalah kumpulan penonton. Yuki tidak menyangka klub band mantan sekolahnya seterkenal itu sampai mendapatkan banyak fans dari luar sekolah. Mereka bahkan mau repot-repot membuat spanduk beraneka bentuk bertuliskan nama-nama pemain band Natsume cs.
Apa ada festival?, batin Yuki.
"Ada pertandingan band setiap dua bulan sekali. Sekolah kita selalu menang, dan kali ini sekolah kita menjadi tuan rumahnya." Jelas salah satu siswi cheerleaders.
"Apa keuntungan pemenangnya?." Tanya Yuki. Kenapa ia baru tahu informasi penting ini.
"Tampil di acara musik remaja. Band sekolah kita yang selalu menang sudah mendapatkan kontrak dari perusahaan musik awal musim semi kemarin. Natsume san sangat terkenal sebagai penulis dan komposer lagu, ia dijuluki si jenius musik." Jelas siswi yang lain, penuh nada kekaguman.
Hmm, pantas saja banyak penggemar mereka berkumpul di sini, batin Yuki merasa bangga kepada Natsume.
"Setelah mendapatkan kontrak, sekolah kita tidak ikut serta dalam perlombaan lagi, mereka selalu menjadi bintang tamunya." Seterkenal itu?, batin Yuki.
"Agh, maaf. Kami bercerita terlalu panjang, ayo kita mendekat." Sergah mereka menunjuk barisan depan dari posisi mereka yang berada di samping panggung.
Yuki juga melihat anak-anak baseball berkumpul di barisan belakang tanpa seragam kebanggaan mereka, hanya menggunakan kaos dan celana training.
Apa yang mereka lakukan?, bukankah ada pertandingan hari ini?, batin Yuki. Ia langsung mengetik pesan kepada Mizutani.
Yuki menghentikan langkahnya sebelum sampai di depan panggung. Maniknya menangkap empat juri yang duduk di depan panggung. Yuki melirik sekilas kelompok band yang sedang tampil. Hambar, itulah yang di rasakan Yuki. Hatinya memang tidak mudah luluh bahkan oleh sebuah lagu.
Yuki membaca balasan Mizutani yang mengatakan tim baseball memenangkan pertandingan dengan skor telak, karena itu mereka pulang lebih cepat. Mizutani membiarkan anak asuhnya menikmati perlombaan untuk menyegarkan otak para pemain dari tekanan berat pertandingan.
Yuki kembali beralih menonton band selanjutnya. Tidak ada yang buruk hanya, ada yang kurang, pikir Yuki. Gadis itu berdiri sendiri di samping kerumunan penonton yang berteriak-teriak dan ikut bernyanyi.
Yuki sudah melihat tiga penampilan band yang berbeda-beda. Mendadak teriakan menggelegar dari para penonton mengiringi grup yang sedang menaiki panggung itu. Kehebohan yang lebih keras menyambut idola mereka. Mc acara juga lebih bersemangat melakukan pekerjaannya.
Ke empat juri berjalan ke pinggir kerumunan, duduk di bawah payung-payung untuk beristirahat menikmati makanan mereka sambil menonton.
Teriakan dari para kaum hawa dan kaum adam meneriaki nama teman Yuki yang satu itu. MC mempersilahkan band Natsume memulai pertunjukan. Gadis di atas panggung itu melempar senyum lebarnya kepada Yuki. Lalu dengan melodi pelan mengawali musiknya.
Yuki terkejut mendengar musik yang pernah ia dan Natsume buat di apartemen gadis itu. Seperti biasanya, musik Natsume dapat menyentuh hati Yuki, membawa gadis itu tenggelam ke dalam setiap melodi. Yuki menikmatinya.
Prok ... Prok ... Prok ... Prok ... Prok ...
Gemuruh tepuk tangan menutup penampilan Natsume. Yuki ikut bertepuk tangan membalas senyuman Natsume di atas panggung.
"Saya dengar kalian memiliki penampilan istimewa kali ini. Penampilan seperti apa yang ingin kalian tunjukan?." Tanya MC.
"Leader kami yang akan menjawabnya." Ucap si vokalis tahun ke dua yang menggantikan posisi sementara Yuki tahun lalu.
Natsume menerima mic dari panitia.
"Sebelum menjawabnya saya ingin memberitahukan kepada kalian sebuah rahasia." Natsume menatap para penonton.
"Lagu tadi pertama kalinya aku mainkan, untuk seorang teman yang memberikan kekuatan di dalam hidupku. Kami membuatnya bersama." Natsume mulai berkaca-kaca, Yuki menarik nafas berat.
"Sejujurnya dua tahun yang lalu aku sudah menyerah dengan musik."
"Aaaagghh ... Tidak boleeeehh!." Jerit fans Natsume.
"Aku kehilangan suaraku, aku tidak bisa bernyanyi lagi. Aku merasa hidupku sudah hancur saat itu juga dan memutuskan pergi ke tokyo meninggalkan orang-orang yang sudah mendukungku di kampung halaman." Penonton terdiam, suasana berubah sedih.
"Dengan bernyanyi aku merasa bebas, dengan bernyanyi aku merasa sangat bahagia, tidak bernyanyi sama saja." Natsume menggantung kalimatnya.
"Ketika aku sudah menyerah, aku bertemu dengannya." Natsume menahan suaranya agar tidak bergetar.
"Warna mata yang tidak biasa orang miliki itu menyihirku, mengirim ribuan serangan melodi yang menyerangku dalam sekejap, memberikan harapan lain, mengembalikan warna musik yang pernah hancur. Karena orang ini lah aku mulai bermusik lagi, mencoba melakukan posisi yang lain. Orang ini memberikan banyak warna di hidupku." Natsume mengulas senyum manis khas miliknya.
"Mendengar suaranya menyanyikan laguku seakan mengembalikan kebebasan dan kebahagiaanku yang pernah hancur."
"Aku sangat berterima kasih kepadanya. Aku ingin bermain musik bersama lagi. Dalam satu panggung, memainkan melodi yang sama."
Yuki menaikan satu alis, ia tahu apa yang akan di lakukan Natsume selanjutnya. Sebelum itu terjadi Yuki harus cepat pergi.
Baru saja Yuki membalikan badan ia sudah di hadang sebaris manusia yang sangat ia kenal. Ueno, Honda, dan teman-teman satu kelasnya dulu. Yuki tersenyum kecil karena berhasil terperangkap jebakan mereka. Tidak terpikirkan olehnya mereka berkomplot menghalangi Yuki untuk kabur.
Yuki dengan santai berjalan mendekat. Ueno dan yang lainnya langsung bergerak merapat membuat penghalang kuat. Terlihat anak-anak klub band yang tidak ikut naik ke atas panggung juga membuat barisan lain di belakangnya. Yuki merasa menjadi seorang buronan yang hendak kabur.
Seulas senyum tulus terukir di wajah cantiknya, mengejutkan mereka.
"Jangan lengah." Ucap Ueno menyadarkan teman-temannya. Yuki hampir tertawa mendengar itu. Memutar bola mata dan.
Srek.
Yuki mengganti jalur kabur, ia berlari ke samping. Tiga orang sudah menghadang Yuki, gadis itu dengan mudah berkelit lolos. Namun keberuntungannya sedang di uji saat itu, ia di hadapkan dengan rombongan tim volinya yang tiba-tiba berjalan ke arah berlawanan. Yuki berpikir cepat, ia tidak bisa memelankan kecepatannya atau ia akan tertangkap, ia juga tidak bisa menghindar karena mereka berjalan berjejer.
Yuki mengambil keputusan. Ia langsung menatap manik Yuto libero di tim, posisi pemuda itu berada tepat di depan Yuki membuat Yuto sangat terkejut akan kedatangan gadis bermanik biru itu yang tiba-tiba muncul tepat di hadapannya. Yuki mengangkat satu telunjuknya meletakkannya di depan mulut. Dan.
Grep.
Woooossshhh.
Yuki memegang pundak Yuto sebagai tumpuan saat ia melompat melakukan salto di atas udara untuk melewatinya.
Tap.
Yuki tersenyum senang, ia berhasil kabur.
Go!, batin Yuki memberikan aba-aba untuk mulai berlari.
Srek.
"Yu chan!. Aku akan membuatkanmu mochi tiga rasa!."
DEG!.
Tap!.
Kaki Yuki refleks berhenti. Teriakan Natsume menggunakan mic itu berhasil menghentikan pelarian Yuki.
"Mochi strawberry." Natsume melancarkan bujuk rayu mematikannya. Melihat Yuki yang membalikan badan membuat Natsume semakin bersemangat.
"Mochi coklat." Natsume melihat Yuki menaikan satu alis.
"Mochi mangga." Natsume melihat manik biru itu berputar lemah.
Yes!, jerit Natsume dalam hati.
Ia berhasil!. Yuki berjalan pasrah melewati tim voli sekolahnya, mendekati panggung.
Ueno dan Honda tersenyum senang. Mereka tidak menyangka rencana yang sudah tersusun rapi hampir saja gagal total, dan terselamatkan oleh rayuan Natsume yang tidak terpikirkan oleh mereka semua.
"Orang yang aku maksud, ia berada di sini. Silahkan naik, sang dewi sma oukami." Sontak Yuki menatap kesal Natsume.
"Apakah dia orangnya?, Natsume san?." Tanya MC yang melihat Yuki mendekat.
"Ya." Jawab riang Natsume.
"Waaaaahhh ... Dia memang mirip seorang dewi." Komentar MC.
"Bukan mirip, dia adalah jelmaan dewi itu sendiri." Sanggah Natsume.
Yuki langsung menghentikan langkahnya di ujung tangga panggung setelah mendengarkan celotehan k*nyol Natsume, berniat pergi dari sana.
"Gomen gomen gomennasai (Maaf maaf maafkan aku)." Ucap cepat Natsume mencegah Yuki pergi. Natsume melihat gadis itu menatapnya datar.
"Tidak mengulanginya lagi, janji." Kata Natsume mengangkat jari kelingking mengabaikan tatapan penonton.
Yuki kembali berjalan menghampiri gadis yang ahli membuat mochi itu.
Di bawah sana, Hotaru dan Fumio tertawa melihat gadis kecil mereka yang masih tidak berubah jika berhadapan dengan makanan bernama mochi.
Panitia memberikan Yuki mic mempersilahkan MC untuk melanjutkan acara.
"Ekhem. Natsume san, apa kamu yakin temanmu ini bukan seorang artis?." Tanya MC.
"Ya."
"Atau mungkin seorang model?." Tanyanya lagi.
"Bukan. Dia tidak suka dua profesi itu." Jelas Natsume.
"Baiklah, boleh perkenalkan dirimu. Para penonton pasti sangat penasaran dengan sosok yang memberikan kekuatan kepada Natsume san hingga bisa kembali bermusik." Yuki melirik Ueno dan teman-temannya yang lain, berdiri di sayap kiri panggung tersenyum puas menatapnya.
Sejak kapan mereka sekompak ini, batin Yuki.
"Hachibara Yuki. Dan aku tidak melakukan apa pun untuk Hazuki, dia terlalu berlebihan. Hazuki sendirilah yang berjuang untuk hobinya." Natsume tersenyum aneh. Yuki merasa tidak tenang, ia was-was hal gila apa yang akan dilakukan gadis itu.
"Aku akan menunjukkan kepada kalian kata-kata yang aku ucapkan tadi adalah benar adanya." Yuki mengangkat satu alis menatap Natsume.
Yuki tidak mendengarkan apa yang gadis itu katakan setelahnya karena sibuk menghadapi benteng penghalang yang di buat oleh teman-temannya.
"Kami tidak pernah bermain musik bersama lagi setelah musim semi tahun lalu, jadi Yu chan tidak pernah tahu lagu-lagu kami." Jelas Natsume.
Natsume memberikan kertas melodi yang di berikan dari rekannya untuk Yuki.
"Bagaimana Hachibara san dapat menyanyikannya tanpa pernah mendengarkan lagunya terlebih dahulu?." Tanya MC penasaran.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir." Balas Natsume.
Yuki melirik gadis itu
"Apa harus menyanyi di sini?." Tanya Yuki.