
Yuki masih berguru kepada Kudo tentang baseball, laki-laki itu tidak memberikan komentar tajam atau pun memancing Yuki untuk mengatakan apa yang terjadi kemarin.
Jam istirahat makan siang Yuki mendapatkan informasi tentang alat musik koto dari Ueno.
Koto adalah sebuah alat musik dawai jepang dan instrumen nasional jepang. Berasal dari zheng dan se tiongkok. Terbuat dari kayu kiri memiliki panjang 180 sentimeter. Memiliki dua jenis, pertama 13 senar adalah yang paling umum, 17 senar bertindak sebagai bass dalam ansambel. Di petik menggunakan tiga tusuk jari, di kenakan pada tiga jari pertama tangan kanan. Mirip dengan guzheng atau kecapi cina, gayageum korea dan ajaeng, di indonesia mirip dengan kacapi sunda.
"Kenapa?, kamu tertarik." Tanya Natsume.
"Ung."
"Apa kamu mau pindah masuk klub koto?." Tanya Ueno.
"Tidak, aku tidak yakin bisa memainkannya."
Natsume tidak sengaja melihat orang asing di depan pintu belakang kelas, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Yuki.
"Sepertinya ada yang mencarimu Yu chan." Lirih Natsume, Yuki dan Ueno menoleh ke pintu belakang kelas, dua orang siswa berjalan menghampiri bangku mereka.
Jangan lagi, batin Yuki mengabaikan keberadaan dua orang itu.
"Natsume san, bisa kita bicara sebentar." Yuki dan Ueno saling melempar tatap, Natsume dengan kalem mengiyakan siswa itu.
"Aku pergi dulu." Pamit Natsume berdiri dari duduknya.
"Hachibara san." Panggil siswa satunya.
"Hah?!." Yuki yang asik fokus kepada Natsume terkejut dengan panggilan tiba-tiba.
"Hari minggu besok mau dating denganku?." Sontak Yuki menaikan satu alisnya, hal itu membuat Natsume kesal.
"Sudah aku katakan jangan menaikan alismu Yu chan." Protes Natsume.
"Apa salah alisku Hazuki, bukannya kamu mau pergi." Hazuki cemberut karena balasan dari Yuki.
"Maaf, minggu ini aku ada janji dengannya." Yuki menunjuk Natsume yang kebingungan mendengar janji tiba-tiba itu.
Kapan kita buat janji?, batin Natsume menatap Yuki, Yuki membalas tatapan Natsume penuh arti.
"Kita bisa pergi bersama." Celetuk laki-laki yang mengajak Natsume bicara. Mereka semua menatap laki-laki itu.
"Kita berempat." Imbuhnya membenarkan. Kini Natsume membuka suaranya.
Double date, pekik Ueno dalam hati.
"Maaf, tapi aku sudah punya pacar." Tolak Natsume sontak membuat laki-laki itu melebarkan matanya.
Di tolak!, seru Ueno dalam hati.
"Agh, sudah punya pacar ya. Maaf sudah mengganggumu." Ucap laki-laki itu lalu pergi disusul oleh temannya.
"Hazuki." Tegur Yuki. Natsume dengan santai kembali duduk di kursinya.
"Kami tidak pernah dengar kamu punya pacar." Srobot Ueno.
"Kalian tidak pernah tanya." Jawab Natsume enteng.
"Kalau begitu ceritakan." Pinta Ueno bersemangat.
"Lihat, semua teman-teman kita menatap ke sini. Kapan-kapan saja aku menceritakannya kepada kalian." Tolak Natsume.
"Biarkan saja Ueno san, tidak penting juga." Celetuk Yuki, Ueno terkejut namun hanya sebentar, gadis itu menangkap niat di balik kalimat Yuki. Ueno segera bergabung ke dalam skenario temannya.
"Ung, Natsume chan tidak menganggap kita temannya. Kita biarkan saja dia." Imbuh Ueno setuju dengan Yuki.
Ueno dan Yuki mengabaikan Natsume yang duduk di samping mereka, bahkan tidak menganggap gadis itu ada di sana.
"Baiklah, baiklah. Dengarkan." Natsume mengalah, ia menopang dagunya dengan tangan.
"Kami sudah berpacaran sejak kelas satu smp." Ueno dan Yuki perlahan-lahan melirik Natsume.
"Waw." Celetuk Ueno.
"Apa dia juga ada di tokyo?." Tanya Ueno, Yuki hanya mendengarkan.
"Tidak, dia ada di kobe." Jawab Natsume.
"Bagaimana kalian bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh?." Sergah cepat Ueno.
"Jarak tidak mempengaruhi kami."
Dengar, apa alasan yang sama berlaku untuk kita, batin Yuki mengingat sosok Dimas yang tersenyum cerah kepadanya.
"Kalian keren sekali Natsume chan." Ucap Ueno terlihat iri dengan Natsume.
"Kami seumuran, dia anak voli." Lanjut Natsume menjelaskan kekasihnya. Melihat raut wajah Ueno Natsume memiliki ide di kepalanya.
"Dia punya saudara kembar, aku bisa memperkenalkan saudaranya kepadamu." Tawar Natsume menggoda Ueno.
Yuki yang mendengar kata saudara kembar mengedipkan matanya dua kali.
"Itu terdengar bagus tapi," Ueno menggantungkan kalimatnya.
"Tapi ..?." Ulang Natsume. Pipi Ueno bersemu merah, Natsume menyunggingkan senyum jenakanya.
Ada apa?, batin Yuki yang tidak paham situasi.
"Ada seseorang yang kamu sukai." Tebak Natsume yang seratus persen tepat sasaran. Telinga Ueno ikut berubah merah ia menunduk menyembunyikan wajahnya.
Hah ..?, pembicaraan macam apa ini?, batin Yuki tidak bisa mengikuti obrolan mereka. Di kepalanya hanya terngiang-ngiang anak kembar.
"Hahaha, beritahu kita siapa?." Tanya Natsume dengan suara lirih.
"Tidak." Tolak Ueno.
"Ayolah Ueno san, jangan jadi menyebalkan seperti Yu chan." Yuki sontak mengangkat satu alisnya menatap Natsume.
"Ih gemes." Natsume tidak bisa menahan diri lagi ia mencubit hidung mancung Yuki.
"Sudah aku bilang jangan mengangkat alismu." Ucap Natsume.
"Jangan dendam dengan alisku." Protes Yuki.
"Ueno san, siapa?." Tanya ulang Natsume tidak membiarkan Ueno lolos begitu saja.
"Aku malu." Ucap gadis itu menutup wajahnya dengan tangan.
"Aku sangat penasaran." Paksa Natsume.
"Yuuki senpai." Lirih Ueno masih menutupi wajahnya.
Jeddeer!.
Natsume terdiam, ia menoleh sangat pelan ke arah Yuki, menatap gadis yang tidak berekspresi apa pun.
Yu chan! apa kamu tidak dengar?, batin Natsume frustasi.
"Yuuki senpai yang itu?." Tanya Natsume memastikan. Ueno mengangguk.
"Anak klub baseball?." Natsume masih memastikan, ia tidak salah dengar, tapi Natsume harap bukan orang itu yang di maksud Ueno. Ueno mengangkat wajahnya menatap tepat ke manik biru Yuki.
"Yuuki Hajime, kapten tim baseball." Ueno mengatakannya dengan sangat jelas. Natsume ikut menatap Yuki harap-harap cemas, apa yang akan dikatakan temannya itu.
Yuki mengedipkan matanya beberapa kali, bingung. Kenapa kedua temannya tiba-tiba menatap dirinya seperti itu. Kenapa Ueno seperti takut kepadanya, apalagi Natsume, gadis itu terlihat sangat khawatir.
"Ada yang aneh?." Tanya Yuki bingung.
"Ueno san menyukai Yuuki senpai kan, terus masalahnya apa?. Bagus dong, kamu harus berjuang untuk mendapatkannya. Atau, aku yang tidak paham dengan pembicaraan kita." Kata Yuki.
"Kamu tidak marah?." Tanya Ueno, raut wajah gadis itu mulai kembali normal.
"Hah?!." Yuki menatap Ueno seraya menaikan satu alisnya, Natsume tertawa seperti orang bodoh menurut Yuki.
"Hahaha, Yu chan. Ueno san itu merasa tidak enak kepadamu." Kata Natsume. Yuki menoleh kepada Natsume.
"Kenapa denganku?." Natsume menghilangkan senyumnya menatap serius Yuki.
"Lihat Ueno san, Yu chan benar-benar tidak peka." Ueno tersenyum mengiyakan.
"Begini Yu chan, Yuuki senpai tetanggamu, kemungkinan besar kalian sering bersama apalagi sekarang kamu menjadi manajer tim baseball, tidak mungkin tidak ada apa-apa diantara kalian. Dan Ueno san tadi menyatakan langsung di depanmu bahwa dia menyukai Yuuki senpai yang artinya." Natsume menggantungkan kalimatnya menatap Yuki lebih dalam.
"Ueno san tidak akan menyerah dengan hatinya meski kamu, temannya sendiri yang menjadi lawan." Natsume selesai menjelaskan, Yuki bergidik ngeri setelah paham dengan situasi sekarang.
"Apa kebanyakan perempuan kalau jatuh cinta seperti itu?." Tanya Yuki.
"Hah?!." Natsume shock.
"Eeeehh ...?!." Ueno tidak kalah terkejut.
"Hei Yu chan. Jujur kepadaku apa kamu seorang transgender?." Seru Natsume membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Transgender, siapa?, batin beberapa siswa yang masih di dalam kelas.
Yuki mendaratkan pukulan karate di kepala Natsume, geram.
"Awh!." Pekik Natsume memegang kepalanya.
"Jangan gila. Hazuki!." Yuki menekan setiap katanya.
"Lalu kenapa kamu bertanya seperti itu?." Tanya Natsume tidak terima.
"Aku hanya penasaran, apa kalian akan bertengkar dengan teman kalian sendiri demi seorang .., laki-laki?." Kata Yuki lalu ia segera melanjutkan kalimatnya saat maniknya dan manik Ueno tidak sengaja bertemu.
"Aku hanya penasaran, tentu saja aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan senpai seperti yang pernah aku ceritakan, kami hanya tetangga. Aku juga tidak memiliki perasaan yang lebih atau apa pun itu kepada senpai, kalian paham?." Ucap Yuki panjang lebar.
Ueno tersenyum begitu juga dengan Natsume mereka tidak merencanakannya tapi mereka secara bersama-sama menyangga dagu dengan tangan menatap lurus manik biru indah itu.
Yuki lelah, ia lelah dengan tingkah kedua temannya, Yuki memutuskan untuk tidak ambil pusing ia mengedikkan bahu acuh tak acuh.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Yu chan." Celetuk Natsume.
"Ung, aku lega." Sahut Ueno.
"Yu chan masih amatir." Yuki memutar bola matanya.
"Hahaha ..." Ueno tertawa kecil.
"Hachibara san." Panggil Ueno menatap lekat-lekat manik biru yang selalu membuatnya kagum.
"Sebagai seorang perempuan aku tidak ingin menyesal dan menyerah sebelum berjuang, setidaknya aku ingin laki-laki yang aku sukai tahu tentang perasaanku." Ucap Ueno.
Yuki seketika membeku, kata-kata yang keluar dari mulut Ueno seperti menghantamnya dengan keras.
Menyesal .., maafkan aku. Seharusnya aku menyadarinya lebih cepat, batin Yuki mengingat setiap perlakuan Dimas kepadanya. Yuki tersenyum sangat tulus menyimpan perasaan sebenarnya di lubuk hati paling dalam.
Ueno dan Natsume terperangah melihat senyum indah yang terukir di bibir ranum Yuki, wajah yang biasanya datar dan cuek itu terlihat sangat lembut, bola mata birunya memantulkan segala jenis keindahan. Natsume dan Ueno merasa tersedot untuk menyelam lebih dalam keindahan di dalam mata itu.
Malaikat, sang dewi, batin Natsume dan Ueno.
"Kata-kata yang indah." Seketika bulu kuduk Natsume dan Ueno berdiri, bahkan suara Yuki mengalun sangat indah menggetarkan hati mereka.
"Maaf mengganggu." Yuki menoleh ke asal suara.
"Ada apa Hirogane kun?." Hirogane berdiri di sisi lain bangku Yuki.
"Kamu di panggil pelatih ke ruang guru." Jelas Hirogane.
"Ung, terima kasih." Yuki berdiri meninggalkan kedua temannya yang masih membeku.
Yuki tidak langsung ke kantor ia berhenti di salah satu tangga meremas seragam atas sebelah kirinya.
Tidak boleh menangis, tidak. Tahan Yuki .., batin Yuki menenangkan dirinya, biasanya ada Hotaru yang selalu memberikan pelukan hangat untuk menenangkannya. Hotaru, kapan kamu akan kembali?, batin Yuki.
Yuki berdiri di depan Mizutani, pria itu tidak berbicara banyak hanya menyerahkan sebuah surat kepada Yuki. Tanpa berlama-lama berada di sana Yuki kembali ke kelas bertepatan dengan bel masuk.
Sebelum ke ruang ganti Yuki duduk di kursi dekat taman ia membuka surat dari Mizutani. Membacanya dengan cepat.
Nenek akan berusaha mengunjungimu secepat mungkin, dan tentang Mizutani. Bekerja samalah dengannya, dia pelatih dan seorang guru yang cukup sibuk. Nenek hampir lupa, untuk komputer nenek sudah mengirimkannya. Jangan terlalu berlebihan dengan hobimu. Jaga kesehatan. Cucu cantik nenek bersabar sebentar lagi.
Yang selalu merindukanmu Ɩ.
Surat singkat dari neneknya, Yuki melipat surat memasukannya ke dalam tas, ia segera berlari ke ruang ganti melakukan tugasnya.
Di hari itu Yuki menerima permintaan Mizutani menjadi pendamping perwakilan tim B hal itu menimbulkan banyak protes iri dari junior Yuki ,siapa lagi kalau bukan Inuzuka dan Nakashima.
Tugas manajer berkurang dan ia bisa jauh dari tim A membuat Yuki merasa bersyukur, sejak awal ia memang tidak terlalu suka dengan tim A selain ia kalah dari tim itu Yuki juga lebih nyaman berada di tim B.
Seperti hari-hari sebelumnya Yuki pulang bersama Hajime, pernyataan Ueno tadi siang tidak membuat Yuki berubah canggung atau menjaga jarak dengan laki-laki itu, alasannya sederhana. Karena Yuki tidak peduli. Biarkan Ueno berjuang dengan perasaannya Yuki hanya sebuah iklan lewat diantara mereka.
Niat untuk ke warnet menyabotase salah satu komputer di sana ia urungkan, Yuki tahu neneknya tidak pernah berbohong.
Sesaimpainya di rumah Yuki segera masuk ke dalam kamarnya. Satu komputer besar layar datar tergeletak rapih di atas meja belajar.
Terima kasih nek, ucap Yuki dalam hati.
"Masa san." Panggil Yuki.
"Ya?." Wanita itu sedang sibuk menata meja makan.
"Siapa yang mengirim komputer di kamarku?." Tanya Yuki.
"Tadi siang seorang pegawai elektronik datang ke sini mengantarkan barang pesanan atas namamu, sekalian saja aku minta memasangkannya di kamar." Jelas Masamune.
"Mau makan dulu atau mau mandi dulu?." Tanya Masamune menatap Yuki yang masih berdiri.
"Mandi." Jawab Yuki melangkah ke kamar mandi.
Setelah mengisi perut dan tenaganya Yuki duduk menyilangkan kaki di depan komputer, tangannya dengan cepat memeriksa setiap inci barang baru itu. Yuki harus berhati-hati kalau-kalau ada benda asing tertempel di sana, seperti kamera super mini buatan orang amerika kepercayaan ayahnya.
Satu tahun yang lalu Yuki sangat terkejut setelah menemukan kamera super mini, kamera terkecil di dunia ada di ruang latihannya saat menjadi trainee, ayahnya itu benar-benar mengawasi Yuki dua puluh empat jam.
Setelah tidak menemukannya Yuki belum merasa aman, ia menyalakan komputer dan segera melacak jika-jika ada seseorang yang sudah menyabotase komputernya, neneknya mungkin.
Dirasa komputernya seratus persen bersih dan aman Yuki segera melakukan aksinya, membuat pertahanan untuk komputer baru. Membutuhkan waktu satu jam untuk membuat pelindung tak tertembus khas miliknya. Kini Yuki menjelajahi isi data-data perusahaan sang ayah dengan bantuan Je si burung hantu.
***
Minggu, 10 : 00 Yuki berdiri di depan gedung tiga belas lantai dengan kru dadakannya ia memasuki gedung itu.
Beberapa menit yang lalu Yuki menyamar menjadi salah satu kru perbaikan AC setelah sebelumnya menculik salah satu kru wanita dan mengamankannya. Dengan penyamaran ini Yuki bisa dengan mudah melewati pos penjagaan ketat. Seragam besar berwarna oren mirip dengan pemadam kebakaran dan masker serta topi memuluskan rencana Yuki.
Kru itu menuju lantai sepuluh, pemandangan orang berkeringat dan keluhan di sana-sini menyambut kedatangan kru. Musim panas masih beberapa bulan lagi tapi udara panasnya sudah terasa.
"Selamat pagi, kami akan segera membetulkan ACnya dimohon para karyawan sekalian untuk bersabar." Ucap pemimpin kru, mungkin.
Mereka dengan cekatan menempatkan diri di posisi masing-masing, begitu juga dengan Yuki ia membuka kotak peralatan yang ia bawa. Semua AC di lantai sepuluh mengalami kerusakan membuat kru perbaikan mengerahkan semua karyawannya termasuk wanita yang Yuki culik.
Bola matanya bergerak cepat menemukan kamera pengawas, tangannya mengeluarkan burung hantu mini dari dalam seragam.
"Je, matikan kamera pengawas." Bisik Yuki.
"Di konfirmasi." Yuki mulai memperbaiki AC.
"Kamera mati." Yuki melirik kru yang lain.
"Je matikan jaringan internet mereka." Titah Yuki.
"Di konfirmasi."
Sudah beberapa kali Yuki mencobanya tapi tetap gagal, ada satu perusahaan yang sangat sulit Yuki tembus dan Yuki memutuskan untuk melakukannya dari dalam.
"Selesai." Je melaporkan. Yuki memasukan Je ke dalam saku seragamnya.
"Internet sedang dalam masalah karyawan di mohon untuk tetap berada di meja masing-masing." Suara pengumuman dari pengeras suara.
Yuki melihat krunya sudah menyelesaikan tugas, ia segera berkumpul dengan mereka.
"Ada kerusakan AC di lantai tiga belas, tiga orang ikut denganku. Kamu tunggu kami di lobby." Ujar pemimpin kru memberikan perintah kepada Yuki.
Tentu saja Yuki memanfaatkan hal ini, ia masuk ke dalam lift setelah anggota kru yang lain naik, menekan angka 4 alih-alih angka 1 karena di lantai itulah tempat data rahasia perusahaan di simpan. Yuki melirik kamera di dalam lift menyuruh Je meretasnya.
"Kamera sudah mati." Lirih Je.
Dengan sekali hentakan Yuki menurunkan risleting seragamnya, membuka seragam dan melipatnya dengan cepat, memasukan seragam itu ke dalam kotak peralatan.
TING.
Pintu lift terbuka, melangkah secara perlahan Yuki menyembunyikan kotak peralatan di dekat lift, ia secara alami membaur dengan karyawan di sana. Tangannya menyambar dokumen di dekat mesin foto copy.
Tidak ada yang mencurigai seorang karyawan dengan rok mini hitam dan kemeja putih serta menggunakan masker sedang berjalan melewati mereka.
Yuki meletakan Je di dekat komputer salah satu karyawan yang sedang asik mengobrol dengan temannya, ia lalu berjalan ke toilet memastikan toilet kosong, Yuki mengetuk jam tangannya.
"Je mode sound off." Burung hantu itu diam tanpa suara.
"Salin semua data mereka." Yuki mengontrol Je si burung hantu dari jarak jauh, itulah fungsi jam tangannya, tanpa jam tangan itu Je tidak akan bisa di hidupkan.
Sebuah tanda centang muncul di permukaan jam Yuki segera keluar dari toilet menghampiri Je. Yuki menjatuhkan bolpoin dan menendangnya ke kaki karyawan pemilik komputer membuat karyawan itu menunduk dengan mulus Yuki berhasil mengambil kembali Je si burung hantu. Yuki tidak bisa membiarkan Je melayang ke arahnya meskipun itu sangat mudah di lakukan, tapi dunia akan heboh jika mengetahui keberadaan Je.
Di dalam lift yang sama Yuki kembali menggunakan seragamnya berjalan menuju meja resepsionis.
"Permisi saya dari kru perbaikan, tolong sampaikan kepada teman saya nanti kalau saya menunggu di dalam mobil." Ujar Yuki menitipkan pesan kepada resepsionis untuk anggota kru yang masih di dalam sana.
Yuki melangkah menuju salah satu sudut di parkiran melepas semua seragamnya memakaikan kembali ke wanita yang tergeletak tidak bergerak.
"Kembali ke dalam mobil, kamu telah selesai dalam tugas." Bisik Yuki tepat di telinga si wanita. Wanita itu tiba-tiba membuka matanya dan berjalan ke salah satu mobil.
"Je, ini mudah."
Yuki berjalan menjauhi gedung membuka kontak lensa dan membuang maskernya.