
"Kenapa mereka lama sekali?." Gumam Natsume melirik jam di layar ponselnya.
"Mungkin sebentar lagi datang." Ueno menenangkan Natsume.
"Yo, maaf sudah membuat kalian menunggu." Kedua gadis itu menoleh mendapati dua temannya menghampiri mereka.
Natsume mengangguk cepat lalu berjalan paling depan, ia terlihat riang dengan senyum yang terus mengembang.
"Kenapa dia semangat sekali?." Tanya Hirogane yang berjalan di belakang Ueno.
"Natsume san sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di rumah Hachibara san." Jawab Ueno.
"Hmmm ..." Gumam panjang Hirogane.
"Sepertinya aku kenal jalan ini." Lirih Kudo yang tidak asing dengan jalan yang mereka lalui.
"Kau benar, sepertinya aku juga pernah lewat sini." Timpal Hirogane.
"Mungkin yang kalian maksud jalan rumah Yuki senpai." Kudo langsung melirik ke samping dan Hirogane menunduk ke bawah.
"Aku ingat sekarang, kita pernah berkunjung ke rumah kapten satu tahun yang lalu." Mereka berbelok di pertigaan.
"Heeee ... Ternyata mereka tetanggaan, pantas saja mereka sering pulang bersama." Celetuk Kudo, Ueno tersenyum tipis di sampingnya.
"Aku juga pernah melihat kapten menunggu Hachibara san di depan gerbang asrama." Imbuh Hirogane membuat Ueno meringis kecut dalam hati.
Yah mau bagaimana lagi, keberuntungan belum memihakku, batin Ueno.
Di depan sana Natsume menyuruh mereka untuk segera menyusul.
"Sudah sampai." Ucap riang Natsume.
"Hm?. Mereka benar-benar tetanggaan." Nada suara Kudo seakan meledek.
Hirogane mengangguk setuju melirik ke kiri rumah kapten mereka lalu ke kanan rumah yang akan ia kunjungi.
"Udah ayo, panas banget. Kepalaku jadi pusing." Natsume melangkah membuka gerbang pendek yang tidak terkunci melangkah mendekati pintu depan.
Ketiga temannya mengekor di belakang. Sebelum Natsume sempat menekan bel pintu tiba-tiba terbuka menampakkan sosok wanita yang ia kenal.
"Eh?!, Natsume chan, Ueno chan. Mau bertemu Yuki?." Natsume tersenyum lebar.
"Ya, bibi mau kemana?." Natsume melihat penampilan Masamune yang rapi.
"Oh, mau belanja keluar sebentar. Kalian masuk saja Yuki ada di kamarnya." Kata Masamune tersenyum sebentar lalu melirik kepada dua pemuda di belakang Natsume.
Kudo dan Hirogane membungkuk sopan. Masamune tersenyum kepada mereka lalu berjalan menuju mobilnya.
"Ayo." Ajak Natsume masuk lebih dulu.
"Permisi." Ucap Kudo, Hirogane, dan Ueno. Jangan tanya, Natsume sudah berjalan menuju ruang tengah yang menyambung ke tangga lantai dua.
Kudo dan Hirogane mengedarkan pandangan mereka pada ruang tengah itu. Luas tapi simpel, tidak ada barang-barang kecil atau foto-foto yang terpajang seperti di rumah pada umumnya.
"Kalian lama sekali." Gerutu Natsume menunggui mereka.
"Yare yare (Ya ampuun. /Sebuah ungkapan kosong ketika lagi gabut/meremehkan atau ada banyak artinya dan berbeda-beda tergantung situasi)." Lirih Kudo.
Setelah mereka bertiga sudah menyusul Natsume, gadis itu kembali berjalan ke depan, baru sampai di depan pintu kamar Masamune mereka dikejutkan oleh jari kaki bersih keluar dari tangga di susul oleh kaki jenjang yang membuat para kaum hawa iri setengah mati.
"Hm. Nanti malam." Mereka berempat menggerakan sedikit bola mata mereka dari kaki itu.
Tap.
Yuki berhenti di bawah anak tangga dengan kaki kiri ditekuk sedikit, pandangannya lurus ke depan, ia sangat fokus dengan ponsel di telinganya hingga tidak sadar ada empat mahluk asing berdiri di sana.
"Apa itu menarik?." Hening, empat orang itu tidak bisa bergerak bahkan manik mereka melebar tak percaya dengan pemandangan di hadapan mereka.
Celana pendek hot pants, crop top br* yang menutupi bagian depan, pinggang kecil, perut rata bahkan terlihat otot perut di sana, punggung mulus, tidak ada jejak bekas luka air panas yang tertinggal, leher yang menggoda, body goals!.
Sebenarnya yang Yuki pakai masih tergolong normal untuk ukuran remaja di musim panas apalagi di rumah itu hanya ada wanita.
Yuki menjepit rambutnya ke atas, tubuhnya bagai pahatan karya seni menakjubkan, membuat Natsume ingin bertemu dengan seniman yang memahat tubuh sempurna itu. Tidak ada yang berlebih atau kurang, semuanya seimbang, sangat sempurna.
"Boleh." Yuki memutar tubuhnya ke samping kiri hendak ke dapur. Sakan waktu tiba-tiba berhenti di rumah itu.
Mata birunya melebar sempurna, wajahnya jelas sekali terlihat sangat terkejut. Begitu juga dengan ke empat orang di hadapannya, bahkan Ueno sampai menutup mulutnya dengan tangan.
Natsume tidak bisa melepas pandangannya dari tubuh Yuki, tulang selangka yang indah, perut, kaki.
Srek!.
Yuki tersadar, refleks tangannya menangkap ponsel miliknya yang terjatuh. Dengan langkah seribu Yuki membalikkan tubuhnya berlari ke atas seraya berteriak keras.
"HAZUUKIIII !!!."
Jebret!!!.
"Oh ya ampun." Lirih Natsume terjatuh ke lantai.
Bruk.
Ueno masih bergeming di tempatnya. Sedangkan dua laki-laki itu berjalan keluar rumah untuk mendinginkan wajah mereka yang sudah panas dan sangat merah. Jangan di tanya degup jantung mereka, mereka adalah laki-laki normal.
Ueno yang pertama tersadar ia menuntun Natsume duduk di karpet depan tv menyenderkan punggungnya ke sofa yang ada di belakang mereka. Masih belum ada yang membuka suara. Natsume menggerakan kepalanya patah-patah menoleh untuk menatap Ueno, gadis yang di tatap pun melakukan hal yang sama.
Tiga detik kemudian Natsume tersenyum lebar, dan Ueno memerah di kedua pipinya.
"Aku belum pernah melihat tubuh seindah itu, bahkan artis sekali pun." Lirih Natsume.
"Ung, bahkan tadi aku mengira Hachibara san bukanlah manusia."
"Apa gosip selama ini benar, Yu chan adalah seorang Dewi."
Hening.
Sepuluh menit kemudian Kudo dan Hirogane masuk kembali dan bergabung dengan yang lain, mereka berempat duduk mengitari meja, suasananya sangat canggung dan tidak nyaman. Lima belas menit berlalu suara kaki menuruni tangga membuat mereka terkesiap.
Natsume memberanikan diri melirik asal suara, Yuki menggunakan kaos lengan panjang, celana tiga perempat, dan rambutnya tergerai seperti biasa. Mata birunya menatap tajam manik Natsume. Yang di tatap pun lemas seketika.
Sudah berakhir, Yu chan marah. Dia akan membenciku, tapi kita sudah membicarakan ini kemarin, batin Natsume.
Yuki duduk di sebelah kanan meja, sendiri, berhadapan dengan kedua pemain baseball sekolahnya.
Tidak ada yang bicara, mereka mengalihkan pandangan masing-masing agar tidak bertemu dengan manik Yuki.
"Y Yu chan ... Kami, ti tidak tahu kal." Yuki memotong Natsume.
"Kenapa tidak memberitahuku kalau mau datang?." Tanya Yuki datar.
"Eh ..?!." Natsume kaget, yang lain juga sama.
"Hachibara san, kemarin sensei sudah memberitahu kita untuk melanjutkan tugas kelompok membuat artikel panjang tentang masakan kelompok kita waktu itu, setelah jam ujian terakhir. Untuk tugas akhir sebelum libur musim panas, di kumpulkan hari senin besok." Jelas Ueno. Yuki mengerutkan dahinya mencoba mengingat-ingat.
"Natsume san mengusulkan untuk mengerjakannya di rumahmu hari sabtu jam sepuluh, kamu mengangguk dan langsung pergi." Lanjut Ueno.
Yuki menutup wajahnya dengan satu tangan mengutuk dirinya sendiri karena tidak mendengarkan dengan benar, perhatiannya sudah terkunci oleh awan hitam di luar, ia terlalu terburu-buru meninggalkan kelas untuk melihat air pertama yang jatuh dari langit. Hujan, telah menarik perhatian penuhnya.
Hening.
Yuki marah tentu saja, kemarahan pertama yang ditujukan selain untuk Ayumi, bahkan Yuki masih bisa bersabar dengan sikap Daren. Tapi ia tidak bisa marah begitu saja, ia juga salah di sini. Tanpa bicara apa pun Yuki berdiri kembali ke kamarnya.
Yuki mengambil semua keperluan kerja kelompok. Ya, kerja kelompok untuk pertama kalinya. Entah sudah berapa banyak Yuki menarik nafas berat, ingin sekali ia menenggelamkan diri karena rasa malu yang teramat sangat. Ia tidak ingin turun tapi tentu saja itu sikap tidak sopan.
Yuki melirik ponselnya mengingat panggilan protesnya kepada Masamune karena pergi tidak bilang-bilang.
"Hhuuuffftt." Hela Yuki meraih ponselnya di atas meja.
Protes, suatu hal yang langka dalam kamus Yuki. Kakinya kembali menuruni tangga. Ia berhenti sebentar di ujung tangga. Suasana canggung dan tak enak menguar bagaikan asap pekat dari ramuan penyihir menyelimuti ruang tengah. Agh!, Yuki ingin hilang saja dari sana.
Yuki meletakan perlengkapan alat tulis dan bukunya di atas meja, kembali menarik nafas berat. Membuat ke empat teman kelasnya terkesiap.
"Apa kalian tidak akan mengerjakan?." Buku-buku bermunculan di atas meja.
"Hachibara san." Panggil Ueno ragu-ragu sambil melirik Yuki yang tetap diam.
Masamune meletakan belanjaannya di atas meja makan melirik ruang tengah yang terlihat suram.
Masamune tahu apa yang sedang terjadi di sana, karena itulah dia cepat-cepat pulang. Wanita itu berjalan menghampiri Yuki dan teman-temannya, membungkuk untuk melihat buku-buku yang masih tertutup rapi.
"Ne, Natsume san. Bagaimana menurutmu perut Yuki?." Bagai singa lapar yang diganggu hyena Yuki langsung menatap tajam Masamune.
"E eeeehhh!!?." Seru Natsume kaget.
Wanita itu dengan tenangnya malah tersenyum. Bohong kalau Masamune tidak takut dengan tatapan tajam Yuki yang menusuknya, tapi tekad untuk mencairkan suasana di meja itu membuat Masamune berusaha mati-matian.
Setelah masuk ke dalam mobil sebelum pergi ke supermarket Masamune menghubungi Yuki untuk memberitahukan ada teman-temannya berkunjung namun ponsel gadis itu sedang dalam panggilan lain. Jadi Masamune menunggu sambil menjalankan mobilnya.
Dilain dugaan Masamune, gadis yang di tanyainya ternyata langsung memakan umpan yang ia berikan dengan semangat.
"Ung, sempurna bi. Aku mengerti sekarang alasan Yu chan selalu berganti baju di toilet, rupanya dia tidak mau memperlihatkan kesempurnannya kepada teman-teman yang lain." Jawab Natsume semangat.
"Pffftt." Masamune menahan senyumnya.
"Benarkah?." Masamune menatap senyum lebar Natsume yang menghiraukan aura dingin dari Yuki.
"Ya, kalau tidak salah Yu chan juga memiliki trauma dengan kolam renang." Seketika itu juga Masamune tertawa terbahak-bahak.
Bahkan seragam renang sekolah pun Yuki tidak mau memakainya, batin Masamune.
"Ada apa bi?." Ueno yang penasaran akhirnya buka mulut.
"Tidak, tidak apa-apa." Masamune menghentikan tawanya beralih ke dua pemuda yang masih setiap menutup rapat mulut mereka. Terlihat ada semburat merah di pipi dan telinga keduanya.
"Bagaimana menurut kalian, Yuki di sekolah?." Kudo dan Hirogane yang merasa ditanya pun bergerak gelisah.
Apa maunya Masa san sebenarnya, apa dia ingin mempermalukanku atau memang sedang mempermainkanku, batin Yuki pasrah.
"Dia aneh." Celetuk Kudo yang dapat respon heboh dari yang lain.
"Kudo kun, kamu harus periksa mata deh." Celetuk Natsume.
"Kudo san, sepertinya ada yang salah denganmu." Sambung Ueno. Hirogane tidak mengatakan apa pun.
"Benarkah?, kalau boleh tahu aneh yang seperti apa?." Tanya Masamune.
"Tidak ada manusia yang belajar baseball dalam semalam langsung bisa menghafal dan mempraktekkannya, mungkin yang seperti itu." Jawab Kudo yang di setujui oleh Hirogane.
"Hahaha, silahkan kalian lanjutkan." Ucap Masamune lalu mengecilkan suaranya.
"Sepertinya dia sudah tidak marah lagi." Lanjut Masamune melirik gadis di sebrang meja.
"Aku mendengarmu Masa san." Kata Yuki yang mendapat kekehan dari Masamune.
"Aku ambilkan cemilan dulu untuk kalian." Masamune pergi ke dapur.
"Yang tadi kalian lihat adalah kecelakaan, lupakan saja." Srobot Yuki menghentikan Natsume yang hendak mengatakan sesuatu.
Akhirnya mereka berlima mengerjakan tugas kelompok dengan selingan celotehan-celotehan Natsume dan Hirogane yang terlihat akrab, dan tanya jawab Kudo dan Ueno. Yuki sibuk menulis bagiannya, sesekali tangan kirinya memasukan cemilan ke dalam mulut.
"Yu chan." Panggil Natsume.
"Hm." Gumam Yuki yang sedang mengunyah cemilannya.
"Tato apa yang ada di pundakmu?." Tanya Natsume hati-hati.
Tentu saja mereka melihatnya, batin Yuki.
"Angka-angka kecil ." Jawab Yuki memasukan lagi cemilan ke dalam mulut.
"Kalau boleh tahu, sejak kapan?." Tanya Ueno yang sudah sangat penasaran sejak tadi, ia tidak menyangka gadis seperti Yuki tertarik dengan tato. Biasanya kan para preman atau anak-anak nakal yang mentato tubuh mereka.
"Sejak usiaku dua tahun, itu yang aku dengar." Jawaban Yuki membuat yang lain menghentikan kegiatan mereka sedangkan gadis itu tetap sibuk menulis dan mengunyah.
"Si ko ma bi." Kata-kata aneh keluar dari mulut Natsume.
Tuk.
Yuki meletakan pensilnya lalu menoleh ke arah Natsume.
"Kakekku yang memberikannya, beliau orang baik-baik, kakekku juga salah satu ilmuan geografi, dan beliau sudah meninggal. Apa itu sudah cukup?." Yuki meminum es lemonnya.
Glek.
Natsume menelan salinya kasar.
"Hachibara san. Aku ingat, sepupuku menitipkan ini untukmu." Ueno mengalihkan perhatian dengan memberikan sebuah amplop berwarna pink dari dalam tasnya.
"Sepupumu?." Ueno mengangguk kecil.
"Sepertinya dia pernah bertemu denganmu sebelumnya, di dekat lapangan baseball." Yuki menerima amplop itu dan meletakkannya di samping buku. Tidak tertarik.
"Agh!, aku juga. Junior di klub band juga menitipkan ini untukmu." Natsume memberikan amplop berwarna biru kepada Yuki yang diterima lalu diletakan begitu saja di atas amplop pink.
"Eh?, Keiji kun. Masuk-masuk." Suara Masamune menarik perhatian Yuki.
"Permisi." Suara yang sudah satu minggu ini Yuki tidak dengar.
Keiji berdiri di dekat dapur, Yuki dengan semangat melambaikan tangannya.
"Keiji kun!, sini-sini." Keiji menoleh ke ruang tengah dan berjalan menghampiri Yuki yang sebelumnya membungkuk kecil kepada Natsume dan yang lain.
Ueno berubah tegang tatkala Hajime muncul di belakang adiknya.
"Duduk sini." Yuki menepuk tempat di sebelah kanannya.
"Kalian sedang belajar." Ujar Hajime kepada kedua junior baseballnya.
"Tumben kamu mengundang teman ke rumah Hachibara san." Keiji ikut membuka mulutnya seraya duduk di samping Yuki.
"Ini juga pertama kalinya aku belajar kelompok Keiji kun." Jawab Yuki yang langsung mendaratkan jari telunjuknya di pipi gembul Keiji. Menusuk, menggeser ke bawah, ke atas, terus berulang seperti itu.
Yang lain menatap tak percaya dengan pemandangan di depan mata mereka. Yuki yang notabennya sulit di sentuh orang lain kini dengan antengnya menyentuh pipi adik senior mereka. Hajime tersenyum melihat raut wajah teman-teman Yuki.
"Pasti kamu tidak punya teman selama ini." Celetuk Keiji. Yuki memutar jarinya di pipi Keiji.
"Tidak ada waktu, aku mengerjakan bagianku sendiri, itu lebih cepat." Jawab Yuki lanjut menulis dengan tangan kirinya.
Aku masih belum tahu banyak tentang Yu chan, aku juga baru tahu dia bisa menulis dengan tangan kiri, batin Natsume yang tidak jauh berbeda dengan yang lain.
"Keiji mengkhawatirkanmu karena kemarin habis hujan-hujanan." Kata Hajime duduk di belakang Kudo dan Hirogane.
Yuki menghentikan kegiatan menulisnya menoleh ke samping dengan senyum jahil.
"Heee?, kamu mengkhawatirkanku Keiji kun." Yuki akhirnya mendaratkan kedua tangannya di pipi Keiji bergerilya seperti biasanya, mencubit, menarik, cubit lagi, dan tarik.
"Hachibara san, hentikan." Kalimat biasa yang selalu Keiji ucapkan ketika Yuki sudah mulai menyerangnya.
"Hmmm?." Yuki tersenyum tanpa menghentikan aksinya.
"Aku menyesal mengkhawatirkanmu Hachibara san." Ucap Keiji.
"Heeee ..."
Natsume melirik Hajime seraya menunjuk Yuki.
"Apa mereka selalu seperti ini?." Tanyanya.
"Hm." Jawab Hajime mengambil bungkusan cemilan di meja lalu membukanya.
"Sepertinya mereka sangat dekat." Untuk pertama kalinya Hirogane membuka suara.
"Ya." Hajime menikmati tontonan di depannya dengan mengunyah cemilan seperti biasa.
"Aku tidak pernah melihat Hachibara san sedekat ini dengan laki-laki." Ueno masih menatap Keiji yang berusaha menjauhkan wajahnya dari tangan Yuki.
"Aku kira Yu chan lebih dekat dengan Yuuki senpai." Ujar Natsume.
"Tidak, Keiji lebih dekat dengan Yuki."