
"Nenek tidak memberitahu perubahan Yuki kepada kalian?." Tanya Hotaru.
"Tidak, Fumihiro yang bertugas menerima semua informasi dari nyonya besar setelah itu baru ia memberitahukan kepada semua penghuni kediaman besar dan para keluarga terhormat yang masih setia." Jawab Yamazaki melirik Fumio sekilas.
"Aku yakin ada sesuatu yang terjadi setelah penyerangan kedua." Ujar Hotaru membuat Yamazaki dan Fumio bingung.
"Apa ada penyerangan kedua?." Tanya Fumio.
"Kalian juga tidak tahu?." Tangan Hotaru bergerak cepat membentuk garis lain.
"Apa yang anda maksud penyerangan di Indonesia?." Ucap Yamazaki.
"Bukan, itu adalah penyerangan ke tiga." Hotaru menatap kedua orang itu bergantian lalu melanjutkan ceritanya.
"Rin menceritakannya kepadaku. Tidak lama setelah aku pergi ayah dan ibu membawa Yuki dan beberapa pengawal meninggalkan kediaman bukan." Fumio mengangguk.
"Aku tidak tahu kapan tepatnya tapi yang jelas malam itu ayah dan ibu di serang, Rin yang berhasil lolos dari musuh mencari keberadaan keluarga utama menemukan ayah dan ibu di serang. Semua pengawal tewas hanya tersisa ayah sendiri, Rin berusaha melindungi ayah tapi ia juga berhasil di lumpuhkan. Dan, ibu mengangkat katananya." Yamazaki merinding hebat begitu juga dengan Fumio.
Hotaru yang tidak menyadari perubahan keduanya karena terlalu fokus dengan cerita yang ia bagikan melanjutkan kalimatnya.
"Ibu menggunakan katana warisan turun temurun dari kakek buyut, membantai semua musuh seorang diri." Yamazaki menegang bahkan untuk menelan salivanya saja ia tidak bisa.
"Setelah kejadian itu Rin di kirim ke dokter kepercayaan ibu sedangkan ayah, ibu, dan Yuki pergi ke indonesia. Ibu memutuskan untuk bertemu denganku memastikan aku baik-baik saja, tapi satu minggu setelah ibu sampai." Hotaru terdiam sejenak.
"Aku lupa kapan tepatnya." Hotaru berpikir keras namun tidak menemukan jawaban yang ia inginkan.
"Pokoknya beberapa hari setelah sampai di indonesia penyerangan ke tiga terjadi, kalian tahu kelanjutannya." Hotaru menarik nafas panjang melirik dua orang yang masih diam tidak bergerak.
"Ada apa dengan kalian?." Hotaru menunggu ada yang mau menjawab pertanyaannya.
"Apa kamu tidak pernah dengar tentang Ayumi dono yang tidak pernah memegang katananya?." Tanya Fumio.
"Tentu saja aku tahu."
"Kenapa anda terlihat biasa saja tuan muda?." Sambung cepat Yamazaki.
"Tentu saja tidak, ibu tidak suka kekerasan seperti Yuki kecil."
"Yuki kecil?." Ulang Fumio. Yamazaki memijat dahinya.
"Kepalaku mulai sakit."
"Kita singkirkan tentang ibu dan bicara tentang Yuki yang lebih penting." Hotaru memutuskan.
"Ung."
"Anda benar."
"Dengarkan baik-baik." Hotaru menarik nafas panjang.
"Yuki sangat berubah, dia jarang tersenyum kepada orang lain, tidak suka bermain, dia juga sangat lihai dalam bela diri bahkan aku sendiri bukan tandingannya, dia tidak dekat dengan siapa pun. Hubungannya dengan ayah seakan sebatas rekan kerja, Yuki sejak sekolah menengah pertama sudah terjun ke urusan perusahaan, ia dengan mudah mengurus semua urusan bisnis ayah, hubungannya dengan ibu sangat buruk. Yuki sangat membenci ibu." Hotaru mengingat kejadian di pagi hari saat Arga anggota interpol berada di rumahnya, Yuki marah besar kepada Ayumi, berusaha untuk menerjang wanita yang sudah melahirkannya.
"Apa yang terjadi?." Fakta mengejutkan lainnya membuat Yamazaki dan Fumio bersiap untuk kemungkinan yang lebih buruk.
"Ketika aku di culik psikologi ibu terguncang seperti yang kalian tahu dan ibu membuat kesalahan kepada Yuki, Yuki yang masih berusia enam tahun mendapatkan amukan ibu." Fumio berusaha untuk tetap tenang meskipun pikirannya melayang ke senyum gadis kecil itu.
"Ibu berulang kali menampar Yuki dan mengurungnya di gudang, ayah tidak sanggup menghentikan ibu, tidak ada orang yang sanggup menghentikannya." Yamazaki mengangguk setuju.
"Yuki dikeluarkan dari dalam gudang sudah dalam keadaan kritis, kejadian itu adalah awal mula Yuki membenci ibu." Hotaru menarik nafas berat mengusap wajahnya dengan kasar.
Sikap yang tidak pernah Yamazaki dan Fumio lihat, Hotaru tidak pernah terlihat sehancur ini bahkan saat laki-laki itu tahu bahwa ia harus melindungi adiknya. Fumio dan Yamazaki memegang masing-masing pundak Hotaru.
"Kau tidak apa-apa?." Tanya Fumio lembut.
"Entahlah, aku membenci diriku." Jawaban Hotaru meremukan hati Fumio dan Yamazaki.
"Sudah aku katakan bukan salahmu." Fumio meremas pelan pundak sahabatnya.
"Siang itu di depan sekolah Yuki dengan cepat menyadari aku akan pergi jauh, ia berusaha menghentikan mobil yang ibu dan aku tumpangi. Berlari mengejar mobil, sampai ia terserempet sepeda motor, meskipun banyak darah yang keluar dari tangan, kaki, dan kepalanya Yuki tetap mengejar mobil dengan sepeda motor entah ia dapatkan dari mana sepeda motor itu." Hotaru meneteskan air matanya mengingat hari mengerikan itu.
"Yuki berhasil menghadang mobil, ia terus memanggil namaku." Buliran air mata semakin deras jatuh dari manik coklat terangnya.
"Mata biru itu memintaku untuk tidak meninggalkannya, sama persis seperti dulu saat aku meninggalkanya." Tenggorokkan Fumio tercekat mengingat Yuki kecil yang berusaha mengejar Hotaru dulu.
"Aku tidak menyangka, ibu tega melakukannya kepada Yuki." Hotaru menggertakan giginya cukup keras.
"Ibuku, menabrak putrinya yang berdiri dengan semua luka di tubuhnya." Suara Hotaru bergetar.
Yamazaki dan Fumio saling melempar tatap.
"Apa ibu tidak berpikir, bagaimana jika aku kehilangan Yuki!, bagaimana jika Yuki meninggal saat itu!, aku sudah gila! aku tidak mampu hidup tanpa saudari kembarku. Aku berusaha turun dari mobil namun seorang pengawal menahanku." Tubuh Hotaru bergetar pelan.
"Tatapannya saat itu tidak pernah bisa aku lupakan, dia hanya melihatku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku kalut berusaha memanggil namanya, tubuh itu tergeletak, tidak bergerak, darahnya .., darahnya ..." Fumio berdiri dengan cepat menghampiri Hotaru memeluk tubuh sahabatnya.
"Maafkan aku Eiji, aku tidak bisa menghentikan ibu. Aku tidak bisa menjaga Yuki kita .., maaf." Fumio meremas cukup kuat pundak Hotaru.
"Harus berapa kali aku katakan, itu bukan salahmu." Ucap Fumio namun tidak bisa di pungkiri laki-laki itu pun meneteskan air matanya.
Yamazaki ikut larut dengan fakta yang ia dapat, ia membiarkan Hotaru menangis menumpahkan semua beban yang sejak kecil pemuda itu pikul.
Dirasa Hotaru sudah lebih baik Fumio melangkah mengambil tiga cangkir air putih memberikannya kepada Hotaru, Yamazaki, dan untuk dirinya sendiri.
"Jadi, apa alasan anda meninggalkan ojou chan?." Tanya Yamazaki dengan pelan.
"Ibu memergoki bekas-bekas luka penganiayaan di punggungku, ia mengintrogasi yang terjadi saat aku di culik. Aku sudah mengatakannya tadi bukan, kalau tubuhku digunakan mereka untuk menguji racun yang aku buat, di saat mereka mengancam akan menganiayaku lebih kejam aku membuat racun yang mereka inginkan dan itu masih ada di dalam sana." Hotaru menunjuk tempat diantara dadanya.
"Ap ha! tungg."
BRAK!. Bibir Yamazaki tidak bisa berbicara dengan benar karena sangat terkecut dan ia lampiaskan dengan menghantam meja dengan pukulannya.
"Tenang saja sekarang aku sudah sembuh, bekas lukaku juga sudah hilang tidak ada yang tertinggal satu pun." Hotaru tersenyum kecil melirik Fumio yang wajahnya sudah berubah merah.
"Takkecchan dengar aku." Hotaru menarik perhatian laki-laki itu.
"Yang membuat keadaan kita semakin terdesak adalah Yuki yang benar-benar menjadi apa yang kakek takutkan." Yamazaki memijat dahinya lagi, Fumio menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Yuki tidak sengaja melihat bekas lukaku lalu ia dengan cepat memeriksa nadiku dan pernafasanku. Hanya dengan melakukan dua hal itu Yuki mengetahui ada racun di dalam tubuhku, bahkan ia tahu kalau racun itu bukan racun biasa, ia mengambil sampel darahku dan membuat penawarnya. Ia berjanji akan menyelesaikan penawar dalam waktu satu minggu." Hotaru menengguk minumannya.
"Tapi semua itu sudah terlambat, beberapa waktu sebelumnya ada seseorang yang berusaha menembakku, untung Yuki menyelamatkanku tepat waktu kalau tidak mungkin aku sudah meninggal."
"Lanjutkan." Pinta Yamazaki yang sudah menata hatinya.
"Karena beberapa alasan itu ibu memutuskan untuk membawaku pergi, selain untuk menyembuhkanku alasan lain yang sama seperti kakek. Aku tidak bisa bersama dengan Yuki lagi atau semua yang sudah kita lakukan akan sia-sia." Yamazaki mengangguk, Fumio hanya diam.
"Apa mereka sudah mendapatkan informasi sebanyak itu." Lirih Yamazaki.
"Tidak, mereka dari kelompok yang berbeda. Musuh kita menggunakan racun yang aku buat untuk membunuh pemimpin kelompok lain, dan kelompok itu mengincar si pembuat racun." Jelas Hotaru.
"Musuh kita bertambah." Gumam Yamazaki.
"Tidak, kita bisa tenang karena Rin sudah menyelesaikan kelompok asing ini." Jawab Hotaru.
"Ya, kamu akan senang Takkecchan." Yamazaki menunggu kelanjutan kalimat Hotaru.
"Yuki membuat ruang rahasia di dalam kamarnya." Yamazaki tertegun.
"Di dalam sana sangat menakjubkan." Yamazaki masih menunggu.
"Laboratorium dan sebuah bengkel luar biasa, kamu tidak akan bisa membayangkan semua penemuan-penemuannya. Jarum yang bisa membuat musuh tertidur karena cairan buatannya, bom berukuran kecil hingga besar, komputer canggih yang akan menuruti semua yang Yuki katakan, masih banyak lagi. Aku tidak ingin percaya saat ia membawaku masuk ke dalam ruangannya, tapi mereka semua nyata." Hotaru dan Yamazaki menarik nafas berat.
"Siapa saja yang mengetahui ruangan itu?." Tanya Fumio.
"Aku dan nenek, tapi nenek tidak pernah tahu isi ruangan Yuki yang sebenarnya, nenek hanya berada di ruang istirahat. Hanya aku yang mengetahui isi bengkel Yuki, Yuki juga ingin menunjukanku isi laboratoriumnya namun aku menolak. Aku tidak sanggup melihatnya."
"Baik jadi, yang di khawatirkan tuan besar sekarang sudah menjadi kenyataan, dengan semua alasan ini aku tahu kenapa nyonya besar dan Daren dono menyembunyikan ojou chan dari Ayumi dono." Fumio mengangguk.
"Ayumi dono bertindak di luar pikiran kita, tidak kecil kemungkinan Ayumi dono bisa melukai Yuki lagi." Ucap Fumio seraya melirik Hotaru.
"Aku tahu, aku juga berpikir seperti itu tapi jujur hati kecilku ingin menolaknya." Yamazaki memajukan kursinya.
"Apa yang anda ketahui sudah anda ceritakan semua tuan muda?." Tanya Yamazaki.
"Ada satu hal lagi." Yamazaki mengangguk singkat.
"Informasi yang baru aku dapat akhir-akhir ini, Yuki sakit." Hotaru menatap dalam manik Yamazaki.
"Saat Yuki mengingat kejadian aku meninggalkannya terakhir kali Yuki akan kesakitan dan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Takkecchan, kami pernah menanyakan tentang penyakit ini kepadamu bukan." Yamazaki mulai memijat dahinya, lagi.
"Kami bertiga dengan jelas melihat nenek buyut di ruangannya sore itu." Desak Hotaru.
"Apa yang kamu jelaskan waktu itu benar?, apa mungkin Yuki mengalami hal yang sama?." Yamazaki masih bungkam membuat Hotaru mengurungkan niatnya untuk kembali mendesak pria itu.
Hotaru kembali mencoret-coret kertasnya. Mulutnya menggumamkan sesuatu.
"Yang bisa melakukan hal seperti itu hanya nenek buyut dan kakek buyut, itu adalah sesuatu yang di turunkan hanya di keluarga kami, sesuatu yang sakral, orang lain yang tidak memiliki darah kami tidak akan bisa melakukannya. Warisan yang sangat di jaga." Tangan Hotaru berhenti bergerak.
"Siapa?." Tanya lirih Hotaru.
"Siapa?, nenek buyut meninggal saat kami baru menginjak usia lima tahun, dua bulan sebelum penyerangan." Hotaru berpikir keras.
"Nenek buyut .., dia tidak akan tega melakukan itu kepada Yuki. Nenek buyut sangat mencintainya." Hotaru menegang, bolpoinnya bergerak membuat dua garis bercabang.
"Nenek buyut atau i-bu ..?." Hotaru perlahan-lahan menoleh kepada Yamazaki.
"Aku tidak terlalu ingat dengan kakek buyut, apa mungkin kakek buyut melakukannya kepada Yuki?, apa mereka bingung menentukan pewaris?!." Hotaru tidak sadar telah menaikan suaranya di akhir.
"Tidak tuan muda tidak, tetua sudah memutuskan anda sebagai pewaris tidak ada keraguan di dalam keputusannya saat itu. Kami semua menerimanya, bahkan para keluarga terhormat datang saat keputusan itu di ucapkan." Jelas Yamazaki hati-hati, secara naluri ia sedikit membungkuk kepada Hotaru yang saat ini berubah sangat serius.
"Eiji, katakan pendapatmu." Hotaru beralih ke sahabatnya yang saat ini sudah duduk dengan sikap sempurna, membalas tatapan Hotaru dengan tenang.
"Ayahku salah satu yang hadir di pertemuan itu, apa yang di katakan Takeru san adalah benar. Apa kamu juga meragukan semua cerita ayahku yang di berikan kepadaku Hotaru?." Balas Fumio tegas.
"Tidak mungkin aku meragukan Fumio san yang di hormati oleh keluargaku." Jawab Hotaru.
"Tapi ini sangat aneh, apa tidak ada ciri-ciri saat seseorang terkena penyakit ini?." Hotaru mengingat-ingat buku yang ia baca di perpustakaan rumahnya.
"Yuki tidak menunjukkan gejala apa pun, aku juga tidak pernah membaca buku tentang penyakit ini." Yamazaki memberanikan diri untuk berbicara.
"Jawabannya ada di ojou chan tuan muda." Hotaru mengerutkan alisnya.
"Apa maksudmu?."
"Tetua menggunakan keahlian itu untuk menghukum para pengawal, pelayan, bahkan keluarga terhormat yang berani melukai atau pun berkhianat kepada keluarga utama. Itu adalah hukuman terberat bagi klan kita, bahkan ada yang pernah meminta hukuman mati dari pada menerima hukuman itu." Jelas Yamazaki yang beberapa kali melihat hukuman itu di lakukan.
"Jawabannya hanya jika kita bertemu dengan ojou chan, kita bisa bertanya kepadanya, atau mungkin itu akan terjawab saat ojou chan bertemu kami." Yamazaki menyimpulkan.
"Tapi apakah mungkin ini benar-benar penyakit yang sama?." Hotaru masih ingin mendapatkan jawaban.
"Kemungkinan besar seperti itu." Jawab Yamazaki.
"Bukankah tidak ada obatnya?." Sergah Hotaru mulai kalut.
"Ya tuan muda."
"Apa Yuki akan mengalami hal yang sama seperti wanita di ruangan nenek buyut?." Jantung Hotaru berdegup sangat kencang.
"Terus menerus mengeluarkan darah, kesakitan, kebingungan."
BRAKK !!.
Hotaru menghantamkan kepalanya dengan keras ke meja, kedua tangannya menarik surai belakang frustasi.
"Hotaru!."
"Tuan muda!."
"Sial!. Sial!. Sial!. Siaaalll!!!." Jerit Hotaru.
Yamazaki berusaha menjauhkan tangan Hotaru agar berhenti menarik-narik rambutnya.
"Apa yang kamu lakukan hah!." Seru Fumio membuat Hotaru membeku.
"Jaga tubuhmu." Lanjut Fumio tegas menyadarkan Hotaru akan rasa sakitnya.
"Maaf." Lirih Hotaru menjauhkan tangannya.
"Percayalah kepadanya, mau sebanyak apa pun dia berubah, dia tetaplah gadis kecil kita." Kalimat indah dari Fumio menghangatkan hati Hotaru, perlahan jantungnya kembali berdetak normal.
Tetua dan tuan besar tidak salah menilaimu Eiji kun, batin Yamazaki tersenyum.
"Kita kembali ke inti." Pinta Fumio.
"Mari kita sambungkan ." Ucap Yamazaki mengajak kedua remaja itu untuk fokus.
"Penyerangan pertama sudah di duga akan terjadi setelah tetua terakhir (nenek buyut) meninggal, sandiwara bahwa anda lah pemegang kendali semuanya berhasil dan anda menyetujui akan sandiwara tersebut." Yamazaki menatap Hotaru memastikan.
"Ya, benar." Jawab Hotaru.
"Anda yang terpilih sebagai pewaris mengajukan diri menjadi pelindung, aku yakin anda juga sudah tahu akan penyerangan ke tiga." Yamazaki kembali menunggu jawaban Hotaru.
"Ya, benar. Kakek sudah mengantisipasinya namun jika sesuatu yang buruk terjadi aku harus siap, dan hal itu pun terjadi." Yamazaki mengangguk mantap.
"Anda sudah sangat bekerja keras bertahan di markas musuh yang berada di indonesia. Tuan besar juga memberitahukan kepada kami bahwa anda pasti akan bertahan, melarang kami menyerbu mereka untuk menyelamatkan anda. Karena jika itu terjadi, mungkin akan menimbulkan hubungan buruk antar kedua negara." Jelas Hotaru.
"Alasan yang sama berlaku untuk Daren dono dan Ayumi dono, tuan besar mengatakan kepada kami bahwa beliau meragukan mereka setelah melihat Ayumi dono sangat terpukul dengan kepergian anda." Hotaru mulai menggerakan tangannya kembali di atas kertas miliknya.
"Namun sekarang, Daren dono bersama nyonya besar sedangkan Ayumi dono tidak di ketahui keberadaannya." Fumio menatap Hotaru yang sibuk dengan kertasnya.
"Dimana Ayumi dono?." Fumio dengan tenangnya melontarkan pertanyaan yang selama ini mengusik pikiran seluruh orang-orang di klan.
"Swiss."