
"Aku tidak menyangka kapten cheerleaders itu bersama Kichida senpai." Ujar Yuki berjalan beriringan dengan Hajime.
"Kenapa?, kamu tidak suka?." Yuki melirik Hajime sekilas.
"Aku pikir Kichida senpai bukan laki-laki yang kurang pintar." Ucap Yuki. Hajime menegaskan.
"Bodoh maksudmu?." Yuki tersenyum kecil.
"Bagaimana bisa perempuan itu sangat cepat berpaling dari senpai." Lirih Yuki.
"Mungkin dia tipe orang yang cepat move on." Balas Hajime.
"Hmm?, ada yang seperti itu?. Kalau aku, tipe yang seperti apa?." Tanya Yuki. Hajime menatap gadis di sampingnya lekat-lekat. Merasa tidak mendapatkan jawaban Yuki pun menoleh ke samping.
"Aku tidak bisa menjawabnya." Ujar Hajime.
"Kenapa?."
"Tanyakan pada Natsume san saja." Hajime tidak ingin menilai apa pun tentang gadis itu. Dimatanya Yuki tetaplah Yuki itu sendiri.
"Apa aku seburuk itu?." Yuki menyimpulkan sendiri.
"Aku baru pertama kalinya bertanya kepada orang lain tentang pendapat mereka tentangku." Imbuh Yuki. Hajime tersenyum kecil.
"Kamu seperti arti namamu. Salju." Yuki menaikan satu alis, menghentikan langkahnya menatap Hajime.
"Banyak orang menunggu salju pertama di musim dingin. Karena banyak mitos yang sudah menjadi kepercayaan banyak orang, bahwa dua teman lama akan bersatu kembali. Atau, sepasang kekasih yang pergi bersama saat salju pertama turun maka mereka akan bahagia dan cinta mereka akan abadi. Tidak jarang orang-orang mengucapkan harapan mereka saat salju pertama turun, seperti layaknya mitos bintang jatuh." Yuki mendengarkan dengan seksama. Tumben sekali mantan kapten baseball itu bicara panjang lebar.
"Di jepang sendiri salju pertama di musim dingin di yakini sebagai lambang cinta." Hajime diam-diam mengambil satu tangan Yuki, menatapnya. Gadis itu pun melakukan hal yang sama menatap tangannya yang di pegang Hajime.
"Putih, seputih salju. Lembut, seperti hatimu. Dingin, seperti sikapmu. Harapan, banyak orang yang berharap bisa mendekatimu. Menunggu, teman-temanmu di sini selalu menunggu kedatanganmu. Tidak hanya teman, mungkin orang yang pernah melihatmu pun menanti dan berharap agar bisa bertemu lagi denganmu. Yuki, masih banyak makna arti di dalam nama dan dirimu. Musim dingin tidak selamanya menyedihkan." Hajime melembutkan kalimat terakhirnya.
Yuki diam sebentar, mencerna setiap kata yang Hajime katakan.
"Senpai sedang merayuku?." Tanya Yuki.
"Pffftt, hahaha." Tawa Hajime pecah. Pemuda itu melepaskan tangan mereka.
"Sejak kapan senpai suka merayu?." Hajime menahan tawa melirik Yuki yang menatapnya dengan mata biru cemerlang itu.
"Yuki, ak." Hajime menghentikan ucapannya kala melihat seseorang berlari dari arah berlawanan mendekati mereka.
Hajime langsung terdiam. Ia mengerti jika Yuki di jodohkan dengan laki-laki itu. Rupanya yang tampan dan menawan, kharisma yang kuat seperti seorang pangeran di negeri dongeng, pesona yang maskulin dan terlihat dapat melindungi apa pun, sepasang mata itu penuh wibawa seperti laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai saudara kembar gadis itu.
Visual Yuki yang tidak manusiawi ternyata sama dengan kedua laki-laki itu. Hajime sadar diri, ia jauh dari tingkatan saudara kembar Yuki atau pun calon tunangan gadis itu.
Dia selesai jogging, batin Hajime.
"Aku mengantarmu sampai di sini." Ucap Hajime beralih menatap Yuki yang sudah sadar akan kehadiran calon tunangannya. Hajime menoleh kepada laki-laki itu menganggukkan kepalanya sebagai sapaan dan berlalu pergi.
Tanpa mengatakan apa pun Yuki kembali berjalan menuju ke sekolah. Yuki menyimpulkan tim volinya sedang menjalankan menu latihan lari keliling kompleks sekolah.
***
"Apa tidak apa-apa aku ikut?." Tanya Fumio kepada Hotaru.
"Yuki harus terbiasa denganmu. Semenjak malam kalian berbicara setelah latihan, Yuki banyak diam bukan." Jelas Hotaru memakai sepatunya.
"Kamu memata-mataiku?." Tanya Fumio.
"Aku selalu melihat latihan Yuki. Aku sudah tidak sabar menunggu pergerakkanmu." Mereka mulai berjalan meninggalkan kamar. Menuruni tangga menuju lantai satu.
"Aku sudah bergerak, Yuki juga sudah mulai menyadarinya." Balas Fumio.
"Terlalu lama, sebentar lagi musim gugur. Aku tidak ingin Yuki menyesal karena terlambat menyadarinya." Fumio menatap langit yang menampakkan bulan purnama dan beberapa bintang.
"Aku akan mengambil dua langkah ke depan." Ujar Fumio pada akhirnya.
Pugh!. Hotaru memukul dada Fumio.
"Aku mengandalkanmu sobat."
Percakapan mereka terhenti karena sosok gadis yang duduk di atas kap mobil sembari memainkan ponselnya. Hotaru melebarkan mata berjalan cepat menghampiri Yuki.
"Tidak ada baju lain?." Srobotnya.
Manik biru itu bergerak menatap wajah Hotaru.
"Panas. Ayo berangkat." Yuki berjalan masuk ke dalam mobil duduk di belakang kemudi.
Hotaru ingin mencegah Yuki namun di tahan oleh Fumio.
"Kamu mau membelanya?. Lihat baju dan celananya." Protes Hotaru.
"Pakaiannya masih normal. Kaos dan jeans, sama dengan kita." Ucap Fumio.
"Jeans pendek, kaos tipis, normal?. Aku tidak ingin ada laki-laki lain yang mendekati adikku." Fumio menghela nafas.
"Hotaru jangan berlebihan, hanya karena hubungan kami belum juga ada kemajuan. Terima kasih untuk perhatianmu tapi percayalah padaku." Fumio mengedikkan matanya ke arah mobil mengisyaratkan pemuda bermanik coklat terang itu untuk segera masuk.
"Kamu benar, kepalaku terlalu sibuk sampai bertingkah menyebalkan seperti ini. Maaf." Setelah mengatakan itu Hotaru membuka pintu samping kemudi di susul Fumio di jok belakang.
Yuki membawa mereka pergi ke supermarket. Hotaru mengambil alih keranjang belanjaan dari tangan Yuki. Saudari kembarnya itu sudah mulai membaur dengan dunia luar, terlihat dari caranya berbelanja di supermarket. Mengambil tanpa ragu, berjalan lagi, terkadang ia berpikir keras. Hotaru mengukir senyum mendekati adiknya.
"Menurutku yang sebelah kanan lebih baik." Ucap Hotaru, Yuki segera mengambil udang sebelah kanan.
"Apa kita akan memasak sendiri makan malam kita?." Tanya Hotaru.
"Tidak." Jawab Yuki langsung menarik tangan Hotaru menuju salah satu rak.
"Kenapa ke sini?." Yuki melipat kedua tangannya di depan dada menatap serius dari rak paling bawah terus naik ke atas.
"Aku tidak tahu wine seperti apa yang di sukai orang dewasa." Gumam Yuki.
Untuk saat ini Hotaru akan merayu Yuki agar mau menjawabnya dengan benar. Adiknya sangat sulit menjawab tanpa mengalihkan pembicaraan atau hanya menjawab singkat seperti tadi.
Hotaru mendekati Yuki meletakan dagunya di pucuk kepala gadis itu.
"Kita mau kemana?. Buat siapa wine itu?, perempuan atau laki-laki?." Tanya Hotaru lembut.
"Ke rumah, tempat tinggalku di tokyo. Aku tinggal dengan perempuan yang bertugas mengerjakan pekerjaan rumah." Jawab Yuki.
Hotaru tersenyum lebar. Cara yang ia pilih tepat sasaran. Sikapnya yang terlalu mengkhawatirkan Yuki membuat adiknya merasa tidak nyaman.
"Eiji pandai memilih wine. Yang mana menurutmu?." Hotaru menoleh tanpa mengangkat kepalanya.
Fumio menunjuk salah satu botol.
"Yang ini. Menurutku yang paling bagus diantara yang lain." Kata Fumio. Hotaru melirik wajah Yuki yang berada tepat di bawah matanya.
"Eiji sering memberikan kolega-koleganya wine. Dia yang paling tahu tentang wine tanpa mencicipinya, asisten Eiji di kantor sampai dibuat mabuk setiap minggu olehnya." Jelas Hotaru tanpa di minta oleh Yuki.
Gadis itu mengambil botol yang di sarankan oleh Fumio tadi, memasukannya ke dalam keranjang.
Mereka meninggalkan supermarket pukul enam sore. Yuki memarkirkan mobil ke dalam garasi rumah dua lantai yang kebetulan gerbangnya terbuka.
"Kamu tinggal di sini?." Tanya Hotaru melepas sabuk pengaman.
"Ung."
Yuki segera keluar membawa satu kantung plastik dan sisanya dibawakan oleh Hotaru dan Fumio. Hotaru melihat betapa antusiasnya Yuki menekan bel rumah.
Ting tong!. Ting tong!.
Ceklek.
Seorang wanita membeku setelah membuka pintu. Raut wajahnya berubah dari terkejut menjadi sedih. Air mata menggenangi pelupuk matanya. Terlihat Yuki yang tersenyum lembut dan tulus menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukkannya.
"Maaf, pergi tanpa bilang-bilang." Ucap saudari kembar Hotaru. Tangis wanita itu pecah kemudian membalas pelukan Yuki, sangat erat.
"Kenapa kamu hobi menghilang. Aku sangat mengkhawatirkanmu." Ucap wanita itu di sela isakkannya.
"Maaf." Ucap Yuki lagi.
"Kenapa baru pulang?."
"Aku ingin pulang sejak kembali ke tokyo tapi ada urusan lain yang harus di selesaikan lebih dulu. Maaf, baru bisa pulang." Jawab Yuki.
Wanita itu melepaskan pelukan Yuki. Mengusap lembut kepala gadis itu.
"Kamu akan pergi lagi?." Yuki mengulas senyum manisnya.
"Ya, waktuku tinggal satu minggu di tokyo." Jawab Yuki.
Wajah wanita itu berubah murung. Hotaru mencondongkan tubuhnya ke samping tanpa melepas pandangannya dari kedua perempuan itu.
"Syukurlah Yuki sudah mulai berubah seperti dulu." Lirih Hotaru. Fumio melirik sahabatnya itu.
"Di indonesia Yuki tidak pernah dekat dengan siapa pun. Tidak pernah memeluk pelayan atau yang lain. Akh ada satu orang." Hotaru terdiam kala mengingat Dila yang selalu dianggap sebagai ibu oleh Yuki.
"Siapa?." Tanya Fumio.
"Ibu dari temanku." Jawab Hotaru. Ia melihat Yuki yang di tarik masuk ke dalam. Kembarannya menoleh ke arah mereka menyuruh untuk mengikuti.
Fumio menutup pintu di belakangnya. Mereka berjalan memasuki rumah dua lantai itu. Lorong pendek rumah langsung mengantarkan mereka ke dapur cukup luas dan ruang tengah. Hotaru langsung menghentikan langkahnya. Ternyata bukan mereka saja tamu di rumah itu.
Apa Yuki mengundang mereka?, batin Hotaru melirik saudari kembarnya yang sedikit terkejut.
Sepertinya tidak, imbuh Hotaru dalam hati.
Laki-laki siang tadi sedang berdiri memegang pisau lengkap dengan celemek yang menempel di tubuh atletisnya. Sedangkan junior yang Yuki peluk di hari pertama sedang bermain dengan seekor kucing. Tatapan mereka saling bertemu.
"Meoooww ..." Kucing putih bersih itu berlari ke arah Yuki memutari kakinya.
"Yuu bagaimana kabarmu?." Tanya Yuki mengangkat kucing ke dalam gendongannya.
"Hachibara san." Lirih Keiji yang sama terkejutnya. Anak itu menatap Hotaru dan Fumio bergantian.
"Apa kalian sering main ke sini?." Tanya Yuki.
"Yuuki san, Hajime kun dan Keiji kun sering main untuk makan malam. Katanya biar aku tidak kesepian." Jelas wanita itu.
"Hmm." Gumam Yuki lalu menoleh ke belakang.
"Masa san pasti tidak melihat mereka tadi." Ujar Yuki. Wanita itu ikut menoleh ke belakang.
Yuki tersenyum kecil melirik wanita yang diam membeku yang entah sadar atau tidak telah membuka mulutnya membentuk huruf O.
"A!, maafkan aku. Silahkan masuk, silahkan duduk di sini. Saya Masamune Hinode pekerja rumah tangga di rumah ini." Wanita itu tersadar lalu menunjuk kursi di dekatnya seraya memperkenalkan diri.
Hotaru dan Fumio berjalan mendekati meja makan, manik coklat terang itu melirik kembarannya yang sudah menempel pada junior bernama Keiji itu.
"Kami membeli ini sebelum datang kemari." Ucap Hotaru memberikan belanjaan di tangannya. Masamune menerima kantung plastik berukuran cukup besar dari Hotaru.
"Terima kasih, tidak perlu repot-repot." Kata Masamune.
"Saya akan membantu anda." Tawar Fumio segera membantu Masamune merapihkan belanjaan yang dibawa mereka.
Hotaru melihat Fumio sedang sibuk membantu Masamune ia memilih berjalan menghampiri Hajime. Tanpa membuka suara melirik keadaan dapur, tangannya langsung bergerak membantu menyiapkan makan malam. Sesekali ia melirik saudari kembarnya yang tertawa bermain dengan kucing dan pipi Keiji.
Sebegitu sukanya Yuki dengan pipi Keiji?, batin Hotaru membalikan tubuh menghadap ke kompor.
"Terima kasih." Ucap Masamune yang dihadiaih senyuman mempesona oleh pemuda itu.
"Sama-sama." Balas Fumio berjalan bergabung dengan kedua laki-laki yang tengah sibuk dengan kompor masing-masing.
Masamune menelan salivanya dengan kasar, ia terpaku oleh pemandangan indah di hadapannya. Tiga pria tampan sedang sibuk memasak di dapurnya, mereka diam tanpa membuka suara namun gerakkan mereka selaras. Laki-laki yang telah membantunya dengan cekatan menyiapkan meja makan. Menata sumpit, membawa masakan yang sudah matang ke atas meja.
"Hahahaha, mau aku bantu?, Keiji kun?." Suara jenaka yang sudah setengah tahun ini tidak Masamune dengar memecah lamunannya.
Masamune menoleh menatap pemilik mata biru itu. Ia ikut tersenyum. Bekerja kepada gadis itu memberikan banyak perubahan di diri Masamune, tingkah manis dan romantis gadis itu memberikan warna yang berbeda, ketegaran dan pikiran sehat gadis itu membuat Masamune belajar menghadapi pahitnya kehidupan. Masamune ingin selamanya bekerja kepada Yuki, selalu berada di sisi gadis itu, merawatnya, melindunginya.
Tanpa sadar Masamune menitihkan air mata.
"Yuu, kemari." Yuki mengejar kucing bermata biru mirip seperti pemiliknya.
"Dia sudah tidak mengenalimu." Celetuk Keiji.
"Yuu tidak mungkin melupakanku begitu saja." Sahut Yuki berjalan ke arah Masamune.
Hap.
"Kamu tertangkap." Ujar Yuki sumringah.
"Kamu ke sini karena mencium bau makanan hm?." Yuki menggelitik perut kucingnya yang ia gendong.
"Sama sepertimu. Sangat mudah di sogok dengan mochi." Celetuk Keiji lagi setelah berdiri di samping Yuki.
"Ya ampuunn, lucu banget sih beruang besarku kalau lagi ngambek." Yuki mendaratkan tangannya di pipi Keiji.
"Hachibara san, sejak kapan aku jadi beruang." Gerutu Keiji.
"Sejak sekarang, bagaimana apa kamu menyukai suaraku?." Ledek Yuki.
"Tidak." Jawab cepat Keiji.
"Hm?, mau aku nyanyikan lagu nina bobo untukmu?." Tawar Yuki dengan senyum jail yang terukir di bibirnya.
"Aku bukan bayi." Ketus Keiji.
"Hahaha, mau aku bawa pulang." Ucap Yuki.
"Siapa?." Keiji menatap Yuki dengan kerutan di dahinya.
"Hahaha, tentu saja beruang besarku." Jawab Yuki.
"Ini kan rumahmu." Yuki menghentikan tawanya.
"Benar juga, kalau begitu menginap di sini selama satu minggu ke depan." Pernyataan Yuki seperti sebuah keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat.
"Setelah bermain drum seperti orang kesurupan membuat kepalamu agak geser." Yuki sontak tertawa terbahak-bahak, satu tangannya memegangi perut menurunkan kucingnya dan yang satunya lagi menutup mulut berusaha meredam suaranya.
Hal itu membuat semua orang tertegun tanpa terkecuali. Bahkan Hotaru tidak mengedipkan matanya.
Keiji pastilah sudah mencuri perhatian Yuki, saudari kembarnya tidak sembarangan tertawa lepas kepada orang lain, pikir Hotaru.
Diam-diam Fumio tersenyum menatap lembut penuh rindu kepada pemilik hatinya. Hajime melempar senyum kepada sang adik seakan mengatakan terima kasih.
Tap. Tap. Tap.
Dengan air mata yang jatuh di pipinya Masamune menghampiri Yuki meraih tangan gadis itu, menghentikan Yuki dari tawanya.
"Masa san. Ada apa?." Yuki melirik tangannya yang kini di usap-usap lembut oleh Masamune.
"Masa san?." Yuki melembutkan suaranya.
Yuki akan bersikap hangat kepada tante Dila, nenek, dan hanya kepada dirinya, tapi di tokyo Hotaru melihat Yuki banyak bersikap hangat kepada orang lain. Sedangkan di kediaman utama, kampung halaman mereka, Yuki banyak menghindari kontak dengan orang lain, saudari kembarnya seperti sibuk dengan dirinya sendiri.
Masamune mendongak untuk menatap sepasang mata cemerlang itu. Bibirnya tersenyum namun wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
"Apa penyakitmu masih kambuh?." Tanya Masamune. Yuki tertegun namun tidak ia tunjukan.
"Apa tidak apa-apa kamu jauh dari Mizutani san?." Yuki masih diam menunggu Masamune menyelesaikan semua yang ingin wanita itu katakan.
"Siapa yang menggendong dan merawatmu saat penyakitmu kambuh?." Masamune masih mengusap lembut tangan Yuki namun ia sedikit mengeratkan genggamannya.
"Apa dokter di sana lebih ahli dari Dazai san?." Air mata itu terus berjatuhan.
"Apa kamu masih melukai bibirmu?. Badanmu masih lemah?. Apa stok darah di sana lebih banyak dari rumah sakit di tokyo?." Masamune menarik nafasnya yang terasa menyakitkan. Ia kembali menunduk.
"Apa karena itu kamu pergi dari sini?. Apa saat itu penyakitmu kambuh dan tidak sempat pulang ke rumah?." Yuki tidak tega, sungguh. Tangannya menangkup tangan Masamune yang bergerak mengusap tangannya.
"Malam itu kamu pergi bersama Mizutani san dan Dazai san ke Miyazaki selama dua hari, tapi kamu tidak kunjung pulang meski Mizutani san dan Dazai san sudah kembali." Yuki menurunkan wajahnya sejajar dengan Masamune.
"Maaf, sebelum pulang aku sempat menyerah dengan penyakitku." Ucap Yuki jujur yang tidak pernah ia katakan kepada siapa pun. Masamune langsung mendongak dan manik mereka bertemu.
"Kamu terbaring lagi di rumah sakit?." Tebak Masamune, Yuki menganggukkan kepalanya.
"Ung."
"Berapa minggu?." Hotaru melirik Masamune.
Selama ini, wanita ini yang membantu merawat Yuki. Berapa minggu?, selama itu!, batin Hotaru terkejut.
"Satu bulan." Mendengar jawaban Yuki Masamune semakin menumpahkan air matanya.
"Kamu sudah berjuang sangat keras menjaga dirimu tetap hidup." Yuki kembali tertegun dengan kalimat yang keluar dari bibir Masamune.
"Ung."
Yuki meraih wanita itu ke dalam pelukkannya. Mengusap lembut punggung Masamune menenangkan wanita itu.
"Sekarang aku sudah baik-baik saja. Aku tidak memerlukan darah lagi. Aku bertemu dengan dokter yang paling handal." Jelas Yuki.
"Syukurlah." Cicit Masamune.
"Terima kasih telah menangis untukku." Masamune menepuk kesal pundak Yuki.
"Kamu ini. Bisa-bisanya tidak menangis dengan penyakit seperti itu. Aku merasa malu karena menangis di depanmu." Yuki tersenyum di balik punggung Masamune.
"Aku memang sudah tidak memerlukan donor darah lagi tapi mungkin aku butuh donor air mata sekarang." Celetuk Yuki membuat Masamune tertawa lemah. Keiji dan Hajime pun ikut tersenyum dengan ucapan Yuki tapi tidak dengan Hotaru dan Fumio.
"Dasar." Balas Masamune. Yuki mengeratkan pelukannya.
"Masa san." Panggil Yuki.
"Hm?."
"Aku lapar." Masamune segera melepas pelukan mereka.
"Ya ampun. Maafkan aku, segera aku siapkan, duduklah." Masamune cepat-cepat menghapus air matanya menarik Yuki duduk di salah satu kursi.
Keduanya tertegun, meja makan sudah terisi oleh banyak makanan. Masamune melirik ke arah tiga laki-laki itu.
"Maaf membuat kalian yang menyiapkan ini semua." Masamune mengambil alih mangkuk sup dari tangan Hajime.
"Tidak apa-apa." Jawab pemuda itu seraya melepas celemek dari tubuhnya.
Hotaru menarik kursi di samping Yuki menaruh piring berisi spageti di depan kembarannya. Yang lain pun ikut duduk di kursi mereka.
Grep.
Sret.
Yuki menahan tangan Keiji yang hendak melewatinya berjalan ke kursi sebrang, menarik anak itu duduk di sisinya yang kosong.
Masamune memberikan kucing Yuki makan sebelum ikut bergabung dengan mereka.
"Selamat makan." Ucap Yuki segera setelah semua orang sudah duduk. Ia sangat lapar.
Meja makan begitu hening sampai Masamune bertanya kepada Yuki.
"Yuki, teman-temanmu berasal dari mana?, cara bicara mereka sangat sopan." Tanya Masamune, jujur selain paras mereka ia terpesona dengan cara bicara kedua teman baru Yuki.
"Dari Miyazaki." Jawab Yuki.
"Mereka mengingatkanku kepadamu saat awal kita bertemu. Selama satu bulan penuh kamu berbicara sangat sopan seperti bangsawan terdahulu." Ujar Masamune. Yuki mengulum senyum melirik Hotaru.
Hotaru meletakan sumpitnya membungkuk kecil kepada Masamune yang duduk tepat di depan Yuki lalu menegakkan tubuhnya lagi.
"Maaf belum sempat memperkenalkan diri. Aku Hachibara Hotaru, saudara kembarnya Yuki." Perkenalan Hotaru sukses membuat Masamune membeku. Menatap Hotaru dan Yuki secara bergantian.
"Kalian memiliki warna mata yang berbeda." Lirih Masamune.
"Yuki, apa benar?." Ulang Masamune memastikan.
"Ung, kami kembar." Yuki menghabiskan makanannya.
Fumio menengguk minumannya dan sedikit serong ke arah Masamune, melakukan hal yang sama seperti Hotaru membungkuk kecil sebentar.
"Saya Fumio Eiji, teman kecil mereka berdua. Senang bertemu dengan anda." Masamune terkesiap menutup mulutnya dengan tangan.
"Jadi gosip itu juga benar." Yuki menoleh kepada Keiji seraya membersihkan tangannya dengan tisu basah dan tisu kering.
"Gosip apa?." Keiji menengguk minumannya.
"Kamu menolak aniki (kakak) karena dia." Keiji melirik ke pojok meja.
Hening.
Yuki bahkan mengedipkan matanya beberapa kali.
"Pfffttt." Yuki menahan tawanya. Ia segera mencubit pipi Keiji.
"Gosip dari mana?, bagaimana bisa aku menolak senpai kalau senpai belum menyatakan perasaannya padaku. Ya ampuun, adik iparku ini lucu banget sih." Yuki semakin gemas mencubit pipi Keiji namun respon anak itu membuat Yuki terkejut.
Grep.
Keiji memegang cukup erat tangan Yuki lalu menariknya menjauh. Hal yang tidak pernah anak itu lakukan. Dan itu juga membuat Yuki sedikit merasa sedih.
"Beruang besarku sedang merajuk hm?." Yuki mendaratkan satu tangannya yang lain di pipi Keiji. Ia menyerong tubuhnya ke arah anak itu.
"Kamu benar mau menjadi kakak iparku?." Yuki menaikan satu alisnya melihat raut serius Keiji yang tidak pernah anak itu tunjukan. Anak itu juga kembali menjauhkan wajahnya dari tangan Yuki.
Yuki cemberut lalu mengangkat kedua tangannya bermain di pipi Keiji, melakukan gerakkan memutar.
"Aku lupa kamu tidak merestui kami. Haha, bagaimana kalau aku angkat jadi adikku hm?." Keiji berusaha menjauhkan wajahnya dengan raut kesal.
"Aku serius Hachibara san." Tegas Keiji menjauhkan tangan Yuki lagi.
"Apa karena itu kamu menghindariku akhir-akhir ini." Yuki kembali menyerang Keiji.
"Bagaimana perasaanmu setelah mempermainkan perasaan orang lain?." Yuki menatap manik Keiji yang sudah menatap kesal ke arahnya.
"Beruang besarku sedang marah rupanya, nanti cepet tua loh."
Pak.
"Keiji!." Tegur Hajime melihat adiknya yang menangkis cukup keras kedua tangan Yuki.
Hotaru yang sejak tadi diam menonton ikut merasa kesal.
Keduanya saling menatap, Keiji tidak bisa mengartikan raut wajah Yuki sekarang.
"Karena dia calon tunanganmu. Kamu mengabaikan perasaan aniki (kakak)." Ucap Keiji dengan nada rendah.
"Keiji!." Tegur Hajime meninggikan suaranya.
Yuki langsung menatap Hajime, tersenyum lembut kepada laki-laki itu seraya menggelengkan kepalanya. Hajime yang sudah merubah raut wajah kalemnya kembali tenang.
Yuki tersenyum kecil kepada diri sendiri sebelum kembali menatap Keiji.
"Kamu adalah adik yang sangat pengertian. Tapi Keiji." Yuki mengangkat satu tangannya merapihkan rambut Keiji.
"Apa kamu pernah di tembak seseorang?." Tanya Yuki. Keiji membuang wajahnya ke samping. Yuki kembali tersenyum.
"Hm .., jadi pernah. Apa kamu menerimanya?." Yuki menarik tangannya menjauh.
"Tidak." Jawab Keiji.
"Kenapa?."
"Jangan tanya." Yuki meraih dagu Keiji menggerakkannya untuk melihat wajahnya.
"Begitu juga denganku." Keiji hendak protes namun Yuki segera menangkup kedua pipi Keiji dengan tangannya.
"Bukan karena calon tunangan atau pun yang lain. Bukan karena aku menyukai orang lain. Keiji, ada yang lebih penting dari masalah percintaan." Yuki sangat lembut menuturkan setiap katanya.
"Aku sangat sibuk memikirkan yang lain dan tidak terpikirkan olehku tentang percintaan. Seperti alasanmu yang ingin fokus mengejar karir baseball." Yuki mengusap lembut pipi Keiji dengan kedua ibu jarinya.
"Aku juga tidak ingin menyakiti perasaan siapa pun. Apa lagi perasaan orang yang sudah membantu dan menolongku." Jelas Yuki. Meski sebenarnya masih ada orang lain di hatinya.
"Aku." Yuki langsung mencubit gemas pipi Keiji menghentikan kalimat yang akan keluar dari mulut anak itu.
"Tidak apa-apa yang penting kamu sudah paham."
"Meeooow ..." Yuki melirik kucingnya.
"Apa kamu sudah kenyang Yuu?." Yuki beranjak dari kursinya menggendong kucing putih yang sudah tumbuh besar.
"Masa san, aku ingin pergi ke kamar sebentar." Pamit Yuki langsung pergi meninggalkan dapur begitu saja.
"Biar saya bantu." Tawar Fumio langsung ikut membereskan piring-piring kotor membantu Masamune.
Hajime beranjak mencuci piring membiarkan Masamune menyusul Yuki.
Di dapur Hajime dan Fumio bekerja sama membagi tugas. Sedangkan di meja makan Hotaru dan Keiji sedang perang saraf.
"Aku masih tidak percaya kalian saudara kembar." Gerutu Keiji.
"Terserah padamu mau percaya atau tidak." Balas Hotaru.
"Terlihat jelas Hachibara san tidak senang berada di sekitar kalian." Keiji masih tidak terima.
"Aku tidak mengelaknya."
"Biarkan Hachibara san tetap berada di sini, kalian membuatnya lebih buruk." Keiji melirik Hotaru.
"Kamu mau memisahkan dua saudara kembar."
"Kalian belum pasti saudara kembar. Kalian terlihat tidak dekat, sikap Hachibara san cuek kepadamu." Hotaru tidak membalas ucapan Keiji, ia berdiri berjalan ke dapur.
"Untuk apa itu?." Tanya Fumio setelah membereskan semuanya.
"Jangan hentikan aku kali ini." Ucap Hotaru membawa sesuatu kembali ke meja dapur.
Hotaru duduk di depan Keiji, Fumio duduk di samping sahabatnya, sedangkan Hajime duduk di samping adiknya.
"Aku akan membuktikan kepadamu kami adalah anak kembar." Kata Hotaru mendorong pisau ke arah Keiji.
Hajime melirik Hotaru.
"Apa ini tidak berlebihan?. Maafkan sikap adikku, dia masih labil." Hajime membungkuk kecil.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membuktikan kepada kalian. Aku paham jika kalian meragukanku. Kami adalah kembar laki-laki dan perempuan, wajah kami tidak lah mirip." Jelas Hotaru.
"Jika aku terluka, Yuki juga akan merasakan rasa sakit dari lukaku. Kamu boleh menggores jariku untuk membuktikannya." Ucap Hotaru mengulurkan tangan kirinya.
"Aku tidak akan melakukannya." Tolak Keiji.
"Baiklah." Hotaru mengambil kembali pisau yang ia sodorkan.
Fumio menarik nafas berat memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku akan melakukannya sendiri." Hotaru tanpa ragu menggores jari manis tangan kirinya.
Seett.
Darah mengucur dari jari Hotaru. Lalu Hotaru menyembunyikan jarinya di bawah meja.
"Apa yang kamu lakukan?." Tanya Hajime terkejut.
"Kalian dengar, Yuki sedang berlari kemari." Jawab Hotaru.
Benar saja, suara gemuruh langkah kaki menuruni anak tangga. Keiji melihat Yuki yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kursi Hotaru dengan kotak p3k, menarik cepat tangan kiri laki-laki itu tanpa ragu.
"Apa yang coba kamu lakukan?!." Srobot Yuki geram. Tangannya langsung bergerak cekatan mengobati luka Hotaru.
"Maaf aku menyakitimu." Ucap Hotaru tulus.
Yuki melirik pisau di meja, maniknya langsung menatap lurus manik Keiji.
"Jadi, penyakitmu itu juga berasal dari dia?." Yuki menaikan satu alisnya.
Apa yang terjadi dengan Keiji kun sebenarnya?, kenapa dia jadi menyebalkan seperti ini?, batin Yuki.
Yuki menarik nafas panjang. Ia sudah memutuskan akan melakukannya kepada Keiji.
"Apa yang kamu lihat di dalam mataku?." Tanya Yuki memperban jari Hotaru tanpa melepas pandangannya dari manik Keiji, mengunci manik itu.
"Biru." Jawab Keiji.
Keiji sudah masuk ke dalam hipnotis Yuki. Gadis itu menyelesaikan pengobatan jari Hotaru.
"Kamu mengantuk?, kamu boleh menutup sebentar matamu." Ucap Yuki, Keiji mengikuti perintah Yuki.
"Kenapa tiba-tiba Keiji mengantuk?." Tanya Hotaru yang tidak tahu apa-apa.
Ceklek.
Ada tamu yang tak di undang masuk tanpa permisi ke dalam rumah dua lantai itu. Tamu itu sangat terkejut mendapati pemandangan yang tidak asing lagi di depan matanya karena ia juga pernah mengalami itu.
"Ojou chan!, berhenti." Dazai berlari dan berdiri diantara Yuki dan Keiji.
"Apa yang terjadi?." Dazai menatap Yuki lalu beralih melihat pisau, dan beralih lagi menatap jari Hotaru yang terluka.