
Berjalan pelan di tengah derasnya hujan, sesekali mendongak, dan menendang genangan air di jalan.
"Apa itu menyenangkan?." Yuki terkejut ia menoleh ke belakang.
Hajime berdiri kalem dengan payung di tangannya, menatap gadis yang bukan anak kecil lagi sedang hujan-hujanan bermain air.
"Tentu saja, mau coba?." Setelah mengatakan itu Yuki mencipratkan air ke wajah Hajime yang tetap kalem berdiri pasrah. Yuki melenggang pergi begitu saja. Ia tidak sadar Hajime mengikutinya sejak tadi.
Sesekali Yuki menengadah membiarkan wajahnya tertampar air hujan yang keras, lalu berdiri diam menatap aliran sungai di bawah sana. Otaknya berputar, berpikir, lalu siluet bayangan seseorang membuyarkan pikirannya.
Anak kecil duduk melipat kedua kakinya menghadap aliran sungai, Yuki tahu siapa dia.
"Senpai." Panggil Yuki menoleh kepada Hajime.
"Hm?."
"Senpai pulang duluan saja, aku mau turun sebentar." Ujar Yuki seraya menunjuk ke bawah.
Tanpa menunggu jawaban dari Hajime Yuki berlari kecil ke bawah, mendekati anak kecil itu.
Yuki membungkuk lalu menoleh menatap wajah kusut pucat.
"Dan." Panggil Yuki.
Dan menoleh terkejut mendapati Yuki di sampingnya. Gadis itu ikut duduk di sebelah Dan.
"Apa yang membuat pemimpin geng preman ini menangis?."
Deg.
Dan tentu saja terkejut, bagaimana bisa gadis itu melihat air matanya dalam keadaan hujan deras seperti ini.
"Apa terlihat?." Tangan Dan mengusap wajahnya kasar.
"Hm."
"Aome san apa kamu juga sedang menangis?." Pertanyaan anak kecil, batin Yuki.
"Tidak." Yuki bisa menebak pertanyaan selanjutnya.
"Kenapa hujan-hujanan juga?." Yuki tersenyum dalam hati karena tebakannya benar.
"Karena aku ingin." Dan kembali menatap aliran air deras di sungai.
"Aku kehilangan kakakku." Lirih Dan.
"Apa dia pergi jauh?." Dan kembali menangis kini isakkannya bisa Yuki dengar.
"Dia terbunuh tadi malam." Yuki diam.
"Sebuah kelompok telah memperingati kami sebelumnya, mereka akan menagih nyawa dan darah kepada kami." Raut wajah Yuki berubah datar.
"Kakakku bilang mereka tidak akan menyerang sampai ke kota akita karena jauh dari tokyo tapi." Suara Dan tercekat.
"Mereka ke sana, beberapa orang selamat, tapi kakakku mati."
Hening.
"Aku bersumpah akan memburu mereka, aku akan membalas dendam untuk kakakku." Yuki masih tidak menjawab.
Dan, kamu salah satu dari mereka. Kamu masih kecil, kenapa harus bergabung dengan organisasi mengerikan seperti itu, batin Yuki.
"Bukankah aku benar." Dan sedang mencari pijakan agar ia bisa berdiri lagi dengan meminta orang lain untuk meyakinkan bahwa pilihannya adalah benar.
"Kamu masih kecil Dan." Ujar Yuki.
"Jangan lihat ukuran tubuhku." Jawab Dan lirih.
"Tidak hanya tubuh, hatimu dan jiwamu juga." Yuki menoleh menatap anak itu. Dan membalas tatapan Yuki dengan kantung mata yang mulai membengkak.
"Jangan biarkan dirimu terjerumus ke dalam lumpur hitam semakin dalam lagi." Yuki mendaratkan tangannya di kepala Dan.
"Anak yang baru menginjak usia remaja sepertimu memang sangat senang menantang orang dewasa tapi ingat, anak-anak tetaplah anak-anak begitu juga remaja, mereka akan tetap pada posisi masing-masing." Ujar Yuki menepuk pelan kepala Dan.
"Pulanglah sebelum kamu sakit." Ujar Yuki menarik tangannya dan berdiri.
"Kamu tidak menawariku pulang bersama?." Tanya Dan yang berharap akan dikasihani Yuki dan di bawa ke rumah gadis itu.
"Sepertinya kamu masih betah menangis di sini." Jawab Yuki.
"Apa karena ada pacarmu di sana?." Yuki mendongak ke atas, Hajime masih berdiri menunggunya.
Yuki mengedikkan pundaknya.
"Pulanglah, teman-temanmu pasti sangat mengkhawatirkanmu." Ujar Yuki meninggalkan Dan.
Tidak ku sangka, kita bersebrangan. Agh, mungkin akan lebih banyak kejutan sudah menunggu, batin Yuki yang sudah berdiri di depan Hajime.
Laki-laki itu mengulurkan payungnya memayungi Yuki. Dengan dorongan dari jari telunjuk membuat payung kembali ke dekat Hajime.
Yuki menarik tangannya lalu berjalan pergi. Bunyi kecipuk air dan suara sepatu yang mengiringi langkah pulang mereka, hingga Hajime tidak tahan lagi untuk bertanya.
"Tidak apa-apa kamu meninggalkannya?." Hajime menatap Yuki yang menikmati air hujan.
"Ung, teman-temannya akan segera datang." Jawab Yuki.
"Tapi badannya sudah menggigil tadi, apa setidaknya kamu." Hajime menghentikan kalimatnya melihat Yuki yang sudah berbalik menatapnya.
"Dia adalah anak di pantai waktu itu, preman yang membuat senpai memintaku untuk segera pergi jika bertemu dengannya lagi." Hajime hendak protes namun Yuki kembali berjalan.
"Jangan cemas, semuanya akan baik-baik saja."
***
Jam enam sore harinya, Yuki berbicara dengan Dazai lewat ponsel.
"Ada, apa Ojou chan ingin ke sana?." Yuki melirik jam di atas meja belajarnya.
"Ya, apa sekarang kamu masih bekerja?."
"Tidak, hari ini aku pulang cepat. Ojou chan."
"Hm?."
"Kalau Tsubaki tahu dia akan marah besar."
"Jangan sampai dia tahu, sepuluh menit lagi kita bertemu di cafe dekat rumah sakit." Yuki berjalan mendekati lemarinya mengambil baju yang akan ia pakai.
"Saya akan menjemput anda." Sergah Dazai.
"Tidak perlu. Sampai nanti." Yuki memutus sambungan, melempar ponselnya ke atas ranjang.
Dengan segera Yuki melepas baju mininya memakai celana jogger putih dan kaos hitam polos tanpa lengan, plus jaket jeans sedikit kebesaran, memberikan kesan tomboy. Sentuhan terakhir Yuki memakai sneakers dan waist bag, penampilannya semakin edgy (gaya edgy adalah gaya berpakaian yang unusual dengan menghadirkan berbagai statement untuk memberikan kesan stand out namun tetap modern.)
Yuki membuka kotak make up lengkap yang di belikan Masamune saat mereka berbelanja baju. Tangannya mulai bergerak melukis wajahnya.
Eyeshadow berwarna coral, eyeliner coklat, maskara secukupnya, blush on coral yang tipis, terakhir Yuki mewarnai bibirnya dengan lipstik glossy orange yang cerah membuatnya tampak lebih segar, ditambah dengan moisturizer di dalam lipstik yang akan membuat bibirnya selalu lembut.
Selesai, batin Yuki.
Rambutnya ia sisir rapi, setelah di rasa cukup Yuki membereskan semua perlatan make upnya lalu menyambar ponsel di atas ranjang.
"Masa san, boleh pinjam mobil?." Tanya Yuki yang baru turun dari tangga mendekati wanita yang sedang sibuk dengan belanjaannya.
"Y Yu ki ..?!." Manik Masamune membulat sempurna mulutnya terbuka menatap sosok yang berdiri tak jauh darinya.
"Boleh pinjam?, aku juga akan makan malam di luar mungkin pulang larut malam." Masamune mengulurkan kunci mobil pelan, raut wajahnya tidak berubah sama sekali.
"Terima kasih, aku pergi dulu." Ucap Yuki berjalan begitu saja meninggalkan Masamune yang masih tercengang. Yuki sudah tidak punya banyak waktu lagi.
Gadis itu masuk ke dalam mobil memasang sabuk pengaman melajukan mobil ke jalanan yang masih terlihat terang meski jam sudah menunjuk jam enam lebih, karena di musim panas matahari tenggelam lebih lama. Bekas hujan tadi siang pun sudah mulai menghilang.
Karena besok hari sabtu, banyak pekerja dan pelajar yang libur, jalanan pun terlihat ramai oleh pasangan muda-mudi, sekelompok keluarga, dan orang .., berpacaran.
Yuki memarkirkan mobil di depan cafe tujuan. Sudah hal biasa jika ia dilihat oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan sebelum ia keluar dari dalam mobil.
Pintu otomatis di depannya terbuka mempersilahkan Yuki masuk, gadis itu mengedarkan pandangan mencari Dazai. Kakinya langsung mengarah ke kursi kosong di depan Dazai yang sibuk melirik pintu masuk.
Dazai mengerutkan alisnya melihat seorang perempuan berjalan ke arah mejanya. Beberapa detik kemudian ia terdiam kaku.
Yuki menarik kursi dan segera duduk di sana. Ia menatap Dazai sekilas lalu memutar bola matanya.
"Berhenti melihatku seperti itu." Dazai terkesiap, ia melihat ke kanan ke kiri depan belakang lalu berhenti dengan menunduk menatap kopi di mejanya.
"S sa sa saya, tidak tahu Ojou chan bisa berpenampilan seperti itu." Ujar Dazai yang tidak berani menatap Yuki.
"Lupakan itu, mau pergi sekarang?." Tanya Yuki.
"Baik." Jawab Dazai sudah kembali mengontrol dirinya.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian, Dazai yang tahu posisinya berjalan di belakang Yuki.
"Ojou chan!, anda menyetir sendiri?." Dazai terkejut.
"Berhenti berpikiran kalau aku anak kecil." Yuki membalikan badan menghadap Dazai.
Hening.
"Jangan membuang-buang waktu. Mereka terus bergerak dengan kecepatan stabil, aku tidak akan diam dan menonton." Dazai menepuk dahinya keras.
"Maafkan saya Ojou chan, pakai mobil saya saja, mari."
Dazai berjalan di susul Yuki di sampingnya, meski Dazai merasa tidak enak berjalan sejajar dengan nona mudanya tapi ia tidak berkomentar atau pun menjauh, ia harus senormal mungkin.
"Bagaimana menurutmu jika para pelindung melihat dan mengenaliku?." Tanya Yuki yang sedang sibuk memilih bahan di toko besar itu.
Dazai melirik Yuki di sampingnya.
"Itu buruk."
"Begitukah."
"Ya, tidak berbeda dengan tempat yang akan kita kunjungi sebentar lagi." Yuki tersenyum mendengar Jawaban Dazai.
"Ojou chan, Tsubaki benar-benar akan memenggal kepalaku."
"Dia tidak akan melakukannya tanpa seizinku." Yuki memilih kain berwarna hitam dan memintanya kepada salah satu pelayan.
Ya, tetap saja tidak ada yang bisa melawan Tsubaki jika dia sudah marah, batin Dazai.
"Kenapa?." Dazai sadar dari lamunannya.
"Eh?!. Mungkin ada benarnya yang Ojou chan katakan tapi, Tsubaki adalah orang yang di pilih untuk memimpin kami." Jelas Dazai.
"Lalu?." Dazai menggaruk belakang kepalanya.
"Ok, karena ingatan Ojou chan masih sibuk bersembunyi saya akan mengingatkan anda bahwa klan kita tidak asal memilih pemimpin, bahkan harus melalui banyak seleksi rumit." Meskipun Dazai sudah menjelaskan kepada Yuki namun gadis itu hanya mengangguk kecil dengan wajah datar.
Tibalah di sini, tempat yang Yuki tunggu-tunggu. Dazai melirik Yuki dari kursi kemudinya.
"Ojou chan apa tidak lebih baik kita kembali saja?." Yuki mengacuhkan Dazai, tangannya membuka bungkusan yang ia beli tadi.
"Jangan aneh-aneh Dazai, kita sudah sampai." Yuki memasang topeng berbentuk serigala yang menutupi setengah wajah bagian atasnya.
"Meskipun ojou chan memakai topeng tapi ini belum waktunya Ojou chan datang ke sini." Dazai ragu.
"Ayo kita makan malam dulu." Dazai berusaha mencari alasan.
"Kita sudah makan sebelum ke sini." Jawab Yuki.
"Ojou chan, pikirkanlah kembali." Pinta Dazai.
"Kemana semangatmu saat di lab?, katakan saja kalau aku pacarmu, selesai." Dazai sontak kaget tidak percaya.
"Saya tidak pantas melakukan itu Ojou chan." Dazai menunduk dalam. Yuki menarik nafas kesal.
"Dazai." Panggil Yuki, Dazai tetap dalam posisinya.
"Ya, Ojou chan?."
"Malam ini mereka akan menyerang kanagawa. Kamu tahu siapa yang ada di tempat itu?." Dazai diam sebentar.
"Tidak tahu Ojou chan."
"Di kanagawa tempat berkumpulnya uang mereka. Kamu tahu apa artinya?." Dazai hampir terkejut karena Yuki tahu informasi sedetail itu namun Dazai menahannya. Dazai harus terbiasa.
"Tidak Ojou chan." Yuki mengangguk kecil lalu menatap kepala Dazai yang masih menunduk.
"Mereka akan mengacaukan perekonomian kelompok musuh, membiarkan musuh kesulitan. Rencana balas dendam yang sangat sempurna." Dazai menelan salivanya kasar.
"Aku butuh sesuatu di dalam sana untuk melakukan penyamaranku, apa kau mengerti Dazai."
Aku meninggalkan semua peralatan penyamaranku di kamar rahasia, batin Yuki.
"Saya mengerti Ojou chan, mari kita masuk." Ujar Dazai masih membungkuk.
"Ya, dan angkat tubuhmu." Perlahan Dazai menegakkan tubuhnya.
"Di dalam sana saya akan memanggil anda Ao chan apa tidak masalah?." Kata Dazai ragu-ragu.
"Ung, tidak masalah." Dazai bernafas lega.
"Satu lagi. Anda tidak boleh membuka suara anda." Yuki menganggukkan kepalanya.
"Baiklah ayo kita masuk."
Yuki mengikuti Dazai dari belakang. Mereka memasuki sebuah toko olah raga kecil. Di dalam toko beberapa pengunjung sedang melihat-lihat, Dazai terus berjalan menuju pintu belakang, mengangguk kecil kepada kasir toko.
Ceklek.
Lorong terang dengan satu pintu di ujungnya. Dazai berhenti di depan pintu mengulurkan tangannya yang tergenggam ke kenop pintu alih-alih menyentuhnya.
Sebuah sensor panjang turun dari atas, bergerak bolak-balik di atas punggung tangan Dazai.
Yuki menarik sudut bibirnya melihat sebuah tato samar di punggung tangan Dazai, tato klan Hachibara. Yuki tidak pernah melihat ada tato di tangan Dazai, ia baru tahu ada yang bisa membuat tato seperti itu dan sensor untuk melihatnya.
Ceklek.
Pintu terbuka sendiri, sebuah ruangan gelap dengan penerangan lilin-lilin kecil di empat sudut ruangan, Yuki penasaran apakah ruangan itu benar-benar kosong?.
Dazai menoleh ke arah Yuki menunduk dalam, Yuki yang melihat itu pun mengangkat satu alisnya.
"Maaf, boleh saya pegang tangan anda?." Yuki mengulurkan tangan kanannya. Dazai yang merasakan pergerakan Yuki membungkuk semakin dalam.
"Sungguh, saya minta maaf. Maafkan kelancangan saya." Ucap Dazai.
Yuki diam menunggu Dazai menerima tangannya, perlahan Dazai menegakkan kembali tubuhnya, tangannya bergetar menyambut tangan Yuki. Setelah Dazai menerima tangan Yuki gadis itu maju satu langkah dan menjijit untuk membisikan sesuatu.
"Jangan di pikirkan, ini sandiwara kita, aku yang memintamu, kamu tidak melakukan kesalahan Dazai." Bisik Yuki lalu menarik tubuhnya mundur menatap manik Dazai seraya menepuk beberapa kali punggung tangan pria itu yang menggenggam tangannya dengan gemetar.
"Semoga nyawaku masih ada sampai tiga jam ke depan." Ujar Dazai lirih mengingat mereka akan memasuki tempat terlarang bagi Yuki.
Dazai menuntun Yuki memasuki ruangan gelap di depan mereka.
Ceklek.
Pintu tertutup sendiri, Yuki tidak kaget dengan itu ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tidak ada yang lolos dari pengamatannya, setiap sudut, setiap goresan kecil, lalu Yuki menengadah ke atas.
Dazai yang merasa aneh karena Yuki tidak bergerak saat ia menarik lembut tangan gadis itu untuk berjalan ke depan pun menoleh ke belakang, mendapati Yuki yang sedang waspada.
WAW!, ini lebih menarik dari kamar rahasiaku, batin Yuki menurunkan bola matanya ke lantai menarik tangan Dazai untuk ikut berjongkok dengannya.
Tangan Yuki yang lain terulur menyentuh lantai, ia melihat sebuah simbol besar di tengah-tengah lantai, simbol apa lagi kalau bukan simbol klan Hachibara.
"Ada apa?." Lirih Dazai.
Yuki menatap manik Dazai dengan wajah antusias. Kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Dazai.
"Jebakan yang sempurna." Dazai melebarkan matanya, jantungnya berpacu kencang.
"Sudah berapa orang yang mati di sini?." Dazai menelan salivanya dengan susah payah.
"Aku ingin bertemu dengan orang yang membuat semua jebakan dan pintu rahasia itu." Yuki menarik tubuhnya lalu menunjuk lantai di depan mereka.
Dazai membalas tatapan Yuki. Gadis itu menggerakan bibirnya tanpa ada suara.
"Ruang bawah tanah."
Deg!.
Bagaimana bisa?!, ruangan ini gelap bagaimana caranya Ojou chan menemukan jebakan dan pintu rahasia?, jebakan juga tersembunyi dengan baik, apa Ojou chan tahu cara memicu jebakan keluar?, batin Dazai.
"Ayo kita masuk, anda tidak ingin membuang waktu bukan." Lirih Dazai menahan rasa penasarannya.
Yuki diam mengikuti Dazai, mereka berhenti di tengah simbol.
Seperti sebuah pagar dengan lingkaran yang melindungi garis-garis dan kotak di dalamnya. Dazai mengetuk lantai dengan irama tertentu.
DUK!.
Dak. Dak. Dak. Dak.
Yuki melirik lantai yang jatuh ke dalam di susul munculnya anak tangga.
Ya ampun, baru kali ini aku ingin bertemu dengan orang yang tidak aku kenal, jika aku bisa bertemu dengan orang yang sudah membuat semua ini, aku tidak akan melepaskan orang itu, batin Yuki.
Dazai menuntun Yuki menuruni tangga gelap tanpa pencahayaan.