Futago

Futago
Dua Kepribadian.



Kini Yuki menjadi tersangka yang sedang di sidang oleh Keiji perihal pertandingan yang Yuki lakukan tempo hari. Gadis itu pun pasrah menjelaskan jenis-jenis lemparan yang ia lakukan, dan bola-bola foul yang sengaja ia pukul. Sedangkan Hajime sedang sibuk di dapur memasak untuk makan siang mereka.


Duk. Duk. Duk.


Sreeekk.


Hajime terkejut tiba-tiba Yuki menarik celemek sebelah kanannya dari samping, gadis itu lagi-lagi bersembunyi kepada dirinya. Hajime yang sedang mengaduk masakannya pun kesulitan karena ulah Yuki.


"Ada apa lagi?." Tanya Hajime melirik ke bawah. Yuki menunjuk sesuatu dengan dagunya.


"Keiji memaksaku melempar untuknya." Jawab gadis itu. Hajime menoleh ke samping kirinya mendapati adik laki-lakinya itu sedang memegang pemukul dan sarung tangan baseball.


"Keiji." Tegur Hajime dengan suara khasnya.


"Aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri aniki (kakak)." Jawab tegas Keiji.


"Hachibara san ayo cepat." Ajak Keiji melangkah mendekati Hajime dan Yuki yang berlindung di lengan kakaknya.


Yuki entah sejak kapan sering berlindung kepada Hajime, mungkin hanya laki-laki itu yang bisa menjinakkan adiknya. Karena punggung Hajime yang biasa menyembunyikannya sedang terbuka lebar Yuki tanpa sadar bergerak ke depan laki-laki itu semakin menyembunyikan dirinya.


"Apa kamu mau bermesraan dengan kakakku Hachibara san?." Teguran Keiji membuat Yuki tersadar, ia menatap dada bidang di depannya dengan tatapan horor. Yuki bergerak mundur dengan cepat.


"Maaf!, bukan mak." Suara Yuki tercekat karena merasakan tangan besar di punggungnya.


"Awas, kompornya masih menyala."


Yuki membeku. Bukan membeku karena keadaannya sekarang melainkan perasaan aneh namun terasa tidak asing yang menjalar di seluruh kulitnya, perasaan yang akhir-akhir ini membuatnya stres dan memaksanya berpikir keras.


"Mau sampai kapan kamu berpelukkan dengan kakakku?."


"Keiji." Tegur Hajime yang melihat raut wajah Yuki yang berubah, mata biru itu tiba-tiba kosong.


Yuki memegang lengan kanan Hajime mengangkatnya ke atas lalu menunduk keluar dari persembunyiannya. Melangkah mantap menghampiri Keiji.


"Ada apa?." Tanya Keiji bingung, wajah cantik itu berubah sendu.


"Berapa banyak yang harus aku bayar untuk menyewa satu kolam renang?." Sebenarnya Keiji heran dengan pertanyaan acak yang Yuki berikan tapi ia tetap menjawabnya.


"Entahlah, lima juta?, delapan?, mungkin bisa sampai sepuluh juta." Jawab Keiji asal.


"Bisa antarkan aku ke sana sekarang?." Tanya Yuki.


"Haahh ..?."


"Aku akan melempar sebanyak yang kamu mau tapi antarkan aku ke sana."


Hajime sudah mematikan kompornya, menyiapkan semua makanan di meja, melirik Yuki dan Keiji.


"Waktunya makan." Suara Hajime mengalun di dapur itu.


"Aku akan menyiapkan perlengkapannya, tunggu sebentar." Ucap Yuki tidak mengindahkan Hajime.


"Yuki." Tegur Hajime menghentikan langkah kaki gadis itu.


"Waktunya makan." Ulang Hajime seraya melepas celemek dari tubuhnya.


Keiji berjalan ke meja makan meletakkan tongkat dan sarung tangan bisbol di lantai lalu menarik kursi keluar menoleh kepada Yuki.


"Hachibara san." Panggil Keiji.


Yuki menarik nafas panjang berusaha menenangkan dirinya. Apa yang sedang aku lakukan?, batinnya. Ia membalikan badan berjalan menghampiri Keiji yang sedang menunggu dirinya. Keiji menarik kursi di sebelah Yuki dan duduk dengan tenang di sana, Hajime sendiri duduk di depan adiknya. Yuki menunduk sopan membuat kakak beradik itu menatapnya.


"Maaf atas semua sikapku." Ucap Yuki lalu menegakkan badannya, menangkupkan kedua tangan.


"Ittadakimasu (Selamat makan)." Lanjut Yuki mengambil sumpit di sampingnya dan mulai menikmati makanan di hadapannya.


"Ittadakimasu." Sambung Hajime dan Keiji bersama-sama.


Setelah makan siang yang hening itu Keiji membawa Yuki ke lapangan umum di dekat kompleks rumah mereka, Hajime akan menyusul setelah ia pulang ke rumah lebih dulu.


Dengan jaring yang tersedia di lapangan, digunakan untuk pembatas (sebagai catcher) agar bola tidak terlempar jauh, dengan peralatan seadanya Yuki dan Keiji mulai melempar dan memukul.


Keiji dibuat tak percaya dengan bola matanya, belum ada satu bola pun yang berhasil anak itu pukul hingga Hajime datang dan menonton.


Langit berubah oren tanpa mereka sadari, tubuh Keiji bersimbah keringat begitu juga dengan Yuki. Mereka merapihkan lapangan seperti semula. Hajime menyodorkan dua botol minuman kepada adik dan tetangganya itu.


Yuki meluruskan kakinya duduk di sebelah kanan Hajime Keiji lebih memilih di sebelah kiri kakaknya, mereka mengatur nafas yang tersengal-sengal.


"Kamu sudah puas Keiji?." Tanya Hajime.


"Tidak." Sergah cepat adiknya, Hajime tersenyum ia tahu Keiji kesal karena tidak ada satu bola pun yang berhasil anak itu pukul.


"Teknik lemparan Yuki tidak setara dengan anak smp, wajar jika kamu tidak dapat memukulnya." Ucap Hajime berusaha menenangkan Keiji.


"Tidak bisa di percaya kalau Hachibara san tidak pernah bermain baseball sebelumnya." Hajime tersenyum.


"Aku ragu kalau dia perempuan." Imbuh Keiji masih kesal.


"Uhuk!, uhuk! ... Hm?." Yuki terbatuk sebentar lalu mencondongkan tubuhnya ke depan menoleh menatap Keiji dengan satu alis terangkat.


Keiji balas menatap Yuki. Dia baru mengeluarkan suaranya lagi setelah kejadian tadi siang, apa dia baik-baik saja?, batin Keiji mengingat sorot mata sendu Yuki.


"Lain kali aku akan memukulnya." Ucap Keiji beranjak berdiri.


"Ayo pulang." Ajak Keiji, Yuki tanpa membuka suara ikut berdiri.


"Keiji kau pulang dulu, aku dan Yuki mau mampir ke minimarket sebelum pulang."


"Ung." Tanpa bertanya Keiji mematuhi ucapan kakaknya. Ia berjalan pulang, sendiri.


"Mau cari makan malam?." Tawar Hajime. Yuki diam tidak mengiyakan atau pun menolak.


Hajime pun tidak menunggu jawaban dari Yuki ia mulai memimpin jalan. Seperti biasa, hening. Hajime melirik Yuki di belakangnya, raut wajah gadis itu masih tetap dingin, saat di lapangan pun raut wajahnya tidak berubah.


"Aku bertemu pelatih di depan rumahmu, dia sangat khawatir." Suara Hajime memecah keheningan.


"Pelatih memintamu untuk segera menghubunginya." Hajime diam sebentar.


"Aku memberitahunya tentang keinginanmu yang ingin ke kolam renang, pelatih akan mengantarmu. Dan pelatih juga bertanya," Hajime menghentikan langkahnya memiringkan sedikit badannya melirik Yuki.


"Apa kepalamu terasa sakit?." Yuki membuang wajahnya tanpa menghentikan langkah melewati Hajime.


"Abaikan saja dia. Sudah hampir malam, bento di minimarket mungkin sudah hampir habis." Ucap Yuki lirih yang didengar oleh Hajime.


Gadis aneh, sakit apa dia?, batin Hajime.


Setelah membeli makanan untuk makan malam Yuki dan Hajime berjalan kembali ke rumah mereka masing-masing. Sunyi, tidak ada yang membuka suara lagi setelah obrolan terakhir mereka.


Yuki melihat ada mobil di garasi rumahnya. Masamune sudah pulang, itu yang didalam pikiran Yuki ia lalu menghadap Hajime menunduk sopan.


"Terima kasih sudah mencariku, terima kasih juga untuk hari ini." Setelah mengatakan itu Yuki menegakkan kembali tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Tadaima (Aku pulang)." Ucap Yuki melepas sepatunya.


"Yuki ...!" Suara teriakan Masamune dari dalam rumah. Wanita itu berlari memeluk Yuki.


"Maaf, tidak mengabarimu dulu. Aku mendapatkan telepon dadakan dari kampung dan segera pergi ke sana." Jelas Masamune.


"Ung, tidak apa-apa. Apa semuanya baik-baik saja?." Tanya Yuki, Masamune melepas pelukkannya tersenyum tipis.


"Aku hanya punya ibu, beliau sudah tua dan sakit-sakitan. Kemarin beliau jatuh di kamar mandi, tetangga yang menolongnya. Tapi, sekarang sudah tidak apa-apa, dokter sudah membolehkannya pulang." Yuki menganggukkan kepalanya.


"Apa biaya pengobatannya mahal?." Masamune tertegun sebentar.


"Karena itu aku bekerja keras disini." Jawab Masamune lalu menunjuk kantong plastik yang Yuki bawa.


"Apa itu?."


"Makan malam." Jawab Yuki mengangkat kantong plastik di tangannya.


"Maaf aku baru sampai belum sempat memasak." Ujar Masamune.


"Ung."


Yuki sedang berendam di dalam bathtub kesayangannya ia menenggelamkan seluruh badan tanpa tersisa, sedikit bermain dengan gelembung sabun.


Masamune langsung menuju dapur setelah Yuki pulang.


"Mau makan langsung?." Tawar Masamune yang melihat Yuki keluar dari dalam kamar mandi.


"Aku akan menunggumu selesai mandi." Jawab Yuki, Masamune tersenyum mengingat ia memang belum membersihkan diri.


"Mau tambah?." Yuki menggeleng pelan.


"Kenapa dengan wajahmu?." Yuki mengangkat satu alisnya.


"Pertama kali kita bertemu wajahmu memang datar tapi sekarang lebih ke .., dingin. Kepalamu sakit lagi?." Tanya Masamune hati-hati, raut khawatir terlihat jelas di wajahnya.


Yuki menaruh mangkuk nasinya dan meletakkan sumpit diatas mangkuk, kepalanya tidak menunduk namun manik biru itu menatap ke bawah.


"Ada apa?." Tanya lembut Masamune.


"Sepertinya aku sudah tidak mengenali diriku sendiri." Ujar Yuki menarik nafas dengan teratur.


"Masa san, apa mungkin orang memiliki dua kepribadian?." Masamune hendak menjawab namun Yuki kembali membuka mulutnya.


"Apa mungkin seseorang bisa berubah sangat cepat?." Yuki mengingat beberapa bulan ke belakang.


"Apa anak-anak panti mempengaruhiku?, atau para orang tua di panti jompo?. Apa mungkin orang itu?." Kedua tangan Yuki yang tersimpan di bawah meja mencengkeram erat celana panjangnya.


"Apa karena satu tahun lebih ini aku hanya sedikit menggunakan kepalaku?." Masamune membuka mulutnya namun lagi-lagi Yuki kembali berbicara.


"Kenapa Masa san tahu tentang sakit kepalaku?." Perlahan Yuki menatap wajah Masamune menunggu jawaban.


Apa dia sedang di fase pertumbuhan remaja, batin Masamune. Ia tersenyum lembut, dengan sabar menghadapi gadis yang kini tinggal bersamanya.


"Pertama, aku tidak tahu tentang kepribadian ganda. Kedua, ada kemungkinan orang bisa berubah dengan cepat karena berbagai faktor yang mendukungnya. Ketiga, apa kamu banyak melakukan kegiatan sosial sebelumnya?." Masamune menjawab sekaligus bertanya dengan suara lembut.


"Ya, di panti asuhan dan panti jompo." Jawab Yuki mengingat hari-harinya di negeri ginseng.


"Mungkin dari sana perlahan kamu mulai berubah." Yuki menggeleng pelan.


"Jika iya, tidak akan merubah semuanya bukan." Sanggah Yuki.


"Baiklah kita anggap jawabanmu benar, untuk yang ke empat. Kamu masih ingat amplop biru yang kamu berikan kepadaku di bandara saat itu?." Yuki kembali mengingat.


"Saat kamu dan Mi chan menjemputku setibanya di jepang?." Masamune mengangguk mantap.


"Ya, aku memberikkannya kepada kalian." Ucap Yuki setelah mengingat kejadian itu.


"Surat milikku tertulis, jika gadis ini merasakan sakit di kepalanya lagi atau ia butuh bantuan berikan nomor ini kepadanya." Masamune mengucapkan pesan sesuai yang ia ingat.


"Siapa?." Tanya Yuki, seingatnya ia di berikan dua amplop berbeda warna oleh neneknya ditujukan kepada orang yang menjemputnya di jepang nanti.


"Dokter, disana tertulis seperti itu." Jawab Masamune.


Jun Ho si, batin Yuki.


"Boleh aku meminta nomornya?." Masamune beranjak dari kursinya berjalan ke kamar.


Kenapa aku seperti orang bodoh sekarang, rutuk Yuki dalam hati. Masamune kembali dengan amplop biru yang pernah Yuki berikan.


"Nomornya tertulis di sana." Ujar Masamune menyerahkan amplop kepada Yuki.


"Terima kasih." Ucap Yuki, Masamune kira gadis itu akan segera membukanya tapi tidak, Yuki malah meletakan amplop di sampingnya dan kembali mengambil sumpit melanjutkan makan malamnya yang tertunda.


"Apa sudah baik-baik saja sekarang?." Tanya Masamune meneliti wajah Yuki.


"Ya, mungkin." Jawab gadis itu masih dengan wajah datar setidaknya tidak dingin.


Yuki duduk diatas ranjang dengan amplop biru di hadapannya, jari-jari lentik itu menekan beberapa angka di layar benda pipih miliknya, menempelkan di dekat telinga.


Sudah beberapa kali Yuki melakukan panggilan dan menunggu namun tidak ada tanda-tanda panggilannya di jawab oleh orang di sebrang sana.


Yuki hendak memutus panggilannya namun suara dari orang yang ia telepon menghentikan niat Yuki.


"Yobuseo ? (Halo ?)."


"Ini aku." Ucap Yuki.


"Yak! gadis nakal. Apa kepalamu sakit lagi?." Teriak Jun Ho di sebrang sana.


"Tidak." Jawab Yuki setelah mendekatkan kembali ponsel yang ia jauhkan dari telinga.


"Lalu kenapa kamu menghubungiku?!, nenekmu pasti akan marah besar. Aku sudah berjanji kepadanya." Suara Jun Ho terdengar kesal.


"Janji?."


"Aku sudah berjanji kepada nenek untuk tidak menghubungimu kecuali penyakitmu kambuh lagi." Jelas Jun Ho.


Terdengar suara hembusan nafas berat ketika Jun Ho beranjak berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan ke rak-rak obat.


"Jadi ..?." Jun Ho merasa ada yang aneh karena gadis nakalnya itu jarang sekali menarik nafas berat seperti tadi.


"Aku seperti kehilangan diriku sendiri. Menurutmu, apa mungkin aku memiliki dua kepribadian?." Tanya Yuki langsung kepada intinya.


Jun Ho di sebrang sana sedang berpikir,menimang-nimang kondisi pasiennya selama ini.


"Aku rasa tidak, tapi aku juga tidak yakin dengan jawabanku." Jawab Jun Ho.


"Dokter macam apa yang memberikan jawaban ragu-ragu seperti itu." Ejek Yuki dengan nada datarnya.


"Karena kamu masih bisa mengejekku aku bisa menyimpulkan sesuatu. Setidaknya kamu di sana tidak apa-apa." Ujar Jun Ho.


"Setiap hari aku hampir gila disini, perasaan aneh yang tiba-tiba datang memaksaku terus berpikir." Sergah Yuki.


"Perasaan aneh tentang dua kepribadian itu maksudmu?." Jun Ho menutup rak obat miliknya.


"Hm."


"Mungkin itu perasaan yang sama saat kamu perlahan berubah disini." Yuki memundurkan tubuhnya hingga bersandar ke dinding di belakangnya.


"Bukan, ini berbeda Jun Ho si. Bukan seperti mereka yang membuatku perlahan berubah, tapi ini seperti diriku sendiri bertindak di luar kebiasaanku tanpa aku sadari." Jelas Yuki.


"Yak. Gadis nakal, kamu tidak pernah bingung dengan dirimu sendiri sebelumnya. Bahkan saat tidak ada obat untuk penyakitmu." Ucap Jun Ho pandangannya menerawang jauh.


"Karena itu, ini membuatku stres." Jawab Yuki dingin.


Hening.


Jun Ho memutar otaknya.


"Setelah sampai di sana apa kepalamu pernah terasa sakit lagi?." Tanya Jun Ho.


"Tidak."


"Memori di kepalamu?."


"Hm, sesekali aku mengingatnya dan kepalaku baik-baik saja."


"Bagaimana dengan darah dari hidung dan mulutmu?."


"Mereka tidak keluar."


"Apa mungkin ini karena kamu berada di tempat kelahiranmu. Sesuatu yang familiar tapi kamu tidak mengingatnya memaksa tubuhmu untuk mengenalinya." Yuki memikirkan ucapan Jun Ho.


"Apa itu mungkin?." Yuki sedikit ragu.


"Ya, menurutku." Jun Ho kembali duduk di kursi kerjanya.


"Aku meragukan jika kamu memiliki dua kepribadian gadis nakal. Kamu adalah gadis kuat secara mental maupun fisik bahkan sebelum kita bertemu yaah .., hanya jika berhubungan dengan orang yang kamu cintai mampu membuatmu goyah." Imbuh Jun Ho.


Hening.


"Sudah berapa kali kamu ke jepang?." Suara Jun Ho menyadarkan Yuki dari pikirannya.


"Ini pertama kali." Jawaban Yuki membuat Jun Ho mengerutkan kening.


"Kenapa?, apa kamu tidak ikut menangani perusahaan di jepang?." Yuki langsung melebarkan matanya, ia baru sadar. Kenapa dia tidak pernah curiga kepada Daren tentang hal ini.


"Tidak." Lirih Yuki.


"Kalian memiliki beberapa perusahaan dan beberapa usaha lainnya di jepang lebih banyak dari negara-negara lainnya tidak mungkin jika kamu tidak ikut campur dalam urusan perusahaan di sana. Hanya sekedar mengerjakan proposal atau melihat nilai saham, atau sekedar pertemuan bisnis. Tidak mungkin tidak sama sekali, karena ayahmu memang membesarkanmu untuk menjadi boneka perusahaannya bukan." Jelas Jun Ho panjang lebar.


Yuki menutup kelopak matanya menenangkan diri, berusaha merangkai informasi di dalam kepalanya.


"Tidak, Jun Ho si. Tidak pernah."


"Mustahil." Terdengar gumaman Jun Ho dari ponsel.