
Yuki menarik nafas panjang kala semua orang di dalam dojo berlutut kepadanya. Ia ingin melangkah pergi begitu saja tapi itu sangat tidak sopan. Akhirnya Yuki menghentikan langkahnya.
"Terima kasih untuk sambutan kalian, saya sangat menghargainya. Setelah ini saya harap tidak ada lagi yang berlutut ketika bertemu dengan saya. Terima kasih, semoga malam kalian baik." Ucap Yuki lalu membungkuk dalam beberapa detik lamanya dan menegakkan tubuh kembali melangkah meninggalkan dojo.
"Maaf ojou chan." Yuki menghentikan langkahnya.
"Anda salah jalan." Ucap Yamazaki.
Akan butuh usaha lebih untuk menghafal kediaman utama.
"Takkecchan." Yamazaki terperanjat, sedikit terkejut. Yuki memanggil panggilannya seperti dulu.
"Ya, ojou chan?."
"Arah dapur ke mana?." Yamazaki tersenyum lalu memimpin jalan.
"Apa anda sudah ingat kalau dulu anda juga sering mengunjungi dapur untuk bersembunyi dari tuan besar." Celetuk Yamazaki membuka obrolan.
"Tidak, aku tidak ingat apa-apa lagi setelah bangun." Jawab Yuki.
Sebenarnya ia mengingat pernah duduk di salah satu kursi sambil menatap punggung Dazai yang sedang memasak. Ia juga menjawab jujur, setelah bangun dari tidur panjangnya ia tidak mengingat apa-apa lagi, walaupun ia sudah berada di tempat dimana sumber kenangannya berada.
Dapur ternyata cukup jauh berada di sebelah selatan. Yuki melihat banyak pohon-pohon sayur, dan buah berjejer di lahan yang tak jauh dari lorong terbuka. Pemandangan itu membuatnya sangat tertarik, ia belum pernah melihat tumbuhan sayur dan buah secara langsung. Yuki tahu ia terlahir di keluarga kaya dan kakek moyangnya juga bukan orang biasa tapi baru kali ini ia terbersit pikiran, 'sebenarnya seberapa kaya keluarganya'.
Setiap bangunan seluas lantai satu rumahnya di indonesia. Dojo bahkan lebih luas lagi, belum dengan taman, danau yang ada di bangunan kamarnya. Bangunan-bangunan lain yang belum ia kunjungi di tambah masih ada lahan untuk menanam sayur dan tumbuhan, apa kakeknya juga memiliki peternakan?.
"Apa anda tertarik?." Yuki melirik ke samping dan kakinya pun terhenti.
"Ada apa ojou chan?." Tanya Yamazaki melihat Yuki yang mematung.
Yuki baru tersadar saat ia menoleh hendak melihat Yamazaki namun maniknya menerobos jauh ke belakang pria itu. Lampu-lampu berbentuk rumah unik dengan patung burung phoenix kecil di atasnya, lampu-lampu itu berjarak dua meter dengan lampu selanjutnya. Ia menoleh ke belakang, ternyata lorong yang ia lewati pun sama. Ada sesuatu di dalam kepala Yuki yang menggeliat memaksanya untuk mengingat namun terasa samar.
Yuki bingung ia seakan sedang bermain petak umpet dengan ingatannya. Tidak ada rasa sakit karena setiap Yuki hampir menemukan sesuatu ingatan itu berlari cepat dan bersembunyi. Hal itu membuat Yuki jengkel!, greget!, kesal!, perasaannya uring-uringan seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya.
"Ojou chan?." Panggil Yamazaki.
"Tidak, apa masih jauh?."
"Sudah terlihat." Yuki melirik ke depan.
Bangunan empat tingkat dengan cerobong di lantai satu yang agak terpisah dengan lantai satu utama. Menarik. Ada dua pintu di sebelah kanan dan kiri. Pintu sebelah kanan adalah pintu besar, sedangkan pintu sebelah kiri pintu dengan bentuk tak biasa, bundar. Jendelanya pun bundar, pot-pot bunga tergeletak di bawah jendela memberikan kesan dunia dongeng.
Apa aku tidak salah masuk rumah?, batin Yuki.
Ia biasa di kelilingi kemewahan modern dan yang berbau elektronik canggih, tapi yang ini berbeda, ia merasa nyata dan tidak nyata. Beberapa pelayan keluar dari pintu bulat membawa dua troli makanan dan yang lain berjalan anggun di depan troli, tangan mereka di letakan di depan perut saling menumpuk.
Ini bukan eropa kan?, batin Yuki yang mulai meragukan otaknya.
Di saat mereka sudah dekat dengannya dan Yamazaki mereka berhenti, pelayan yang memegang troli melepaskan tangan mereka dari troli meletakan tangan seperti pelayan yang lain lalu tersenyum dan membungkuk sopan.
Yamazaki mengangguk kecil, Yuki melangkah lebih dulu karena mereka terlihat tidak akan bergerak selama dia masih di sana. Benar saja setelah Yuki melewati mereka beberapa langkah, para pelayan kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Ini akan lebih melelahkan ke depannya. Yamazaki membuka pintu setelah mengetuknya satu kali. Yuki ikut masuk. Pemandangan yang mengejutkan kala pemandangan cafe negeri dongeng menyambut Yuki. Ada satu jalur berwarna hijau rumput yang menarik perhatiannya, Yuki segera tahu untuk apa jalur itu saat dua pelayan keluar dari pintu ujung, salah satu pelayan membawa troli berjalan di atas jalur hijau. Mereka juga membungkuk dalam kepada Yuki. Yamazaki berbicara sebentar kepada mereka lalu pelayan-pelayan itu pergi.
"Apa aku suka bersembunyi di sini?." Tanya Yuki.
"Tidak, tepatnya di balik ruangan ini." Jawab Yamazaki.
Pria itu menuntun Yuki memasuki pintu yang sama dengan pelayan tadi. Dua meja panjang dan deretan troli berbaris rapi, tempat itu sangat bersih. Yamazaki tidak berhenti di sana pria itu masuk ke dalam pintu ke tiga.
Pintu yang terbuka itu mengantarkan bau sedap yang menggoda. Yuki melangkah masuk.
Meja pantry berbentuk L untuk meletakan makanan yang sudah siap. Sederet kompor dari ujung ke ujung. Di depan meja pantry masih ada meja besar digunakan untuk memotong, mempersiapkan sayuran yang akan di masak. Yuki tidak habis pikir, perut leluhurnya sebesar apa sampai dapur saja sebesar ini. Yuki melirik ujung yang lain. Tiga kulkas berukuran raksasa berdiri cantik di sana.
"Bisa jelaskan?." Yuki melirik Yamazaki.
"Mereka memasak bukan untuk anggota keluarga utama saja ojou chan, untuk semua pelindung dan pelayan di kediaman utama." Jelas Yamazaki.
"Anggaran dari mana untuk mencukupi semua ini?." Yamazaki terkejut tapi ia segera tersenyum.
"Perusahaan dan bisnis keluarga Hachibara di jepang tidak akan berkurang setengahnya untuk memenuhi kebutuhan dapur. Selain itu, para pelayan juga memanfaatkan lahan dengan baik." Yuki menerima penjelasan Yamazaki.
"Seberapa luas lahan yang di miliki leluhur Hachibara?." Yamazaki tertawa. Mendengar pertanyaan itu dari nona mudanya terdengar kony*l.
"Yang jelas sangat luas." Jawab Yamazaki.
Tiba-tiba beberapa koki masuk ke dapur lewat pintu samping. Mereka terkejut, segera melepas topi putih mereka lalu membungkuk dalam.
"Kami sedang berkunjung sebentar." Ujar Yamazaki. Yuki mencoba untuk bertanya.
"Dimana koki Dazai san?." Mereka sedikit kaget.
"Kepala koki sedang sakit, istrinya tidak datang untuk merawatnya." Jawab salah satu dari mereka.
Yuki masih ingat Mizutani pernah mengatakan kalau kedua orang tua Dazai adalah koki di kediaman utama.
"Hmmm, mereka sedang di rumah sakit." Gumam Yuki namun terdengar oleh mereka.
"Tidak ojou sama. Kepala koki berada di rumahnya." Yuki menaikan satu alis.
"Dimana?." Yuki menatap Yamazaki.
Yamazaki menolak mengantar Yuki dengan alasan gedung para pelayan, pelindung, dan koki tidak pernah di kunjungi oleh keluarga utama, jika ada apa-apa pelayanlah yang harus datang menghampiri.
"Terserah, biarkan aku bertemu dengan mereka." Ucap Yuki.
"Baiklah, mari kite ke ruang kesehatan." Ujar Yamazaki lalu mengambil gagang telephon yang menempel di dinding menghubungi seseorang.
"Mari ojou chan."
Mereka berjalan menuju gedung lain, yang ini tidak terlalu ke belakang berada di tengah lahan, itu yang Yuki perkirakan. Lagi, ia melihat rumah kaca penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Dari jauh pun Yuki mengenali tumbuhan itu, tumbuhan obat.
Mereka sampai di ruang kesehatan. Yuki tidak langsung masuk, ia penasaran dengan dua pintu lain. Kakinya berjalan melihat ruangan di balik pintu ke dua yang memiliki jendela kaca agak besar, farmasi. Yuki membuka pintu melihat-lihat isi apotek itu.
"Apa ada yang perlu saya bantu?." Yuki menoleh ke balik meja panjang.
Seorang wanita agak gemuk dengan kaca mata bundar di atas hidungnya keluar dari ruangan di belakangnya.
"Saya hanya ingin melihat-lihat." Jawab Yuki.
"Astaga!. Ojou sama!."
BRUKK!.
Tubuh gemuk itu menghilang sekejap mata, Yuki melongok ke bawah. Wanita itu sedang berlutut meski kesusahan.
"Se se sel amat datang kembali. Ojou sama!." Yuki mengangguk kecil.
"Terima kasih, kamu boleh berdiri." Wanita gemuk itu berdiri sekuat tenaga.
"Apa ruangan di belakangmu juga tempat penyimpanan obat?." Wanita gemuk berhenti merapikan bajunya.
"Iya ojou sama, anda ingin melihatnya?" Yuki ingin tapi waktunya tidak pas.
"Lain kali saja, selamat bertugas." Ucap Yuki lalu pergi ke luar.
Wanita gemuk itu tersenyum lembut, maniknya meneteskan cairan bening.
"Siapa yang datang?." Pria berkacamata dengan rantai yang menggantung di gagangnya keluar dari dalam ruangan membawa kertas daftar obat-obatan.
"Ojou sama. Sudah besar, sangat cantik." Pria itu menarik sudut bibirnya.
"Seharusnya aku yang keluar mengambil buku catatan." Ucap pria itu menatap pintu ke luar.
"Kamu kurang beruntung."
Yuki berjalan menuju pintu ke tiga. Tanpa ragu ia memasukinya. Ruangan itu terdapat beberapa tabung oksigen, dan peralatan rumah sakit lengkap. Di sinilah mereka menyimpannya. Yuki melirik pintu besi bertuliskan laboratorium. Kakinya pun menuntun masuk ke dalamnya. Laboratorium yang menarik, Yuki tidak mengira bisa melihat laboratorium selengkap ini, bahkan peralatan yang tidak ada di lab rumah sakit ada di sana. Penataan meja, tabung formula, dan yang lainnya, sangat unik.
Jiwa Yuki menjerit ingin langsung memegang semua barang-barang di sana. Ia berjalan-jalan menyusuri setiap meja. Yamazaki berada di luar, ia tidak ingin mengganggu waktu nona mudanya.
Ceklek.
Yuki keluar, ia menghampiri Yamazaki untuk bertanya.
"Apa ada ruang operasi juga di sini?."
"Ada di lantai dua ojou chan." Yuki mengangguk kecil.
"Terlalu berlebihan untuk tempat yang dibilang rumah." Celetuk Yuki berjalan melewati Yamazaki kembali ke ruang kesehatan.
"Ini belum seberapa ojou chan, anda seharusnya sering berkeliling." Balas Yamazaki jauh di belakang Yuki.
Gadis itu membuka pintu kesehatan, mendapati delapan ranjang berjejer saling berhadapan. Salah satu ranjang sudah di isi. Wanita itu berusaha membangunkan suaminya untuk berlutut.
"Tetaplah berbaring, hari ini aku sudah mendapatkan banyak sekali penghormatan, tidak perlu lagi." Ucap Yuki menghentikan kedua orang itu.
"Selamat datang kembali ojou sama." Ucap mereka berdua.
"Terima kasih." Yuki menghampiri sisi ranjang yang lain. Yamazaki sudah bergabung dengan mereka.
"Tolong berbaring Dazai san." Pasangan suami istri itu terkejut, mereka tidak berpikir Yuki masih mengingat mereka.
Istrinya membaringkan sang suami, diam-diam Yuki mengamati mereka mencari kemiripan dengan salah satu bayangan.
"Kenapa anda tidak pergi ke sini jika sudah tahu anda sakit?." Tanya Yuki.
"Ini sudah sering terjadi ojou sama, penyakit tua. Nanti juga sembuh sendiri." Yuki tidak setuju dengan itu.
"Apa anda membutuhkan alat periksa ojou sama?." Yuki menoleh mendapati wanita muda yang sangat cantik berpenampilan layaknya dokter.
"Tidak terima kasih." Tolak Yuki halus.
"Boleh pinjam tangan anda sebentar?." Yuki menengadahkan tangannya meminta. Ayah Dazai yang memang sudah berusia lanjut tapi tidak dengan fisik yang masih terlihat muda itu dengan ragu-ragu memberikan tangannya.
"Ojou sama, silahkan." Ucap Yamazaki memberikan Yuki kursi. Gadis itu mengangguk kecil sebagai ucapan terima kasih.
Tangan Yuki segera mencari nadi ayah Dazai, tangannya yang lain terangkat meletakan telunjuknya di bawah hidung pasien, ia menarik nafas kecil memejamkan mata. Yuki sedang melakukan pemeriksaan.
Diantara ke tiga orang yang takjub itu ada satu orang yang sangat gembira melihat keahlian Yuki. Yamazaki menarik sudut bibirnya tersenyum lebar.
Yuki selesai, ia meletakan tangan pasien di atas perut lalu meminta sebuah note untuk menuliskan obat yang harus di minum memberikannya kepada Yamazaki, meminta pria itu untuk mengambilnya di ruangan sebelah. Yuki juga meminta dokter jaga untuk keluar sebentar. Tinggalah mereka bertiga di dalam ruang kesehatan.
"Senang bisa bertemu dengan kalian." Ucap Yuki.
"Kami juga." Balas ibu Dazai.
"Apa kalian sering menghubungi Dai chan?." Mereka tersenyum.
"Ya, dia kadang agak rewel kalau sedang telefon." Jawab ibu Dazai.
Yuki tenggelam ke dalam obrolan bersama suami istri itu. Ia tidak mengatakan apa pun tentang bayangan, ia hanya menceritakan ketidak sengajaannya bertemu Dazai di rumah sakit, ia juga menceritakan seperti apa Dazai sekarang meski mereka juga sudah melihatnya dari video call. Entah kenapa Yuki mendapatkan energi positif dari kedua orang itu.
Di perjalanan kembali ke kamarnya Yuki terbersit sesuatu. Ia kembali bertanya kepada Yamazaki.
"Seperti apa sekolah baruku besok?."
"Hmm?, itu seperti sekolah pada umumnya. Satu-satunya sekolah campuran di daerah sini. Kebanyakan di daerah ini adalah sekolah khusus perempuan atau laki-laki." Jelas Yamazaki.
"Bagaimana dengan peraturan sekolah?."
"Umum, tidak terlalu ketat dan tidak bebas juga."
"Bagaimana jika ada murid yang mewarnai rambutnya?." Yamazaki melirik Yuki sebentar.
"Tidak masalah asal tidak mencolok." Jawab Yamazaki.
"Begitu ya." Yuki sudah sampai di depan kamarnya di sambut oleh dua pelayan yang masih setia duduk di depan pintu.
Apa mereka tidak kesemutan, batin Yuki.
"Ojou chan." Panggil Yamazaki sebelum Yuki masuk ke dalam kamar.
"Saya adalah salah satu guru di sana, dan guru pembimbing klub." Yuki menarik nafas lelah, ia tahu apa yang akan di katakan oleh Yamazaki.
"Aku tidak akan masuk klub mana pun." Tolak Yuki sebelum Yamazaki selesai berbicara.
"Ini permintaan nyonya besar ojou chan. Agar anda dan waka (tuan muda) selalu bersama." Yamazaki menatap punggung Yuki.
Kenapa baru sekarang, batin Yuki kesal. Di saat ia sudah membulatkan tekad setelah terbangun dari tidur panjangnya, kenapa baru sekarang.
"Lakukan apa pun yang nenek minta." Ucap Yuki berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Ojou chan." Lirih Yamazaki, melihat Yuki yang berubah dingin.
Dari dalam kamar Yuki memanggil kedua pelayan wanita yang berada di depan pintu. Ia meminta sesuatu kepada mereka. Dugaan Yuki benar, kamarnya menyimpan semua kebutuhan wanita. Ia kini sedang duduk di kursi depan kaca full dinding di ruang gantinya yang besar. Kedua pelayan itu sedang sibuk dengan kepalanya.
Rambutnya sudah memanjang satu tahun terakhir, sebelumnya yang hanya dua senti di bawah pundak kini sampai ke punggung, tidak panjang tapi juga tidak pendek. Beberapa helai kecil rambut terjatuh di pangkuannya.
Dua jam kemudian Yuki menatap pantulan dirinya di cermin. Manik biru, fringe bangs (poni dengan potongan berjarak), poni dengan model garis-garis yang berjarak sehingga bagian dahi akan tetap terlihat, model poni ala korea yang cukup populer. Warna rambut mocha light brown, warna rambut coklat klasik itu tidak hanya memberikan kesan cerah, tapi juga membuatnya terlihat kalem, sweet, dan cute. Ekspresi wajah gadis pada cermin terasa meneduhkan.
Dua pelayan di belakang Yuki mengulum senyum puas dan memuja, hasil pekerjaan mereka sangat di luar dugaan. Betapa mengagumkannya perpaduan warna mocha light brown dengan kulit putih susu dan mata biru nona mereka.
Warna itu tidak terlalu mencolok, tapi jika yang memakainya nona mereka lain cerita.
***
Blazer putih dengan garis ungu gelap di setiap pinggirannya, sweater lengan pendek berwarna abu-abu gelap agak pudar di dalamnya, dasi kupu-kupu ungu gelap melingkar di kerah kemeja putih, rok pendek kotak-kotak ungu gelap yang senada dan bergaris-garis hitam. Warna yang sangat berbeda dengan seragamnya di tokyo, yang lebih mengusung warna hitam dan biru gelap.
Menyisir rambutnya, meraih tas yang sudah di sediakan. Yuki kembali melihat dirinya di cermin.
Apa yang akan dikatakan Natsume jika melihat penampilannya sekarang?, pikir Yuki.
"Aku pergi Je." Pamit Yuki.
"Hati-hati, kamu selalu cantik Yuki." Balas burung hantu itu.
Yuki meninggalkan ruang ganti, melirik sebentar pemandangan danau dari jendela kamarnya, lalu membuka pintu kamar.
Dua pelayan sudah berdiri di sana, Yuki mengangguk kecil membuyarkan lamunan mereka. Yuki berdiri di depan teras kamar menatap lamat-lamat pohon sakura yang bergoyang terdorong angin, bunga-bunga tulip juga melambai-lambai padanya.
Pemandangan yang sangat memabukan, setidaknya membuatnya sedikit rileks di saat bebannya bertambah berat seperti sekarang.
Yuki berjalan menuju ruang makan, ia hafal jalan ke sana karena semalam sudah melewatinya. Setiap pelindung dan pelayan yang berpapasan dengan Yuki segera menunduk dengan rona pink di wajah mereka.
Sreeeett.
Suara pintu terbuka. Yuki melangkah santai seperti biasa, menghiraukan tatapan nenek dan saudara kembarnya. Tunggu, ada orang lain duduk di sana.
"Yukiii ... Ada apa denganmu?. Maksud nenek, kasihan jantung para siswa di sekolahmu nanti." Yuki melirik Lusi yang sudah menjadi neneknya yang ia kenal. Nenek yang selalu menggodanya.
Yuki berjalan menarik kursi di sebrang Hotaru sebelum pelayan menariknya untuknya.
"Kalau begitu rumah sakit akan kerepotan nanti." Balas Yuki, Lusi tertawa kala candaannya di balas oleh Yuki. Setidaknya gadis itu ada kemajuan yang positif. Itu jauh lebih baik dari pada ia hanya diam dan mengikuti semua perkataan orang lain.
"Ehem!. Ayo makan dulu sebelum nenek mengantarmu." Ucap Lusi.
Manik Lusi dan Hotaru berkali-kali melirik ke arah Yuki. Mereka senang tapi juga khawatir. Pikiran Yuki sepenuhnya tertutup, tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam kepalanya, itu mengkhawatirkan melihat gadis itu yang bisa melakukan apa pun dan hukuman itu masilah misteri.
"Nek, dimana Rin?." Yuki merasakan seseorang terkesiap dalam ketenangannya duduk sejauh empat kursi darinya.
"Dia ada di hokkaido. Yuki, nenek mau mengenalkanmu pada seseorang." Lusi mengalihkan pembicaraan.
"Siapa yang menjaganya?." Yuki tidak ingin topik pembicaraan mereka dialihkan.
"Tidak ada, Rin di buang, hukumannya sudah mulai aktif satu bulan yang lalu." Jelas Lusi.
"Apa dia masih bertahan?." Yuki melihat wajah datar Lusi.
"Dia tidak mampu bertahan selama dua minggu. Rin pergi sebelum kamu bangun."
"Dia pantas mendapatkannya." Geram Hotaru.
Yuki meletakan sumpitnya mengelap sudut bibir dengan sapu tangan yang tersedia.
"Yuki, orang yang akan nenek kenalkan duduk di sana." Yuki yang hendak pergi menoleh ke samping.
Pria itu duduk dengan sikap sempurna membungkuk kepada Yuki.
"Dia adalah pelindungmu sejak kamu masih bayi, karena kamu sudah kembali, tugasnya akan di lanjutkan." Jelas Lusi. Pria itu memperkenalkan diri.
"Takehara Fumihiro, saya akan sering berada di sekitar anda, ojou sama." Yuki menaikan satu alisnya. Hotaru yang melihat raut wajah Yuki berucap.
"Hiro san adalah kakak Rin." Fumihiro segera membungkuk lebih dalam.
"Saya mohon am," suara Yuki menghentikan Fumihiro.
"Maaf, aku sudah membunuh adikmu."
"Tidak ojou sama, ak," lagi. Yuki seakan tidak ingin mendengar dalih apa pun ia memotong kalimat Fumihiro.
"Aku tidak memerlukan pelindung pribadi nek. Jangan utus siapa pun untuk mengikutiku. Dua pelayan sudah cukup." Yuki menengguk minuman favoritnya, terasa sama seperti Dazai yang membuatnya.
"Nenek tidak perlu repot-repot mengantarku ke sekolah, pasti masih banyak yang harus nenek kerjakan. Lain kali aku akan membantunya." Lanjut Yuki mendekat untuk mengecup pipi Lusi.
"Aku berangkat." Yuki berlalu pergi.
"Hotaru, apa tidak apa-apa membiarkan Yuki tidak di jaga?." Lusi melirik cucu satunya.
"Jika dia sudah berkata seperti itu tidak bisa di bantah, kalau nenek tetap menyuruh pelindung untuk melindungi Yuki banyak kemungkinan mereka akan terbaring karena kelumpuhan." Lusi setuju.
"Apa dia masih menghindarimu tadi malam?." Hotaru sedih, ya dia sangat sedih.
"Hm, sepertinya yang aku lakukan membuatnya sangat marah." Ujar Hotaru.
***
Tokyo.
Mading depan sekolah tertutup tubuh kumpulan anak-anak klub yang mulai sibuk bersiap promosi klub masing-masing. Tiga siswi sedang mencari nama mereka.
"Aku di kelas yang sama dengan Ueno san." Ucap Honda, keduanya tersenyum senang.
"Yey ..!. Yu chan bersamaku." Natsume menyeringai senang.
"Ayo. Eh, ngomong-ngomong. Pesan kalian sudah di bales sama Yu chan?." Keduanya menggeleng pelan.
"Aneh, di upacara kelulusan dia juga tidak datang. Pulang sekolah nanti mau mampir ke rumahnya?." Ajak Natsume yang di setujui oleh Honda dan Ueno.
***
Yuki menarik nafas panjang kala mobil yang di tumpanginya melewati tiga siswi memakai seragam yang sama.
Hazuki pasti marah besar padaku, bahkan nenek memberikanku ponsel baru, batin Yuki mengangkat ponselnya malas.
Sebelum Yuki masuk ke dalam mobil seorang pelayan mengejarnya dan menyampaikan pesan Lusi untuk memberikan ponsel baru, ponsel Yuki yang lama di bawa oleh Daren.
Gadis itu mengecek kontak di dalam ponselnya, banyak nama tersimpan, tapi ia tidak tahu siapa, kecualai Lusi, Daren, Hotaru, dan Yamazaki. Yuki memasukan ke dalam tas ponselnya.
"Berhenti di sini." Pinta Yuki.
Mobil berhenti di pinggir jalan.
"Maaf ojou sama, sekolahnya masih beberapa puluh meter lagi." Ucap salah satu pelindung yang mengantarnya.
"Mulai sekarang, jemput dan antarkan aku sampai di sini. Terima kasih sudah mengantarku." Ucap Yuki membuka pintu mobil.
Pelindung tidak bisa mencegah nona mudanya. Yuki berjalan berbelok ke kanan dari gang ia berhenti. Maniknya melihat banyak siswa-siswi berjalan ke arah yang sama. Mereka yang tidak sengaja menoleh ke arah Yuki segera memberi tahu temannya yang lain.
Yuki menenangkan dirinya, ia tidak sempat berangkat awal untuk menghindari kerumunan baru seperti ini. Sekolahnya sudah dekat ia sedang melewati pagar pembatas berwarna hijau.
Braaakk!!.
Sebuah bola membentur pagar, Yuki tetap santai berjalan tanpa ada minat melirik ke samping. Tanpa Yuki sadari Hotaru yang menuntun sepedanya dari belakang menatap tajam kumpulan anak-anak sepak bola yang termenung menatap adiknya. Setelah kumpulan crocodile itu mengalihkan perhatian meteka Hotaru menoleh ke rok yang di pakai Yuki. Ia sangat benci rok itu, apa lagi angin musim semi yang semakin menggoyang-goyangkannya.
Hotaru ingin mengganti rok Yuki dengan rok biru sma indonesia milik adiknya.
Masuk ke dalam halaman sekolah Hotaru segera menaiki sepedanya dan memarkir dengan cepat, ia berlari mencari sosok Yuki. Ia khawatir karena ini sekolah baru, Yuki belum tahu tata letaknya.
Hotaru memakai uwabaki dengan tergesa.
Puk.
Seseorang menepuk pundaknya.
"Yuki sudah masuk ke ruang guru." Hotaru bernafas lega.
"Dia bertanya padamu?."
"Tidak, dia menelfon Takeru san." Hotaru menatap Fumio dengan wajah sedih yang di lebih-lebihkan.
"Nasib kita sama." Celetuk Hotaru.
"Ayo masuk, Yuki akan diantar Takeru san nanti." Fumio berjalan menaiki tangga.
"Kamu tidak cemburu, banyak mata yang menatap adikku." Hotaru menyusul Fumio.
"Jangan di tanya lagi." Jawab pemuda itu sedikit kesal.
"Tentu saja, apa lagi dengan penampilannya yang baru. Huuufftt ..." Hotaru menghembuskan nafas berat.
"Cepatlah bergerak. Sebelum adikku di embat orang aneh." Fumio menjitak pelan kepala Hotaru.
"Ngomong gampang. Yuu bukan gadis yang mudah di dekati sekarang." Hotaru tertawa lirih.
Lagi, upacara penerimaan siswa baru Yuki tidak memiliki barisan sendiri. Seperti tahun lalu duduk di paling belakang pergi paling cepat.
Yamazaki menjelaskan tata letak sekolah dan gym yang mulai besok aktif untuk berlatih. Yuki tidak perlu memikirkan formulir pendaftaran ia hanya perlu datang ke gym. Dari manajer baseball beralih menjadi manajer voli.
Yamazaki menggeser pintu, masuk ke dalam kelas di ikuti Yuki di belakangnya. Seperti d'javu. Situasinya berulang seperti tahun lalu. Yamazaki menyapa murid-muridnya lalu beralih kepada Yuki. Semua orang terfokus padanya.
"Hachibara Yuki, salam kenal." Ucapnya sedikit membungkuk kecil.
"Kamu siapanya Hachibara san?." Seru seseorang.
"Apa hubungan kalian?."
"Matamu asli?, Hachibara san memiliki warna mata coklat terang, apa kalian saudara?."
Masih ada pertanyaan yang mirip susul menyusul di lontarkan oleh mereka. Yuki membuka mulutnya sedikit.
"Kami kembar." Hening.
Mereka bolak-balik menoleh ke depan dan ke belakang, mencari kemiripan diantara keduanya.
"Sensei." Panggil Yuki lirih yang ingin segera duduk.
"Kamu boleh duduk di bangku belakang sana." Ucap Yamazaki cepat-cepat.
"Sensei, kami belum selesai bertanya!." Protes anak-anak. Yuki berjalan melewati Hotaru dan duduk tepat di belakang kembarannya. Untuk kedua kalinya Yuki duduk di bangku paling belakang di pinggir jendela.
Tanpa melirik pun Yuki tahu, laki-laki yang duduk di sampingnya adalah laki-laki yang sering bersama kembarannya itu.
"Silahkan pemilihan pengurus kelas, ada yang mau mengajukan diri?." Yamazaki mulai mengkoordinir murid-muridnya.
Yuki membuang wajah ke samping melihat pemandangan dari luar.
Seharusnya hari ini jam kosong setelah pemilihan pengurus kelas. Yuki ingin mengelilingi kediaman utama.
"Baik sudah selesai. Nikmati hari kalian." Ucap Yamazaki.
Sebelum ia kembali di kerubungi anak-anak lain Yuki segera kabur dari kelas lewat pintu belakang. Tepat di belakang Yamazaki.
"Yuki memiliki bakat baru." Celetuk Hotaru berdiri di samping Fumio.
"Hm?."
"Kabur. Dulu dia dengan pede, cuek, masa bodo, berjalan di sepanjang jalan." Ujar Hotaru.
"Gym?." Tanya Fumio.
"Hm. Pertandingan musim semi sebentar lagi."
Mereka berjalan keluar kelas menghindari anak-anak yang penasaran tentang Hotaru dan Yuki.
Menuruni tangga, terlihat santai namun cepat. Yuki membuka loker sepatunya. Menerobos kerumunan di halaman depan sekolah. Anak-anak klub sedang mencari mangsa mereka, siswa baru.
Tidak mudah untuk pergi dari sana. Yuki dapat bernafas lega kala ia sudah berada di luar sekolah. Tidak ada jalan belakang, ia mau tidak mau harus selalu melewati gerbang satu-satunya itu.
Langkah Yuki santai menuju gang dimana titik penjemputan yang telah ia tentukan. Yuki sadar, anak-anak sudah mulai berkasak-kusuk tentangnya. Terkadang memiliki warna mata mencolok tidak menyenangkan.
***
Tokyo.
Natsume sudah uring-uringan melirik satu-satunya bangku kosong yang tak kunjung di isi. Setelah hari valentine temannya itu tiba-tiba hilang tanpa jejak. Ia sebenarnya sudah pernah ke rumah Yuki tapi hanya ada Masamune dan kucing putih milik gadis itu.
Wali kelasnya yang baru, Mizutani!. Kebetulan ia akan menanyakan keberadaan teman birunya itu.
Aneh!. Natsume yakin Mizutani hanya mengabsen dua puluh tujuh orang padahal jelas-jelas di mading ada dua puluh delapan orang. Pertanyaan Natsume segera terjawab saat Mizutani memberikan pengumuman kecil.
"Hachibara Yuki pindah sekolah. Jadi siswa kelas ini menjadi dua puluh tujuh orang." Natsume seperti tersambar petir.
Maniknya mengikuti punggung Mizutani yang keluar dari kelas.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Natsume menghadang Mizutani.
"Sensei!." Mizutani melirik teman dekat Yuki.
"Tadi itu bohong kan?. Kemana Yu chan pindah?." Serbu Natsume.
"Kenapa dia pindah?." Manik Natsume mulai berair.
"Kenapa Yu chan tidak pernah mengangkat atau membalas pesanku?."
"Apa dia sakit lagi?. Yu chan ada di rumah sakit?." Natsume mengelap kasar kelopak matanya.
"Sensei!."
Mizutani menarik nafas pendek, ia tetap tenang menghadapi emosi remaja itu.
"Saya juga tidak tahu Natsume san. Berhenti menangis banyak siswa yang melihat kita." Bohong Mizutani.
"Tidak mungkin sensei tidak tahu. Sensei walinya Yu chan, pasti tahu." Srobot Natsume memberanikan diri menatap Mizutani.
"Saya walinya sampai awal bulan dua lalu, sekarang tidak lagi. Yuki sudah bersama keluarganya." Jelas Mizutani berlalu pergi agar tidak ada gosip buruk tentangnya dan siswinya.
Natsume berlari menuju kelas Ueno dan Honda, menangis sejadi-jadinya kepada mereka.