Futago

Futago
Kebodohan Tamu Lancang.



Saat Yuki kembali ke restoran terlihat wajah gadis itu sangat mendung dengan awan-awan gelap mengitarinya, tapi saat sudah tiba di kuil gadis itu membeli semua yang ia lihat, memakannya seperti sedang melampiaskan kekesalannya kepada semua makanan itu.


"Dia mirip dengan ibunya, seberapa banyak pun dia makan tidak terlihat ada lemak yang berlebihan." Celetuk Daren. Fumio tersenyum hangat untuk menanggapi.


"Aku mirip sepertimu Eiji kun, bedanya. Dulu aku mendapatkan serangan dari kakek Go dan nenek Yuri. Kamu ingat, betapa menakutkannya mereka." Manik Daren tidak lepas dari putrinya yang sedang menjejalkan permen kapas ke dalam mulut.


"Beliau-beliau adalah tetua yang sangat ayah saya kagumi." Jawab Hotaru, Daren mengangguk setuju.


"Hotaru juga sangat menghormati mereka, sampai membuat ayah sering cemburu karenanya. Sedangkan Yuki sangat lengket dengan nenek Yuri." Aku harap Yuki mengingat semuanya tanpa harus membayar mahal, lanjut Daren dalam hati.


"Sudah lama tidak mencicipi cumi-cumi bakar di festival." Ujar Daren berjalan menyusul putrinya.


Mereka mengunjungi satu stan ke stan lainnya, menikmati waktu bersama. Yuki berjalan di tengah-tengah keduanya berhenti di tempat yang terbuka. Pasir yang masih hangat mengubur kaki mereka yang telanjang. Yuki tidak tahu kalau pantai di musim panas pada malam hari terlihat indah, ia sebelumnya tidak menyukai pantai karena panas.


"Ayah." Lirih Yuki tangannya meraih tangan di sebelah kanannya.


"Hm?." Daren melirik Yuki.


"Pil." Jawab gadis itu.


Daren membungkuk ke samping mengamati wajah putrinya.


"Apa sudah mulai?." Tanya Daren.


"Hampir." Jawab Yuki.


"Dazai mengatakan kepada ayah, kamu pernah membiarkan dia merasakan seperti apa hukuman itu." Fumio tertarik dengan percakapan ayah dan anak di sampingnya.


"Ung."


"Ayah juga ingin." Ucap Daren serius.


"Pfftt ..." Yuki hampir saja menyemburkan tawanya.


"Tidak akan pernah aku lakukan. Itu tidak menyenangkan, sungguh." Jawab Yuki.


"Kamu lebih berpihak pada Dazai." Yuki kembali terkejut mendengar kalimat ajaib dari Daren.


Ayolaah, mereka selalu membicarakan tentang pekerjaan, dan baru-baru ini tentang para bayangan. Masih terasa aneh jika Daren tiba-tiba berubah, tidak sepenuhnya karena saat di korea pria itu sangat perhatian kepada Yuki. Ya, jika mereka bertemu. Daren tetap Daren dengan bergunung-gunung pekerjaan.


Yuki tiba-tiba mengulas senyum lembut yang sedikit malu-malu, bibirnya bergerak ikut mengeluarkan kalimat ajaib.


"Jadi seperti ini rasanya memiliki ayah." Daren terkejut.


"You know dad, kita selalu membahas pekerjaan, sibuk dengan proposal masing-masing." Yuki meremas jari-jari Daren.


"Tidak memiliki waktu untuk sekedar membicarakan makanan kesukaan. Aku tahu ayah selalu menelfonku setiap hari seperti jadwal minum obat, tapi ayah hanya memastikan apa aku tidak berbuat hal buruk di sekolah, lalu kembali lagi ke pekerjaan. Aku membantu karena ingin ayah berada di rumah setidaknya, untuk istirahat sejenak. Tapi yang aku lihat ayah selalu bertengkar dengan iblis itu. Aku tidak mengenalmu dengan baik." Setelah kalimat panjangnya Yuki terkikik geli.


"Aku terkejut dengan apa yang baru aku katakan. Aku pikir aku terlahir di dalam keluarga yang berantakan, tanpa kehangatan atau pun kasih sayang, bahkan aku sudah menganggap keluargaku sebagai lelucon, tidak. Sepertinya aku tidak memusingkan kondisi keluarga setelah hukuman ini aktif."


Tapi aku sering berpikir bagaimana rasanya memiliki orang tua yang menyayangiku, bisa di katakan merindukan kasih sayang mereka, terdengar seperti anak kecil yang merajuk memang, hahaha. And now, this is me, lanjut Yuki dalam hati melirik mata biru gelap itu.


Cup.


Daren mencium kening Yuki. Ini bukan yang pertama kali, saat Yuki kehilangan Hotaru Daren sering melakukannya, tapi hal itu masih membuat Yuki merasa aneh sekaligus hangat di waktu bersamaan.


"I'm sorry my angel. Ayah akan berusaha lebih baik lagi. Sekarang ayah sedang memikirkan hal jahat." Yuki menaikan satu alis.


"Apa?."


"Ayah berharap kamu mengingat semuanya, bahwa kehadiranmu sangat di cintai oleh semua anggota klan. Senyumanmu yang selalu di tunggu setiap harinya, tingkah nakalmu yang selalu berlarian di lorong, suara."


"Ayah!." Yuki melebarkan matanya kala melihat sesuatu yang terang meluncur ke atas.


DAR!.


"Give it to me now! (Berikan padaku sekarang!)." Geram Yuki mengatupkan rapat-rapat giginya.


Daren mengeluarkan kotak permen, membukanya lalu mendekatkan ke bibir Yuki. Gadis itu langsung menggigit pil menelannya setelah ia kunyah beberapa kali.


Daren segera mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya, mengelap hidung Yuki.


"Kamu ingin batuk?." Tanya Daren hendak menempelkan sapu tangannya di mulut Yuki.


"Tidak, tadi hampir saja." Suara bising di depan sana tidak membuat kedua Ayah dan anak itu menghentikan percakapan mereka.


"Apa yang sedang kamu ingat?." Yuki tersenyum kecut.


"Pantai, kembang api, bertiga, seperti sekarang." Jawab Yuki jujur.


"Itu kalian." Daren tersenyum kembali mengecup kening Yuki.


Yuki tahu, kebiasaan mencium milik siapa yang menurun kepadanya.


"Kita nikmati pemandangan indah malam ini." Ujar Daren menegakkan badannya menatap pertunjukan kembang api di atas air laut.


Fumio melirik tangan Yuki yang memegang sepatu. Ingin rasanya ia meraih tangan itu, tapi ia harus bersabar.


***


Yuki tenggelam ke dalam tumpukan buku, jam sudah menunjukkan angka tiga dini hari tapi ia masih terjaga di meja perpustakaan. Setelah hukuman itu aktif lagi beban Yuki bertambah untuk mencari bagaimana pola hukuman itu aktif.


Untunglah saat di pantai hukuman berhenti di detik terakhir empat puluh menit. Yuki menguap, dua hari dua malam ia tidak tidur. Bacaannya juga belum mendapatkan kemajuan, hanya menceritakan pembagian pemberian harta kepada keluarga selir kaisar sebelum di persunting, yang sudah di selesaikan sejak saat itu, jadi tidak seharusnya ada masalah dengan ini.


Kembali ke buku yang lain, menceritakan adik perempuan selir kaisar yang menikah dengan salah satu jenderal dan memiliki sembilan anak. Wow, Yuki terkejut dengan jumlah itu. Detik terus berjalan, ponselnya berdering menunjukkan angka 06 : 50 a.m.


Yuki membereskan bukunya, berjalan turun ke lantai dasar. Ia melakukan peregangan sebentar, mengendurkan otot-ototnya.


"Ojou sama, anda sudah keluar." Yuki melirik dua pelayannya yang terlihat terburu-buru menghampirinya.


"Ada apa?." Tanya Yuki.


"Kami di perintahkan untuk menjemput anda dan mengantarkan ojou sama ke ruang tamu." Jawab pelayan Yuki.


"Hm, aku sudah berjanji pada nenek. Masih ada waktu tiga menit sebelum jam tujuh." Balas Yuki kembali melanjutkan langkahnya.


Sret.


"Selamat pagi ojou sama. Kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan anda lagi." Yuki mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Maaf bisakah mempercepatnya, aku sudah ingin mandi." Ujar Yuki menahan agar tidak menguap di depan pelayannya.


"Baik ojou sama."


Yuki memulai acara ukur mengukur tubuhnya. Untuk keramahan Yuki bertanya design seperti apa yang akan di buatkan untuknya. Yuki memberikan pujian tulus kepada designer yang ternyata adalah pelayan sekaligus guru melukis Yuki dulu. Yuki tidak akan tahu jika Lusi tidak muncul dan memberitahunya.


Setelah acara ukur mengukur Yuki berendam cukup lama, membersihkan diri sampai ke inci-inci tubuhnya. Ia melupakan Je!. Tadi malam ia tidak kembali ke kamar, ia langsung pergi ke pandora.


Yuki mengaktifkan Je, membiarkan burung hantu itu melayang.


"Kenapa wajahmu pucat?." Yuki memakai lipstik berwarna oren lembut agar wajahnya terlihat segar.


Tok tok tok.


"Yuki." Panggilan Hotaru.


Yuki membuka pintu ruang gantinya.


"Ada apa Hotaru?." Tanya Yuki.


"Aku menjemputmu untuk pergi sarapan bersama." Jelas Hotaru, ia terdiam sebentar.


"Sejak kapan kamu memasang foto-foto itu?." Tanya Hotaru mendekati meja belajar Yuki.


"Hadiah dari Masa san sebelum pulang, kamu ingat?." Yuki menyandarkan tubuh mengantuknya di punggung Hotaru.


"Kamu kenapa?."


"Gendong. Rasanya aku tidak sanggup berjalan ke ruang makan." Yuki menggantungkan kedua tangannya di pundak Hotaru.


"Kenapa jadi tinggi banget sih." Gerutu Yuki hanya seperempat tangannya yang menggantung.


"Dasar pendek." Ledek Hotaru, mengangkat tubuh Yuki naik ke punggungnya.


"Malam ini kamu harus pergi denganku. Berdua." Yuki menyandarkan kepalanya, merasa aneh dengan nada suara Hotaru.


"Ada apa denganmu?." Tanya Yuki.


Kedua pelayan Yuki terkejut melihat tingkah anak kembar itu yang sudah bukan anak kecil lagi. Hotaru berjalan melewati kamarnya menuju lorong terbuka.


"Kamu tadi malam berkencan kan dengan ayah dan Eiji." Ketus Hotaru. Yuki mngulas senyum dengan keadaan mata yang tertutup.


"Tiga orang namanya bukan kencan Hotaru." Yuki mendengar dengusan kecil dari saudara kembarnya.


"Sama saja. Nanti malam kamu harus pergi denganku."


"Tidak bisa, nanti malam aku akan mengadakan rapat pelindung." Jawab Yuki.


"Nanti sore."


"Mau ke mana?." Tanya Yuki.


"Festival."


"Aku sudah ke sana kemarin." Tolak Yuki.


"Belum denganku." Hotaru berhenti di depan pintu, menurunkan Yuki perlahan.


"Tidak bisa, kemarin hukumanku aktif lagi. Dan aku sudah tidak punya pil lain." Jelas Yuki seraya berjalan ke depan Hotaru.


Cup.


Kecupan kecil mendarat di pipi saudara kembar Yuki.


"Aku akan meminta pil kepada Jun Ho si sesegera mungkin." Ujar gadis itu meraih tangan Hotaru berjalan memasuki ruangan.


"Selamat pagi, nek, ayah." Sapa Yuki begitu juga Hotaru.


"Selamat pagi cucu-cucu nenek. Ayo sarapan." Balas Lusi.


Setelah acara sarapan mereka selesai Lusi membuka percakapan yang membuat Yuki tidak berminat seribu persen.


"Yuki, hari ini kamu menemani Hotaru bertemu dengan tiga kepala keluarga terhormat yang sudah terbang jauh-jauh ke sini. Setelah itu berkeliling lah untuk menyapa putri-putri mereka, nenek dengar kemarin kamu tidak melakukannya." Yuki mengangguk kecil.


"Latihanmu akan di ubah mulai jam empat sore, malamnya datanglah ke kamar nenek. Ada yang harus nenek beri tahu padamu sebelum pesta pembukaan." Jelas Lusi.


Hotaru terlihat hendak protes namun Yuki lebih dulu meremas tangannya.


"Hotaru." Panggil Daren.


"Ya?."


"Siapkan laporan perkembangan klan dan bawa ke ruang tamu." Ucap Daren.


"Baik."


"Bolehkah aku hanya memakai ini?." Tanya Yuki kepada Lusi.


Ia memakai kaos pendek garis-garis yang hanya sebatas pinggang dan jeans tiga senti di atas mata kaki.


"Tidak apa-apa, ini bukan pertemuan dengan klien bisnis." Jawab Lusi.


"Aku akan mengambil laporannya di kamar." Hotaru beranjak berdiri membungkuk sopan lalu pergi.


"Aku ingin pergi ke pandora sebentar." Pamit Yuki.


"Tidak Yuki, kamu bisa seharian di sana." Larang Lusi. Yuki yang sudah setengah berdiri kembali duduk.


"Bersikap baiklah dengan para putri-putri dari keluarga terhormat." Daren menatap Yuki.


"Baik."


Tidak lama kemudian suara pintu terbuka.


"Aku sudah siap. Sepertinya mereka juga sudah datang." Kata Hotaru.


"Ayo." Daren beranjak berdiri membungkuk sopan kepada Lusi.


"Ibu, kami pergi dulu." Ucap Daren di ikuti oleh Yuki.


Mereka bertiga berjalan menuju ruang tamu yang sudah ada tiga pasangan suami istri duduk menunggu mereka.


"Apa kabar Daren dono, waka, ojou sama." Mereka semua berdiri membungkuk sopan. Daren, Hotaru, dan Yuki melakukan hal yang sama.


"Baik, silahkan duduk." Jawab Daren.


Semua orang duduk di kursinya masing-masing. Pembicaraan mereka seputar ucapan selamat atas kembalinya Hotaru dan Yuki ke kediaman utama, pujian-pujian yang membosankan lalu Hotaru melaporkan perkembangan klan dari dalam dan dari luar. Ketiga keluarga utama itu ternyata masuk ke dalam lima jajaran teratas keluarga utama. Yuki sudah membacanya dari buku besar anggota klan.


Klannya bukan seperti sebuah negara yang menggaji para menteri dan jajarannya namun, struktur klan mirip dengan itu. Para pelindung yang tinggal di dalam kediaman utama akan mendapatkan fasilitas sepenuhnya dari keluarga utama. Pelindung dari keluarga terhormat atau pun keluarga terhormat itu sendiri memiliki bisnis mereka masing-masing. Dan pelindung dari keluarga terhormat bebas keluar masuk kediaman utama hanya di lingkungan dojo dan barak karena mereka tidak tinggal di dalam kediaman utama, seperti Fumio misalnya.


Keluarga Fumio pemilik salah satu perusahaan merk mobil terbesar di jepang.


Dulu nenek moyang setiap keluarga terhormat, mereka adalah pengikut kaisar atau pemimpin klan setelah kaisar. Dan yang mengatur mereka semua agar tetap kondusif adalah sang pewaris. Semua anggota klan menutup rapat mulut mereka tentang keberadaan klan Hachibara ini. Jika ada yang sedikit saja membuka mulut, maka hukuman klan akan menanti mereka.


Kini percakapan berubah ke rana politik dan bisnis. Yuki mengantuk, dan kesal. Seharusnya ia sedang berada di perpustakaan sekarang, melanjutkan bacaannya.


"Klan akan berjalan lebih baik karena ada waka." Yuki melirik pria dengan gigi kelinci tersenyum senang.


Kepala keluarga terhormat yang memiliki pengaruh besar, menduduki nomor satu di buku besar klan.


Kumori Seiya, batin Yuki.


Akhirnya pertemuan itu berakhir setelah tiga jam lamanya. Yuki dan Hotaru berpisah dengan Daren yang masih ingin membicarakan sesuatu dengan salah satu keluarga terhormat.


Yuki menarik tangan Hotaru sebelum mereka benar-benar sampai di dojo. Tanpa mengatakan apa pun Yuki membawa Hotaru menjauh dari tujuan mereka.


"Yuki." Hotaru yang terseret itu melirik dua pelindung sedang berjalan ke arah mereka.


"Aku akan membujuk Will." Ujar Yuki.


"Will tidak mudah di taklukan." Balas Hotaru.


"Kita coba." Hotaru memutar tangannya berbalik menangkap tangan Yuki.


"Hanya sampai jam tiga sore. Kamu harus menahannya." Bujuk Hotaru mengusap kepala Yuki.


"Kenapa tidak mencarikan pendamping untukmu saja." Gerutu Yuki berjalan ke jalur yang benar. Hotaru tertawa pelan.


"Aku akan ikut mencarinya besok malam." Balas Hotaru.


Di dalam dojo sepertinya lebih baik, itu yang Yuki pikirkan. Di sana tidak ada satu pun anak-anak dari ke tiga keluarga terhormat, Hotaru juga sudah berpisah dengannya menuju ke barak. Namun seperti tidak ingin Yuki tenang, Will menghampirinya karena perintah Hotaru.


"Will katakan pada Hotaru di luar terlalu panas." Titah Yuki.


"Maaf ojou sama, waka tidak menerima penolakan apa pun." Balas bocah itu.


"Antarkan aku padanya." Yuki mengalah.


Will mengantar Yuki menuju barak, lalu naik ke lantai dua. Hotaru tidak ada di sana. Hanya tiga gerombolan gadis-gadis kemarin yang suka menggosip. Yuki bersikap sopan dan ramah yang di buat sedemikian rupa. Berbagai pertanyaan penasaran dan pujian di ikuti oleh rasa iri yang terselubung. Mereka bukan gadis-gadis yang buruk. Hanya saja Yuki tidak nyaman dengan obrolan mereka.


Yuki melirik ke belakang, Will sudah tidak ada di sana digantikan oleh kedua pelayan Yuki.


Manik biru Yuki melirik ke bawah. Mendapati Hotaru sedang bergulat, mengadu tinju dan tendangan dengan pria berambut hitam rapi dengan poni pendek menutupi setengah dahinya. Yuki menggeser pandangan, melihat Will sudah beradu pedang dengan pemuda pirang kemarin.


Yuki berpamitan kepada gadis-gadis itu untuk turun ke bawah, mengajak mereka untuk kesopanan namun di tolak dengan halus. Yuki mengulas senyum manisnya yang jujur .., tidak tulus.


"Bisa ambilkan handuk kecil dan botol minuman dingin." Pinta Yuki.


"Baik ojou sama, semua itu sudah di siapkan di lantai bawah." Jawab pelayannya.


Benar saja. Di lantai bawah sudah ada beberapa pelayan berkumpul, Yuki mengambil kesimpulan bahwa mereka di tugaskan untuk melayani para tamu. Yuki menerima handuk dan botol yang ia minta, menunggu sampai Hotaru selesai.


"Hahaha, tidak Fumio san. Kakak-kakak saya lebih mahir." Yuki melirik suara lembut di sampingnya.


"Sekali lagi terima kasih."


Yuki membuang wajahnya setelah melihat Fumio sedang berbincang sambil memegang syal rajutan di tangannya. Yuki tidak peduli dengan gadis berambut pirang atau pun gadis-gadis lainnya.


Yuki berjalan menghampiri Hotaru yang terengah dengan wajah penuh keringat, ia terlihat senang dengan latihannya. Pelayan Yuki pun membawa handuk dan botol minum yang lain.


"Kamu menikmatinya?." Hotaru melirik Yuki memasang senyum lebar seraya menerima uluran handuk dari adiknya.


"Dan kamu hampir mencapai batas kebosanan." Balas Hotaru tepat sasaran.


"Apa yang bisa aku lakukan." Gerutu Yuki. Hotaru menerima botol minum.


"Apa yang para gadis bicarakan?." Yuki menghela nafas kecil.


"Belanja, jalan-jalan, cafe. Dan, kamu. Mengagumi paras, dan segalanya yang ada padamu." Jawab Yuki malas.


"Benarkah?, haruskah aku memilih salah satu diantara mereka untuk diajak berkencan?." Ujar Hotaru menengadah ke atas, menatap lantai dua.


"Bagaimana denganmu?. Siapa yang kamu lihat?." Hotaru melirik ke bawah.


"Berhenti membicarakan hal membosankan. Aku ingin pergi dari sini." Ujar Yuki hendak mengecup pipi Hotaru seperti yang sudah menjadi kebiasaannya sebelum pergi atau setelah pembicaraan yang cukup sensitif. Namun Hotaru mencegahnya, dengan menjauhkan wajahnya membuat Yuki terkejut. Baru kali ini Hotaru mengabaikan dirinya seperti ini.


"Tidak sopan mengabaikan tamu di belakangmu Yuki." Ucap Hotaru melirik lawan mainnya tadi.


Bukannya membalikan tubuh Yuki malah menggeser tubuhnya semakin dekat dengan Hotaru, mengikis jarak di antara mereka.


"Yuki." Tegur Hotaru, sekarang bukan saatnya ia bermanja ria. Adiknya pasti paham akan hal itu.


"Aku sedang tidak ingin berkeringat." Ujar Yuki yang diam-diam menangkap ranting di balik tubuhnya.


"Apa?." Tanya Hotaru segera melirik ke belakang tubuh gadis itu.


Adiknya memutar ranting lalu melontarkannya dengan ibu jari ke sisi kiri. Hotaru mencari kemana bidikan itu mengarah.


"Oi!, oi!, oi!. Siapa pikir orang terpandang sepertiku mau bertunangan dengan bocah di bawah umur yang bisanya cuman menangis berlindung di balik ketiak saudara kembarnya." Seru pria dewasa yang memiliki rambut merah bata, merangkul seorang wanita dewasa yang usianya terpaut tidak jauh.


Gema suara pria itu yang menghina putri klan membuat para pelindung bersiaga, bahkan Hotaru sudah mengeraskan rahangnya. Tuk tuk. Yuki mengetuk dada Hotaru dengan telunjuk meminta perhatian pemuda itu.


"Apa." Desis Hotaru melirik Yuki.


Dak.


"Agh. Kepar*t!, siapa yang berani melemparku dengan ranting?!." Jerit kasar menggelegar mengisi udara. Yuki tersenyum kepada Hotaru.


Yuki tahu, ranting tadi adalah ranting yang terlontar dari pedang Will yang sedang melindungi diri dari lemparan keras pria itu kepadanya.


"Jangan di ladeni, buang-buang waktu." Lirih Yuki. Hotaru menatap saudari kembarnya.


"Jawab!. Apa kalian semua bisu?!. Akan aku patahkan tangan pelakunya." Wanita di samping pria itu memberikan pelukan dari samping menenangkan prianya.


"Pasti kau!. Kau tidak terima dan membalasku?!." Pria itu mendekati Will yang baru berlatih dan belum sempat bernafas dengan benar.


"Bocah ingusan sepertimu menjadi pelindung tingkat atas?!. Hahahaha ... Jangan membuatku tertawa. Selemah apa para pelindung sampai bocah sepertimu di angkat menjadi pelindung tingkat atas." Hinaan lain terlontar begitu mudahnya dari mulut pria dewasa itu.


"Jangan hentikan aku Yuki." Desis Hotaru.


Gadis itu segera mengangkat satu tangannya pertanda tidak ada yang boleh bergerak. Para pelindung, Morioka, dan Fumio menghentikan langkah mereka.


"Hahaha, apa kau juga ingin menangis seperti nona muda cengengmu itu, lalu bersembunyi meminta pertolongan." Ketegangan yang panas menguar menyelimuti tempat itu.


"Yuki." Geram lirih Hotaru.


"Biarkan Hotaru, orang seperti itu banyak di luar sana." Yuki memeluk singkat saudara kembarnya agar tenang lalu berjalan hendak meninggalkan barak namun berhenti setelah mendengar suara benturan cukup keras.


Yuki menoleh ke sumber suara. Will tersungkur menabrak dinding barak. Bocah itu terlempar sangat jauh.


"Hahaha!. Lihat, pelindungnya saja sangat lemah. Apa karena itu mereka mengadakan pemilihan tunangan bocah cengeng itu untuk meminta perlindungan. Sampai kapan pun aku tidak akan sudi menjadi calonnya!." Yuki kembali mengangkat tangan lebih tinggi dari yang sebelumnya.


Pria itu menyeringai puas lalu berlari cepat menerjang Will. Hotaru menarik nafas menyiapkan tenaganya untuk memukul kepala tamu lancang itu.


Sret!.


Hotaru terkejut botol yang ada di tangannya tiba-tiba menghilang dan Yuki berjalan santai melewatinya.


BRAK!.


Botol mendarat di kepala bagian samping pria rambut merah itu, air dari dalam botol keluar membasahi bajunya.


"Brengs*k!." Jerit pria itu.


Melihat Yuki berjalan mendekat Will segera berdiri dan membungkuk. Pria itu menyadari pelakunya sedang berjalan ke arah mereka. Ia langsung membalikan badan menyerbu ke arah pandangan mata Will.


Wajah Yuki tidak terlihat jelas, karena tertutupi poni dan rambut yang tertiup angin. Emosi yang sudah mencapai ubun-ubun membuat pria itu menggila menyerang sang pelaku yang sudah melemparnya dengan botol. Persetan! walaupun dia perempuan.


"Kau harus di beri pelajaran. Brengs*k!." Pekiknya.


Tubuh Yuki bergerak lambat dan lembut menghindari semua serangan yang terarah kepadanya. Bahkan gadis itu tidak repot-repot menggerakkan tangannya. Yuki tetap berjalan menghampiri Will seraya menghindari pria itu.


"Sialan!." Jerit pria itu.


Yuki sudah berdiri di depan Will, ia mengangkat satu tangannya menangkap ujung jari pria di belakangnya tanpa mengalihkan pandangan dari Will. Yuki lalu menekan ujung jari yang ia capit dan menekuknya ke luar.


Grek!.


"Aaaaaarrrggghhhh ...!!!."


Bruk.


Pria itu berlutut dengan satu kaki, tangannya yang lain mencengkeram pergelangan tangan, menatap nanar jarinya.


Will terkesiap namun berusaha tetap tenang. Hotaru pernah melihat yang seperti itu, saat pengawal mereka berusaha mengambil jasad Dimas dari Yuki. Pekikan gadis-gadis di lantai dua terdengar olehnya.


Wush.


Yuki menunduk menghindari tendangan maut dari samping. Ia melepaskan capitannya, suara pria itu terengah kesakitan yang terdengar oleh Yuki. Wanita yang sempat memberikan tendangan udara kepada gadis itu langsung berlutut membantu prianya.


"Kamu berdarah." Ucap Yuki menghapus noda darah di ujung bibir Will.


Anak itu langsung membungkuk lebih dalam.


"Beraninya kau melukai Jack. Tinggi juga nyalimu. Perempuan sepertimu harus di beri pelajaran!." Geram wanita itu melayangkan pukulannya mengarah ke belakang kepala Yuki.


Gadis itu mengangkat satu tangannya lagi, menghentikan para pelindung serta wanita itu yang refleks ikut berhenti. Yuki membalikan badan, menyisipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Will. Kamu diam saja karena status kalian yang berbeda?." Tanya Yuki membalas tatapan wanita itu.


"Maafkan saya ojou sama." Jawab Will.


"Ojou sama?!." Pekik keduanya.


"Sekarang kamu boleh menghajarnya Will, ini perintah dariku. Tunjukan padanya bocah ingusan sepertimu seribu kali lebih baik dari pria dewasa yang tidak memiliki solusi untuk masalahnya sendiri." Titah Yuki.


Will kembali membungkuk.


"Baik, ojou sama."


Will berjalan melewati Yuki, pria yang di panggil Jack berdiri memandang remeh Will.


"Kamu boleh melukainya Will, jangan sungkan." Ucap Yuki santai yang mendapati pelototan dari wanita di hadapannya.


Sekejap saja mereka sudah saling menyerang. Pertarungan pria dewasa dengan bocah tiga belas tahun. Tontonan yang menarik. Yuki menutup mulutnya karena tidak kuat menahan untuk tidak menguap.


Hotaru tertawa terbahak-bahak melihat Yuki yang tadinya acuh tiba-tiba berubah pikiran setelah melihat Will di serang. Sikap acuhnya itu membuat wanita dari keluarga Kumori geram.


Yuki memungut pedang Will di atas tanah. Berjalan ke depan lalu mengayunkannya ke atas. Wanita cantik jelita itu langsung bergerak mundur, menghindari sabetan pedang.


"Nona, biarkan para pria menyelesaikan urusan mereka. Ikut campur itu tidak baik." Kata Yuki semakin membuat wanita itu geram.


Yuki melirik pertarungan Will. Bibirnya mengulas senyum tipis melihat bocah itu bergerak cepat bagaikan seekor cheetah menyerang Jack tanpa mengendurkan kecepatan. Pria berusia dua puluh empat tahun itu sudah di buat kewalahan menghadapi bocah tiga belas tahun.


"Ara, sepertinya kekasih nona tidak bisa menghadapi bocah ingusan." Ejek Yuki dengan suara manis yang ia buat.


"Ojou sama, tolong hentikan dia sekarang." Terdengar jelas wanita itu menahan emosinya.


"Hm?. Kenapa di hentikan?. Lihat, semua orang menikmati tontonan mereka. Tidak baik membuat penonton kecewa nona." Jawab Yuki membuat wanita itu meledak.


Wanita itu menyerang Yuki mengeluarkan belati dari balik punggungnya. Gadis itu menatap datar wajah si penyerang. Hotaru segera mengangkat tangannya menghentikan para pelindung tingkat atas yang sudah berkumpul di barak setelah mendengar keributan itu, menyuruh mereka untuk tidak ikut campur.


Yuki tidak ingin banyak berkeringat di hari yang sangat panas ini, ia menancapkan pedang Will di tanah mengangkat satu kakinya setinggi pinggang. Menghindari tusukan yang terarah ke pundaknya, memutar pinggang sedikit, memberikan tendangan keras miliknya.


BRAAAKKK!.


"UGH!." Wanita itu melotot, tubuhnya terbang ke sisi samping barak.


BRUK!.


Laki-laki pirang menangkap tubuh wanita itu yang tidak lain adalah kakaknya sendiri. Manik Yuki dan manik Hotaru tidak sengaja bertemu. Hotaru mengedikkan matanya ke arah si pria lancang dengan wajah tegas menutupi emosi yang masih pemuda itu tahan. Yuki paham, ia menghentikan Will.


"Will, cukup." Bocah itu langsung menghentikan telapak tangannya yang sudah berada di depan dada Jack.


"A!, maaf. Lanjutkan yang satu itu." Lanjut Yuki. Will langsung menurut, memukul keras dada pria lancang.


Dug!.


"Uaarrgghh!."


Yuki melirik pria yang kini sudah tersungkur di tanah dengan darah di sudut-sudut mulut. Will menyingkir ke samping membungkuk kepada Yuki. Gadis itu berjalan mendekat.


"Penghinaan yang tuan berikan sudah di luar batas. Saya tidak ingin mempermasalahkan penghinaan dari pecundang dewasa menyedihkan seperti anda." Ucap Yuki. Jack langsung melemparkan tatapan tajam kepada Yuki. Wajahnya berubah kaku kala melihat tubuh gadis yang berdiri di hadapannya.


"Apa sekarang?. Anda mengagumi tubuh bocah cengeng ini?." Sindir Yuki. Tiba-tiba nada suaranya berubah sangat rendah dan dingin.


"Tundukkan pandanganmu!."


Jack merinding hebat. Ia langsung menunduk menatap sepatu Yuki.


"Sang pewaris dan para pelindung sayangnya tidak ingin mengampuni anda." Lanjut Yuki, lalu meninggikan suaranya agar semua orang bisa mendengar.


"Ini sebagai pelajaran untuk kalian semua. Jangan lupakan dimana posisi kalian sebelum menghina keluarga utama dan para pelindungnya. Berlutut!." Titah Yuki.


Jack bergerak berlutut meski di dalam hatinya ia berontak. Tapi, ia seperti tidak bisa menolak perintah gadis itu.


Yuki menengadahkan satu tangannya ke atas, menekuk jari-jarinya menyisakkan jari telunjuk, lalu ia menekuk jari telunjuknya menyuruh Jack berdiri. Pria itu mengangkat tubuhnya menumpu kepada kedua lutut yang menempel di tanah.


Yuki sedikit membungkukkan badan menatap manik abu-abu milik Jack.


"Apa yang kamu lihat?." Kata Yuki.


"Biru." Jawabnya.


Yuki menempelkan telunjuk kanan di dahi Jack, telunjuk kiri di perpotongan dada.


"Tutup matamu. Apa yang kamu lihat?." Jack menutup matanya.


"Padang rumput, dan pohon besar."


Tanpa berbasa-basi lagi Yuki menutup kedua kelopak matanya membuka cepat pintu-pintu yang mengunci ingatannya, menarik Jack ke dalam ingatan yang sudah ia pilih. Seketika itu juga teriakan mengerikan melengking menyebar cepat sampai ke luar barak.


Semua orang membeku. Beberapa isakkan terdengar di barak itu. Tubuh Jack bergetar kencang di posisinya.


Yuki membuka ingatan di dalam lautan merah, dengan air laut yang mendidih, rantai sedingin es di kutub utara yang terus mengeratkan lilitannya di tubuh membuat kulit melepuhnya pecah terbelah-belah dan daging mencuat keluar, rantai yang menyentak keras ke bawah menggesek daging merahnya.


Air liur keluar dari mulut Jack, kedua matanya mengeluarkan air mata. Bibirnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata lain, hanya teriakan yang tak berujung.


BRUK!.


"Ojou sama!, tolong ampuni putra hamba!." Seru seseorang membuat Yuki membuka kelopak matanya. Menggerakkan maniknya untuk menatap pemilik suara.


"Diam." Ucap Yuki dingin, lalu beralih menatap wajah pucat mengerikan Jack. Yuki menutup matanya lagi, menekan kedua telunjuknya semakin dalam.