
Uhuk, yang kangen sama Mas Aziz dan Dek Syafa!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
****~•~****
Khumaira tertunduk di depan ruang IGD. Saat sedang termenung sebuah suara memecahkan kekalutannya. Dia mendongak menatap Nakhwan sembari menangis memilukan. Kakak iparnya datang apa yang harus dilakukan? Pada akhirnya dengan tubuh bergetar Khumaira menuding ruang IGD.
Nakhwan mendelik melihat darah di jilbab dan pakaian Khumaira. Lalu tersadar saat Adik iparnya menuding ruang IGD. Apa jangan-jangan Adiknya ada di dalam? Tubuh tinggi atletis Nakhwan menengang setelah melihat dari balik kaca. Tangan besarnya terulur ke kaca penuh kekalutan ketika melihat Aziz terkulai lemah tidak berdaya.
"Apa yang terjadi?" tanya Nakhwan.
"Apa yang saya takutkan terjadi, Mas. Suamiku tidak sanggup mendengar kenyataan sesungguhnya. Saya sangat menyesal telah menceritakan semuanya pada Mas Aziz. Tolong katakan padaku Mas Aziz tidak akan kenapa-napa? Masku kuatkan Mas? Hiks, aku sangat menyesal tidak tahu akan kesehatannya. Tolong maafkan aku yang tidak bisa menjaganya."
Khumaira menangis lebih keras menceritakan kronologi Aziz tumbang. Dia berharap Suaminya mampu bertahan untuk melawan sakit. Jika saja sampai Suaminya kenapa-napa pasti tidak akan sanggup bertahan. Sumber kehidupan Khumaira terkapar tanpa mampu mengendalikan diri. Sungguh dia ingin merengkuh Aziz agar mampu bertahan melewati hari sulit.
Mendengar kronologis kejadian Aziz collapse tentu Nakhwan merasa sedih. Mendengar Adik ipar terus menyalahkan diri sendiri tambah membuat miris. Melihat Adik ipar yang begitu tersiksa sungguh rasanya begitu miris. Bahkan dalam hati ia tidak pernah melihat cinta sebesar ini dari seorang wanita. Nakhwan akui cinta Aziz dan Khumaira laksana air mengalir dengan embun dan kesucian penuh kenaikkan. Inilah cinta sejati yang akan dirinya kagumi dari sosok Aziz dan Khumaira.
"Tenanglah ini bukan salahmu, Nduk. Biar Mas kabari yang lain. Janagn menangis karena Tole Aziz tidak akan suka melihat Istrinya menangis. Cuci tangan dan gantilah dulu lihat darah mengenai hijab dan pakaianmu."
Nakhwan kembali melihat ke dalam memastikan keadaan Adiknya. Dia akan meminta Mahira meminjamkan pakaikan serta jilbab pada Khumaira. Dengan segera ia pamit memanggil keluarganya. Harapan Nakhwan begitu besar ingin melihat Aziz sembuh. Harapan keduanya semoga Allah lekas mengangkat penyakit Adiknya. Harapan terakhirnya semoga Aziz dan Khumaira bahagia selalu dan selalu bersama sampai akhir hayat, Aamiin.
Khumaira tidak bergeming menuruti perkataan Nakhwan. Dia tidak mau melewatkan kabar Suaminya yang sedang berjuang. Air matanya terus mengalir tanpa bisa di kontrol. Apa yang mereka lakukan sehingga lama sekali menangani Suaminya? Apa keadaan Suaminya sekarang baik-baik saja? Khumaira jadi was-was memikirkan konsekuensi buruk perihal sakit Aziz.
Suster keluar akan memberi tahu Dokter Spesialis Saraf untuk menangani pasien. Dokter di dalam menyimpulkan Aziz harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mereka akan mmembawa Aziz ke ruang CT Scan supaya bisa lebih ditangani intensif. Suster terdiam ketika di hadang Istri pasien.
Khumaria berdiri meminta penjelasan tentang kondisi Aziz. Dia tidak akan sanggup melihat Suaminya terkulai lemah tanpa cahaya. Ia cukup lega saat Suster mengatakan bahwa Suaminya cukup baik. Semoga saja apa yang di katakan Suster benar adanya. Khumaira bisa bernapas lega lantaran Aziz sudah ada kabar baik.
Setelah beberapa menit Suster berlalu kini kembali lagi membawa Dokter lain. Terlihat Dokter itu buru-buru masuk kedalam ruang IGD. Mungkin saja setelah ini akan terjadi hal menegangkan. Dalam ruangan Dokter itu memeriksa kondisi Aziz lebih rinci.
Di luar Khumaira tersentak saat si kecil memanggil namanya. Sontak ia menengok hendak merengkuh Faakhira. Namun, terhenti ketika melihat keadaannya yang kotor. Mana bisa ia merengkuh Dedek kecil dalam keadaan begini. Keadaan penuh darah dan kuman mana mau membahayakan anak cantiknya. Khumaira hanya mampu diam sembari menatap anak-anaknya.
Mahira menyerahkan baju dan jilbab syar'i pada Khumaira. Dia paham Adik iparnya membutuhkan ini semua. Tadi Kakak ipar memberitahu semua pada mereka dan memintanya meminjamkan pakaikan serta jilbab. Syukur saja punya pakaian dan hijab walau bajunya akan lebih panjang. Mahira kagum betapa besar cinta Khumaira untuk Aziz.
"Terima kasih, Mbak," ucap Khumaira.
Khumaira mencium pipi gembul Faakhira dan meminta anak-anak menjaga si kecil. Buru-buru dia beranjak meninggalkan depan ruang IGD menuju Restroom. Sampai dalam restroom khusus wanita ia mencari tempat ganti. Khumaira mau cepat ganti supaya lekas bertemu anak-anak.
Usai ganti Khumaira duduk di kloset lalu mencuci tangan sebersih mungkin. Tubuhnya bergetar ketakutan mengingat kejadian beberapa menit lalu. Apa Suaminya akan baik-baik saja setelah ini? Mungkin saja akibat kecelakaan besar itu Suaminya akan berbeda. Ingin rasanya Khumaira menggantikan sakit Aziz. Dia tidak akan sanggup melihat Suaminya sakit karenanya.
"Jika boleh berharap Adek ingin menggantikan posisi Mas. Kenapa derita tidak pernah lari darimu, Mas? Kenapa bukan Adek yang sakit? Mas tolong maafkan Adek tidak sanggup melakukan apa-apa," lirih Khumaira.
Khumaira kembali sembari membawa plastik berisi pakaian dan hijabnya. Dia duduk sembari mendekap tubuh gempal Faakhira. Tangannya terulur untuk meraih Mumtaaz agar bersandar padanya. Ia juga meraih Ridwan agar Putranya punya kekuatan. Air matanya luruh deras karena belum mendapat kabar apa pun.
Hingga pintu terbuka menampilkan suster yang membuka lebar pintu IGD. Saat di tanya mereka bilang akan membawa Aziz ke ruang CT Scan. Dengan segera perawat mendorong brankar menuju ruang yang menentukan semuanya.
Khumaira langsung merengkuh anak-anak agar tenang. Dia cukup bersyukur Mumtaaz dan Ridwan tidak menangis keras. Ia harus ekstra menenangkan Faakhira yang terus menangis memanggil nama Ayahnya. Dengan lembut ia dekap sang anak penuh kasih sayang. Khumaira terus berusaha semoga saja Faakhira bisa tenang.
Azzam menatap sendu Adiknya terlihat begitu mengenaskan. Dia berlutut meminta agar Ridwan dan Mumtaaz merengkuhnya. Benar saja kedua anaknya merengkuh erat dirinya. Bagi Azzam baik Mumtaaz dan Faakhira sudah dianggap anaknya sendiri. Karena Aziz juga mencintai Ridwan seperti darah dagingnya sendiri. Azzam maka dari itu juga sangat mencintai Mumtaaz dan Faakhira sepenuh hati.
Ridwan dan Mumtaaz merengkuh Azzam erat. Mereka menangis dalam diam seraya merapal doa. Mereka begitu takut jika Ayah mereka pergi lama seperti yang lalu. Baru kemarin sudah bertemu sang Ayah kini tidak mau berpisah. Ridwan dan Mumtaaz berharap semoga saja Ayah lekas sembuh.
"Abi, katakan pada Kakak kecil kalau Ayah akan baik-baik saja, kan?" tanya Mumtaaz sembari menghapus air matanya.
Azzam mengusap pipi gembil Mumtaaz lalu memberikan ciuman di kening. Dia berharap anak manis ini tidak berpikir terlalu keras. Dia gendong Mumtaaz dan menggandeng tangan Ridwan. Dengan sayang Azzam memangku Mumtaaz.
"Insya Allah, Kakak kecil harus berdoa agar Ayah baik-baik saja. Mana senyumnya masa menangis nanti jelek bagaimana?"
Mumtaaz tersenyum tipis lalu menunduk sedih. Tangan kecil itu merengkuh leher Abinya sembari menangis dalam diam. Ia tidak mau Ayahnya kenapa-napa di dalam sana. Sudah cukup Allah memberikan penderitaan pada Ayahnya. Kini segala doa harapan Mumtaaz labuhkan untuk sang Ayah.
"Biarkan Kakak jelek asal Ayah sembuh. Kakak ngga mau ganteng lagi jika Ayah tidak baik-baik saja. Kakak kecil tidak akan nakal lagi jika Ayah sembuh. Tetapi, mustahil wajah Kakak sangat tampan jadi bagaimana? Abi, lihat Kakak besar juga menangis jadi jelek bukan?"
Ridwan menghapus air mata kasar lalu tersenyum manis seolah tegar. Sebagai Kakak Ridwan harus kuat demi Mumtaaz dan Faakhira. Lihat Abinya langsung mengusak rambutnya lalu mencium pipinya. Dia meminta Zayn, Zoya dan Ayeza untuk ikut bersama dalam dekapan Abinya. Ridwan tersenyum lembut lalu mengusap puncak kepala Mumtaaz.
Bagi Mumtaaz dan Ridwan mereka memiliki 2 Ayah dan Ibu. Mereka senang bisa mendapat kasih sayang lebih. Bagi kedua anak tampan ini ketiga Adik tiri dianggapnya Adik kandung. Tidak ada tiri karena mereka sama tanpa perbedaan. Walau hati sebel ketika Umi mereka sayang pada Ayeza dan si kembar.
Mahira menepuk bahu Khumaira berusaha menguatkan. Wanita Pakistan itu meminta Faakhira agar di gendong. Dia tersenyum saat Khumaira mengatakan terima kasih. Dapat di lihat betapa besar cinta Adik iparnya untuk Aziz. Cinta yang sangat dalam penuh ketulusan yang mungkin tidak bisa di jabarkan oleh kata-kata. Mahira bangga Khumaira mampu bertahan walau badai besar menghantam.
Khumaira mendekap erat Faakhira sembari menciumi wajah sang anak. Ya Allah resah sekali dia memikirkan Suaminya belum ada kabar terbaru. Semoga saja ini jadi akhir kesakitannya dan mendapat segala kebahagiaan bersama sang Suami. Semoga saja Allah selalu menyertai dalam serial langkah. Khumaira begitu mencintai Aziz dan selalu berharap semoga lekas sembuh.
***•~•***
Tubuhku terasa lemah mendengar penjelasan Dokter bahwa Suamiku sakit parah. Tidak itu tidak mungkin kan? Tolong katakan padaku itu bohong. Ya Allah, kenapa Masku bisa sakit separah itu?
Kata Dokter spesialis saraf setelah hasil CT Scan keluar Dokter bilang Masku punya penyakit kanker otak stadium 2. Bagai tersambar petir di siang bolong aku tidak sanggup bertahan hingga kesadaranku hilang. Apa bisa sakit Suamiku pindah padaku?
Ya Allah kenapa bisa Engkau begitu tega pada Masku? Astaghfirullah, ampuni hamba telah berkeluh kesah dan tidak bersyukur. Ya Allah, tolong maafkan hamba telah emosi ya Allah. Kini harapan hamba hanya satu semoga saja Engkau memberikan segala kebahagiaan.
Entah berapa lama aku tertidur dengan sakit luar biasa pada hati. Masku yang malang harus bertahan untuk kami. Tolong ya Allah sembuhkan penyakit Suamiku. Semua doa aku rapalkan agar Mas Aziz sembuh.
Dalam diamku aku tidak sanggup menatap masa depan tanpamu, Mas. Kenapa Mas tidak pernah cerita pada kami? Bagaimana bisa cerita kalau Masku itu orang yang suka memendam sakitnya sendiri. Mas Aziz, Kenapa takdir kejam selalu datang pada, Mas?
Ya Allah, jadi ini alasam Mas pingsan tadi malam? Sakit akibat kecelakaan itu sungguh di luar nalar. Masku Aziz tolong berjuanglah demi kami. Mas kuat menghadapi ini semua. Kita akan bahagia selamanya tanpa terpisahkan. Kita akan membuka lembaran baru hanya ada kita bersama anak-anak. Cintaku yang akan menjadi kekuatan Masku. Adek akan selalu mendoakan kesembuhan, Mas. Jangan takut kita selalu bersama tanpa terpisahkan.
Aku yang mulai baikan memutuskan untuk melihat Masku di ruang ICU. Di dalam ruangan anak-anak membaca Yasin dan si kecil menggenggam tangan Ayahnya. Ya Allah, anak-anakku sayang kalian memang membanggakan. Doa kalian pasti terkabul karena jiwa bersih penuh permintaan tulus kalian begitu murni. Air mata kalian akan terbayar dengan kesembuhan Ayah. Insya Allah, dibalik ini kita akan mendapat segala kebahagiaan. Allah bersama kita, Nak untuk mendengar doa hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan.
Aku putuskan mengambil air wudhu untuk ikut mengaji bersama anak-anak. Aku tidak boleh lemah karena Masku butuh diriku yang kuat. Tidak boleh lemah akan keadaa karena Mas Aziz tidak suka. Mas Aziz-ku, tolong maafkan Adek yang lemah ini.
Saat aku kembali ke ruang ICU anak-anak sudah selesai membaca Al-Qur'an. Aku mendekat ke arahnya mereka dan kuberikan ciuman sayang di pipi anak-anak. Dengan senyum manis aku tunjukkan agar anak-anak kuat. Saat aku duduk di samping Tole Ridwan keluarga Masku masuk.
Aku hanya tersenyum sebisanya dan mereka ikut mengaji Yasin untuk Masku Aziz. Usai mengaji kami memutuskan untuk diam tanpa suara. Lihat si kecil memilih tidur di samping Ayahnya seraya merengkuh lengan kanan Masku.
Sehari penuh Masku tidur tanpa menunjukkan kesadaran. Kami sepakat akan melakukan jalur operasi demi kesembuhan Mas. Soal biaya uang Mas Aziz akan kupakai. Sejatinya mereka sudah melarangku untuk menggunakan uang Mas Aziz. Tetapi, aku bersikukuh menggunakan uang ini agar Masku cepat sembuh.
Aku kecup kening Masku lalu beralih mengecup punggung tangannya. Mas jangan sakit lagi ya karena Adek lebih suka Masku yang gila akan kenarsisan dari pada terbaring begini. Mas jika saja boleh berharap Adek ingin menggantikan posisi Mas.
Sakitmu adalah sakitku, maka sembuhlah agar sakitku terobati. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Andai Mas tahu kita memang di gariskan untuk bersama selamanya. Baik di dunia maupun akhirat kita akan bersama dalam ikatan suci.
Cintaku begitu besar sampai Adek tidak mampu menjabarkan dengan kata-kata. Setelah Adek Shalat semoga Mas siuman ya agar pulih. Jika kondisi Mas membaik maka Mas bisa melakukan operasi.
Hai, Adek akan selalu bersama Mas dalam suka maupun duka. Adek akan menemani Mas tanpa lelah. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Hai, Mas belum mengatakan kata-kata cinta pada Adek. Maka dari itu Adek tunggu Mas bangun lalu katakan Mas cinta Adek karena Allah.
Aku melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah. Mengosok gigi, cuci muka serta wudhu. Usai semua itu aku putuskan untuk kembali ke ruangan Masku.
Dalam diam aku terbelalak saat sadar ada anak-anakku. Ya Allah, wajahku langsung merana melihat anak-anakku. Ya Allah, berapa lama aku lupa ada mereka yang sangat membutuhkan Uminya.
Ya Allah anak-anakku sampai lupa. Tole Ridwan tidur di sofa bersama Tole Mumtaaz. Syukurlah sofa itu panjang jadi muat untuk anak-anak. Lalu untuk Dedek Faafaa tidur di samping Mas Aziz. Tadi aku sempat tidur sebentar setelah Dedek Faafaa bisa tidur.
Ya Allah, semoga hajatku terkabul. Semoga Masku kondisinya semakin membaik agar lekaa di operasi. Doaku menyertai Mas setiap waktu. Adek akan selalu berdoa di setiap hembusan napas agar Masku kembali sehat. Tetaplah bertahan Mas demi cinta kita serta anak-anak tersayang.
*****
Khumaira melakukan Shalat sunah tahajud dan hajat. Setiap doa setelah shalat hajat ia menangis meminta pada Allah agar Aziz lekas sembuh dan di jauhkan dari penyakit. Semua hajat terus terarah pada Suaminya. Usai itu Khumaira mengambil Al-Qur'an guna menenangkan hati kalut.
"Shadaqallahul-'Adzim," ucap Khumaira.
Khumaira menaruh kitab suci Al-Qur'an di nakas. Kemudian melepas mukena dan melipatnya. Ia menunduk untuk mengecup kening Ridwan dan Mumtaaz bergantian. Tangan kecilnya terulur untuk mengusap rambut dua Putranya. Khumaira tersenyum melihat anak-anaknya terlelap.
"Umi menyayangi Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz. Anak-anak Umi harus tumbuh menjadi pria hebat seperti Abi dan Ayah. Kalian adalah harapan Umi sebagai penopang kelemahan Umi, Dedek Faafaa dan tentunya Ayah. Umi sangat menyayangi kalian sepanjang masa."
Khumaira beranjak ke brankar untuk menciumi wajah bulat Faakhira. Dia mencubit gemas pipi gembul Putrinya yang manis. Dia dengan sayang mengecup kening si kecil. Sungguh Khumaira tidak akan sanggup melihat Faakhira sakit atau pun menangis. Putrtinya ini di lahirkan penuh perjuangan. Bahkan nyawanya nyaris melayang lalu berhadapan antara kehidupan dan kematian.
Ingat waktu itu Khumaira merasa sangatlah terpuruk. Ingat sekali bagaimana menderitanya ia melahirkan. Apa lagi saat pendarahan hebat sampai tubuhnya tidak sanggup menjabarkan. Kini dia berharap semoga Faakhira menjadi wanita shalihah yang bisa menjadi tiang negara dan agama. Khumaira akan selalu berdoa semoga Faakhira selalu diberikan kesehatan.
"Umi berharap Dedek Faafaa menjadi Dokter agar bisa mengobati Ayah, Umi dan Kakak. Semoga saja Putriku ini tumbuh penuh kecerian dengan kecerdasan sama seperti Kakak Ridwan dan Kakak Mumtaaz. Umi sangat menyayangi Dedek Faakhira sepanjang masa."
Khumaira tersentak saat tangannya di genggam Suaminya. Dia bernapas memburu melihat mata tajam itu terbuka walau lemah. Spontan ia merengkuh Suaminya seraya menangis penuh haru. Doanya terkabul membangunkan Suaminya usai dua Shalat sunah. Khumaira menumpahkan air mata tepat di dada bidang Aziz yang terasa kurus. Segala rasa syukur terus terpanjatkan untuk sang Khaliq lantaran Allah telah membuat Suaminya siuman.
Aziz merengkuh tubuh mungil wanitanya menggunakan satu tangan. Dia tidak ingin berpikir keras terlebih membebani pikiran berlebihan. Dia mengecup puncak kepala Istrinya seraya tersenyum tipis. Hatinya sakit merasaka air mata terus berjatuhan di dadanya. Aziz tidak akan sanggup lama melihat Khumaira semakin menangis keras.
"D-Dek, jangan menangis," lirih Aziz terdengar parau.
Khumaira menegakkan tubuh agar Suaminya tidak sesak. Dia seka air matanya sedikit kasar. Sedikit demi sedikit ia tersenyum manis pada Istrinya. Dengan sayang Khumaira mengecup kening Aziz lama.
"Mas membuat Adek sakit," lirih Khumaira.
"Maaf," ucap Aziz.
Aziz menyentuh puncak kepala Faakhira. Mata tajam menatap dua anaknya penuh harap. Ya Allah anak-anaknya begitu manis sampai ingin merengkuh mereka. Tubuh lemahnya tidak bisa bergerak lebih. Tangan kanan Aziz terulur untuk menghapus air mata Khumaira.
"Mas minumlah."
Khumaira membantu Aziz meminum air putih. Cukup banyak Suaminya minum sampai 2 gelas. Ternyata Suaminya sedang haus makanya banyak minum. Usai minum mata saling pandang seolah tidak mau berpaling. Kemudian Khumaira membantu Aziz bersandar lebih nyaman.
Aziz mengusap rambut lurus Faakhira. Dia meminta Khumaira untuk menidurkan si kecil di dadanya. Dengan sayang dia merengkuh Putrinya dan sesekali memberikan ciuman di puncak kepala sang Putri. Aziz yakin Khumaira serta yang lain tahu penyakitnya. Kalau begini ia harus bagaimana menghadapi mereka?
"Mas minta maaf membuat kalian khawatir," ucap Aziz memecahkan keheningan.
Khumaira meraih tangan kanan Suaminya. Dia genggam erat tangan Aziz seakan tidak ada hari esok. Ia kecup pergelangan tangan Suaminya sesekali meremas pelan. Jika boleh jujur ia ingin merengkuh Suaminya seerat mungkin. Khumaira mau Aziz dalam dekapannya.
"Mas jangan pikirkan apa pun. Cukup konsentrasi menyembuhkan sakit Mas. Mas tahu melihat Mas berdarah-darah tidak sadarkan diri membuat Adek tersiksa. Sakit Suamiku adalah sakitnya Adek. Kita diciptakan untuk satu kesatuan, maka saling merasaka sakitnya. Mas katakan sesuatu agar Adek bisa tenang," lirih Khumaira.
Aziz mengangkat dagu Khumaira lembut. Perlahan tetapi pasti dia kecup pipi gembul Istrinya. Ia berikan ciuman di wajah cantik Istrinya tanpa terlewati. Saat mencium bibir sang Istri dirinya sedikit *******. Aziz memberikan ciuman pada Khumaira walau tidak intim.
"Mas mencintai Adek karena Allah. Sudah sangat lama Mas tidak mengatakan cinta. Sekarang jangan khawatir tentang kondisi Mas. Mulai sekarang Mas akan sembuh demi Istriku serta anak-anakku yang sangat Mas cinta. Mas janji akan sembuh agar kita bersama tanpa terpisahkan. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Mas sangat mencintai Adek sepanjang masa. Jangan menangis karena wajah jelek Adek tambah jelek. Melihat wajah Adek begini membuat Mas ingin cium. Sekarang tersenyum untuk Mas wahai Istriku sayang."
Khumaira tersenyum mendengar jawaban Aziz. Tanpa babibu ia menangkup rahang tegas Suaminya lalu meraup bibir sang Suami. Dia ******* bibir Suaminya sedikit tergesa. Ia tersenyum saat Suaminya membalas ciumannya tidak kalah tergesa. Khumaira begitu senang Aziz membalas ciuman lembutnya.
Usai berciuman Khumaira menghapus bibir Suaminya. Jemari lentik itu mengusap wajah rupawan Aziz. Dia mencuri ciuman di bibir Suaminya lagi dan tersenyum lebar. Hatinya sudah membaik telah mendengar kata penenang Suaminya. Sungguh Khumaira begitu senang akhirnya punya kekuatan dari Aziz.
"Mas cepat sembuh ya Adek kangen. Apa Mas tidak mau buka puasa?"
Khumaira merasa malu mengatakan kata pengajak lumayan menggoda. Wajahnya merah padam mengatakan hal nakal. Demi Upin dan Ipin tidak kunjung dewasa ia ingin gantung diri di pohon cabe. Rasanya dadanya berdegup kencang seperti dulu. Bahkan cintanya membaut Khumaira tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan Aziz.
Aziz mengerjap mendengar perkataan Khumaira. Dia berpaling menyembunyikan wajahnya yang bersemu. Kode keras harus sembuh suapaya puasa 3 tahun terbayar. Ingat ini dia akan membeli obat kuat atau minum jamu agar kuat lama. Ya Allah, dia merutuki diri mesum di saat sakit. Kalau begini Aziz ingin cepat sembuh agar memberikan Dedek baru Faakhira.
"Mas akan sembuh biar buka puasa cepat. Adek harus siapkan diri untuk mendapat makanan yang lama," ujar Aziz seraya menoel dagu Khumaira.
"Cukup jangan mesum, Mas sembuh dulu baru mesum," sahut Khumaira langsung ngacir ke kamar mandi.
Khumaira langsung ngacir ke kamar mandi lalu menutup wajahnya. Dia duduk di kloset seolah bersembunyi di balik wajahnya. Karena gugup pasti Suaminya jadi orang menyebalkan menggoda. Khumaira pasti begitu malu telah menggoda Aziz malah malu sendiri ketika di goda balik.
Aziz terkekeh geli melihat Khumaira telah ngacir pergi. Senyuman paling menggoda telah terjadi sehingga membuat dirinya senang. Dia akan berusaha lekas sembuh lalu buka puasa sampai puas. Hahahaha, awas saja jika sudah sembuh maka Istrinya akan di sekap lama. Aziz akan membuka lahan sampai lama bersama Khumaira supaya dapat anak baru.
*****
Maaf ya belum Rose edit maka jika banyak kesalahan dalam penulisan dan typo bertebaran harap maklum.
Kabar gembira mulai tanggal delapan Insya Allah bakal update setiap hari. kalian senang bukan? Semoga kalian senang.
Maaf ya bikin menangis tiada henti.
Story Rose Ini murni anti-mainstream yang memiliki kualitas paling kucintai selain BPIL.
Salam cinta dariku.