
"Umi ... Umi hiks."
Ridwan menepuk pipi Khumaira beberapa kali. Namun, Ibunya tidak kunjung bangun. Sedari tadi Ibunya menangis dan menggumam nama Abinya. Si kecil ingin memanggil yang lain, tetapi takut terjadi apa-apa. Ridwan terus berusaha membangunkan Khumaira sembari menangis sesenggukan.
"Umi ....!" pekik Ridwan sembari menangis keras alhasil Khumaira terbangun.
"Mas Azzam ....!!!" pekik Khumaira.
Khumaira terbangun dengan keadaan terpuruk. Dia menengok ke arah Ridwan dengan pandangan sulit di artikan. Kenapa dia ada di kamar? Kenapa tidak di tempat itu? Khumaira merasa pusing memikirkan di mana ia berada.
"Umi hiks," tangis Ridwan sesenggukan.
Khumaira langsung mendekap Ridwan erat sembari menangis. Dia menetralkan diri lalu menciumi wajah rupawan Putranya duplikat almarhum Suaminya. Khumaira terus merapal doa dalam hati semoga Masnya kembali.
"Dedek, tahu di mana Abi? Abi tadi ikut pulang bersama, Umi. Tolong katakan di mana, Abi? Apa Abi sedang mandi?"
Ridwan bingung akan perkataan Khumaira. Dia memilih menggeleng sebagai respons. Si kecil tidak tahu namun hatinya begitu pilu mengingat Abinya di sebut.
Aziz yang mendengar tangisan keras Ridwan sontak berlari menuju kamar, begitu pun dengan keluarga Khumaira yang lain. Di sana mereka melihat Khumaira sedang menghapus air mata Ridwan sembari ikut menangis. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Khumaira dan Ridwan menangis?
Khumaira memakai hijab lalu turun ke ranjang dan memilih membuka kamar mandi. Dia sebal Azzam tidak ada di sana. Ia keluar untuk mencari Suaminya yang ikut pulang. Khumaira melihat keluarga dan Suaminya.
Khumaira berjalan cepat ke arah Aziz untuk menanyakan Azzam. Dia menggenggam tangan besar sang Suami penuh harap. Dengan pancaran mata penuh pengharapan ia bertanya.
"Mas, tahu di mana Masku, Azzam?"
Deg
Aziz dan yang lain membatu mendengar pertanyaan Khumaira. Apa Khumaira masih belum sadar kalau Azzam telah tiada?
"Dek, Mas Azzam sudah tiada. Dia sudah tenang di alam sana," jawab Aziz.
Khumaira langsung menghempas tangan sang Suami kasar lalu menatap tajam Aziz. Dia menunjuk wajah rupawan Suaminya seraya menangis penuh emosi.
"Masku masih hidup. Andai saja kamu tidak mengajak saya menikah pasti Masku tidak menderita. Aku sangat mencintainya sepenuh hati. Tolong katakan di mana Masku Azzam!" pekik Khumaira.
Aziz membisu dengan hati terasa teremas kasar. Jantung berasa di tusuk sembilu pedang. Kenapa Khumaira kembali seperti semula bahkan malah ucapan sekarang begitu menyiksa hatinya. Aziz berusaha tersenyum agar semua baik-baik saja.
"Jaga ucapanmu, Nduk!" tanpa sadar Sholikhin membentak Khumaira.
Khumaira langsung sadar mungkin itu benar mimpi belaka. Tidak Masnya masih hidup itu pasti karena rasanya begitu nyata. Isak tangis membuat Khumaira tidak kuasa menahan sakit.
"Kenapa aku harus terjebak di antara kalian? Cepat katakan Masku Azzam di mana? Ibu ... Bapak tolong katakan di mana Masku, Azzam!"
"Eling, Nduk. Cepat menyebut jangan begini. Ya Allah, Masmu telah pulang ke Rahmatullah. Tolong ikhlaskan kepergian Mas Azzam. Bukannya Nduk sudah ikhlas Mas Azzam pergi. Istighfar, Nduk cepat," pinta Maryam.
Khumaira menggeleng kuat dan memilih keluar kamar seraya menyerukan nama Azzam. Dia terus mencari ke penjuru ruangan untuk menemukan orang yang sangat dicintai.
Sholikhin dan Maryam menepuk bahu lebar Aziz. Mereka berharap Aziz tidak sakit mendengar perkataan Khumaira. Mereka izin menenangkan Khumaira terlebih dahulu.
Aziz tersenyum sembari mengatakan dia tidak apa-apa. Dia memilih bungkam dengan hati terasa sakit. Baru saja dia merasa begitu bahagia, kenapa Khumaira kembali seperti semula? Rasa sakit menggerogoti jantung dan pikiran Aziz.
Ridwan merasa terabaikan sontak menangis histeris. Karena tangisan itu sukses membuat Aziz sadar. Dia sedih kenapa Umminya terus memanggil Abinya yang telah tiada. Ya Allah, kenapa dunia begitu kejam.
Aziz buru-buru menghampiri Ridwan dan memilih menenangkan Putranya. Dia kecup pipi gembul Ridwan agar tenang. Beribu kata penenang Aziz ucapkan supaya Ridwan berhenti menangis.
"Tenang, Nak ... sudah jangan menangis ada, Ayah. Sstt, jangan menangis Ayah mohon."
Ridwan memeluk Aziz erat dengan pandangan kosong. Dia menangis tersedu karena ketakutan. Perlahan si kecil tenang dan memilih diam. Ridwan mendongak menatap Aziz penuh harap.
"Ayah, apa Abi benar-benar masih hidup? Lalu di mana beliau selama ini jika masih hidup? Katakan apa Abi masih hidup, Ayah?"
Aziz membisu mendengar pertanyaan Ridwan. Rasa sakit kembali hadir menyeru membuat dia menangis dalam diam. Aziz berusaha mengatur laju napasnya. Dia pangku Ridwan sembari menciumi puncak kepala sang Putra.
"Abi sudah tenang di sisi Allah, Dedek. Sesutu yang sudah kembali ke sisi Allah tidak akan kembali dalam pandangan manusia. Gih main bersama Bibi Laila ajak Bibi main sampai puas. Tolong maafkan Ayah memberi jawaban kurang pas. Ayah sangat menyayangi, Dedek."
Ridwan masih belum mengerti, tetapi mengaguk saja. Dia memilih menuruti perkataan Aziz. Ia perlahan turun untuk mencari Laila. Ridwan akan bermain bersama Laila sepuasnya.
Aziz mengacak rambut kalut. Mungkin saja Masnya masih hidup. Tetapi kenapa cincin, dompet dan pakaian jenazah itu Masnya sekali. Ya Allah, kenapa terasa sulit untuk di cerna? Sekarang ini Aziz harus bagaimana?
Aziz menelepon seseorang untuk mencari kebenaran tentang Azzam. Dia akan berusaha mencari Azzam dan semoga saja Masnya masih hidup. Tetapi, mana mungkin itu terasa mustahil. Aziz tersenyum di jika Allah berkehendak itu tidak akan mustahil.
Khumaira duduk di pekarangan rumah dengan pandangan kosong. Dia terus menangis tanpa peduli ke dua orang tuanya menenangkan. Tangis pilu mengiringi kepingan ingatan tadi yang begitu nyata. Khumaira tertunduk pedih mengingat Azzam tadi terasa nyata.
"Itu bukan mimpi, kenapa nyata sekali? Mas Azzam, tolong di mana pun engkau berada lihat dan kembali. Aku sangat mencintaimu dan sangat merindukan kebersamaan kita. Mas, kenapa kamu pergi? Ya Allah, kenapa takdir begitu kejam padaku? Mas Azzam, kamu di mana? Ya Allah, tolong ini sakit sekali."
Khumaira merengkuh lututnya sendiri. Dia tidak kuasa menahan sakit di kala teringat mimpi itu. Jadi semua yang dia alami tadi hanya mimpi. Khumaira ketakutan akan takdir yang Allah tulis untuknya. Kenapa rasanya begitu menyiksa batin?
Aziz membisu di belakang Khumaira. Sebegitu besar dan tulusnya cinta Istrinya untuk almarhum. Dia sudah terbiasa menahan sakit hati akibat luka. Kini Aziz harus kuat untuk merengkuh Khumaira.
"Dek, coba katakan apa yang terjadi?" tanya Aziz lembut seraya menyentuh punggung Khumaira.
Khumaira mendongak menatap Aziz. Dia tambah menangis histeris mengingat betapa egois dirinya. Aziz pasti sangat terluka karena perbuatannya. Bukanya waktu itu Aziz bilang dia berhak menjaga dan mencintai Azzam sampai kapan pun. Jadi biarkan Khumaira tetap mencintai Suaminya sampai kapan pun.
"Aku mimpi Mas Azzam masih hidup dan pulang bersamaku. Mimpi itu terasa nyata dan sangat mengharukan. Aku bertemu Masku Azzam di sana dengan keadaan sejuk. Mas Azzam ikut pulang tadi, tetapi kenapa semua mimpi? Rasanya sakit sekali mengingat semua itu."
Khumaira bercerita singkat agar beban pikiran dan hati terobati. Dia tidak mungkin mengatakan detail mimpi itu. Sungguh semua yang Khumaira rasa begitu kalut.
Aziz tersenyum berusaha mengontrol diri. Dia ikut duduk di samping Khumaira dan memberikan pelukan hangat. Biarkan rasa cinta dan sakit tetap tersimpan rapat. Dia akan berusaha mencari titik terang tentang kebenaran itu.
Khumaira memeluk Aziz erat dengan isak tangis. Dia tidak kuat menerima kepiluan hatinya jika teringat almarhum. Mungkin semua petunjuk Suaminya masih hidup dan kini ia harus bagaimana?
"Mimpi adalah bunga tidur, Dek. Ikhlaskan Mas Azzam agar tenang di alam sana. Besok kita ziarah ke makam Masku, bagaimana? Ingat aku akan selalu menjadi sandaran untuk, Adek. Tenang, aku menyewa seseorang untuk mencari kebenaran tentang Mas Azzam. Doakan yang terbaik karena aku sangat menyayangi kalian. Sudah jangan menangis kasihan Dedek Ridwan. Ingat si kecil begitu sakit melihat Adek histeris. Jangan ulangi semua kesalahan tadi. Aku sangat menyayangi Adek dan Mas Azzam. Kalian di atas segalanya dalam setiap napas. Jika memang Masku masih hidup pasti akan kembali. Tenang jangan menangis, aku mohon."
Aziz terus mengatakan kata penenang agar Khumaira kembali ceria. Mungkin semua akan kembali sulit untuknya. Cinta yang akan dia ungkapkan tertolak sebelum dikatakan. Semua akan baik-baik saja selagi ikhlas menerima semua ini.
"Mas Aziz," lirih Khumaira sebagai respons.
Aziz tersenyum manis mendengar perkataan Khumaira. Tidak apa jangan lemah karena 6 tahun dia memendam cinta lalu kenapa sekarang tidak bisa? Aziz akan memendam itu semua sampai waktunya tiba. Biarkan cintanya tumbuh dalam diam.
Khumaira terdiam mencerna perkataan Aziz dan Azzam. Benar Aziz masa depan dan Azzam masa lalu. Tetapi, rasa cinta itu masih kokoh untuk almarhum. Semoga Aziz sabar menunggu saat dia mampu mengutarakan isi hatinya.