
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
Siapkan hati dan tisu!
***...***
Katakan pada diriku apa yang lebih menyakitkan dari pada ini? 4 bulan aku di rawat di rumah sakit guna menyembuhkan sakitku. Lalu lebih sakit sampai hatiku hancur lebur tidak ada sisa karena lupa No rumah, terutama No Dek Syafa. Cobaan ini begitu dahsyat menerima ini semua ya Allah.
Ya Allah kenapa aku bisa lupa hal kecil begitu? Jika menghubungi mereka aku harus bagaimana? Hamba harus bagaimana ketika berusaha ingat kepala terasa pecah. Jika begini hanya sabar, ikhlas serta tawakal pada-Mu sampai kesembuhan menyertai.
Dek Syafa, Mas sangat merindukan kebersamaan kita. Apa aku harus memanggil mantan Istriku Dek Syafa lagi? Sepertinya tidak boleh memanggil dengan sebutan Dek. Pedih rasanya jika aku harus memanggil mantan Istriku dengan panggilan Mbak. Nyeri dan aku harus ikhlas menerima ini semua demi kebaikan bersama.
Awalnya aku terus menolak tegas akan perpisahan kami. Hatiku terus mengatakan kami belum berpisah. Namun, nyatanya kami sudah berpisah sangat lama. Kalau sudah terjadi maka Aziz yang malang harus terima konsekuensi dari semua ini.
Kenapa aku bisa di rumah sakit sampai di rawat lama. Ini alasannya karena aku berencana pulang ke Indonesia guna menghadiri acara membangun pernikahan kembali antara Mas Azzam dan Dek Syafa. Tetapi, tragedi mengerikan terjadi sehingga membuatku terdampar di sini.
Aku menolak keras akan hasutan Jasmin, pasalnya hatiku menolak atas segala ucapannya. Namun, foto pernikahan mereka terpampang nyata sehingga mau tidak mau harus percaya. Mas Azzam dan Dek Syafa menikah kembali untuk membangun pernikahan agar bisa bersama. Ini yang kuinginkan, namun kenapa terasa sangat berbeda?
Setelah tiga bulan fisioterapi akhirnya aku bisa berjalan dan melakukan aktivitas seperti biasa. Tidak ada Jasmin karena sedari awal aku menolak keras di rawat gadis itu. Selama aku sakit dan melakukan fisioterapi Dokter yang merawat adalah seorang pria. Jika makan aku bisa sendiri pasalnya tangan kananku bisa di gunakan.
Antah setan apa yang merasuki tubuhku sehingga akhir-akhir ini aku sering marah tidak terkontrol. Bahkan aku sering sekali muntah di pagi hari. Saat makan roti manis baru mual berkurang. Nasib indah sekali diriku ini yang terasa menyedihkan tidak ada tenaga. Bahkan pernah gara-gara ini semua aku harus tumbang tanpa bisa fisioterapi.
Siapa yang mau mengobati luka jiwa dan batinku? Siapa yang mau merawat diriku dikala sakit, mual, muntah-muntah dan pusing? Siapa yang akan ku andalkan saat sakit begini? Jika dulu saat ada Dek Syafa maka dengan penuh kasih sayang Istriku akan merawat. Lalu siapa yang akan merawatku sekarang?
Aku merasa lemah tanpa tenaga beberapa Minggu ini. Tidak mau makan jika rasanya tidak gurih manis. Lebih parah lagi aku ingin makan serta minum serba manis. Bahkan sudah kukatakan boro-boro minum serta makan manis aku tidak pernah bisa memakan itu semua. Pernah makan dan minum sekali, tetapi naas perutku mual, enek dan rasanya perut seperti termasuk. Lalu sekarang tanpa manis aku tidak mau makan.
Aku ini kenapa? Ya Allah, apa aku sedang sakit parah makanya minta yang manis-manis? Oh ayolah jikalau makan manis wajahku yang macho, cool, penuh karisma jadi teduh nan maskulin. Ngga, lucu ya Allah.
Lupakan gejala aneh yang menimpaku akhir-akhir ini. Jujur saja aku ingin menelepon keluargaku atau Mas Azzam. Tetapi, sayang sekali aku lupa segala No mereka. Aku hanya ingin tahu bagaimana kondisi anak-anakku? Apa mereka sangat merindukan, Ayahnya? Sungguh aku sangat rindu pada dua Putraku yang nakal. Terlebih aku rindu keluarga serta mantan Istriku.
Dek Syafa, ah maaf seharusnya aku panggil Mbak Khumaira. Ya Allah, mana bisa memanggil orang yang sangat aku cintai dengan panggilan Mbak. Aku tidak sanggup bertahan jika begini. Tidak Aziz kamu kuat menghadapi hidup kelammu. Maka terus berjuang lalu coba pendam rasa cintamu itu.
Yakinlah ada matahari yang siap bersinar untuk kebahagiaanmu. Yakinlah pada Allah bahwasanya kebahagiaan itu akan kamu perolah. Aziz yakin jika suatu hari nanti cahaya kehidupan penuh kebahagiaan akan segera mekar.
Semoga Dek Syafa dan Mas Azzam bahagia selalu. Doaku mengiringi langkah kalian di setiap kebahagiaan. Aku sangat berharap kalian terus bahagia tanpa ada bayanganku. Semoga saja Dek Syafa terus bahagia bersama Mas Azzam.
4 bulan kemudian di mana setelah aku keluar rumah sakit. Tidak ada angin tidak ada badai kini tubuhku terasa remuk. Sakit sekali menghadapi rasa sakit di sekujur tubuh. Bahkan aku tidak tahu sakit ini karena apa?
Saat itu aku sedang bekerja langsung tumbang di tempat. Antah kenapa rasanya begitu menyiksa sampai ulu hati. Tubuhku lemas tanpa tenaga dan ini begitu menyiksa sekujur tubuh. Kenapa rasanya ngilu semua bahkan tumbang ku tepat di ruang meeting. Aziz kenapa sakit di ruang penting yang di hadiri pebisnis Handal?
Mengetahui itu aku di larikan ke rumah sakit terdekat. Dalam benakku hanya ada Dek Syafa menggerang kesakitan sembari meneriaki namaku. Aku seperti seseorang yang merasakan sakit luar biasa ketika Istrinya sedang melahirkan. Pernah rasa sakit muncul ketika Dek Syafa melahirkan Tule Mumtaaz. Tetapi, tidak sesakit ini malahan yang kurasakan berkali-kali kali lipat dari sebelumnya. Masih teringat saat itu aku meredam sakit ketika Dek Syafa melahirkan.
Saat ini aku merasakan hal sama. Namun, jauh lebih menyakitkan dari pada sebelumnya. Sebenarnya aku kenapa? Antahlah yang jelas aku merasa Istri ah mantan Istriku sedang mengandung dan sekarang hendak melahirkan. Aku seperti orang mengidam jika ingin sesuatu. Aku sering muntah-muntah dan ingin makan manis. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?
Firasatku atau memang nyata ketika instingku mengatakan bahwa Dek Syafa benar-benar mengandung anakku? Aku merasa ada yang aneh dengan keadaan ini. Semua terasa menyakitkan ketika aku teringat sesuatu. Tetapi, tidak bisa kutahu apa itu? Ah, mungkin sebuah halusinasi makanya aku terus ke pikiran Dek Syafa yang mengandung benihku.
Ini hanya firasat gilaku yang terlalu berharap tinggi. Aku ingin pulang memastikan sesuatu bahwa apa yang kurasakan melesat jauh. Namun, bagaimana mau pulang jika kontrak kurang lebih empat tahun lagi?
Lagian aku tidak mau pulang ke Indonesia untuk saat ini. Alasannya cukup menyakitkan yaitu aku belum sanggup melihat Dek Syafa dan Mas Azzam bersama saling melempar candaan. Aku dulu bisa mengendalikan diri saat kedua pasangan romantis itu bersama. Tetapi, untuk sekarang seorang Aziz tidak akan sanggup bertahan melihat betapa mesra keduanya.
Jarak antara kita sudah membentang bak Samudra. Kita terpisah jauh oleh waktu dan jurang yang curam. Di antara kita sudah berakhir dan saatnya aku menyerah memikirkan tentangmu, Dek Syafa.
Yang akan aku pikirkan hanya kedua anakku yang manis. Tidak lagi dirimu karena kamu bukan milikku. Kita sudah berakhir dan antara kita sudah terbakar api. Hanya anak-anakku yang akan teringat bukan dirimu.
Berbahagialah Mas Azzam dan Mbak Khumaira, doaku menyertai kalian. Tolong jaga Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz sepenuh hati. Aku hanya berharap kalian selalu bahagia bersama kedua anakku. Jaga mereka sampai aku kembali ke Indonesia.
***•••***
4 bulan aku baru bisa memorak-poranda hati Kak Aziz. Aku bisa mengumpulkan informasi dan wajah Kakak dan Istrinya Kak Aziz. Dari sini lah aksi gilaku dimulai dengan mengedit foto mereka sebagus mungkin.
Saat melihat foto Istri Kak Aziz rasanya agak minder. Aku akui wanita ini cantik nan manis apa lagi memiliki kulit bak porselen. Pantas dua pria tampan menyukainya begitu dalam. Lupakan itu Jasmin sekarang mulai strategi mengambil hati Kak Aziz.
Buat Kak Aziz benci Istrinya itu sampai ke akar-akarnya. Aku edit foto semaksimal mungkin dan terus berusaha memperbaiki hasil tipu dayaku. Semua usahaku berjalan manis saat semua kepalsuan di percaya.
Kak Aziz akhirnya percaya sudah bercerai dengan Mbak Khumaira lantaran segala bukti yang kukumpulkan (palsu). Lalu, di sana biarkan Mbak Khumaira kembali pada Kak Azzam dan Kak Aziz jadi milikku. Intinya semua terancang sempurna seperti keinginanku.
Dengan begini Kak Aziz akan jadi milik Jasmin seorang. Ya, walau kaukui Kak Aziz seperti gurun es tidak mudah di cairkan. Selama 4 bulan aku belum bisa menyentuhnya walau seujung kukku. Namun, tidak apa-apa asal bisa melihat wajah tampannya dari jauh tidak masalah.
4 bulan kemudian setelah Kak Aziz keluar dari Rumah Sakit. Hal mengejutkan terjadi ketika Kak Aziz tumbang di ruang meeting. Tubuhnya seperti jeli yang sangat lemas tanpa tenaga. Aku sadar ini efek seorang Ayah yang merasakan Istrinya sedang melahirkan.
Apa aku terlalu jahat telah memisahkan mereka? Apa aku jahat telah melakukan tindakan kotor ini? Akibat diriku Kak Aziz tidak bisa menemani Mbak Khumaira di meja persalinan. Kini Kak Aziz merasakan hebatnya sakit akibat Mbak Khumaira yang melahirkan. Jadi maafkan aku memisahkan kalian berdua.
Aku akui cinta antara mereka begitu besar. Tetapi, maaf ya Mbak Khumaira aku sangat mencintai Kak Aziz. Semoga saja kamu bahagia bersama Kak Azzam. Sekali lagi tolong maafkan aku telah menghancurkan bahtera rumah tangga kalian. Lalu ikhlaskan Kak Aziz untukku ya, Hahaha.
Aku sangat sadar betapa menjijikkan sikapku ini yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Kak Aziz. Jika Allah menghukum maka hukum saja. Namun, biarkan aku bahagia bersama orang yang kucintai.
Banyak yang bilang cinta itu buta. Aku akui istrilah itu terjadi padaku yang manis. Akibat cinta buta aku menghalalkan segala cara guna mendapatkan Kak Aziz. Contoh kecil ya ini secara tidak langsung aku telah membunuh Paman Hans dan menghancurkan Kak Aziz. Itu cinta gila, tetapi aku tidak peduli asal di jadi milikku.
Sekali lagi maafkan Jasmin.
Kak Aziz, aku sangat mencintaimu tolong mengerti. Tolong percaya bahwa aku sangat mencintai Kakak sepenuh hati. Maaf telah menusuk Kakak dari belakang. Maaf menghancurkan kalian berdua.
Dengan begini Mbak Khumaira, pasti sangat membenci Kak Aziz pasalnya aku telah memajang foto kami di Instastoty dengan caption : My handsome boyfriend. We are suitable, right? Kalau sudah ada foto mesra layaknya ciuman pipi lalu caption begitu mana ada orang yang tidak alah paham.
Maafkan aku Mbak Khumaira membuat kamu tertekan di kala mengandung. Aku sangat cinta Kak Aziz maka maafkan upayaku yang keji. Aku sangat mencintai Kak Aziz, maka ikhlaskan Suamimu untukku. Sekali lagi tolong maafkan aku Mbak Khumaira. Tolong izinkan aku memiliki Kak Aziz seutuhnya. Aku janji akan menjaganya sepenuh hati.
***•••***
Air mataku luruh deras mengingat Mas Aziz. Kenapa kamu jahat sekali Mas pada, Adek? 3 bulan aku selalu menantimu tanpa lelah. Hingga seseorang mengetuk pintu yang aku kira dirimu.
Saat aku tersadar dari pingsan Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz menangis histeris memanggil namaku. Kedua orang tuaku mengatakan jangan menangis. Sementara Mas Azzam menatapku iba dan aku tidak suka di tatap kasihan.
Jangan kasihani aku, Mas karena ini takdir yang kutempuh. Tolong maafkan aku Mas Azzam telah menyakiti perasaanmu. Tolong maafkan aku yang tega menyakitimu. Cinta di antara kita sudah terpisah karena kita sudah pisah.
Andai kamu tahu Mas rasa cinta ini masih tersimpan rapat di lubuk hatiku yang paling dalam. Namun, cintaku yang sesungguhnya adalah dirinya. Seluruh jiwa raga berserta cintaku semua terlalu dalam untuk priaku. cintaku yang sesungguhnya adalah Masku Aziz. Maka dari itu tolong maafkan aku Mas Azzam!
Hingga saat aku sudah baikkan Mas minta bicara berdua. Mas Azzam menginterogasi hubunganku dengan Mas Aziz. Maka dengan susah payah aku bilang pada Mas Azzam perihal Mas Aziz. Hingga kesepakatan terjadi saat aku meminta hal mustahil. Aku katakan jangan beritahu perihal kehamilanku pada Mas Aziz. Soal Mas Aziz biarkan aku yang berbicara padanya. Awalnya Mas Azzam menolak, tetapi aku tetap bersikukuh memohon padanya. Dan akhirnya Mas Azzam setuju akan kesepakatan kami walau agak berat.
Dalam obrolan kami Mas Azzam bilang Mas Aziz sering mengirim pesan. Namun, saat bulan ke empat No Mas Aziz sudah tidak bisa di hubungi. Mas Aziz menghilang bagai di telan bumi tanpa kabar saat memasuki bulan ke lima.
Kami curiga ada apa-apa pada Mas Aziz. Bahkan tidak biasanya sikap Masku berubah drastis. Namun, aku berusaha realistis agar tidak suudzon pada Suamiku. Karena aku yakin mungkin saja Mas Aziz begitu perihal kontrak bersama Douglas Company.
Hingga Mas Azzam berkata ingin ke Singapura untuk menyambangi Mas Aziz. Sontak aku meminta Mas Azzam agar tetap tinggal di Indonesia. Dan biarkan Mas Aziz bersikap seperti keinginannya. Aku egois dan keras kepala tidak menginginkan hal lebih takut akut hati atau kecewa melanda.
4 bulan setelah kepergian Mas Aziz, aku di kejutkan dengan foto Suamiku bersama seorang wanita. Wanita itu sangat cantik bahkan terang-terangan mereka mengumbar kemesraan mereka. Parahnya wanita itu mengklaim Mas Aziz sebagai pacarnya. Lalu hal lebih menyakitkan lagi ketika Masku mencium pipi wanita yang mengklaim Suamiku.
Ya Allah, tega sekali kamu mengkhianati pernikahan kita, Mas. Kenapa Mas tega berkhianat pada cintaku yang tulus? Sering kali Mas bilang kalau mencintaiku sepenuh hati. Mas sering mengatakan mencintaiku karena Allah. Mas bilang akan terus mencintaiku walau terpisah dan nyatanya semua itu dusta. Ternyata itu semu ketika ada wanita yang sangat cantik menjeratmu.
Tega kamu Mas mengkhianati perasaan Adek. Aku sangat membencimu, Mas. Mulai sekarang biarkan cinta kita tidak usah terlabuh. Aku sangat kecewa akan ucapan cintamu. Semua itu semu, segalanya semu karena Mas begitu menjijikkan. Aku benci Mas sangat benci. Tega kamu Mas tidak pulang lalu memilih menduakan cintaku.
Aku tertekan menyebabkan di rawat di rumah sakit. Aku pendarahan ringan dan nyaris anakku tidak tertolong jika terlambat sebentar saja. Syukur Alhamdulillah aku panjatkan pada-Mu ya Allah telah menyelamatkan janin hamba. Hamba khilaf terlalu terpuruk menyebabkan bahaya janinku.
Kini saatnya bangkit demi anak dalam rahimku. Anakku tidak boleh terluka dan merasakan dukaku. Kini saatnya aku harus berjuang keras dan membuka lembaran baru. Anak-anak butuh Uminya terutama Dedek bayi yang ada dalam rahimku.
Ya Allah, aku harus kuat demi anak yang ku kandung. Dengan ini aku harus ikhlas menerima kenyataan bahwa Mas Aziz telah berubah. Sekarang hanya ada Khumaira bersama anak-anak bertahan seorang diri. Tidak ada lagi dia karena mulai saat ini akan kututup celah untuknya.
Selama aku mengandung Alhamdulillah tidak pernah mual secara berlebih. Saat mengidam semua terasa menyakitkan saat yang kumakan semua kesukaan Mas Aziz. Kalau begini jelas bukan anakku ini duplikat Ayahnya. Sama halnya dengan Dedek Mumtaaz memiliki sikap 100% Ayahnya.
Aku tidak mampu bertahan di kala rasa sesak menyerang seluruh tubuh. Lagi-lagi tubuhku terasa lemah akan kandunganku kali ini. Rasanya letih sekali membuatku merasa butuh sandaran. Dalam damai aku berusaha kuat menjalani hari demi anak-anakku. Aku tidak boleh lemah menunjukkan kelemahan pada dua putraku.
Anak-anak begitu perhatian pada Uminya yang malang. Mereka tidak merengek minta ini itu. Untuk Tule Mumtaaz si kecil juga sudah mulai tenang tidak nakal. Kini harapanku hanya satu bertahan demi mereka.
Anak-anakku tersayang tolong maafkan Umi yang kalut. Tenang Saja, Umi akan bertahan demi kalian. Umi akan hidup demi kebahagiaan kalian. Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz tetaplah tersenyum supaya menjadi penyemangat Umi. Anakku sayang Umi sangat mencintai kalian.
9 bulan kemudian, aku merasakan sakit luar biasa. Aku tahu sekarang sudah saatnya melahirkan. Argh, padahal kurang dua minggu lagi persalinan sang dedek bayi. Namun, jatahnya maju lebih cepat.
Aku merasa duniaku runtuh merasakan sakit luar biasa pada sekujur tubuh terutama perut. Dalam kesakitan aku mampu minta tolong pada keluargaku. Setelah tahu aku mengalami kontraksi sontak mereka panik. Detik itu juga aku di larikan ke rumah sakit terdekat agar mendapat penanganan pertama.
Saat melahirkan anak ketigaku, rasanya begitu menyiksa sampai aku begitu kesakitan. Sekuat tenaga aku berjuang keras melahirkan anakku. Setelah berjuang sangat lama akhirnya anakku lahir dengan selamat. Alhamdulillah ya Allah hamba mampu melahirkan anak ketigaku dengan selamat.
Allahu Akbar, terima kasih ya Allah telah memberikan segala Kebesaran atas hamba. Hamba sangat bersyukur karena anakku lahir dengan selamat. Atas segala kuasa-Mu hamba panjatkan puji Syukur atas kebesaran-Mu ya Allah memberikan kesempatan merawat anugerah-Mu.
Aku tersenyum saat Bapak mengadzani dan mengiqamahi Dedek bayi. Usai melakukan tugas Bapak berikan anakku hati-hati. Anakku yang manis berada di dadaku. Dengan balutan darah menyelimuti sekujur tubuh. Air mata tidak kunjung berhenti merasakan anakku menggeliat. Sayang Umi sangat bahagia akhirnya engkau bisa melihat dunia.
Aku menangis saat tahu yang hadir seorang bayi perempuan harapan Mas Aziz dan tentunya diriku. Mas putri kita telah lahir dengan selamat. Andai ada Mas dipastikan engkau sangat bahagia bahkan air matamu akan mengucur deras. Adek sangat terharu Mas akhirnya anak kita seorang bidadari penerang.
Dalam tangisan aku ciumi ubun-ubun Putriku yang cantik walau ter selimuti darah. Nak, kamu sangat manis seperti Umi yang manis. Jangan khawatir Umi akan menjaga Dedek sampai kapan pun. Walau Ayah tidak datang itu tidak masalah karena kami sudah ada. Harapanku sederhana yaitu kedatangan Mas Aziz. Namun, semua tinggal harapan saat Ayahnya tidak datang dan tidak mengharapkan ini lagi. Mas Azizku telah di ambil orang dan meninggalkan aku sendiri bersama anak-anak.
Sakit sekali sampai aku ingin menyerah. Namun, apa bisa menyerah jika tiga anakku terkhusus Dedek bayi membutuhkan? Ya Allah, sesak sekali sampai semua terasa berat. Kuatkan hamba ya Allah menerima ini semua.
Saat Putriku sudah di tangan suster semua terasa menyakitkan untuk di jabarkan. Aku kehilangan kendali tubuhku karena rasanya begitu menyakitkan. Apa Allah menginginkan aku kembali pada-Nya? Ya Allah, izinkan aku mengasuh Putriku yang malang. Tolong ya Allah beri hamba sekali lagi guna mengasuh anak-anakku.
Sebelum semua terlenggut para Dokter dan perawat panik melihat kondisiku. Mereka memasang alat bantu pernapasan dan selang infus menancap di tangan. Aku sedikit sadar saat Dokter berseru panik akan apa yang ku alami.
Anak-anakku tersayang, Umi sayang kalian. Sebelum semua berakhir bisakah hamba berharap? Mas Aziz, apa bisa kita bersama? Mas Aziz tolong datang demi menjaga anak-anak. Walau aku kecewa dan benci namun percaya Adek sangat mencintai Mas sepenuh hati. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Tolong kembali agar anak-anak bisa bersama, Mas. Aku tidak tahan Mas, maafkan Adek.
Ya Allah, rasanya begitu menyiksa sampai aku tidak kuasa menahan tangis dan rasa sakit. Semua terasa gelap sampai harapan pupus sudah. Ya Allah, tolong jaga anak-anakku di kala aku tertidur pulas. Laa ilaaha Illallah Muhammadu Rasulullah.
Hamba ikhlas ya Allah jika memang ini adalah akhir hidup hamba. Atas izin-Mu hamba memohon semoga Engkau terus menjaga iman dan Taqwa anak-anakmu. Jadikan anak-anak hamba tetap berada di jalan yang lurus. Hamba titip ketiga anakku dalam lindungan-Mu ya Allah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla_Hilhamd.
***•''~''•***
Harapan tinggal harapan saat Khumaira mengalami pendarahan hebat. Kondisinya semakin lemah sampai para Dokter kesusahan. Mereka terus berdoa semoga Khumaira bertahan demi bayi mungil yang membutuhkan kasih sayangnya.
Lain sisi Aziz menangis merasakan sakit pada jantung dan hatinya. Dia terus merapal doa pada Allah agar melindungi Khumaira. Dia terus berharap mantan Istrinya baik-baik saja dalam lindungan Allah.
"Ya Allah, kenapa hatiku resah sekali? Atas Rahmat dan Kebesaran-Mu hamba memohon tolong lindungi Dek Syafa. Tolong beri kekuatan agar bertahan dalam sakit dan duka. Ya Allah, tolong jangan sakiti Dek Syafa. Jika memungkinkan izinkan hamba yang menerima sakit asal jangan dirinya. Ya Allah, angkat sakit Dek Syafa dan lindungi dia dalam kuasa-Mu. Hamba mohon beri kesehatan serta keselamatan untuk Dek Syafa menghadapi sakit. Hamba mohon jangan biarkan luka menyakiti tubuhnya. Jika boleh izinkan hamba menggantikan sakitnya."
Aziz menitikkan air mata menatap foto keluarga kecil. Dia usap wajah cantik Khumaira seraya berdoa terus menerus. Ya Allah, dia begitu tersiksa akan sesak di jantungnya. Dengan segera Aziz meletakan laptop di ranjang. Lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rencana Aziz yaitu Shalat setelah itu membaca Al-Qur'an. Ia juga akan mengirim Yasin untuk keselamatan Khumaira.
"Dek, apa sebenarnya yang terjadi? Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Walau Adek bukan milik Mas lagi, tetapi cinta Mas begitu dalam. Mas sangat mencintai Adek karena Allah bahkan cinta ini tetap akan sama. Semoga saja Adek baik-baik saja dalam naungan Allah. Mas berharap kita akan bahagia di jalan masing-masing."
Dari sini Aziz tidak henti-hentinya mengkhususkan Al-fatihah untuk Khumaira. Lalu membaca surah Yasin beberapa kali agar sang pemilik hati terus bertahan. Dia terus memohon kepada Allah supaya sang pemilik hati mampu berjuang jika dalam keadaan kritisi. Harapan Aziz semoga saja Khumaira mau bertahan demi anak-anak serta bertahan untuk semau orang yang mencintai.
****•''~''•****
Seperti yang Rose bilang aku cepetin alurnya!
Seperti biasa aku belum sempat edit. Jika banyak typo’s bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.
Asli dadaku sesak banget tulis chapter ini. Air mata tidak mau berhenti akibat emosi jiwa.
Sabar!