Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Rasa Sakit!



...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....


...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....


.......**''**.......


...Semua keluarga besar Abah Hasyim kecuali para cucu dan Aziz sekeluarga datang ke rumah sakit. Ini giliran mereka yang besuk Nenek. Segala doa terlabuh penuh harapan supaya Nenek cepat siuman. Yang terutama Nenek cepat sembuh lalu bisa berkumpul bersama....


Waktu terus bergulir tidak terasa sore hari telah tiba. Kini sudah saatnya Dokter dan perawat memeriksa pasien. Tadi pagi ada Dokter lain yang besuk sehingga Dokter spesialis yang merawat Nenek ada waktu senggang.


Kebetulan keluarga besar Abah Hasyim juga datang terlambat. Alhasil tidak bertemu Dokter yang merawat Nenek. Hingga mereka sekeluarga besar melihat dua perawat tiba. Lalu mna Dokter yang merawat Nenek?


Lain sisi Steve tadi menerima panggilan dari pemilik apartemen tempat tinggalnya. Maka dari itu ia membiarkan perawat masuk duluan. Setelah menerima panggilan telepon dia bergegas menuju ruang ICU tempat Nenek dirawat. Dan antah kenapa degup jantung Steve bertalu-talu sewaktu mau belok ke ruang ICU.


Sejatinya Steve tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan juga tidak tahu bahwa hari ini keluarga besar masa lalu berkumpul. Benar saja sewaktu berada di lorong menuju ruang ICU dia melihat orang-orang familiar. Degup jantung Steve meronta akibat melihat Bibah sekeluarga.


Mendengar langkah kaki mereka langsung menengok ke arah ujung ruangan. Mata mereka memincing berusaha melihat Dokter. Sampai detik berikutnya Abah, Ummi dan Azzam terdiam. Mereka seperti familiar dengan Dokter itu seperti ....


Bibah yang gugup memilih menggenggam tangan Khalid erat. Dia tidak kuasa menatap depan di mana masa lalu terindah berdiri. Sampai ia menerima sebuah usapan serta bisikan penenang dari Suaminya. Bibah cukup lega kemudian menatap Abah dan Ummi.


Semua diam termasuk Khalid, tetapi tetap berusaha menenangkan Bibah. Sedangkan Steve akhirnya maju karena tidak mau ambil risiko. Sebagai Dokter sudah seharusnya bersikap profesional dalam segala hal. Kesampingkan masalah pribadi kini tugas asli menanti. Dan akhirnya Steve berada tepat di depan keluarga besar Abah Hasyim.


"Assalamu'alaikum," salam Steve terdengar ramah.


"Wa'alaikumussalam," sahut mereka terdengar kaku.


"Maaf saya belum bisa bersalaman dengan kalian. Setelah memeriksa Nenek saya akan segera kembali." Usai mengatakan itu Steve berlalu tanpa menengok ke arah Bibah.


Sepeninggal Steve terlihat Abah Hasyim dan Azzam menatap punggung tegap Steve. Kemudian mereka menatap Bibah tampak satu serta begitu menyedihkan. Sungguh mereka melihat pria itu masih sama. Yang membedakan kini Steve terlihat jauh lebih dewasa dan pastinya berumur.


Meski sudah berumur nyaris 50 tahun tidak menghilangkan karismanya. Tetap berkarisma kuat serta berwajah tampan. Namun, mau bagaimana lagi pria itu telah jadi masa lalu. Kini Abah-Ummi dan semuanya hanya bisa diam seolah menunggu kedatangan Steve.


"Nduk Bibah," panggil Abah.


"Dalem, Abah. Enten nopo?" Tanya Bibah menggunakan bahasa Jawa halus.


"Mboten, Nduk." Abah tidak sanggup mengatakan apa yang ada dalam hati dikarenakan ada Khalid.


"Ngendikane mawon, Abah. Mboten usah sungkan," ucap Khalid seolah tahu maksud Abah.


"Boten, Le."


"Abah, kolo niki sampon ngertos sedanten. Kolowingi, Dek Bibah dawuh sedanten."


"Astaghfirullahal'adzim, Nduk ...."


"Inggih, Bah. Kulo ngendikane kaleh Mas Khalid sedanten tentang piyambakipun."


"...."


"Lajeng pripon, Bah?"


"Mboten, Nduk."


"Abah, mboten usah sungkan."


"Sakbeneré, Le-Nduk ... Abah, pingin ngobrol kaleh piyambakipun."


"Inggih mboten nopo-nopo, Bah."


Abah Hasyim tersenyum kemudian mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala putrinya. Jujur saja ia sangat tahu dulu Steve dan Bibah saling cinta. Bahkan ia juga menyukai pemuda itu, tetapi takdir berkata lain. Abah Hasyim harus meminta Steve untuk meminta restu ke dua orang tua serta meminta maaf.


Namun, semua tidak di dapat bahkan Steve di ancam tidak di anggap anak sekaligus terusir dari rumah. Sebagai Ayah tentu Abah Hasyim meminta Steve kembali serta menasihati segala hal terbaik. Dari sini semua berubah drastis menyebabkan segala air mata.


Ummi Safira dan Azzam terdiam mendengar percakapan Abah-Bibah-Khalid. Mereka semua pasrah jikalau nanti pria itu mengatakan banyak hal. Terutama saat Bibah dan Khalid juga meminta izin nanti bicara dengan Steve.


Lengkap sudah Abah dan Bibah akan berbicara langsung dengan Steve. Sedangkan di sini pria Kanada itu bersahabat baik dengan Aziz. Sedangkan Aziz ada di rumah bersama anak serta Istri.


Di dalam Steve baru selesai menjalankan tugas. Dia meminta perawat untuk keluar lebih dahulu lalu memberitahu pasien yang mau konsultasi. Ia meminta agar konsultasi ini di pending sementara. Baru setelah itu Steve keluar guna menemui Abah Hasyim sekeluarga.


Dengan sopan seperti 19 tahun silam Steve menyalami kedua orang tua Bibah. Setelah itu ia menyalami semua orang dengan sopan. Untuk para wanita bukan mahram maka ia satukan tangan di depan dada. Lalu Steve merasa ada yang janggal lantaran Aziz tidak ada.


"Bagaimana kabar mu, Nak?" Tanya Abah tidak mau menanyakan tentang kenapa Steve bisa bebas secepat ini?


"Alhamdulillah saya baik, Abah. Abah dan yang lainnya bagaimana?" Sahut Steve begitu lugas seolah bagian mereka.


"Alhamdulillah kami semua juga baik. Ayo duduk dulu atau Nak Steve ada pasien?"


"Alhamdulillah yaa Rabb jika kalian semua sehat. Saya pending sementara nanti ba'da isya maka akan di mulai lagi. Saya ingin berbicara dengan kalian. Sungguh sudah lama sekali setelah kejadian itu. Sekali lagi maafkan saya berbuat keji," tutur Steve.


"Setiap manusia itu tempatnya salah dan khilaf, Nak. Tidak perlu meminta maaf karena itu murni ketidakberdayaan sekaligus di bawah alam sadar. Ya Allah, bagaimana bisa di sini jika ada pasien?" Ummi Safira ikut menimpali.


"Ummi. Sungguh saya tidak mampu mengatakan apa-apa selain berterima kasih. Ha-ha-ha, Dokter spesialis banyak Ummi jadinya tidak perlu sungkan begitu," ucap Steve seraya tersenyum tulus.


"Berhentilah bertingkah, Nak," tegur Ummi.


"Hehehe, Maaf, Umi," kekeh Steve.


"Bagiamana bisa Nak Steve ada di Iraq?" Tanya Abah setelah diam cukup lama.


"Di Kanada saya tidak punya tempat walau rumah sakit tempat saya kerja dulu masih membuka. Namun, Dad and Mom mengusir sekaligus tidak sudi menganggap saya anak. Saya terbuang bahkan mereka enggan memberikan tempat. Namun, saya bersyukur marga Johson masih saya sandang. Demi menghapus duka saya memutuskan pindah kewarganegaraan dan mencari penghasilan sendiri. Alhamdulillah saya bisa hidup di sini walau begitu rindu pada mereka," cerita Steve terlihat matanya berkaca-kaca.


"Astaghfirullah, sabar Nak," respons Abah dan Ummi begitu terkejut sekaligus sedih.


"Bagaimana kabar Mas Azzam? Tetap pendiam tidak seperti Aziz. Kalau Aziz alien jadi-jadian alhasil begitu menyebalkan. Di mana Aziz? Kenapa tidak ada di sini?" Gurau Steve.


"Kamu masih saja geser akibat terkontaminasi oleh, Tole Aziz. Jadi mau bagaimana lagi? Tole sedang ada keperluan jadinya tidak bisa kemari. Apa sudah bertemu, Tole Aziz?" Tandas Azzam.


"Aziz si biang kerok membuat semua orang jadi ikut serta. Oh, pantas tidak ada si alien jadi-jadian. Sudah, tapi yah hanya sebentar," ucap Steve.


Semua berbincang akrab bahkan tawa mengiringi semua. Sampai mereka tidak sadar ada Khalid tampak canggung dan merasa bersalah. Dirinya begitu canggung sekaligus sedih mendengar cerita Steve.


Khalid merasa Steve begitu menderita sekaligus begitu kasihan. Dia iba membayangkan semua kehidupan pria malang. Hanya saja inilah kehidupan harus terima semua takdir Allah. Jika Khalid bertindak harus bagaimana?


Sedangkan Bibah merasa canggung sekaligus sedih atas Steve. Lebih lagi merasa pilu karena Suaminya begitu canggung. Dengan sedikit keberanian ia genggam tangan Suaminya lalu memberi dukungan. Bibah harap semoga saja Steve tidak melakukan apa-apa.


Steve tersenyum singkat seolah mengabaikan Bibah dan Khalid. Dia hanya tersenyum tipis akibat mereka tersenyum bersama. Ia juga memberikan lelucon garing sehingga senyum terbit. Steve juga merasa mereka begitu akrab atas semua.


"Abah," panggil Bibah.


"Dalem, Nduk," sahut Abah.


"Boleh Bibah bicara dengan Tuan. Steve?" Izin Bibah sewaktu Khalid sudah memberi izin.


"Memang tidak bisa bicara di sini, Nduk?" Tukad Azzam.


"Maaf, Bibah ingin berbicara sebentar," tutur Bibah.


"Memang boleh bicara berdua? Apa tidak takut jika saya bertingkah?" Todong Steve.


"Saya percaya Anda tidak akan berbuat demikian," tutur Steve.


"Baiklah, kita bicara sebentar." Steve diam lalu tersenyum tipis.


Khalid menepuk bahu Steve sebelum mengizinkan Bibah berlalu. Dia hanya tersenyum tipis pada Istrinya sewaktu minta izin. Walau cemburu ia begitu tahu apa yang akan dikatakan Bibah. Khalid tidak akan takut walau ada rasa cemburu.


Sedangkan Steve tersenyum tipis karena Bibah mengajak bicara tanpa diminta. Sedangkan yang Lin percaya tidak ada kejadian tidak terduga. Mereka tersenyum tipis berusaha menenagkan Khalid. Dan akhirnya Bibah dan Steve berjalan beriringan menuju taman.


.......***.......


...Di sore hari tepatnya jam empat terlihat dua orang beda gender saling diam. Padahal kurang satu jam lagi Maghrib maka keduanya agak panik. Sampai akhirnya Steve memutuskan untuk berdehem sebentar sebelum Bibah agak sedikit terkejut....


Karena tidak mau berdua terlalu lama lebih lagi ingat Khalid serta keluarganya maka Bibah memutuskan untuk segera bicara. Dengan perlahan ia menatap ke arah pria masih sama. Mata saling menatap beberapa saat kemudian berpaling. Bibah tidak mau ada hal terlarang jika terus menatap Steve.


"Kak," panggil Bibah terdengar begitu teduh.


"Ya, Dik," sahut Steve spontan.


"Alhamdulillah baik, bagaimana kabar, Adik?"


"Alhamdulillah juga baik. Maaf, maafkan aku, Kak."


"Alhamdulillah. Maaf untuk apa?"


"Maaf telah menyakiti Kakak sekaligus maaf untuk semuanya."


"Masa lalu biarlah berlalu, Dik. Lagian itu kesalahan diriku, jadi tidak perlu merasa bersalah."


"Namun, saya begitu menyesal sekaligus sesak ingat itu. Saya minta maaf atas semua."


"Jangan berbicara begitu, Dik. Jika Allah tidak menggariskan takdir mutlak maka kita akan bersama. Dan Allah berkehendak lain bahwa aku memang tidak ditakdirkan bersamamu. Mau melawan atau membantah itu percuma. Inilah takdir yang harus aku terima."


"Dan Allah telah menuliskan nama Khalid untuk menjadi Imam dunia akhirat. Kakak pria terbaik walau pernah tersesat. Jujur saja aku mencintai Kakak dalam hitungan jam, sedangkan cintaku untuk dia tumbuh begitu lama. Namun, dari sini aku sadar cinta bukan sehari dua hari atau sementara. Cinta ini akan terus ada selamanya untuk Masku. Masku tercinta yang menjadi Abi bagi tiga anakku. Kakak pria istimewa yang teramat berarti untukku. Kakak adalah dunia terindah yang pernah kumiliki. Sedangkan Mas Khalid adalah tempat untuk pulang serta Imam yang akan selalu menggandeng tanganku menuju Surga-Nya ....


... Kalian berbeda, Masku hanya pria pribumi biasa saja. Namun, beliau memiliki akhlak terpuji yang selalu menuntut jika kami melakukan kesalahan. Sedangkan Kakak adalah mualaf baik hati nan tegas dan berwibawa penuh kelebihan. Cinta tidak memandang fisik karena cinta terakhirku murni. Dulu aku juga mencintai Kakak begitu tulus, tetapi takdir tidak mungkin menyatukan kita. Aku pun paham Kakak masih mencintaiku, benar? Jika iya tolong lupakan aku dan mulailah hidup baru. Kakak pria nyaris sempurna maka mengait wanita tidak begitu sulit. Lupakan aku, Kak."


Setelah mengatakan itu Bibah menatap Steve dengan mata berkaca-kaca. Bahkan tanpa sadar ia menangis seperti perpisahan terpedih akibat jarak jeruji.  Tangisan penuh kesakitan yang pernah ia keluarkan sewaktu pria ini di bawa beberapa aparat kepolisian menuju ruang tahanan usai menerima hasil akhir. Bibah tidak akan sanggup ingat itu sewaktu Steve juga menangis seraya mengatakan kata-kata bijak.


Bohong jika Bibah menyangkal bahwa Steve orang jahat. Pria ini baik hati terkesan begitu peduli walau mualaf tidak pernah melakukan perbuatan terlarang. Dari awal dia yakin bahwa pria tampan itu akan menjadi imam terbaik. Walau nyatanya Steve tidak akan pernah menjadi Imam untuk Bibah.


Steve mengepalkan tangan erat mendengar setiap kata Bibah. Dia merasa begitu lemah hingga akhirnya air mata berlinang. Dia begitu lemah menyangkut wanita di sampingnya. Benar adanya apa yang diucapkan Bibah maka Steve harus terima.


Apa lagi sewaktu melihat Bibah menangis seperti waktu itu tentu Steve merasa begitu bersalah. Dia merasa jadi pria terkejam telah membuat gadisnya dulu menangis. Andai saja waktu bisa di ulang ia tidak akan mau di jebak serta termakan hasutan. Steve menyesal ingin segera memperbaiki diri.


"Itu benar aku paham hanya saja itu tidak mudah. Aku akan jujur untuk semua, Dik. Sama seperti 19 tahun silam aku tetap sama. Aku masih sangat mencintaimu begitu cinta. Aku ingin menghapus nama serta cinta, tetapi tidak bisa. Kata-kata cinta semua terus membuatku lemah. Aku hanya manusia biasa yang gila akan cinta. Aku sangat mencintaimu, Dik. Aku ingin lupa, tetapi bagaimana caranya? Aku tidak akan pernah sanggup karena aku begitu mencintaimu. Walau terpisah lama aku tetap cinta sampai sekarang."


"Kak Steve."


"Aku sangat mencintaimu, tetapi jangan khawatir aku tidak akan menunjukkan kepada siapa pun. Aku janji akan menutup rapat, jadi tidak perlu khawatir."


"Kak ini salah besar. Tolong jangan buat dirimu seperti ini. Kapan Kakak akan menikah atau membuka hati? Tolong bukalah hati untuk masa depan. Tolong jangan sakiti hatimu."


"Dik, dunia tidak akan bisa menghalangi jalanku. Kenangan terindah kita yang aku bawa. Menikah dan cinta tidak akan bisa kumiliki lagi. Yang kumiliki hanya cintaku untukmu. Aku sudah sering tersakiti tidak apa-apa."


"Bodoh, Kakak bodoh. Tolong jangan lukai aku. Tolong jangan menambah dosa. Manusia harus memperbaiki diri tidak boleh melakukan hal sia-sia. Tetaplah maju menuju masa depan."


"Aku memang bodoh. Lihat jam menunjukkan pukul setengah lima. Ayo kembali sebentar lagi Maghrib."


"Aku mohon wahai Mr. Steven sadarlah. Aku tidak akan bisa kembali serta tidak akan pernah mencintaimu. Aku sudah menjadi Istri, Ibu dan pastinya wanita terhormat. Jangan bodoh!"


"Kamu melakukan kesalahan, Dik."


"Omong kosong, aku harus pergi."


"Pergilah jika benar kau sangat mencintai Khalid. Namun, aku pastikan kebahagiaan itu tidak akan lama. Kamu yang memulai dan kebencian ini akan membakar jiwa. Kau lihat akibat semua kesalahanmu maka benciku kembali. Aku benci dengan kalian semua. Aku akan tunjukkan seberapa kuat diriku!"


"Apa maksudmu berbicara begitu? Apa semua ini palsu?"


"Ya, ini hanya palsu. Aku tidak pernah tulus dan katakan pada mereka!"


"Aku percaya Kakak tidak akan pernah punya pikiran buruk. Itu tulus aku mengenal mu. Jika benar benci pasti hanya padaku."


"...."


"Baiklah aku pergi dan aku percaya Kakak masih sama. Aku harap Kakak sadar atas semua. Aku minta maaf dan tolong jangan tersesat. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Sebelum Bibah melangkah jauh Steve lebih dahulu menghadang. Dia tidak menanggapi perkataan gadisnya dulu. Yang jelas ia ingin bersama sebentar saja walau hanya beberapa menit. Steve begitu takut jikalau Bibah pergi akan mengatakan semua.


Cukup Steve tidak mau kehilangan sahabatnya. Dia telah kehilangan Bibah maka untuk Aziz tidak akan dibiarkan pergi. Selama hidupnya a ingin mempertahankan apa yang dimiliki. Steve janji akan mengikhlaskan semua, tetapi takut jika ada yang mengambil paksa.


Melihat Steve menghadang jalan membuat Bibah mendongak menatap tepat di mata Steve. Mata bermanik biru bak lautan lepas membuatnya bergetar. Dulu kata ini selalu membuat jatuh hati. Dan kini Bibah takut menatap mata tajam Steve terkesan menyala-nyala.


Apa benar pria ini sudah berubah?


Apa mungkin di sini dirinya terlalu naif?


Sungguh Bibah takut jikalau Steve benar-benar berubah drastis. Dia menunduk dalam menyembunyikan air matanya. Ia takut jika ingat kejadian di mana pria ini hendak melecehkan lebih jauh. Bibah takut ingat semua perbuatan keji Steve 18 tahun silam.


"Aku minta maaf mengatakan itu. Namun, aku meminta tolong jangan beritahu mereka terlebih Aziz. Aku hanya punya sahabat yang selalu menuntut ku dalam suka maupun duka. Maafkan aku, Dik."


"Kakak tidak perlu khawatir. Kakak juga sangat tahu bagaimana diriku. Aku juga tidak akan membiarkan Kakak kehilangan Masku Aziz. Dia adalah orang yang akan menuntun Kakak menuju kebenaran. Jika benar aku akan berakhir maka dengarkan jangan pernah meninggalkan kewajiban sebagai umat Islam. Terlebih tetaplah berada di jalan lurus dan terus mentaati perintah Allah."


"...."


"Sekarang apa lagi? Apa Kakak begitu benci sampai tidak membiarkan aku pergi?"


"Sebentar saja sebelum kau pergi. Aku hanya ingin sebentar saja. Aku sangat benci padamu. Jika nanti jika kau mati atas kesalahanku bagaimana?"


"Aku bahagia jika benar Kakak penyebab tiada. Namun, aku juga sedih karena penyesalan pasti menghantui pikiran, Kakak."


"Kenapa bisa bahagia? Aku harap tidak ada penyesalan."


"Karena aku berakhir di tangan orang yang membenciku. Aku juga senang Allah hanya memberikan hidup sebentar. Jadi, benar Kakak akan melakukan perbuatan terlarang?"


"Kamu pikir apa? Apa aku tega melakukan itu? Apa aku seorang kriminal tega melakukan hal buruk?"


"Bisa jadi, maka biarkan aku pergi."


"Pergilah."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Bibah melangkah meninggalkan Steve sendiri. Dia terus melangkah seraya memikirkan percakapan bersama masa lalunya. Jika benar ini akhirnya maka ia cukup bersyukur. Namun, Bibah selalu berharap semoga saja Steve tidak pernah melakukan kejahatan lalu mendekam dalam penjara untuk kedua kalinya.


"Aku harap segala kebaikan untukmu, Kak. Aku tahu kamu pria baik nan bermoral serta berpendidikan tinggi.jika kamu punya pikiran luas nan positif maka tidak akan pernah bisa melakukan hal gila. Aku percaya kamu akan kembali ke jalan-Nya. Jika memang aku harus tiada di tanganmu aku berharap semoga sakit hatimu terobati. Kebencian itu akan membakar jiwa raga. Namun, kebencian itu juga mengingatkan dirimu tentangku. Jika aku tiada semoga kelak Kakak bisa memaafkan aku lapang dada," lirih Bibah.


Setelah kepergian Bibah tampak Steve terjatuh. Dia mencengkeram kepalanya kuat lalu mengusak rambutnya kasar. Ia begitu frustasi mengingat betapa kejam dunia pada hidupnya. Steve yang malang harus terus menerus menderita atas semua kesalahan yang ada.


"Sampai kapan aku pura-pura tegar jika hidupku terus begini? Tolong maafkan aku harus bertingkah kejam. Jika kamu tidak bisa kumiliki maka tiada yang bisa memilikimu. Aku bersumpah dendam serta benciku akan membakar apa pun. Aku akan melakukan hal paling gila tanpa ada yang tahu. Bahkan konspirasi menakutkan ini akan segera terjadi. Jika kamu dan dia mati itu lebih bagus. Seperti yang kau katakan bahwa kamu dan dia cinta abadi. Mati saja aku tidak peduli karena dengan begitu cinta kalian benar-benar abadi. Kini tugasku satu menghancurkan Kebahagiaan dirimu. Rasa sakit dan dendam ini harus terpenuhi," desis Steve.


Semua telah tertulis maka dari sini cobaan di mulai. Steve yang baik hati menjelma menjadi iblis dibalik sikap baiknya. Namun, ada kalanya dia akan taubat dan mengakui kesalahannya. Walau di mana saat itu tiba Zavi telah pergi dan tidak akan ditemukan.


Semua sia-sia sampai akhirnya hanya ada air mata. Apakah Zavi mampu melewati masa-masa suram tanpa ke-dua orang tuanya?


Akankan Ayah dan Umi tetap sanggup atas kepergian tiga orang dalam waktu dekat?


Mampukah mereka melewati badai paling kelam yang ada dalam kehidupan?


...Cut....


...Maaf Rose belom sempat koreksi jadi jika banyak kesalahan dalam penulisan harap maklum....


...Detik-detik tragedi mengenaskan terjadi. Detik-detik Tole Zavi hilang dan ditemukan setelah 25 tahun....


...Jika mau baca Dedek Zavi cus baca saja 'Bahtera Cinta Zaviyar dan Adiba'. Di sana pertemuan mengharu biru terjadi....


...Story Ini hanya sampai Steve mengakui kejahatannya....


...Kisah rumah tangga Ayah dan Umi akan teruji kembali....


...Terlebih lagi dengan kedatangan seseorang yang akan memperkeruh suasana....


...Cinta, obsesi, sakit hati, mengikhlaskan dan berjuang membaur jadi satu....


...Sekali lagi maafkan Rose belum sempat koreksi jadi kalau banyak kesalahan dalam penulisan harap maklum....


...Salam cinta dari Rose....


...24_11_20...


...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....