
Khumaira terdiam menatap tontonan wajib yaitu serial komedi. Bulan ini usia kandungannya memasuki bulan ke delapan. Sungguh ia tidak sabar menantikan si kecil paling ganteng. Dia usap perutnya seraya menatap layar TV. Khumaira merasa bahagia sebentar lagi anaknya akan datang.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz dan Ridwan.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Khumaira.
Khumaira bangkit dari sofa hendak menyalami Aziz. Dia tersenyum tulus ketika Ridwan meminta cium. Dengan sayang dia kecup punggung tangan Suaminya lalu memberikan ciuman sayang di pipi gembul anaknya. Khumaira tersenyum saat Aziz mencium pipi gembulnya.
Aziz tersenyum manis melihat Khumaira begitu manis. Dia sangat tahu betapa rindu Istrinya pada si kecil Ridwan. Ia dengan sayang mencium pipi Istrinya ketika tersenyum manis. Aziz juga memberikan ciuman di pipi gembul Ridwan penuh sayang.
"Anak Umi, ngga ganggu Ayah kerja?"
"Engga, dong Umi ... Dedek hanya ganggu Ayah minta ajari mengaji."
"Anak pintar, Mas mau mandi atau makan dulu?"
"Mandi dulu, Dek. Dedek ayo mandi habis itu makan."
"Baik, Ayah ayo mandi. Umi kami mandi dulu ya."
"Mandi yang bersih anak Umi yang ganteng."
"Um, Ayah akan mandikan Dedek."
Aziz menurunkan Putranya ketika si kecil jingkrak jingkrak. Dia mengecup kilat bibir Khumaira setelah atensi Ridwan teralihkan. Ia dengan genit mengedipkan mata lalu pergi menyusul Ridwan.
Khumaira merona menerima ciuman Aziz kilat. Dia usap bibirnya kemudian tersenyum penuh arti. Dengan hati-hati ia melangkah menuju dapur guna memanasi masakan.
Ibu hamil itu duduk senyaman mungkin di kursi seraya mengelus perut buncitnya. Dia jadi sering lelah akhir-akhir ini dan kurang bisa berdiri terlalu lama. Ugh, rasanya jadi pengen rebahan. Khumaira berdiri ketika sayur sudah panas.
Khumaira menata masakan di meja makan, setelah itu membuat kopi dan susu untuk dua prianya. Dia sendiri membuat susu khusus Ibu hamil rasa cokelat. Khumaira kembali duduk senyaman mungkin untuk menunggu Aziz dan Ridwan.
Tidak berselang lama menunggu, Aziz dan Ridwan datang. Si kecil dengan manja minta pangku Khumaira. Jari kecil itu perlahan mengusap perut Ibunya yang buncit.
"Umi, kapan Dedek besar bisa melihat Dedek kecil?"
Khumaira yang sangat merindukan si tampan sontak menciumi pipi gembul Ridwan. Dia sangat rindu karena Putranya lebih memilih ikut Aziz bekerja. Tangan mungil Khumaira gemas mencubit pipi Putranya. Sungguh ia sangat gemas mendengar perkataan polos anaknya sudah tidak sabar menunggu si kecil.
"Dedeknya Tole, sebentar lagi akan muncul tunggu saja ya, Dedek."
"Hore ... Nanti Dedek besar dan Dedek kecil tidur sama Ayah Umi, ya."
Aziz mencubit gemas hidung mancung Ridwan kemudian beralih mencubit pipi. Lucu sekali anaknya ini sangat mengemaskan. Dia meminta anaknya untuk di gendong manja. Aziz begitu menyayangi Ridwan sepenuh hati.
"Boleh, nanti Dedek bayi dan Dedek besar tidur bersama Ayah dan Umi."
"Hore, Dedek senang sekali."
Keluarga kecil ini makan dengan riang, pasalnya Ridwan selalu mengoceh imut. Sesekali Khumaira menanggapi perkataan Putranya dan Aziz dengan senyum manis.
Tepat jam 9 malam Ridwan tertidur pulas dalam dekapan hangat Ibunya. Si kecil memeluk Khumaira seraya mendusal mencari kenyamanan. Semantara khumaira terus mengusap lembut punggung dan rambut tebal Putranya. Sesekali ia mencium puncak kepala anaknya.
Mendengar suara pintu terbuka sontak membuatnya menengok ke arah masuk. Khumaira tersenyum tulus ketika Aziz masuk lebih dalam. Kamar mewah khusus untuk Ridwan di desain langsung oleh Suaminya. Sungguh Khumaira sangat kagum akan kemampuan Aziz yang luar biasa di bidang desain.
"Dedek sudah tidur?"
"Umz, tunggu 10 menit lagi, Mas."
Aziz ikut merebahkan diri di sisi kiri Ridwan. Jari kekarnya perlahan menari di pipi gembul Putranya. Sesekali ia kecup pelipis Ridwan dan mengecup bibir Khumaira.
"Mas," protes Khumaira.
Aziz nyengir polos mendengar rajukan Khumaira. Dia memilih mendekap Khumaira dan Ridwan penuh sayang. Biarkan seperti ini karena Aziz sangat merindukan momen ini.
Khumaira mengusap pipi Aziz seraya tersenyum tulus. Dia dengan nakal menarik bulu halus yang menghias rahang tegas Suaminya. Dasar Suaminya nakal sekali selalu Kebiasan tidak mencukur ******.
"Mas kebisaan tidak mencukur bulu-bulu ini."
Aziz tertawa lembut lalu beralih serius. Dia melihat Khumaira intens, pasalnya sekarang ini Istrinya sangat cantik. Badan berisi, pipi tambah imut dan umz Aziz malu mengatakan ini. Yang pasti dia sangat suka melihat Istrinya mengandung.
"Biarkan saja, Dek. Lagian Mas tumbuh brewok terlihat sangat tampan, bukan? Mas jadi tambah dewasa, betul?"
Khumaira memutar bola mata malas mendengar kenarsisan Suaminya. Kapan Aziz tidak narsis? Apa kelak anak-anaknya akan saingan dengan Suaminya? Semoga saja Suaminya tobat dari prinsip percaya diri selangit.
***
"Mas, kemari!"
Aziz menuruti perintah Khumaira. Dia mendekat dan duduk di samping Istrinya. Mata mereka saling menatap penuh arti hingga sebuah ciuman Aziz dapatkan.
Khumaira menarik tali selambu, jadilah tertutup tanpa ada yang tahu. Tangan mungil itu terus mengusap pipi Aziz, kemudian beralih menbawa ke atas perut buncitnya.
Aziz tersenyum mendapati Khumaira sangat nakal. Dia sibak pakaian Istrinya kemudian menunduk untuk mengecup perut buncit sang Istri. Tangannya turut adil mengusap perut Khumaira penuh suka cita.
"Dedek, apa kabar? Ayah sangat merindukan, Dedek. Apa Dedek nakal di dalam sini? Jangan nakal anakku nanti Ayah ngga kasih kadar kerupawanan, kapok. Ok sekarang Dedek ngambek karena Ayah ngga mau kasih tampang rupawan? Ulu-ulu, imut sekali bikin Ayah tambah ganteng auch ....!"
Aziz meringis gara-gara Khumaira menabok punggungnya. Dia menegakan tubuh dengan bibir maju. Dasar nakal Istrinya ini bikin interaksi buyar.
"Anak kita bisa nurun gila kayak, Mas. Kapan Mas waras? Ya Allah gini amat punya laki. Astaghfirullah, orang sabar tambah banyak amal, Amin."
Khumaira mengusap-usap perutnya seraya berkata panjang lebar agar tidak menurun Aziz. Bahaya, satu orang kepribadian 4 dimensi saja pusing. Apa lagi tambah anaknya, gawat. Jadi apa keluarga kecil isinya orang aneh semua. Dia terus mengoceh agar anaknya nurun Ibunya saja, jangan Ayahnya.
"Adek, Mas waras lahir batin dan lihat Mas bisa bikin Adek mengandung. Mas tidak gila Adek, tetapi memang gila karena cinta Adek. Uhuk, ngga baik harus bersyukur punya Suami macam Mas. Sudah ganteng, perhatian, kaya, punya segudang bakat dan lebih mencengangkan Mas bisa bikin anak cepat. Orang sabar banyak amal dan tambah tampan kayak, Mas. Dedek, tenang kita nanti bisa bikin grup keluarga rupawan. Ada Ayah, Mas Ridwan dan Dedek. Umi ngga usah di ajak soalnya jelek."
Aziz tertawa riang ketika mengatakan itu semua. Dia kembali mencium perut buncit Khumaira agar anaknya kayak dia. Dan benar saja Aziz mendapat respons tendangan calon buah hatinya.
"Wah, anak Ayah memang rupawan kelak. Nurun Ayahnya ini pasti, ngga perlu kayak Umi, Dedek. Umi jelek ngga ada manis-manisnya, lihat sekarang kayak Bebek, aduh sakit ampun auch."
Khumaira tidak membalas perkataan Aziz dan memilih menjambak rambut Suaminya keras. Dasar orang aneh dari planet pluto. Dia gigit telinga Suaminya keras dan memukuli punggung kekar Aziz.
Aziz meringis kesakitan di siksa Khumaira. Ini kenapa Khumaira jadi bar-bar ngga ketolong. Dengan gerakan cepat Aziz mengunci pergerakan Khumaira.
"Mas jelek bukan Adek ...! Ingat banyak kok yang bilang Adek manis dan cantik. Mas saja yang rabun ngga lihat betapa manis Adek. Mas tahu wajah Mas kayak orang nahan buang hajat. Sudah jelek belagu, keterlaluan. Minggir, sungguh Mas bikin gedek dengan sikap narsismu."
Aziz bukannya marah malah tertawa meledak Khumaira. Dia rengkuh tubuh mungil Istrinya dan memberikan usapan lembut di perut buncit Khumaira.
"Mas jelek? Baiklah kalau Mas jelek orang ganteng macam siapa? Adek memang cantik, manis dan tentunya sangat mempesona di mata, Mas. Sudah jangan ngambek lagi atau Mas bikin capek. Mas mencintai Adek karena, Allah!"
Aziz tutup perdebatan konyol dengan ungkapan cinta. Perlahan tetapi pasti dia kecup bibir mungil Istrinya penuh cinta. Semua terasa indah ketika Khumaira sebentar lagi mejadi Ibu untuk anaknya. Tinggal menunggu beberapa minggu ke depan maka sang buah hati melihat dunia.
Khumaira yang kesal perlahan luluh mendengar ungkapan cinta Aziz. Wajahnya bersemu merah mendengar pujian Suaminya untuk dia. Bagi Khumaira sosok di atasnya adalah orang ajaib yang mampu merubah duka menjadi kebahagiaan. Walau menyebalkan, tetapi Aziz begitu perhatian.
Ciuman itu semakin dalam ketika Khumaira membalas ciuman Aziz. Entah siapa yang memulai kini tubuh mereka polos dan terjadilah hal panas penuh gairah.
***
Tepat jam empat, Aziz terbangun. Dia melihat Khumaira terlelap nyaman dalam dekapannya. Tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menyelimuti wajah cantik sang Istri. Dia pandang intens khumaira tanpa kediap, pasalnya wanita ini adalah sumber kebahagiaan terbesar.
Khumaira terbangun saat merasakan seseorang menyentuh pipinya. Dia membuka mata guna menatap Aziz. Tubuhnya bergetar melihat Suaminya sangat tampan. Wajah bangun tidur Aziz begitu menggiurkan untuk diusap. Khumaira tidak mampu lepas dari pandangan Aziz sedetik pun. Mata tajam berpupil cokelat menatap dirinya teduh. Wanita mana yang sanggup di tatap memuja oleh pria setampan, Suaminya?
Aziz hanya diam seraya tersenyum tipis. Matanya terus menyorot Khumaira penuh damba. Dia sangat kagum sekaligus bahagia menerima kebahagiaan yang di takdirkan untuknya. Allah Maha Adil, telah memberikan dia sebuah kebahagiaan melimpah. Memang awalnya Aziz menerima banyak luka, tetapi lihat sekarang ia punya banyak cinta serta kebahagiaan melimpah.
Khumaira menyembunyikan wajah di dada bidang Aziz. Dia sudah tidak sanggup menatap Aziz lamat-lamat karena takut sesuatu terjadi. Suaminya sangat panas membuat Khumaira susah bernapas. Magnet Suaminya memang luar biasa untuk menjadi atensi. Khumaira tidak akan sanggup menatap Aziz lama karena sebuah hasrat ingin menyentuh dalam.
"Dek, kata Dokter kemarin apa?"
Khumaira merona mengingat perkataan Dokter. Dia langsung mencubit gemas perut berotot Aziz kemudian memejamkan mata rapat.
Aziz membalik posisi menjadi di atas Khumaira. Dia usap wajah cantik Istrinya lalu pindah nengusap leher turun ke belahan dada dan terakhir perut. Bibirnya terbuka untuk mengatakan sesuatu.
"Biar lancar, alangkah baiknya melakukan hubungan intim dan agar asi cepat keluar sang Suami harus sering meremas, benar? Aku ingin menjamah tubuh, Adek sampai Mas puas. Mas akan pulang terlambat nanti karena pekerjaan kantor menumpuk. Maka dari itu, ayo kita melakukan sesuatu yang menggairahkan," bisik Aziz seductive.
Khumaira merona mendengar bisikan Aziz. Dia mendongak tatkala Aziz menjamah lehernya. Bahkan Suaminya begitu lincah meremas dadanya. Sebuah lenguhan erotis menggema ketika Aziz terus menjamah tubuhnya.
Aziz meremas dada kiri Khumaira, sementara bibir menyatu erotis. Dia mengeksplorasi mulut Khumaira sensual. Lidah saling melilit dan tangan saling meraba.
Khumaira terdiam tatkala bibirnya terbungkam bibir Aziz. Dia remat rambut ikal Suaminya dan membusung dada agar mendapat kenikmatan lebih.
Di awal hari semua terasa melodi penuh irama. Semua erangan nikmat terus terpacu di kala Aziz dan Khumaira menyatu. Sebuah desahan erotis terus meluncur indah di bibir Khumaira. Kini hanya ada desahan merdu sampai mereka puas.
"Mas mencintai Adek karena Allah, terima kasih sudah memberikan Mas kebahagiaan. Maaf sudah membuat Adek capek di pagi hari. Mas sangat bahagia, Mas sangat mencintai Adek."
Khumaira tersenyum tulus mendengar ucapan Aziz. Dia usap pipi tirus Suaminya penuh makna. Perlahan khumaira mengecup rahang dan bibir Aziz lembut.
"Terima kasih, Mas sudah mencintai Adek begitu tulus. Adek juga berterima kasih sudah memberikan kami kebahagiaan dan perlindungan. Adek juga sangat menyayangi Mas karena Allah. Tidak apa, Adek juga menginginkan Mas."
Khumaira tersenyum teduh mengatakan isi hatinya. Dia rebahkan kepala di dada bidang Suaminya, dan tangannya berada di dada kiri Aziz. Ia sangat bahagia bisa hidup setelah keterputukan terjadi.
Aziz tersenyum teduh mendengar balasan Khumaira. Dia merengkuh Istrinya penuh sayang. Sesekali ia kecup puncak kepala Khumaira dan memberikan usapan di rambut dan punggung Istrinya.