
Uhuy, maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
πππ
0,*,*,*,0
Langit terasa curam menandakan bahwa sebentar lagi hujan. Awal kelabu seperti hati Khumaira tidak menentu. Wanita berparas anggun ini tergugu meratapi takdir buruk. Hatinya terasa terkemas kuat oleh tangan tidak kasat mata.
Ingatan bersama Aziz membuat Khumaira semakin sakit memikirkan ancaman Wisnu. Senyum manis dengan tawa merdu membuat dirinya terhipnotis. Semua kisah manis dalam suka maupun duka membaur menjadi satu. Khumaira frustasi butuh masukan demi melangkah menuju keselamatan.
Seorang Ibu-Ibu datang menghampiri Khumaira. Dia menepuk panggung Khumaira sembari menatap khawatir. Dari tadi diperhatikan wanita ini tampak lemas.
Khumaira buru-buru menghapus air matanya kasar lalu tersenyum pada Ibu berpakaian sederhana. Dia memungut belanjaan dan menaruh kembali di kerenjang. Pikiran masih blank tanpa kata sehingga Khumaira begitu kalut.
"Apa ada masalah dengan Suami sampai Mbak begini?" tanya wanita paruh baya.
Khumaira menengok ke arah wanita itu sembari tersenyum penuh arti. Dia tidak kuat menahan sakit hatinya dan entah kenapa lidah terasa kelu. Hanya ingin menangis tersedu sampai Khumaira lega.
Wanita itu sepertinya tahu perasaan Khumaira bagaimana. Dia harap wanita ini mampu melewati masalah walau rumit. Kini ia akan tanya sedikit jika bisa membantu meringankan beban.
"Katakan ada apa? Mungkin saya bisa membantu," bujuk wanita itu.
Khumaira kembali menatap wanita paruh baya dengan pandangan terluka. Dia menunduk kembali menyembunyikan wajah penuh air mata. Haruskah dia kuat kali ini untuk menghadapi cobaan? Khumaira ingin lari serta berteriak kencang lalu ke polisi melapor hanya saja tidak ada bukti.
"Suamiku dalam bahaya, nyawanya ada pada keputusan saya. Saya harus bagaimana menyikapi takdir kejam?"
Pada akhirnya Khumaira sedikit menceritakan masalahnya. Dia sangat tersiksa ingin mendengar kata penenang. Bisakah Allah memberi jalan agar Aziz tetap baik-baik saja? Khumaira berdoa semoga saja Allah memberikan jalan padanya agar bebas dari masalah ini.
Wanita paruh baya itu mengukir senyum teduh. Sepertinya masalah khumaira begitu berat sampai terlihat menyedihkan. Semoga Allah memberi jalan padanya, aamiin. Kini tugasnya adalah memberi masukan agar wanita ini kembali tenang.
"Ingat ada Allah yang selalu mendengar permohonan hamba-Nya. Jangan sedih karena ada Allah yang selalu menjaga orang-orang yang beriman. Pulang dan tatap Suamimu, doakan dia sepenuh hati maka Allah akan menjaganya. Jangan takut, Nak. Pasalnya Allah akan memberi perlindungan pada Suamimu karena dia terlindungi oleh doa tulus seorang Istri shalehah. Takdir memang kejam, namun harus kuat menghadapi cobaan itu. Allah tidak akan menguji hamba-Nya dari batas kemampuannya. Jadi, bangkit tunjukan pada dunia yang fana ini bahwa Anda wanita tangguh siap melindungi Suami!"
Wanita paruh baya itu memberi kata penenang agar Khumaira kembali bangkit. Dia tidak mungkin membiarkan wanita malang ini terpuruk dalam keadaan menyedihkan. Semoga nasihat itu mampu meluluhkan hati Khumaira.
Khumaira tersenyum seraya menangis haru. Hatinya langsung tenang mendengar penuturan Ibu di depannya. Semua terasa sejuk membuat Khumaira bangkit kembali. Dengan cepat ia cium punggung tangan wanita paruh baya.
"Alhamdulillah, Allah memberikan Kuasa-Nya. Terima kasih, Buk saya sangat senang mendapat nasihat, Ibuk. Insya Allah, saya akan bangkit menjadi kuat guna melindungi Suami. Selama saya masih ada tidak akan ada orang menyakitinya. Allah bersama kami dalam rintangan menghadang. Allah akan membantu hamba-Nya yang kesusahan. Buk, saya sangat beruntung mendapatkan masukan bijak. Saya akan melangkah maju untuk melindungi Suamiku. Karena Allah akan melindungi kami dari mara bahaya."
Khumaira tersenyum lebar sampai rasanya ingin menyerukan nama Allah. Dia kuat itu pasti, pasalnya Aziz akan selalu menjaga mereka tanpa keraguan. Suaminya akan baik-baik saja tanpa ada yang menggores. Khumaira akan melindungi Aziz dari Wisnu apa pun caranya.
Ibu itu tersenyum menanggapi perkataan Khumaira. Akhirnya wanita ini kembali ceria penuh takad. Semoga Allah melindungi mereka dari musibah berat. Allah akan menjaga mereka sepenuh hati, Insya Allah.
Pada akhirnya Khumaira sedikit menceritakan masalahnya hingga kasus itu. Dia sangat senang bisa mendapat masukan teduh wanita ini. Demi apa ia sangat bahagia sampai rasanya ingin pulang lalu mendekap erat Suaminya. Khumaira tidak akan takut ada Allah bersamanya menghadapinya semua ini.
0.*.*.*.0
Khumaira pulang dengan hati lebih ringan. Dia teringat kata Ibu tadi suruh membicarakan dan memecahkan masalah bersama. Tidak boleh ada rahasia harus ada keyakinan bahwa mereka terlindungi oleh Allah. Khumaira sangat bahagia memikirkan segala cobaan dilalui suka cita.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Khumaira.
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Aziz.
Aziz baru selesai mandi makanya belum memakai pakaian. Hanya pakai handuk menutupi area privat. Melihat Istrinya ia nyengir polos dan terkekeh saat Khumaira langsung menutup mata malu melihat penampilannya. Apa salah coba penampilannya secara Istrinya sering melihat dirinya tanpa busana.
"Maaf, Dek ... Mas baru mandi soalnya anak-anak rusuh mengajak main sampai lupa waktu. Itu mereka sudah mandi dan sekarang tidur lelap," ujar Aziz.
Khumaira langsung mengapit lengan kekar Aziz dan membawanya ke dapur. Dia nyengir polos pasalnya telur pecah gara-gara tadi terjatuh kasar. Ia jadi membuang uang lumayan, tetapi tidak apa. Khumaira akan goreng telur seadanya saja untuk dua prianya. Untuk Mumtaaz belum mau telur belum bisa makan begituan.
"Nah sekarang Suamiku ini mau apa?"
Setelah menaruh ranjang di meja, Khumaira mendekati Aziz. Dia tangkup pipi tirus Suaminya lalu memberikan ciuman di kening. Rasanya Khumaira sangat bahagia bisa melihat Aziz yang terkesan sangat menggoda.
Aziz merengkuh pinggul Khumaira, kemudian mendongak minta ciuman. Entah kenapa Istrinya jadi semakin manis setelah pulang dari pasar. Apa Istrinya kesambet sesuatu? Aziz jadi semakin cinta kalau Khumaira romantis penuh cinta begini.
Khumaira mencium bibir tebal Aziz singkat. Dia merengkuh kepala Aziz untuk berada di dadanya. Dengan lembut ia mengusap rambut Suaminya sesekali mengecup puncak kepala sang Suami. Khumaira sangat senang menjadi Istri Aziz, walau awalnya menolak.
Aziz jadi bingung sendiri memikirkan ada gerangan apa Khumaira manis begini? Apa Khumaira baru mendapat gaji? Lagian kapan lagi mendapat perlakuan romantis sang Istri? Aziz jadi bahagia diperlakukan sangat teduh oleh Khumaira.
"Mas ingin punya anak lagi, hihihi," sahut Aziz seraya tersenyum penuh arti.
Khumaira menepuk lembut bibir tebal Aziz. Lalu duduk di pangkuan Suaminya. Sangat hangat sampai ia tidak mau lepas dari dekapan hangat sang Suami. Apa pun keadaan Khumairah tidak akan pernah lepas dari Aziz barang sedetik saja.
"Jika mau anak tunggu Dedek Mumtaaz umur 3 tahun ya, Ayah. Kasihan Dedek nanti kurang perhatian kita. Setelah itu ...."
Khumaira malu mengatakan kalimat selanjutnya. Wajah cantiknya merah merekah menatap depan. Dia sangat senang melihat Aziz tambah mengeratkan pelukan. Dengan begini ia sangat bahagia ingin menghabiskan banyak waktu bersamaan Suaminya. Khumaira tidak akan pernah bisa lepas dari Aziz yang memiliki sejuta kebaikan dan warna pelangi.
"Janji ya, Dek. Mas tadi bercanda Istriku."
"Janji, gih Mas ganti lalu kita bicara 4 mata hanya ada kita."
Lidah panas menjulur menjilat bibir sensul Khumaira. Dia terkekeh melihat Istrinya merona begitu. Manis sampai dirinya tidak kuasa menahan diri untuk meraup bibir sensul itu. Aziz cukup mengeksplorasi mulut Khumaira yang manis demi menyalurkan cinta dan birahinya.
Khumaira turun dengan muka memerah merona. Dia dengan jahil menarik handuk itu lalu lari menuju kamar mandi. Dia kunci pintu kemudian tertawa ringan. Khumaira sadar tingkahnya nakal sekali, tetapi biarkan saja toh Aziz tidak akan protes.
Aziz melihat dirinya yang polos, cukup bersyukur memakai celana dalam. Jika tidak bahaya tingkat kecamatan. Istrinya mesum sekali apa itu ngode minta jatah? Aziz tersenyum mesum saat sadar kode apa yang akan Khumaira berikan.
"Dek, ayo kemari kita lakukan itu mumpung anak-anak tidur. Tanggung jawab Sayangku karena sudah membangunkan milik, Mas!" seru Aziz seraya terkekeh geli.
"Nanti malam ya, Mas! Gih ganti baru Adek mau menemui Mas."
Aziz tersenyum lebar mendengar jawaban Khumaira. Senang sekali mendapat jatah panas. Dia langsung ngacir ke kamar untuk ganti baju rumahan. Aziz akan siap-siap olahraga malam setelah dua anaknya bobok ganteng.
Khumaira keluar kamar mandi dengan tawa renyah. Dasar mesum tetapi benar adanya dia juga merindukan sentuhan Suaminya. Setalah tertawa puas ia menata sayuran segar di kulkas. Setelah selesai khumaira memutuskan cuci tangan lalu masuk kamar menemui Aziz.
Aziz sudah ganti kaus polos lengan pendek warna navy blue. Dia menunggu Khumaira masuk kamar. Benar saja 3 menit kemudian Istrinya masuk. Dia tatap sang Istri lama penuh makna. Aziz bersedekap dada memperlihatkan lengan kekarnya minta belaian Khumaira.
Khumaira tersenyum saat Aziz sudah ganti pakaian simpel. Dia menepuk kening melihat gaya Suaminya yang keren tetapi lihat bawahan sarung warna senada dengan kaus. Baiklah Khumaira akui Aziz memang sangat tampan mengenakan apa pun. Apa lagi badan Suaminya super hot pantas memakai apa pun.
"Mas, sini kita bicara empat mata."
"Mau bicara apa, Dek?"
Khumaira duduk di sofa begitupun dengan Aziz. Mereka saling tatap untuk beberapa detik sebelum Khumaira berpaling. Dia tidak takut akan ancaman Wisnu, pasalnya Suami ada bersamanya dalam setiap langkah. Allah juga akan melindungi mereka dari ancaman Wisnu. Khumaira yakin Aziz akan selalu ada untuknya sampai akhir hayat laku bertemu di Surga-Nya Allah, Insya Allah.
"Adek punya pertanyaan untuk, Mas."
"Apa itu?"
"Jika punya masalah berat sepertiΒ di suruh memilih ... Mas tetap bersama Adek namun nyawa Adek menghilang, atau Mas pergi bersama wanita lain demi melindungi Adek. Mas pilih mana?"
Khumaira ingin mendengar jawaban Aziz. Jika itu tepat maka semua masalah akan ia tanggung dengan lapang dada. Dia ikhlas lahir batin untuk melindungi Suaminya dan bersama sang Suami sampai akhir hayat. Khumaira sangat bahagia memiliki pria tangguh seprti Aziz yang penuh kasih sayang.
Aziz langsung merotasikan mata mendengar pertanyaan Istrinya. Dia terpaku sendiri akan pilihan sulit dalam pertanyaan Khumaira. Semua akan dia lakukan untuk menjaga Istrinya sampai kapan pun.
Tangan besar Aziz menggenggam tangan mungil Khumaira. Dia kecup punggung tangan Istrinya penuh sayang. Semoga jawaban ini mampu meringankan pertanyaan Istrinya. Jika bisa Aziz akan memberikan jawaban manis demi Khumaira dalam keadaan gundah.
"Mas akan memilih tetap bersama Adek apa pun yang terjadi. Karena Mas akan melindungi Adek dari mereka yang hendak menyakiti, Adek. Mas akan melindungi Adek walau itu nyawa taruhannya. Mas juga akan selalu berdoa pada Allah agar menjaga kita dari mara bahaya. Allah selalu melindungi hamba-Nya yang tulus meminta pertolongan. Hanya pada Allah tempat kita mengadu meminta pertolongan. Intinya mari bersama menghadapi masalah dengan lapang dada. Kita saling menggenggam guna menguatkan satu sama lain ....,
... anggap badai sebagai batu lompatan pada hubungan kita. Allah menguji seberapa kuat dan tulusnya hubungan kita. Tidak perlu takut menghadapi masalah karena Mas akan selalu melindungi Adek dari mara bahaya. Mas juga tidak akan berpaling dengan wanita lain walau itu pilihan demi melindungi Adek. Tidak akan ada orang ketiga karena kita hanya akan selalu bersama selamanya, Insya Allah. Percayalah Mas akan melindungi Adek dari mereka yang hendak melukai Adek. Yakinlah pada Allah bahwasanya akan melindungi kita sampai kapan pun. Soal maut, hanya Allah yang menentukan bukan manusia. Maka dari itu tidak usah resah tentang ancaman manusia. Doakan semoga orang yang berbuat dzolim pada kita cepat mendapat hidayah, Aamiin."
Aziz tersenyum teduh menatap Khumaira. Dia menjawab pertanyaan Khumaira dari hatinya. Semua itu serius tanpa ada keraguan. Semua yang dia katakan akan menjadi nyata jika itu terjadi. Bahkan Aziz rela terluka asal kedua anaknya dan Istrinya baik-baik saja.
Khumaira langsung merengkuh Aziz erat seraya menangis haru. Dia tidak takut apa pun karena Aziz akan selalu terlindungi. Apa pun yang terjadi Wisnu tidak akan bisa melukai Suaminya apa lagi mengancam mau membunuh. Tidak akan terjadi karena Khumaira siap berkorban demi melindungi Suaminya.
Aziz membisu mendengar tangisan Khumaira. Kenapa malah menangis apa dia terlalu melankolis menjawab pertanyaan sulit itu? Ia menjawab dari hatinya bahkan tidak kurang tidak lebih. Aziz jadi merasa bersalah membuat Khumaira menangis begini.
Khumaira melepas dekapannya lalu menangkup pipi tirus Aziz. Dia ciumi wajah rupawan sang Suami tanpa terlewati. Senyum lebar terus merekah di bibirnya yang penuh. Khumaira sangat bahagia Aziz sangat bijak mampu memberikan kata paling indah guna meneduhkan hati.
"Itulah yang akan Adek lakukan untuk melindungi, Mas. Adek tidak takut dengannya karena Mas sudah memberikan jawaban yang sama seperti hati, Adek. Alhamdulillah, kita tidak akan terpisahkan oleh manusia hina itu. Jikalau dia berani menyakiti, Mas maka Adek siap melindungi, Mas. Terima kasih ya, Mas."
Khumaira tersenyum bahagia mendapat kunci dari permasalahan. Allah Maha Besar telah menunjukkan jalan untuknya. Tidak ada orang yang menyakiti Aziz selagi masih ada dirinya. Benar adanya ia akan jadi pelindung walau nyawa taruhannya. Khumaira siap menjaga Aziz apa pun konsekuensi yang harus diterima.
Aziz membisu mendengar perkataan Khumaira. Apa benar itu nyata, siapa yang berani memberi pilihan itu pada Istrinya? Dia takut Istrimya kenapa-napa atas luka yang di berikan pengancam. Aziz tidak akan tinggal diam jika sampai Syafa nya tergores batang sedikit saja.
"Dek, jadi itu semua nyata?"
"Iya, Mas dengar kita harus mencari bukti kejahatan Wisnu. Dia harus di penjara karena tega menghancurkan karir Mas dan melakukan sabotase kecelakaan itu. Bahkan dia yang mengendarai truk untuk membunuh, Mas. Kita belum punya bukti makanya kita akan melangkah bersama menuntaskan kasus ini."
Khumaira berkata begitu semangat. Dia juga menyerahkan memo kecil berisi kata menjijikkan. Semua kejahatan tidak akan terjadi pasalnya mereka bersatu untuk menghadapi bersama. Toh ini adakah ujian cinta sesungguhnya dari Allah. Berkat Wisnu semua jadi nyata penuh cinta akan sebuah kebahagiaan.
Aziz membulatkan mata mendengar pernyataan Khumaira. Jadi dalang semua ini Wisnu. Sebenarnya ia punya salah apa sehingga mendapat kebengisan Wisnu? Tunggu sepertinya Aziz tahu semua konflik ini. Ia akan menuntas dan menguak kejahatan pria itu.
Khumaira melihat Aziz penuh arti karena dari tadi diam. Apa yang dipikirkan Suaminya saat ini sampai termenung. Dia jadi takut Suaminya marah tentang semua ini. Khumaira yang takut menunduk menyembunyikan wajahnya agar Aziz tidak menatapnya.
"Kita akan hadapi ini bersama, jangan takut. Keadilan akan segera di tegakan. Wisnu akan menerima semua, Mas dan Adek akan menuntaskan cobaan ini. Allah bersama kita maka jangan takut. Mas akan berusaha menguak kejahatan. Wisnu. Sekarang mari beraama menghadapi masalah berat ini!"
Khumaira mengaguk semangat seraya merengkuh erat Aziz. Sementara Aziz membalas dekapan Khumaira tidak kalah erat. Mereka saling merengkuh erat untuk memberi kekuatan. Tidak akan kesakitan pasalnya cinta mereka murni. Ini baru akan di mulai menghadapi Wisnu. Khumaira dan Aziz akan semakin erat karena cobaan yang di ciptakan Wisnu. Mereka bersyukur karena pria gila itu hubungan semakin rekat.
0.*.*.*.*.0
Malas, ngedit karena ngantuk
π΅π΅π΅
Salam hangat dari
Rose_Crystal_030199