Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Salam Cinta Melabuh Perpisahan!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Malming semuanya, please siapkan diri untuk menyeka air mata.


Mohon dukungannya ya say vote, eyak maksa!


***///\**


Aziz menerawang jauh mengingat kisah cintanya. Sekarang dia sadar seberapa gila takdir yang tertulis sang Pencipta. Dia mendongak menatap langit malam terasa kelabu tanpa cahaya. Dengan menghembus napas berat Aziz memulai segalanya.


"Aku akan ke Singapura 5 tahun, Mas," beri tahu Aziz setelah lama bungkam.


Azzam tersentak mendengar perkataan Aziz. Dia tidak habis pikir kenapa Adiknya niat pergi jauh? Apa yang di pikirkan Adiknya sehingga memilih pergi? Sungguh diaa sangat sedih menerima ini semua. Jika begini Azzam berasa jadi penghancur kebahagiaan Aziz.


"Apa maksudmu? Tetaplah tinggal dan ingat ada anak-anak serta Dek Khumaira membutuhkan kamu, Le!"


"Ada Mas yang akan menjaga mereka. Bukanya mandat itu telah selesai? Jadi, Aziz akan pergi."


"Kenapa kamu seolah mengagap Dek Khumaira sebuah mainan? Kamu mainkan setelah bosan kamu kembalikan pada pemiliknya," cetus Azzam.


"Mas juga menganggap Dek Syafa sebagai permainan. Kita sama-sama salah dan terkesan sangat egois. Pertama Mas memberikan Dek Syafa padaku dan setelah terikat lama Mas datang secara tidak terduga. Aku yang merasa gila mengembalikan ia pada, Mas. Kita benar-benar pria egois yang sangat kejam telah mempermainlan wanita lemah. Aku baru sadar seberapa kejam kita mempermainkan, Dek Syafa. Tolong jangan buat Dek Syafa sebagai permainan yang terus kita lempar. Aziz sangat mencintainya dan tidak mau membuat dia tambah tersiksa. Setelah ini tidak ada permainan karena hanya Mas pemilik sesungguhnya."


Aziz merasa hina telah membuat Khumaira terjebak di antara dia dan Kakaknya. Rasanya sangat sakit mengingat betapa egois mereka mempermainkan khumaira. Di sini Istrinya menjadi korban ke egoisannya dan Azzam. Sekarang pilihan terbaik berhenti menyakiti perasaan Khumaira. Di sini Aziz memutuskan akan mundur agar tidak ada permainan lagi.


Azzam terpaku mendengar penuturan Aziz yang benar adanya. Dia memijat pelipis secara kasar mengingat betapa kejam dirinya pada Khumaira. Benar yang di katakan Adiknya bahwa mereka hanya mempermainkan khumaira. Walau rasa cinta membuncah namun Azzam sadar itu tidak sebanding luka yang akan mereka berikan.


"Namun, Mas tidak ingin menyakiti kamu, Le. Kita hanya pria egois membuat Dek Khumaira sebagai korban. Kita kejam telah mempermainlan wanita sebaik Dek Khumaira. Kita akan menebus dosa itu agar Dek Khumaira tidak terluka. Mas ingin kamu yang menjaganya karena Dek Khumaira sangat mencintaimu."


"Kita sudah membuat Dek Syafa terluka akan takdir ini. Bukan aku tetapi Mas yang akan menjaga. Kita saling mengoper dan saling mengalah. Kita terkesan tidak punya hati dan perasaan. Maka dari itu berhenti jangan mengoper atau mengalah saling menyerahkan. Tolong jaga Dek Syafa jangan mengoper lagi karena dia bukan barang. Aziz akan pergi besok dan akan pulang ke rumah 5 tahun lagi. Usai ini tolong buat Dek Syafa bahagia jangan buat dia tersiksa. Aku titip anakku Mumtaaz, tolong jaga dia layaknya anak sendiri. Aku menyayangi kalian sepenuh hati."


Aziz langsung berlalu setelah mengatakan kalimat terakhir. Sampai depan pintu ia melihat Nakhwan menepuk bahunya. Dengan sedih dia rengkuh Kakaknya agar mendapat kekuatan. Mungkin ini adalah takdir Allah yang menyakitkan. Aziz menangis dalam diam dalam dekapan Mas sulung.


Azzam terdiam seribu bahasa mendengar jawaban Aziz. Ya Allah, dia merasa sangat bersalah telah membuat Khumaira seperti barang.  Dengan cepat menengok ke arah Aziz dan Nakhwan penuh haru. Ini takdir yang manis yang akan membuat Azzam kembali pada Khumaira. Maaf untuk Aziz harus mengalah lagi demi dia dan Istrinya. Semoga Adiknya mampu mengukir senyum manis di kala duka.


Nakhwan ingin marah pada Aziz dan Azzam. Dua Adiknya sama-sama keras kepala ingin mengalah. Tahukah mereka bahwa khumaira bukan barang. Di sini Nakhwan tidak iba pada Adik-Adiknya, melainkan iba pada Khumaira. Adik iparnya korban takdir dua pria itu. Nakhwan harus bagaimana dalam kesenduan, Aziz? Adiknya menangis sepi dalam dekapan maka dari itu dirinya berusaha memberikan ketenangan.


"Lagi-lagi mengalah kamu, Le. Kapan kamu meraih kebahagiaan?" Pada akhirnya Nakhwan mencetus kata.


Aziz tersenyum mendengar pernyataan Nakhwan. Dia tepuk bahu Kakaknya seraya tersenyum tipis. Memang benar adanya di antara mereka harus ada yang mengalah demi kebahagiaan khumaira. Mereka tidak boleh menjadikan wanita sebaik Istrinya sebuh barang. Aziz akan memberikan segala kebahagiaan untuk Khumaira dan Azzam walau hatinya lebur.


Ingin rasanya Nakhwan menengahi Azzam dan Aziz. Mau bagaimana pun keduanya adalah Adik kesayangannya. Tidak ada yang membuat iba karena keduanya meninggikan ego. Aziz yang bodoh terus mengalah dan Azzam si teduh bodoh. Dua Adiknya sama-sama bodoh tidak punya otak. Nakhwan mau emosi jiwa menghadapi ego Azzam dan Aziz.


"Aku ingin Dek Syafa bahagia bersama orang yang dicintai. Kebahagiaan mereka di atas segalanya untukku. Mas Nakhwan, aku ingin egois dan serakah namun itu bukan diriku. Doakan agar Adikmu ini bisa bertahan dalam badai besar!"


Aziz langsung pergi meninggalkan kedua Kakaknya. Dia memilih bungkam tanpa suara ketika Nakhwan mengatainya bodoh. Yang terpenting setelah ia pergi maka Istri dan anak-anaknya ada yang mengasuh. Semoga saja pengorbanan kali ini berujung manis. Aziz akan terus berjuang dalam kenangan cinta bersama Syafa nya.


Azzam menitikan air mata terluka melihat Aziz lagi-lagi mengalah. Kenapa Adiknya tidak bisa jadi orang tegaan supaya mendapat kebahagiaan? Sungguh ia ingin melihat Aziz bahagia. Maka dari itu Azzam tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Adiknya demi kebahagiaan.


****///\\****


Khumaira duduk di tepi ranjang memikirkan tentang semuanya. Dia masih shock mengetahui fakta bahwa Azzam masih hidup. Lalu bagaimana dengan Aziz yang notabennya adalah Suaminya? Sekarang ini merasa begitu tertekan berada di antara keduanya. Jika boleh jujur Khumaira sangat sakit berada di tengah dua pria yang sama-sama dicintai.


Tidak lama pintu terbuka menampilkan sosok tinggi berwajah tampan. Siapa lagi kalau bukan sang Suami kedua. Aziz masuk lalu mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu. Hatinya terasa teriris pisau tumpul melihat Khumaira tampak kacau. Rasa bersalah menguar kuat mengingat Aziz dan Azzam terlalu dalam menyakiti khumaira. Bisakah kali ini Istrinya tersenyum?


Khumaira teringat perubahan Aziz kemarin yang sangat signifikan. Jadi ini alasan di balik itu semua yang sukses membuat pedih. Kenapa ia ditakdirkan bersama dua pria bersaudara yang sama-sama idaman wanita? Ingat itu setitik air mata mengalir deras membanjiri pipi saat teringat Suaminya. Hati Khumaira terasa nyeri luar biasa jika ingt spekulasi bahwa Aziz pasti akan mundur.


Aziz bersimpuh di depan Khumaira dan tangan kekar meraih tangan mungil sang Istri. Dia menyandarkan kepalanya di paha sang Istri, sementara tangan kekarnya meremas pelan tangan mungil Istrinya. Bisakah Aziz berharap malam jangan cepat berlalu?


Khumaira melepas satu tangan dari genggaman Aziz. Tangan lembut itu mengusap rambut Aziz penuh akan duka. Dia paham bahwa ini hari terakhir mereka bersama. Air matanya berjatuhan tanpa mau berhenti. Bisakah Khumaira meraih semua kebahagiaan setelah ini?


"Dek, maafkan Mas," lirih Aziz mengawali pembicaraan.


"Adek maafkan," sahut Khumaira bernada pilu.


Aziz menegakan tubuh menatap Khumaira lamat-lamat. Melihat Istrinya menangis membuat ia tidak sanggup untuk merengkuh. Dia rengkuh Istrinya seerat mungkin agar tidak mampu lepas. Setitik air mata luruh membuat Aziz buru-buru menghapus. Setelah ini bisakah mereka bahagia barang sedetik saja?


"Mas akan ke Singapura 5 tahun."


Khumaira terbelalak mendengar perkataan Aziz. Apa Suaminya berniat menelantarkan ia dan anak-anak? Kenapa bisa Aziz berpikir pergi jauh tanpa mempedulikan nasib Ridwan terutama Mumtaaz?


Aziz beranjak untuk berdiri di depan Khumaira. Dia tidak ada niat menelantarkan anak-anaknya. Bahkan ia tidak sanggup berpisah lama dengan mereka. Yang paling penting Aziz tidak sanggup berpisah dengan Khumaira.


Khumaira ikut berdiri tegak tanpa memperlihatkan kesedihannya. Dia tidak ingin Aziz mengagap lemah. Dengan kasar ia mencengkeram baju depan Suaminya. Apa sekarang khumaira terlihat menyedihkan?


"Maaf!"


Satu kata meruntuhkan pertahanan Khumaira yang di bangun. Pengecut sekali Suaminya ini tanpa mau berusaha. Apa ini Aziz yang selama dia kenal? Kenapa bisa Suaminya jadi rendah begini? Khumaira yang terluka sontak memukuli dada bidang Aziz sembari menangis memilukan.


Aziz langsung merengkuh Khumaira erat sembari mengatakan maaf. Dia tidak sanggup melihat Istrinya menangis histeris karenanya. Semoga saja ia mampu bertahan walau nyatanya tidak sanggup bertahan. Tanpa peduli pukulan khumaira yang brutal Aziz tetap merengkuh erat.


"Jahat, pengecut kamu, Mas. Hiks aku sangat membencimu! Siapa kamu sebenarnya? Di mana Masku Aziz yang biasanya? Katakan siapa dirimu? Di mana Masku Aziz?"


Tangan kecil Khumaira memukuli dada bidang Aziz sembari menangis keras. Namun, langsung terhenti ketika Suaminya mendekap erat seraya mengatakan maaf berulang kali. Bukan ini yang ingin dia tempuh dalam kehidupan. Khumaira hanya ingin Aziz tetap tinggal walau mustahil.


Khumaira akhirnya diam sembari merengkuh Aziz erat. Dia tidak akan sanggup kehilangan Suaminya. Bisakah ada jalan di permasalahan kali ini? Kenapa ia jadi barang yang di lempar sana-sini? Kenapa Allah tega mempermainkan takdirnya? Sungguh Khumaira tidak sanggup bertahan di antara Aziz dan Azzam.


Aziz menitikan air mata mendengar perkataan Khumaira. Dia tangkup pipi gembil Istrinya dan memberikan ciuman di wajah manis sang Istri. Dengan tenaga tersisa Aziz mengangkat tubuh Khumaira untuk berada dalam gendongannya.


Dalam kepiluan Aziz duduk di tepi ranjang dan Khumaira berada di pangkuannya. Semua terasa menyakitkan bagi keduanya. Namun, ia harus kuat menghadapi cobaan kali ini. Dengan sayang Aziz mengecup kening Khumaira mesra. Biarkan ia berbuat demikian demi meredam emosi Istrinya.


"Dek, maafkan Mas yang pengecut ini. Mas tidak akan menelantarkan kalian, pasalnya rumah dan uang akan menjadi milik kalian. Semua tabungan untuk menyekolahkan Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz. Semua uang itu juga untuk Adek guna menghidupi kehidupan kalian. Mas minta maaf menjadi pecundang tidak berguna. Insya Allah, jika sudah waktunya Mas akan pulang. Tolong rawat anak-anak bersama Mas Azzam dengan baik. Mas titip dua Putraku yang nakal ya, Dek. Jaga diri baik-baik agar Mas tidak lari untuk meraih Adek. Tolong jaga kesehatan jangan sampai sakit. Tolong jaga anak-anak agar tetap menjadi anak hebat."


"Kami tidak membutuhkan uang darimu, Mas! Aku tidak membutuhkan semua uang Mas. Yang kami butuhkan kehadiran, Mas di samping kami. Aku akan bahagia bersama Masku Azzam itu pasti karena dia bukan pengecut sepertimu!"


"Benar kata Adek bahwa Mas Azzam tidak punya sifat pengecut sepertiku. Maka dari itu izinkan aku pergi dan untuk uang Adek pegang untuk jaga-jaga jika Adek membutuhkan uang itu. Bagaimana jika ada yang sakit pasti memerlukan biaya maka dari itu pakai uang yang Mas berikan. Tolong beri segala fasilitas untuk anak-anak, Dek. Mas mohon terima ya agar Mas tenang."


Khumaira menatap Aziz terluka mendengar jawaban tidak terduga. Dia hendak turun namun Suaminya menahan tubuhnya. Ia sangat marah pada Suaminya yang sangat berbeda. Kenapa bisa Aziz jadi pria lemah dan sangat pengecut? Ingin rasanya khumaira menampar pipi tirus Aziz agar sadar dari segalanya. Demi Allah ini bukan Suaminya yang biasanya begitu optimis serta berusaha keras. Tolong katakan siapa pria ini?


Aziz dekap erat Khumaira seolah tidak mau lepas. Jangan menangis karena Ini malam akhir yang akan jadi kepedihannya. Oleh sebab itu izinkan Istrinya kuat demi dirinya. Jika Khumaira kuat maka Aziz juga akan kuat.


"Aku dan anak-anak tidak bisa menerima karena kami akan membiarkan orang pengecut ini pergi. Aku tidak akan mau karena kami tidak butuh belas kasihanmu. Kamu bisa pergi dan jangan pernah ingat kami!"


Aziz melepas pelukannya dan membiarkan Khumaira turun. Dia menangis mendengar kemarahan Istrinya untuk pertama kalinya. Sakit sekali sampai ia tidak mampu menahan isakan. Sungguh dirinya tidak ingin hal ini terjadi pada hubungan mereka. Aziz mau egois mempertahankan Syafa nya. Namun, Azzam lebih butuh Khumaira karena sakit itu.


Khumaira menatap Aziz sendu ketika Suaminya menangis. Dia ikut menangis meratapi nasib di antara mereka. Bisakah Aziz mengurungkan niat demi kebahagiaan bersama? Entah kenapa Khumaira sangat takut di tinggal sendiri. Memang ada Azzam namun Khumaira sangat canggung pada Suami pertamanya.


Aziz bersimpuh di depan Khumaira seraya menangis. Dia hanya ingin anak-anaknya tidak kekurangan uang setelah ia pergi. Walau ada Azzam namun Mumtaaz masih tanggung jawabnya. Untuk Ridwan anak manisnya juga tanggung jawabnya. Maka biarkan Aziz menyerahkan segala uangnya untuk anak-anak dan Istrinya.


"Tolong terima uang dan semua fasilitas yang akan Mas berikan. Mas sangat tersiksa Dek akan kondisi ini. Mas tidak sanggup pergi meninggalkan kalian. Mas ingin selalu bersama kalian sampai maut memisahkan. Mas sangat sakit menghadapi masalah ini semua. Mas sangat mencintai kalian sepenuh hati. Katakan pada Mas apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan orang yang di sayangi? Tolong terima uang itu untuk kalian bertiga. Jujur saja Mas sangat tersiksa menghadapi ini semua. Mas sangat mencintai Adek dan anak-anak karena Allah."


Khumaira jatuh di depan Aziz dengan duka menyayat hati. Dia sangat tahu seberapa baik Suaminya yang rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Rela mengalah agar orang yang di sayangi bahagia. Pengorbanan dan sikap mengalah itu membuat Khumaira marah. Namun,ua sangat tahu Aziz tidak akan sanggup pergi.


Tangan mungil Khumaira menangkup pipi Aziz serat akan makna. Ibu jari itu menghapus air mata Suaminya. Di rasa cukup ia rengkuh tubuh kekar Suaminya tanpa mau melepasaya. Jika begini Khumaira takut Aziz sendiri di Singapura tanpa teman bicara.


"Kenapa Mas selalu mengalah dan berkorban? Cobalah berjuang mempertahankan Adek dan anak-anak. Kami butuh Mas ada di sisi kami dalam suka maupun duka. Mas tolong jangan pergi Adek mohon. Tolong tetap tinggal karena Adek dan anak-anak tidak sanggup kehilangan Mas. Mas, cobalah berjuang mempertahankan kebahagiaan Mas. Adek tidak membutuhkan uang karena Adek hanya butuh Mas. Tolong jangan pergi dan tetap tinggal bersama kami. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Sangat cinta sampai rasanya ingin ikut bersama Mas. Adek mohon Mas jangan tinggalkan kami."


Khumaira mengutarakan isi hati agar Aziz tetap tinggal. Dalam kepedihan air mata berlinang deras tanpa mau di bendung. Hatinya terlampau pilu akan keadaannya sekarang. Sungguh Khumaira tidak sanggup bertahan melewati ujian. Bisakah Aziz tetap tinggal demi dirinya dan anak-anak?


Aziz mengatupkan bibir rapat agar isakan tidak keluar. Dia langsung merengkuh Khumaira erat sembari menciumi puncak kepala Istrinya. Kalau boleh ia ingin menuruti permintaan Istrinya. Namun, takdir tidak memperbolehkan mereka bersatu. Marah penuh emosi itulah keadaan Aziz dalam kabut pedih berusaha memperjuangkan Syafa nya.  Namun, bagaimana mau berjuang jikalau takdir tidak boleh bersatu?


Mereka saling merengkuh erat dengan derai air mata bercucuran. Ini akhir kisah cinta mereka Sebelun bertemu beberapa tahun lagi. Aziz hanya berharap Khumaira bahagia bersama Azzam. Sementara Khumaira berharap Aziz tetap tinggal menemani anak-anak. Apa yang akan terjadi 5 tahun tanpa hadirnya kebahagiaan?


Inilah takdir yang akan memporak-porandakan hati tiga manusia. Azzam-Khumaira-Aziz, ketiganya terikat dan meluncur bagaimana kisah ini? Akankah Khumaira kuat memutuskan siapa Imam yang sesungguhnya? Akankah pengorbanan Aziz bisa membuahkan hasil dengan kebahagian Azzam dan Khumaira? Lalu akankah Azzam mampu melewati kisah di atas pengorbanan Aziz?


****////\\****


Menangis sepi di hari ini!


😭😭😭


Maaf ya seperti hal biasanya, hal.paling buruk dari Rose. Langsung update tanpa koreksi satu persatu.


Sekiranya ada banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan apa lagi ngantuk sekali, Say.


Rose_Crystal_030199!