Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Luka Hati!



Aziz mengusap rambut Ridwan dan mengecup pipi tembam sang keponakan. Sesekali mereka tertawa bersama bermain air. Hari ini libur makanya Aziz bisa menghabiskan waktu bersama Ridwan. Untuk Khumaira, Istrinya sedang mengajar di Madrasah.


"Paman," panggil Ridwan sembari memercikkan air ke wajah Aziz.


"Anak, nakal. Ada apa, 'Hm?"


"Paman, Dedek mau main bareng, Vivi," ucap Ridwan.


"Ok, kita bermain bersama, Vivi."


"Wow, Vivi kemari meong meong ....!" seru Ridwan.


Kucing jenis Persia berwarna abu-abu datang. Kucing kecil dengan bulu lebat melompat ke arah Ridwan. Lihat kucing gembul segembul tubuh Ridwan mendusal manja.


Ridwan terjungkal karena terpeleset selang. Bukannya menangis Ridwan malah mengoceh panjang kali lebar.


"Vivi, ngga baik asal naik. Aish, kucing nakal lihat Dedek basah. Vivi nanti Dedek mandi in kapok. Pokoknya, Vivi harus mau mandi bersama Dedek. Ok, kita main bersama, Yo ....!"


Aziz tertawa melihat tingkah Ridwan. Selama satu bulan setengah dia menjadi Ayah, panggilan belum berubah. Aziz ingin merubah tetapi tidak enak dengan Khumaira. Bisa jadi Istrinya menolak saat Ridwan memanggil Ayah. Jadi biarkan saja begini asal mereka tetap akur tanpa halangan.


Ridwan sudah kotor bermain dengan Vivi. Kucing kecil itu tidak takut air malah terkesan suka. Jadilah dua anak kecil main air tanpa peduli Aziz yang terus mengomel.


"Sudah, ayo mandi kita makan. Vivi, juga di harus beri makan. Ayo mentas anak-anak!"


Aziz pening menghadapi Ridwan kalau sudah bermain air dan lumpur. Si kecil begitu aktif sampai tubuh mungil penuh lumpur. Lalu, Vivi juga begitu. Kalau begini Aziz harus ekstra sabar menghadapi dua tuyul menggemaskan.


Aziz terus berdoa Khumaira cepat pulang agar dirinya tidak mandi lumpur. Aziz tersentak saat lumpur memercik ke tubuhnya. Alhasil tubuhnya penuh lumpur gara-gara Ridwan yang nakal.


"Tole, nanti Vivi mati bagaimana jika kamu mandikan lumpur?"


Ridwan berhenti tidak mau kucing kesayangannya mati lebih awal. Dia memilih mandi bersama Aziz dan Vivi. Si kecil begitu menyukai Kucing sampai di rumah ada 3 ekor jenis Persia, anggora dan kampung. Tetapi, mati dua alhasil Ridwan sedih dan sangat memanjakan Vivi. Kucing kesayangannya tinggal satu dan Ridwan terus merengek minta kucing lagi pada Aziz.


Aziz menerima pesan dari komisaris bahwasanya ada rapat penting. Dia baru ingat jam 10 nanti akan ada rapat membahas proyek. Kenapa bisa lupa akan meeting luar biasa penting itu?


"Dedek."


“Hu’um “


"Paman antar Dedek ke tempat Umi mengajar. Soalnya ada tugas penting yang harus Paman kerjakan. Insya Allah, Paman lekas pulang agar bisa main sepuasnya bersama, Dedek."


"Paman, hari ini sampai besok libur. Kenapa Paman pergi ke kantor?"


"Ada urusan mendadak, Dedek. Jangan menangis nanti Paman belikan makanan kucing dan topi kucing."


"Serius?"


"Hm, tersenyum yang manis."


Ridwan tersenyum lalu siap-siap menuju tempat Khumaira mengajar. Si kecil Vivi di kandang dan sekarang beralih menghampiri Aziz. Tangan kecil terulur untuk meminta gendong pada Pamannya.


Aziz menggendong Ridwan menuju garasi mobil. Dia sebenarnya kurang senang karena di hari libur mendapat tugas. Alhasil pemuda tampan ini memutuskan berangkat demi kantor.


...***...


"Buk, ada tamu yang menunggu di gerbang," pungkas Siswi kelas VIII Madrasah Tsanawiyah.


"Terima kasih, Maya."


"Sama-sama, Buk."


Khumaira berjalan menuju gerbang lalu melihat Aziz menggendong Ridwan. Kenapa Aziz memakai jas? Bukannya hari ini libur. Apa Suaminya ada urusan penting sehingga membuat Aziz berangkat. Khumaira memilih diam dari pada bertanya.


"Mbak, aku nanti pulang telat soalnya ada meeting. Maaf tidak bisa menjaga Dedek sampai Mbak pulang."


"Tidak apa, sini biar Tole saya gendong."


Ridwan tertidur saat perjalanan ke mari. Tubuh mungilnya sekarang berada di gendongan Khumaira. Mungkin karena capek bermain bersama Vivi membuat Ridwan kelelahan.


"Assalamu'alaikum." setelah mengucap salam Khumaira berlalu tanpa melihat Aziz.


"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Aziz.


Aziz terpaku melihat Khumaira dua minggu ini semakin dingin. Sebenarnya kenapa? Apa yang terjadi? Karena waktu sempit sontak dia langsung berjalan meninggalkan area sekolahan. Aziz tidak mungkin meratapi nasib berdiam diri di depan gerbang. Urusan kantor menanti makanya membuatnya langsung pergi.


"Siapa tadi, Buk?" tanya para Guru Madrasah.


"Ganteng banget, bule baru. Buk Khumaira pintar sekali mengait bule."


Khumaira diam saja tanpa mau membalas perkataan mereka. Semenjak memutuskan untuk kembali kerja semua berubah. Dulu saat Azzam masih hidup mereka terkesan sopan. Sekarang terlihat beda bahkan terkesan jutek dan suka menyindir.


"Buk Maira, apa tadi bule incaran baru? Mau dung punya gebetan bule."


"Dia Suamiku!" tegas Khumaira sembari mengusap rambut tebal Ridwan.


Mereka diam membisu mendengar jawaban Khumaira. Suami benarkah? hebat sekali baru selesai masa iddah berapa bulan langsung menikah. Apa Khumaira tidak tahu malu atau tidak punya perasaan sehingga cepat sekali menikahnya?


"Wah hebat sekali, Buk. Yang pertama bule sekarang bule juga. Enak ya jadi janda cantik, baru sebentar langsung menikah," cibir Sintia.


Khumaira menatap guru yang masih gadis dengan jengah. Kenapa ada guru madrasah mulutnya tajam sekali? Dari pada menggubris perkataan mereka Khumaira memilih bungkam.


Merasa jengah akan perkataan mereka semakin mendesak pada akhirnya Khumaira angkat suara. Mereka benar-benar membuatnya pusing sehingga tidak betah di Madrasah. Kalau di rumah juga tidak nyaman karena hubungannya sedang kacau bersama Aziz.


"Kenapa, apa kalian iri? Jika iri cari saja sendiri."


Khumaira sudah bosan menghadapi sikap mereka yang terkesan mengucilkan. Kalau begini Khumaira jadi tidak srek kerja lagi. Ia ingin keluar lalu mencari pekerjaan baru.


Ridwan terbangun lalu melihat sekeliling. Mata Hazel lebar itu menatap Khumaira lamat-lamat. Dia sadar sekarang berada di tempat kerja Uminya.


"Umi," panggil Ridwan seolah tahu rasa sakit Ibunya. Tangan kecil itu terulur untuk merengkuh leher Khumaira.


"Tole, ada apa? Apa Dedek ingin sesuatu?"


"Paman Aziz, mana?"


"Ish, Paman jahat meninggalkan Dedek sendiri."


"Nanti malam bisa bertemu, gih istirahat lagi soalnya Umi harus mengulang di kelas VII."


"Umi ... Dedek ikut ya."


"Boleh, mari kita permisi."


Khumaira menggandeng tangan kecil Ridwan. Wajah manisnya tersenyum saat Putranya berjalan sembari menghentak-hentakan kaki.


"Dedek, tadi bermain apa saja bersama, Vivi?"


"Lumpur dan air."


Khumaira diam memikirkan Aziz mengasuh Ridwan. Pasti pria itu sangat kesusahan. Apa lagi anaknya sangat menyukai lumpur dan air. Dia memilih fokus dari pada memikirkan Aziz.


Sementara Ridwan berjalan menuju salah satu Siswi. Wajah tampannya mengundang mereka untuk mencubit pipi atau mengecup pipi bulatnya. Sungguh mereka sangat mengagumi anak Khumaira. Sementara Ridwan terlihat senang mereka tidak terganggu akan tingkahnya.


"Kakak, Dedek mau tulis boleh?"


"Tole, jangan ganggu Mbaknya sedang belajar." Khumaira berusaha membujuk Ridwan agar berhenti mengganggu.


"Umi, Dedek hanya ingin menulis."


"Tidak apa-apa, Buk. Ayo Dedek mau menulis apa?" Siswi itu memberikan satu buku dan pena alhasil Ridwan bersorak senang sembari bertepuk tangan.


Khumaira tersenyum tulus melihat Ridwan begitu ceria, sedangkan para pelajar di kelas VII A mengatupkan bibir agar tidak memekik gemas. Khumaira akui Putranya begitu menggemaskan saat berceloteh atau pun tersenyum manis.


Ridwan mencoret-coret abstrak buku tulis. Bahkan dia tidak kuasa berceloteh mengajak bicara orang di sampingnya. Bibir mungil itu terus mengajak bicara siswi di kelas ini. Sikap supelnya membuat mereka gemas padanya.


Khumaira jadi tidak enak pada mereka karena terganggu belajar gara-gara Ridwan. Tetapi, muridnya malah berseru bahwa Ridwan adalah penghibur yang sangat lucu. Mendengar itu membuat Khumaira bernapas lega.


Khumaira mendekat dan meminta maaf. Dia berjanji akan membelikan buku dan pena yang dimainkan Ridwan. Karena haus Putranya minta susu dan pada akhirnya diam di bangku guru. Kaki kecil Putranya bergerak abstrak sembari melihat mereka.


Khumaira memberi tugas, lalu izin ke ruang guru untuk membawa Ridwan. Putranya merengek minta jajan sehingga membuatnya kembali. Dia lupa membawa tas berisi camilan untuk Ridwan. Khumaira menggendong Ridwan yang merengek minta gendong. Sepanjang perjalanan menuju kantor Putranya selalu berceloteh panjang kali lebar.


***


"Mbak," panggil Aziz mulai terusik akan sikap acuh Khumaira.


"Iya."


"Aziz salah apa sampai Mbak diam begini?"


"Tidak ada."


Aziz menghembus napas berat merasa sesak. Dia sangat keras kepala dan gigih makanya berusaha sampai menemukan titik terang. Jangan panggil namanya Aziz jika tidak mendapat jawaban.


"Tidak mungkin tidak ada jika setengah bulan ini mengabaikan, Aziz. Tolong katakan aku salah apa!"


"Tolong jangan mendesak karena saya tidak suka. Saya sudah bilang Mas tidak punya salah!"


"Mbak, maafkan aku. Tolong sekiranya ada salah maafkan aku."


Khumaira memilih diam sembari mengoreksi tugas para muridnya. Dia tidak mau menyahut saat Aziz terus meminta memberi tahu apa kesalahannya. Sebenarnya Khumaira rindu akan guyonan Aziz yang mampu membuatnya tersenyum.


Aziz duduk di depan Khumaira sembari bersedekap dada. Dia terus meminta jawaban agar Istrinya mau berbicara. Namun, hanya pandangan datar menjadi jawaban sang Istri Sebenarnya ia sangat lelah memikirkan proyek dan kini Khumaira begini menambah sesak. Aziz ingin istirahat lalu bagaimana dengan Istrinya?


"Mbak ...."


"Bisakah Mas diam ...! Tolong saya sangat lelah mengoreksi tugas ini semua. Tolong Mas berhenti bertanya!"


Tanpa sadar Khumaira meninggikan suara satu oktaf. Dia melihat Aziz terbelalak mendengar bentakannya. Apa dia keterlaluan sehingga membuat Suaminya terpaku. Khumaira menunduk tidak kuasa menahan tangis saat ingat dirinya barusan membentak Suaminya.


Aziz tidak kuasa menahan sakit ketika Khumaira membentaknya. Dia berusaha tersenyum tipis menutupi luka agar ia terlihat biasa saja. Padahal hatinya menangis akan sikap Khumaira semakin menjadi.


"Mbak, ayo sini Aziz bantu mengoreksi tugas. Maaf dari tadi mengoceh membuat Mbak terganggu," pinta Aziz dengan nada menyesal.


"Tidak perlu, terima kasih. Mas tidur saja sudah malam."


"Setidaknya mari saya bantu. Apa Mbak ragu Aziz tidak bisa membantu?"


Khumaira memijat pelipisnya yang terasa pening melihat sikap gigih Aziz. Jika tidak di jawab dan mendapat keinginan maka Aziz tetap akan kukuh.


"Baiklah."


Aziz melihat kunci jawaban dan menatap soal. Dengan gesit dia menyelesaikan tugas agar Khumaira cepat istirahat. Benar saja dalam waktu kurun 20 menit semua selesai.


"Nah, selesai. Sekarang jawab pertanyaan Aziz. Aku salah apa sehingga Mbak menghindar?"


Khumaira terpaku ketika Aziz memegang bahunya. Buru-buru dia tepis tangan besar Aziz dan memilih membereskan buku dan peralatan yang lain. Khumaira bergetar mengingat semuanya ketika pertama kali merengkuh Suaminya erat.


Aziz berusaha tersenyum agar luka itu tidak terlihat. Memang dasarnya dia sangat gigih dan tidak akan berhenti sebelum mendapat apa yang diinginkan. Walau sakit Aziz harus meluruskan masalah mereka.


“Mbak katakan padaku, apa kesalahan Aziz?”


"Mas terlalu berlebihan, saya tidak suka. Mas terlalu dekat seolah lupa dengan kata-kata sendiri. Kita rekan, teman dan sahabat benar bukan? Tetapi, Mas tidak seperti itu. Mas terkesan berlebih seolah menginginkan lebih. Saya kurang nyaman dengan sikap Mas yang terlalu dekat!"


Khumaira menitikkan air mata ketika mengatakan itu semua. Dia ingin Aziz menjauh dan memilih dekat dengan Zahira. Dia memang gila terkesan jahat biarkan saja. Namun, semua perkataannya tadi bohong. Khumaira kesakitan akan luka hati yang dia tabur sendiri.


Aziz tercengang mendengar perkataan Khumaira. Rasa sakit menghantam hati dan jantungnya. Terasa sesak sampai Aziz tidak kuasa menjabarkan. Apa dia begitu keterlaluan sampai membuat Khumaira begitu bahkan terkesan risi. Hatinya tambah miris melihat Khumaira menunduk sembari menangis sesenggukan. Aziz mendongak menghalau air mata serta luka hatinya terlampau besar.


"Maafkan aku jika membuat Mbak tertekan. Mbak, aku sangat menyesal tolong maafkan aku. Insya Allah, mulai sekarang Aziz akan menjaga batasan. Tolong maafkan aku atas semua kesalahan."


Setelah mengatakan itu Aziz berbalik untuk meninggalkan Khumaira di kamar. Dia memilih tidur bersama Ridwan atau berdiam diri di ruang rahasia. Tanpa terasa air mata jatuh membuat Aziz buru-buru menghapusnya.


Setelah Aziz pergi Khumaira jatuh di lantai sembari menangis memilukan. Dia juga terluka mengatakan kalimat menyakitkan itu. Namun, Khumaira harus tegas tidak boleh lemah.


"Mas Azzam, rasanya sangat berat menghadapi ini semua. Andai Mas ada Adek pasti tidak tertekan dan terjerumus dosa begitu besar. Mas Aziz maafkan aku yang tega menyakiti perasaanmu. Mas Azzam pasti sangat kecewa pada Adek. Hiks, Mas Aziz maafkan aku membuat luka hati tambah besar. Mas Azzam, hiks maafkan Adek menjadi wanita tidak berakhlak."


Khumaira menangis sesegukan mengatakan isi hatinya. Dia memilih menghapus air mata lalu berlalu begitu saja. Ia ingin Aziz membencinya supaya mau kembali bersama Zahira. Namun, apa daya ketika berbuat menyakitkan ia juga tersakiti. Khumaira ingin semua kembali normal tidak ada air mata. Walau kenyataan tidak akan bisa kembali pada tempatnya.