
Sesuai permintaan kalian ingin lihat Ayah dan Umi serta anak-anak video call. Spesial chapter deh walau rada aneh.
Semoga kalian senang ya, Say.
Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
Happy reading, Rosever!
***💎💎💎***
Senyum terus terukir manis ketika ingat Suaminya menelepon lama. Wanita cantik nan anggun ini menggendong Putrinya menuju ruang tamu. Jelas bukan ia kesini ingin menunggu kepulangan anak ganteng sebentar lagi pulang. Syukur saja tadi dia sudah masak makanan kesukaan dua putra tampannya.
Ngomong-ngomong Khumaira di rumah sendiri bersama anak-anak. Yah karena keluarganya pergi ke Mojokerto untuk menghadiri acara pernikahan Adik bungsu Zahrana. Besok baru keluarganya pulang dan kini dirinya harus sendiri di rumah dua hari.
Khumaira menimang anaknya yang tampak manis. Bayi manis yang sangat cantik Ini menggapai wajahnya. Tentu saja ia sangat bahagia saat putrinya begitu aktif. Bahkan dengan manja Faakhira menepuk pipinya. Lucu sekali layaknya boneka hidup. Benar adanya Faakhira itu boneka nyata yang sangat cantik.
Ya Allah sedari tadi Khumaira tidak kunjung berhenti tersenyum. Bahkan ia terus menebar senyum tulus dan sesekali menciumi wajah Faakhira gemas. Hingga akhirnya ia hidup kan TV untuk melihat acara. Lihat drama Korea seru juga atau FTV SCTV dan Indosiar, hahahaha.
Lain sisi terlihat Mumtaaz membawa satu keresek besar mainan dan cokelat. Mulutnya komat-kamit sebal gara-gara para gadis kecil memberikan banyak kali mainan. Kalau mainan ia sangat suka kalau coklat menyebalkan sekali. Mumtaaz mengentak kaki akibat sebal pada gadis kecil dan ibu-ibu yang sukarela memberikan hadiah.
Wajar ganteng jadi banyak yang suka pada Mumtaaz. Pada akhirnya anak kecil ini mengucap salam terlebih dahulu sebelum masuk rumah. Dia langsung lari ke arah Uminya ketika mendengar sahutan. Dirinya langsung Salim kalau meletakan keresek hitam ke meja. Mumtaaz merenggut lucu seolah ini hari paling membosankan akibat para gadis memandang mendamba.
"Ada apa pangeran Umi yang paling gampang pulang merajuk begini?"
"Itu lihat semua cokelat dan mainan. Kan Kakak cilik bilang jangan kasih coklat gigi penuh cokelat. Maunya mainan eh ada tambahan coklat lagi. Kakak cilik sebel pada mereka, Umi. Risiko pangeran tampan jadinya begini."
"Manis sekali anak gantengnya Ini
Nah sekarang ganti dulu baru merajuk lagi. Umi sudah masak makanan kesukaan, Kakak. Nah jangan menggerutu nanti pangeran tampan jelek."
"Umi .... Aish menyebalkan. Baiklah Kakak mau mandi dulu, ganti setelah itu makan."
Mumtaaz mencium pipi Umi dan Adiknya setelah itu bergegas ke kamar di samping Uminya. Dia akan bermain ke panti dekat rumah menyerahkan semua cokelat pada mereka. Lalu main bareng sampai puas dengan mainan pemberian fans. Mumtaaz tidak sabar bermain bersama teman-temannya yang ada di panti.
Melihat Mumtaaz sudah mengacir Khumaira putuskan meletakkan Faakhira di boks bayi. Dia ambil buku yang berserakan kemudian memutuskan untuk memanaskan makanan. Dia terlebih dahulu mengunci pintu luar karena takut anaknya yang manis kenapa-napa. Khumaira ini tipikal Ibu yang sangat posesif serta sangat mencintai anak-anaknya.
Tidak lama setelah selesai memanaskan makanan Khumaira di kejutkan oleh pelukan Mumtaaz. Dia sadar jika sudah manja begini pasti anak tampannya minta sesuatu. Benar saja bocah berumur lima tahun lebih beberapa bulan ini minta gendong. Khumaira tentu menggendong anak kesayangannya ini lalu memberikan ciuman lembut di pipi Mumtaaz.
Mumtaaz menyandarkan kepalanya di bahu Uminya. Jujur saja ia ingin merengek serta bertanya kapan Ayah menelepon atau pulang? Hati rapuhnya mulai sebal akibat Ayahnya sudah melupakannya. Ayah yang sangat disayanginya telah pergi tanpa mau kembali atau memberi kabar. Mumtaaz mau Ayahnya lekas menelepon lalu memberikan kabar.
"Ayo makan dulu lalu cerita ke Umi keinginan, Kakak."
"Hm."
"Umi tahu kakak sedih pasti mikirin Ayah, benar?"
"Hu'um, Ayah tidak sayang lagi pada kakak. Ayah tidak mau melihat Kami bahkan tidak mau pulang. Hiks, Kakak sebel pada Ayah huwaa huhuhu."
"Sstt, anak tampan Umi jangan bicara begitu. Dengar Anakku sayang, Ayah bukanya tidak mau menelepon atau pulang. Ayah sangat merindukan Kakak cilik dan Kakak gede. Ayah ingin pulang, tetapi belum bisa."
"Bohong, hiks huhuhu huwaaa Ayah ngga sayang lagi sama, Kakak."
Khumaira duduk di kursi lalu menyentuh pipi gembul anaknya. Dia usap air mata sang putra lalu mendekap lumayan erat. Ia tidak mau anaknya salah paham atau bagaimana. Yang jelas Khumaira akan berusaha mengembalikan nama baik Aziz di mata Mumtaaz serta pikiran negatif itu.
Putranya ini masih sangat lugu belum tahu apa pun. Tahunya dari pikiran polos yang sangat rapuh butuh sandaran. Khumaira tidak akan membiarkan Mumtaaz terombang-ambing dalam duka. Ia akan berusaha memberikan pengertian pada si anak tampan. Khumaira tahu Mumtaaz begitu mencintai Aziz walau menumpuk segudang rindu dan kekecewaan.
Mumtaaz merengkuh erat leher Uminya sembari menangis tersedu. Dia hanya kecewa pada Ayahnya yang tidak kunjung pulang atau memberi kabar Dengan cara menelepon. Satu tahun lebih ia tunggu, tetapi sampai sekarang Ayahnya tidak kunjung datang. Mumtaaz mau Ayah agar lekas pulang atau setidaknya menelepon mereka.
Dalam hati Mumtaaz bertekad mau jadi orang banyak uang agar Ayahnya tidak perlu kerja atau tidak ke luar negeri. Segala tekad ia labuhkan agar bisa jadi orang sukses banyak uang dengan segudang prestasi. Maka dari itu dia akan terus belajar meraih mimpi demi keluarga terkhusus Ayah. Mumtaaz tidak mau ditinggal lagi maka dari itu si kecil nekat melakukan banyak hal.
"Anakku sayang, dengarkan Umi."
"Umi mau membela Ayah, hiks."
"Ayah sakit, Nak di sana. Ayah lupa sedikit memori dan belum boleh pulang. Tadi Ayah menelepon karena Abi yang datang ke sana menemui, Ayah. Anak ganteng yang cerdas jangan berprasangka buruk karena Ayah sangat mencintai Kakak cilik dan besar. Ayah nanti setelah Shalat Dzuhur mau menelepon. Jadi tersenyum jangan sedih nanti Ayah tambah sakit bahaya."
"Ayah."
Mumtaaz terdiam berusaha mencerna pelan-pelan ucapan Uminya. Dia ini anak genius yang memiliki kapasitas berpikir luas walau masih kecil. Dirinya sedikit paham pembicaraan Uminya sehingga memilih bungkam. Jadi ini alasan Ayahnya tidak kunjung pulang. Hati rapuh Mumtaaz meronta bahagia sekaligus sedih saat tahu fakta Ayahnya.
Melihat anak kesayangannya diam Khumaira tambah mendekap Mumtaaz lumayan erat. Selagi diam dia ciumi puncak kepala sang anak sesekali ia kecup pipi tembam sang putra. Hingga akhirnya ia suapi anaknya karena mode manja butuh perhatian lebih. Khumaira sanggatlah senang ketika Mumtaaz sudah tersenyum saat di suapi. Anaknya sudah bilang bahwa amat menanti telepon Ayah.
***'💞'***
Ridwan dan Mumtaaz sudah duduk manis di depan TV. Keduanya menunggu Uminya memberikan asi pada sang Adik. Keduanya sudah Shalat Dzuhur tinggal menunggu Ayahnya telepon. Dua anak rupawan ini tidak sabar menunggu sang Ayah menelepon. Ridwan dan Mumtaaz akan bicara banyak hal sehingga rasa rindu sedikit terobati.
Beda dengan Khumaira sedang asyik menyusui bayi cantiknya. Dia ingat beberapa waktu tadi ketika meminta dua anaknya tidak bercerita tentang Umi dan Abi. Kedua anaknya paham sehingga memilih menuruti. Cukup lama dirinya menyusui buah hatinya agar bisa tidur. Jujur saja Khumaira sangat sedih saat Faakhira tidak bisa dirinya kenalkan ke Aziz secara baik. Mau bicara jujur pasti berdampak buruk pada Suaminya. Maka dari itu alternatif terbaik bungkam seolah anaknya ini anak sang mantan.
Setalah Faakhira selesai menyusu bayi cantik ini memutuskan tidur dalam dekapan Uminya. Dia sudah kenyang lalu mengantuk berakhir tidur. Bayi manis ini sudah pindah ke boks setelah mendapat ciuman sayang Uminya.
Khumaira mengambil ponsel untuk memberi tahu Aziz bahwa anak-anak sudah siap ditelepon. Degup jantung terasa bertalu-talu akibat Suaminya membalas pesan. Matanya panas akibat Suaminya izin melakukan video call. Ya Allah ini kali pertama Khumaira bisa melihat wajah Aziz setelah satu tahun berpisah.
Di seberang sana Aziz berdegup kencang akibat panggilan video. Ini kali pertama menatap wajah mantan istrinya setelah sekian lama. Kalau sudah begini ia tidak bisa menahan haru akibat letupan hati. Akhirnya dia bisa melihat Istri dan anak-anaknya yang teramat dirindukan. Aziz ingin lari mendekap dua anaknya yang sangat tampan.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Aziz dan Khumaira saling pandang cukup lama akibat rasa haru bisa melihat lagi. Walau hanya lewat panggilan video setidaknya rasa rindu terobati bisa menatap. Mata keduanya panas menahan gejolak cinta. Tidak ayal keduanya merasa begitu berdebar ingin dekat. Aziz dan Khumaira begitu bahagia sampai air mata tanpa sengaja berlinang.
Buru-buru Ridwan dan Mumtaaz menepuk paha Uminya. Keduanya mau lihat Ayah tentu saja setelah satu tahun tidak bisa menatap. Mereka begitu rindu sampai bola mata bersinar terang penuh harapan. Senyum mengembang cerah dikala Uminya memberikan telepon pada mereka. Ridwan dan Mumtaaz berkacamata melihat Ayahnya tersenyum maskulin. Senyum paling dirindukan sampai keduanya tidak bisa lepas dari potret Anang Ayah.
Aziz menangis dalam diam melihat dua anaknya. Rasanya begitu haru sampai tidak bisa lepas menatap dua anaknya. Rasanya sesak akibat rindu membuncah pada anak-anaknya. Ya Allah, satu tahun tidak melihat anak-anak ternyata sudah sebesar itu. Aziz sangat rindu serta sangat terharu Ridwan dan Mumtaaz tumbuh begitu pesat tentunya sangat tampan sepertinya.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, dua jagoan Ayah. Apa kabar, Nak?" Aziz memberi Salam lalu bertanya lembut. Senyum manis terukir melihat Ridwan dan Mumtaaz sudah tumbuh besar.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Huwaaaaa huhuhu huwaaa, Ayah kami sangat rindu. Hiks hiks hiks, huhuhuhu kami kangen Ayah. Hiks, Alhamdulillah kami hiks baik." Ridwan dan Mumtaaz histeris akan letupan bahagia bisa mendengar suara Ayahnya lagi. Rasa haru bisa mendengar serta menatap Ayah teramat dirindukan.
"Ayah juga teramat merindukan Kakak dan Dedek sampai rasanya ingin berlari. Ayah rindu Nak sangat rindu sampai rasanya begitu sesak. Maaf, maafkan Ayah terlalu lama tidak menghubungi kalian. Ayah minta maaf baru bisa menelepon." Aziz meletupkan perasaan pada dia anaknya yang sangat dirindukan.
"Ayah, kami sangat ingin berjumpa, Ayah. Hiks cepat pulang jangan terlalu lama pergi. Huwae kami rindu Ayah. Pulang Ayah kami mohon hiks. Huwaaaa huhuhu, Ayah pulang kami rindu. Kami akan maafkan jika Ayah lekas pulang menemui kami," tangis Ridwan memohon agar Aziz pulang.
Aziz merasa dadanya begitu sesak mendengar permohonan sekaligus tangisan histeris dua anaknya. Jika saja bisa ia ingin pulang tanpa menunggu lama. Hanya saja kontrak itu belum berakhir atau berjalan setengah jalan. Jika nekat pulang maka penjara serta segala fasilitas harus ia terima. Aziz tidak mau ambil risiko sehingga memilih bertahan di sini walau rasanya begitu menyiksa batin.
Dua Anaknya menangis keras penuh emosi membuat Aziz tidak mampu membendung air matanya. Sudah jangan menangis ia tidak tahan menerima tangisan dua anaknya. Jujur demi apa pun segala upaya akan dirinya lakukan agar pulang. Namun, rasanya mustahil akibat pihak DC tidak memperbolehkan pergi. Aziz harus sabar sedikit saja.
Khumaira hanya bisa menangis dalam diam sembari memberikan usapan lembut di kepala dua anaknya. Hatinya tambah ngilu ketika Mumtaaz meraung keras dalam dekapannya. Ya Allah, apa bisa duka ini cepat berlalu agar pelangi kelas hadir. Harapan Khumaira singkat yaitu melihat anak-anaknya tahan menunggu kepulangan sang Ayah.
Ridwan dan Mumtaaz memilih mendekap Uminya akibat rasa sakit. Keduanya teramat rindu pada Ayah serta sangat terharu bisa menatap dan mendengar suara Ayah. Mereka tidak bisa lepas sampai akhirnya Umi yang bicara. Ridwan dan Mumtaaz masih betah menangis berusaha mengontrol diri.
Biarkan begini setelah tenang Ridwan dan Mumtaaz akan bicara kembali pada Ayah. Untuk sekarang tidak akibat duka yang mendalam akibat banyak spekulasi. Jika boleh jujur mereka ingin berjumpa sang Ayah secepatnya. Namun, apa daya itu tidak mungkin lantaran Keduanya tidak tahu di mana Ayah berada. Ridwan dan Mumtaaz hanya ingin yang terbaik untuk Ayahnya eks pulang.
"Nak, bagaimana sekolah kalian?" Tanya Aziz setelah setengah jam Ridwan dan Mumtaaz menangis.
"Umz, fans sangat nakal Ayah Riska punya pikiran. Sudah di bilang ngga mau coklat masih di kasih. Benar-benar menjengkelkan," Imel Mumtaaz.
"Alhamdulillah, Kakak juga begitu hanya saja coklat berhenti." Ridwan menyengir polos.
"Wah anak-anak Ayah memang ganteng overdose. Tentu Ayahnya yang paling ganteng maskulin dan tentunya tidak terbantahkan." Aziz terkekeh akibat menulari virus narsis overdose.
"Tentu saja kami sangat tampan tidak terbantahkan!" Kor Ridwan dan Mumtaaz.
"Ha-ha-ha, anak-anakku memang yang terbaik. Ayah ganteng overdose dua anaknya juga tampan tidak terbantahkan."
"Hahahaha, kita menang ganteng pangeran paling tampan overdose."
Khumaira memijat pangkal hidung yang berdenyut. Ya Allah, jika tiga orang berada di ruangan runtuh sudah dirinya akibat kenarsisan tiada Tara. Syukur saja ketiga prianya tampan tidak terbantahkan sesuai fakta. Jika tidak sudah di tabok banyak orang akibat sikap anehnya. Walau begitu jujur saja Khumaira sangat rindu saat-saat Suami dan dua anaknya kambuh gila.
Aziz tertawa keras mendengar kenarsisan dua anaknya. Bahkan dia paling narsis sehingga adu kenarsisan tingkat Negara. Rasanya teduh sekali melihat tawa dua anaknya telah tertawa keras akibat kenarsisan. Setidaknya rasa rindu ini terbayar melihat tawa merdu anak-anak. Aziz bersyukur bisa melihat anaknya yang telah tumbuh mewarisi gen gilanya.
Ridwan dan Mumtaaz tertawa riang setelah lama padam. Anak-anak ini begitu bahagia akhirnya bisa bicara pada Ayah mereka. Tawa indah yang selalu dirindukan keduanya telah terlihat. Mereka bersyukur Ayah telah datang walau dalam keadaan kurang baik-baik saja. Ridwan dan Mumtaaz akan mengenang hari ini karena bisa tertawa bebas lagi berkat Ayah tersayang.
"Ayah, memang paling ganteng, tapi akan kalah saing kelak. Karena Dedek adalah pangeran tertampan di Dunia!"
"Apa ha? Kakak yang paling ganteng. Dedek tahu Kakak lebih ganteng!"
"Apa sih? Pokoknya Dedek yang paling ganteng!"
"Sudah jangan bertengkar karena dia anak Ayah yang paling ganteng tidak terbantahkan."
"Itu baru benar, ngomong-ngomong Ayah kapan pulang?"
Aziz terdiam mendengar pertanyaan Mumtaaz yang lugu. Kapan pulang? Apa sanggup ia bicara masih satu setengah tahun lagi? Kelu rasanya sampai dirinya ingin menangis saja. Tidak tega menghancurkan hati rapuh anaknya. Namun, inilah takdir yang harus ia tempuh demi mencapai segala kebahagiaan. Aziz akan berjuang keras memendam duka demi Ridwan dan Mumtaaz.
Khumaira terdiam sepi mendengar pertanyaan Mumtaaz. Tidak tega rasanya tahu ekspresi pedih dalam wajah anaknya akibat duka. Anaknya masihlah polos belum punya rasa sabar yang bagus. Dirinya takut jikalau putranya terluka akan sebuah harapan. Khumaira takut Mumtaaz sedih jikalau tahu Ayah akan pulang masih sanggatlah lama.
"Secepatnya Ayah akan pulang, jangan khawatir," jawab Aziz sedikit bergetar.
"Bohong, Ayah hanya berbohong," cicit Mumtaaz.
"Ayah tidak bohong, Nak."
"Dedek mau Ayah beri kepastian kapan, pulang?!"
"Baiklah Ayah pulang satu setengah tahun lagi."
Mumtaaz dan Ridwan menunduk dalam menyembunyikan perih. Satu setengah tahun itu waktu sangat lama. Ya Allah kenapa bisa selama itu Ayahnya pulang? Mereka sangat sedih jika ingat orang tuanya sudah lama pergi dan kini harus menunggu lagi. Apa tidak boleh dua anak ini egois walau sesaat saja? Mumtaaz dan Ridwan hanya ingin kedatangan Ayah tidak kurang tidak lebih.
Aziz dan Khumaira merasa sedih melihat dua anaknya menunduk. Apa bisa mereka menunggu walau agak lama? Kini keduanya berharap anak-anak tidak tertekan menunggu lama. Mereka tidak sanggup jika melihat Ridwan dan Mumtaaz bersedih. Oleh sebab itu Aziz dan Khumaira akan mencari cara menerbitkan senyum kedua anaknya.
"Anak-anakku, dengarkan Ayah bicara walau sesaat."
"Ayah terlalu lama."
"Ayah paham, Nak. Dengar jika Ayah pulang sekarang maka konsekuensi yaitu Ayah akan lama pulang akibat dalam penjara. Insya Allah, kita akan segera berkumpul dan tidak akan terpisahkan. Selagi Ayah belum pulang anak-anak harus bisa menjaga Umi dan Dedek FaaFaa. Ayah sangat mencintai kalian dan ingatlah sayang Ayah serta rindu ini akan selalu membuncah. Tunggu kepulangan, Ayah!"
"Aamiin ya Rabb, Insya Allah kami akan menjaga Umi dan Dedek FaaFaa sepenuh hati. Kami juga sangat mencintai Ayah. Kami tunggu sampai Ayah kembali!"
Cut ....!!!!
Bagaimana perasaan kalian membaca chapter **ini?
Maaf ya baru bisa **update hari ini dan belum bisa pulangkan Ayah.
Maaf belum tak koreksi jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.
Bonus picture Ayah, Umi, Kakak Ridwan, Kakak Mumtaaz dan Dedek FaaFaa!
Ayah makin dewasa say kan ngga ada Umi jadi tampang kurang bisa dikendalikan. Tetap ganteng kok Ayah.
Ummi kapan jeleknya? Makin dewasa makin cantik ya, Ummi. Pantas dua cogan cinta banget sama Ummi.
Hayo Kakak Ridwan jangan natap begitu takut semua jatuh cinta. Jadi gemes pada Kakak gede yang overdose ganteng.
Dedek Mumtaaz lewat dulu, habis bangun tidur di suruh foto. Tetap ganteng Dedek ganteng walau muka tengilnya dominan.
Boneka cantik yang akan jadi cahaya keteduhan bayi keluarga narsis. Dedek FaaFaa tersayang yang cantiknya memukau.
See you later, Rosever.