Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Takdir Allah!



...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....


...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....


...Happy reading Guys!...


.......**~'~**.......


Apa yang lebih indah dari takdir yang Allah berikan?


Apa yang akan kamu lakukan jika kehilangan orang paling dicintai?


Apa bisa bertahan jika orang yang kamu cintai itu telah kembali ke Rahmatullah?


Bisakah tidak menangis?


Jika Allah telah menghendaki niscaya terjadi apa pun. Jika Allah telah menghendaki niscaya apa pun itu harus diterima hamba-Nya. Sebagai hamba sudah sewajarnya menyiapkan diri menerima takdir setiap waktunya.


Percayalah Allah sangat mencintai hamba-Nya. Terlebih sewaktu Allah memberikan cobaan dan rintangan cukup berat dan kalian harus tahu artinya. Jika Allah tidak mencintai hamba-Nya maka selalu membuat orang itu damai nan nyaman seolah hidup mulia tanpa hambatan.


Namun, jika Allah cinta maka menunjukkan dengan cara memberi cobaan. Dalam cobaan itu kalian akan memetik hikmahnya. Saat orang dilanda musibah atau dalam titik terendah maka selalu mengingat Allah.


Allah menegur hamba-Nya dengan cara berbeda. Jika kamu sabar, ikhlas, terus berikhtiar, tawakal dan selalu melibatkan sesuatu atas nama Allah maka masalahmu perlahan terkikis. Ada jalan di setiap masalah maka jangan mengeluh.


Itu yang terjadi pada Aziz sekeluarga besarnya. Dia terlihat sangat menyedihkan setelah terbangun dari pingsan. Kemudian ia ingat anaknya yang ikut serta dalam kecelakaan maut itu. Aziz mencari ponsel yang tergeletak di nakas.


Tanpa buang waktu Aziz hendak menelepon polisi mengenai kabar terkini. Namun, sebelum ia memanggil Azzam terlebih dahulu memanggilnya. Tentu saja dia diam dengan pandangan kosong. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Masnya di waktu genting? Dan Aziz baru sadar di ruangan ini hanya sendiri tanpa ada seseorang.


Sedangkan Azzam ingat kejadian enam jam lalu. Tepatnya sewaktu Aziz tiba-tiba pingsan lalu di periksa Dojter. Saat sedang menunggu tiba-tiba ponsel Adiknya berdering. Tentu Azzam yang panik sekaligus penasaran mengangkat panggilan. Dan alangkah terkejut sewaktu polisi menjabarkan semua. Tubuh Azzam lemas dan semua tragedi masa lalu membuat pusing.


Tanpa mempedulikan keadaan Azzam meminta para polisi membawa ke-dua Adiknya pulang. Namun, ia ingat ada yang janggal karena hanya dua orang, otomatis Zaviyar tidak ada. Sontak saja dia langsung meminta mencari keponakannya. Azzam jadi khawatir sekaligus


Dan sampai sekarang Zaviyar tidak ditemukan. Lalu Bibah dan Khalid sudah sampai di rumah dan semua belanjaan juga sampai di rumah. Semua orang yang menjaga Ridwan memutuskan pulang untuk melihat almarhum Bibah dan Khalid. Sedangkan di rumah sakit Aziz sendiri tanpa yang menemani.


"Mas, ada apa? Kenapa cuma kalian? Em, Mas Azzam dan Mas Nakhwan sebenernya ada apa?" Tanya Aziz setelah minum air putih.


"Tidak, sekarang bagaimana keadaan, Tole?" Tanya Nakhwan seraya mengusap lengan atas Aziz.


"Sebenarnya ada apa ini?" Panik Aziz.


"Tole, jangan panik karena kamu belum sehat betul. Istirahat dulu jangan banyak pikiran," tutur Azzam dengan sayang mengusap pipi Aziz.


"Mas, ada apa? Tadi aku mimpi polisi menghubungi Aziz. Mereka bilang bahwa Nduk Bibah dan Mas Khalid sudah ditemukan. Namun, mereka berdua telah tiada. Sebenarnya apa yang terjadi? Bukannya ini mimpi? Namun, kenapa begitu nyata?" Cerita Aziz membuat Azzam dan Nakhwan bungkam.


"Ini mimpi atau nyata, Mas? Sepertinya mimpi karena ya itu tidak mungkin terjadi," tambah Aziz.


"Tambahkan hatimu, Le," bisik mereka.


"Maksudnya, Mas?" Todong Aziz.


"Kamu sudah kuat bukan? Jika belum kita menginap di sini," sahut Azzam tanpa menjawab.


"Alhamdulillah sudah, Mas. Kita pulang saja tidak usah menginap. Intinya Aziz, mau pulang saja. Lah kenapa sudah jam tujuh malam? Berapa lama aku di sini? Lalu yang lain mana?" Tanya Aziz beruntun.


"Baiklah, Mas panggilkan Dokter dulu," jawab Nakhwan seolah mengabaikan semua pertanyaan Aziz.


Aziz bingung melihat tingkah dua Masya terkesan aneh. Dia hanya diam seolah ingin mendengar kejujuran. Sampai ia melihat Dokter dan perawat masuk. Sedangkan dua Masnya keluar ruangan. Di sini Aziz bungkam baru setelah itu menatap luar.


Sedangkan Azzam dan Nakhwan duduk di kursi tunggu seraya menatap jauh. Mereka mengingat kejadian lima jam lalu setelah almarhum Bibah dan Khalid dinyatakan meninggal dalam kecelakaan. Setelah semua itu jasad Adik dan iparnya di antar ke rumah.


...Flashback lima jam lalu!...


Khumaira yang sedang menyuapi Faakhira berusaha tenang. Antah kenapa perasaan campur aduk atas semua yang terjadi. Bahkan ia sering kali melakukan kesalahan fatal yaitu saat masak jadi gosong. Khumaira tentu saja terkejut lebih lagi pikiran terus tertuju pada Suami, anak dan ipar.


Di dalam rumah mereka saling diam seolah menunggu. Sampai mereka melihat Azzam, Nakhwan, Najah, Ezhar (Suami Najah), Gaishan (anak Nakhwan), Jahmal (Suami Hazza) dan Ridwan. Lalu di mana Aziz? Semua orang bingung atas ekskresi sendu mereka.


Khumaira, Mumtaaz dan Faakhira sontak berdiri kemudian menghampiri mereka. Setelah dekat Umi langsung mendekap Ridwan sembari mengatakan banyak pertanyaan. Sedangkan Mumtaaz dan Faakhira ikut mendekap Ridwan serta Umi.


Ridwan yang sadar keistimewaan ada berusaha mencari keberadaan Zaviyar. Namun, dari sekarang belum menemukan tanda-tanda arwah Adiknya. Lalu dimana keberadaan Adiknya? Dari pada pusing Ridwan memilih mendekap Umi.


Jujur saja Ridwan histeris mengetahui fakta menyakitkan tadi. Dia sangat sedih mendengar Paman dan Bibinya mengalami kecelakaan berakhir meninggal dunia. Apa lagi Adiknya hilang tentu membuatnya shock berat. Ridwan juga harus bertahan dalam dekapan Abi dan Pakdenya.


Azzam hanya diam begitu juga yang lainnya. Pada akhirnya Azzam, Nakhwan dan Najah berlari menghampiri kedua orang tuanya. Mereka menangis sejadi-jadinya seolah melupakan umur. Ketiganya terus menangis atas kepiluan hati.


"Di mana Pamanmu, Le?" Tanya Khumaira pada Gaishan (jujur aku tidak tahu nama anak Gus Nakhwan, kalau tahu beritahu).


"I-itu, Bini sebenarnya Paman ... Paman ...." Gaishan merasa gugup menjawab pertanyaan Bibinya.


"Le, Bibi mohon di mana, Pamanmu?" Pinta Khumaira.


"Mas Aziz, ada di rumah sakit, Mbak," jawab Ezhar.


"Maksudnya, Mas?" Tanya Khumaira seraya menatap penuh selidik pada Adik iparnya nih lebih tua darinya.


"Mas Aziz, pingsan Mbak," lirih Ezhar.


"Pingsan? Suamiku kenapa? Ada apa dengan Masku? Apa Suamiku kenapa-napa? Tole, katakan pada Umi, Ayahmu kenapa?' panik Khumaira begitu kalut.


"Ayah, huhuhu Umi huhuhuhu," tangis Ridwan seketika.


"Tole, katakanlah dengan benar, Nak. Ada apa dengan Ayahmu? Kakak gede jawab Umi, ada apa dengan Ayah? Kenapa kalian tukaran? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Khumaira beruntun.


"Ayah tidak sanggup menerima pemberitahuan dari polisi, Umi. Ayah , huhuhu huwaaa huhuhuhu, Umi," tangis Ridwan.


"Tenang Kakak, jangan panik ada Umi. Tolong jangan menangis, Umi mohon. Lalu kenapa bisa Ayah mendapat panggilan dari polisi? Sebenernya apa yang terjadi?" Khumaira berusaha menenagkan, tetapi tetap saja mengajukkan pertanyaan.


"Huhuhuhu huhuhuhu huhuhuhu," Raung Ridwan tidak sanggup mengatakan kata-kata yang akan menyakiti Uminya.


"Kakak tenanglah ada kami," punta Mumtaaz sembari mengusap punggung Ridwan.


"Jangan menangis Kak, ada kami di sini," tutur Faakhira dengan lembut menepuk-nepuk punggung Ridwan.


"Astaghfirullah astaghfirullahal'adzim, yaa Allah. Ini sakit sekali huhuhu, Umi. Ampun ini sakit sekali huhuhu," tangis Ridwan.


"Astaghfirullahal'adzim, siapa yang menyakiti Kakak? Apa Kakak ada Kendal? Apa Kakak skit lagi? Jangan takut Kak karena Ayah baik-baik saja."


Ridwan langsung jatuh di lantai seraya menangis meraung-raung. Dia memukuli lantai lalu tangannya di tahan oleh kedua Adiknya. Sampai ia mendapat dekapan erat Uminya. Ridwan yang tadi berusaha tenang walau menangis dalam dekapan Abinya.


Sewaktu di rumah Ridwan tidak bisa mengendalikan diri. Dia terus meraung-raung histeris atas semua yang terjadi. Ia tidak peduli yang jelas begitu terpukul dengan kejadian saat ini. Ridwan tidak kuat menahan derita atas takdir.


Sekuat-kuatnya orang beriman, sebesar apa pun iman serta keteguhannya jika kehilangan orang dikasihi terlebih pergi secara tragis pastilah terluka sekali. Begitu yang terjadi pada Azzam, Nakhwan, Najah terus meraung-raung dalam dekapan kedua orang tuanya. Mereka begitu terpukul atas peristiwa paling mengenaskan sepanjang sejarah.


Abah dan Ummi hanya bisa menenangkan anak-anaknya. Mereka begitu khawatir atas semua yang terjadi. Kenapa tiga anaknya dikenal pandai menyembunyikan duka dan selalu tabah bisa meraung-raung begini? Apa lagi mendengar Ridwan ikut meraung menambah kesan menyesakkan.


Setelah menerima sedikit ketenangan akhirnya Azzam Nakhwan dan Najah mendongak. Mereka meraih tangan rapuh kedua orang tuanya lalu diciumi di iringi air mata. Ketiganya tidak mampu mengatakan apa-apa selain menangis terisak-isak.


Sementara Mahira hanya bisa diam bingung atas semuanya. Dia hanya bisa diam sedangkan menantu yang kain pun demikian, kecuali Ezhar dan Jahmal. Mahira yang jelas hanya bisa melihat serta berusaha menenangkan Emran ikut menangis.


Sedangkan Hazza dan Azmi tidak tahu apa-apa merasa begitu miris. Sebenarnya apa yang terjadi? Mereka hanya bisa menatap bingung mau mendekat setelah Nakhwan memerintahkan dekat. Dan setelah itu keduanya menerima dekapan ketiga Kakaknya.


"Tolong rapikan ruang tamu. Tolong siapkan diri untuk melakukan doa bersama," ucap Nakhwan setelah berhasil mengendalikan diri.


"Maksudnya apa, Le?" Tanya Abah dan Ummi.


"Sebelum saya jawab tolong Abah dan Ummi sabar. Tole Ghassan, Nduk Jadda dan Nduk Uzza kemari, Nak!" Pinta Nakhwan.


"...." Ghassan, Jadda dan Izza mendekat.


"Anak-anakku yang manis," ucap Azzam, Nakhwan dan Najah spontanitas mendekap tiga keponakannya.


"Eh?" Kaget mereka bertiga.


"Kami akan selalu mencintai kalian dan pastinya membiayai sekolah kalian. Kalian tidak usah cemas kekurangan kasih sayang, kami akan berikan semuanya," tutur Azzam sembari mengusap wajah ketiga keponakannya.


"Raih cita-cita kalian, Nak. Apa pun yang kalian minta pasti kami turuti. Tolong jangan menangis, kami selalu ada untuk kalian," sambung Najah ikut mengusap wajah ketiga keponakannya.


"Ghassan mohon sebenarnya ada apa?" Pinta Ghassan.


"Sebentar lagi jenazah akan di antar polisi. Tolong segera siapkan tempat untuk kedua Adikku!" Perintah Nakhwan berusaha tenang.


"Jenazah? Maksudnya apa ini, Mas?" Tanya Khumaira yang sudah punya pikiran buruk.


"Nduk ...." Nakhwan berusaha menjawab tapi gagal.


"Jenazah siapa, Paman?" Tanya Ghassan, Jadda dan Uzza.


Khumaira berdiri menghampiri Abah-Ummi serta lima iparnya dan tiga keponakannya. Dia berusaha tenang sebelum menatap langsung mata Nakhwan minta penjelasan. Karena Kakak ipar memutuskan berpaling ia memilih meraih Najah. Sungguh Khumaira tidak kuat menerima ini semua.


Nakhwan hanya bisa menunduk sembari mendekap ketiga keponakannya. Ia rasanya tidak sanggup mengatakan bahwa Bibah dan Khalid telah tiada. Dan Zaviyar hilang sehingga semuanya terasa menyesakan. Nakhwan hanya mampu berbuat begini selebihnya merasa begitu terluka.


Najah sendiri berusaha tenang akibat rasa terluka. Dia tidak sanggup membayangkan jika Khumaira tahu apa yang terjadi. Ia hanya bisa mendekap iparnya. Najah harap semoga Khumaira tidak terpuruk seperti 11 tahun silam.


Nenek serta yang lain bingung mendengar kata jenazah sekaligus dua Adik diucapkan Nakhwan. Sebenarnya kenapa? Apa yang terjadi? Sungguh mereka semua terasa pusing dan menuruti semua.


Sedangkan Azzam tidak tega jikalau memberitahu Khumaira. Rasanya tidak sanggup jika mantan Istrinya tahu apa yang terjadi. Dia berusaha tenang walau nyatanya tidak sekuat itu. Azzam hanya mampu mendekap kedua orang tuanya mencari kekuatan.


"Sekarang katakan padaku, Mbak," pinta Khumaira pada Najah.


"...." Najah masih tidak sanggup mengatakan semua.


"Tolong katakan semua apa yang terjadi? Mas Nakhwan tolong katakan apa maksudnya? Siapa jenazah itu? Dia Adik siapa? Tolong jangan buat saya begini. Lalu kenapa Masku sampai begitu?" Todong Khumaira.


"...." Nakhwan dan Najah hanya bisa menangis karena tak sanggup mengatakan kebenaran.


"Kalian tidak bisa menjawab? Mas Azzam, bisakah menjawab pertanyaan saya?" Pinta Khumaira tanpa sadar langsung menggenggam lengan kekar Azzam terbalut kemeja.


"Nduk," cicit Azzam berpaling tidak kuasa melihat Khumaira begini.


"Katakan Mas, hiks huhuhu tolong katakan semua huhuhuhu," tangis Khumaira.


"Mas mohon jangan menangis, jika Nduk berhenti menangis Mas akan jawab," sahut Azzam karena begitu lemah melihat Khumaira menangis.


"Saya akan berhenti menangis jika diberitahu," baka Khumaira.


"Sebenarnya Nduk Bibah, Mas Khalid dan Tole Zavi mengalami kecelakaan. Nduk Bibah dan Mas Khalid meninggal di tempat. Sedangkan Tole Zavi ... Tole Zavi, hilang dan masih dilakukan pencarian. Tole Aziz yang tidak kuat mendengar pemberitahuan dari polisi pingsan," terang Azzam berhasil membuat semua orang shock luar biasa.


"Tidak ....!" Histeris Khumaira sebelum kesadaran merenggut segalanya.


Melihat Khumaira pingsan tanpa peduli Azzam mengangkatnya. Dia Kakak ipar walau sebenarnya dulu Suami. Ia paling tidak bisa melihat wanitanya terluka atau sakit. Dan sekarang masa lalunya pingsan akibat shock berat. Azzam tidak ada maksud apa-apa selain menolong Khumaira.


Sedangkan Mahira yang shock berat tambah shock melihat Azzam menggendong Khumaira. Namun, dia paham Suaminya tidak ada maksud terselubung. Ia hanya diam seraya berusaha tegar atas takdir. Mahira harap semoga saja Azzam segera kembali ke sini.


Bebek jatuh pingsan akibat penyakit sekaligus rasa shock. Tentu anak-anak dan yang lain panik atas keadaan Nenek. Sedangkan para wanita berusaha tegar wau mengerjakan semua diiringi air mata.


Untuk Abah dan Ummi masih diam, tetapi air mata terus mengucur deras. Karena tidak tahan Umi pingsan di susul Jadda dan Uzza. Mereka begitu shock berat sehingga alam bawah sadar menggantikan posisi.


Sementara Ghassan terus meraung-raung atas kepergian kedua orang tuanya. Dan bersyukur ada Paman dan Bibi, sementara pria yang lain menggotong Ummi ke kamar. Semua berubah menjadi lautan air mata atas kabar duka.


Sedangkan Mumtaaz, Faakhira mendekap erat Ridwan seraya menangis histeris. Kedua orang tua mereka pingsan sedangkan mereka hanya bisa terus menangis seorang diri. Dan syukur Alhamdulillah ada Budhe Mahira berusaha menenangkan mereka.


Semua ini telah menjadi suratan takdir yang harus diterima. Terlebih sewaktu aparat kepolisian mengantar jenazah Khalid dan Bibah. Semua histeris dan mereka terus memohon supaya Zaviyar juga cepat ditemukan.


Lalu pemakaman akan dilakukan besok. Dan semoga besok Zaviyar ditemukan. Mereka panik sekaligus begitu terluka atas semua tragedi. Air mata terus berlinang membuat hati terenyuh.


...Flashback off!...


Aziz menyengit melihat bendera kuning ada di depan rumah. Kemudian banyak tamu yang hadir, sebenarnya apa yang terjadi? Aziz menatap Azzam dan Nakhwan meminta penjelasan.


Namun, mereka hanya diam seraya menuntun Aziz kedalam. Bagi Nakhwan dan Azzam rasanya sangat memilukan atas semua yang terjadi. Mereka harus tenang terlebih ketika Aziz sudah masuk dalam.


Aziz menatap orang orang yang ada di dalam rumah. Kemudian matanya tertuju pada dua orang di tutup kain. Sedangkan yang lain membaca tahlil berjamaah. Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa dia jenazah itu? Aziz kembali meminta penjelasan lewat mata tetapi selalu tertolak.


Khumaira bagai patung berada di samping Umminya. Dia terus menangis sembari melantunkan ayat-ayat surah Yasin. Ia juga mendekap Faakhira tidak kunjung berhenti menangis. Sementara Ridwan dan Mumtaaz ada di barisan pria dan sekarang di dekap Azmi.


Sampai Abah, Umi dan yang lainnya melihat kedatangan Nakhwan, Azzam dan Aziz. Mereka lega sekaligus sedih melihat pria termuda. Sampai akhirnya Ridwan dan Mumtaaz melihat Ayahnya. Spontan keduanya berlari guna mendekap erat Ayahnya.


Khumaira langsung menatap depan tepat melihat Aziz. Dia dengan sayang mencium Faakhira lalu berdiri untuk menghampiri Suaminya. Ia berjalan gontai menuju Suaminya yang linglung. Khumaira tidak sanggup mengatakan apa-apa selain terus berjalan mendekat.


Melihat dua anaknya terus meraung-raung tentu membuat Aziz panik. Dia tenangkan dua anaknya seraya menciumi puncak kepala anak-anaknya. Ia juga tidak segan memberikan ciuman sayang di pipi. Aziz masih bingung lantaran Ridwan dan Mumtaaz menangis histeris.


Di rasa anaknya sudah memberi ruang Khumaira menatap Aziz sendu. Aziz bingung sekaligus tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Istrinya? Sam sampai ia terima dekapan erat serta tangisan menyayat hati. Aziz masih lemah otomatis memilih duduk seraya mendekap erat Khumaira.


"Ada apa, Dek?"


"Mas huhuhuhu huhuhuhu huhuhuhu."


"Tenang Dek, ada Mas. Jangan menangis Istriku ada Mas."


"Huhuhuhu huhuhuhu."


"Istighfar Dek, lihat banyak orang jangan menangis," pinta Aziz.


"Huhuhuhu huhuhuhu huhuhuhu, katakan pada Adek ini mimpi, Mas."


"Ini nyata, Dek. Tolong kuatkan diri, Dek. Tunggu sebenarnya siapa mereka, Dek? Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Mas, huhuhu huhuhu yaa Allah ini menyakiti hati. Astaghfirullah astaghfirullahal'adzim, ini sangat-sangat menyakitkan. Mas, yang sabar."


"Katakan, Dek. Jangan bertele-tele, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Mbak Bibah dan Mas Khalid mengalami kecelakaan maut, Mas. Mereka tiada di tempat sedangkan anak kita, Tole Zavi. Huhuhuhu huhuhuhu huhuhuhu yaa Rabb, kuatkan hamba-Mu yang tidak berdaya ini. Mas, Tole ... Tole Zavi, hilang.'


"Bohong! Dek, jangan asal bicara. Ini semua bohong dan ini pasti prank. TOLONG JANGAN BERBOHONG!"


"Mas, ini nyata."


"Dek, ini bohong. Ini bohong, jangan percaya. Adel ingat bukan 11 tahun silam apa yang terjadi? Ya itu pasti bohong mereka masih hidup. Anak kita akan kembali."


"Mas, astaghfirullahal'adzim."


Aziz melepas pelukan Khumaira baru setelah itu menghampiri dua jenazah. Tano sungkan ia buka penutup wajah dua jenazah. Alangkah terkejut dia melihat wajah Adik dan iparnya. Ia beringsut mundur melihat semua. Aziz yang lemah kembali pada Khumaira seraya tertawa penuh kesedihan.


Khumaira yang paham langsung mendekap erat Aziz. Dia ikut menangis sewaktu Suaminya menangis bagai anak kecil. Ia hanya bisa menangis mendengar Suaminya terus menyangkal. Khumaira hanya bisa menenangkan walau sejatinya butuh penenang.


Ridwan-Mumtaaz-Faakhira ikut mendekap erat kedua orang tuanya. Mereka menangis histeris menerima takdir yang Allah berikan. Ketiganya berusaha tenang walau nyatanya begitu terluka. Ridwan-Mumtaaz-Faakhira hanya mampu terus menangis bersama mereka.


Sedangkan Ghassan, Jadda dan Uzza terus menerus menangis justru menerima semuanya. Mereka tidak kuasa menahan tangis histeris akibat Paman dan Bibinya. Bahkan semua orang ikut menangis atas semua yang terjadi.


...Cut....


...Maaf belum tak benerin, jadi kalau banyak typo atau segala kesalahan dalam penulisan harap maklum ...


...Bagaimana menurut kalian Chap ini?...


...Semoga kalian baik-baik saja....


...Salam cinta Rose....


...30_11_20...


...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....