
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
Warning
18+!!!!
Harap Dedek gemes jangan baca area terlarang!
Aku sudah jelaskan tolong taati ok!
****/Happy Reading, Baby**
At Pagerharjo, Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta - 21:10 PM!
Aziz baru selesai mengobrol bersama Bahri seputar kesehatannya. Kemarin ia dan Istrinya pulang ke rumah setelah 7 minggu di Lirboyo. Saat pulang kedua Putranya langsung merengkuh erat tubuhnya sembari merengek kangen. Tentu saja Aziz begitu bahagia akhirnya bisa mendekap erat Ridwan dan Mumtaaz setelah pisah lama.
Untuk Khumaira juga di serbu Ridwan dan Mumtaaz yang sangat merindukan dirinya. Kedua Putranya sangat manis ketika rindu berat. Sungguh ia juga sangat merindukan kedua anak kesayangannya. Dua pangeran tampan yang selalu memberikan kasih sayang. Lalu si kecil Faakhira juga jadi bahan rebutan Ridwan dan Mumtaaz karena terlalu kangen.
Saat masuk kamar Aziz melihat Khumaira sedang menyisir rambut panjangnya. Dia mengunci pintu agar tidak terjadi hal memalukan seperti beberapa hari yang lalu. Masih ingat jelas bagaimana Hazza masuk kamar dimana dirinya sedang mencumbu leher Istrinya. Aziz jadi malu sendiri jika ingat pintu tidak tertutup rapi.
Untuk ketiga anak mereka sudah berada di Negeri dongeng. Aziz dan Khumaira tadi yang menidurkan tiga anak berwajah rupawan. Bisa di bilang ini malam pertama mereka setelah 3 tahun lebih terpisah. Jadi siap-siap untuk buka puasa setelah puasa sangat lama.
Khumaira menengok ke arah Aziz seraya tersenyum manis. Dia menegang tatkala Suaminya merengkuh tubuhnya dari belakang. Bisa di lihat lewat cermin betapa tampan Suaminya saat ini. Rambut ikal berantakan dengan tiga kancing kemeja dari atas terbuka. Khumaira meneguk saliva merasakan Aziz begitu sensual menggoda iman.
Tubuh itu kembali berisi tidak sekurus pertama kali bertemu setelah 3 tahun berpisah. Kini Aziz kembali ke asal yaitu tubuh kekar dengan perawakan atletis. Tangan nakalnya dengan jahil mengerjai dada wanitanya. Lihat Istrnya hanya memakai kemejanya. Paha mulus itu membuat Aziz terangsang ingin menyentuh Khumaira sampai puas.
"Wudhu dulu yuk, Mas. Doa dulu baru itu bisa di bilang ini malam pertama kita setelah sekian lama tidak bertemu," ucap Khumaira sembari menahan tangan besar Aziz.
"Boleh, Mas wudhu dulu. Adek juga ayo!"
"Tolong jepit rambut, Adek."
"Manjanya Istriku, tetapi tidak apa Mas suka."
Setelah mengikat rambut Istrinya ia langsung menggendong tubuh sang Istri ke kamar mandi. Mereka melakukan ritual membersihkan diri lalu wudhu. Usai wudhu serta bersih-bersih keduanya masuk kamar. Saat di depan kamar mandi Aziz kembalimenggendong Khumaira menuju ranjang.
Tatapan mata mereka saling mengunci penuh arti. Aziz dan Khumaira saling pandang penuh irama cinta. Hingga akhirnya mereka sampai di samping ranjang. Merek tersenyum menikmati kebersamaan sebelum ritual terjadi. Aziz dan Khumaira begitu senang bisa menghabiskan waktu malam ini.
Aziz merebahkan Khumaira hati-hati di ranjang. Dengan sayang ia kecup kening Istrinya cukup lama. Usai itu tangan besarnya merambat ke belakang kepala Istrinya untuk melepas kuncir rambut. Sungguh cantik Istrinya bagai bidadari surga yang di kirim Allah untuknya.
Senyum di keduanya tampak haru menyelimuti relung hati. Pasangan Suami Istri ini saling menatap penuh cinta serta kerinduan membludak. Hingga sebuah kecupan di sudut bibir Khumaira terima dari Aziz. Usai mencium sudut bibir Aziz mencium punggung tangan Khumaira.
"Ayo kita berdoa dan semoga saja ada Dedek baru di antara kita."
"Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah."
"Mari berdoa!"
"Bismillah, Allahumma jannibnaa syaithana wa jannibis syaithana maa Razaqtanaa!"
Aziz dan Khumaira melempar senyum teduh ketika doa selesai. Keduanya saling melempar tatapan teduh penuh cinta. Hingga sebuah kecupan ringan mereka lakukan. Tidak ada ketergesaan bahkan ini murni pembukaan cinta begitu membara.
Aziz menindih tubuh mungil Khumaira. Lengan kirinya ia topang untuk bantal Istrinya, sedangkan tangan kanannya bertengger manis di sisi kiri rahang Istrinya. Dia ******* bibir tebal sang Istri penuh irama. Tubuhnya semakin menempel pada tubuh sang Istri. Aziz tidak kuasa meraup bibir Khumaira penuh sensasi.
Khumaira mendorong pelan dada Aziz supaya menghentikan ciuman. Dia butuh bernapas karena ciuman panas itu sungguh memabukan. Saat Suaminya menarik tangan yang menjadi batal dirinya ia merasa sebuah debaran kuat. Sudah lama sekali tubuhnya menginginkan sentuhan Suaminya. Sudah lama tubuhnya menginginkan pemilik aslinya. Kini Khumaira dapatkan sentuhan Aziz yang sangat dirindukan.
Aziz mencium leher jenjang Khumaira sembari memberikan tanda. Ia gigit kecil leher Istrinya sedikit menggoda dengan remasan pinggul. Dia tersenyum saat Istrinya mendongak agar mempermudah aksinya. Kalau begini Aziz semakin gencar mencumbu Khumaira agar tidak berhenti.
Kaki Khumaira ingin menutup, tetapi terhenti saat kaki kanan Suaminya menyelip di antara kedua kakinya. Lenguhan terus keluar akibat tubuhnya semakin dijamah sang Suami. Sentuhan sensual yang sangat dirindu Khumaira telah dirasakan. Akhirnya dia kembali pada sang pemilik seutuhnya. Aziz-nya telah kembali dengan penuh irama cinta.
"Buka ya, Dek," bisik Aziz sembari menciumi telinga Khumaira.
"Umh, i-iya buka saja, Mas," sahut Khumaira di sela racauan.
Aziz beranjak dari atas Khumaira guna melepas pakaian. Dia tarik pelan tangan mungil Istrinya agar duduk di tepi ranjang. Jari kekarnya perlahan tetapi pasti melepas setiap kancing kemeja. Setelah lepas ia buang pakaiannya kesembarang arah. Tubuh Aziz terasa panas melihat tubuh sintal Khumaira sudah terekspos sempurna.
Khumaira tersenyum saat mata Suaminya tertuju pada buah dadanya masih tertutup bra. Dia sedikit membusungkan dada supaya menggoda Suaminya semakin intim. Bahkan kenakalan Khumaira tidak sampai situ pada Aziz. Ia meraih kancing kemeja sang Suami untuk di lepas.
Mata tajam Aziz terpejam menikmati sentuhan Khumaira. Dia menyeringai nakal ketika Istrinya menciumi perut dan dada bidangnya. Sejak kapan Istri pendeknya nakal serta begitu berani? Bahkan tangan nakal Istrinya sudah bertengger manis di celana panjangnya. .
Entah keberanian dari mana Khumaira begitu nakal. Dia mendongak seraya menatap sayu Suaminya. Ia mengulurkan tangan meminta Suaminya untuk menunduk. Benar saja saat Aziz menunduk Khumaira langsung mengalungkan tangan di leher kokoh sang Suami. Bibirnya meraup bibir tebal Suaminya.
Tangan kekar Aziz merengkuh erat Khumaira sembari menggendong ala koala. Dia berjalan ke sofa yang ada di pojok ruangan. Dengan sayang ia rebahkan Khumaira di sofa. Bibirnya masih bergerak sesual. Kini tangannya tidak diam di tautkan ke tangan Istrinya. Perlahan tangan kekarnya terulur untuk mengusap punggung polos sang Istri.
Usapan sensual Khumaira terima di punggung hingga pengait branya terlepas. Dia tidak bisa menahan diri saat tangan besar itu memberikan rangsangan memabukan. Tubuhnya semakin membusung ke depan untuk merapatkan pada Aziz. Napas Khumaira semakin berat ingin lebih.
Pahanya merasa basah dan benar saja Istrinya tampak basah menggoda. Aziz beranjak dari atas Istrinya dan kini matanya begitu memuja tubuh molek sang Istri. Dada itu membusung menggoda ingin di jamah. Apa lagi ekspresi Khumaira tampak menggiurkan iman. Rambut panjang tergerai berantakan dan yang menjadi rangsangan di balik celana dalam warna biru muda itu. Aziz bisa melihat betapa basah di bawah sana akibat ulahnya.
"Mas," panggil Khumaira bernada mendayu.
"Umh Mas," respons Khumaira.
"Iya, begitu Sayangku. Panggil nama Mas, Istriku," pinta Aziz sembari menekan Kepalnya di leher penuh bercak merah Khumaira.
Khumaira pasrah tubuh polos tanpa sehelai benang ulah Suaminya. Kini dirinya tergeletak terlentang di ranjang. Ia sangat malu ketika Aziz menatapnya penuh damba. Tubuhnya terasa panas dingin saat sang Suami begitu intimidasi menatapnya.
Aziz meraih jus mangga milik Ridwan yang tersimpan di kulkas (Aziz ambil tanpa minta izin Putranya). Aziz menumpahkan jus itu ke tubuh Khumaira. Ia bahkan membasahi inti Istrinya pakai jus mangga. Aziz tidak peduli jus mangga ini hasil curian dari putra tampannya. Kalau tahu kena omel Ridwan dari Sabang sampai Merauke alhasil Aziz harus siap telinga.
Khumaira mendongak seraya menutup matanya. Dia merasa gila saat jus itu membasahi tubuh atas dan intinya. Saat ia ingin membuka mata tiba-tiba tubuhnya di jilat oleh Suaminya. Matanya terbuka tertutup menikmati sensai Suaminya.
"Mas Aziz umh ... Mas ah."
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."
Aziz kembali maraup bibir tebal Khumaira penuh irama. Tangan kekarnya terulur untuk mengusap pipi dan menyelipkan rambut di bawah telinga Istrinya. Dia kecup mesra kening Istrinya sangat lama. Hingga akhirnya memberikan ciuman gemas di pipi gembul sang Istri. Sungguh Aziz sangat gemas pada Syafa-nya yang imut.
Khumaira hanya bisa pasrah seraya melenguh menikmati keindahan cinta. Ia hanya bisa berharap semoga saja tidak lekas berhenti kegiatan malam pertama setelah sekian lama terpisah. Sampai titik terdalam dia ingin rasakan dari Suaminya. Khumaira juga berharap semoga saja Aziz segera melabuhkan cinta sampai titik di mana tidak mau berhenti.
"Mas Aziz, umh Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."
Khumaira tersenyum tulus saat Aziz membelai wajahnya. Dia juga mengusap wajah tampan Suaminya penuh cinta. Dia tangkup pipi tirus Aziz kemudian mengecupi seluruh wajah sang Suami. Sungguh dia sangat mencintai Suaminya sepenuh hatimu. Hanya Aziz tempatnya untuk pulang serta tempat sesungguhnya untuk berlabuh. Khumaira begitu cinta sampai rasanya tidak mau berkedip barang sedetik saja agar Suaminya selalu terlihat.
Tangan kekar Aziz terulur untuk membelai lembut wajah Khumaira. Dia menunduk untuk mengecup bibir bengkak Istrinya perlahan. Ia kecup seluruh bagian wajah Istrinya sepenuh hati. Dirinya begitu bahagia bisa bersama Istrinya dalam lindungan Allah. Kini saatnya meraih kenikmatan luar biasa yang selama ini terpendam dalam. Aziz akan membawa Syafa-nya sampai titik penuh cinta.
"Tubuh Adek segala tentang Adek sungguh Mas rindu. Mas sangat merindukan tempat untuk pulang. Di sini Mas akan mendapat kepuasan sesungguhnya. Di sini Mas akan menerima kenikmatan dari Istriku. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."
"Umh, Adek juga rindu semua tentang Mas. Dan membutuhkan pemiliknya untuk meraihnya. Mas umh Adek sangat mencintaimu ugh."
"Umh, Mas juga sangat mencintai Adek."
Khumaira mencengkeram seprai kasar ketika milik Aziz memasukinya. Masih saja sesak bahkan terkesan lebih menggoda akibat lama tidak tersentuh. Di bawah sana dirinya merasa penuh oleh inti Suaminya. Dia melihat bawah saat penyatuan pertama setelah sekian lama berpisah.
Aziz tersenyum saat miliknya sudah masuk sempurna dalam inti Khumaira. Dia merasa terbuai ingin segera menggerakkan pinggul. Sebelum itu ia membawa sang Istri menghadap dirinya. Aziz mengecup bibir Khumaira penuh perasaan.
"Dek, Mas bergerak ya," pinta Aziz terdengar serak penuh gejolak.
"Bergeraklah, Mas," sahut Khumaira.
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Hanya Adek yang Mas pinta dalam setiap doa. Mas sangat mencintai Adek sepenuh hati. Engkau Istriku laksana sinar bulan menerangi gelapnya dunia ketika malam hari. Adek menerangi Mas yang membutuhkan sinar kesejukan setiap hari. Mas sangat mencintai Adek!"
"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah. Begitu pun Adek selalu meminta pada Allah untuk Mas setiap doa. Adek juga sangat mencintai Mas sepenuh hati. Mas laksana Surya yang menerangi bumi tanpa lelah. Begitu pun dengan sinar Mas yang selalu menyinari kelabunya Adek. Adek juga sangat mencintai Mas."
Aziz dan Khumaira tersenyum usai mengatakan cinta penuh sayang. Pada akhirnya mereka bersatu kembali penuh irama cinta. Saling memadu kasih mencapai klimaks menuju bahtera cinta yang besar. Tidak ada kesejukan selain penyatuan bersama. Hingga akhirnya mengalami pelepasan bersama seraya menyeru nama masing-masingnya. Aziz dan Khumaira begitu senang akhirnya bisa klimaks di dalam inti cinta.
Pada akhirnya Aziz dan Khumaira bisa menuntaskan hasrat terpendam selama tiga tahun lebih tiga bulan lewat dua Minggu. Penyatuan pertama yang mereka harapkan menerima anugerah terindah yaitu calon buah hati. Mereka berharap sang Khaliq berkenan menitikkan kembali seorang anak pada mereka. Aziz dan Khumaira berharap semoga di penyatuan kali ini Allah mempercayakan malaikat kecil pada mereka.
"Terima kasih Adek sudah memberikan kebahagiaan malam ini. Mas sangat bahagia menerima buka puasa malam panas. Mas sangat mencintai Adek atas petunjuk-Nya. Mas sangat puas terimakasih Sayangku."
"Sama-sama Mas begitu pun Adek juga sangat bahagia malam ini. Adek juga sangat bahagia akhirnya bisa melabuhkan buka pada Masku. Adek juga sangat mencintai Mas atas petunjuk-Nya. Sama-sama Mas."
"Mau lagi, Dek."
"Eh?"
"Lagi!"
"Mas ... Akhhh!"
Pada akhirnya Aziz dan Khumaira kembali mengulang kegiatan ranjang sepuas mereka. Maklum sudah sangat lama tidak melebur hasrat penuh irama. Kini keduanya ingin memuaskan hasrat sampai titik terdalam. Tidak ada kebahagiaan selain saling menyatu atas semua rasa cinta dan kerinduan menggebu. Aziz dan Khumaira sangat rindu atas irama merdu yang mereka peroleh.
Hingga sampai beberapa tahap ronde akhirnya selesai. Aziz dan Khumaira menutup kegiatan panas dengan mengucap doa setelah jima'. Bahkan setiap kali mengeluarkan mani juga berdoa lalu mengulang lagi. Namun, kini mereka sudah selesai sehingga memutuskan untuk tidur. Sebelum tidur mereka melakukan ciuman kening dan bibir lalu mengucap cinta. Kemudian Aziz dan Khumaira berdoa sebelum tidur di tambah doa ayat kursi, surah Al-fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas.
Cut ....!!!!
Maaf hanya bisa itu yang kutuliskan.
Dan ini chap intim pertama kali di AI 2. Harap maklum karena aku tidak bisa nulis itu di sini. Karena itu aku beranikan diri nulis intim di chap Ini. Semoga tidak mengecewakan!
Sekali lagi jika rancu harap maklum ok! Sayang kalian semua, emuch!
Maklum ketat banget jadi yah harus halus sehalus sutra.
Sekali lagi maafkan Rose belum tak koreksi dan edit jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.
Cinta kalian semua.
I love you Rosever!