Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2- Kehadiran Sang Cahaya Terindah!



Hello Sayangku apa kabar?


I love you, Baby!


Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan!


'•****•'


Khumaria mengalami pendarahan hebat menyebabkan dirinya mendapat penanganan intensif. Banyak Dokter berusaha menghentikan aliran darah yang terus keluar. Apa lagi degup jantung Khumaira semakin lemah.


Saat harapan tinggal harapan Khumaira menunjukkan keadaan yang mulai stabil. Para Dokter bersyukur pasien mereka selamat dari masa kritisnya. Akibat pendarahan hebat itu Khumaira harus mengalami penurunan kestabilan tubuh.


Para Dokter bernapas lega saat pasien menunjukkan kemajuan walau lemah. Mereka merasa sedih saat pasien dinyatakan koma. Mungkin karena tekanan batin dan kelemahan tubuh saat mengandung membuat Khumaira mengalami pendarahan hebat. Lalu berakhir koma tanpa peduli sekitar.


Dokter meminta suster untuk menelepon Bank ASI agar mengirim asi segera. Di luar keluarga Khumaira mengerubungi mereka untuk menanyakan kondisi pasien penuh harapan. Mereka tersenyum agar keluarga pasien tenang. Maka dengan hati-hati Dokter merinci keadaan Khumaira sebaik mungkin.


Setelah mengatakan kondisi Khumaira Dokter dan perawat berlalu begitu saja. Mereka tersenyum melihat keluarga Khumaira tersenyum haru. Namun, duka mereka terkhusus kedua anak kecil membuat mereka sedih. Semoga saja pasien lekas siuman dari koma.


Ridwan dan Mumtaaz merengkuh Sholikhin dan Maryam seraya menangis sesenggukan. Mereka terus menyerukan Umi sampai nada tersendat. Kedua anak tampan ini menangis menanyakan kapan Ayah pulang berulang kali? Hati Ridwan dan Mumtaaz terasa nyeri melihat Khumaira tidak berdaya. Apa lagi tidak ada Ayah dan Abi di sini maka dia anak ini merasa terpuruk.


Hingga akhirnya keduanya tenang ketika Mbah Ukhti dan Mbah Kakung menenangkan. Keduanya terdiam saat Bibi Suster menyerahkan Adik baru. Mata besar kedua anak ini berkedip ingin melihat Adik baru. Karena belum bisa Ridwan dan Mumtaaz akhirnya menurut saja.


Sholikhin menerima bayi mungil nan cantik penuh Kehati-htian. Dengan rasa syukur ia mentahnik cucu perempuannya. Dia berdoa di setiap melakukan ritual mentahnik si manis. Setelah selesai Sholikhin menyerahkan cucunya pada Maryam.


Air mata luruh deras melihat Khumaira terkulai lemah tidak berdaya. Sungguh hati Sholikhin dan Maryam begitu ngilu meliahat Putrinya terkulai lemah. Mereka keluarga Sholikhin berusaha tegar supaya Ridwan dan Mumtaaz tidak menangis.


Keluarga Sholikhin berdiam diri di sofa menunggu asi untuk bayi merah ini. Rasa syukur mereka panjatkan ketika asi datang. Dengan hati-hati Maryam memberikan asi pada cucunya Dnegan cara hati-hati.


Sedikit demi sedikit Maryam membantu cucunya untuk minum asi. Bayi mungil nan cantik itu akhirnya tertidur walau tadinya terus menangis keras. Setelah si kecil tidur Maryam mengusap pipi merah cucunya lalu menciumnya.


Ridwan dan Mumtaaz berebut ingin melihat Dedek bayi. Saat Nenek mereka mendekatkan si kecil sontak Kakak dan Adik berbinar terang. Mereka mengecup pipi Adiknya penuh suka cita. Senyum lebar merekah saat tahu Adik mereka perempuan. Ridwan dan Mumtaaz tentu saja sangat bahagia tahu sang Adik berjenis kelamin perempuan. Dengan begitu keduanya akan selalu menjaga Adiknya.


"Dedek kecil lihat Kakak kecil sangat tampan," ucap Mumtaaz seraya menoel pipi Adiknya.


"Dedek kecil belum bisa merespons, Kakak kecil. Yang jelas yang paling tampan Kakak besar!" tukas Ridwan.


Mumtaaz merengut sebal mendengar jawaban Ridwan. Dia langsung lari ke arah Khumaira dan menggenggam tangan Uminya yang dingin. Namun, langsung menangis sesegukan saat tahu Khumaira tidak merespons. Hati peka Mumtaaz terasa nyeri melihat Uminya tidak berdaya.


Ridwan menunduk melihat Mumtaaz menangis seraya menggenggam tangan Uminya. Dia juga ingin menangis, tetapi siapa yang akan menghapus air mata Adiknya? Ridwan tidak boleh cengeng pasalnya Mumtaaz butuh dirinya sebagai penopang.


"Umi, hiks sampai kapan tidur? Lihat Dedek kecil menangis ingin, Umi. Hiks, Umi bangun jangan membuat Dedek besar sedih. Umi, hiks bangun jangan tidur karena Dedek takut. Umi, katakan pada Dedek besar kalau Ayah akan pulang segera. Ayah tidak mau bertemu dengan kami dan Umi juga mau tidur tidak mau melihat Dedek. Katakan pada Dedek kalau kalian tidak akan meninggalkan kami."


Perkataan Mumtaaz yang polos membuat Sholikhin dan keluarga besarnya menangis. Mereka begitu sedih mendengar ucapan anak tidak berdosa yang berharap keajaiban. Mereka berharap Khumaira lekas siuman demi anak-anak yang malang. Terlebih lagi harapan mereka agar Aziz lekas pulang demi merengkuh dua cucunya.


Ridwan menghapus air mata kasar lalu meraih Mumtaaz. Dia akan berusaha menenangkan Adiknya seperti yang dilakukan Ayahnya. Sebagai Kakak ia harus bisa menjaga Adiknya yang manja. Kata Ayahnya ia harus menjadi Kakak yang baik dan siap menghapus air mata Adiknya jika terluka. Kini Ridwan sudah menghapus air mata Mumtaaz seraya mengatakan semua akan baik-baik saja.


Hati Ridwan begitu sakit melihat Khumaira begitu pucat. Rasa sakit menguar kuat melihat Uminya terlihat sangat lemah. Semoga saja Ayahnya lekas pulang agar bisa membuat Umi sadar. Ridwan harap semoga saja ada keajaiban dari Allah bahwasanya sebuah harapan itu nyata.


Mumtaaz merengkuh Ridwan dengan derai air mata. Ia sangat sakit karena hanya bisa merengkuh Kakakhya. Dia ingin Ayah dan Uminya merengkuh tubuh mungilnya. Lalu kapan Ayah pulang dan Umi bangun? Mumtaaz tidak yang jelas si kecil berusaha tegar menghadapi ini semua.


Pada akhirnya Sholikhin dan Maryam mendekap erat dua cucunya setelah Faakhira di gendong Laila. Mereka yang akan jadi penopang di kala Ayah Umi tidak bisa menopang. Kini tugas mereka berusaha keras memberikan segala kenyamanan untuk sang cucu. Sholikhin dan Maryam berharap semoga saja Ridwan dan Mumtaaz tidak rewel dikala Khumaira tidur.


****•****


Aziz termenung memikirkan sesuatu yang menyakitkan. Dia melihat dinding kamar tiba-tiba ada sosok Khumaira menangis sesegukan. Hatinya bergetar ketakutan melihat orang yang dicintai dalam keadaan terpuruk. Buru-buru Aziz menghampiri bayangan Khumaira. Namun, dalam sekejap hilang di telan bumi. Melihat itu panik tentu saja menghantui pikirannya sampai merasa kalut. Dia merasa Istrinya dalam keadaan kurang baik di sana maka dari itu terus berhalusinasi tentang sang wanita. Aziz takut jikalau Khumaira kenapa-napa apa lagi dalam keadaan terburuk.


"Dek Syafa," lirih Aziz.


Perasaan Aziz campur aduk sehingga Aziz tertunduk sedih di lantai. Dia cengkeram kepalanya yang terasa menyakitkan. Ingin rasanya ia mengingat semua kejadian beberapa bulan lalu yang terlupakan. Namun, setiap mengingat Aziz merasa kepalanya mau pecah.


Tangis mengiringi hati Aziz yang kalut tanpa sisa. Ingin rasanya dia menelepon guna menanyakan kabar Khumaira. Pasalnya setiap hari ia selalu kepikiran tentang mantan Istrinya. Lebih menyakitkan lagi Aziz sering melihat Khumaira menangis tersedu seraya menatap matanya.


"Dek Syafa, apa sebenarnya yang terjadi? Mas ingin ingat namun rasanya kepalaku terasa mau pecah. Sakit sekali saat ingin menghubungi kalian aku tidak ingat no ponsel yang hendak kutuju. Ya Allah, sampai kapan aku berada dalam duka ini? Ayah kangen pada kalian, Nak. Aku juga sangat merindukan keluargaku yang ada di Kediri dan juga sangat merindukan, Dek Syafa. Tolong katakan padaku sebenarnya apa yang terjadi pada, Dek Syafa?"


Aziz menjambak rambutnya kasar mengingat mimpinya. Dia terus melihat Khumaira menangis seorang diri tanpa cahaya. Bahkan Istrinya terus meminta ia pulang ke Indonesia. Dengan modal keberanian ia langkahkan kaki menuju pintu keluar.


Mungkin ini saatnya Aziz pulang ke Indonesia. Tekad ia labuhkan bahwa dirinya akan pulang. Walau yang pertama dapat penolakan maka sekarang harus pulang agar bisa bertemu anak-anak terkhusus melihat keadaan Khumaira.


Saat di luar dia tersentak saat Jasmin berseru penuh kebahagiaan. Kenapa dengan gadis kecil aneh itu? Karena tidak mau ambil pusing Aziz melewatinya begitu saja. Namun, tangannya tercekal yang. Kecil Jasmine. Dengan kadar ia sentak angin gadis ini lalu menatap tajam. Aziz paling anti jikalau ada wanita bukan mahram menyentuh.


Jasmine berusaha tidak marah saat tangannya di sentak kasar. Dia tahu betapa anti prianya tersentuh apa lagi olehnya. Ia harus lebih manis atau bersikap berkali-kali lipat sangat teduh. Jasmine ingin berharap suatu hari nanti Aziz jadi miliknya walau nyatanya mustahil.


"Kak Aziz lihat aku dapat dari ig Adik ipar, Kak Azzam!" seru Laila.


Aziz menyengit bingung melihat ucapan Jasmin. Dengan terpaksa ia meraih ponsel gadis itu dan melihat foto anak bayi mungil nan cantik. Jantungnya berdegup kencang melihat kecantikan bayi mungil yang sedang tertidur. Entah kenapa rasanya begitu membahagiakan sampai air mata luruh deras. Aziz jadi ingin menggendong anak manis ini lalu memberikan ciuman bertubi di wajah manis sang bayi.


Jasmin tersenyum manis mendengar perkataan Aziz. Ikatan batin seorang Ayah ternyata kuat juga. Dia datang ke sini ingin menunjukkan pada Aziz Putrinya sudah terlahir dengan selamat. Namun, maafkan Jasmin akan melakukan hal gila dengan mengarang sebuah sandiwara.


"Coba Kakak baca caption dari foto itu!" perintah Jasmin.


Aziz menuruti perkataan Jasmin dengan membaca keterangan dari foto ABG bayi cantik. Dia tersenyum manis saat Laila begitu antusias memamerkan keponakan baru. Tunggu dulu jadi ini Putri dari Khumaira. Ya Allah, jadi mantan Istrinya sudah melahirkan seorang anak manis? Degup jantung terasa bertalu-talu jika ingat spekulasi positif. Aziz merasa berdebar kuat saat memikirkan dua spekulasi. Bayi ini anaknya atau anak Masnya?


Caption : Alhamdulillah ya Allah akhirnya Putri kecil nan cantik jelita Mbak Khumaira terlahir dengan selamat. Setalah 4 hari akhirnya Mbak Khumaira bisa menggendong Dedek bayi. Alhamdulillah aku sangat bahagia. Semoga lekas sembuh dan bisa pulang segera ya, Mbak Maira. Kami sangat mencintaimu!


Aziz menitikan air mata haru membaca keterangan itu. Dia menggeser unggahan foto Laila lagi. Yang memperlihatkan Azzam bersama bayi kecil tadi. Hatinya merasa was-was antara takut dan sok menerima kenyataan pahit. Aziz merasa konyol saat Masnya menyentuh sang bayi cantik.


"Anak Kak Azzam dan Mbak Khumaira cantik banget ya Kak Aziz. Aku sampai kagum melihat betapa rupawannya bayi kecil itu. Apa Kakak tidak mau ke Indonesia menjenguk keponakan tercinta? Lihat anak itu tersenyum saat di gendong Ayahnya. Mas Aziz pasti bahagia melihat keponakan yang manis. Aku saja samoai terkesima melihat kecantikan Anak itu. Ah pokoknya Kak Azzam dan Mbak Khumaira begitu sempurna mempunyai anak secantik itu."


Aziz merasa panas mendengar perkataan Jasmin. Dia memilih pergi tanpa mau menengok ke arah gadis itu. Namun, ponsel Jasmin dia bawa untuk melihat bayi mungil nan cantik jelita. Tubuhnya panas dingin melihat anak cantik ini. Entah kenapa rasanya sangat sesak jika teringat perkataan Jasmin. Apa benar ank cantik ini ank Azzam? Kenapa bisa Aziz masih berharap ini anaknya?


Jasmin tersenyum penuh kemenangan melihat Aziz tampak kalut. Dengan begini Aziz tidak akan bisa pergi dari Singapura. Dia akan menahan pria itu apa pun yang terjadi. Jasmin tidak akan membiarkan Aziz pulang ke Indonesia menemui keluarganya terutama Istri dan anak-anaknya.


"Aku ingin DM Dik Laila agar bisa mengucapkan selamat pada Mas Azzam dan Dek Syafa. Apa yang aku harap ketika bayi ini aku anggap anakku. Bukan tentu saja bukan karena anak ini adalah milik Mas Azzam dan Dek Syafa. Anganmu terlalu tinggi, Aziz," batin Aziz.


Dalam kegaduhan hati Aziz ingat tidak pernah berhadapan dengan media sosial kecuali WhatsApp. Lalu saat ia berpikir ulang mu mendownload aplikasi Instagram rasanya tidak mungkin. Dia hanya bis bekerja dan bekerja tanpa bisa memegang ponsel. Aziz selau disibukan oleh tugas kantor sampai lupa ponsel.


Jujur aja Aziz saat itu niat pulang setelah sembuh dari sakitnya. Hanya saja Douglas Company tidak mengizinkan pulang. Mereka bilang jika mau pulang harus menerima konsekuensi. Bahkan dia bisa pulang jika kontrak masa perjanjian setengah jalan. Itu artinya dua setangah tahun lagi di tambah kecelakaan menambah rumit. Aziz merasa aneh akan semua itu, hanya saja tidak bisa komplain. Lagian dirinya tipikal orang yang menaati peraturan. Maka dari itu harus sabar terhadap keinginan untuk pulang.


***~•~***


Khumaira sangat bersyukur telah kembali membuka mata atas karunia-Nya. Dia tersenyum teduh saat hari ke empat koma akhirnya tersadar. Saat bangun dirinya yang lemah di tangani Dokter secara intensif. Khumaira menurut saat Dokter menangani keadaannya secara intensif. Setidaknya itu agar cepat pulih lalu bisa mendekap anaknya.


Melihat Faakhira nama Putrinya nanti Khumaira langsung menangis haru. Ya Allah, rasa syukur ia panjatkan karena bisa mengasuh anaknya. Cantik sekali seperti permata bunga yang bersinar. Demi Allah hati sekali melihat Putrinya begitu manis. Khumaira berharap Faakhira nanti jadi anak yang bisa menyinari kelaurga.


Maryam menyerahkan cucunya pada sang putri. Setelah bayi cantik berada di dekapan Uminya ia langsung mencium pipi anaknya. Haru rasanya minat anak keduanya telah membuka mata. Jika di ingat ini masih pagi jadi dua cucunya masih sekolah. Maka dari itu Ridwan dan Mumtaaz tidak tahu bahwa Umi telah siuman.


Dengan hati-hati Khumaira meraih putrinya dari dekapan Ibunya. Dia gendong bayi mungil itu punuh hati-hati. Sungguh ia bersyukur bisa kuat menggendong Putrinya yang manis. Dengan sayang dirinya ciumi wajah cantik anaknya serat kerinduan. Air mata Khumaira berjatuhan membasahi pipi bulatnya.


"Anakku sayang." Khumaira menangis haru ketika putrinya membuka mata. Masya Allah, cantik sekali sampai membuatnya begitu bersyukur. Sebelum itu ia langsung ingat dua anaknya yang lain. Di mana dua anak tampannya? Ya Allah ingin rasanya Khumaira mendekap Ridwan dan Mumtaaz.


"Tole Ridwan dan Mumtaaz sedang sekolah, Nduk. Mereka nanti akan datang jangan khawatir. Bapak dan yang lainnya sedang di rumah ada kerjaan. Di sini ada Ibu dan Adikmu." Maryam paham anaknya mencari siapa maka dari itu lekas memberitahu.


"Maira lupa, Buk. Sungguh Maira sangat merindukan Kakak dan Dedek. Tidak sabar mendekap erat anak-anakku, Buk. Maira juga rindu Ibu, Bapak dan yang lainnya."


"Anak-anak sangat merindukan Umi juga. Bahkan saat pulang sekolah ganti bajuju lalu nginep di sini. Subuh Bru pulang sekolah untuk sekolah. Kakak dan Dedek sangat mengkhawatirkan dirimu, Nduk. Ibu dan yang lainnya juga merindukan, Nduk Maira."


Percakapan selesai karena Khumaira masih lemah membuatnya letih. Mau tidak mau ia harus istirahat lagi sebelum itu membiarkan Anaknya ada di dekapannya. Ia minta maaf pada Ibunya akan tidur lagi selagi ada waktu. Khumaira akhirnya kembali tidur dengan putrinya berada dalam dekapannya.


Maryam mengusap wajah ayu Khumaira dan cucunya. Sedih rasanya saat ingat Aziz tidak datang di hati persalinan. Bahkan menantunya tidak mengadzani sang cucu akibat terpisah Negara. Hati kecilnya berharap semoga saja ada keajaiban semoga saja Aziz lekas pulang. Maryam sudah tidak tahan melihat betapa rapuh Khumaira mengurus dua anaknya tambah kehamilan lumayan lemah.


Cukup bersyukur setelah setengah hari tersadar dari koma akhirnya air susu Khumaira keluar. Untuk pertama kalinya dia menyusui buah hatinya yang cantik jelita. Sebelum menyusui buah hatinya Khumaira terlebih dahulu berdoa agar asi ini bisa membuat Putrinya tumbuh menjadi anak yang berbakti dan shalehah.


Lihat Ridwan dan Mumtaaz berebut mencium pipi Khumaira. Mereka begitu senang akhirnya Umi mereka sadar dari koma. Kedua anak tampan itu berceloteh panjang lebar mengenai Khumaira dan Dedek bayi. Ridwan dan Mumtaaz selalu mengeluh karena Uminya tidur lama sehingga Dedek bayi harus di kasih susu sapi. Pikiran polos kedua anak itu membuat Umi mereka tertawa riang.


Khumaria mencium pipi gembul Ridwan dan Mumtaaz secara bergantian. Dia juga memberikan kecupan sayang di pipi gembul Putrinya. Lalu menciumi seluruh wajah tampan Ridwan dan Mumtaaz gemas. Khumaira juga memberikan ciuman bertubi di wajah cantik Faakhira seolah tidak bisa berhenti.


"Umi sangat menyayangi Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz serta Dedek bayi."


"Kami juga sangat menyayangi, Umi!" kor Ridwan dan Mumtaaz sembari tersenyum lebar.


Khumaira tersenyum mendengar jawaban keduanya. Dengan penuh cinta dia ciumi pipi dua anaknya lalu menciumi ubun-ubun sang anak. Dia rasanya baru kemarin menggendong Ridwan dan Mumtaaz. Lalu kini anak-anaknya tumbuh cepat sekali. Khumaira sampai tidak ikhlas melihat dua anaknya tumbuh begitu cepat.


Dalam kerinduan Khumaira memikirkan Aziz yang sekarang entah melakukan apa? Sungguh ia sangat merindukan Suaminya yang jauh di mata dekat dihati. Bohong rasanya dia benci pada Suaminya karena sampai sekarang sang penguasa hati segala cinta milik sang Suami. Khumaira jadi berharap semoga saja Aziz lekas pulang lalu mendekap erat anak-anak.


"Mas Aziz, apa sekarang ini sedang bersama wanita itu? Betapa bodohnya aku berharap Mas Aziz mau menelepon diriku. Sekarang cinta dan atensinya ada pada dia bukan kami. Aku sangat kecewa padamu, Mas. Kenapa bisa aku masih sangat mencintai pria yang tega mengkhianatiku tanpa perasaan? Aku sangat membencimu, Mas walau nyatanya aku sangat mencintaimu!" monolog Khumaira dalam hati.


Hati rapuh Khumaira meronta keras ketika melihat Faakhira dan dua anaknya. Dia ingin tahu bagaimana senang Suaminya dikala tahu putri yang diharapkan telah hadir. Dia ingin Suaminya lekas pulang atau perpisahan terjadi. Mungkin saja setelah satu bulan umur putrinya ia akan mengurus surat perceraian. Dengan begitu Khumaira akan lepas dari Aziz tanpa ada yang membelenggu. Cukup sudah dirinya menderita selalu berharap tanpa ada keputusan yang pasti. Kini sudah saatnya pergi dari masa lalu dan membuka lembaran baru.


****~•~****


Maaf banyak kekurangan dan kuharap kalian sabar.


Seperti biasa Rose belum sempat koreksi atau edit ulang. Jika banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.


Mas Aziz sudah berjuang pulang, tetapi Douglas Company tidak memberikan izin.


Yang sabar Ayah akan segara pulang.


Salam cinta dari Rose.