
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
Aku kembali lagi, siapa yang senang?!
Jangan lupa tersenyum manis ok, hahaha!
***❤❤❤❤***
Aziz menangis semakin deras ketika Mumtaaz menciumi wajahnya. Si kecil yang tampan membuatnya begitu bahagia. Di mana Ridwan? Aziz mengedarkan pandangan mencari anaknya yang lain. Di mana Putra nakalnya yang satunya. Aziz rindu anak sulungnya maka dari itu berusaha mencari.
Mumtaaz yang tahu Ayahnya mencari siapa spontan mencium pipi tirus sang Ayah. Tangan kecil itu menunjuk arah barat yang menampilkan sosok Ridwan dan Faakhira. Kakaknya sedang menggendong Adik gembulnya. Mumtaaz tersenyum saat Ayahnya begitu terharu melihat Kakaknya.
Ridwan yang baru selesai Shalat duha beranjak ingin mengaji. Namun, Adiknya menangis membuat Ridwan tidak jadi mengaji dan memilih ke ruang tamu memanggil Uminya. Saat di depan di pintu masuk hal paling menyenangkan akhirnya terlihat. Akhirnya Ayahnya pulang setelah sekian lama pergi. Air muka Ridwan berlinang deras menyebabkan dirinya begitu terharu.
Faakhira yang menyandarkan kepala di bahu Masnya perlahan melihat arah pandang Ridwan. Mata besar bulat itu mengerjap menatap Aziz lamat-lamat. Senyum polos mengembang melihat Ayahnya. Tangan kecil itu menepuk pipi Ridwan lalu menuding Aziz.
Aziz membisu melihat Ridwan dan Faakhira. Air matanya semakin deras melihat anaknya yang tampan. Dia terharu melihat keponakannya yang sangat cantik. Masyaallah ingin sekali Aziz mendekap tubuh mungil Faakhira usai mendekap erat Ridwan. Benarkah itu keponakannya yang sangat cantik. Aziz begitu terharu sampai tidak bisa mengendalikan linangan air mata.
Khumaira buru-buru berjalan ke arah Ridwan dan Faakhira. Dia raih Putrinya lalu meminta Putranya untuk merengkuh Aziz. Ia mengecup kening Ridwan penuh sayang lalu membiarkan sang Putra berlari ke arah Aziz. Dengan tangis dalam diam Khumaira menciumi pipi gembul Faakhira. Lihat putrinya terus menatap Ayahnya begitu mendamba. Ya Allah, kini Khumaira tidak tahan ingin meraih Aziz dan mengatakan kejujuran itu.
"Umi, itu Ayah?" tanya Faakhira seraya berbisik.
Khumaira hanya diam seraya merengkuh erat tubuh gempal Faakhira. Dia hanya bisa diam tanpa suara, pasalnya hati dan pikiran terasa kalut. Rasanya sangat menyakiti hatinya yang rapuh. Ia mampu berjuang keras menghadapi cobaan selalu diberikan Allah sili berganti. Namun, untuk sekarang Khumaira merasa tidak sanggup jika Aziz-nya di ambil Jasmin.
Ridwan merengkuh Aziz seraya mengatakan puluhan kata rindu. Dia menangis akhirnya Ayahnya pulang setelah sekian lama pergi. Ia tangkup pipi tirus Ayahnya yang terlihat kurus. Apa Ayahnya tidak pernah makan sehingga terlihat lemah dan kurus tidak seperti dulu. Ridwan yang tidak tahan akhirnya menangis keras dalam dekapan Aziz.
Aziz menciumi puncak kepala Ridwan penuh haru. Tangan kekarnya terus mengusap rambut dan punggung anaknya. Hatinya berasa kebas mendengar tangisan anaknya. Ya Allah sesak sekali sampai ia ingin menyerah. Aziz bahkan tidak bisa berhenti mengusap tubuh Ridwan yang tumbuh besar. Tiga tahun tidak bertemu kini anaknya sudah jadi remaja tanggung. Ya Allah dosanya besar sekali telah pergi terlalu lama sampai tidak tahu tumbuh kembang anaknya.
Tangan kekarnya menangkup pipi Ridwan lalu memberikan usapan sayang. Aziz memberikan ciuman sayang di seluruh wajah tampan Putranya. Tanpa babibu ia kembali merengkuh erat putranya. Isak tangis terus terdengar mengiringi rasa haru. Aziz begitu rindu sampai tidak sanggup menjabarkan betapa besar rasa rindunya pada Ridwan dan Mumtaaz.
"Anakku yang tampan, apa Kakak sudah khatam Al-Qur'an? Apa Putraku ini sudah jadi Hafidz seperti cita-citanya?" tanya Aziz serays menyapu lembut wajah rupawan Ridwan.
Ridwan mengaguk semangat bahwa dirinya mampu menamatkan Al-Qur'an. Kini dia seorang Hafidz yang mampu membanggakan Umi, Abi dan Ayahnya. Ia selalu belajar giat sembari hafalan penuh. Tujuannya agar Aziz bangga setelah pulang ke Indonesia. Kini Ridwan sudah buktikan di bawah naungan Ayah,Abi dan Uminya serta Ustadz dan ustadzah ia berhasil meraih mimpinya.
Beribu-ribu rasa haru menghujani Aziz akan respons Ridwan. Allahu Akbar alangkah senangnya dia mendapat hadiah terindah dari anaknya. Sungguh sangat bahagia sampai air mata tidak kunjung berhenti. Ya Allah,dirinya berbahagia atas putra sulung telah meraih cita-cita. Tidak diragukan lagi anaknya ini seperti Masnya yang sempurna. Aziz merasa bangga telah menjadi Ayah untuk Ridwan yang memiliki jiwa sebening embun.
"Iya Ayah, Kakak sudah jadi Hafidz. Tahu tidak banyak piala yang Kakak dapat dari perlombaan Hafidz dan yang lainnya. Ayah mau menyemak Kakak kan jika ada waktu senggang," riang Ridwan sukses membuat Aziz tersenyum dan menangis haru.
"Iya, Ayah akan menyemak Kakak sampai tuntas. Ayah bangga pada Kakak, maaf Ayah baru pulang."
"Tidak apa, Ayah jangan sedih. Kakak ingin jadi orang yang sukses di dunia maupun akhirat. Kakak ingin cari uang yang banyak agar Ayah tidak kerja lagi. Nanti jika Kakak sukses kayak Ayah, insya Allah Kakak akan membangun Mesjid untuk Ayah dan Umi. Kalau rumah kita sudah punya iya, kan? Pokoknya Ayah tidak boleh pergi lagi meninggalkan kami sangat lama. Ayah harus mengajari mengaji Kakak, Dedek besar dan Dedek kecil. Ayah janji pada Kakak harus di rumah jangan pergi ke luar Negeri lagi."
Aziz terhenyak mendengar penuturan Ridwan yang tulus. Dia menangis tersedu tidak mampu menahan haru. Putranya begitu bijak penuh kebaikan. Ia langsung menciumi wajah Putranya dan mengusap tubuh tinggi Ridwan penuh sayang. Tidak ada kata yang mampu Aziz ucapkan sangking bahagianya.
Khumaira dan yang lainnya menangis mendengar perkataan Ridwan. Mereka menangis melihat Ridwan dan Aziz yang sangat meneduhkan. Khumaira sangat bangga pada Ridwan yang sangat tulus. Semoga saja Putranya mampu menjadi ahli surga dan menjadi cahaya.
Mumtaaz tersenyum bangga memiliki Kakak seperti Ridwan. Dia ikut bergabung dengan Ayah dan kakaknya. Ia sangat bahagia bisa mendapat Ayah yang sangat baik serta Kakak yang sangat bijak penuh kebaikan. Walau ada rasa kecewa di hati akibat Ayahnya batu pulang. Namun, Mumtaaz sangat bersyukur Ayahnya sudah pulang dalam keadaan baik-baik saja, semoga saja.
"Anak Ayah ini bagaimana mengajinya? Apa Kakak Mumtaaz mau jadi Hafidz seperti Kakak besar? Katakan selama Ayah pergi apa yang Dedek pelajari? Apa cita-cita Kakak Mumtaaz?"
"Kakak sudah khatam Al-Qur'an 2 kali, Ayah. Dedek mengaji di ajari Umi, almarhum Mbah kakung, Kakak Ridwan dan Pak Ustadz. Kakak tidak ingin jadi Hafidz, cukup Kakak kecil mengerti terjemahan, makna serta kaidah ayat Al-Qur'an. Kakak akan mengamalkan Al-Qur'an dengan keyakinan. Banyak hal Ayah, dari mengaji belajar di sekolah dan banyak lagi. Ingin jadi seperti Ayah yang banyak wawasan. Kakak akan menjadi seperti Ayah yang serba bisa. Dedek akan mendesain rumah mewah untuk Ayah, Umi dan Dedek Faakhira. Kakak akan jadi pria sukses dunia akhirat, Amin. Kakak kecil dan Kakak besar akan jadi pebisnis handal agar Ayah tidak perlu bekerja ke luar Negeri!"
"Amin Allahumma Amin, ya Allah anak-anakku!"
Aziz tidak mampu menjabarkan betapa beruntungnya memiliki Ridwan dan Mumtaaz. Dia ciumi pipi gembul dua Putranya. Ia begitu terharu akan kebesaran hati serta wawasan Ridwan dan Mumtaaz. Aziz langsung merengkuh erat dua anaknya penuh sayang. Hatinya sangat sakit mendengar almarhum mertuanya. Semoga saja ia mampu melangkah menuju kebahagiaan bersama Istri dan anak-anaknya. Setelah masalahnya beres Aziz akan ziarah kubur ke makam Bapak mertuanya yang sudah dianggap Bapak sendiri.
Khumaira serta keluarga Aziz begitu bangga pada Mumtaaz dan Ridwan. Mereka tidak menyangka dua anak ini tumbuh menjadi remaja hebat. Semoga saja cita-cita mereka terkabul. Melihat Mumtaaz yang memiliki ambisi dan tekat kuat mencirikan sikap Aziz. Untuk Ridwan kini sudah terbukti betapa mulia anak kecil ini. Khumaira yakin Mumtaaz sama hebatnya seperti Ayahnya kelak yang sangat multitalenta. Untuk Ridwan sudah tergambar jelas masa depan putra sulung begitu sempurna.
Setelah puas dengan dua anaknya Aziz melangkah ke arah Khumaira guna meraih Faakhira. Jantungnya berdegup kencang melihat Putri kecil mantan Istrinya. Dengan hati-hati ia meminta Khumaira untuk memberikan Faakhira padanya. Mata tajam berpupil cokelat keemasan menatap netra sewarna netranya. Entah kenapa jantung Aziz bertalu melihat mata polos Faakhira.
Khumaria mengecup pipi bulat Faakhira berulangkali. Dia dengan tangis haru menyerahkan sang Putri pada Aziz. Air matanya luruh deras ketika Suaminya tersenyum manis lalu menciumi wajah cantik Faakhira. Sungguh Khumaira ingin meraih Aziz untuk di rengkuh. Namun, prianya sudah melupakan cintanya. Kini hanya ada Jasmin yang melingkupi hati Suaminya. Apa yang diharapkan Khumaira untuk meraih Aziz yang memadu kasih dengan wanita lain?
****
Aziz menangis dalam diam ketika merengkuh Faakhira. Entah kenapa ia merasa ikatan batin begitu kuat pada anak ini. Dia menangis tersedu saat anak cantik mirip Khumaira mencium pipinya. Tangan kecil Faakhira terus menepuk pipinya. Aziz tidak kuasa menahan diri untuk merengkuh seraya mencium wajah Faakhira.
Faakhira tersenyum polos akhirnya bisa meraih dekapan Ayah. Dia tipikal anak yang kurang mau di gendong siapa pun kecuali orang familiar selaku terlihat. Bahkan Azzam saja baru mau ia ikut ketika sering bertemu. Kalau Mbah Ukhti dan Mbah Kakung tidak agak mau ikut sebelum lama memandang. Faakhira langsung mau di gendong Aziz karena tahu ini Ayahnya. Lantaran sedari tahu gambar sang Ayah.
"Anak cantik siapa namamu, Nak?" tanya Aziz seraya mencium pipi gembul Faakhira.
"Dedek Faafaa, Yah," jawab Faakhira begitu menggemaskan.
Hati Khumaira merasa teremas kuat oleh tangan tidak kasap mata saat Aziz berbicara begitu. Ingin sekali ia mencetuskan bahwa Faakhira Putri mereka. Lihat Faakhira langsung menangis histeris gara-gara Aziz tidak memanggil Ayah pada dirinya sendiri. Sontak Khumaira meraih Faakhira dan langsung menatap Suaminya terluka. Dia tahu Suaminya dalam keadaan kurang baik hanya saja sakit sekali. Khumaira sangat kesakitan akan Aziz yang membuat putrinya meraung histeris.
Aziz diam membisu mendapat tatapan terluka Khumaira serat akan air mata. Dia jadi heran kenapa Faakhira yang anteng dalam dekapannya langsung menangis histeris gara-gara perkataannya? Ada yang salah dengan perkataan? Aziz juga heran kenapa Khumaira dan yang lain tampak kecewa padanya.
Khumaria membawa Faakhira ke kamar serta membiarkan Ridwan dan Mumtaaz ada di sana. Hatinya sangat sakit menerima takdir rumit. Apa Aziz akan melupakan darah dagingnya tanpa mau mengingat? Khumaira sangat marah pada takdir yang mempermainkan kehidupannya. Marah tidak bisa jujur serta sangat marah lantaran Suaminya berbeda. Sakit sekali rasanya jika ingat Aziz masih dalam keadaan hilang ingatan sebagian. Kalau sudah begini Khumaira hanya bisa bersabar ekstra.
Jika boleh jujur Khumaira ingin berseru pada Aziz. Dia ingin meneriaki prianya bila perlu menampar keras atas pengkhianatan. Hatinya sudah tidak berbentuk di tambah Faakhira menangis. Sekarang rasa sakit itu semakin menjadi membuat Khumaira menangis tersedu. Ya Allah sampai kapan dia harus begini menerima takdir yang Allah berikan?
Prianya sudah memadu cintanya, apa harapan Khumaira? Dia tidak ingin melihat Aziz untuk beberapa jam kedepan. Hatinya tidak berbentuk menerima rasa sakit yang di torehkan Suaminya. Biarkan dia menangis seorang diri tanpa sandaran. Bahkan sandarannya orang yang menyakiti sangat dalam. Khumaira tidak ada tempat bersandar kecuali tiga anaknya yang siap menopangnya.
Sementara sang pelaku hanya diam sembari mengerjap heran. Catat keras Aziz adalah seorang kurang peka akan keadaan dan situasi. Dirinya memang idaman banyak kelebihan yang menjadi ciri khasnya. Namun, juga banyak kekurangan paling menyebalkan. Aziz tidak bisa mengendalikan diri dalam ucapan tajam, sarkasme, kurang peka dan sangat ambisius.
"Aku salah apa, Ummi?" tanya Aziz dengan sikap kurang pekanya.
"Banyak sekali, ingin sekali Ummi membuangmu ke sungai Amazon biar bertemu anaconda. Sungguh Ummi ingin menamparmu lagi, Aziz. Jangan keluar kamar atau kami kehilangan kendali!" hardik Safira.
Aziz meringis mendengar perkataan Umminya yang marah. Dia melihat Ridwan dan Mumtaaz yang menatap kecewa padanya. Dua anaknya bahkan menangis lalu berlari menyusul Khumaira dan Adiknya. Sebenarnya apa yang terjadi? Perlahan satu persatu keluarganya meninggalkan Aziz sendiri kecuali Najah.
Najah menatap Aziz prihatin lantaran tidak punya kepekaan pekat. Padahal Masnya ini memiliki otak genius serta bakat luar biasa. Hanya saja rasa kurang pekanya membuat jengkel. Kalau tidak ingat dihadapannya Kakak kandung sudah habis. Najah sangat heran kenapa bisa Aziz begitu bodoh tidak punya pikiran.
"Otak geniusmu sudah terlindas mobil ya, Mas," celetuk Najah.
"Apa maksudmu, Nduk?" tanya Aziz bingung.
"Sikap tidak pekamu sungguh mengganggu. Terus sakiti Kakak ipar maka aku pastikan penyesalan Mas akan terlampau besar. Andai ingatan Mas pulih segera maka detik itu juga dunia Mas runtuh. Tetap sakiti kakak ipar dan raihlah cintamu bersama Jasmin. Aku jijik jika ingat Mas adalah, Masku!"
Aziz tercengang mendengar kemarahan Najah. Lisan mereka sama tajam jadi wajar jika mendapat serangan bertubi-tubi. Dengan cepat ia cekal lengan Adiknya bermaksud mencari kebenaran. Jujur saja Aziz sakit hati mendengar emosi Najah terkesan tidak sopan.
"Apa maksudnya bicara begitu pada, Masmu?!"
Najah menyentak tangan kekar Masnya kasar. Dia dengan kasar mencengkeram kerah kemeja Aziz. Kakak kandungnya ini benar-benar membuat emosi jiwa. Andai saja Masnya orang lain sudah habis. Najah tatap sengit Aziz yang menatap tajam.
"Kamu dengar satu hal wahai Masku sayang. Nama anak cantik Mbak Maira adalah Faakhira Chessy Nura Parveen. Umur 2 tahun dan tentunya sangat cantik seperti harapannya. Kamu tidak boleh menyakiti Mbak Khumaira lagi atau penyesalanmu akan menggunung. Sudah cukup Mas menyakiti Mbakku yang malang. Jika berani kamu membawa Jasmin kemari maka hubungan antara kita berakhir. Aku sangat kecewa padamu, Mas. Jika kamu punya hati bawa Gadismu pulang segera dari pada menjadi bumerang!"
Setelah mengatakan hal sarkasme itu Najah melepas cekalannya kasar. Dia memilih pergi tanpa menengok ke arah Aziz. Sungguh ia sangat kecewa pada Masnya yang sangat bodoh. Andai saja ia bisa sudah dibenturkan kepala Masnya biar memori itu kembali. Najh jadi geram akan sikap Aziz laut biasa menyebalkan.
Aziz jatuh ke lantai dengan pandangan kosong. Tangannya mengepal kuat rahangnya mengeras mengingat perkataan Najah. Jadi anak kecil itu memiliki nama calon Putrinya. Rasa kecewa penuh kekesalan menghantam jiwa. Dia menatap lantai dengan pandangan terluka. Aziz tidak percaya Khumaira tega berbuat rendah padanya.
Hatinya yang hancur tambah hancur lebur mengingat nama Faakhira. Dia sangat tersiksa sampai ingin rasanya menyerah. Kenapa Khumaira tega sekali memberi nama lengkap itu pada Putri mereka? (Azzam dan Khumaira) Rasanya Aziz ingin marah besar pada Khumaira tentang nama itu. Dia sudah terima mantan Istrinya memakai nama Faakhira.
Aziz kira cuma nama Faakhira yang Khumaira gunakan. Namun, nyatanya nama indah dirancang olehnya terpakai semua. Tega sekali menusuknya sampai sebesar ini? Jika begini ia merasa di hina begitu dalam. Pertanyaan sampai kapan Khumaira mau memberikan luka padanya? Aziz kecewa benar-benar kecewa pada takdir yang telah terjadi.
"Aku kecewa padamu, Dek," lirih Aziz seraya meremas dadanya.
Pandangan Aziz terasa berputar-putar tanpa ada celah. Rasanya begitu menyiksa sampai dia tersungkur. Dia meringkuk mencengkeram kepalanya. Akibat kecelakaan itu jika Aziz memikirkan hal terlalu berlebihan atau mendapat kesakitan luar biasa maka berimbas pada kepalanya.
Dengan tangan bergetar Aziz mencari Obatnya. Air matanya luruh deras sampai rasanya sesak. Mungkin ini saatnya dia menyerah pada takdir kejam. Setelah meminum obat dan sakitnya sedikit reda Aziz memilih menyandarkan diri di sofa. Perihal sakitnya ia sembunyikan dari keluarganya. Dia mampu mengatasi sakitnya kenapa harus mengeluh?
"Aku lelah butuh sandaran. Tolong jangan beri aku cobaan semakin menyakitkan. Cukup aku tidak sanggup," lirih Aziz.
Lain sisi Khumaira mampu menenangkan Faakhira. Dia mengusap rambut anak-anaknya yang menangis. Melihat dua Putranya lemah membuat Khumaira lemah. Andai saja ia bisa sudah keluar kata tajam yang akan menghunus jantung Aziz. Jika begini Khumaira merasa pusing memikirkan semuanya.
Khumaira memberikan ketenangan pada Ridwan dan Mumtaaz. Dia berusaha menjadi Umi yang baik agar menjadi kekuatan dua anak tampannya. Kini ia hanya bisa berharap semoga saja Allah lekas membebaskan dirinya. Untuk apa bertahan jika orang yang dipertahankan mendua? Tiga tahun menanti penuh harapan, cinta serta kesetiaan kalah terbalas hina. Kini Khumaira lelah akan takdir maka biarkan lepas dari Aziz.
"Mas Aziz, sampai kapan kamu sakiti hatiku? Kamu kapan ingat buah hati kita? Kamu boleh lupa diriku asal jangan lupa Dedek Faakhira adalah Putri yang kita harapkan. Jika memang Jasmin orang yang kamu cintai maka izinkan aku lepas darimu. Insya Allah setelah 3 hari di sini aku akan mengatakan kebenaran itu. Kita akan benar-benar pisah tanpa ikatan," monolog Khumaira dalam hati.
Jujur saja Ridwan dan Mumtaaz sangat kecewa pada Aziz. Hanya saja mereka sadar Ayahnya begini akibat tragedi. Keduanya mau berpikir positif hanya saja rasa kecewa menghunus dada. Biarkan mereka jauh dulu sebelum kembali pada Ayahnya. Ridwan dan Mumtaaz terus berharap semoga Allah senantiasa mengembalikan Ayah jadi sedia kala.
Mereka berharap semoga saja sebentar lagi ada cahaya. Abi sakit arah maka keduanya tidak mau Ayah mengabaikan. Kini harapan terbesar adalah segera mendapat pelangi kehidupan. Kata Ustadz dia akan dikabulkan jika dipunya penuh keyakinan, tulus, harapan penuh dan khusyuk. Maka keduanya akan selalu begitu berdoa niscaya Allah akan mengabulkan harapan.
****~Δ~|~Δ~****
Maaf ya Rose belum edit dan koreksi maka dari itu jika ada typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.
Sayang kalian semua.
Dan semoga kalian tetap cinta padaku.
Hehehe, maksudnya cinta story Ini.