Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Narsisnya si Ganteng!



"Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini.


💞*Happy Reading Rosever! 💞**


Khumaira sangat senang pasalnya buah hatinya akan segera lahir beberapa hari lagi. Dia jadi teringat saat melahirkan Ridwan sangat menyakitkan. Itu perjuangan paling mendebarkan untuknya sehingga membuatnya berdebar menanti sang buah hati terlahir.


Tangan mungil Khumaira terus mengusap perut buncitnya. Senyum manis merekah ketika teringat Aziz sebentar lagi pulang. Ya Allah, indah sekali warna pelangi bersmaa Suaminya di kehidupan ini. Khumaira merasa begitu berdegup kencang membayangkan betapa hebat Aziz selama ini. Tanpa lelah sang Suami memberi warna baru untuknya dan si kecil Ridwan.


"Dedek, kemari temani, Umi!" panggil Khumaira pada Putranya.


Mendengar panggilan Uminya sontak anak manis ini menurut. Ridwan berjalan ke arah Khumaira lalu duduk manis di samping Uminya. Jari kecil Ridwan terulur untuk mengusap perut buncit Uminya dan mulut mungil itu mengoceh imut.


"Dedek kecil, nanti Dedek harus ganteng kayak Kakak ya. Kata Ayah, orang paling ganteng pertama Ayah, Kakak ke dua dan Dedek terakhir. Kakak menunggu Dedek kecil lihat Kakak yang ganteng ini, hehehe."


Ridwan berceloteh imut tentang ketampanan. Dia sudah tertular virus memetikan Aziz sehingga membuahkan hasil memuaskan. Sabar menghadapi satu makhluk narsis kini datang si kecil yang ikut narsis.


Khumaira memijat pangkal hidung karena rasanya pening. Putranya yang tampan sudah tidak polos karena tertular virus Suaminya. Bahaya sekali Aziz bagi Ridwan yang polos menggemaskan.


"Dedek, apa saja yang di ajarkan, Ayah?"


Khumaira memangku Ridwan sembari memciumi kening sang Putra. Hatinya menghangat mencium harum sampo khas anak kecil. Putranya begitu tampan menggemaskan sampai Khumaira yakin kelak mengalahkan Aziz.


Ridwan mendongak menatap Khumaira penuh arti. Mata besar di bingkai bulu mata lentik dengan netra hazel cokelat menatap sangat polos. Senyum manis terukir lebar kemudian Ridwan bertepuk tangan heboh.


"Ayah mengajari Dedek mengaji, Adek juga sudah hafal beberapa surah. Ayah sangat baik mengajari Dedek mengaji, menulis dan menggambar. Ayah mengajari Dedek agar memiliki kepercayaan diri dan membanggakan ketampanan. Dedek ganteng itu pasti dan pastinya akan jadi atensi. Umz, Ayah juga mengajari pujian dan doa-doa."


Ridwan begitu bersemangat mengatakan semua itu. Mata besarnya tampak bersinar mengingat hafalanya. Dia sangat bahagia Ayahnya dengan telaten menuntun dirinya untuk jadi Hafidz. Ridwan sanagt kagum pada Aziz makanya sangat semangat jika bercerita akan sosok sang Ayah.


Khumaira terpaku mendengar penuturan polos Ridwan. Dia ciumi wajah rupawan Putranya dengan perasaan campur aduk. Aziz memang ahli menarik atensi dengan sikap supel, humoris dan penyayang. Di tangan Aziz kelak Ridwan akan menjadi pria hebat. Walau sikap narsis, menyebalkan dan tajam menurun tetapi tidak apa ada gen Abinya yang memiliki sikap lemah lembut, penyayang, penyabar, pemaaf dan pastinya budi pekerti yang baik. Dengan bekal itu semua pasti Ridwan akan menjadi pria hebat baik di bidang ilmu akhirat dan dunia.


"Umi, nanti Dedek akan di belikan mobil-mobilan remot sama Ayah. Kata Ayah kalau Dedek hafal surah Al-Buruuj,  Dedek mau di belikan mobil-mobilan dan mainan yang lain. Yeee,  Dedek sudah hafal 15 ayat kurang 7 lagi. Alhamdulillah, sebentar lagi Dedek hafal Juz 'Amma. Umi, Dedek mau jadi Hafidz supaya Abi, Umi dan Ayah bangga. Dedek rindu Abi yang mengajari, Dedek mengaji. Tetapi, tenang Dedek punya bekal untuk Abi. Abi di sana akan bangga sama, Dedek!"


Ridwan sangat riang mengatakan itu. Mata teduh nan polos Ridwan begitu suci mengatakan semua itu. Sungguh si kecil ingin jadi Hafidz yang mampu menghantarkan Khumaira, Azzam dan Aziz ke Surga-Nya, Allah.


Khumaira menangis haru mendengar perkataan polos Ridwan. Sungguh dia sangat bangga memiliki Putra secerdas dan sangat berbudi luhur. Ia sangat bahagia memiliki Ridwan dalam hidupnya. Khumaira begitu beruntung sampai dirinya tidak mampu mengatakan apa-apa.


"Mas, terima kasih banyak sudah memberi Adek Putra, se sholeh Dedek. Maafkan Adek pernah menelantarkan Putra kita saat Adek terpuruk. Mas, Adek sangat bahagia dan haru. Semoga Mas tenang di alam sana. Kami selalu mendoakan Mas dan akan selalu mengingat amanat Mas. Mas, walau engkau sudah pergi tetapi nama dan semua tentang Mas ada di lubuk hati Adek yang paling dalam. Mas Azzam, doakan Adek agar menjadi Istri shalehah, taat pada Suami dan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak. Mas, kini Adek sudah tabah, ikhlas menerima semua ini. Doakan yang terbaik untuk kami, Mas," batin Khumaira seraya menitikan air mata.


Khumaira mendekap Ridwan sesekali mencium puncak kepala anaknya. Ya Allah, beruntung sekali dirinya mendapat karunia-Nya dengan mendatangkan Ridwan dalam hidupnya. Kini Khumaira tidak akan pernah menelantarkan anaknya apa pun kondisinya. Cukup sekali ia berbuat bodoh kini tidak lagi. Pasalnya hanya ada kebahagiaan yang akan selalu melingkupi Ridwan.


***


Khumaira menatap Aziz lamat-lamat ketika Suaminya sedang tertidur. Dia angkat tangan untuk mengusap wajah rupawan Suaminya yang dilingkupi bulu halus. Alis tebal, hidung mancung, mata tajam di bingkai bulu mata lentik, wajah tampan, bibir tebal dan rahang tegas memukau.


Pantas Suaminya begitu percaya diri membanggakan ketampanan. Memang nyata Aziz sosok maskulin penuh karisma memikat. Harus khumaira akui betapa rupawan Suaminya ini. Tetapi, wajah tampan nan dingin ini akan runtuh jikalau kumat gilanya. Kadang Khumaira heran kenapa bisa Suaminya memiliki sikap geser?


"Apa Mas begitu tampan saat tidur, Dek?"


Pertanyaan retoris muncul begitu saja dari mulut Aziz. Perlahan mata tajam terbuka lebar memperlihatkan manik indahnya. Dia tersenyum melihat respons lucu Khumaira begitu menggemaskan. Aziz senang Istrinya begitu mengagumi dirinya.


Khumaira langsung menarik tangannya agar tidak menyentuh Aziz. Dia terkejut karena Suaminya mengucap pernyataan itu. Sungguh ia tidak sadar bahwa Suaminya sudah terjaga. Kalau begini Khumaira hanya bisa menunduk dalam menyembunyikan wajah merahnya.


"Ada apa, Hm? Mas ganteng itu pasti. Mas rindu dengan Adek," goda Aziz.


Gerutu Khumaira seraya mengusap dada bidang Aziz. Dia sesekali mengusap leher kokoh Suaminya, kemudian menari menyentuh pipi. Kalau boleh jujur dia begitu bersyukur bisa sedekat ini bersama Suaminya. Wajah rupawan Aziz mampu mengalihkan dunia khumaira.


"Mas tidak percaya diri di depan, Adek. Mas merasa jelek membayangkan betapa konyol ekspresi Mas saat sedang bersama, Adek. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Maafkan Mas kerja lembur padahal Adek hamil tua. Mas merasa bersalah soal pekerjaan Mas di kantor yang menggunung. Sekali lagi maafkan Mas, Dek."


Tutur Aziz terdengar sangat menyesal. Dari nada suara dia begitu lelah akan pekerjaan. Namun, apa daya jika tidak bekerja anak dan Istrinya makan apa? Aziz begitu rindu sampai mengatakan hal ajaib begitu. Entahlah sifat narsis itu belum keluar ke permukaan. Mungkin sekarang terganti dengan Aziz normal.


"Mas sangat capek, ya? Sini Adek pijitin agar rileks. Seperti kata Mas, ketampanan Mas begitu memukau. Bagi Adek wajah Mas memang sangat tampan apa lagi kalau sedang serius. Sudah, Adek sangat merindukan Masku. Berbalik biar Adek pijat."


Aziz tersenyum bangga mendengar jawaban Khumaira. Dia mendekatkan wajahnya dengan percaya diri. Perlahan bibirnya itu menyentuh sudut bibir Istrinya. Demi apa ia sangat gemas pada Istrinya jika sedang manja atau khawatir. Bagi Aziz melihat banyak ekspresi Khumaira adalah kebahagiaan terbesar.


"Mas memang sangat tampan tidak terbantahkan. Terima kasih sudah mengakui wajah Mas sangat tampan. Mana bisa serius kalau sama Adek, Mas bisanya terus merayu dan menghibur. Mas juga sangat merindukan Adek. Serius ya pijitin Mas sampai puas karena dapat pahala cinta."


Khumaira memijat pangkal hidung gara-gara Aziz kumat kembali. Baru beberapa menit waras nah narsianya balik. Dia hanya bisa menggeleng kepala tanpa mau menjawab perkataan Aziz. Karena tidak mau ambil pusing ia memilih memijat Suaminya. Tangan mungil Khumaira terus memijat punggung Aziz cukup kuat. Dia mengambil lotion untuk mempermudah memijat punggung Suaminya.


Aziz memejamkan mata tatkala tangan mungil Istrinya terus memijat punggung. Rasa lelah perlahan luntur terganti rasa senang. Aziz sangat bahagia Khumaira begitu lembut memijat punggungnya.


Khumaira tersenyum tulus ketika Aziz kembali tertidur pulas. Wajah tampan Suaminya terlihat sangat polos jika sedang tertidur. Dia memilih beranjak menuju kamar Ridwan. Anaknya jam segini akan mencari dia. Makanya Khumaira dengan hati-hati menghampiri Ridwan. Sampai kamar Putranya ia tersenyum manis. Lihat benar saja anaknya sudah memasang tampang ingin menangis.


Ridwan merengkuh Khumaira erat sembari mendusal. Dia sangat mengantuk membuat bola mata besar menyipit imut. Ia mau bobok dalam dekapan Uminya beberapa saat. Ridwan kecil ingin bobok senyamam mungkin.


Khumaira menepuk-nepuk pantat Ridwan dan memberikan elusan di rambut Putranya. Benar saja si kecil telah lelap dalam dekapannya. Khumaira sangat bahagia Putranya tertidur lelap tanpa hambatan.


"Umi sangat menyayangi Dedek. Anakku yang tampan, tidur nyenyak agar Umi bisa tidur nyenyak juga."


Khumaira melihat jam menunjuk pukul 11 malam. Dia akan menebak Suaminya akan menyusul ke kamar Ridwan. Kini saatnya menunggu kedatangan Suaminya. Khumaira yang lelah pada akhirnya tidur lelap mendekap Ridwan.


Tepat di jam 2 pagi Aziz bangun tidak mendapati Khumaira. Dia tahu di mana Istrinya berada sehingga membuatnya berjalan ke arah kamar sang anak. Benar saja ia melihat Khumaira dan Ridwan tidur pulas. Aziz melangkah hati-hati ke arah Istri dan Putranya.


Sampai di depan dua malaikatnya Aziz menunduk untuk mengecup kening Khumaira dan Ridwan. Dia usap wajah manis kedua orang paling beranti dalam hidup. Ia sangat beruntung bisa memiliki keduanya. Aziz akan menuntun Khumaira menuju Syurga-Nya Allah. Untuk anak tampannya ia akan berusaha keras menjadikan Ridwan seorang Hafidz dan pastinya multitalenta seperti dirinya.


"Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Ayah juga mencintai Dedek karena Allah. Terima kasih banyak sudah mewarnai hari Mas lebih berwarna. Segala kebahagiaan Insya Allah akan Ayah berikan untuk Kakak dan Dedek kecil. Terima kasih banyak, Sayangku," bisik Aziz.


Khumaira terbangun ketika mendengar bisikan Aziz. Dia tersenyum manis lalu minta maaf. Ia melirik jam sudah jam setengah 3 pagi. Waktunya Shalat tahajud dan shalat hajat. Khumaira meminta Aziz membantunya duduk.


Aziz membantu Khumaira untuk duduk nyaman. Dia usap pipi gembul Istrinya untuk beberapa saat kemudian mengecup kening. Ia tahu Kebiasan Istrinya minta gendong sampai kamar mandi. Aziz tentu dengan senang hati menuruti keinginan Khumaira.


"Mas, habis Shalat sunah tolong buatin Adek makanan ya," pinta Khumaira saat duduk manis di kloset.


"Siap, nanti Mas buatkan Adek makanan enak. Mau apa, Sayang?" Aziz menoel dagu Khumaira untuk menggoda manja.


"Apa saja, yang penting buatan, Mas. Um, tetapi lauknya ikan gurami," ucap Khumaira sembari tersenyum polos.


"Siap wahai, Ratuku akan masak kesukaan Adek. Tinggal satu seprtinya ikannya itu, Dek. Tidak apa hanya makan satu?" tutur Aziz sambil mengingat jenis ikan dan tinggal berapa yang ada di kulkas.


"Mas bisa aja rayunya. Tidak apa yang penting ada ikan itu, Hehehe."


"Manisnya Istriku ini jika manja. Syukurlah kalau begitu."


Pada akhirnya Aziz dan Khumaira memutuskan untuk menggosok gigi, membasuh wajah lalu wudhu. Setelah itu keduanya keluar kamar mandi giliran dan shalat di kamar Ridwan. Selesai Shalat sunah Aziz dan Khumaira memutuskan untuk mengaji beberapa rukuk.


Usai mengaji Aziz dan Khumaira melepas seperangkat alat Shalat. Keduanya akan ke dapur membuat makanan itu Aziz yang buat dan Khumaira yang makan. Tidak ada yang lebih indah selain saling melengkapi satu sama lain. Baik Aziz atau Khumaira tidak akan sungkan meminta hal sederhana agar hubungan semakin harmonis.