
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......***.......
Tepat di hari Jum'at seperti biasa Ridwan akan ke rumah Abinya. Kadang ia akan ke ndalem, tapi karena kemarin sudah di ndalem alhasil kemari. Dengan senyum manis dia mengucap salam sebelum masuk. Ridwan tersenyum teduh sewaktu Mama tirinya yang membuka pintu.
Mahira tersenyum melihat Ridwan datang ke rumah. Tentu ia langsung menyambut hangat serta menyuruh anak tirinya masuk. Lihat wajah anak tirinya begitu tampan lalu perlahan anaknya masuk. Kebetulan Azzam sedang mencari sesuatu di toko sehingga anaknya main dulu bersama empat Adik tiri.
"Di mana Abi, Ma?" Tanya Ridwan sembari mengusap pipi tembem Emran.
"Abi sedang ke toko material tadi pamit beli cat," sahut Mahira sembari meletakkan air minum dan camilan.
"Abi mau ngecat rumah, Ma?"
"Untuk kamar, Le. Adikmu Zayn dan Zoya minta ganti warna."
"Oh, begini saja Ridwan akan bantu Abi ngecat kamar."
"Tidak perlu, Le. Nah, Tole sudah sarapan?"
"Alhamdulillah, sudah. Kenapa tidak, Ma? Ridwan akan batu, Abi. Ngomong-ngomong, di mana Zoya dan Zayn? Ridwan juga tidak melihat Ayeza, kemana mereka?"
"Àlhamdulillah, kalau sudah sarapan. Mereka ikut Abi ke toko sekalian mampir beli jajan."
"Oh, loh kenapa Tole Emran tidak ikut, Ma?"
"Adikmu ini kurang enak badan agak rewel jadinya mau di rumah saja."
"Pantas saat Ridwan sentuh tubuh Adik lumayan panas. Dedek ganteng sini Kakak gendong."
Ridwan menggendong Emran delapan bulan lebih muda dari Zaviyar. Ngomong soal Adik bungsunya ia rindu sekali ingin menggendong si gembul hiperaktif. Dia rindu ingin menggendong Zaviyar dan Faakhira. Kemudian berdebat panjang lebar bersama Mumtaaz. Ingat itu membuat Ridwan rindu ingin bertemu tiga Adik sekaligus Ayah dan Uminya.
Hati rapuh Ridwan senantiasa ingin bertemu kedua orang tuanya. Dia tidak bisa menelepon karena setiap hari Jum'at selalu menelepon Umi dan Ayahnya. Kali ini ia tidak mau jadi anak manja sedikit sedikit merengek. Ridwan sudah besar bahkan usianya sudah empat belas tahun.
Ridwan anak genius yang sudah berhasil meraih pendidikan tinggi. Dia selalu mengikuti kelas akselerasi dan hasilnya memuaskan. Ia lulus dan naik kelas otomatis nanti di usianya belum genap 16 tahun sudah lulus SMA. Dirinya tidak sabar memberitahu kabar bahagia ini pada Ayah dan Umi. Ridwan juga sudah memberitahu Abi, Mama sontak keluarga ndalem sontak mereka begitu gembira.
Sedangkan Mahira tersenyum saja melihat anak tirinya begitu perhatian pada Emran. Dia memilih membuat jus mangga kesukaan anak sulung Suaminya. Ia ingat Suaminya begitu suka jus mangga begitu pun dengan Ridwan. Maka dari itu Mahira buatkan untuk Suami dan anaknya.
Tidak berselang lama terdengar suara motor berhenti di depan rumah minimalis modern. Azzam tersenyum saja ketika tiga anaknya begitu heboh minta ini itu. Ia turunkan si kecil Ayeza lalu membawa cat, sedangkan Zoya dan Zayn menenteng plastik berisi martabak, buah-buahan dan sate.
Untuk Ayeza membawa plastik berisi telur puyuh dan bakso bakar. Anak-anaknya sangat manis meminta ini semua. Melihat mereka bahagia tentu saja membuat Azzam begitu senang. Saat di depan pintu ia melihat sandal otomatis senyum lebar merekah. Dia meminta anak-anaknya segera masuk begitu juga dengan nya.
Melihat Abi dan tiga Adiknya pulang tentu membuat Ridwan tersenyum cerah. Dia menunggu sebentar sampai akhirnya mereka terlihat. Senyum merekah sewaktu Adik-Adiknya begitu senang melihatnya. Ridwan yang rindu tentu menyambut hangat.
Melihat Ridwan begitu sayang pada empat Adik tirinya mengundang senyum haru Azzam. Dia mendekat untuk mengajak salaman baru kemudian mencium ubun-ubun sang anak. Ia izin ke dapur meletakan zat di dapur dan melihat Istrinya sibuk membuat jus. Azzam tersenyum sebelum mendekap Mahira dari belakang.
"Mas," peringat Mahira takut di lihat anak-anak.
"Dalem, Dek," sahut Azzam seraya mencium pipi Mahira.
"Berhenti, oh iya kenapa lama sekali? Memang beli apa saja?"
"Anak-anak beli jajan lumayan lama karena itu. Lihat saja, oh ini untuk, Mas?"
"Iya, Mas paling suka jus mangga makanya Adek buatkan sekalian untuk Tole Ridwan."
"Manis sekali, baiklah Mas ke luar dulu. Mau ikut sekalian?"
"Mas duluan, Adek menyusul."
"Baik, Mas sayang, Adek."
"Adek juga sayang, Mas"
Azzam mencium pelipis Mahira sebelum beranjak menuju ruang tamu. Di ruang tamu ia melihat Ridwan tersenyum sewaktu Zoya memberikan martabak coklat campur keju. Jelas anak sulungnya tidak mau karena martabak manis. Azzam hanya tersenyum melihat cara Ridwan menolak halus pemberian Zoya.
Mahira tersenyum melihat Azzam mencium pelipisnya. Dia kembali pada kegiatan membuat jus untuk anak-anaknya. Ia ambil buah pisang karena Zayn dan Zoya sangat menyukai jus pisang. Sedangkan Ayeza dan Emran lebih menyukai jus strawberry dan mangga. Selagi membuat Mahira terus tersenyum atas keberuntungan bisa mendapat Azzam.
Sedangkan Ridwan berusaha menolak halus pemberian Zoya. Bagaimana mau makan manis jika perutnya akan konslet makan makanan manis? Sampai akhirnya ia diam sewaktu Ayeza memberi dua tusuk bakso bakar dan dua tusuk telur puyuh. Bahkan Zayn juga memberikan tiga tusuk sate. Kalau ini Ridwan mau karena rasanya gurih tidak manis.
Senyum merekah sewaktu Ridwan menerima pemberian Ayeza dan Zayn. Namun, Zoya langsung layu karena Kakaknya tidak mau makan pemberiannya. Melihat wajah layu Adiknya tentu membuat Ridwan tidak enak hati. Sampai akhirnya tangannya terulur untuk mengusap pipi tembem Zoya.
"Mau menyuapi, Kakak?" Tawar Ridwan.
"Eh?" Kaget Zoya.
"Satu gigitan asal Zoya yang menyuapi, bagaimana?" Tawar Ridwan berusaha membuat Zoya tersenyum.
"Hu'um," riang Zoya lalu mengangkat martabak ke depan mulut Ridwan.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Ridwan sebelum menggigit kecil martabak.
"Iye, Kakak Ridwan mau martabak," riang Zoya lalu makan martabak dengan semangat.
"Alhamdulillah," ucap Ridwan berusaha mengunyah makanan terlalu manis.
"Kakak asa ...." Ayeza menyodorkan bakso bakar agar Ridwan makan.
Pada akhirnya Ridwan menerima semua suapan tiga Adiknya. Bahkan Adik bungsunya juga menyuapi dirinya. Dia tersenyum cerah menerima kebaikan Adik-Adiknya. Namun, hatinya merindu ketiga Adiknya yang ada di Berbah. Ridwan harap semoga saja ke-dua Ayah-Umi dan tiga Adiknya datang ke pesantren untuk menyambangi dirinya.
Melihat anak-anak begitu romantis membuat Azzam dan Mahira tersenyum teduh. Mereka bahagia melihat canda tawa Ridwan bersama empat Adik manis. Walau ada pancaran rindu untuk tiga Adiknya yang lain, tetapi mereka berusaha tenang. Azzam dan Mahira tahu bahwa Ridwan begitu merindukan Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar.
.......***.......
Tanpa Ridwan sadari ternyata Aziz telah tiba di pondok pesantren Lirboyo. Tentu saja Ayah empat anak ini membawa Istri tercinta bersama anak-anak tersayang. Tentu kedatangan keluarga kecilnya membuat keluarga ndalem sangat bahagia.
Aziz dan Khumaira begitu senang karena bisa sambang ke Lirboyo setelah tiga bulan tidak kemari. Apa lagi melihat Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar begitu senang. Ba'da shalat Dzuhur keluarga Aziz melakukan perjalanan menuju pondok pesantren Lirboyo.
Tepat jam lima sore keluarga kecil Aziz sampai ndalem. Mereka menyambut hangat kedatangan Aziz sekeluarga. Lihat si kecil Zaviyar sudah mulai mau di gendong oleh Kakek dan Neneknya.
Khumaira jadi tidak sabar bertemu Ridwan yang dirindukan. Namun, sepertinya harus menunggu karena sebentar lagi adzan Maghrib. Maka dari itu setelah bicara panjang lebar Suaminya mengajak ke kamar. Khumaira tidak enak hati tiba-tiba ke dapur merebus air untuk mencampur ke dalam air dingin.
"Mas, itu ...." Khumaira jadi tidak enak hati.
"Adek rebus air gih jangan sungkan. Adek ini sudah jadi bagian keluarga ini kurang lebih 15 tahun, kenapa masih canggung? Airnya dingin tidak baik untuk Dedek Zavi dan Dedek FaaFaa."
"Um, karena Adek malu Mas keluarga sini tersohor apa lagi ...."
"Adek ini, sudah jangan diteruskan. Cepat ke dapur keburu menjelang Maghrib."
"Um."
Setelah memberanikan diri akhirnya Khumaira ke dapur izin merebus air. Selagi menunggu ia berbincang bersama Ummi yang sibuk membicarakan Ridwan. Mendengar itu dia jadi ingin segera bertemu anaknya. Namun, setelah shalat Maghrib pasti anaknya mengaji. Khumaira tidak mau membuat Ridwan terganggu atas kedatangan mereka.
Sedangkan Aziz memilih menyisir rambut Mumtaaz dan membiarkan dua anaknya main. Mereka akan ke masjid lebih dahulu, sementara Istri dan dua anaknya bir di rumah. Tidak lama pintu terbuka menampilkan Khumaira membawa teko berisi air panas. Aziz tersenyum lalu buru-buru membantu Istrinya menyiapkan bak mandi untuk Zaviyar.
Air dingin terisi lalu Khumaira campur dengan air panas. Di rasa cukup dan tentunya hangat membuat ia tersenyum. Baru setelah itu mengambil bak besar untuk di tuangkan ke dalam bak. Sementara Aziz isi air dingin baru setelah itu mengambil teko dari tangan Khumaira.
Khumaira tersenyum saja membiarkan Aziz mengembalikan teko. Adzan Maghrib terdengar berkumandang otomatis Aziz dan Mumtaaz siap-siap ke Masjid untuk jama'ah. Sedangkan Khumaira menunggu adzan baru memandikan dua anaknya.
Sampai masjid nanti Abah Hasyim jadi imam sedangkan Aziz dan Mumtaaz jadi makmum. Keduanya sibuk mencari keberadaan Ridwan. Di sini keduanya ada di barisan paling depan, tetapi mata mereka terus mencari kedatangan Ridwan. Benar saja setelah lima menit menunggu orang yang di cari datang bersama teman se asrama.
Ridwan memilih shaf agak belakang dan belum sadar jika Ayahnya ada di depan. Selagi menunggu imam datang Ridwan memejamkan mata ikut pujian. Sampai akhirnya Imam datang tanda shalat jama'ah di mulai. Ridwan berdiri saat Kang pengurus Iqamah.
Usai shalat Maghrib Ridwan berdiri hendak kembali ke asrama. Namun, dia terdiam sepi mendengar suara familiar. Dia langsung menatap depan memastikan pendengaran tidak salah. Benar saja di arah jam 12 ia melihat Adiknya loncat-loncat heboh. Mata Ridwan membulat sempurna melihat Mumtaaz dan lebih terkejut melihat Ayahnya.
Aziz tersenyum melihat Ridwan menatap dalam. Karena mendengar suara gaduh anaknya ia memperingati Kakak cilik untuk tenang. Bukanya tenang anak keduanya malah nyengir kuda lalu mendekap tubuhnya. Aziz pasrah saja sebelum akhirnya melihat Ridwan berjalan cepat ke arahnya.
"Ayah," lirih Ridwan.
"Kemari Nak kenapa malah diam saja?" Tanya Aziz seraya merenggangkan tangan.
"Assalamu'alaikum, Ayah." Ridwan meminta salam terlebih dahulu sebelum mendekap erat Ayahnya.
"Wa'alaikumussalam, anak tampan, Ayah," sahut Aziz seraya tersenyum tipis.
"Ayah, aku yang paling tampan," protes Mumtaaz.
"Sepertinya Kakak Ridwan yang tampan," goda Aziz masih sibuk mengusap rambut Ridwan.
"Ayah, jahat. Catat, Kakak cilik ini pangeran tertampan di dunia. Pokoknya Kakak yang tampan sedunia!" Rajuk Mumtaaz.
"Allahu Akbar, cerewet sekali Kakak cilik. Yang tampan overdose diam saja," nimbrung Ridwan setelah melepas rindu bersama Ayahnya.
"Dasar gila, aku yang tampan. Ayah, bilang ke Kakak gede!" Mumtaaz sudah merengut lucu.
"Memang dasarnya Kakak Ridwan ganteng," sahut Aziz berniat menggoda Mumtaaz.
"Argh, kalian jahat. Sudah Kakak ngambek," sungut Mumtaaz seraya memajukan bibir mungilnya.
"Lucunya," kekeh Ridwan.
Ridwan dengan sayang mendekap Mumtaaz seraya tersenyum tipis. Dia cium pipi tembem Adiknya sebagai bentuk rasa sayangnya. Ia juga tidak segan mengusap rambut lalu mencubit pipi tembem Adiknya. Ridwan yang gemas kembali merengkuh Mumtaaz masih betah merengut.
Mumtaaz sebenarnya begitu senang sewaktu Ridwan mengusap rambut, mencubit pipi lalu menggoda. Dia begitu rindu pada Kakak kesayangannya. Ia yang sangat senang atas rindu menggebu memilih tetap cemberut lucu. Mumtaaz mau Ridwan mengalah sebelum mendekap erat.
Aziz hanya tersenyum melihat interaksi lucu Ridwan dan Mumtaaz. Dia begitu senang sewaktu dua anak unik melabuhkan kerinduan dengan cara masing-masing. Ia begitu bahagia lalu mendekap tubuh dua anaknya. Aziz yang sangat senang mencium puncak kepala dua anaknya.
Mendapat pelukan hangat Ayah tentu Ridwan dan Mumtaaz begitu senang. Mereka balas mendekap erat Ayahnya dengan cengiran hangat. Keduanya memilih duduk sebelum beranjak ke ndalem. Mumtaaz dan Ridwan begitu senang bisa berkumpul.
"Kakak cilik tidak marah lagi?" Tanya Ridwan.
"Masih." Mumtaaz memberengut lucu.
"Kakak cilik yang paling tampan dan paling rupawan sedunia," ujar Ridwan seraya mengusap pipi Mumtaaz.
"Benar, anak Ayah yang paling tampan. Kakak Ridwan tampan, tapi Kakak cilik juga jauh lebih tampan." Aziz mencium pipi gembil Mumtaaz kemudian mencium kening Ridwan.
"Serius?" Todong Mumtaaz.
"Hm, Kakak Mumtaaz yang paling tampan," sahut Ridwan di angguki Ayah.
"Nah begitu baru benar, ahahahaha." Mumtaaz langsung tersenyum cerah.
"Dasar gila pujian," kekeh Ridwan.
"Nyata, ahahahaha."
Alhasil Aziz mengajak Ridwan ke ndalem dan Mumtaaz ikut serta. Mereka tersenyum cerah dengan langkah riang. Dan tanpa mereka sadari ada yang menatap dari jauh, tepatnya di balik jendela. Senyum manis terukir karena anaknya begitu senang bertemu Aziz dan Mumtaaz.
Azzam tadi di rumah karena Emran rewel. Alhasil memutuskan ke ndalem bersama keluarganya usai shalat Maghrib. Di sini ia menunggu kedatangan Adiknya dan Mumtaaz. Ia jadi rindu Mumtaaz dan Faakhira bermanja ria. Azzam juga tadi sudah bertemu Khumaira dan Zaviyar maka dari itu sangat senang.
"Tole Ridwan, memang begitu mencintai Ayahnya. Dia juga sangat mencintai Adik-Adiknya terutama Tole Mumtaaz, Nduk FaaFaa dan Tole Zavi. Semoga kalian selalu bahagia dan Tole selalu bahagia," batin Azzam di blok jendela.
...Cut....
...Ya Allah, maafkan aku begitu amburadul karena baru bisa nulis....
...Aku nulis apa juga bingung....
...Aku sedang tidak enak badan alias dari bangun tidur pusing tujuh keliling....
...Sekali lagi maafkan aku nulis Chap Ini begitu aneh....
...Ini begitu amburadul dan garing. Pokoknya maafkan aku atas ketidakberdayaan ini....
...Salam cinta, Rose....
...06_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....