
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
...Alhamdulillah double update, pasti kalian senang wkwkwkw....
...Aku tidak tahu menulis apa yang jelas terasa ngga jelas. Semoga kalian tetap mau baca huhuhu....
...Kalian jangan sedih karena aku lebih sedih....
.......**'💔'**.......
Aziz, Azzam dan yang lainnya tersenyum lega setelah Bidan mengatakan bahwa Ridwan sudah stabil. Mereka juga tersenyum lega karena anak sulungnya berhasil ditangani lebih awal. Sungguh mereka khawatir sekaligus lega akhirnya Ridwan sudah stabil dan bisa diselamatkan tepat waktu.
Yang jadi pertanyaan kenapa bisa Ridwan tiba-tiba begitu?
Antahlah yang jelas Bidan itu mengatakan Ridwan butuh pemeriksaan lebih. Maka dari itu setelah sadar Bidan menganjurkan untuk melakukan lebih intensif di rumah sakit. Bidan terkejut sewaktu Dokter spesialis bedah dan onkologi menjelaskan bahwa keponakannya tiba-tiba pingsan, degup jantung tidak beraturan dan tubuhnya mendingin.
Maka dari itu Bidan meminta keluarga pasien membawa Ridwan ke Rumah Sakit. Mendengar penuturan Bidan tentu saja membuat mereka panik. Apa lagi saat Bidan mengeluarkan opini. Tentu saja tambah panik sekaligus segera meminjam mobil untuk membawa Ridwan ke rumah sakit.
Di sisi lain Zaviyar begitu senang berada di dalam mobil. Dia terus mengoceh panjang lebar dan bersyukur Paman dan Bibinya menyahut. Ia juga sangat senang sebentar lagi masuk ke pusat kota. Zaviyar jadi menginginkan sesuatu untuk di belikan kepada tiga Kakaknya.
"Paman-Bibi, nanti Zavi belikan mobil-mobilan, ya," ucap Zaviyar begitu semangat.
"Tentu nanti kami belikan mobil-mobilan, Nak," ucap Bibah.
"Iye .....!!!!" Riang Zaviyar.
"Anak manis, sini cium," ujar Bibah hendak mencium Zaviyar yang ada dalam pangkuannya.
"No, kata Ayah dan Kakak bahwasanya Zavi ganteng dan tampan bukan manis, Bibi," protes Zavi.
"Subhanallah, benar-benar mereka ini super narsis. Baiklah anak super tampan mau apa selain mobil-mobilan?" Kekeh Bibah.
"Mas tidak pernah menyangka keluarga kecil Mas Aziz tidak lebih dari sekumpulan model manusia super Narsis. Memang benar mereka semua rupawan jadi tidak boleh membantah," tawa Khalid.
"Nah itu baru benar, Paman-Bibi. Kami tampan tidak terbantahkan dan itu nyata alias fakta. Zavi mau pesawat dan robot, boleh ya Paman-Bibi?" Tutur Zaviyar polos
"Masya Allah, keponakan ganteng Paman dan Bibi benar-benar luar biasa. Tentu kami akan belikan apa pun yang diminta Tole Zavi," kor Khalid dan Bibah.
"Ha-ha-ha, Zavi memang ganteng overdose kayak Ayah dan Kakak. Alhamdulillah, hore dapat pesawat dan robot mainan. Hore mainan Zavi banyak sekali. Alhamdulillah yaa Allah."
"Benar-benar Masya Allah anak tampan ini, Dek. Anak sekecil ini begitu genius dan begitu tahu banyak hal. Mas dan Mbak sangat beruntung mendapatkan Tole Zavi dalam kehidupan mereka. Mas kagum walau masih kecil sudah tahu banyak hal dan sudah terlihat kelak sangat genius. Masya Allah," puji Khalid sembari mengusap rambut Zaviyar.
"Benar sekali Mas bahwa Tole Zavi begitu luar biasa. Mungkin akan menjadi saingan terberat Tole Ridwan jika tumbuh besar bersama mereka. Dari kecil Tole Ridwan begitu cerdas dan lihat Tole Zavi tumbuh tidak kalah genius. Dari sorot mata serta semua tentang Tole Zavi membuat siapa saja paham anak ini istimewa. Mereka begitu beruntung mendapatkan anak segenius Tole Zavi. Walau begitu Tole Mumtaaz dan Nduk FaaFaa tidak kalah luar biasa. Mereka berdua terlihat sangat genius dan sangat istimewa. Namun, yang paling utama mungkin Tole Ridwan dan Tole Zavi. Itu penilaian Adek untuk anak-anak Mbak dan Masku."
Mereka terus berbicara dan tidak terasa sudah memasuki kota. Pada akhirnya sampai juga di pusat perbelanjaan. Mereka memarkirkan mobil baru setelah itu keluar.
Zaviyar yang sangat senang menggandeng tangan Paman dan Bibinya. Dia terus mengajak jalan dengan ocehan panjang lebar. Ia juga tidak segan tersenyum pada siapa pun itu. Zaviyar saat ini yang biasa irit senyum dan kurang suka berbicara jadi pribadi ceria nan hiperaktif dan pastinya Narsis.
Melihat kelucuan Zaviyar yang sangat memikat membuat Khalid dan Bibah tidak segan memberi ciuman sayang. Keduanya mencium pipi gembul keponakannya penuh sayang. Baru setelah itu Khalid menggendong Zaviyar. Sementara Bibah sibuk menoel pipi tembem Zaviyar.
Para pengunjung pusat perbelanjaan nyaris memekik histeris melihat makhluk menggemaskan. Bayangkan ada anak kecil begitu rupawan dan sangat menggemaskan terus mengumbar senyum serta keceriaan. Mereka iri sekaligus ingin memiliki bayi setampan sekaligus semanis si kecil.
Mata dengan pahatan tajam nan lebar bermanik jelaga terus memancarkan kepolosan serta keindahan membuat siapa saja tersentuh. Apa lagi anak ini memakai pakaian kontras dengan warna kulit putih bersih bagai porselen. Kulit si kecil putih kemerah-merahan apa lagi pipi tembem bersemu merah. Bibir mungil merah muda dengan hidung sudah terlihat mancung. Apa lagi alis sudah terlihat memikat.
Sudah bisa dibayangkan kelak jika Zaviyar besar maka akan menjadi pemuda luar biasa rupawan. Dan pastinya idaman semu kaum wanita. Intinya si kecil definisi nyaris sempurna dan pastinya menggemaskan akibat tubuh gempalnya.
Melihat tatapan para pengunjung begitu antusias membuat Bibah dan Khalid tersenyum. Mereka dengan senyum manis jika ada yang tanya Zavi siapa? Maka jawaban keduanya adalah Zavi adalah anak bungsu. Tidak salah bukan jika Khalid dan Bibah bilang anak bungsu.
Lantaran Zaviyar memang anak bungsu yang sangat menggemaskan. Mendengar jawaban itu mereka terus memuji betapa beruntungnya mendapat anak semanis Zaviyar. Dan mereka belum melihat Mumtaaz dan Ridwan dengan wajah di atas rata-rata.
"Paman-Bibi ayo beli mobil-mobilan itu!" Tunjuk Zaviyar melihat mobil-mobilan besar.
"Ayo, beli berapa, Nak?" Tanya Khalid dengan gemas mencium pipi Zaviyar.
"Satu saja, kalau beli tiga kebanyakan. Paman-Bibi nanti Zavi minta boneka kucing, beruang besar dan boneka Barbie boleh?" Pinta Zaviyar.
"Loh, bukannya Tole Zavi tidak suka boneka? Lalu boneka itu untuk siapa?" Tanya Bibah sebenernya tahu untuk siapa.
"Untuk Mbak FaaFaa, he-he-he. Mbak sangat suka boneka Zavi mau berikan boneka untuk, Mbak FaaFaa," riang Zaviyar sembari bertepuk tangan heboh.
"Masya Allah, Tole Zavi begitu menyayangi Mbak FaaFaa, eh?' goda Khalid seraya menoel pipi tembem Zaviyar.
"Tentu saja Zavi begitu menyayangi Mbak FaaFaa. Zavi juga sangat menyayangi Kakak Wan dan Kakak Taaz. Zavi sayang semua Kakak-Kakakku. Zavi juga sayang Mas Emran dan Mas Zayn begitu juga Mas yang lainnya. Sayang semua hehehehe," sahut Zaviyar begitu tulus nan polos.
"Masya Allah, pintar sekali anakku yang tampan," kekeh Bibah sangat senang.
"Masya Allah, benar-benar luar biasa. Lalu apa Tole sayang kami?" Timpal Khalid.
"Tentu saja begitu sayang, Paman-Bibi," sahut Zaviyar riang.
Obrolan berlanjut hingga akhirnya mereka membeli apa pun itu. Jujur saja akibat berbelanja begitu banyak membuat uang mereka terkikis. Walau begitu mereka sangat senang setidaknya ditemani si manis.
Dan tanpa mereka sadari dari jauhan tepatnya 20 meter dari tempat berdiri Khalid dan Bibah serta Zaviyar terlihat pria mengamati. Sebenarnya pria ini sudah mengamati sedari beberapa hari lalu. Bahkan pria ini juga yang telah mengikuti mereka dari rumah.
"Nikmati Kebersamaan sebelum kematian menyerang kalian. Aku tidak akan segan dan akibat semua ini kalian harus menanggung rasa sakitku. Tamat riwayat kalian," batin pria itu seraya menyeringai misterius.
.......***.... ...
Di perjalanan pulang setelah berbelanja menguras dompet akhirnya pulang. Mereka seperti di awal terus bercanda gurau. Tidak ayal membuat si kecil terus tertawa gembira.
Dan mereka tidak tahu bahwa bahaya siap menghadang. Dalam perjalanan pulang tepat 30 menit sebelum memasuki area hutan Zaviyar bungkam sembari menggenggam tangan Bibinya.
"Ada apa, Nak?" Tanya Bibah panik sekaligus khawatir.
"Bibi, apa kita akan kembali ke Rahmatullah?" Tanya Zaviyar tanpa membalas pertanyaan Bibinya.
"Maksudnya, Le?" Bingung Bibah.
"Bisa kita tidak melewati jalur ini?" Zaviyar masih memberikan teka-teki.
"Tidak ada Nak. Ini jalur utama, memang ada apa?" Tanya Bibah khawatir.
"Katakan Nak ada apa?" Pinta Khalid.
"Itu ... Jika memang tidak ada jalan lain maka dari sini terus sebut nama Allah. Kita akan selamat Insya Allah," tutur Zaviyar ketar-ketir.
"Memang ada, Le?" Desak Bibah dan Khalid.
"Tidak ada yang lebih indah sewaktu Allah berkehendak. Kata Ayah dan Umi, jika dalam perjalanan harus sering mengucap nama Allah. Jangan lupakan shalawat Nabi, istighfar dan jika dalam keadaan terdesak ucapkan syahadat. Ini kata Abi yang selalu mengatakan banyak hal. Zavi ingat semua kata-kata mereka," papar Zaviyar.
"Subhanallah Keponakan kami benar-benar luar biasa. Dek, memang benar yang dikatakan Tole, sudah sepatutnya kita mendengar perkataan Tole. Kita setiap hembusan napas senantiasa menyebut nama Allah dan kita diingatkan oleh keponakan tercinta. Kita memang tidak salah membawa Tole sekaligus menjadi kunci," tutur Khalid.
"Allahu Akbar, Maha Besar Allah telah memberikan segala cinta pada hamba-Nya. Adek tidak takut Mas, kita akan melewati ini semua. Dengarkan perkataan Tole untuk terus mengucap nama Allah, shalawat Nabi, syahadat dan istighfar. Kita akan terlindungi langsung dari Allah Aamiin," ucap Bibah.
"Tenang, Nak kita akan selamat. Jika ini takdir maka kita akan senantiasa bersama dalam suka maupun duka. Jika Allah menghendaki niscaya akan menolong. Jika boleh memilih biar kami yang pergi jangan Tole. Maka Bibi dan Paman akan melindungi, Tole," tutur Bibah.
Khalid memelankan laju mobilnya yang akan mendekati motor. Jarak kurang 10 mater dan hal mengejutkan terjadi sewaktu mobilnya oleng akibat ban depan mengalami kendala. Dia yang merasa ini jalan terasa licin seklaugs ada sesuatu membuat kehilangan kendali. Khalid yang panik meminta Bibah segera mendekap erat Zaviyar dan siapa-siapa menyelamatkan diri.
Bibah begitu panik sewaktu mendengar suara tembakan dan berakhir ban mobil kempes. Apa lagi saat jalan terasa berbeda membuat mobil hilang kendali. Dia sontak mendekap erat Zaviyar serta mengucap syahadat serta berseru nama Allah. Bibah tidak sanggup mengatakan apa-apa sewaktu mobil terbalik dan berputar beberapa kali sampai jatuh ke lereng hutan.
Zaviyar yang ketakutan mendekap Bibinya erat. Dia terus mengucap nama Allah serta syahadat. Tidak ayal bibir kecilnya juga memanggil Ayah dan Umi. Dirinya merasa takut sewaktu mobil berputar dan berakhir jatuh. Zaviyar sangat takut membuat semua spekulasi buruk.
Akibat mobil berguling-guling di lereng membuat Khalid terus terbentur. Dia juga berusaha melindungi Istri dan keponakannya membuat sakit semua. Kalimat syahadat, nama Allah terus terucap dalam hati. Hingga ada kesempatan Khalid yang berhasil melepas sabuk pengaman Bibah membuka pintu mobil dan mendorong Istri dan keponakannya keluar.
Sebelum jatuh tangan Bibah sempat menggenggam tangan Khalid. Sebelum terjatuh ia mengatakan cinta atas nama Allah dan berakhir berguling sampai dasar. Dan dalam musibah ini ia terus mendekap Zaviyar dan terus melindungi. Bibah tidak peduli rasa sakit yang jelas keponakannya harus selamat.
Sementara Khalid tersenyum teduh melihat Bibah dan Zaviyar telah keluar. Saat mobil sampai dasar dengan posisi terbalik ia tersenyum tulus. Dia berusaha tabah seolah tidak merasa sakit akibat musibah. Khalid yang merasa Allah begitu mencintainya dan maut menjemput mengucap syahadat untuk kesekian kali.
Rasanya sakit walau Khalid merasa malaikat Izrail mencabut nyawanya secara halus. Dan sebelum nyawanya melayang ia mengukir senyum teduh. Senyum termanis telah bertemu ajal dan senyum haru Allah SWT telah mengirim malaikat Izrail mencabut nyawanya tanpa susah payah. Khalid tidak takut melainkan merasa bahagia karena di sinilah kehidupan telah berakhir.
Bibah merasa tubuhnya begitu sakit serta merasa tidak tahan. Namun, ia berusaha kuat demi keponakannya. Dia juga menatap mobil berisi Suaminya di dalam sana. Dia mengucap syukur lantaran mobil itu tidak mengalami tanda-tanda kebakaran. Bibah sangat bersyukur Allah berkenan memberikan keajaiban atas Khalid.
Di rasa Khalid aman Bibah melihat Zaviyar telah terkulai lemah. Mungkin karena inside mengerikan sekaligus shock berat membuat keponakannya pingsan. Apa lagi keponakan terus kejepit akibat kecelakaan tunggal. Bibah panik sekaligus merasa waktunya telah sangat dekat.
Di atas sana terlihat seorang pria langsung menyingkirkan motor agar tidak ada yang curiga. Jika boleh jujur ia yang telah membuat jalan licin akibat minyak dan oli. Dia juga yang telah menembak ban mobil korban.
Yang paling membuat bingung adalah karena tidak mendengar suara ledakan. Maka dari itu pria itu memutusakan turun ke bawah memastikan sesuatu. Setelah cukup jauh pria itu melihat mobil terbalik di dasar. Sedangkan di arah barat pria ini melihat wanita mendekap seorang anak.
Dengan segera ia menghampiri wanita dan bocah kecil. Sewaktu sampai ia merasa miris melihat tubuh masa lalunya ada bercak darah. Dia juga merasa shock sewaktu mata masa lalunya terbuka. Mata mereka sempat bertatapan sebelum si wanita berpaling.
"Kak Steve," lirih Bibah seolah tahu ini konspirasi Steven.
"Hn," Sahut Steven.
"Apa sekarang Kakak puas? Apa Kakak sudah tidak membenci diriku? Apa bisa memaafkan aku?" Tanya Bibah terdengar begitu lemah.
"...." Steve bungkam seolah merasa menyesal.
"Aku minta maaf dan tolong maafkan aku."
"Kak, untuk yang terakhir tolong selamatkan Suamiku di dalam sana. Aku mohon sebagai yang terakhir dan permintaan terakhir," pinta Bibah.
"...."
Tanpa membuang waktu Steve menuruti keinginan Bibah. Dia bergegas menolong Khalid yang ada di dalam mobil. Saat ia sampai dan berhasil menyelamatkan pria alim segera dikeluarkan. Namun, ada yang aneh karena degup jantung tidak ada. Tentu saja Steve sebagai Dokter langsung mengecek semua.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un," lirih Steve tidak percaya Khalid telah tiada.
Sedangkan Bibah menatap Khalid penuh air mata. Seolah tahu bahwa Suaminya telah meninggalkan terlebih dahulu. Dia yang lemah memilih diam sebelum mencium puncak kepala keponakannya. Bibah merasa harus kuat walau sebentar saja.
"Mas, tunggu Adek sebentar saja. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Adek minta maaf telah membuat Mas menjadi korban dendamnya. Adek sangat menyesal sekaligus terbaru," lirih Bibah.
Setelah meletakan Khalid di tempat aman dengan perasaan campur aduk Steve berjalan menghampiri Bibah. Dia antah kenapa tiba-tiba merasa menyesal telah berbuat keji. Ia merasa sangat terluka serta sadar apa yang dilakukan salah besar. Hanya saja Steve tidak akan mau mengakui kesalahannya.
Bibah hanya diam sewaktu Steven sudah ada dia sampingnya. Dia dengan tubuh bergetar merasa waktu sebentar lagi habis berusaha tenang. Ia dengan sedikit keberanian menatap Steve penuh permohonan. Bibah harap semoga saja Steve mau menolong Zaviyar.
"Bagaimana keadaan Suamiku?" Tanya Bibah lemah.
"Meninggal," sahut Steve seraya berpaling menyembunyikan air mata.
"Alhamdulillah, Suamiku telah tida. Aku senang setidaknya ini takdir kami. Terima kasih telah membuat kami menjemput ajal dengan cara tragis. Namun, setidaknya aku senang tiada di tangan orang yang membenci. Aku senang, Kak. Maka bisakah memaafkan aku?" Tutur Bibah sembari menangis.
"Hn."
"Kak, bisakah aku minta satu hal?"
"Apa?"
"Tolong selamatkan anakku. Tolong segera bawa anakku ke rumah sakit. Tolong jangan biarkan Anakku tiada."
"Aku akan membawa kalian ke rumah sakit. Jangan khawatir kamu pasti selamat dan kita bisa hidup bahagia bersama selamanya."
"Jangan, biarkan aku tiada di sini. Seumpama jika aku selamat lebih baik aku janda dari pada hidup bersama, Kakak."
"Kau ...."
"Tolong bawa segera anakku."
"Tidak sudi, biar kalian mati. Aku tidak peduli. Ini yang ku mau melihat kalian mati. Aku tidak akan menyelamatkan kalian!"
"Aku mohon tolong selamatkan ...."
"Kau hanya masa lalu dan aku puas telah membuat kalian mati!"
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas semuanya. Kak jika hatimu sudah terbuka atau menerima hidayah serta penyesalan aku mohon maafkan semua kesalahanku dan tolong selamatkan, Zavi."
"...."
"A-aku mo-mo-mohon, K-Kak."
"Mati saja kau, sialan. Aku tidak peduli!"
Setelah mengatakan itu Steve berlalu dengan air mata berlinang. Dia menangis atas semua yang terjadi. Ia begitu sakit merasa bersalah sekaligus berdosa akibat dendam, benci menyebabkan kehilangan akal. Steve menangis do setiap langkah seolah membiarkan nurani menolong bocah kecil itu lenyap.
Bibah yang tidak tahan hanya bisa menangis sembari mendekap Zaviyar. Dengan perasaan berusaha tenang, lapang, ikhlas dan bertawakal ia mengontrol diri. Dia terus mengucap istighfar sebelum mengucap nama Allah dan syahadat. Detik berikutnya Bibah memejamkan mata selamanya dengan senyum di bibirnya.
Steve yang merasa begitu kalut sekaligus merasa begitu berdosa sekaligus hati nurani menang memutuskan berlari ke arah Bibah dan anak malang. Namun, semua terlambat sewaktu ia sampai hal memilukan terlihat. Wanita cantik itu telah memejamkan mata. Steve meraung menerima takdir kejam.
"Kenapa? Kenapa ini terjadi? Arghhhh aku benar-benar tidak tahan. Ya Allah, arghhhh huhuhu huhuhu, ampun ya Allah atas semua khilaf ku," tangis Steve seolah tahu Bibah sudah tiada.
"Aku tidak akan menyentuhmu karena aku tahu kamu begitu suci. Kehormatan sekaligus kesucian dirimu tidak akan ku nodai. Maafkan aku dan tenanglah di alam sana Dik. Aku sudah memaafkan semuanya. Semoga kamu bisa istirahat dengan damai dan jangan khawatir. Aku tidak akan menyentuhmu."
Steve dengan hati-hati meraih Zaviyar yang ada di atas jenazah Bibah. Dengan tangis ia menggendong anak kecil tidak sadarkan diri. Tanpa buang waktu dia berjalan meninggalkan tempat kejadian. Yang pasti Steve merasa sangat menyesal walau semua itu telah sia-sia.
"Maafkan aku atas semuanya. Karena sakit hati aku berubah menjadi iblis. Aku kehilangan kewarasan dan menjadi iblis maka maafkan aku. Ya Allah, tolong maafkan hamba," tangis pilu Steve.
...Cut ....!!!!...
...Dan sayang sekali Tole Zavi tidak akan dikembalikan oleh Steven....
...Aku merasa sesak telah menulis chap aneh....
...Semoga kalian senang membaca Chap amburadul ini....
...Maaf belum tak koreksi jadi kalau banyak kesalahan harap maklum....
...Salam cinta dari Rose....
...28*11*20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....