
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Happy Reading Baby!
***********......• •.........•~•``•~•......• •********
Khumaira meremas jemari sendiri karena ingat kelakuannya tadi malam. Wajahnya merona parah gara-gara Aziz mengatakan itu. Pantas saja Suaminya begitu.
Setitik memori bersama Azzam membuat Khumaira menitikkan air mata. Suaminya yang telah tiada begitu perhatian dan sangat romantis. Sakit saja Suaminya jarang makanya dia tidak pernah merawat Azzam seintim Aziz tadi malam.
Khumaira menatap pantulan dirinya di cermin. Buru-buru dia hapus air matanya saat kepiluan melanda. Pasti sangat sakit Aziz menahan hasrat. Sementara dia belum sanggup menyerahkan diri dan melakukan kewajiban utuh sebagai Istri.
Bagi Khumaira hanya ada Azzam yang boleh menjadi Imam sekaligus sang penguasa di tubuhnya. Namun, sampai kapan Khumaira mempertahankan prinsip itu jika ada Suami keduanya yang butuh itu semua?
Sampai kapan Khumaira tidak memberi hak untuk, Aziz? Jawabannya sampai ia benar-benar siap lahir batin. Tetapi, kapan sanggupnya? Antahlah yang pasti tepat pada waktunya tiba Khumaira akan menyerahkan hak itu pada Aziz.
Khumaira langsung merubah ekspresi menjadi seperti biasa. Dia harus Shalat subuh dan siap-siap membawa Aziz ke rumah sakit terdekat.
"Mas, maafkan aku belum bisa menjalankan kewajiban sebagai Istri. Mas, aku harap suatu hari entah kapan rasa ikhlas datang. Mas pria yang sangat baik dan aku hanya memberi derita. Maaf," gumam Khumaira.
Selesai Shalat Khumaira mendekat ke arah Aziz. Tubuh Suaminya masih saja panas bahkan belum turun demamnya. Dia usap keringat yang membasahi kening Aziz.
"Mbak," lirih Aziz.
"Maaf membangunkan, Mas," lirih Khumaira.
"Hm, aku ingin Shalat, bisa panggilkan Mas Bahri untuk bantu Aziz ke kamar mandi?"
"Mas ... ah baiklah. Jangan banyak bicara dulu, aku akan segera kembali. Nanti jam setengah 7 kita berangkat ke rumah sakit."
Aziz mengaguk lemah menyetujui perkataan Khumaira. Dia memejamkan mata tatkala Khumaira melangkah keluar.
Mata redup Aziz terbuka kembali. Dia menyentuh dadanya yang terasa berdegup kencang. Sekelebat ingatan tadi malam membuat dia tertawa lirih.
"Aku ini agresif sekali. Mbak tenang saja Aziz tidak akan meminta lebih. Aku tahu Mbak tertekan akan pernyataan tadi malam. Sangat sulit tetapi apa daya itu adalah konsekuensi. Aku ikhlas lahir batin, semoga Allah memberikan kuasa-Nya."
Aziz kembali menutup mata agar meredakan rasa pusing. Dia teringat Khumaira saat merengkuh erat kepalanya. Dia begitu senang sampai degup jantungnya terasa menggila ingin ke luar. Yang jelas Aziz sangat bahagia akan sakit kali ini.
...***...
Zahira mendapat tugas dari atasan untuk terjun ke rumah sakit di Pagerharjo 7 hari. Dia menghembus napas berat karena Pagerharjo tempat Khumaira dan kini Aziz berada. Bisakah Zahira melihat prianya berdekatan dengan Khumaira?
Mereka sudah menikah dan Zahira berusaha ikhlas merelakan Aziz. Dia tidak boleh egois karena keputusan mantan tunangan sangat mulia. Semoga saja Aziz bahagia akan keputusannya itu.
"Mas, bahkan sampai sekarang aku masih mencintaimu. Nyaris 4 tahun kita bersama dan saling mengenal, aku sangat mencintaimu, tetapi harus ikhlas kamu jadi milik orang lain. Apa aku bisa dengan mudah merelakan, Mas? Bahkan cintaku berlabuh begitu lama, tapi kenapa kita tidak bersama?" gumam Zahira sembari menangis sesenggukan.
Zahira terdiam ketika pintu terbuka menampilkan sosok Ibunya. Dia langsung berhambur memeluk Ibunya erat sembari menangis sesenggukan.
"Ibu, aku belum sanggup. Sekarang Mas sudah menikah dengan dia. Aku harus bagaimana?"
"Sabar, Nduk. Ingat dia bukan jodoh yang dikirim Allah untuk, Nduk. Ikhlaskan Masmu dengan wanita lain, Ibu percaya kamu bisa," hibur Ainun.
"Zahira hanya bisa berharap, semoga saja. Aamini."
"Katanya nanti kamu mulai kerja di Pagerharjo selama 1 pekan. Gih siap-siap untuk ke sana."
"Enggeh, Bu. Jika, aku bertemu mereka bagaimana, Bu?"
"Beri ucapan selamat dan jangan tunjukan wajah memelas. Ingat masih banyak pria yang lebih baik dari, Aziz," hibur Ainun.
"Baiklah, terima kasih, Bu. Tetapi, aku rasa pria lebih baik dari Mas tidak ada."
"Pasti ada, yakinlah!"
Ainun berharap Zahira mampu melupakan Aziz. Walau jujur ia tidak ikhlas calon menantunya jadi milik orang lain. Ainun terlanjur menyukai Aziz sebagai menantunya di bisa membahagiakan Zahira. Semoga saja pelangi lekas datang menghampiri Putrinya.
Zahira sedikit tenang mendengar perkataan Ibunya. Sekarang ia harus kuat dan menata kembali bongkahan hati yang hancur. Semoga saja akan ada pria baik-baik yang mampu menggantikan posisi Aziz dalam hatinya.
Mungkin Aziz bukan jodoh yang di takdirkan. Namun, Zahira berharap di kehidupan akan datang Aziz takdirnya.
Dia menatap diri di cermin membuatnya yakin banyak hal. Dia gadis berprestasi, cantik dan anggun. Pasti banyak yang mengantre seperti perkataan, Aziz.
Yakin dan tekad akan Zahira cetuskan bahwa Aziz bukan takdir di masa sekarang. Namun, siapa tahu di kehidupan akan datang dia bersama pria itu.
"Ya Allah, hilangkan pikiran nista itu. Aku tidak mau berperan menjadi gadis antagonis. Aku harus sabar, ikhlas lahir batin menerima. Maafkan kekhilafan hamba, ya Allah."
.......***.......
Aziz di rawat sehari penuh untuk mengembalikan stamina. Sekarang jam 5 sore membuat pria tampan itu bosan karena terbaring lemah tanpa teman bicara. Tadi Khumaira izin memandikan Ridwan dan akan kembali segera.
Senyum manis terus terbit mengingat Ridwan terus memijat lengannya sembari mengoceh imut. Putranya sangat mengemaskan sampai ingin Aziz menggigit pipi.
...Ceklek...
Pintu terbuka membuyarkan lamunan Aziz tentang Ridwan. Dia terpaku begitu pun dengan sosok di bibir pintu. Detak jantung keduanya menggila sang pria merasa bersalah, sedangkan sang gadis merasa tertekan akan situasi ini.
"Mas Aziz / Dik Zahira," gumam mereka.
Zahira buru-buru tersenyum tipis lalu mendekat ke arah Aziz. Kenapa Masnya sakit? Apa Istri sang pria tidak mengurus dengan baik? Padahal baru dua hari menikah, tetapi kenapa Aziz terdampar di rumah sakit?
"Pengantin baru, dua hari langsung masuk rumah sakit. Selamat Mas atas pernikahan kalian. Semoga Sakinah Mawadah Warahmah. Aamiin."
"Aamiin yaa Allah, terima kasih, Dik."
Zahira datang karena di suruh Dokter senior untuk mengganti cairan infus, pasalnya sudah habis. Setelah selesai Zahira tersenyum.
Tidak ada percakapan malah terkesan canggung. Terkhusus Aziz merasa tidak enak hati. Sedangkan Zahira hanya terdiam seribu bahasa.
"Mas."
"Iya."
"Kenapa bisa sakit begini? Kata Dokter yang merawat, Mas ... Mas sakit gara-gara banyak mengonsumsi kopi, kurang tidur dan makan. Sebenarnya ada apa?"
"Tidak, aku hanya kelelahan. Kenapa bisa bekerja di sini padahal Dik Zahira kerja di pusat?"
"Oo, baiklah Buk Dokter."
"Mas, masih saja menyebalkan."
Aziz dan Zahira mengobrol dengan sedikit guyonan. Tidak lama pintu terbuka menampilkan Khumaira membawa rantang.
"Assalamu'alaikum ...." salam Khumaira menggantung di udara ketika melihat Aziz dan Zahira tertawa.
"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Aziz dan Zahira.
Aziz merasa tidak enak melihat Khumaira, begitu pun dengan Zahira. Mereka tampak gelisah memikirkan perasaan Khumaira. Apa yang akan di pikirkan Khumaira tentang ini?
Khumaira berjalan mendekati Aziz. Sebelum itu dia meletakan rantang di meja lalu melangkah mendekat. Dia merasa tidak enak hati mengganggu percakapan Aziz dan Zahira.
"Apa kabar, Mbak?" sapa Khumaira sembari tersenyum ramah.
"Alhamdulillah, baik. Mbak sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah, saya juga baik."
"Mbak, selamat atas pernikahan kalian. Semoga Sakinah Mawadah Warahmah dan selalu di Rahmati oleh Allah, Aamiin."
"Aamiin yaa Allah," kor Aziz dan Khumaira.
"Baiklah, saya permisi. Cepat sembuh Mas dan mari Mbak."
"Aamiin, terima kasih."
Sepeninggallan Zahira aura di ruang Vip terasa canggung. Aziz langsung menggenggam tangan mungil Khumaira ketika Istrinya bungkam. Dia takut Istrinya salah paham atas kejadian tadi.
"Mbak, aku minta maaf."
"Maaf untuk apa, Mas?"
"Tadi, aku dan Dik Zahira hanya mengobrol biasa kami hanya berteman. Kita hanya mengobrol biasa tidak lebih. Mbak, maaf."
"Mas ini bicara apa, sih. Aku tidak apa-apa lagian kalian dekat itu malah bagus. Jadi, Mas dan Mbak Zahira tidak canggung. Mas dan Mbak Zahira sudah lama saling mengenal masak jadi rumit."
...Deg...
"Entah kenapa jantungku terasa sesak dan rasanya sakit. Sadar Aziz kamu tidak boleh berharap sesuatu yang mustahil," batin Aziz.
Aziz berusaha tersenyum tipis walau susah. Dia mengusap punggung tangan Khumaira sembari menguatkan hati. Ia tidak boleh lemah hanya karena perkataan enteng itu.
"Aku pikir Mbak berpikir aneh tentang kami. Aku dan Dik Zahira jadi panik jika Mbak berpikir macam-macam. Sekali lagi maaf ya, Mbak."
Khumaira tersenyum teduh mendengar perkataan Aziz. Dia membalas mengusap punggung tangan Suaminya. Lagian bagus kalau Aziz dan Zahira dekat itu artinya mereka tidak canggung.
"Tidak ada yang dipikirkan, Mas. Aku malah senang sekali kalian kembali cerah tanpa rasa canggung. Harusnya aku yang minta maaf datang tidak tepat waktu."
"Mbak," lirih Aziz.
"Mas, maaf ya gara-gara aku kalian batal ___"
"Jangan di bahas, Mbak. Aziz mau rebahan saja."
"Baiklah, maaf."
Khumaira membantu Aziz rebahan. Dia menjaga Suaminya agar tidak jenuh. Sepertinya Aziz sedang memikirkan sesuatu yang berat. Apa itu! Saat Adzan Maghrib berkumandang, Khumaira izin Shalat.
Aziz meremas dada kirinya yang terasa ngilu. Dia tertawa mengejek untuk dirinya sendiri. Sekarang Aziz ingin Shalat dan membaca Al-Qur'an agar tenang. Namun, tubuhnya masih begitu lemah. Bersyukur saja ada perawat pria membantunya ke kamar mandi untuk wudhu.
...****...
Khumaira menitikkan air mata usai Shalat. Rasa bersalah hinggap ketika teringat Aziz dan Zahira. Gara-gara dia pernikahan mereka batal. Gara-gara dia, Zahira dan Aziz terpisah. Gara-gara dia, semua menjadi kacau.
"Mas Azzam, hiks andai Mas masih di sini pasti mereka sudah menikah. Adek harus bagaimana, Mas? Ya Allah, sesak sekali sampai aku lupa kenyataan. Ya Allah, berikan hamba kekuatan menanggung beban ini. Mas, maafkan aku."
Khumaira menghapus air matanya kasar lalu melipat mukena. Usai itu melangkah menuju kamar rawat Aziz.
"Mbak, aku lapar," rengek Aziz setelah Khumaira masuk.
"Tunggu, aku akan ambilkan. Mas mau makan bubur atau sayur bening?" tanya Khumaira.
"Sayur, suapi ya Mbak tenaga Aziz terkuras."
Khumaira tersenyum saja mendengar permintaan Aziz. Dia mendekat sembari membawa rantang. Dengan telaten Khumaira menyuapi Aziz. Setelah selesai dia mengusap bibir Aziz menggunakan ibu jari.
Aziz doa setelah makan langsung kicep mendapat usapan di bibir. Ya Allah, dia sangat gugup berada di situasi ini. Aziz berpaling tidak berani menatap Khumaira terlalu lama.
"Cepat sembuh, Mas. Gih istirahat biar lekas sembuh."
"Baik, Mbak."
Khumaira mengusap tangan agar bersih. Lalu dengan sayang mengusap rambut Aziz supaya lekas tidur. Dia tersenyum saat Suaminya perlahan menutup mata walau kadang tsrbuka sedikit lalu tertutup. Khumaira tahu Aziz pura-pura mau tidur, tetapi tidak kunjung mendapat alam mimpi.
"Cepat tidur, Mas!"
"Masih terlalu awal, Mbak."
"Tidur atau aku pulang," gertak Khumaira.
"Baik, Mbak."
Aziz menurut lagian mengantuk alhasil terlelap dalam usapan lembut sang Istri. Napas teratur dengan irama selaras membuat Khumaira bernapas lega. Aziz sudah berkelana di Negeri dongeng bertemu kembaranya yaitu alien.
Khumaira menyelimuti Aziz sampai batas leher. Dia usap wajah rupawan Suaminya saat Aziz menyengit menahan sakit. Dengan ini Khumaira kembali mengecup kening Suaminya penuh sayang.
"Mas, maafkan aku," lirih Khumaira.
Khumaira terus mengusap rambut tebal Suaminya hingga tersadar akan kondisi. Dia ikut mengantuk alhasil tetidur sembari menggenggam tangan besar Suaminya.