
Aziz menggenggam tangan mungil Khumaira dengan lembut. Dia remas pelan, kemudian menghapus air mata Istrinya. Dalam pikiran Aziz mungkin ke depanya akan terasa rumit.
Khumaira memejamkan mata rapat menerima usapan Aziz. Hatinya begitu ngilu mendengar penjelasan Suaminya. Perlahan mata terbuka menatap netra cokelat keemasan Suaminya penuh arti. Namun, pandangan berubah sendu ketika Suaminya menangis. Sakit sekali melihat Aziz-nya begitu rapuh karenanya.
Aziz terdiam ketika Khumaira mengusap air matanya. Dia juga tambah sok menerima pelukan erat Istrinya. Apa semuanya akan baik-baik saja setelah perasaan terungkap?
Khumaira melepas pelukannya lalu menangkup pipi tirus Aziz. Dia usap setiap jengkal wajah rupawan Suaminya, kemudian memberikan ciuman di setiap permukaan wajah Suaminya. Dia akan bungkam soal mimpi itu. Ada kalanya Khumaira jujur, tetapi bukan sekarang.
Aziz mengerjap menerima ciuman Khumaira. Apa Istrinya tidak marah ia mengungkapkan dosa? Apa tidak marah jika dia mengutarakan isi hati? Entahlah semua terasa membingungkan untuk Aziz. Mata tajam itu membulat sempurna karena Khumaira nekat mengecup bibirnya.
Khumaira tersenyum melihat Aziz begitu lucu. Dia sangat bahagia Suaminya mau membuka perasaannya yang tersimpan rapi selama 6 tahun lebih. Tidak ada kebahagiaan selain melihat Suaminya bahagia.
"Kenapa melongo, Mas? Awas nanti kemasukan kecoak."
Aziz langsung mengatupkan bibir sembari mengerjap. Apa dia terlihat jelek saat melongo? Oh tidak ia harus terlihat tampan kembali. Dengan percaya diri penuh Aziz mengangkat dagu Khumaira dan mendekatkan bibir ke bibir tebal Istrinya.
"Kecoak macam apa yang berani masuk, Dek? Apa kecoak sanggup mendekati, Mas?"
Aziz berkata dengan suara berat terdengar sexy. Dengan nakal dia mengecup sudut bibir Khumaira lalu menjilat bibir sang Istri sensual.
Khumaira menahan napas merasakan kelakuan Aziz. Hawa panas melingkupi tubuh serta pikirannya. Dengan gemetar Khumaira menjauhkan diri dari Aziz.
"Kecoak pasti masuk kalau Mas melongo kayak sapi ompong. Sudah aku mau makan, lapar."
Khumaira menghindar dengan kata-kata lucu. Dia tidak mau semakin dekat dengan Aziz atau bahaya mengintai. Wajah cantik merona mengingat semua yang terjadi.
Aziz merengkuh Khumaira dari belakang. Dia tumpu dagu di atas kepala Khumaira, kemudian memberikan usapan di perut rata Istrinya. Semua terasa teduh walau sangat menyiksa batin.
"Dek, maaf untuk semuanya. Jangan pikirkan penjelasan Mas tadi dan ungkapan itu. Anggap saja angin lalu tentang semua itu. Mas tidak ingin Adek terbebani karena Mas ingin Adek selalu bahagia. Terima kasih banyak untuk semuanya, Mas sangat bahagia."
Aziz melepas pelukan saat Khumaira membalik tubuh menjadi menghadap. Mata mereka saling menatap penuh arti hingga sebuah ciuman menempel sempurna. Tidak ada lumatan hanya sebuah ciuman penuh perasaan. Aziz mengangkat tubuh Istrinya dengan menahan pinggul dan bawah bokong Khumaira.
Khumaira menatap Aziz lamat-lamat ketika berada di atas. Dia tangkup pipi tirus Suaminya kemudian menunduk untuk mengecup kening.
"Adek akan selalu ingat setiap penjelasan, Mas. Adek akan menyimpan selalu pengorbanan, Mas dalam hati. Adek sangat bahagia Mas bisa mengutarakan rahasia itu. Adek ingin Mas selalu mengatakan cinta karena Adek senang mendengar pernyataan cinta, Mas. Semua cinta dan segalanya jangan tersimpan, luapkan semua karena Adek akan menerima itu semua. Adek janji kita akan selalu bersama selamanya. Allah menyatukan kita dengan cara yang rumit, maka dari itu izinkan Adek menemani Mas sampai Allah memisahkan kita dengan maut. Adek belum bisa menjawab cinta, Mas. Namun, entah di kemudian hari atau kapan pasti Adek akan jawab ....,
... Semua tentang Mas serta pengorbanan cinta Mas begitu murni penuh ketulusan akan selalu ada di hati, Adek. Adek sangat bahagia menerima cinta suci, Mas. Adek sangat beruntung, maka dari itu mari melangkah bersama menuju kebahagiaan. Kita akan hidup bersama dengan suka maupun duka. Kita akan saling menggenggam tangan di kala badai datang. Hanya ada kita bersama anak-anak, yang melengkapi kehidupan kita. Adek sangat menyayangi Mas karena Allah. Terima kasih banyak sudah mencintai Adek begitu tulus. Kita akan bersama walau kelak di antara kita lelah. Mas, terima kasih banyak sudah menjadi pelipur lara bagi kami. Semua terasa manis walau awalnya sangat menyakitkan."
Khumaira tersenyum teduh mengatakan isi hatinya. Biarkan rahasia itu tersimpan rapi. Cukup dengan cinta tulus Suaminya maka tidak ada yang bisa menggoyahkan hati. Setelah cinta dan hatinya berlabuh maka dengan senang hati ia akan mengutarakan tentang mimpinya.
Aziz menurunkan Khumaira hati-hati seolah takut jika ia tidak lembut Istrinya jatuh. Dia tidak tahu kapan air mata luruh haru mendengar penuturan Khumaira, yang pasti ia menangis haru. Segala kebahagiaan membuncah melingkupi hati Aziz. Tidak ada hal terindah selain hari ini karena ia mampu mengutarakan isi hati.
Mata Aziz dan Khumaira saling menatap penuh haru dengan bibir tersenyum merekah. Aziz merengkuh Khumaira posesif dan tentunya di balas tidak kalah posesif. Aziz menangkup pipi gembil Khumaira kemudian mengecup mesra kening sang Istri.
"Dek, terima kasih banyak. Mas sangat bahagia dan sangat mencintai Adek. Terima kasih, Sayangku atas semua ini. Mas sangat terharu mendengar penuturan, Adek. Ini semua terasa mimpi paling indah, Mas sangat bahagia."
"Sama-sama, Mas. Adek juga sangat bahagia bisa mendapat cinta setulus, Mas. Adek sangat bahagia, terima kasih."
Khumaira berjinjit guna mencium rahang tegas Aziz. Dia dengan segera mengalungkan tangan di leher kokoh Suaminya dan berakhir ciuman bibir.
Aziz merebahkan Khumaira di ranjang. Tangan kekarnya mengusap dahi Istrinya lalu menyeret jarinya mengusap wajah ayu belahan jiwa. Jari tangannya beralih mengusap leher jenjang Khumaira dan menarik tengkuk pelan.
Khumaira merengkuh kepala Aziz saat mendapat ciuman. Tangan mungil itu tidak kuasa meremas rambut Aziz menyebabkan berantakan. Dia mendongak di kala Suaminya mencumbu lehernya mesra. Desahan serta rintihan keluar dari mulut Khumaira akan segala sentuhan Aziz.
Aziz menandai leher jenjang Khumaira dengan sensual. Dia sangat senang mendengar desahan merdu Istrinya. Sebuah pacuan agar tidak berhenti untuk berbuat lebih. Aziz sangat ingin menjamah setiap jengkal tubuh Khumaira.
"Mas sangat menginginkan Adek," bisik Aziz seductive. Napas menghembus berat menerpa wajah cantik Khumaira. Tangannya tidak kuasa mengusap pinggang Istrinya. Aziz meremas kecil pinggul Khumaira untuk mereda nafsu.
Khumaira mengusap pipi Aziz lembut dan berpindah pada bibir tebal Suaminya. Dia menyentuh secara sensual agar semua terasa mendebarkan.
"Sentuh, Adek sepuas Mas. Tetapi, jangan masuki Adek karena Debay belum bisa di tengok, Mas."
"Mas sangat senang, Dek terima kasih banyak."
Aziz beranjak dari atas Khumaira dan tanpa babibu melepas pakaian atasanya. Tubuh kekarnya tampak menggiurkan karena keringat membasahi tubuh atasnya. Napas memburu di pacu gairah serta letupan cinta. Mata tajam Aziz menatap Khumaira penuh damba serta nafsu.
Khumaira bersemu melihat Aziz begitu menggoda dengan keringat itu. Rasanya ia ingin mengusap keringat Suaminya sembari meremas otot perut yang sangat kuat. Bohong jika Khumaira mampu berpaling dari tubuh Aziz.
"Kemari sentuh, Mas!"
Aziz tersenyum mengerti arti tatapan lembut Khumaira begitu mendamba akan tubuhnya. Dia ulurkan tangan agar Istrinya meraih. Demi apa ia sangat bahagia di puja Istrinya. Aziz begitu bahagia akan sikap Khumaira yang sangat manis.
"Mas Aziz," lirih Khumaira bernada mendayu. Dia dengan malu-malu meraih tangan besar Suaminya. Ia berdiri di depan Suaminya lalu sebuah usapan panas ia daratkan. Tangan mungil Khumaira tidak kuasa mengusap keringat Aziz dan beralih meremas otot perut Suaminya.
Aziz mendongak menerima sentuhan Khumaira. Mata terpejam menikmati setiap sensasi panas yang Khumaira berikan. Matanya membulat sempurna saat Istrinya meremas pusakanya sedari tadi ereksi.
Khumaira tersenyum polos menatap Aziz. Dia minta gendong tentunya di turuti. Ia mengalungkan kaki di pinggang Aziz, sementara tangannya merengkuh erat kepala Suaminya. Dia mendongak tatkala Aziz menjamah lehernya.
"Ah, Mas ugh."
"Mas sangat mencintai Adek," ucap Aziz di sela kegiatan panas menjamah leher Khumaira. Dia meremas bokong padat Istrinya kemudian menggesek daerah intim mereka dengan panas.
Khumaira hanya bisa mendesah nikmat di bawah kendali Suaminya. Dia tidak mampu menolak di kala setiap jengkal tubuh terjamah intim. Semua terasa mendebarkan dengan alunan melodi penuh gairah.
Keduanya larut dalam permainan panas yang sangat mendebarkan. Keduanya saling memberikan kehangatan tanpa ada kendali. Kini Aziz dan Khumaira begitu menikmati hari penuh cinta. Dalam kebersamaan cinta walau Khumaira tidak mampu membalas perkataan Aziz.