Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Cahaya Terindah Penuh Harapan!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


***///


Waktu terus bergulir begitu cepat, tidak terasa 3 tahun berlalu. Kini Mumtaaz berumur 4 tahun, sementara Ridwan 8 tahun. Dua anak tampan ini begitu hiperaktif terkhusus Mumtaaz.


Bocah tampan ini menjelma sebagai anak hiperaktif suka sekali usil. Tidak ada kejahilan hakiki sehingga membuat pusing kepala. Contoh kecil Mumtaaz begitu jahil pada semua orang. Bahkan ia tega menjahili Ridwan sampai Kakaknya pusing tujuh keliling.


Intinya anak manis ini usilnya tidak tertolong mirip seperti Ayahnya semasa kecil. Namanya juga darah daging pasti kelakuan nurun sempura. Seperti kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah deskripsi Mumtaaz kecil mirip sekali Aziz sewaktu kecil.


"Umi  ....!" pekik Mumtaaz membuat Khumaira nyaris terjungkal.


Khumaira mengusap dadanya karena terkejut mendengar teriakan Putranya. Setelah rasa kaget hilang ia berjalan menuju Mumtaaz lalu mencubit gemas pipi gembul sang anak. Dia tidak habis pikir bocah nakal ini sangat menggemaskan. Walau bandel Khumiara tetaplah menyayangi Mumtaaz lebih dari apa pun.


"Ada apa, Dedek sayang?"


"Kakak nakal masak bilang Dedek jelek. Dedek ganteng, benar? Pokoknya Dedek ganteng titik!"


Khumaira mengatupkan bibir rapat mendengar perkataan Mumtaaz. Ya Allah, kenapa bisa dia memiliki tiga alien? Si kecil yang sangat manis nan polos harus berubah jadi anak narsis tidak tertolong. Dia tidak habis pikir kenapa bisa dua anaknya menjelma sebagai alien hidup? Entahlah yang jelas Khumaira pening mengurus tiga prianya yang super narsis.


Mumtaaz melengos tanpa mau menatap Ridwan yang baru datang. Dia langsung merengkuh Ibunya lalu merengek kalau Kakaknya sangat nakal. Tubuh mungil Mumtaaz terus merapat tidak mau melihat Ridwan.


Ridwan hanya nengedihkah bahu acuh melihat kelakuan Mumtaaz. Dia mau pamit mengaji di mesjid dekat rumah. Dengan jahil dia mencubit pipi gembul si Adik, alhasil Adiknya menatap sebal. Melihat itu tentu Ridwan senang melihat bibir mungil Mumtaaz mengerucut dengan pipi chubby menggembung.


Khumaira hanya bungkam melihat dua anaknya tidak pernah akur. Ada saja perdebatan yang muncul di antara Ridwan dan Mumtaaz. Masalah utama soal ketampanan, kedua masalah mainan, ketiga soal kamar dan terakhir mengultimatum bahwa mereka yang paling tampan. Khumaira jadi bungkam ketika Mumtaaz menghina Ridwan jelek.


"Enak saja Kakak jelek! Dedek yang jelek, suka merengek dan mengadu. Orang ganteng itu mandiri, sabar, tangguh dan kuat. Orang jelek suka merengek, menangis dan pengadu kayak, Dedek. Sudah Kakak mau mengaji dulu. Umi, Kakak mengaji dulu ya. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."


"Hati-hati jangan mainan ingat mengaji yang khusyuk. Hafalan yang rajin dan jangan nakal harus konsentrasi saat mengaji. Jangan lari pokoknya hati-hati tidak boleh rewel. Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh."


"Baik, Umi Adek ingat pesan Umi." Ridwan pusing sendiri mendengar ceramah Uminya. Cerewet kayak kereta pergi ke Sumatra.


"Anak pintar."


Ridwan mencium punggung tangan Khumaira lalu mencubit gemas pipi gembul Mumtaaz. Namun, lihat Adiknya malah merengek minta ikut mengaji. Padahal jatah anak kecil itu siang hari tepatnya jam 2-3. Kini giliran anak seumuran Ridwan yang mengaji.


Khumaira menggendong Mumtaaz dan meminta nanti mengaji bareng Aziz. Ngomong-ngomong soal Suaminya ia jadi rindu. Pasalnya Suaminya belum pulang dari Kantor. Mungkin sebelum Maghrib nanti baru pulang ke rumah.


"Dedek nanti mengajinya bareng, Umi. Ya sudah Kakak berangkat gih dan ingat mengaji yang rajin jangan main terus. Umi, sayang Kakak."


"Insya Allah, Umi. Ya sudah Kakak berangkat. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Ridwan sudah pergi dengan riang menuju Mesjid dekat rumah. Lalu, Mumtaaz malah merengut sebal karena Ridwan pergi. Dia menunjuk-nunjuk Kucing ingin bermain dengan meong. Ini kebiasaannya jika Kakaknya sekolah atau mengaji anak manis ini akan bermain bersama.kucing kesayangannya.


Khumaira menurunkan Mumtaaz lalu memberikan ciuman sayang di pipi. Dia membiarkan anaknya bermain agar sang putra tidak rewel. Ia memutuskan untuk memgambil jemuran di belakang rumah. Saat kembali Mumtaaz sudah tidak ada di depan kandang kucing. Kemana anak nakalnya?


Dengan cepat Khumaira berjalan menuju ruang ganti. Dia taruh pakaian yang belum di lipat di atas karpet. Kemudian keluar mencari Mumtaaz. Bocah gembul itu kemana? Sungguh Khumaira khawatir jika Mumtaaz kenapa-napa.


Saat di taman rumah Khumaira menemukan Mumtaaz sedang asyik bermain tanah. Bahkan tanpa jijik membawa air di gayung lalu menyiram ke tanah. Si kecil menjadikan lumpur basah untuk permainan. Khumiara tersenyum saja asal Putranya senang tidak rewel. Wajah tampan Mumtaaz sudahh penuh tanah. Bahkan baju warna abu-abu itu sudah kotor.


"Anakku yang tampan baru 10 menit yang lalu Umi mandikan Dedek. Kenapa main tanah, Nak?"


Mumtaaz mengerjap polos kemudian nyengir kuda. Dia meraih tanah basah lalu melempar ke baju Khumaira. Sungguh bocah ini begitu aktif tidak mau berhenti bermain. Melihat pakaian Uminya yang kotor sontak Mumtaaz tertawa riang.


Khumaira bukannya marah malah tertawa melihat kelakuan Mumtaaz. Dia ikut duduk di sebelah anaknya kemudian memangku tubuh gempal sang Putra. Jari lentik wanita manis ini mengusap noda tanah di wajah rupawan Mumtaaz. Setelah cukup bersih Khumiara kecup kening Mumtaaz penuh sayang.


"Umi, sih ngga ngebolehin Dedek ikut mengaji. Kan Dedek sebal di rumah tanpa teman. Pokoknya Umi harus memberikan Dedek baru agar Dedek bisa main. Dedek mau kayak Kakak yang pandai mengaji. Tapi Dedek mau kayak Ayah yang bisa jadi orang serba bisa. Nanti kalau sudah besar Dedek akan jadi seperti, Ayah."


Mumtaaz berceloteh menginginkan sesuatu yang baik. Baginya Ayahnya adalah idola yang harus di teladani. Si kecil juga mengidolakan Ridwan yang sangat rajin mengaji. Bahkan Kakaknya itu begitu giat meraih apa pun. Intinya si kecil ingin jadi orang sukses dan mengerti agama.


Khumaira tersenyum haru mendengar ucapan Mumtaaz. Seperti Aziz itu artinya Putranya akan memiliki banyak wawasan. Apa lagi Suaminya itu juga pandai mengaji dan tahu agama. Semoga saja Mumtaaz mampu menjadi seperti Aziz, Aamiin. Semoga saja Ridwan jadi pria sholeh seperti Azzam, Aamiin. Dengan bekal Hafidz serta otak genius, khumaira yakin Ridwan mampu menjadi pria hebat nan baik hati dan ramah seprti almarhum Azzam.


"Aamiin ya Allah, semoga Dedek bisa meraih impian, Dedek. Sekarang ayo mandi nanti Ayah datang Dedek begini bisa di cubit Ayah."


"Gendong."


"Baik, Putraku yang manja."


Mumtaaz tersenyum lebar mendengar perkataan Uminya. Dengan manja ia kalung kan tangan kecilnya di leher Uminya. Lalu kepalanya bersandar manis di bahu song Umi. Sementara mulut kecil Mumtaaz terus mengoceh panjang lebar bercerita banyak hal.


Khumaira tentu sangat bahagia mendengarnya ocehan lucu Mumtaaz. Walau sangat jahil sejatinya anak manis ini sangat baik serta penyayang. Si kecil paling anti melihat hewan kesayangannya (Kucing) sakit. Pernah sekali kucing Persia mati dan anaknya meraung-raung pilu bahkan sampai sakit. Intinya Mumtaaz adalah anak manis nan baik penuh kasih sayang di mata Khumaira dan yang lainnya.


***///


Aziz sedang mengaji setelah Shalat maghrib. Usai mengaji Ayah 2 anak ini mengajari dua Putranya untuk mengaji. Istrinya sedang halangan makanya tidak bisa mengajari mengaji anak-anak. Kini tugas Aziz mengajari dua anaknya mengaji Ridwan dan Mumtaaz.


Khumaira masak cukup banyak ada sup, sayur oseng, sambal tomat, ayam kecap dan lauk ikan goreng. Dengan terampil ia tata masakan di meja makan. Lalu memgambil piring dan gelas lalu meletakan di meja makan.


Setelah beres menata Khumaira langsung menuju wastafel untuk mencuci peralatan memasak. Suara Adzan Isya berkumandang membuat Khumaira tersenyum. Pasti Suami dan anak-anak akan melakukan jama'ah shalat isya lalu makan.


Semua selesai khumaira beranjak menuju ruang ganti untuk melipat pakaian yang belum sempat di lipat. Dia terlihat terampil dan cepat melipat baju Aziz, dirinya dan anak-anak. Tidak memakan banyak waktu akhirnya selesai. Khumaira membuka lemari untuk menata pakaian di lemari.


Aziz menggenggam tangan kecil Mumtaaz dia Ridwan untuk menuju ruang makan. Mereka tidak melihat Khumaira. Di mana Istrinya? Mungkin sedang di ruang ganti. Tidak lama menunggu Istrinya datang sembari tersenyum teduh pada anak-anak dan dirinya.


"Ayo kita makan, jangan lupa baca do'a. Ayo kita berdoa dulu!" tegas Aziz.


"Bismillahirrahmanirrahim Allahumma baarik lanaa fiima Razaqtanaa wa qinaa 'adzaabannaar."


Keluarga kecil ini tampak menikmati makanan. Mumtaaz sudah belajar makan sendiri, tetapi makannya seperti bebek. Lihat si kecil yang sebal meminta Aziz untuk menyuapi dirinya. Tidak mau ambil pusing Mumtaaz menerima suapan dari tangan sang Ayah.


Ridwan hanya tersenyum maklum melihat Mumtaaz sangat hiperaktif dan manja. Dia melihat Uminya sedang memotong daging ayam untuknya. Tentu Ridwan sangat senang menerima potongan daging ayam.


Khumaira tersenyum teduh melihat Aziz sangat telaten menyuapi Mumtaaz. Bahkan Suaminya menawari apa Ridwan mau di suapi? Lalu Ridwan bersorak senang mengiyakan bahwa mau di suapi. Alhasil Aziz menyuapi anak-anak dengan telaten. Melihat itu Khumiara tersenyum teduh akan kasih sayang Suaminya terhadap anak-anak. Sosok Suami sekaligus Ayah sempurna yang memiliki sejuta kasih sayang. Khumaira tentu sangat bahagia melihat itu semua.


"Biar Adek yang suapi, Mas."


Khumaira tersenyum melihat Aziz diam saja. Alhasil keluarga kecil ini tampak saling menyuapi. Kebersamaan yang mesra tanpa ada perbedaan. Sungguh ia sangat senang berada di situasi romantis begini. Khumaira selalu berdoa semoga saja keluarganya selalu rukun manis dan penuh cinta seperti biasanya.


Malam hari Mumtaaz dan Ridwan sudah tidur lelap di kamar pribadi. Mereka tertidur pulas dalam dekapan hangat Aziz. Sementara Khumaira sedang membereskan alat tulis Ridwan. Keduanya selalu begini menemani tidur anak-anak sebelum pindah ke kamar inti.


Khumaira tahu Aziz akan lembur pasalnya ada pekerjaan kantor menumpuk. Dia buatkan kopi serta camilan untuk sang Suami. Dia tersenyum tulus ketika Suaminya sedang mengerjakan laporan usai menidurkan anak-anak. Bisa Khumaira lihat Aziz begitu konsentrasi mengerjakan laporan.


Aziz tersenyum saat Khumaira membawa nampan berisi kopi dan camilan. Bahkan Istrinya membuat bakwan, tempe dan pisang goreng. Perhatian sekali sampai is tidak kuasa menahan senyum manis. Aziz sangat tahu betapa manis Khumaira terhadap dirinya dan anak-anak.


"Adek, temani ya, Mas."


"Mas nanti begadang, Dek. Tidur saja jangan kecapekan."


"Tidak, Adek mau temani Mas sampai selesai."


"Dasar keras kepala, tetapi tidak apa Mas senang ada teman bicara."


"Keras kepala begini Mas cinta, kan? Itu dia makanya Adek temani, Mas sampai selesai. Adek juga tidak bisa tidur jika Mas suruh tidur."


Aziz terkekeh mendengar jawaban Khumaira terdengar jenaka. Dia ambil gelas lalu mengucap Bismillah kemudian menyeruput kopi buatan Istrinya. Setelah itu meletakan di meja dan mengambil bakwan goreng. Rasanya manis sekali melihat Istrinya tersenyum teduh. Hati Aziz masih saja sama bahkan cintanya tidak pernah berkurang malah semakin besar untuk Khumaira.


Khumaira tersenyum malu-malu tatkala Aziz makan bakwan dengan pandangan kearahnya. Tentu saja melihat Suaminya begitu degup jantung semakin menggila. Dia akui cintanya telah bersemi terang bahkan semakin besar layaknya samudra yang luas. Khumiara tidak bohong cintanya begitu besar nan tulus untuk Aziz seorang. Walau ada satu nama yang akan selalu ada dalam relung hati yang paling dalam yaitu nama almarhum.


"Tentu saja Mas sangat mencintai Adek. Kasihan nanti kalau Mas tidak menemani Adek tidur pasti resah dan tidak bisa tidur. Mas terlalu nyaman makanya Adek selalu minta pelukan agar terlelap. Adek hanya bisa tidur jika berada dalam dekapan, Mas. Benar?"


Khumaira merona mendengar jawaban Aziz. Benar adanya yang di katakan Suaminya. Wajah cantik nan manis itu menunduk menyembunyikan semu. Jika Suaminya keluar kota maka tidurnya tidak akan lelap. Jika Khumiara sangat rindu maka alternatif terbaik yaitu memakai kaus Aziz saat tidur. Masih tidak bisa terlelap maka khumaira akan mengambil kemeja untuk di pakaikan di bantal seolah Aziz sedang merengkuh tubuhnya.


Aziz hanya menggeleng melihat Khumaira tersipu malu. Tangan terampil aktif mengetik tugas karena kalau masih meladeni Istrinya bakal lama selesai. Sesekali dia mencomot camilan dan melirik Istrinya. Cukup lama Aziz mengerjakan laporan bulanan. Kemudian membaca dokumen soal proyek besar berharga miliar-an yang akan di lakukan di Negeri Jiran.


Dari keputusan kali ini Aziz ikut serta ke Malaysia untuk proyek besar. Ini kali pertama setelah 5 tahun tidak pernah ikut serta ke luar Negeri mengerjakan tugas luar. Biasanya ia hanya menerima kerja di luar kota dan kini kembali bekerja Extra di luar Negeri. Hanya 1 setengah bulan Aziz di Malaysia setelah itu dapat jatah libur 2 pekan. Itu sangat menguntungkan bagi keluarga kecilnya.


2 jam berlalu akhirnya pekerjaan selesai. Aziz melihat jam setengah satu dini hari. Mata tajam berpupil cokelat keemasan menatap Khumaira masih terjaga. Dasar keras kepala Istrinya ini. Dia membereskan berkas penting dan menutup laptop. Aziz heran kenapa bisa Khumiara tetap terjaga menemaninya begadang?


Khumaira tersenyum akhirnya Aziz selesai juga. Lagian ia juga sudah mengantuk walau dipaksakan tetap terjaga. Dia tidak mu Suaminya sendiri di sini walau tidak ada sepatah kata. Ia cukup senang bisa menemani Suaminya lembur. Khumiara akan tidur lelap jika Aziz sudah beres semua.


"Dek, kok belum tidur. Ayo kita tidur sudah sangat larut malam."


Keduanya memilih cuci tangan dan kaki, lalu membasuh wajah serta Siwalan sebekaum beranjak untuk tidur. Mereka juga lelah maka dari itu memutuskan untuk istirahat. Aziz dan Khumiara begitu senang bisa Sling memahami walau kadang sedikit percekcokan.


Khumaira tersenyum mendengar perkataan Aziz. Dia dengan nakal menggerling jahil berusaha menggoda Suaminya. Tetapi, dia belum suci alhasil cuma bisa merayu kecil. Khumiara juga sangat mengantuk ingin tidur maka mengiyakan saja.


Aziz merebahkan diri di ranjang yang ada di ruang kerja. Dia raih khumaira dalam dekapan hangatnya. Pekerjaan kantor menumpuk serta proyek mengganggu konsentrasi sampai ngantuk. Aziz masih berpikir sesuatu seraya mendekap Khumaira erat.


"Mas sangat ingin memiliki Putri, Dek. Kasihan Istriku tidak ada personil tentunya jadi yang paling cantik di antara kami. Adek jadi paling jelek dan Mas sangat tampan tidak terbantahkan. Ah, pokoknya kita harus kerja keras membuat Dedek baru agar Adek tidak minder dengan kami yang tampan."


Khumaira mencubit gemas perut berotot Aziz. Dia merebahkan kepalanya di dada bidang Suaminya. Dengan terampil tangan mungil itu terus mengusap dada kiri Suaminya. Ia juga ingin punya Putri cantik agar punya personil melawan 3 narsis. Aziz jadi ingin anak manis seperti Khumiara agar kelak bisa jadi cahaya di keluarga ini.


"Setidaknya Adek yang paling cantik di antara kalian. Coba lihat Adek sangat manis dengan tubuh mungil proporsional. Intinya Adek Ratu di rumah ini, pasalnya Adek penguasa. Kalian memang tampan tetapi tidak ada yang bisa menandingi kecantikan, Adek!"


Aziz mencubit gemas hidung bangir Khumaira. Hidung mancung bak prosotan anak TK itu menggesek di pipi gembul Istrinya. Dia rengkuh tubuh mungil Istrinya semakin erat. Tangan kekar Aziz semakin ekstra melilit tanpa peduli Khumiara pengap.


"Jelas Adek yang paling cantik kan Adek wanita. Mana bisa kita cantik mengalahkan Adek. Tetapi, Adek juga tidak akan bisa mengalahkan wajah rupawan, Mas."


"Terserah, Mas saja. Padahal kita sudah 2 tahun berusaha membuat Dedek baru namun belum di beri keajaiban. Adek ingin punya anak cepat agar rumah tambah ramai."


"Allah masih sayang pada Dedek Mumtaaz makanya belum memberikan izin pada kita untuk memiliki momongan. Mas mencintai Adek karena Allah."


"Mungkin saja benar, Mas. Adek juga mencintai Mas karena Allah."


Aziz mengurai pelukan mereka, kemudian tidur miring dengan bertumpu tangan kiri.  Tangan kanan merengkuh Khumaira dalam dekapannya. Tangan terampil itu menari indah di pipi tembem sang Istri. Sungguh demi alam semesta Aziz sangat bahagia Syafa nya selalu ada dalam suka maupun duka.


"Mas ingin punya cahaya penerang di rumah ini. Cahaya yang sangat cantik seperti Adek. Harapan Mas kali ini punya anak perempuan yang sangat manis seperti Adek. Bagi Mas cahaya terindah adalah Adek maka dari itu Mas ingin punya cahaya dari cahayaku. Adek tahu Mas sudah siapkan nama untuk Putri kita."


Khumaira menatap Aziz dengan mata berkaca haru. Suaminya benar-benar sangat perhatian. Walau sudah lama menikah namun Suaminya tidak pernah lepas memberikan cinta, perhatian, kasih sayang dan kata-kata penuh makna. Sungguh Khumaira sangat senang mendapat Aziz dalam hidupnya.


"Adek tidak bisa membalas perkataan, Mas. Namun, Adek sangat terharu mendengar penuturan, Mas Aziz. Siapa nama Putri kita kelak, Mas."


Aziz tersenyum mendengar jawaban Khumaira yang lembut. Dia kecup lama kening Istrinya agar tenang. Seulas senyum merekah ruah hendak menyebut nama Putrinya. Aziz itu unik maka sudah sepantasnya nama putrinya unik seperti harapan.


"Faakhira Chessy Nura Parveen. Sangat panjang namun itu namanya terindah dan sangat cocok untuk Putri kita. Nanti kita panggil Nduk FaaFaa atau Dedek FaaFaa. Mas tidak sabar menunggu Putri kita ada di rahim, Adek."


Khumaira tersenyum teduh mendengar perkataan Aziz. Sungguh Suaminya sangat kreatif memberi nama. Dia akan mengingat nama cantik itu untuk Putri mereka. Ia akan tulis nama Putri manisnya agar tidak akan pernah terhapus. Khumaira begitu bahagia akan kreatifnya Aziz dalam mengelola nama yang indah.


Contoh kecil nama si kecil Mumtaaz susah di ucapkan. Namun, itu terdengar manis karena pemberian dari Suaminya yang manis. Khumiara sangat bahagia mengingat itu semua layaknya memori terindah.


Aziz tersenyum manis jika ingat nama anaknya nanti.  Jika di artikan lebih rinci yaitu : cahaya keindahan yang bersinar sangat mulia dengan penuh kedamaian. Faakhira berarti : Mulia, Agung, Indah dan Megah. Chessy : Dalam damai, tenang, tentram dan rukun. Nura : Cahaya. Parveen : berbakat, cerdas dan sangat kreatif. Dalam arti lain sangat mulia.


Bisa disimpulkan betapa indah arti nama calon putrinya nanti. Yang jelas akan di asuh Aziz dan Khumiara penuh cinta agar anaknya tumbuh menjadi gadis Shalihah yang mampu bersinar di keluarga mereka. Semua itu harapan terindah Aziz untuk Putrinya kelak.


****////


*Bagaimana chapter ini?


Semoga kalian bahagia ya Rose double update.


Semoga kalian selalu bahagia dan setia sama story Ini.


Love you All.


Salam hangat dari Rose!


24*02*20*