
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!
Apa kabar semuanya?
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
Chapter komedi Romance Penuh tawa dan kasih sayang. Ikuti kelucuan Kakak Ridwan dan Kakak Mumtaaz yang narsisnya overdose!
Sungguh chap Ini penuh hiburan untuk menetralkan kasih sayang menggebu. rasa sayang yang sangat manis.
Semoga kalian baik-baik saja dan jangan lupa jaga kesehatan.
💖Happy reading all 💖!
****///****
Ridwan membuka kulkas dengan tampang kusut. Mumpung libur mau bersantai ria di depan TV sembari meminum jus mangga. Saat membuka kulkas tidak menemukan jusnya. Loh kemana perginya jus mangga buatannya tadi malam? Ridwan membuka pintu kulkas paling atas dan tidak menemukan jusnya.
Untuk Mumtaaz sendiri sedang asyik makan apel. Mata besar nan tajamnya memicing melihat betapa menjengkelkan Kakaknya. Dari tadi buka tutup kulkas seolah sedang sibuk berat. Ia begitu berharap semoga saja tidak ada apa-apa. Mumtaaz acuh saja dari pada Ridwan tambah mengoceh panjang lebar.
"Dedek besar tahu jus mangga, Kakak?" tanya Ridwan bingung tidak menemukan jusnya.
Mumtaaz nengedihkah bahu acuh tidak tahu. Dia memilih mencomot satu apel untuk di makan. Saat mencuci buah apel ia bingung melihat Kakaknya tampak bingung lebih parah. Dengan santai Mumtaaz menghampiri Ridwan sembari menyerahkan sepotong apel.
Ridwan menerima apel pemberian Mumtaaz lalu mengucap Bismillahirrahmanirrahim lalu menggigit sedikit. Dia mengunyah pelan makan apel seraya memikirkan banyak hal. Ia jadi pusing tujuh keliling memikirkan siapa yang mencuri buahnya. Ridwan jadi berharap semoga saja buahnya ada titik terang.
"Mungkin ada setan mencuri jus mangga, Kakak," sahut Mumtaaz.
"Ngawur, mana ada setan minum jus mangga. Kalau ada Kakak ganteng kasih cap orang ganteng. Kan harus buat jus lagi menyebalkan sekali."
"Setan jaman now, kak. Mana ada setan di kasih cap Kakak. Harusnya di kasih doa supaya rupawan. Kayak pangeran Mumtaaz yang ganteng tidak terbantahkan ini selalu menabur cinta. Sudah pangeran ganteng mau menonton Upin dan Ipin yang gundul tidak pernah tumbuh."
"Iya pangeran tampan tidak terbantahkan pergilah Kakak pusing mencari jus. Adik durhaka Kakak doakan kejedot dinding. Pergilah tonton Upin dan Ipin yang gundul tidak pernah tumbuh."
"Hahaha, maafkan Adik tampanmu Kakak Ridwan jelek. Auchh."
Mumtaaz meringis ngilu saat merasakan kejedot dinding gara-gara doa orang Hafidz. Dia harus hati-hati nanti wajahnya jelek bahaya tidak ada yang suka. Ia adalah pangeran tertampan di dunia tentu ketampanan tidak diragukan. Pokoknya Mumtaaz harus menghindari Ridwan saat di doakan.
Ridwan mengerjap melihat Mumtaaz mengusap kening. Pasti sakit itu kening kena jedot dinding. Untung saja Ridwan baik anaknya jadi mendekat ke arah Adiknya. Tangannya terulur untuk mengusap kening Adiknya yang mengaku orang paling ganteng di dunia. Pangeran Mumtaaz yang ganteng butuh pertolongan. Oleh sebab itu Ridwan putuskan untuk menolong Adiknya yang manis.
"Lihat kening cowok ganteng merah gara-gara, Kakak," rajuk Mumtaaz.
"Maaf, sudah cemberutnya lihat kayak bebek," sahut Ridwan.
"Ngga usah berkata aneh-aneh atau pangeran ganteng ngga mau bicara!"
"Baiklah, pergilah Kakak mau tanya Kak Dzaki soal jus mangga," ujar Ridwan berlalu begitu saja.
Mumtaaz bersedekap dada seraya mengomel panjang lebar. Tunggu dulu ia ingat jus Kakaknya di ambil Ayah. Saat itu dirinya bangun karena belet pipis alhasil melihat Ayahnya membawa jus mangga. Mumtaaz yakin itu jus milik Ridwan telah dicuri Ayah.
Buru-buru Mumtaaz berlari menyusul Ridwan ke kamar Pamannya. Dia memanggil Kakaknya yang memberengut lucu. Setelah dekat ia mengatakan segalanya bahwa jus mangga sudah di minum Ayahnya. Biarkan saja Ayah narsis dapat semprot memukau dari Ridwan. Melihat Ayah kena ceramah panjang lebar membuat Mumtaaz tersenyum penuh arti.
Ridwan merengut sebal jika ingat Ayahnya telah mencuri jusnya. Awas saja Ayah harus membuatkan jus mangga yang enak. Dia akan meminta sang Ayah membeli mangga kemudian memakan di depanya. Kalau tidak mau Ridwan akan merajuk tidak mau bicara pada Ayah.
Pelaku sebenarnya baru keluar dengan rambut masih terlihat basah. Aziz menyengit di todong penggaris besi oleh Ridwan. Ada apa anak ganteng menodong dirinya? Tidak mau ambil pusing dirinya memilih diam seraya menaikkan satu alis. Tunggu dia tidak melihat Istrinya setelah melakukan itu di pagi hari. Aziz berpikir mungkin Khumaira sedang di kamar mendiamkan Faakhira sedang menangis.
"Ada apa Kakak ganteng?" tanya Aziz pada akhirnya sebab anaknya merengut. Mirip sekali seperti Khumaira jika merengut kesal.
"Ayah di kenakan pasal 8 ayat 1 tentang orang ganteng. Itu pasal dan ayat Kakak yang buat sendiri. Mencuri minuman orang ganteng di hukum suruh mengembalikan barang curian. Karena Ayah sudah minum jus Kakak maka hukuman Ayah adalah membuat jus untuk Kakak. Hukuman kedua Ayah harus makan mangga 3 kilo di depan Kakak. Jika tidak di laksanakan maka Ayah di deportasi jadi pria tampan tidak terbantahkan. Ayah akan Kakak keluarkan dari grup ganteng abis tidak terbantahkan!"
Ridwan menyeringai penuh kemenangan mengatakan kekonyolannya. Dia dengan percaya diri bersedekap dada seraya mengetuk kakinya di lantai. Mata besar teduhnya menatap Ayahnya intimidasi seolah menyerang. Ridwan yakin Ayah tidak akan bisa berkutik untuk kali ini.
Aziz terkekeh mendengar deklarasi Ridwan begitu konyol. Ada-ada saja Putranya ini seenak jidat mengatakan itu. Dia menyentil kening Putranya kemudian mengusak poni tebal sang anak. Dasar Putranya begitu manis saat mengatakan hal konyol. Aziz menunduk untuk mencium ubun-ubun Ridwan dari tadi merenggut sebal akan tingkahnya.
"Ayah tidak bisa makan mangga banyak, Kak. Apa mau Ayah sakit lagi, Hn? Nanti Ayah buatkan jus mangga untuk Kakak. Maaf telah minum jus Kakak tanpa izin. Ayah mana bisa di deportasi pasalnya Ayah ini sangat tampan tidak terbantahkan dan group itu Ayah yang buat. Sekarang nonton Upin dan Ipin bersama, Dedek Mumtaaz."
"Ayah menyebalkan!" rajuk Ridwan merasa kalah menerima jawaban telak Aziz yang kalem tapi menohok.
"Maaf, gih temui Dedek Mumtaaz yang nakal."
"Hm, buatkan jus paling enak ya, Yah!"
"Iya Ayah buatkan jus terenak sepanjang sejarah. Gih temui Kakak cilik."
"Yeee, Kakak pergi dulu, tapi janji buatkan jus mangga untuk Kakak. Sayang Ayah, ye!"
Setelah mengatakan itu Ridwan berlalu sembari menghentak-hentakan kaki. Dia sedikitsebal pasalnya undang-undang itu tidak berlaku pada Ayahnya. Tunggu jika Ayahnya sakit bahaya ia akan sedih berkepanjangan. Terutama si Mumtaaz yang mengaku pangeran tertampan akan menangis. Untuk kali ini Ayahnya lepas dari pasal pencurian minum orang ganteng tidak terbantahkan. Namun, akan ada pasal berlapis jika Ayah mencuri jus Ridwan lagi.
Aziz hanya terkekeh geli melihat Ridwan merengut kesal. Putranya itu sangat manis sampai membuat gemas ingin nyubit. Saat ingat sesuatu ia buru-buru berlalu membuat jus mangga dan jus apel untuk anak-anak. Untuk Putri kecil akan dia buatkan susu coklat. Aziz tersenyum tulus akhirnya bisa memanjangkan ketiga anak manisnya setelah sekian lama berpisah.
****
Aziz sedang memangku Faakhira tengah asyik memainkan jari kekarnya. Lihat Ridwan dan Mumtaaz asyik minum jus buatanya usai sarapan. Rencananya yaitu ke kebun mengurus tanaman almarhum Bapak mertua. Biarkan Ibu mertuanya di rumah tanpa bekerja. Biarkan Aziz sedikit membantu berkebun agar meringankan pekerjaan sang Ibu mertua.
Jika boleh jujur Aziz ingin kembali ke Berbah untuk kerja di kantor Pak Herlambang. Uangnya masih banyak, tetapi biarkan dia menyokong ekonomi Ibu Khumaira. Dia ingin membawa Maryam ke rumahnya agar bisa menemani Iatri dan anak-anak di kala ia kerja. Aziz mau kebun itu menjadi lahan yang bisa di kenang sepanjang masa.
Untuk rumah ini biarkan Laila atau Bahri ysng menjaga. Aziz tidak tega meninggalkan Ibunya sendirian tanpa pengawasan mereka. Bukan tidak percaya pada mereka hanya saja ia ingin menjaga Maryam di hari tua bersama Khumaira. Aziz mau merawat Ibunya sepenuh hati biar bahagia selalu.
Mumtaaz melihat ada yang janggal pada Ayahnya. Dia melihat leher Ayahnya ada bercak merah keunguan. Apa Ayahnya sedang sakit? Apa Ayahnya sedang alergi? Lihat bibir Ayahnya juga bengkak. Lalu berguliria melihat Paman dan Bibinya sedang kumpul. Sedangkan Umi dan Nenek entah di mana mungkin sedang masak. Mumtaaz kembali menatap Ayah penuh tanda tanya?
Khumaria, Zahrana dan Maryam datang membawa camilan. Mereka menghidangkan camilan untuk di nikmati di hari libur. Kini giliran Umi meraih Faakhira untuk di pangku. Sementara Kakak ipar dan Ibunya duduk nyaman seraya berbicara ringan. Untuk Khumaira sendiri sedang asyik menciumi pipi tembem sang putri tersayang.
"Ayah sakit?" celetuk Mumtaaz membuat banyak pasang mata menatapnya dan langsung menatap Aziz.
"Sakit? Tidak, ada apa, Dek?"
"Itu leher Ayah banyak tanda merah keunguan.Itu alergi atau apa? Bibir Ayah juga bengkak kayak orang sakit," jabar Mumtaaz membuat Aziz mendelik horor.
"....." Aziz membatu tanpa bisa menjawab.
Aziz baru ingat Khumaira menandainya tanpa kecuali. Kenapa bisa lupa lehernya penuh kissmark sang Istri. Dia melirik Istrinya tampak berpaling menyembunyikan wajah. Kalau begini ia hanya berharap otak anaknya tidak terkontaminasi. Aziz jadi salah tingkah karena malu luar biasa. Dengan segera menunduk dalam lalu menutup leher menggunakan telapak tangan.
Banyak pasang mata menatap Aziz dan Khumaira seraya menggerling nakal. Apa tadi malam buka puasa sampai lupa akan bercak sebanyak itu? Mereka tersenyum saat Aziz menunduk dalam lalu berpaling hendak mengambil syak menutup bekas cinta sang Istri. Lucu sekali pasnagan ini ketika malu-malu kucing akibat tertangkap basah.
Khumaira hanya bisa berpaling menyembunyikan semu merah. Dia ingat betapa nakal dirinya bermain pada Aziz. Guna menghalau gugup ia rengkuh Faakhira seraya mengatakan hal manis. Situasi ini membuat Khumaira kikuk akan tingkah nakal tadi malam. Tetapi, itu adalah hal paling mendebarkan untuk diingat. Untuk dirinya bersyukur pakai hijab sehingga bekas kissmark tidak terlihat.
Ridwan mengambil camilan pisang goreng, sedangkan Mumtaaz mengambil bakwan. Setelah habis caamilan itu mereka menatap tahu goreng lapar. kedua Kakak dan Adik saling berebut tahu goreng. Mata beda warna itu menatap tajam. Anak-anak ganteng ini melempar ejekan yang sukses membuat ruangan di isi suara Ridwan dan Mumtaaz.
"Apa, Hah? Ini tahu goreng pangeran Mumtaaz. Pokoknya ini punya pangeran ganteng tidak terbantahkan. Kakak makan bakwan saja!"
"Tidak bisa karena tahu ini Kakak yang pertama pegang. Kakak lebih ganteng dari pada Dedek besar. Tidak mau pokoknya tahu ini milik pria tertampan di dunia. Jangan ngeyel Kakak kecil menyebalkan!"
"Arghh, dasar Kakak nakal pokoknya tahu ini milik pangeran paling ganteng. Sudah jangan buat orang ganteng berteriak!"
Mendengar perdebatan Ridwan dan Mumtaaz membuat Aziz tanpa sungkan mengambil tahu goreng lalu memakannya. Setelah kembali pakai syal rajut ia melihat dua anaknya debat siap yang berhak atas tahu goreng. Dan pada akhirnya dirinya bertindak dengan mengambil tahu goreng. Awalnya dia diam saja melihat tatapan nyalang kedua anaknya. Lalu agak menciut gara-gara kedua anaknya langsung merajuk melapor pada Khumaira. Dasar anak-anak menggemaskan membuat Aziz tidak ingin melihat mereka besar.
Khumaira mencium pipi Ridwan dan Mumtaaz lalu mengusap rambut anak-anaknya berparas ganteng. Dia meminta mereka tenang agar tidak mengganggu Mbah Ukhti. Setelah mereka tenang ia rengkuh Faakhira terus merengek minta gendong. Putrinya sedikit rewel karena kurang enak badan. Alhasil Khumaira tidak bisa lepas dari anak perempuannya yang teramat dicintai..
Aziz mendekat ke arah Khumaira berniat menggendong Faakhira. Syukur saja sang putri mau di gendong olehnya sehingga bisa meringankan sang Istri. Dia gendong Putrtinya sembari menciumi puncak kepala anaknya. Dengan sayang ia cium pipi anaknya agar tidak menangis. Aziz cukup bersyukur Faakhira mau diam dalam dekapan walau masih ada isakkan kecil.
Pada akhirnya Ridwan, Mumtaaz, Dzaki dan Rizki bermain ke belakang rumah. Kebetulan belakang rumah terdapat kebun buah seperti : mangga, rambutan, jambu dan buah naga. Ke empat anak-anak manis ini bermain atau sekadar mencari buah. Hingga Mumtaaz melihat banyak mangga masak sehingga matanya berbinar terang.
"Itu manga matang, Kakak tolong ambilkan Dedek Mumtaaz mangga," pinta Mumtaaz pada Ridwan begitu manis ketika meminta.
"Kakak akan ambilkan, tunggu dulu."
Ridwan naik ke pohon mangga untuk mengambil manga untuk Mumtaaz dan dua saudara sepupu. Usai memetik buah mangga ia turun hati-hati. Dia tersenyum melihat Adiknya tersenyum manis menerima buah mangga darinya. Ridwan senang melihat Mumtaaz tersenyum begitu manis telah menerima mangga.
Mumtaaz tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi rapinya. Sungguh dia begitu menyayangi Ridwan sepenuh hati. Baginya sang Kakak adalah pahlawan serta pelindung di kala Ayahnya pergi sangat lama. Orang kedua teramat di sayangi olehnya setelah Ayah. Mumtaaz yang rapuh ditinggal Ayah maka Riswan yang memberikan perlindungan serta kasih sayang.boleh karena itu rasa sayang serta rasa segan terus ada dihatinya untuk sang kakak.
"Terima kasih ya, Kak / Le," ucap Mumtaaz, Dzaki dan Rizki.
"Sama-sama," sahut Ridwan.
Lain sisi Aziz menatap anak-anak dari balik jendela. Dia sangat bersyukur kedua anaknya saling menyayangi seolah tidak ada jarak. Mereka juga sangat menyayangi saudaranya yang lain. Dia bersyukur Allah memberikan kebahagiaan melimpah untuknya dengan menghadirkan Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira. Rasa syukur tiada duanya terus terlabuh dalam benak Aziz
Keluarga Khumaira tersenyum melihat Aziz kembali mewarnai hari. Mereka berharap Aziz dan Khumaira bersama selamanya tanpa cobaan menghantam. Semoga saja pasangan itu tidak akan terpisah walau badai datang. Mereka terus berharap pasangan ini bahagia dunia akhirat Aamiin. Abaikan itu dulu mereka sibuk melihat Faakhira sudah lelap dalam gendongan Ibu mereka. Sementara kedua orang tua sang anak lagi melihat dua kakak si kecil. Biarkan mereka berdua guna melabuhkan rasa cinta yang besar.
Khumaira beranjak melihat anak-anak sedang asyik makan mangga masak. Dia yakin pasti Ridwan yang mengambil mangga itu. Tunggu jika ingt mangga entah kenapa wajahnya merona mengingat Suaminya tadi malam menabur jus ke atas tubuhnya. Wajah cantik merona jika ingat Suaminya begitu nakal. Khumaira jadi berdesir menerima godaan Aziz tambah menggoda iman.
Aziz yang sadar Khumaira mengingat mangga sontak menoel pipi bulat Istrinya. Tunggu mungkin besok semangka pasti lebih menggairahkan. Hentikan pikiran mesum karena tidak ingin mesum di pagi menjelang siang hari. Tetapi, kalau mesum sama Istri tidak masalah malah di anjurkan. Aziz terkekeh ingat betapa mesum otaknya bersangkutan dengan Khumaira. Demi menghilangkan rasa gila itu dirinya mulai pembicaraan penuh sayang.
"Mereka terlalu manis sehingga Mas tidak rela melihat anak-anak cepat besar. Rasanya baru kemarin Mas gendong bayi Kakak Ridwan dan Mumtaaz. Lihat sekarang mereka sudah besar. Mas tidak ikhlas rasanya anak-anak manis itu tumbuh begitu cepat."
"Begitu pula Adek tidak rela melihat dua anak tampan itu tumbuh secepat itu. Baru kemarin Adek mengganti popok lalu memberikan asi dan lihat sekarang mereka tumbuh begitu cepat. Adek juga Mas tidak ikhlas anak-anak tumbuh begitu cepat sehingga jadi anak yang sangat manis."
"Hm, Mas juga belum mau melihat Dedek FaaFaa tumbuh besar. Baru kemarin Mas jumpa dengan putri kita. Berat rasanya jika putriku besar begitu cepat."
"Adek juga begitu Mas kurang bisa melihat Dedek FaaFaa tumbuh sangat cepat. Padahal baru kemarin Adek mengandung dan melahirkan lalu memberikan segalanya. Namun, sekarang anak kita mendekati batita cerdas dan sangat cantik."
Aziz dan Khumaira merasa waktu begitu cepat menumbuhkan anak-anak. Lihat tiga Anaknya begitu manis saat kecil mungil apa lagi pipi gembul begitu menggemaskan. Kini dua anak tampannya sudah tumbuh pesat jadi remaja kecil. Ya Allah betapa sempurna kehidupan melihat anak akan tumbuh begitu sehat penuh kecerdasan memikat.
Jika begini rasanya tidak ikhlas jika Ridwan dan Mumtaaz tiba-tiba lulus sekolah dasar lalu mondok. Alhasil mereka hanya berada di rumah bersama anak cantiknya. Dan semoga saja Allah berkenan menitipkan kembali anak pada mereka. Aziz dan Khumaira berharap semoga saja ada malaikat kecil lagi guna mengisi banyak keramaian di rumah.
"Mas."
"Dalem, Dek."
"Adek jadi ingin punya satu anak lgi yang manis."
"Mas juga, maka dari itu ayo kerja rodi bagai kuda supaya mendapat anak lagi."
"Mas Aziz, mesum ini masih pagi."
"Hehehe, maaf soalnya ingin sekali punya lagi. Pokoknya kalau laki-laki namanya Zaviyar, ok!"
"Adek juga mau, hehehe. Umh, nama Zaviyar sangat manis untuk di ucapkan. Lalu anak ganteng ini akan jadi bungsu."
"Hm. Tidak sabar rasanya menunggu hari itu tiba. Mas sangat mencintai Adek karena Allah!"
"Adek juga tidak sabar menunggu malaikat kecil hadir, Mas. Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah!"
Aziz dan Khumaira saling mendekap penuh cinta. Inilah kisah cinta mereka penuh badai walau berakhir penuh cinta. Ujian cinta mereka datang silih berganti seolah menguji betapa kokoh cinta keduanya. Dan kini mereka buktikan betapa besar cinta atas dasar kesucian yang di kokohkan atas nama Allah.
Tidak ada yang lebih indah dari pada ini ketika Allah menyatukan kembali. Indah sekali sampai rasanya begitu bahagia atas limpah karunia-Nya. Tidak ada yang lebih membahagiakan jikalau Allah sudah berkehendak. Aziz dan Khumaira begitu bersyukur Allah telah melimpahkan rahmat-Nya untuk memberikan segala cinta dan kebahagiaan. Ujian di lalui penuh rasa sabar dan rasa ikhlas dan paling utama selalu bertawakal kepada-Nya. Niscaya Allah memberikan hasil akhir begitu membahagiakan untuk kalian.
*****
Maaf belum tak koreksi dan edit jadi jika banyak sekali typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum!
Sekali lagi maaf ya Rose nakal sering kali abaikan koreksi pasalnya setiap selesai langsung update. Tipikal paling anti ngorekai dulu, he-he-he.
I Love You Guys!
Bonus Pick Kak Ridwan, Kak Mumtaaz dan Dedek FaaFaa!
**1. Kakak Ridwan sudah bujang ya ganteng maksimal. Besarnya akan jadi duplikat Abi.
Wajah rupawan campur tengil Ayah nurun sempura ke Dedek Mumtaaz berasa mau karungi.
Pipi gembul Dedek FaaFaa kayak Umi dan tentunya sangat cantik mau gigit manja**.
Sayang Anak-anak Rupawan Overdose!
Salam sayang untuk kalian semua!
See you later, Rosever!
Rose_Crystal_030199!