Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Menuju Perpisahan Antara Mereka!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Seperti biasa dukung Rose melalui vote, ok. Semoga kalian bisa suka dan mendukung Rose dengan cara Vote.


Terimakasih banyak semuanya!


***///\*


Hidup hanya sekali dengan penuh kebahagiaan. Namun, takdir tidak seprti anganku yang indah. Mungkin mulai hari ini aku harus ikhlas menerima kenyataan. Aku dan Istriku akan segera terpisah jauh oleh jarak. Jurang pembatas akan menghantam bahtera rumah tangga kami.


Aku lirik jam sudah pukul setengah 5 pagi. Aku lihat wajah ayu Istriku yang sangat manis. Sayang, jika aku pergi apa ada rindu untukku? Apa engkau akan terus mencintai Suamimu ini? Jika aku tidak kembali adakah penantian harapan di hati?


Aku lihat mata besar yang selalu kupuja terbuka. Matanya sangat indah seperti purnama yang meneduhkan. Mata besar itu laksana mawar yang sangat cantik nan elok di pandang. Wajahnya begitu manis bagai rembulan bersinar. Bibir penuhnya seperti nikotin membuat candu.


Semua tentang Istriku akan selalu ada dalam ingatan. Aku sangat mencintaimu, Dek Syafa. Apa kamu sangat mencintaiku jika tahu Masmu yang lain masih hidup? Jujur saja aku ingin serakah memiliki kalian. Namun, itu bukan aku yang tega melihat orang lain terluka. Biarkan aku terluka asal kalian bahagia selalu.


"Mas."


Panggilan sayang dengan aksen lembut akan selalu kukenang. Boleh aku memiliki Istriku untuk hari ini saja? Dengan jahil aku remas buah dadanya dan menggoda sedikit. Aku mendengar lenguhan Istriku akibat ulah nakal.


"Mau bercinta di pagi hari, Istriku?"


Aku hanya punya waktu sebentar sebelum takdir memisahkan kita berdua. Aku ciumi punggung polosnya dan ku usap perut turun ke bawah. Dek Syafa mendesah di kala aku terus menjamah tubuhnya. Biarkan aku miliki tubuh ini sampai kepuasan serta kenangan akan teringat.


"Mas, ugh nanti telat Sholat ... akh Mas emhh," desah yang menjadi melodi penuh kenikmatan.


Aku tutup selimut untuk menutupi kegiatan panas kami. Seolah tuli aku abaikan perkataannya tentang ajakan shalat subuh. Dengan cepat aku meraup bibir bengkak Istriku. Menggodanya dengan nakal adalah keahlianku. Semua terasa manis ketika Istriku membalas ciuman panas.


Semua terjadi lagi sampai kami memutuskan berhenti. Usai melakukan hubungan intim di pagi hari, kami putuskan untuk mandi besar. Aku tatap Dek Syafa penuh arti tanpa mau berkedip. Apa besok kita bisa menghabiskan waktu seperti ini lagi? Apa bisa Mas mandi berdua lagi bersama, Adek?


Ini terakhir kali kita bisa saling buka membuka tanpa sehelai benang. Ini terakhir kali kita bersama di rumah ini. Usai semua ini kita akan berpisah lama tanpa celah kembali. Sebenarnya aku tidak ingin pergi, namun apa daya takdir yang harus membuat kita berpisah.


5 tahun aku menandatangani kontrak kerja di Singapura. Aku ambil kontrak paling lama agar bisa pergi tanpa kembali. Lalu bagaimana dengan anak-anakku? Aku tidak bisa tanpa mereka yang selalu ceria.


Jika aku bawa mana bisa pasti Dek Syafa semakin tersiksa. Pilihannya yaitu biar mereka di asuh Dek Syafa dan Mas Azzam. Aku titipkan Mumtaaz-ku pada Mas Azzam agar di asuh secara baik-baik.


Untuk Tole Ridwan, pasti sangat bahagia bertemu Abinya. Semoga saja hafalan Al-Qur'an tetap di jaga. Di umur 8 tahun Dedek Ridwan mampu menghafal Al-Qur'an. Ya, kurang 5 jus lagi maka hafalan selesai. Semoga setelah Ayah pulang, Tole bisa hafal semua.


Ayah sangat menyayangi Tole Ridwan sepenuh hati. Tolong maafkan Ayah lepas dari tanggung jawab. Kamu anak yang sangat cerdas membuat kami bangga. Pertahankan semua karena Ayah sangat mencintai, Tole.


Putraku sayang maafkan Ayah karena pergi dari kalian. Dedek Mumtaaz, apa Dedek akan meraung histeris jika Ayah pergi nanti? Tolong, Nak jangan bersedih karena Ayah akan kembali walau sangat lama kembali. Ayah sangat menyayangi dan mencintai Tole Mumtaaz sepenuh hati.


Ayah pergi namun rasa ini akan Ayah bawa agar bisa bertahan. Kalian adalah sumber kebahagiaan Ayah. Jadilah anak yang berbakti pada Umi dan Abi. Ayah, akan selalu merindukan kalian.


"Mas, kenapa melamun dengan derai air mata?"


Kapan aku menangis?


Aku buru-buru merengkuh tubuh polos Dek Syafa sembari menangis. Dek, ini kebersamaan terakhir kita. Keberadaan yang akan selalu Mas kenang selamanya. Jika berkenan tolong maafkan Mas akan pergi meninggalkan Adek sendiri.


Mas akan selalu mencintai Adek sampai kapan pun. Hanya ada Adek di dalam hati Mas tidak ada yang lain. Sampai kapan pun cinta Mas semuanya milik Adek. Jangan khawatir karena Mas selalu menjaga sampai batas usia.


Aku terdiam sepi ketika Dek Syafa menghapus air mataku. Dia memberikan ciuman sayang di seluruh wajahku. Jangan menangis Dek jika nanti kita berpisah lama. Ma janji akan jaga cinta kita sampai akhir hayat. Jangan takut selamanya Mas hanya milik Adek seorang.


Jika memang kita ditakdirkan bersama Insya Allah atas Rahmat dan kuasa-Nya maka sang Khaliq menyatukan kita. Mas percaya pada sang pencipta alam semesta karena Adek ditakdirkan untuk Mas. Selamanya kita bersama, Insya Allah.


***///\*


Sesampainya di Pagerharjo, Aziz dan Khumaira saling melempar senyum. Rencana awal usai Shalat Dzuhur mereka akan ke Lirboyo. Keduanya sudah memasuki desa tempat orangtuanya tinggal. Entah kenapa degup jantung Aziz dan Khumaira semakin cepat.


Sekarang jam setengah 9 pagi dan mereka sudah sampai tujuan. Tadi di perjalanan Aziz mampir ke kantor untuk menyerahkan surat resign. Sementara Khumaira tidak tahu Suaminya telah resign dari kantor.


Khumaira heran kenapa Suaminya membawa banyak barang. Bahkan membawa dua koper besar, sementara di rumah meninggalkan beberapa pakaian. Seperti mau pergi saja pikir khumaira. Dia memilih diam tidak bertanya apa pun.


Aziz hanya diam belum berani jujur pada Khumaira. Rasanya takut jika Istrinya bersedih di hari akhir kebersamaan mereka. Tidak mau maka dari itu ia berusaha menutupi. Aziz tidak mau hari terakhir Khumaira bersedih pilu.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!" salam Aziz dan Khumaira.


Ridwan dan Mumtaaz yang mendengar suara kedua orang tuanya sontak berlari menuju pintu masuk. Dua anak tampan ini sangat senang Aziz kembali. Mereka langsung berhambur memeluk Ayahnya erat. Ridwan dan Mumtaaz mendekap kaki pinggul dan paha Ayah. Sungguh anak-anak merindukan sosok idola kebanggaan mereka.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah dan Umi," jawab Ridwan dan Mumtaaz.


Aziz merengkuh erat dua anaknya penuh kerinduan. Ya Allah, bisakah dia meninggalkan dua Putranya? Dia begitu sakit menerima takdir bahwa kebersamaan hanya hitungan detik. Segala kisah manis akan segera luntur dalam hidup. Sesak sekali sampai air mata tidak mampu di bendung. Aziz ciumi wajah Ridwan dan Mumtaaz diiringi air mata kepedihan.


"Lagi-lagi Mas menangis penuh kesedihan. Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Mas? Tidak biasanya Mas bungkam tanpa mau bercerita. Sebenarnya apa yang terjadi pada Masku? Ya Allah, kenapa hamba merasa ini adalah akhir kisah kami? Kenapa aku merasa akan ada jurang pembatas di antara kami. Mas Aziz, ada apa sebenarnya?" monolog Khumaira.


Ridwan dan Mumtaaz menyalami Aziz dengan mencium punggung tangan. Mereka juga mengecup punggung tangan Khumaira. Dua anak tampan memberikan ciuman sayang di pipi kedua orang tuanya. Keduanya sangat manis saat memberikan ciuman lembut.


"Mbah ke kebun, Ayah. Bibi Laila sedang ke rumah sakit untuk daftar kerja," sahut Ridwan.


Aziz serta keluarga kecil masuk ke dalam rumah sederhana. Rumah ini tidak terlalu besar dan tidak kecil. Intinya sederhana namun terkesan elegan. Yang jelas rumah mertuanya sederhana, tetapi indah nan hangat. Aziz akui rumah orangtuanya dia kali lipwt lebih besar dari rumah mertuanya.


Dalam rumah Aziz terkesan memanjakan keduanya dengan hadiah menarik. Melihat dua anaknya senang akan oleh-oleh membuatnya senang. Mereka minta pangku tanpa mau lepas sehingga mau tidak.mau pahanya di diduduki anak-anak. Sungguh Aziz begitu bahagia anak-anaknya ceria.


Khumaira membuat kopi hitam tanpa gula untuk Aziz. Untuk dua anaknya ia buatkan susu cokelat. Melihat Aziz tersenyum lebar mendengar celoteh dua anaknya terasa hangat. Suaminya terkesan beda bahkan sekarang terlihat pancaran mata itu menyiratkan perpisahan. Sesak sekali sampai Khumaira langsung berlalu menuju dapur.


Aziz tersenyum melihat Khumaira terlihat sedih. Dia tahu Istrinya merasakan sebuah perpisahan. Dengan sayang dia ciumi pipi gembul Ridwan dan Mumtaaz bergantian. Dua Putranya sebentar lagi akan lepas darinya. Aziz tidak mampu melepas dekapannya pada dua anak tampan ini. Ya Allah, kenapa sesak sekali jantungnya?


Khumaira menangis dalam diam mengingat Aziz. Kenapa dia merasa ini adalah akhir dari kisah cinta mereka yang dulu begitu bermakna. Setitik air mata luruh deras membuat Khumaira jatuh tertunduk. Sebuah takdir apa yang Allah berikan pada mereka?


"Mas Aziz," lirih Khumaira.


Sholikhin dan Maryam pulang ke rumah. Mereka terkejut melihat Aziz sedang asyik bermain dengan kedua cucunya. Lihat Aziz langsung beranjak untuk menyalami Sholikhin dan Maryam.


Banyak sekali percakapan membuat mereka senang. Menghabiskan waktu bersama sebelum Adzan berkumandang. Sebuah permintaan Aziz lontarkan tatkala ingin Sholikhin mengimami jama'ah shalat Dzuhur.


Aziz menatap kedua orang tua Khumaira penuh arti. Ini makan terakhir sebelum dia pergi lama. Pasti akan menjadi kenangan paling mengharukan. Canda tawa terus terlontar membuat guyonan sebelum memutuskan jama'ah. Aziz akan menyimpan memori kebersamaan teduh ini disetiap langkah.


Laila pulang setelah bekerja dan sangat terkejut melihat Aziz. Dia salaman pada Kakak ipar lalu ikut gabung. Barusan ia melamar kerja di rumah sakit dan Alhamdulillah diterima. Tunggu dulu entah kenapa Laila merasa Aziz tampak beda hari ini. Guyonan itu terkesan dipaksakan bahkan terkesan sayu.


Khumaira jadi semakin sesak melihat Aziz berbeda dari biasanya. Entah kenapa ini adalah salam perpisahan. Kenapa dia sangat takut memikirkan bahwa Aziz akan pergi jauh. Jurang pembatas sepertinya sudah terlihat ketika kedua orang tuanya menangis merengkuh Aziz erat.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Aziz melambaikan tangan seraya tersenyum teduh. Dia menitikan air mata menatap keluarga Khumaira yang sudah ia anggap orang tua sendiri. Tepat di depan mobil dengan sayang dia buka pintu untuk khumaira dan anak-anaknya.


Sholikhin dan Maryam menangis tergugu melihat Aziz pergi membawa Khumaira serta dua cucunya. Mereka ingat saat Aziz mendatangi mereka dengan tangis memilukan. Mereka syok berat ketika tahu Azzam masih hidup. Bahkan dengan mata kepala mereka melihat Azzam lewat layar ponsel Aziz.


Hati mana yang tidak sakit melihat Aziz mengatakan segalanya. Dari perpisahan dan amanah menjaga Khumaira dan anak-anak. Sholikhin dan Maryam terpaku mendengar penuturan Aziz yang terkesan lapang. Mereka awalnya marah, kecewa dan sangat terganggu akan keinginan Aziz. Namun, perlahan diam ketika menantu  terus memberikan pengertian.


Kata-kata Aziz yang selalu terngiang dalam pikiran Sholikhin dan Maryam adalah : Saya hanya manusia bisa yang ingin egois dan serakah. Saya hanya orang lemah yang ingin mendapat segala kebahagiaan. Namun, keserakahan dan keegoisan bukan mencerminkan saya. Saya bukan orang seperti itu, Buk Pak. Kebahagiaan Istri dan Masku lebih utama di atas segalanya. Saya bisa egois memiliki Dek Syafa. Namun, saya tidak akan tega menghancurkan perasaan Masku. Bahagianya mereka adalah kebahagiaan untuk saya. Inysa


Allah saya akan berjuang di Singapura untuk menutup duka. Tolong jaga anak-anak ya, Pak, Buk. Aziz akan selalu menyayangi kalian sepenuh hati. Saya menyayangi kalian selayaknya orang tua sendiri. Terima kasih sudah menjadikan saya menantu.


Sholikhin dan Maryam hanya berharap Aziz bahagia setelah berkorban lagi. Mereka ingat seberapa besar pengorbanan Aziz selama ini. Seberapa baik menantunya yang dengan ikhlas mengalah. Semoga Aziz mendapat akhir bahagia, Aamiin.


Namun, di balik kesedihan pasti ada kebahagiaan bukan? Hal paling membahagiakan yaitu saat Aziz memberikan hadiah tiket Umroh dan mendaftarkan haji kedua orang tua Khumaira. Sholikhin dan Maryam akan berangkat haji tahun depan. Lalu menantunya tidak datang mengantar mereka untuk ibadah haji. Hati mereka begitu sakit menerima kebaikan Aziz yang luar biasa.  Tidak ada kata yang mampu mereka ucap selain menyebut nama Allah dengan rasa syukur berlimpah mendapat menantu sebaik Aziz.


Kini pria itu telah memutuskan pergi dengan segala luka. Bisakah kedua orang tua Khumaira bertahan jika Aziz kembali terluka. Semua terasa sakit saat Aziz pamitan dengan segala rasa sayang. Harapan Sholikhin dan Maryam sangat sederhana yaitu melihat Aziz bahagia tanpa tersakiti.


Dalam perjalanan menuju Lirboyo, Aziz tidak henti-hentinya mengajak bicara kedua anaknya. Dia terus melempar guyonan membuat Ridwan dan Mumtaaz serta Khumaira tertawa riang. Kebersamaan mereka begitu kental sampai membuat iri. Melihat tawa merdu keluarga kecilnya sukses mengoyak hati Aziz akan sebuah kenangan.


Khumaira dan anak-anak begitu bahagia akan kelucuan Aziz. Mereka sangat senang Ayah tampak konyol dengan perilaku lucu. Tawa ceria memenuhi mobil tentu membuat senang. Tidak ayal Khumaira dan anak-anak sangat bahagia.


Ketika Adzan Ashar berkumandang, Aziz mengajak keluarga kecil jama'ah. Dia minta izin untuk mengimami keluarga kecilnya. Dalam do'a sesudah shalat dia meminta agar Khumaira dan anak-anak tegar menghadapi masalah jikalau dirinya pergi. Pasti ada Azzam yang akan menjaga, namun Aziz terus berharap kebahagiaan menyertai keluarganya.


Setalah shot keluarga kecil ini putuskan membeli makanan. Aziz membawa Khumaira dan anak-anak untuk berhenti di warung makan. Dia pesan sate kambing 3 porsi, untuk minum memesan jus alpukat. Sungguh ini perjalanan terbaik sebelum semua menjadi air mata kepiluan. Aziz akan ingat perjalanan manis bersama anak-anak dan Istrinya.


Khumaira hanya bisa menatap Aziz lamat-lamat tanpa mau berkedip. Dia melihat tawa, senyum dan canda gurau itu untuk di rekam di memori. Entahlah Khumaira merasa Suaminya begitu aneh hari ini. Lihat kedua anaknya tampak heboh meminta pangku Aziz.


Selagi menunggu sate, Aziz tidak henti-hentinya mengajak bercanda Khumaira dan anak-anak. Tidak lama pesanan datang siap di nikmati oleh mereka. Dengan telaten Aziz menyuapi Khumaira dan anak-anak pakai tangan.


Khumaira jadi malu saat Aziz menyuapinya. Kedua Putra mereka malah senang sekali di suapi sang Ayah. Dia hanya menunduk menyembunyikan rona wajah ketika Suaminya terus memberi suapan. Khumaira jadi malu-malu kucing di suapi Aziz ditempat terbuka dan disaksikan pengunjung warung makan.


Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz juga bergantian menyuapi Aziz. Jadi keluarga kecil ini jadi bahan obyek mengharukan. Mereka (pengunjung) iri melihat keluarganya tampak mesra. Khumaira tidak peduli malah terkesan menikmati. Sementara Aziz menyembunyikan duka dari cara berbicara serta tersenyum. Lalu anak-anak menikmati hari bersama.


Aziz tersenyum sembari manahan tangis. Dia ingin marah pada takdir serta ingin egois. Tetapi, pertanyaannya : apa dia sanggup menyakiti hati Azzam? Maka jawabannya tidak! Semoga saja kebahagiaan menyertai mereka. Aziz berharap semua akan baik-baik saja walau nyatanya tidak seperti itu.


****////\\****


Maaf ya, mulai part ini sampai beberapa chapter kedepan akan menguras air mata!.


Jangan bosan ya say.


Yakinlah konflik ini sangat menyayat hati jadi siapkan mental.


Terimakasih banyak ya Say.


😭😭😭


Rose_Crystal_030199