Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Tersentuh Akan Ketulusan Si Kecil!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini


*.*.*.*


Aziz melihat anak-anaknya terlelap di kamarnya. Dia dengan jahil mencubit gemas pipi gembul Mumtaaz dan Ridwan. Karena sangat gemas Aziz tidak kuasa mengigit pipi gembul kedua anaknya.


Ridwan dan Mumtaaz langsung bangun siap menangis. Mata besar mereka penuh embun siap berteriak histeris. Benar saja keduanya langsung meraung histeris memanggil Uminya.


"Huhuhu, Umi hueeee huhuhu ....!" tangis Ridwan dan Mumtaaz bersamaan begitu histeris.


Aziz langsung nyengir kuda saat Khumaira datang membawa spatula. Dia hanya tersenyum seraya mengatakan maaf telah mengganggu anak-anak. Alhasil Istrinya menambok bahunya.


Khumaira langsung merengkuh dua anaknya agar berhenti menangis. Lihat Suaminya malah tersenyum tidak jelas. Kenapa bisa punya Suami jahil minta ampun?


Ridwan dan Mumtaaz saling berebut merengkuh Khumaira. Mereka menangis kejer gara-gara tidur belum lama malah di ganggu. Dua bocah imut ini meraung-raung tidak terima di ganggu.


Aziz jadi merasa bersalah telah mengganggu tidur lelap anak-anaknya. Dengan sayang dia bawa Ridwan dan Mumtaaz dalam pangkuannya. Menciumi wajah tampan kedua anaknya.


"Maafkan Ayah anak-anak yang tampan. Terganggu ya, ugh manis sekali jika menangis. Kakak ngga boleh menangis nanti jelek dan Dedek Taaz, jangan menangis nanti ngga dapat asi. Ayo diam jangan nakal anak-anak tampan."


Ridwan langsung diam mendengar jelek keluar dari mulut Ayahnya. Sementara Mumtaaz masih betah menangis histeris. Si kecil belum maksud dan meraung gara-gara asi. Tangan kecil terus meminta gendong Khumaira. Sementara Ridwan sudah mulai diam walau masih sesenggukan.


"Dedek, sini sama Umi."


Khumaira langsung merengkuh Mumtaaz lalu memberikan asi. Dia ciumi kening si kecil penuh sayang. Lalu menepuk-nepuk pantat si kecil agar diam dan benar saja bayinya diam. Sementara tangan kecil anaknya terus bergerak menepuk-nepuk dada kanannya.


Mumtaaz memang sangat senang minum asi sembari menepuk-nepuk dada kanan Uminya. Melihat anaknya begini Khumaira sangat senang. Lucu sekali si kecil sampai ia sangat gemas. Lihat anaknya malah mengerat lalu tersenyum polos.


Ridwan mendusal mencari kenyamanan dalam dekapan Aziz. Tangan kecil itu merengkuh leher Ayahnya erat. Dia masih ngantuk makanya kembali memejamkan mata di kala mendapat usapan dan puk-puk sang Ayah.


Aziz memberikan kenyamanan agar Ridwan lekas tidur. Benar saja Putranya kembali terlelap nyaman dalam dekapannya. Dia cium kening anaknya dan pipi gembul penuh sayang. Perlahan Aziz meletakan Ridwan di tengah ranjang.


Khumaira tersenyum melihat Aziz sudah berhasil membuat Ridwan tertidur pulas. Dia melihat Mumtaaz masih menyusu saembari bermain anak rambutnya. Tangan kecil anaknya tampak aktif menepuk tangan. Si kecil belum mau tidur alhasil Khumaira hanya bisa berdiam diri.


Aziz mengusap rambut Mumtaaz lalu mencium pipi gembul Putranya. Dia juga mengecup puncak kepala Khumaira. Merasa ada bau gosong Aziz menyengit dan buru-buru lari ke dapur mengecek sesuatu.


Khumaira menepuk kening pasalnya lupa masih menggoreng ikan mas. Saat mau beranjak menyerahkan spatula ia lihat tidak ada. Dia tersenyum karena spatula sudah di bawa Aziz ke dapur. Setelah itu Khumiara melihat Mumtaaz kembali ternyata si kecil sudah tidak menyusu.


Mumtaaz mengerjap imut melihat Ayahnya tiba-tiba ngacir. Dia duduk di pangkuan Uminya sembari menatap luar. Mumtaaz mendongak menatap Khumiara penasaran.


"Mi, Yah ... napa? Yah thakit?"


Mumtaaz bertanya begitu polos pada Uminya. Mata sewarna mata sang Umi menatap lugu. Tangan kecil itu terus menuding ingin ikut bersama Ayahnya. Mumtaaz penasaran ada apa yang terjadi pada Ayahnya?


Khumaira tersenyum mendengar dan melihat tatapan polos Mumtaaz. Dengan sayang ia ciumi pipi bulat anaknya. Setelah mencium Mumtaaz dia usap rambut tebal Ridwan kemudian mengecup sayang kening sang Putra. Lalu beranjak meninggalkan kamar sembari menggendong Mumtaaz.


"Ayah tidak sakit, Nak. Ayah sedang buru-buru menyelamatkan ikan."


Mumtaaz hanya mengaguk paham sebagai respons. Padahal si kecil mana tahu apa yang di maksud Khumaira. Dia mengalungkan tangan di leher jenjang Uminya dan terus mengoceh lucu.


Sampai dapur Aziz sudah mengganti minyak goreng lalu menggoreng ikan yang baru. Dia tersenyum tipis melihat Khumaira dan Mumtaaz ikut ke dapur. Aziz melangkah ke arah Mumtaaz guna mengecup pipi gembil sang Putra.


"Dedek tidak tidur bersama, Kakak?"


Mumtaaz menggeleng lalu berceloteh sepanjang rel kereta api. Bahasa yang digunakan masih sangat sulit di pahami. Si kecil hanya mengatakan celoteh aneh namun sangat menggemaskan.


"Yah ... Yah, Taaz ...."


Mumtaaz belum tahu keinginannya jadi cuma mengangkat tangan ingin gendong. Kosa kata si kecil masih sangat minim sehingga hanya kata seadanya. Tubuh gempalnya sangatlah lucu untuk di cubit. Apa lagi pipi gembul enak untuk di pandang. Wajahnya yang tampan nan lugu menggemaskan membuat siapa saja mencubit gemas.


Khumaira gantian yang menggoreng ikan dan membiarkan Suaminya menggoreng ikan. Sesekali dia lirik Aziz dan Mumtaaz ketika bermain. Sang Suami menggendong Putranya berkeliling ruang makan.


Aziz duduk di kursi lalu mengambil buah pisang untuk di suapi ke Mumtaaz. Anaknya makan dengan lahap seraya bertepuk tangan heboh. Manis sekali Putranya ini saat kecil. Jadi tidak ikhlas kelak Mumtaaz lekas dewasa.


Teringat kembali pada Ridwan yang sangat menggemaskan ketika seumuran Mumtaaz. Dulu Ridwan sangatlah manja padanya dan itu membuat ia sangat sayang. Kini Ridwan begitu besar membuat Aziz merindukan saat-saat bocah manisnya batita.


"Mas, mau makan?"


"Tidak, nanti saja. Ini sebentar lagi Adzan Ashar mau jama'ah? Apa Adek masih haid?"


"Sudah suci, Mas. Kita jama'ah dan nanti sekalian mengajari Dedek Ridwan mengaji."


"Baik, Mas mandi dulu."


"Iya, sekalian bangunkan Kakak ya, Mas."


Khumaira mengukir senyum manis ketika Aziz dan Mumtaaz berlalu. Setelah semua beres ia menata masakan di meja makan. setelah itu ia berbalik ke dapur untuk mencuci peralatan memasak. Khumaira sembari mencuci piring dengan teduh melantunkan shalawat Nabi.


Dalam kamar Aziz menuju Ridwan kemudian mengecup mesra kening Ridwan. Dia tersenyum teduh ketika putranya mengeliat. Setalah itu si ganteng bangun sembari menguap kecil. Pada akhirnya Aziz dan Ridwan mandi bersama semakin jama'ah.


***///


Aziz, Khumaira dan Ridwan jama'ah shalat ashar, sementara Mumtaaz asyik menggoda Ayahnya. Lihat si kecil malah naik ke bahu Aziz unuk bermain ketika sang Ayah sujud. Kebiasaan anak-anak kecil belum tahu apa pun. Asal diam dan tidak jatuh tidak masalah.


Usai salam, Aziz meraih Mumtaaz agar duduk anteng di pangkuannya. Setelah anaknya diam Aziz mengucap wirid setelah Shalat. Jujur saja gemas sendiri takut Mumtaaz terjungkal ketika ia berdiri dari sujud. Bahkan pernah anak manisnya meraih rambutnya gara-gara mau jatuh sat ia menegakan badan.


Mumtaaz hanya menggumam menirukan apa yang di ucapkan Aziz. Saat Ayahnya berdoa si kecik mengatakan Aamiin. Sesekali bocah ini akan mendongak menatap ayahnya lalu menumpuk tangan kecilnya. Manis sekali dan tentunya sangat menggemaskan.


Usai Shalat Aziz salaman pada si kecil. Tentu Mumtaaz mencium punggung tangannya. Dia berbalik menghadap Khumaira dan Ridwan untuk salaman. Mereka berdua mengecup punggung tangan Aziz sembari tersenyum tipis.


Sedari dini Aziz dan Khumaira mendidik Ridwan agar menjadi pria sholeh. Mengajari mengaji, menghafal doa, mengajari Shalat dan mendidik menjadi anak yang berbakti. Keduanya tidak pernah menyerah mengajari anak manisnya.


Kini Ridwan mengaji Al-Qur'an dengan mentor Ayahnya. Dia sangat senang menghafal karena Ridwan akan menjadi Hafids untuk membanggakan khumaira, Aziz terutama Azzam. Ayahnya selalu bilang dia harus giat mengaji untuk menolong Khumaira dan Azzam di akhirat. Ayahnya tidak pernah berhenti mengajari dan memberikan pembelajaran tentang Al-Qur'an padanya.


"Shadaqallahul-'Adzim."


Ridwan mengecup pipi Aziz penuh sayang. Dia meletakan Al-Qur'an pada tempatnya. Kemudian duduk manis di depan Ayahnya. Ridwan dengan sayang minta elusan alhasil dapat elusan sayang.


Aziz mengusap rambut tebal Ridwan sesekali mencium sayang kening anaknya. Dia sangat senang putranya ini begitu manja padanya. Jujur saja si kecil bagai berlian untuknya yang akan dijaga. Begitupun Mumtaaz akan selalu Aziz jaga, pasalnya dua anak ini hadiah terindah dari sang pencipta alam semesta.


"Ayah, apa kelak Kakak bisa berjumpa dengan Abi? Apa Abi bisa Kakak lihat di akhirat? Ridwan senang sekali bisa mengaji dan jadi penghafal Al-Qur'an. Dengan begitu Abi, Umi dan Ayah akan di Surga. Ayah, pokoknya jika Kakak sudah jadi penghafal Al-Qur'an, Kakak mau mondok di pesantren. Kakak sayang Ayah."


Penuturan polos Ridwan suksea membuat Aziz dan Khumaira menitikan air mata. Bangga sekali mendapat Ridwan dalam hidup mereka. Dengan cepat Azis merengkuh Ridwan dan menciumi puncak kepala Putranya.


"Mas Azzam, lihat Putramu sangat sholeh dan membanggakan. Aziz sangat bangga padanya, Mas. Sebagai Ayah aku sangat beruntung apa lagi Mas sebagai orang tua kandung. Mas, doa kami selalu tercurah padamu, Mas. Tole Ridwan sangatlah cerdas seperti Mas. Dia begitu baik sehingga banyak sekali kebaikannya seperti, Mas. Pasti Mas sangat bangga di alam sana. Doaku mengiringi Mas di alam sana," monolog Aziz dalam hati.


Aziz dan yang lain tidak pernah berhenti mendoakan Azzam. Setiap jum'at akan mengirim Tahlil dan selalu mengkhususkan di setiap Shalat lima waktu. Tidak ada yang lalai walau jarang datang ke makam Almarhum. Namun, apa daya keluarga Aziz akan datang tiga bulan sekali ke makam.


Khumaira menangis haru mendengar perkataan Ridwan. Dia rengkuh tubuh Mumtaaz sembari menciumi puncak kepala Putranya. Sungguh ia angat bangga memiliki anak sholeh seperti Ridwan. Semoga Allah selalu menjaga Putranya di jalan yang benar.


"Mas lihat Putra kita sudah tumbuh menjadi anak hebat. Dia berakhlak mulia seperti Mas. Ini semua juga berkat didikan Mas Aziz. Pasti Mas sangat bangga pada Putra kita di alam sana. Sudah lama sekali Adek tidak melihat makam, Mas. Insya Allah jum'at besok kita ziarah ke makam Mas. Adek selalu menyimpan nama Mas di lubuk hati yang paling dalam. Mas Azzam akan selalu ada di hati Adek. Terima kasih banyak Mas sudah memberi Putra sholeh seperti Tole Ridwan. Terima kasih dan bahagia selalu, Amin," batin Khumaira sembari tersenyum teduh.


"Anak-anak, bagaimana kalau kita liburan? Kita akan liburan ke Kediri atau liburan ke Pagerharjo?"


Aziz memecahkan keheningan setelah hawa haru. Dia ingin mengajak mereka jalan-jalan besok lagian uangnya kembali, jadi bebas melakukan apa pun. Toh uangnya juga tidak akan habis jika liburan ke luar negeri. Aziz akan memberikan segala waktu indah bersama Khumiara serta anak-anaknya.


Khumaira dan Ridwan saling pandang seolah kaget. Mereka sangat senang bisa liburan hanya saja uang tidak cukup. Kini dia hanya bisa saling pandang seolah tidak terjadi. Khumaira tidak mau Aziz boros lagian keuangannya masih redup. Untuk Ridwan tentu sangat senang, hanya saja tidak mau boros.


"Mas, ngga baik boros lagian ekonomi kita belum kembali," protes Khumaira.


"Uang Mas kembali, Dek. Kita bisa liburan sepuasnya. Dua minggu lagi Mas akan kerja kembali ke kantor."


"He? Mas serius? Kok bisa kembali?"


"Serius, Dek. Pak Herlambang sudah janji akan mengembalikan uang itu jika Mas terbukti tidak bersalah."


"Alhamdulillah, ya sudah besok kita liburan."


"Alhamdulillah, bagaimana kakak dan Dedek mau jalan-jalan ke candi Borobudur dan Perambahan. Setelah itu kita jalan ke Pagerharjo terakhir liburan ke Kediri," jabar Aziz.


Ridwan bersorak senang mendengar perkataan Aziz. Dia sangat senang bisa liburan juga bersama keluarga. Karena Ridwan bersorak senang sontak Mumtaaz ikut bersorak mengatakan mau.


Aziz dan Khumaira langsung merengkuh anak-anak. Mereka akan menghabiskan waktu bersama selagi libur. Pasti sangat membahagiakan bisa jalan bersama dengan penuh suka cita. Aziz tidak sabar menanti hari esok bersama keluarganya liburan.


Khumairah tersenyum teduh melihat tawa merdu Ridwan dan Mumtaaz yang bahagia mau liburan. Dia juga sangat bahagia Aziz sangat manis mengatakan itu semua. Terasa begitu mendebarkan untuk di ingat. Khumiara tidak akan menolak karena ini kuburan paling indah bersama keluarga kecilnya.


Pada akhirnya keluarga kecil Aziz tersenyum bersama. Saling berbagi kata seolah menjelaskan betapa bahagia harinya. Ini semua begitu mendebarkan dikala mereka saling goda. Lalu Aziz memberikan usulan kegiatan saat liburan nanti. Khumiara sendiri sangat bahagia Aziz serta anak-anak sangat aktif merencanakan liburan untuk besok. Sangat ramai sampai memenuhi ruangan pasholatan.


****////


*maaf ya bqru bisa update kemarin mager plus badan capek semua.


bagaimana tanpa Mas Aziz dan Dek Syafa?


sekedar pemberitahuan konflik akhir story' ini tidak ada separuhnya dengan si Wisnu.


Siapkan tisu saat masuk bab itu, Ok*!