Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Liburan!



*Yo, yang kangen sama Mas Aziz dan  Dek Syafa, Uhuy!


Aku juga kangen kalian kok.


Jangan pernah bosan baca story Ini ok!


Sekedar informasi story Ini anti-mainstream beda dengan yang lain. Jika ada yang sama harap lapor pada Rose.


Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini*!


***///


Aziz tersenyum melihat dua anaknya bermain di candi Prambanan. Mereka sangat manis di matanya karena sedari tadi Ridwan dan Mumtaaz tidak henti-hentinya menggumam wow. Melihat keduanya begitu tak ayal membuat Aziz menebar senyum teduh sukses membuat pengunjung wanita melting.


Ridwan dan Mumtaaz menatap candi seribu penuh kekaguman. Tangan kecil mereka menyentuh candi dengan riang. Sontak keduanya menatap kedua orang tuanya seraya mengatakan "ini sangat bagus."


khumaira berjalan menghampiri kedua anaknya. Dia mengusap pipi gembil Ridwan dan Mumtaaz lalu mengecup puncak kepala sang anak. Tangan mungil Khumaira terangkat untuk memanggil Aziz supaya mendekat. Sungguh kesal Suaminya mengumbar senyum manis pada mereka semua sekolah tidak ingat situasi dan kondisi.


Aziz mengeluarkan ponsel untuk memfoto keluarganya. Dia meminta salah satu pengunjung memfoto mereka. Dengan sayang dia gendong Ridwan lalu merengkuh Khumaira. Sedangkan Istrinya menyandarkan kepalanya di bahu seraya menggendong Mumtaaz.


Cukup banyak foto yang mereka abadikan di candi Prambanan. Setelah puas keluarga kecil Aziz memilih pergi menuju candi Borobudur. Sesampainya di cadi Borobudur dua anaknya menggumam kata "Masyaallah* dan berbagai kata pujian untuk Allah. Ridwan dan Mumtaaz begitu antusias melihat candi Borobudur.


Aziz meraih tangan mungil Khumaira untuk di genggam. Mereka saling melempar senyum manis kemudian menatap dua anaknya. Ia membawa Istrinya lebih dekat pada anak-anak agar si kecil tidak kelayapan. Aziz mengukir senyum manis melihat Ridwan dan Mumtaaz saling melontarkan kata-kata lucu. Tidak dapat di pungkiri Aziz sangat bahagia mengajak anak-anaknya pergi berlibur.


khumiara tersenyum dikala Aziz sangat bahagia. Melihat betapa antusias tiga pangerannya tidak ayal membuatnya tersenyum bahagia. Dia sangat bahagia bisa menghabiskan banyak waktu bersama Suami serta kedua anaknya. Khumiara sangat menikmati bagaimana serunya mereka berlibur di sini.


Seperti sebelumnya Aziz sekeluarga kecil foto bersama. Mereka tampak menikmati kebersamaan mereka. Hingga sebuah suara memecahkan keheningan di kala asyik duduk di anak tangga candi.


"Mas Aziz," panggil seseorang.


Wanita cantik berparas khas pribumi tidak menyangka bisa melihat Aziz. Dia sudah sangat lama tidak berjumpa pria pada masa lalunya. Sungguh ia sangat bahagia bisa bertemu Aziz sekeluarga kecil.


Aziz mendongak menatap siapa yang memanggil dirinya. Mata cokelatnya membulat sempurna melihat Zahira sedang berdiri di depannya. Dia melirik Khumaira tampak terkejut. Buru-buru Aziz merubah tampang terkejut menjadi biasa saja.


"Hai, Dik Zahira."


"Hai, Mas. Assalamu'alaikum Mbak dan Adik-Adik manis," salam Zahira seraya tersenyum manis.


"Wa'alaikumssalam, Mbak / Bibi," sahut Khumaira dan Ridwan.


Untuk Mumtaaz hanya memjawab "kumthalam" pasalnya belum bisa berbicara lancar. Kosa kata minim dan terlebih lagi cadel. Sunghuh si kecil sangat manis ketika Mumtaaz tampak aneh menatap Zahira.


Zahira gemas sendiri melihat Mumtaaz tampak luvu. Sontak ia duduk mencubit pipi gembul Putra Aziz dan Khumaira gemas. Dia juga mencubit gemas lalu mengecup pipi Ridwan. Zahira sangat senang dan berharap bisa memiliki momongan setampan Ridwan dan Mumtaaz.


Khumaira mengatupkan bibir rapat melihat Zahira. Apa yang harus dia lakukan dengan mantan Aziz? Rasa sakit menguar tatkala melihat Suaminya mencuri pandang ke arah Zahira. Minta penting Suaminya mencuri pandang begitu. Khumiara sadar Zahira cantik jenis, hanya saja tidak mau melihat Aziz begitu.


Aziz yang paham Khumaira kesal sontak tersenyum jahil. Mengerjai Istrinya itu hal paling menyenangkan. Ide cemerlang muncul tatkala Istrinya semakin kesal. Dia berdehem pelan untuk memecahkan kecanggungan. Dengan senyum tipis Aziz memanggil Zahira.


"Dik, sudah 2 tahun kita tidak bertemu. Dari mana saja selama ini? Apa kabar?"


Khumaira mengatupkan bibir sembari mengusap rambut tebal Mumtaaz. Dia rengkuh tubuh gempal Putranya untuk menahan sakit hatinya. Berani sekali Aziz berbica sangat manis bahkan tatapan itu menyirat rindu. Katanya cinta Khumaira lalu kenapa Aziz begitu?


Aziz nyaris tertawa keras melihat Khumaira cemburu. Sensi sekali Istrinya saat ini seperti bumil saja. Sungguh Aziz ingin menerkam khumaira yang cemburu.


Zahira tersenyum manis mendengar pertanyaan Aziz. Dia lirik khumaira terlihat sangat kesal. Dengan jahil Zahira mencubit gemas lengan kekar Aziz. Sepertinya sikap jahil pria ini menurun padanya.


Khumaira semakin dongkol melihat interaksi mereka yang mesra. Sabar Khumaira karena orang sabar tambah cantik. Pokoknya harus sabar agar tambah rupawan. Ingat Suaminya bakal habis kena cubit nanti setelah sampai Pagerharjo.


"Iya Mas sudah lama sekali sampai rindu berat. Aku di Banyuwangi, Mas. Alhamdulillah, baik-baik saja, Aamiin. Mas sendiri apa kabar? Semakin ganteng saja, Mas."


Balasan Zahira sukses membuat Khumaira mendelik horor begitu pun dengan Aziz. Apa-apaan Zahira membalas perkataan Suaminya dengan senyum manis. Khumaira dongkol setengah hidup menyaksikan keromantisan Aziz dan Zahira.


Ridwan dan Mumtaaz hanya diam menyaksikan percakapan Ayah dan Bibi. Mereka tidak ambil pusing asal ada mainan anteng. Tidak ada suara ocehan karena hawa semakin panas di antara mereka.


Aziz terkekeh mendengar jawaban Zahira. Lalu tertawa ringan menatap Khumaira yang cemburu. Manis sekali Istrinya saat ini sampai Aziz ingin mencium di depan umum. Bahaya, ada dua anak kecil belum cukup umur.


"Aku juga rindu Dik Zahira. Alhamdulillah aku juga baik. Itu pasti karena dari awal aku sangat tampan tidak terbantahkan."


Khumaira yang kesal melempar satu buah jeruk ke arah Aziz. Nah Suaminya menangkap dengan enteng buah itu. Argh, Khumaira ingin menjambak rambut Aziz sampai rontok. Dasar alien jahil berani sekali.


Zahira tertawa melihat kelakuan Aziz dan Khumaira. Dia jadi heran kenapa pasangan ini lucu sekali. Lihat Aziz tambah narsis dan Khumaira tambah ekspresif.


"Sayang, ayo pulang!" tegas suara pria menghentikan acara lucu.


"Oh, iya sebentar Mas. Mbak Khumaira, tenang saya sudah bersuami mana mau nikung Mas Aziz. Saya juga sedang mengandung anak pertama kami. Mas Toni, mereka teman-teman Adek," terang Zahira sukses membuat Aziz dan Khumaira kaget.


"Menikah? Kapan? Kenapa tidak mengabari kami?" tanya Aziz beruntun.


"Iya kami menikah 1 setengah tahun yang lalu, Mas. Kami di jodohkan dan pernikahan kami secara tertutup. Maaf ya tidak mengundang kalian."


Zahira tidak enak hati melihat Aziz dan Khumaira tampak sok begitu. Senyum manis terukir mendengar ucapan selamat Aziz untuk mereka. Tidak ada cinta di hati Zahira untuk Aziz. Walau masih ada sedikit namum Zahira sangat menyukai Suaminya.


Khumaira berdiri sembari menggendong Mumtaaz. Dia memberi ucapan selamat lalu merengkuh Zahira penuh haru. Semoga saja Allah selalu menjaga bahrera rumah tangga Zahira dan Toni.


Usai pertemuan itu mereka memutuskan membeli makanan. Mereka makan seadanya sembari melontarkan kata-kata manis.


Toni sendiri seorang pengabdi Negara. Dia seorang TNI angkatan udara dan tentunya sangat piawai dalam urusan kasih sayang. Awalnya dia tidak mau menerima perjodohan. Namun, setelah melihat pertama kali Zahira ia langsung tertarik. Alhasil menikah secara tertutup lalu ia mendapat tugas negara. Dan satu setengah tahun menikah mereka baru di karuniai calon buah hati.


***///


Dalam kamar Khumaira merengut menatap Aziz. Bersyukur dua anaknya bermain bersama kedua orang tuanya. Dia menaruh baju ganti di lemari dengan kesal. Suaminya sedari tadi menggoda Khumaira perihal Zahira. Ingin nabok tetapi sayang.


Aziz merengkuh Khumaira dari belakang. Tubuh tinggi menjulangnya harus menunduk dalam untuk merengkuh tubuh pendek Istrinya. Gemas sendiri kenapa Khumaira pendek sekali sampai Aziz sakit pinggang.


"Masih marah?"


"Masih!"


Aziz menyibak hijab syar'i Khumaira. Dia kecup bahu Istrinya dan memberikan tanda. Tangannya semakin erat mendekap Khumaira. Tidak peduli Istrinya mencubit lengan kekarnya. Yang terpenting Aziz membuat Khumaira tenang.


"...."


"Maafkan, Mas."


"Lepas, Mas.  Adek sibuk tidak mau di ganggu!"


Khumaira meronta dalam dekapan Aziz. Karena kesal dia nekat mengigit lengan kekar Suaminya. Setelah lepas khumaira berjalan meninggalkan Aziz. Namun, sebuah tarikan membuat dia jatuh dalam dekapan Suaminya.


Aziz mengangkat tubuh mungil Khumaira agar lebih tinggi. Kalau begini dia bisa melihat Istrinya yang sangat cantik. Perlahan tangan kekarnya terulur untuk mengusap pipi Istrinya. Sungguh merasa bersalah atas tindak jahil Aziz memutuskan untuk merebahkan Khumaira di ranjang.


"Menurut Adek apa mungkin Mas tertarik pada Zahira? Apa mungkin seorang Aziz menyukai wanita lain?"


Khumaira menggeleng cepat karena sangat tahu cinta Suaminya hanya untuk dia. Mungkin karena kesal ia melampiaskan kekekesalan pada Aziz. Sedari awal Suaminya begitu cinta padanya lalu kenapa marah? Alasan marah yaitu Khumaira tidak sanggup melihat Aziz bersama wanita lain.


"Mas tidak akan pernah tertarik terlebih suka pada wanita lain. Maaf sudah merajuk kekanakan pada, Mas. Jangan marah, Mas."


Aziz tersenyum mendengar jawaban Khumaira. Dia kecup kening Istrinya penuh sayang. Kemudian memberikan ciuman di bibir Istrinya. Sebisa mungkin Aziz akan membuat Khumaira lebih rileks.


"Itu benar, Sayang. Coba tatap mata Mas dengan seksama dan lihat di mata Mas ada siapa?"


Khumaira menatap Aziz begitu dalam. Mata berpupil cokelat muda nyaris menyerupai warna keemasan itu menatap teduh dirinya. Mata tajam yang sangat indah di bingkai bulu mata lentik menambah nilai plus untuk Aziz. Bagaimana bisa khumaira berpaling dari mata teduh Suaminya?


"Hanya ada Adek di mata Mas."


Aziz tersenyum tipis lalu membelai kulit wajah khumaira. Dia memiringkan kepala guna mencium bibir ranum wanitanya. Tidak ada lumatan hanya ada cinta yang besar. Setelah puas Aziz  menyudahi ciuman sepihaknya. Dia satukan kening mereka dengan mata saling menatap.


"Itulah kenyataan sesungguhnya, Dek. Hanya ada Adek di mata Mas. Hanya ada Adek dalam pikiran dan hati, Mas. Hanya ada Adek yang akan selalu Mas cintai sepanjang hidup, Mas. Di mata ini tergambar jelas betapa Mas sangat mencintai Adek. Betapa Mas sangat mendambakan Adek di setiap hembusan napas. Lihatlah mata Mas jika kelak ada badai maka Adek akan menemukan jawabannya. Mata Mas akan mengutarakan kejujuran, cinta dan keseriusan. Jangan lepas menatap karena Mas akan selalu menatap Adek tanpa lelah. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


Aziz mengutarakan isi hati tanpa sungkan. Semua yang terucap adalah kebenaran yang nyata. Hanya ada cinta di mata Aziz untuk Khumaira. Semua kebahagiaan terasa lebih manis untuk di rasakan.


Khumaira menitikan air mata haru mendengar perkataan Aziz. Dia memilih bungkam seraya merengkuh erat Suaminya. Sungguh sangat bahagia Khumaira mendengar perkataan sang Suami.


Aziz dan Khumaira saling merengkuh menikmati kebersamaan. Mereka saling menyalurkan rasa cinta tanpa peduli esok. Cinta mereka begitu murni tanpa ada noda. Tidak ada kebahagiaan selain melihat Aziz dan Khumaira saling memberikan cinta yang besar.


Kini keduanya tampak menikmati hari usia mari merajuk. Khumaira bersandar di bahu Aziz dengan tangan menggenggam erat. Sementara Aziz mencium mesra puncak kepala sang Istri. Mereka terlihat begitu romantis seolah dunia milik mereka berdua. Aziz dan Khumiara tentu sangat bahagia menikmati hari.oenuh sayang.


***///


Keluarga kecil Aziz telah puas menikmati liburan di rumah orang tua Khumaira. Selama liburan mereka jalan-jalan di kebun teh, memetik sayur-mayur di kebun. Membantu menanam cabai. Berlibur ke taman bermain, wahana permainan dan kebun binatang.


Berbagai keseruan mereka lakukan di Pagerharjo. Kini tiba saatnya undur diri menuju Kediri. Keluarga kecil itu langsung siap-siap untuk melakukan perjalanan ke rumah orang tua Aziz. Keduanya akan menginap di sana satu pekan sekalian mengaji bersama Santri atau melakukan aktivitas lainnya.


Aziz menggunakan kemeja putih lengan pendek. Sementara bawahan memakai celana bahan warna senada. Dia melihat Ridwan asyik menatap diri di cermin. Putranya kumat narsis seolah mengatakan orang paling ganteng. Aziz akui ini ajarannya yang sesat karena mengajari si ganteng narsis penuh percaya diri. Namun, memang adanya mereka ganteng maksimal jadi bagaimana?


Ridwan menatap Aziz dengan senyum polos. Wajah tampannya begitu manis untuk di cubit. Lihat betapa menggemaskan Ridwan ketika merengek pada Ayahnya lugu. Dengan manja Ridwan duduk di pangkuan Ayahnya minta pakaian sepatu plus ikat sekalian talinya.


Aziz mengikat tali sepatu Ridwan karena si anak belum bisa mengikat dengan benar. Putranya berpenampilan kasul dan itu menambah kesan sangat tampan. Lain sisi ia melihat Khumaira sedang asyik membujuk Mumtaaz memakai sepatu. Tetapi, Putranya malah menolak dengan tampang lugu. Sungguh Aziz gemas melihat Mumtaaz begitu manja.


Setelah di bujuk cukup lama akhirnya Mumtaaz mau. Tetapi, saat mau di pakaikan sepatu si kecil berdiri menghindar. Saat mendengar panggilan Ayahnya, ia hanya menengok seraya tersenyum polos. Pada akhirnya Khumaira mendudukan Mumtaaz agar mau pakai sepatu. Melihat Ibunya kesal Mumtaaz hanya mendongak menatap sang Ibu minta pungut. Sangat polos seolah minta maaf dengan tampang lugunya.


"Sudah, jangan ngambek nanti ngga cantik lagi," ujar Aziz.


"Biarin. Nanti kalau jelek memang kenapa?"


"Nanti Mas di ambil orang, lo."


"Aku getok pakai panci berani mengambil, Mas."


"Hahaha, baiklah. Sekarang tersenyum biar tambah jelek."


"Mas!"


"Baiklah, orang ganteng keluar dulu menemui Ayah dan Ibu. Dedek Mumtaaz, Ayah keluar dulu jangan nakal ya, Nak."


Aziz langsung membawa Ridwan ke luar kamar. Sampai luar ia tertawa renyah mendengar dumelan Khumaira. Lucu sekali Istrinya itu. Namun, lihat Mumtaaz keluar seraya berseru *Yah* tentu Aziz menanggapi dengan menggendong Putranya.


Ridwan berjalan cepat ke arah luar penuh percaya diri. Dia mau menunjukkan diri pada Kakek dan Neneknya bahwa ia sangat tampan. Wajah tampannya terlihat menyebalkan ketika Ridwan bergaya ala Ayahnya.


Aziz dan yang lainnya tertawa renyah melihat sikap Ridwan yang lucu. Mereka sangat senang Ridwan begitu menggemaskan ketika narsis. Semoga saja besarnya tidak overdose kayak Aziz. Batal Aamiin karena besarnya nanti sama somplak plus gilanya kayak Ayah.


Lain sisi Khumaira merias dengan make up natural. Wajah cantik itu semakin cantik dengan riasan natural. Dia menggunakan hijab segi empat dengan baju kemeja putih bawahan rok bahan hitam. Khumaira menatap dirinya di cermin dengan pandangan kagum. Dia memang cantik alami tanpa riasan berlebih. Khumiara kalau merias diri akan menambah kecantikannya. Apa virus Aziz telah menular pada Khumaira?


****////


Salam hangat dari Rose_Crystal_030199


Bonus Pick.


Ayah Aziz, Umi Syafa, Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz!