Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Candaan!



...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....


...Apa kabar semuanya?...


...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....


.......**~''~**.......


Tepat di kota Baghdad terlihat Steven terus berusaha menyelamatkan Nenek. Pasien tua berumur nyaris 91 tahun makin hari semakin memburuk. Padahal satu Minggu lalu Nenek pulang lalu hal kurang mengenakan terjadi sewaktu musibah terjadi. Akibat itu semua Steven dan tim medis lainnya harus berjuang keras menyelamatkan Nenek.


Sudah satu Minggu Nenek di rawat dan belum menandakan kemajuan malah penurunan. Dalam ketidakberdayaan Nenek selalu ingin semua keluarga besar kumpul. Nenek ingin anak keduanya berserta keluarga besar yang ada di Indonesia datang.


Putri bungsu Nenek menuruti keinginan Nenek untuk menghubungi Mbak keduanya. Di sini ia berharap semoga saja semua Kakaknya mau datang ke Iraq demi Ibunya. Setelah menelepon rumah Kakak keduanya yaitu Safira wanita ini memutusakan panggilan. Di sini wanita kisaran 55 tahun ini tampak cemas mengharap lima Kakaknya datang.


Sejujurnya semua Kakaknya ada delapan, yang pertama sudah tiada. Yang ketiga dan yang kelima juga tiada. Wanita ini menunggu semoga sanak keluarga Ibunya mau datang. Kini semua doa terus menerus terucap demi kesembuhan Ibunya.


Karena ada tugas wanita ini izin untuk pulang. Sedangkan putri bungsunya yaitu Afareen di tugaskan menjaga Nenek. Gadis cantik keturunan Irak-Iran duduk termenung. Gadis cantik ini masih terbilang begitu muda bahkan usianya baru memasuki 20 tahun.


Afareen sendiri sedang melanjutkan studi di Universitas Baghdad. Gadis mungil berparas cantik nan menawan selalu mencuri atensi siapa pun. Jujur saja Afareen risi di tatap memuja oleh para pemuda kurang kerjaan.


Sampai akhirnya Afareen meminta izin pada Kakak sepupu untuk membeli minuman dan makanan di kantin. Di perjalanan tanpa sengaja ia melihat Steven berbicara pada suster. Antah kenapa ia kagum pada pria berparas bule punya tinggi menjulang. Afareen kagum karena Dokter yang selalu merawat Neneknya begitu baik hati.


Merasa di pandang intensif Steven balik memandang. Dia memiringkan kepala menatap gadis kecil antah berpikir apa. Karena mungkin ini menyangkut Nenek ia mendekati ke arah gadis cantik. Jujur saja jarak usia mereka 28 tahun jadinya terlalu jauh. Bisa di bilang Steven bagi Ayah bagi Afareen.


"Ada apa, Nona? Apa Nenek mengalmi penurunan lagi?" Tanya Steven sembari tersenyum tipis.


"Ah tidak, Dok. Saya hanya ingin membeli makanan di kantin," sahut Afareen sembari menunduk tidak berani menatap Steven.


"Kebetulan ini jam istirahat, pasien juga akan berkonsultasi setelah jam istirahat. Bagaimana jika kita beli makanan bersama?" Usul Steven.


"Eh?" Kaget Afareen sontak mendongak menatap Steven.


"Masya Allah," lirih Steven tanpa sadar melihat betapa cantiknya Afareen.


"Dok, ada apa?" Tanya Afareen bingung Steven berpaling.


"Tidak, ayo kita pergi membeli makanan."


"Berdua? Maksud saya kita berjalan bersama?"


"Memang mau jalan bersama semua orang di sini?"


"Ah, bukan begitu, Dok."


"Tidak perlu canggung begitu, Nak."


"Nak? Anda memanggil saya, Nak?"


Afareen belum tahu umur Steven sontak protes di panggil Nak. Memangnya dia anak Dokter yang menangani Neneknya? Demi Tuhan, ingin rasanya ia hujat pria di depannya. Afareen tidak terima masak iya di panggil Nak oleh pria mungkin seumuran Kakaknya.


Wajah Steven memang dewasa terlihat seperti 30 tahun naik sedikit. Maka Afareen salah paham tentang Dokter selama satu bulan penuh menjadi Dokter untuk Neneknya. Mata berwarna hijau bak batu zamrud menyorot mata biru Steven.


Mendapati cucu pasiennya protes membuat Steven terkekeh. Demi Tuhan, ingin rasanya dia tertawa kera meluapkan betapa lucu gadis di depannya. Mengingat itu ia jadi diam sewaktu ingat Bibah juga pernah protes sewaktu Steven memanggil Adik.


Mengingat Bibah hati Steven terenyuh ingin berlalu. Karena tidak mau larut ia akhirnya menatap gadis berparas sangat cantik nan manis. Mata tajamnya menatap tepat di bola mata indah gadis kecil. Untuk kali ini Steven akui Afareen punya bola mata begitu mempesona.


"Berapa usiamu, Nak?" Goda Steven masih betah mengerjai Afareen.


"20 tahun, dan saya mohon jangan memanggil saya, Nak. Memang saya ank Anda?" Sungut Afareen.


"Astaghfirullah, muda sekali. Memang aku cocok memanggil Anda, Nak. Tidak usah marah itu nyata adanya."


"48 tahun, jadi usia segini mungkin jika saya sudah menikah pasti anak saya sebesar, Anda. Baiklah ayo kita jalan tidak perlu canggung."


"....."


Afareen diam mendengar jawaban Steven begitu mengejutkan. 48 tahun? Yang benar saja wajahnya tidak menandakan usia setia itu. Dia juga langsung diam saat tahu jari manis Dokter tampan itu belum dihiasi cincin, lebih lagi tadi pria itu bilang jika sudah menikah. Afareen berpikir apa mungkin Steven belum menikahi?


Melihat Afareen diam Steven menepuk bahu. Dia hanya tersenyum sebelum mengajak jalan berdua. Ia sebenarnya belum kenal gadis di sampingnya. Yang Steven tahu Ibu gadis ini sering memanggil Reen.


"Dokter," panggil Afareen.


"Iya," sahut Steven.


"Apa Anda belum menikah? Ah, maafkan saya bertanya begitu," sesal Afareen karena sejatinya ia gadis penuh ingin tahu alias suka penasaran.


"Belum," jawab Steven singkat padat dan jelas.


"Hah? Anda serius? Apa Anda berniat membohongi, saya?"


"Ada insiden masa lalu membuat saya tidak bisa menikah. Mungkin jika sudah waktunya saya menemukan wanita yang cocok saya akan menikah."


"Maaf, maafkan say, Dok."


"Tidak apa-apa. Kalau boleh tahu siapa namamu, Nak?"


"Afareen Farzaneh Shaghayegh (nama anak perempuan Iran), Dokter siapa?"


"Steven Brandon Johnson."


Pada akhirnya keduanya berjalan beriringan menuju kantin. Sampai juga di kantin mereka memutuskan membeli makanan terlebih dahulu sebelum kembali ke tempat awal. Steven dan Afareen diam tidak ada yang membuka percakapan.


Sampai pesanan datang membuat Steven dan Afareen memutuskan makan. Sebelum itu mereka doa terlebih dahulu baru makan. Keduanya diam seolah melakukan kencan, padahal tidak. Steven dan Afareen juga hanya punya hubungan sebatas Dokter dan keluarga pasien.


"Nona, masih kuliah?" Tanya Steven setelah selesai makan.


"Iya." Afareen tersenyum menjawab pertanyaan Steven.


"Sekolah di mana? Mengambil fakultas apa?"


"Universitas Baghdad, fakultas hukum. Saya ingin jadi pengacara atau malah jadi jaksa."


"Masya Allah, semoga Nona mencapai keberhasilan dan apa yang dicita-citakan menjadi nyata, Aamiin."


"Aamiin, terima kasih, Dok."


Obrolan di tutup oleh senyum kecil baru keduanya memutuskan berlalu. Kini mereka tidak berjalan bersama karena beda jalur. Steven kembali ke ruangan, sedangkan Afareen kembali ke ruang tunggu tempat Nenek di rawat.


Dalam kesunyian Steven murung ingat semua yang menimpa dirinya. Dia sebenarnya ingin punya momongan atau keturunan sebagai penerus. Namun, apa daya mungkin sudah saatnya membujang seumur hidup. Bahkan tetap jadi bujangan seperti kisah Bhisma yang agung dalam kisah Mahabarata.


"Karena aku begitu mencintai membaca buku sehingga membuatku terus membaca. Apa lagi membaca sejarah kuno di berbagai Negara terutama sejarah umat Islam. Aku apa harus membujang tanpa pernikahan? Padahal aku tampan, tinggi, kaya dan kriminal. Benar-benar menyedihkan nasib ku ya Allah. Ya Allah, apa bisa aku bertemu dengannya sekali saja? Jujur sja aku masih mencintainya dan masih berharap memilikinya. Aku sangat sadar betapa bodoh diriku. Namun, inilah cinta jadi harus di terima," lirih Steven.


...Cut....


...Ya Allah aku benar-benar gabut....


...Alhasil hanya bisa nulis seadanya dan malah nulis full tentang Steven....


...Semoga kalian tetap senang....


...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....