Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Hubungan Baru!



Tepat di malam hari sekitar jam 11, Aziz memutuskan membuat kopi. Dia akan lembur menyelesaikan tugas kantor. Mungkin juga menetralkan pikiran karena merasa sangat rindu pada Khumaira.


Sudah satu minggu berlalu setelah kejadian itu, hubungan Aziz dan Khumaira sedikit renggang. Aziz sedikit menghindar agar Khumaira bisa menetralkan pikiran kalutnya. Sementara Khumaira masih sedih dan juga merasa bersalah.


Khumaira melihat Aziz sedang membuat kopi. Hatinya sakit sekaligus rindu setelah 1 minggu tidak menghabiskan waktu bersama. Setelah berpikir dan merenung akhirnya semua tercetus.


Wanita berperawakan mungil malangkah menuju Suaminya dan tanpa babibu merengkuh erat dari belakang. Khumaira tidak boleh berpaku pada masa lalu karena Azzam sudah bilang Aziz masa depannya. Dia harus menjadi Istri yang baik dan menjadikan Suaminya ladang amal. Khumaira harus ikhlas menerima takdir Allah kalau Azzam sudah tiada. Lalu harus terima penuh suka cita Aziz adalah Suami sehidup sematinya.


Aziz menegang menerima pelukan Khumaira. Kenapa mendadak begini? Sebenarnya Khumaira kenapa?


"Ya Allah, lagi-lagi aku berbuat dosa dengan menyakiti hati sebaik, Mas Aziz. Tolong ampuni aku ya Allah. Mas Azzam, tolong maafkan aku. Benar kata Mas kalau Adek harus bangkit. Mas Azzam, engkau akan tersimpan rapi di lubuk hati yang paling dalam. Mas Aziz, engkau masa depanku. Aku ikhlas dan mohon maaf atas kesalahanku," batin Khumaira.


"Dek, ada apa?"


Aziz membalik tubuh menjadi menghadap Khumaira. Dia tersentak melihat Istrinya mendongak dengan derai air mata. Ada apa lagi ini? Apa Khumaira tertekan akan mimpi itu? Aziz seka air mata Istrinya guna meringankan kekhawatiran.


Khumaira berjinjit untuk mengalungkan tangan di leher kokoh Aziz. Setelah di rasa pas dia bergelantung di tubuh kekar Suaminya. Demi apa Khumaira merasa begitu pendek jika berhadapan dengan Aziz.


Aziz menahan tubuh Istrinya dengan merengkuh pinggul. Sesekali dia kecup pelipis Khumaira lembut.


"Katakan ada apa, Hm?"


Khumaira menatap Aziz lamat-lamat. Benar adanya Suaminya adalah masa depan yang akan menjadi rekan seumur hidup. Perlahan dia kecup kening Aziz penuh perasaan.


"Maafkan aku, Mas lagi-lagi menyakiti perasaan, Mas. Sungguh aku sangat berdosa selalu menyakiti, Mas. Tolong maafkan, Adek."


Khumaira merengkuh Aziz erat sembari menangis. Sikap egois membuat dia terbelenggu dalam rasa sakit. Tidak bisa begini terus karena Khumaira harus mengambil keputusan demi masa depan. Azzam akan selalu tersimpan rapi dan Aziz akan menjadi tujuan hidup bersama Ridwan serta anak-anaknya kelak.


Aziz membisu mendengar perkataan Khumaira. Karena terdiam tanpa sadar melepas pelukannya berakhir Khumaira bergelantung di leher. Aziz heran kenapa Istrinya pendek sekali.


"Sudah tidak perlu menangis, Dek. Mas sudah memaafkan, Adek. Leher Mas terasa kebas karena Adek bergelantung kayak monyet. Nanti Mas belikan susu peningi badan."


Khumaira mendelik mendengar jawaban Aziz. Dia langsung turun alhasil tingginya hanya seketiak Aziz. Benar adanya Khumaira memang pendek. Namun, tidak suka di panggil pendek. Air mata terganti dengan bibir mengerucut imut. Khumaira langsung menarik kerah kemeja Aziz dengan pandangan kesal.


"Mas saja kayak Gorila. Sudah besar berewokkan alhasil Gorila jalan. Apa lihat-lihat? Aku tidak butuh susu karena tubuhku pendek tetap saja keren. Dasar Gorila menyasar, minggir aku mau ambil minum!"


Khumaira mendorong pelan dada Aziz. Dia memilih mengambil air dingin di kulkas, tetapi tubuhnya melayang.


"Yak, Mas turunkan aku. Aish ampun ....!!!" Khumaira meronta saat Aziz menggendong dari belakang.


Aziz sebal sendiri di katai Gorila. Wajah setampan dirinya di samakkan makhluk Tuhan yang sangat besar. Enak saja Istrinya asal mengatainya. Demi apa Aziz itu makhluk tampan di dunia dan Khumaira berani bilang ia Gorila. Luar biasa.


Kaki Khumaira terus mengayun tidak terkendali. Tetapi, senyum manis terukir indah karena hubungan mereka kembali manis. Dia bersyukur Aziz kembali seperti semula.


Aziz menyingkirkan semua perabotan yang ada di meja. Buah-buahan dia taruh di kursi dan berakhir Khumaira telentang di meja makan.


"Yak, Mas mau apa?"


Khumaira meronta saat Aziz mengukung tubuhnya di meja. Dia heran kenapa Suaminya jadi liar begini. Jadi takut Khumaira pada Aziz mode Gorila.


Melakukan hubungan intim di ruang makan sepertinya tidak buruk. Ridwan juga di kamar dan kamar terkunci. Aziz akan menagih jatah puasa selama 1 pekan pada Khumaira di dapur.


"1 minggu Dek ... Mas puasa."


"Mas," lirih Khumaira saat tahu maksud Aziz. Dia berhenti meronta dan memilih pasrah. Roknya tersibak memperlihatkan pahanya yang mulus.


"Aku bercanda, Dek. Lucu sekali ekspresimu, Bebekku. Besok pagi cukur berewok ya, Sayang. Soalnya lupa mencukur bulu halus ini."


Khumaira akui Aziz semakin berkarisma dan dewasa saat rahang di tumbuhi bulu halus. Dia kesal di katai bebek dan merona saat Aziz memanggil Sayang. Khumaira duduk di atas meja lalu mengalungkan kaki di pinggang Aziz. Tangan mungilnya beralih mengusap pipi tirus Suaminya.


"Mas jauh lebih dewasa dengan bulu halus itu. Besok aku akan mencukur bulu halus Mas," bisik Khumaira seraya mengecup rahang Aziz.


Aziz tersenyum tipis mendengar perkataan Khumaira. Dia elus rambut Istrinya lalu menarik ikat rambut Istrinya. Alhasil rambut Istrinya tergerai indah.


"Masyaallah cantik sekali," puji Aziz.


"Hahaha, baiklah mulai ketularan ya?"


"Iya, dekat dengan Mas akan menular gila."


"Astagfirullahaladzim, gila-gila begini banyak orang yang mencintaiku."


"Mas!"


"Hahaha, maaf bercanda hanya padamu."


Cukup lama mereka diam hingga salah satu mengawali. Khumaira mengusap dada bidang Aziz lalu merambat ke leher. Dengan perlahan dia lepas pelukan Aziz dan kembali terlentang dengan posisi menggiurkan.


Aziz terpaku melihat Khumaira begitu menggoda. 1 minggu puasa dan kini gejolak tinggi melingkupi tubuhnya.


"Mas, jika ingin sentuhlah dan puaskan hasrat, Mas Aziz."


Aziz menegang mendengar tawaran Khumaira. Ini undangan tidak boleh di lewatkan. Dia tarik Khumaira pelan agar duduk di pinggir meja. Lalu menggotong tubuh sang Istri untuk turun.


Khumaira tersenyum tatkala Aziz duduk di kursi dan dia di pangkuan nyaman sang Suami l. Dia mendongak karena Aziz menciumi lehernya dengan intim. Rasanya sangat rindu menerima sentuhan intim Suaminya.


"Mas Aziz, ah."


"Aku menginginkan, Adek," bisik Aziz lalu meraup bibir tebal Khumaira.


Khumaira *** rambut lebat Suaminya yang berwarna hitam arang. Dia membalas ciuman panas Aziz dan sesekali dia gigit bibir Suaminya.


Aziz sadar akan tindakannya pada Khumaira. Dia memilih berhenti demi menghargai sang Istri. Ia mengusap bibir Istrinya menggunakan Ibu jari. Aziz merasa bersalah telah menyentuh Khumaira menggebu.


"Mas minta maaf karena kelepasan. Mas, sangat menyayangimu dan maaf tidak bisa menjadi Suami yang baik."


Khumaira mengusap pipi Aziz lembut lalu mengecup kening cukup lama. Dia membawa kepala Suaminya untuk di rengkuh.


"Bukannya aku sudah menawarkan diri kenapa tidak enak? Mas Aziz adalah Suami terbaik walau sangat menyebalkan."


"Mas takut Adek risi menerima sentuhanku. Semua terasa indah untuk di dengar, Dek."


"Mas, aku milikmu dan semua hanya untukmu. Jangan sungkan menyentuh jika menginginkan aku. Lakukan itu jikalau Mas ingin, aku akan siap selalu."


Aziz tersenyum haru mendengar perkataan Khumaira. Dia langsung merengkuh erat Istrinya dan menciumi leher jenjang Khumaira.


"Terima kasih, Dek. Katakan kenapa bisa berubah pikiran lagi?"


"Di mimpi itu ... Mas Azzam bilang Mas Aziz adalah masa depan, Adek. Benar adanya Mas Azzam adalah masa lalu dan Mas Aziz adalah masa depanku. Maaf aku menjadi wanita sangat egois dan plin plan. Mas, bisa kan kita bersama sampai ajal menjemput? Izinkan aku menjadi Istri yang menemani Mas sampai Allah memisahkan kita dengan maut."


Khumaira menuturkan kata manis penuh makna. Dia tersenyum sembari menitikkan air mata haru. Jemari lentik terus mengusap pipi Suaminya dan memilih kembali merengkuh erat.


Aziz terdiam seribu bahasa dengan perasaan campur aduk. Senyum lebar terus berpancar penuh pengharapan. Dia sangat terharu sampai matanya berkaca-kaca. Dengan cepat Aziz membalas pelukan erat Khumaira. Semoga saja rasa sakit dan penderitaan tidak datang kembali.


Aziz tetap bungkam tanpa menjawab perkataan Khumaira. Namun, tubuhnya bergetar haru dengan perasaan penuh cinta. Aziz sangat bahagia dan berharap semua kebahagiaan menyertainya.


Khumaira ikut menangis bersama Aziz. Dia tidak peduli seberapa besar cobaan bahtera rumah tangga yang menghadang kelak. Yang jelas ia akan bertahan serta selalu menemani Suaminya dalam suka maupun duka. Khumaira akan lalui asal bersama Aziz yang selalu menggenggam tangannya.


Aziz tersenyum pada akhirnya buah kesabaran menang. Dia akan menghadapi masalah berat dengan ikhlas, sabar dan penuh keyakinan bersama Khumaira. Mulai sekarang hanya masa depan yang akan terlihat.


Untuk ungkapan cinta, Aziz akan utarakan setelah waktunya tiba. Dia akan memberi tahu tentang pahatan itu. Serta memberi tahu kebenaran sesungguhnya. Aziz akan mengutarakan isi hatinya pada Khumaira jika nanti waktu telah tiba.


Khumaira yang lelah tertidur pulas dalam dekapan Aziz. Napas teratur mengalun indah bersama kebahagiaan. Pada akhirnya Khumaira bisa tidur nyenyak kembali dalam dekapan Aziz.


Aziz terkekeh geli pasalnya di tinggal tidur. Perlahan dia benarkan posisi Khumaira, setelah itu mengangkat hati-hati menuju kamar.


"Tadi ada yang menawari sesuatu yang panas. Tetapi, lihat Bebekku sudah tidur duluan. Selamat tidur, Sayang semoga tidurmu nyenyak. Aku sangat mencintaimu, Dek Syafa. Semoga kita bersama selamanya, Amin."