Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Pulang ke Rumah!



Khumaira memainkan jari kekar Aziz sesekali meremasnya. Dia ke pikiran Ridwan dan dua Adiknya. Wajahnya tiba-tiba merona ketika Aziz menarik tengkuk dan mencium bibinya cukup dalam.


Melihat Khumaira melamun membuat Aziz punya ide jahil. Dia tarik pelan tengkuk Istrinya lalu mengecup bibir sang Istri. Perlahan tetapi pasti bibirnya bergerak erotis. Dia sangat rindu membuat ketagihan pada bibir sang Istri. Aziz memang mesum itu wajar karena pria memiliki gairah tinggi.


"Mas, ini rumah sakit. Jangan lakukan itu, nanti ada yang melihat."


"Kalau di rumah bagaimana, Dek?"


Khumaira terdiam dengan wajah merona. Suaminya benar-benar nakal membuat dia bersemu di siang hari. Ia Memilih diam dari pada menanggapi perkataan Suaminya yang menggoda. Khumaira mencuri pandang ke arah Aziz yang tampak serius menatapnya.


"Mas ...."


Pada akhirnya Khumaira memecahkan keheningan. Dia terus berpikir tentang Ridwan. Apa Putranya sudah makan? Apa Ridwan tidak menangis saat di tinggal lama? Sungguh Khumaira begitu khawatir memikirkan Putra tampannya.


"Hn."


"Itu ....


Aziz sepertinya tahu apa yang dipikirkan Khumaira. Kondisi Istrinya sudah membaik, apa boleh di bawa pulang sekarang? Sejatinya sedari tadi ia juga kepikiran Ridwan. Pasti Putranya menangis karena ia dan Istrinya belum pulang. Si gembul itu begitu rewel jika Aziz dan Khumaira tidak lekas pulang.


"Maaf, sekarang sudah jam 1 siang, Dek. Apa mereka tidak apa-apa kita tinggal sendiri di rumah?"


Aziz ingin mencairkan suasana dengan mencari titik terang. Kalau begini bisa lama urusannya di sini. Lagian ia sangat merindukan Ridwan. Aziz ingin segera mendekap tubuh gempal Putranya yang tampan.


"Itu dia, Mas. Ayo pulang aku takut Dedek kenapa-napa saat di tinggal sendiri."


"Tunggu biar Mas bicara dengan Dokter. Apa Adek sudah boleh pulang sekarang atau belum?"


Khumaira tersenyum teduh mendengar perkataan Aziz. Sebelum Suaminya turun ia dengan cepat menarik kerah kemeja sang Suami. Melihat Aziz diam lucu sontak Khumaira mengecup rahang tegas Suaminya.


"Hadiah untuk, Mas."


Khumaira sangat malu bertingkah berani begitu. Dia menunduk dalam untuk menyembunyikan wajah bak buah delima. Ia berharap Suaminya tidak berpikir dirinya semakin agresif. Khumaira hanya ingin menyalurkan rasa rindunya pada Aziz lewat ciuman.


Aziz terpaku beberapa saat namun langsung tersenyum menerima hadiah Khumaira. Dia angkat dagu Istrinya perlahan lalu mendaratkan kecupan di bibir. Biar impas ciuman rahang di balas tepat di bibir. Aziz juga biasa menggoda Khumaira sampai merona parah.


"Itu hadiah dari, Mas."


Aziz langsung beranjak takut kena cubitan Khumaira. Dia terkekeh mendengar Istrinya mengomel tentang dia. Sekarang tujuannya ke ruang Dokter yang menangani Khumaira guna meminta pulang. Aziz bersyukur Dokter itu lewat di depannya.


"Dokter, tunggu ....!" seru Aziz.


Dokter yang bernama Maya berhenti lalu tersenyum. Ada gerangan apa memanggil dirinya? Oo, ternyata Suami dari pasienya. Q


"Ada apa Pak?"


"Apa boleh Istri saya di bawa pulang sekarang?" tanya balik Aziz.


Kebiasaan Aziz selalu bicara ke inti tanpa basa-basi. Baginya cepat ke inti semua beres tanpa ada drama. Aziz tersenyum saja melihat Dokter itu terkekeh.


"Anda buru-buru sekali, apa sangat rindu sampai ingin pulang ke rumah?"


"Anda tahu jawabannya, Dokter."


"Baiklah, biar saya periksa dulu kalau keadaan mereka. Jika semakin stabil dan baik, Insya Allah bisa di bawa pulang. Kenapa harus begitu buru-buru pulang?"


"Anak kami sangat merindukan saya. Bisa kita cepat periksa, Istriku?"


"Baiklah ... Anda tidak ada manis-manisnya ketika mengajak orang berbicara."


"Terima kasih sanjungnya."


"Sama-sama, Pak Aziz."


Sepertinya sangat lucu menggoda Aziz karena orangnya kaku. Si Buk Dokter belum tahu saja Aziz sebenarnya sangat aneh. Bahkan bisa di bilang Aziz adalah alien nyasar ke bumi jadi makhluk tampan.


Dokter seumuran Bibinya melangkah menuju ruang rawat Khumaira. Aziz mengikuti Dokter itu bak anak ayam. Semoga saja Istrinya boleh pulang dan ia bisa berjumpa Ridwan lebih cepat. Rasa rindu pada si kecil membuat Aziz tidak kuasa merengkuh.


***


Ridwan terus menangis sesenggukan gara-gara Ibu dan Ayahnya tidak kunjung pulang. Dia bahkan tidak mau makan dan bermain bersama Vivi. Si kecil membuang jajan yang di belikan Laila dan Syifa.


"Umi, Ayah .... huwee huwee huhuhu," tangis Ridwan sembari menghentak-hentakan kaki sebal.


Laila dan Syifa pening menghadapi Ridwan yang rewel. Biasanya bocah lucu ini tidak cengeng, tetapi lihat sekarang si tampan meraung-raung. Kepala mereka pusing menghadapi Ridwan yang sedang histeris.


"Umi, Ayah .... Huwae hiks, huwee huhuhu."


Ridwan memukuli sofa dengan kaki menendang-nendang udara. Pipi gembul itu memerah dengan bibir mengatup dan mata berair. Sangat mengemaskan tetapi juga kasihan.


Hingga deru mesin mobil terdengar membuat si kecil berhenti menangis. Dia langsung turun dari sofa lalu tersenyum begitu manis. Ridwan tersenyum cerah sambil bertepuk tangan heboh.


"Hore ... Ayah dan Umi pulang. Yeee, Bibi ayo temui mereka!" riang Ridwan langsung mengacir ke ruang tamu.


Laila dan Syifa saling pandang kemudian menggeleng frustrasi. Tadi saja seperti kesurupan saat menangis nah sekarang begitu bahagia seperti mendapat mainan baru. Senyum manis terukir sempurna melihat Ridwan kembali ceria. Bersyukur keduanya akhirnya kedua Kakaknya datang sehingga Ridwan berhenti menangis.


Aziz turun lebih dulu lalu membuka pintu penumpang untuk Khumaira. Dia langsung menengok ke sumber suara ketika si kecil berteriak kegirangan. Ya Allah anaknya manis sekali membuatnya ingin merengkuh.


Aziz tersenyum manis melihat Ridwan. Dia berlutut sembari membentangkan tangan. Sungguh ia sangat merindukan Ridwan yang sangat lucu nan manis. Aziz ingin segera mendekap tubuh gempal Ridwan penuh kerinduan.


Ridwan berlari ke arah Aziz lalu merengkuh erat Ayahnya. Dia sangat bahagia akhirnya Ayahnya pulang dan bisa mengajari mengaji. Ridwan terlalu bahagia pada akhirnya bisa merengkuh Aziz secara erat.


Aziz merengkuh Ridwan penuh kerinduan. Dia ciumi puncak kepala Putranya penuh haru. Akhirnya si kecil ia rengkuh setelah 1 bulan tapanya. Mendengar ocehan Ridwan rasanya begitu damai. Aziz tangkup pipi gembil Putranya lalu menghujani wajah rupawan sang putra penuh sayang.


Khumaira tersenyum tulus melihat Aziz menciumi wajah Ridwan. Dia tidak pernah percaya Suaminya begitu menyayangi anak kecil terutama Ridwan. Padahal sikap Aziz itu sangat menyebalkan penuh kenarsisan. Ternyata di balik itu semua memiliki sejuta kasih sayang untuk anak-anak manis.


Aziz menggendong Ridwan menuju dalam rumah. Dia tersenyum manis pada dua Adiknya, satu Ipar dan satunya sepupu. Ia memutuskan menyalami kedua Adiknya.


Laila dan Syifa menyalami Aziz dengan senyuman. Mereka senang akhirnya Kakak mereka pulang dengan selamat.


Aziz menepuk puncak kepala Laila dan Syifa, kemudian menurunkan Ridwan. Tetapi, lihat si kecil tidak mau turun. Alhasil Aziz kembali menggendong Ridwan yang sangat manja.


"Dedek manis, Ayah ambil koper dan oleh-oleh untuk, Dedek dulu. Katanya mau mainan baru, Hm? Ayo turun dulu baru Ayah gendong lagi."


Ridwan menurut saja lalu beralih menggandeng tangan Uminya. Dia mengoceh panjang lebar tentang hadiah apa yang di berikan Aziz. Ridwan penasaran oleh-oleh apa yang diberikan Aziz untuknya?


Khumaira hanya tersenyum mendengar celoteh Ridwan tentang hadiah. Dia jadi penasaran apa saja belanjaan Suaminya selama di sana? Khumaira lebih baik mengikut Ridwan melihat Aziz.


Aziz meminta bantuan agar dua Adiknya membantu membawa barang bawaannya. Dia mengeluarkan koper besar berisi pakaiannya. Lalu satu koper lagi berisi oleh-oleh untuk sang Istri serta berkas penting. Ada beberapa kardus berisi oleh-oleh untuk keluarganya dan keluarga Khumaira.


Khumaira melongo melihat banyak sekali oleh-oleh yang di beli Aziz. Suaminya niat sekali membeli semua itu. Dasar boros untuk ukuran hadiah. Suaminya begitu royal memberikan hadiah. Khumaira tahu Aziz itu orang kaya di usia muda. Tetapi, itu terlalu banyak untuk mereka.


Aziz memberikan satu kardus ke Laila dan satu kardus ke Syifa. Lalu memberikan satu kardus besar berisi mainan Ridwan. Sebenarnya dia kesusahan membawa semua hadiah ini. Tetapi, siapa peduli? Asal membuat keluarganya bahagia akan ua lakukan.


"Itu oleh-oleh dari Mas, nanti bilang sama Ibu, Bapak, Paman dan Bibi ... Mas hanya bisa memberikan itu," papar Aziz.


"Ini sudah terlalu banyak, Mas. Mas terlalu berlebihan memberikan semua itu," tukas Laila dan Syifa.


"Hahaha kalian kayak siapa saja, semoga kalian senang,” cengir Aziz.


"Pasti sangat senang menerima ini semua, Mas. Sepertinya nanti sore kita pulang dan Insya Allah Mas Bahri yang menjemput," ujar Laila.


"Loh, kok cepat sekali? Apa tidak menginap sehari lagi?" tanya Aziz.


"Sekolah, Mas. Lagian kami tidak mungkin mengganggu kalian yang sedang di mabuk rindu," celetuk Syifa.


"Ini baru Adikku, hahaha. Baiklah kalian pulang Mas senang," tawa Aziz.


Laila dan Syifa mencebik bibir mendengar balasan Aziz. Memang dasar kakaknya sering sekali bercanda. Ucapan spontan tanpa filter membuat mereka terbiasa. Mendengar tadi rasanya Syifa dan Laila ingin memukuli Aziz.


Khumaira hanya bisa menggeleng saja bersama Ridwan yang asyik membuka kardus mainannya. Bibir mungil itu mengerucut lucu karena tidak bisa membuka kardus. Melihat itu Khumaira tersenyum gemas pada Ridwan.


"Umi, ini bagaimana cara membuka? Susah sekali padahal Dedek ingin lihat isinya."


"Nanti. Umi buka untuk, Tole. Dedek sudah makan?"


"Belum, Bibi tidak memberikan makan."


Laila dan Syifa mendelik mendengar perkataan Ridwan. Kok bisa? Dasar si kecil menyebalkan. Mereka yakin virus menyebalkan Aziz menular sempurna pada Ridwan. Bahaya!


Khumaira dan Aziz menatap dua Adiknya dengan pandangan tajam. Mereka tega sekali menelantarkan Putra kecil kesayangannya. Awas saja sampai sakit jatah uang saku berkurang.


"Bohong kami sudah berikan jajan, makanan dan minum. Tetapi, si unyil tidak mau makan malah menangisi kejer, ups," cetus Syifa langsung menutup mulut.


"Dedek, menangis karena apa? Ya Allah, maafkan Umi dan Ayah baru bisa pulang. Apa Bibi nakal sehingga Dedek rewel?"


Khumaira mengusap rambut Ridwan sesekali dia cium puncak kepala anaknya. Jika begini dia tidak akan menitipkan Ridwan pada mereka lagi. Khumaira kapok menitipkan buah hatinya pada dua Adiknya.


"Mereka itu kurang pintar, Umi. Sudah tahu Dedek tidak suka manis eh malah di kasih yang manis-manis. Menyebalkan sekali dua Bibi, Dedek."


Gerutu Ridwan dengan tampang lugu. Jauhkan Aziz dari Ridwan biar tidak ketularan lidah tajam, menyebalkan dan asal bicara. Kalau begini asli besarnya pasti nurun sempurna akan sikap Aziz.


"Anakku memang pintar, sip sini sama, Ayah!" seru Aziz.


Aziz sedari tadi diam akhirnya ikut nimbrung dalam pembicaraan. Dia awalnya jengkal Putranya tidak diberikan makan. Lalu tambah dongkol sang putra dibuat menangis kejer oleh dua Adiknya. Aziz. Akan menghukum Laila dan Syifa jika Ridwan sampai sakit.


Khumaira langsung menggeplak lengan kekar Aziz. Dia jadi kehilangan Putranya yang polos mengemaskan, dan sekarang tinggal menyebalkan mengemaskan. Khumaira menatap Aziz sengit akan virus berbahaya yang di tularkan pada Ridwan.


"Bukan salah Mas, Dek. Kenapa menatap diri Mas begitu? Oh ayolah Mas sadar ketampanan ini overdose. Tetapi, jangan terlalu di lihat Mas nanti semakin tampan. Dedek, ayo ikut Ayah kita bermain bersama!"


Dengan enteng Aziz mengangkat Ridwan dari pangkuan Khumaira. Dia berlalu begitu saja tanpa peduli dengan mereka yang melongo. Siapa peduli yang jelas saatnya bermain bersama anaknya. Aziz akan bermain bersama Ridwan sepuasnya.


"Mbak, apa tahan dengan makhluk astral begitu?" tanya Syifa.


"Sudah sah mau bagaimana lagi harus menerima," sahut Khumaira.


"Luar biasa, Mbak nanti tinggal ketularan virus Mas Aziz," celetuk Laila.


"Itu sudah risiko, Dik."


Akhirnya 3 wanita mengobrol seputar seberapa menjengkelkan Aziz. Dan topik pembicaraan malah asyik bermain dengan Ridwan di depan kandang kucing.