Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2- Pulang ke Rumah!



**Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Sebelum itu Rose minta dukungan dengan cara gampang kok tinggal klik vote, like, Comment dan tentunya jadi daftar favorit agar tidak tertinggal. 


Semoga kalian bahagia selalu, Sayangku**!


***///\*


Azzam menatap Umminya penuh air mata. Rasa rindu mengucur deras tanpa mau berhenti. Dia sangat bahagia bisa melihat Umminya kembali. Pada akhirnya Azzam sadar perginya sudah terlalu lama. Sehingga membuat mereka sangat rindu akan kehadirannya.


Beda dengan Aziz hanya diam kaku menutup duka melalui ekspresi datar. Tidak ada pancaran pedih melainkan pancaran haru. Tentu saja sangat terharu karena bisa membuat Umminya bahagia. Setidaknya Dnegan kedatangan Masnya itu artinya boleh pergi. Aziz bisa lari walau hatinya begitu pilu akan segala sesuatu.


Sedangkan Safira terdiam kaku melihat Azzam. Derai air mata luruh mengingat betapa lamanya ia tidak berjumpa. Kini putranya telah berdiri kokoh disamping anak nakalnya. Ya Allah ini terasa mimpi sampai membuat sesak. Safira takut tidak bisa beranjak walau sesaat saja.


Hasyim datang ingin memanggil Safira di ruang tamu. Dari tadi Isrinya sedang bermain bersama cucu-cucu tersayang. Namun, saat di ruang tamu hal tidak terduga terjadi. Dengan mata rapuhnya Hasyim melihat Azzam berdiri bersama Aziz.


Apa Hasyim dan Safira mimpi bertemu Azzam? Lalu kenapa ada Aziz di samping Azzam? Bahkan Putranya (Aziz) sedang di Malaysia menjalankan proyek besar. Lalu bagaimana bisa ada Azzam dan Aziz? Apa mereka bermimpi?


Hasyim langsung memanggil anak-anaknya untuk ke ruang tamu saat sadar dari rasa terkejut. Mata mereka langsung membulat sempurna melihat Azzam dan Aziz. Sungguh Hasyim dan yang lain terlihat shock berat.


Melihat Abah, Ummi dan semua saudara saudarinya membuat Azzam tertunduk. Ya Allah rasanya sangat bahagia bisa melihat keluarga yang selama ini dirindukan. Ingin rasanya ia beretriak penuh emosi guna menyalurkan rasa senang. Azzam tentu sangat bahagia melihat semua keluarganya.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, boleh kami masuk?"


"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, silakan masuk, Le."


Azzam langsung berlari ke arah Hasyim dan Safira. Tanpa di duga ia langsung merengkuh kaki kedua orang tuanya. Dengan tangisan haru Azzam mencium punggung kaki Umminya yang telah mengajarkan banyak hal.


Safira dan Hasyim terdiam seribu bahasa tidak mampu mengeluarkan suara apa pun. Ya Allah, kenapa jantung mereka terasa sesak melihat Azzam? Bukan tidak senang ini menjurus rasa tidak keracy putra kesayangan mereka kembali. Namun, ada duka di lain sisi anaknya yang paling narsis.  Mata keduanya langsung menatap Aziz lamat-lamat menyiratkan rasa pedih. Sebagai orang tua yang pasti Safira dan Hasyim tahu betapa hancur hati Aziz untuk kali ini.


Aziz hanya menunduk dalam menyembunyikan air matanya. Dia menunduk tidak sanggup melihat adegan mengharu biru di depannya. Rasa sakit akibat tatapan iba sukses menghunus dadanya. Kini hanya satu harapan semoga saja mampu bertahan walau rasanya sulit. Aziz pada akhirnya mendongak lagi lalu menatap depan.


"Aziz, membawa pulang Mas ke rumah. Dia memang Mas Azzam yang telah lama hilang. Aziz bertemu di Malaysia saat mengerjakan proyek besar. Ini bukan mimpi karena ini nyata!" tegas Aziz membuat keluarganya terpaku.


Setalah mendengar perkataan Aziz tentang putranyaAzzam sontak Safira ikut bersimpuh di depan anak kesayangannya. Dia pandang wajah teduh Putranya penuh kerinduan mendalam. Merasa begitu terharu membuat Safira langsung menciumi wajah Azzam.


Hasyim juga ikut bersimpuh di depan Azzam. Dia usap wajah rupawan anaknya tanpa terlewati. Rasanya begitu rindu sampai membuat ia tidak mampu berbicara. Demi apa pun Hasyim tidak pernah menyangka Azzam mereka telah kembali.


Azzam mengecup punggung tangan Safira dan Hasyim penuh kerinduan. Dia merengkuh kedua orang tuanya sembari mengatakan maaf dan rindu. Sungguh Azzam begitu bahagia bisa melihat keluarganya lagi.


Aziz salaman pada Adik-Adiknya dan Masnya (Nakhwan). Usai semua itu dia salaman pada kedua orang tuanya. Jujur saja ingin rasanya ia menangis kencang dalam psngkuan Umminya. Namun, apa daya Aziz tidak mau di cap lemah walau nyatanya lemah.


Haru biru menyelimuti ruangan ini tatkala Azzam memberikan pelukan hangat pada mereka. Dia sangat merindukan saudara-saudarinya yang lama tidak jumpa. Sungguh ia tidak pernah tahu Allah masih mau mempertemukan mereka kembali. Azzam sungguh bersyukur Allah masih memberikan kesempatan kepadanya berkumpul keluarga kembali.


Di ruang tamu terlihat banyak sekali pertanyaan dan obrolan. Banyak sekali lelucon penuh rindu di keluarga Hasyim. Tetapi, ada satu biang onar terlihat sendu tanpa banyak kata.. Aziz biasanya rusuh kini tampak layu akan sebuah beban hati. Mereka semua merindu akan keharuan, beda dengan Aziz seperti tersapu badai.


Safira yang sadar akan diamnya sang anak langsung terbelalak tidak mampu menutupi rasa terkejut. Dia sangat prihatin perihal Aziz dan Khumaira. Bagaimana nasib Azzam jika tahu Istri dan Adiknya menikah? Rasa cemas melingkupi hatinya sedari tadi. Safira juga sangat prihatin akan keadaan Aziz tampak sekali duka dalam hati.


"Tole Aziz, apa kamu tidak ingin pulang ke rumah bertemu Dik Zahira? Bagaimana Tole sudah punya anak berapa?"


Pertanyaan Azzam yang spontan sukses membuat Aziz tercengang begitupun dengan Hasyim dan yang lainnya. Mereka tidak menyangka Azzam bertanya anak dan Istri pada Aziz. Bagaimana jadinya jika Aziz bilang bukan Zahira Istrinya melainkan khumaira? Kalau sudah begini semua jadi resah terutama Aziz.


"Kami biasa saja, Mas. Anak punya 1 namun punya 1 lagi yang sangat Aziz sayangi. Insya Allah, usai Shalat Dzuhur Aziz akan pulang ke rumah."


Aziz merasa miris di pandang iba keluarganya. Lihat Azzam terlihat tersenyum cerah sembari berkata luar biasa. Tahukah kamu Mas, Istrimu adalah Istriku. Kasu sudah begini kenapa rasanya sulit sekali? Kenapa takdir kejam sekali tanpa sungkan merusak kebahagiaan Aziz?? Inilah kepedihan yang selama ini ia pendam yaitu menjadi sosok sok kuat.


Usai semua luapan haru tersampaikan. Mereka putuskan untuk istirahat terutama untuk Azzam dan Aziz. Semua dia harapan terlabuh agar ada jalan keluar pada inti masalah.


Di dalam kamar Aziz menyendiri dengan pandangan kosong. Dia buru-buru menghapus air mata kasar ketika pintu terbuka. Matanya langsung berair melihat Umminya. Jika sudah begini Aziz mau menangis keras dalam dekapan Safira agar duka terobati.


Safira langsung merengkuh Aziz erat sembari mengatakan semua akan baik-baik saja. Namun, tidak ada yang baik-baik saja setelah ini. Sungguh ia merasa miris melihat anaknya menangis keras dalam pelukannya. Safira tidak mampu melihat Aziz meraung pedih begini. Kenapa kejam sekali takdir anaknya ini?


Hasyim masuk lalu mengunci pintu agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Sungguh ia juga merasa miris melihat anak ketiganya seperti ini. Mengingat semua betapa besar pengorbanannya anaknya ini sukses membuat miris. Bahkan Aziz rela berkorban banyak dan kini nasib akan mempermainkan hidup Putranya. Dengan kasih sayang Hasyim merengkuh Aziz memberikan dukungan.


Aziz menangis keras mencurahkan isi hati pada kedua orang tuanya. Dia meluapkan emosinya tanpa peduli apa pun. Bersyukur di kamarnya kedap suara jika tidak bisa bahaya. Jadi ia leluasa mencurahkan isi hatinya agar tidak perih. Aziz sangat senang beban hati sedikit terangkat akan hadirnya kedua orangtuanya.


Safira dan Hasyim memberikan masukan pada Aziz. Mereka terus memberi kata penenang agar Putranya lebih baik. Cukup lama Hasyim dan Safira menenangkan Aziz yang tidak kunjung berhenti menangis.


Pada akhirnya Aziz diam karena lelah akan keadaan. Dia terlelap dalam dekapan Hasyim dan Safira. Mungkin saja ini adalah takdir yang harus ia tempuh. Semoga saja Allah memberikan akhir bahagia pada Aziz, Aamiin.


Melihat anaknya tidur tidak ayal membuat Safira dan Hasyim lega. Rasa pedih jelas hadir di kala anaknya merasa begitu lemah akan keadaan. Semoga saja anak kuatnya mampu bertahan di dalam badai.


***///\*


Khumaira baru pulang dari Pagerharjo untuk menghadiri selamatan atas kelulusan Laila. Sekarang Adiknya sudah menjadi sarjana Ekonomi. Dua Putranya malah merengek menginap di Pagerharjo. Alhasil Khumaira pulang ke rumah dan bermalam sendiri.


Memasuki kamar lalu merebahkan diri di ranjang. Dia raih foto Aziz lalu mendekap erat  sampai tidak bisa lepas. Sungguh Khumaira sangat merindukan Aziz ada di sampingnya.


"Aku harus mandi besar karena sudah suci."


Khumaira memilih mandi wajib setelah haid. Cukup lama dia mandi, pasalnya berandam lama. Usai itu semua ia wudhu mau shalat ashar. Sampai kamar Khumaira meraih kemeja putih milik Aziz. Tanpa bra dan hanya menggunakan celana dalam.


Khumaira mengeringkan rambutnya sembari bersenandung kecil. Tubuh mungilnya tambah mungil memakai pakaian Aziz. Dia tersenyum saja saat kemeja jadi gamis. Bagaimana tidak pasalnya panjang kemeja itu sebatas pahanya. Bisa du bilang setengah pahanya tertutup oleh kemeja Aziz.


Merasa sudah cukup Khumaira siap-siap menjalankan ibadah sholat ashar. Baginya hari tanpa Aziz tidak ada warna. Yang ada hanya rindu membludak penuh kesendirian. Namun, Khumaira bersyukur ada Ridwan dan Mumtaaz yang selalu ada.


"Shadaqallahul-'Adzim."


Setelah mengaji Khumaira berniat masak nasi dan sayur serta lauk telur goreng. Dia mengecup Al-Qur'an dan mengembalikan pada tempatnya. Dengan gesit Khumaira melipat mukena dan sajadah.


Tidak butuh waktu lama khumaira mengerjakan tugas dapur. Dia melihat jam menunjuk pukul 5 lewat 15 menit. Itu artinya kurang 18 menit lagi memasuki waktu maghrib.


Khumaira tersentak ketika mendengar suara bel rumah. Sontak ia langsung berlari ke kamar untuk memakai sarung goyor warna hitam corak biru muda. Dia ambil jilbab syar'i untuk menutup tubuhnya. Khumaira melihat penampilannya sudah cukup rapi.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Istriku. Lama sekali membuka pintu."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas."


Khumaira masih linglung melihat Aziz sudah pulang. Dia tersendar ketika Suaminya mengecup pipinya. Spontan ia kecup punggung tangan Aziz dan membawanya masuk. Sungguh Khumaira merasa seperti mimpi melihat Suaminya.


Aziz terpesona melihat Khumaira begitu menggemaskan memakai pakaiannya. Terlihat begitu manis sampai ia tidak lepas dari sosok Istrinya. Dia rengkuh Khumaira erat sembari menciumi puncak kepala sang istri. Ngomong-ngomong kemana dua Putranya yang tampan? Tidak sadarkah Aziz begitu merindukan mereka.


Khumaira membalas pelukan Aziz tidak kalah erat. Dia merasa aneh mencium parfum Suaminya. Kenapa ada yang salah di sini? Khumaira merasa familiar dengan bau parfum ini.


"Mas ganti parfum?"


"Mas tidak pakai parfum, Dek."


"Tetapi, tubuh Mas tercium bau parfum."


"Memang parfum siapa yang Adek rasakan?"


"Almarhum, parfum yang menempel di tubuh Mas mirip dengan parfum almarhum."


Aziz tegang mendengar jawaban Khumaira. Dia teringat saat Azzam memberikan pelukan hangat padanya. Bahkan Istrinya sampai sekarang hafal parfum dan aroma Masnya. Sebegitu besar cinta Khumaira untuk Azzam. Sabar Aziz, yakinlah semua akan segera terselesaikan.


"Adek tetap memeluk, Mas? Sungguh Mas mau mandi dan Adek membiarkan Mas berdiri tanpa duduk!" rajuk Aziz mengalihkan pembicaraan.


Khumaira langsung nyengir polos mendengar rajukan Aziz. Dia langsung meminta Suaminya duduk kemudian berjalan menuju dapur membuat kopi hitam tanpa gula. Selagi sibuk membuat kopi Khumaira teringat sesuatu. Buru-buru dia menggeleng menyingkirkan pikiran aneh.


Aziz menyandarkan tubuh di sofa. Mata tajam berpupil cokelat keemasan tertutup. Dia begitu tertekan memikirkan nasibnya. Perlahan matanya terbuka kembali melihat seluruh penjuru ruangan. Sekelebat bayangan Ridwan dan Mumtaaz berlarian sembari tertawa membuat Aziz rindu. Mungkin ini hari terakhir ia menginjakkan kaki di rumahnya.


Setitik air mata luruh tanpa Aziz sadari. Buru-buru dia hapus ketika Khumaira sudah berada di depannya. Mata tajam Aziz terus menatap Khumaira lamat-lamat. Istrinya yang sangat dicintai sebentar lagi akan lepas darinya.


Khumaira yang panik melihat Aziz menangis sontak duduk di samping Suaminya. Dia genggam erat tangan Suaminya agar menatap matanya. Dapat di lihat Suaminya menyembunyikan hal besar. Sebenarnya apa yang di sembunyikan Aziz darinya. Kalau begini Khumaira begitu khawatir akan keadaan Suaminya.


"Mas," lirih Khumaira seraya mengusap lengan kekar Aziz.


Aziz langsung merengkuh Khumaira erat sembari menangis dalam diam. Ya Allah, bisakah ia mempertahankan Istrinya? Bisakah dia egois sekali ini saja? Bisakah Aziz egois di kala pikiran menolak? Sejatinya sudah ikhlas namun sekarang terasa berat.


"Mas, katakan ada apa?"


"Mas, sangat merindukan Adek dan anak-anak. Kemana dua Putraku?"


Khumaira bergetar mendengar suara Aziz terasa berbeda. Sangat serak serat akan kepiluan yang membelenggu. Sebenarnya kenapa Suaminya jadi aneh begini? Rasa takut melingkupi hati Khumaira ketika teringat mimpi buruk itu. Dia berharap Aziz tidak melakukan apa-apa sehingga tidak ada yang terluka.


"Adek dan anak-anak juga sangat merindukan Mas. Anak-anak menginap di rumah Bapak. Tadi Adek mau bawa mereka pulang, tetapi anak-anak di minta tetap tinggal. Kenapa Mas pulang cepat? Apa pekerjaan sudah selesai?"


Khumaira ingin melihat Aziz, namun Suaminya tetap merengkuh tanpa mau melepasnya. Dia merasa sedih karena Suaminya terlihat berbeda. Tolong jangan buat khumaira tertekan memikirkan Aziz.


"Mas ingin besok pagi bertemu anak-anak. Kita akan habiskan waktu bersama sampai puas. Sebenarnya belum, tetapi apa daya Mas terlalu rindu kalian."


Aziz menghapus air matanya kasar lalu melepas pelukannya. Dia tangkup pipi gembil Khumaira serat akan makna. Perlahan ia memiringkan kepala untuk mencium bibir penuh Istrinya. Ciuman itu tidak ada unsur gairah hanya sebatas kerinduan.


Mendengar perkataan Aziz Khumaira merasa ada yang janggal. Dia melihat ada air mata kesedihan dari balik wajah rupawan Aziz. Sebenarnya apa yang terjadi sampai Suaminya begini? Semoga saja tidak akan ada hal buruk di antara mereka.


Aziz berusaha netral agar tidak terlihat menyedihkan. Jika lemah bisa goyah pertahanannya. Tujuan Aziz sekarang adalah menghabiskan waktu bersama Khumaira sepuasnya. Istrinya masih ada di dekatnya, tetapi besok malam?


Khumaira mengalungkan tangan dileher kokoh Aziz. Dia semakin merapatkan tubuh mungilnya. Ciuman yang awalnya penuh rindu terganti gairah. Hingga ia lupa akan kesedihan Aziz. Kini Khumaira merasa melayang tatkala Suaminya semakin mengeksplorasi mulutnya.


Aziz merapatkan tubuh mereka hingga menyatu. Tangan kekarnya bergerliya mengusap dada Khumaira dari balik kemeja putihnya. Senyum miring tercetak ketika tahu Khumaira tidak menggunakan bra.


"Mau menghabiskan malam panas beraama? Mas sangat merindukan Adek dalam dekapan. Mas rindu setiap inci tubuh Adek. Izinkan Mas menyentuh Adek sampai Mas lelah. Izinkan Mas memiliki Adek sepenuhnya malam ini. Mari kita menyatu dalam cinta yang akan menjadi kenangan. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


Khumaira malah menangis tersedu mendengar permintaan Aziz. Kenapa dia merasa ini malam terakhir mereka bersama. Tolong katakan kenapa Aziz begitu aneh hari ini? Jiwanya meronta ingin menangis keras seraya mengatakan semua. Demi Allah, khumaira sangat tertekan menerima kenyataan ini.


Aziz menghapus air mata Khumaira lalu memberikan ciuman di pelupuk mata. Dia tidak akan bisa melakukan ini jika sampai Lirboyo Kediri. Di sana Azzam telah menunggu Khumaira datang. Kini tinggal harapan semu untuk Aziz dapat.


"Mas, kenapa berkata begitu. Tolong bilang sebenarnya ada apa?"


"Tidak ada, Adek maukan menghabiskan malam panas?"


"Tentu saja karena Adek merindukan Mas."


"Alhamdulillah ya Allah. Mas sangat mencintai Adek karena Allah!"


"Adek juga mencintai Mas karena Allah!"


Tidak lama suara adzan berkumandang membuat pasangan ini saling pandang. Aziz berbisik menggoda mengatakan semua hadiah ada di koper. Dia izin mandi dulu baru Shalat berjama'ah.


Khumaira terdiam ketika Aziz sudah tenggelam di telan jarak. Entah kenapa jarak itu akan segera datang membentang hubungan mereka. Rasanya sangat menyakitkan sampai Khumaira tidak sanggup menahan air mata.


"Mas, sebenarnya ada apa?"


****////\\****


Alurnya aku cepatkan.


Hihihiji!


**Asli Rose ngantuk banget. Jika banyak typo bertebaran dalam penulisan harap maklum.


Semoga kalian senang ya Guys**.