
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......
........
.......
...Maaf Chap ini garing dan mood ku kurang stabil. Jadi, kalau nyeleneh sekaligus banyak typo harap maklum....
Sekali lagi chap Ini garing seperti hatiku bwahahaha ahahahaha hahahhah.
...Happy reading, all!...
.......****.......
Tujuh hari kemudian terlihat Nenek semakin sehat. Dan mereka semakin memperlebar senyum atas kesembuhan Nenek. Dan untuk keluarga besar Abah Hasyim besok harus pulang ke Indonesia.
Mengingat anak-menantu, cucu serta cicitnya akan pulang membuat Nenek sedih. Dia begitu sedih lantaran itu sudah menjadi konsekuensi. Apa lagi dua hati silam anak dan cucunya telah memberi tahu. Mau bagaimana lagi kalau sudah begini?
Kalau boleh jujur Nenek setiap hari tepatnya pagi dan sore Dokter serta perawat akan datang. Nenek bosan sekaligus kecewa karena mereka selalu mengundang Dokter untuk datang. Walau begitu ia senang ada Dokter lajang bagai cucunya yang sangat baik.
Pemuda baik hati senantiasa menjaga sepenuh hati. Walau terkadang aura Dokternya terkesan begitu berbeda atau bisa di bilang negatif. Dia sebagai orang tua sudah berpengalaman pasti tahu segala aura. Terlebih Nenek begitu peka terhadap keadaan siapa pun.
Lupakan itu kini kembali ke topik di mana keluarga besar Abah Hasyim sudah packing. Kemarin mereka bergantian pergi ke pasar atau supermarket dekat rumah. Walau jarak cukup jauh setidaknya itu sangat menyenangkan.
Sedangkan hari ini terlihat Bibah dan Khalid siap-siap ke pusat perbelanjaan. Keduanya kemarin belum sempat pergi dan hari ini jatah mereka pergi berbelanja. Keduanya memutuskan mencari perlengkapan sekaligus oleh-oleh bagi orang rumah. Jujur saja hati Khalid dan Bibah gelisah mau belanja, tetapi mau bagaimana lagi ini waktunya yang tepat.
Jatah hari ini yang pertama Bibah dan Khalid ke-dua adalah Hazza. Mereka kebagian akhir maka dari itu memutuskan bergantian membeli oleh-oleh. Sebenarnya ada dua mobil, tetapi mau dikata sewaktu mobil satunya rusak.
Lain sisi Zaviyar menangis ingin jalan-jalan lagi. Anak tampan ini merengek terus menerus ingin jalan-jalan. Padahal kemarin seharian mereka jalan-jalan, tetapi anak ini belum puas. Alhasil mereka harus putar otak agar tidak membuat Zaviyar menangis.
Aziz dan Khumaira saling pandang akibat Zaviyar terus merengek minta jalan-jalan. Sebenarnya mereka bisa mengikuti kemanapun permintaan si bungsu. Hanya saja ini waktunya Bibah dan Khalid berbelanja. Terlebih lagi Umi sedang kurang enak badan, tetapi harus menuruti keinginan anaknya. Aziz dan Khumaira akan menuruti keinginan Zaviyar setelah kepulangan Hazza.
Melihat Zaviyar merengek ingin jalan-jalan membuat Bibah dan Khalid kasihan. Apa lagi hari ini mereka hanya berbelanja sebentar di pusat perbelanjaan. Kebetulan ketiga anaknya tidak ikut seperti biasa. Maklum tiga anaknya paling malas ikut ke pasar menyebabkan mereka pergi berdua. Pada akhirnya Bibah dan Khalid memutuskan mengajak Zaviyar ikut.
"Bagaimana jika ikut Paman saja, Le?" Usul Khalid sembari mengusap rambut Zaviyar.
"Jalan-jalan sama Bibi saja karena Ayah dan Umi terlihat lelah. Ayo ikut saja dengan Umi, bagaimana?" Tawar Bibah tidak segan menciumi wajah Zaviyar yang ada dalam gendongan Aziz.
"Tidak perlu repot-repot, Nduk. Biarkan kami nanti jalan-jalan tidak perlu khawatir, Nduk. Biarkan saja Tole bersama kami kalian berangkat saja," tutur Aziz tidak rela Zaviyar lepas dari gendongannya.
"Benar kata Mas Aziz, Mbak. Kalian berangkat saja biarkan Tole kami ajak nanti. Kalian belanja saja jangan pikirin si kecil ini. Kami akan jalan-jalan setelah Nduk Hazza selesai belanja," imbuh Khumaira berusaha menahan Zaviyar tetap tinggal.
"Dedek Zavi jangan pergi, biarkan si rumah saja. Kami akan ikut jika Tole Zavi ikut," cetus Ridwan dengan firasat buruk semakin berkeliaran.
"Aku juga tidak setuju jika Tole Zavi pergi!" Tegas Mumtaaz langsung maju untuk mengusap rambut Zaviyar.
"Kalian ini protective sekali, kan hanya ikut belanja tidak PERGI ke medan perang," kekeh Najah.
"Nduk," peringat Azzam.
"Bibi, bukanya protektif kami tidak mau Tole Zavi pergi," sahut Faakhira kalem.
"Sudah-sudah kenapa jadi ribet? Kalau begitu biarkan kami pergi berdua. Tole Zaviyar, di rumah saja bersama mereka," ucap Khalid terdengar lembut.
"Begini saja jika Tole Zavi minta apa saja akan Bibi berikan asal di rumah saja," ujar Bibah.
"Huwaaaaaa huhuhuhu huwaaaaaa huhuhuhu Zavi mau ikut! Zavi mau ikut huhuhuhu," raung Zaviyar.
"Lalu begitu Abi dan Umi di rumah saja jangan pergi," ucap Ghassan menengahi dan sebenarnya perasaan begitu kalut.
"Benar kata Mas Ghassan, Abi-Umi tidak perlu pergi. Lagian mereka tidak perlu oleh-oleh," ujar Jadda.
"Di rumah saja bersama kami," pinta Uzza.
"Biarkan Tole Zavi ikut kami saja, Mbak-Mas. Kami akan menjaga Tole Zavi dengan selamat. Tidak bisa begitu, Nak. Kami akan segera kembali jangan khawatir. Nak, tidak apa-apa kami akan segera kembali," tutur Bibah pada anak-anak.
"Benar, biarkan Tole Zavi ikut kami, Mbak-Mas. Melihat Tole histeris tidak bisa menahan gejolak ingin mengajak. Biarkan Tole ikut bersama kami, Mbak-Mas. Anak-anak Abi di rumah saja jangan nakal," tutur Khalid.
"Tapi ...." Khumaira tidak mampu berkata apa-apa selain memohon lewat tatapan mata agar anaknya tidak di bawa pergi dan antah perasaan begitu kalut.
"Tidak apa-apa, Mbak. Jangan khawatir, Mbak," yakin Bibah.
"Tapi, aku tidak bisa berkata apa-apa jika Tole merepotkan kalian. Tanggung jawab kalian besar harus menjaga Tole Zavi. Biarkan saja Tole Zavi tetap tinggal," cetus Aziz mengerti tatapan Khumaira sekaligus tidak tega membiarkan Zaviyar pergi.
Khalid dan Bibah maju untuk memberikan dekapan hangat bagi Aziz dan Zaviyar. Bibah bahkan dengan lembut seperti waktu kecil akan membuat Masnya goyah. Sedangkan Khalid yang telah menganggap Aziz Adik memberi senyuman manis. Tangan keduanya bahkan juga memberikan usapan dan cubitan gemas bagi Zaviyar.
Aziz merasa jantungnya berdegup ngilu sewaktu tiga orang sering datang dalam feeling buruk mendekap. Dia yang tidak tahan meminta lepas dan berakhir meminta Khumaira serta tiga anaknya untuk kumpul. Setelah kumpul ia mendekap tubuh keluarga kecil penuh kepiluan. Aziz takut melepas Zaviyar, tetapi mau bagaimana lagi ini harus dilakukan.
Khumaira menangis dalam diam sembari mendekap erat Suami serta anak-anaknya. Dia juga memberikan ciuman terus menerus di puncak kepala anak bungsunya. Hatinya begitu sesak sampai air matanya berlinang deras. Khumaira tidak kuasa menahan air mata kepiluan atas semuanya.
Ridwan-Mumtaaz-Faakhira terus menangis tidak ikhlas membiarkan Zaviyar ikut. Mereka juga tidak ikhlas menerima takdir jika ada sesuatu menyakitkan. Lebih lagi melihat Bibi dan Pamannya air mata senantiasa berlinang tanpa bisa dikendalikan. Ridwan-Mumtaaz-Faakhira hanya bisa menangis menerima dan harus ikhlas.
Sedangkan Ghassan, Jadda dan Uzza memilih mendekap erat kedua orang tuanya. Ketiganya juga tidak sadar menangis dalam diam. Mereka terus memohon agar Abi-Umi mengurungkan niat untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Ghassan, Jadda dan Uzza punya firasat bahwa ini adalah perpisahan terburuk.
Khalid dan Bibah mendekap tiga anaknya begitu erat. Mereka harus kuat dan terus yakin bahwa Allah telah menuliskan takdir. Allah telah memberikan segala kebahagiaan untuk mereka. Lebih lagi Allah telah membukakan jalan terbaik untuk kembali. Khalid dan Bibah tidak tahu yang jelas hanya bisa mendekap tiga anaknya penuh cinta.
Sedangkan melihat mereka berpelukan penuh tangisan antah kenapa membuat ikut menangis. Mereka melihat kepiluan terpancar dari mereka seolah mengatakan sebuah perpisahan. Semuanya merasa seakan ini permintaan dan mereka menampik.
Setelah di rasa cukup Zaviyar menghapus air mata kedua orang tuanya serta tiga Kakaknya. Dia tersenyum begitu tulus seakan mengisyaratkan ingat senyuman ini. Ia juga memberikan ciuman sayang di pipi Ayah-Umi serta tiga Kakaknya. Sungguh Zaviyar sangat bersyukur berada di dalam keluarga terindah.
"Mbak-Mas, percayalah kami akan menjaga Tole Zavi. Biarkan Tole ikut kami tidak perlu khawatir soal semuanya. Jika Tole Zavi rewel kami akan berusaha membuat diam. Kami begitu mencintainya percayalah pada kami. Biarkan Tole ikut, Mbak-Mas," pinta Bibah sembari menggenggam tangan Aziz dan Khumaira.
"Biarkan Tole ikut kami, jangan khawatir. Kami hanya sebentar setelah selesai belanja kami pulang. Do'akan saja yang terbaik," tutur Khalid.
"Baiklah, Tole Zavi jangan nakal. Jangan merepotkan Paman dan Bibi, ya. Ayah menunggu Tole pulang dan kami sangat mencintai, Tole," tutur Aziz tidak ikhlas.
"Jaga anakku ya Mbak-Mas. Tole Zavi tidak nakal di pusat perbelanjaan. Mungkin dia hanya minta mainan serta mengajak main game. Sekali lagi tolong jaga anakku sepenuh hati. Jangan biarkan dia kenapa-napa," cicit Khumaira akhirnya memutuskan merelakan walau begitu berat.
"Tarik kata Ayah-Umi soal mengizinkan Dedek kami pergi. Tolong jangan bawa Adik kami pergi," pinta Ridwan diangguki Mumtaaz dan Faakhira.
"Yeee, Ayah dan Umi yang terbaik memperbolehkan Zavi ikut. Zavi senang sekali akhirnya bisa menemani Paman dan Bibi pergi. Asyik Zavi bisa jalan-jalan keliling pasar beli mainan, yeee. Kakak tidak boleh rindu atau menangis ya karena Zavi pergi. Zavi sangat mencintai kalian karena Allah," riang Zaviyar seolah mempersiapkan diri.
"Jaga diri ya Nak, ingat jangan nakal. Umi juga begitu mencintai Tole Zavi karena Allah," ucap Khumaira seraya menciumi wajah serta tubuh Zaviyar.
"Anakku yang tampan, Ayah akan selalu mencintaimu karena Allah," lirih Aziz sembari menciumi tangan kecil Zaviyar dan tentunya wajah menjadi tujuan.
"Pergilah dan jangan menangis atau merepotkan Paman-Bibi. Kami juga mencintai Dedek Zavi karena Allah," sahut Ridwan-Mumtaaz-Faakhira lalu mendekap erat.
Emran mendongak menatap kedua orang tuanya. Dia yang bingung sekaligus takut jika Zaviyar merajuk atau memukul lagi. Ia sadar anak ini begitu identik suka sekali menggeplak. Emran yang gemas hanya diam sembari menatap Zaviyar dalam.
"Maafkan Zavi ya, Mas," ucap Zaviyar tampak manis.
"Emh," bingung Emran.
"Maaf, maaf sudah nakal," ucap Zaviyar begitu menggemaskan.
"Um," balas Emran masih sedikit takut pada Zaviyar.
"Maaf, maaf atas semua kesalahan, Zavi," pinta Zaviyar.
"Anak manis ya Allah, tentu kami maafkan," ucap Azzam dan semuanya.
Azzam dan Mahira memberikan dekapan lalu ciuman. Begitu juga dengan anak-anak yang lainnya. Semua memberi dekapan hangat serta ciuman sayang di puncak kepala. Sedangkan Aziz sekeluarga kecil hanya pasrah mengikhlaskan yang terjadi.
Kini giliran Bibah dan Khalid yang akan beranjak pergi. Keduanya mencium kening serta wajah anak-anaknya penuh cinta. Mereka juga telah memberikan segala kebahagiaan bagi anak-anak. Bibah dan Khalid hanya bisa memberi amanah terindah bagi tiga anaknya.
"Tole Ghassan ingat semua nasihat Abi dan Umi. Nduk Jadda dan Nduk Uzza jangan lupa pesan Abi-Umi. Kalian harus kuat serta tetap menjalankan kewajiban umat muslim. Kami mencintai kalian," ucap Bibah dan Khalid penuh cinta.
"Abi-Umi, kami akan selalu ingat," lirih Ghassan, Jadda dan Uzza.
"Abi dan Umi begitu mencintai kalian karena Allah. Cinta kami tidak akan pernah padam, Nak."
"Kami juga sangat mencintai Abi-Umi karena Allah. Begitu juga dengan kami."
"Kami pergi dulu ya."
"Hati-hati, kami akan selalu mendoakan Abi-Umi."
Khalid dan Bibah kembali mendekap erat ketiga anaknya penuh cinta. Baru setelah itu mereka bertiga memutuskan untuk menggandeng tangan anak-anak. Baru setelah itu mereka selalu meminta doa kepada semua. Khalid dan Bibah terus memohon kepada Abah dan Ummi laku dengan sanak keluarga.
Abah Hasyim dan Ummi Safira mendekap erat Bibah seraya menangis. Mereka hanya bisa memberi kata-kata terbaik serta doa. Keduanya tidak sanggup mengatakan banyak hal selain tangisan. Abah dan Ummi hanya bisa mengiringi langkah kaki Bibah Khalid dan Zaviyar penuh derai air mata.
Untuk semua orang menitikkan air mata sewaktu Bibah dan Khalid meminta izin serta maaf. Mereka juga tidak kuasa menahan air mata sewaktu Zaviyar begitu aktif. Semua orang berduka serta berdoa atas segala perlindungan Allah untuk ketiganya.
Setelah di depan pintu mobil Aziz dan Khumaira serta tiga anak rupawan mendekap Zaviyar. Mereka berusaha tenang kemudian memberikan ciuman sayang. Begitu juga dengan ketiga anak Bibah dan Khalid memberikan hal sama.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Bibah, Khalid dan Zaviyar.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut mereka.
Tiga orang masuk kedalam mobil sebelum berlalu mereka melambaikan tangan. Setelah mengatakan banyak kata mereka berlalu meninggalkan halaman rumah. Di dalam mobil Zaviyar menatap belakang dengan tatapan kosong.
Sedangkan Ridwan tiba-tiba terjatuh di lantai. Tubuhnya begitu lemah membuatnya berlutut di bawah seraya menatap depan. Antah kenapa kepalanya nyeri sekali. Apa lagi ia merasa semua berputar-putar. Karena tidak kuat Ridwan menggerang kesakitan dan berakhir pingsan.
Melihat anak sulungnya pingsan Azzam-Khumaira-Aziz langsung panik. Tanpa buang waktu Aziz menggendong anaknya menuju ruang tamu. Mereka begitu panik tiba-tiba Ridwan pingsan. Azzam-Khumaira-Aziz berusaha tenang walau nyatanya tidak bisa.
Jujur saja Mumtaaz, Faakhira dan tiga anak Bibi-Paman sedang mengalami kepedihan. Namun, mereka langsung shock melihat Ridwan terkapar tidak berdaya. Semuanya ikut masuk melihat keadaan Kakak gede.
Mahira serta yang lainnya ikut panik melihat Ridwan tumbang. Terlebih Khumaira sampai menangis tersedu-sedu. Semua panik melihat drama memilukan beberapa waktu lalu. Semua panik pada kondisi Ridwan serta yang lainnya.
Karena di sini Najah seorang Dokter tentu langsung menangani keponakannya. Sebagai Dokter ia melakukan penanganan terbaik bagi Ridwan. Dia langsung ingat membawa alat medis meminta Suaminya masuk kamar. Tentu Suami Najah langsung bergegas menuju kamar tamu
"Nduk, ada apa dengan putraku?" Panik Aziz.
"Katakan pada kami apa yang terjadi pada, Tole Ridwan?" Tandas Azzam.
"Mbak, tolong jangan buat kami panik. Tole kenapa?" Tangis Khumaira.
"Kakak huhuhu," tangis Faakhira pecah.
"...." Sedangkan Mumtaaz hanya diam membisu.
"Kalian tenang saja Tole baik-baik saja. Insya Allah, maka jangan panik," sahut Najah seraya mendekap Faakhira.
Khumaira yang lemas memutuskan duduk di bawah dengan mendekap dua anaknya. Di sini ia khawatir pada putra sulung dan di sisi lain sangat mengkhawatirkan putra bungsu. Ia begitu tertekan atas semua yang terjadi sehingga air mata terus berlinang. Khumaira begitu takut jikalau Ridwan dan Zaviyar kenapa-napa.
Najah akhirnya memeriksa Ridwan secara seksama. Dia menyengit akibat detak jantung keponakannya tidak stabil. Tubuh keponakannya juga tiba-tiba dingin menyebabkan khawatir. Karena takut terjadi apa-apa Najah meminta agar Ridwan segera dilarikan ke klinik terdekat.
"Astaghfirullah astaghfirullahal'adzim, apa yang terjadi, Nduk? Anakku Kenapa?" Panik Azzam.
"Maafkan Najah, Mas. Tiba-tiba Tole Ridwan begini, ayo kita segera membawa ke klinik terdekat," panik Najah.
"Tole," tangis Khumaira mendengar Najah berbicara begitu.
"Kalau jalan kaki sampai klinik 10 menit, Kak," ucap Afareen.
"Biar Azmi gendong, Mas," usul Azmi takut jika Aziz kenapa-napa.
"Tidak, biar Mas gendong," tolak Aziz.
Tanpa buang waktu Aziz menggendong Ridwan. Dia berjalan cepat seolah sangat tahu klinik itu. Ia tidak peduli tubuh anak sulungnya cukup berat, tetapi ini demi keselamatan Anaknya. Jika Aziz minta Azzam gendong Ridwan itu agak mustahil dan lumayan takut.
Najah sendiri begitu panik atas kondisi Keponakannya tiba-tiba begitu. Dia merasa janggal lantaran keponakan cerdasnya tiba-tiba begitu. Tubuh begitu apa lagi degup jantung tidak stabil plus tubuh mendingin. Kini yang bisa dilakukan hanya berdoa atas keselamatan Ridwan.
Khumaira yang lemah tidak sanggup berjalan menyebabkan tetap tinggal bersama anak-anak. Sedangkan Mahira dan Azzam serta beberapa orang yang kain ikut. Di sini hati Khumaira sangat sakit atas apa yang terjadi. Sedangkan Mumtaaz dan Faakhira serta anak-anak lain mencoba menghibur.
"Tole Zavi, Tole Ridwan semoga kalian baik-baik saja. Yaa Allah ya Tuhanku tolong berikan anak-anak hamba perlindungan serta kebesaran-Mu. Hamba mohon jauhkan marabahaya pada anak-anak kami. Dan semoga Adik ipar hamba juga Engkau berkenan perlindungan serta kekuatan. Yaa Allah pencipta semesta alam ampuni hamba telah meminta begitu banyak. Namun, hamba memohon segala kebaikan untuk mereka yaa Allah," batin Khumaira.
...Cut....
...Sebenarnya ini mau aku gabung dengan chap insides kecelakaan. Namun, nyatanya tidak bisa membuatku tidak berdaya....
...Sekali lagi maafkan Rose belum tak koreksi jadi kalau banyak kesalahan dalam penulisan harap maklum....
...Semoga kalian masih setia sama Story Ini....
...Dan semoga cerita ini tidak membosankan, Aamiin....
...Maaf juga Chap Ini begitu garing plus amburadul....
...Salam cinta Rose....
...28_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....