Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Flashback Off!



...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....


...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....


.......**~''~**.......


Sehari setelah Azis, Bibah dan Azzam di New York semua berjalan normal. Sewaktu tiga saudara berjalan di pusat kota datang seorang paling dihindari Bibah. Tentu saja Aziz yang paham siapa pria itu langsung siap badan. Sedangkan Azzam menjaga Adiknya dari belakang.


Steven menatap Kakak Bibah penuh intimidasi. Sungguh ia kagum pada wajah kedua Kakak gadis tercinta. Yang di belakang sana wajah Kakak gadisnya begitu teduh, maskulin dan terkesan baik hati. Untuk pria di depannya wajah begitu tegas, berkarisma dominan, cool dan pastinya tampan memikat. Steven akui wajah Kakak Bibah semuanya rupawan berkelas tinggi.


Bibah sendiri menciut akibat melihat Steven. Jujur saja ia begitu rindu pada pria di depan sana. Namun, dia sadar tidak boleh berbuat demikian karena bukan mahram. Bibah yang takut akhirnya meraih lengan kekar Aziz berharap Masnya tidak mengamuk.


Merasa Adiknya takut Aziz meraih tangan Bibah. Dia genggam tangan Adiknya lalu meraih tangan Masnya. Ia akan menyelesaikan masalah bersama pria di depannya. Aziz tidak akan pernah melepaskan pria ini.


Untuk Azzam hanya diam seraya menatap depan tanpa arti. Ketenagaan yang dimiliki tidak ayal membuat semua salah paham. Jujur saja jika sampai dua Adiknya kenapa-napa maka ia akan menghajar orang di depannya. Kalau Azzam bertindak maka habis pria di depan sana.


Merasa di pandang dalam Steven tersenyum ramah. Baru setelah itu mengulurkan tangan untuk berkenalan. Namun, pria di depannya tidak sudi menjabat tangannya. Dia paham Kakak gadisnya begitu dingin dan penuh ancaman. Steven harus meluluhkan hati pria di depannya.


" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa Steven.


"...." Aziz diam, tetapi dalam hati menjawab.


"Dalam agama Islam dianjurkan orang mengucap salam di jawab. Benar bukan , Tuan?" Goda Steven.


"Bacot," sahut Aziz berbahaya.


"Mas," protes Bibah mendengar jawaban Aziz.


"Tole, tidak baik bicara begitu," ujar Azzam seraya menepuk pundak Aziz.


"Persetan," sahut Aziz dingin.


"Astaghfirullah." Istighfar Azzam dan Bibah serempak.


"Tidak apa-apa, saya biasa menghadapi pria seperti Tuan ini," sahut Steven.


"Hai, kau bule tidak punya malu pergi dari hadapanku. Kau tertolak! Aku tidak merestui dirimu! Ingat Adikku tidak pantas untukmu. Kau perbaiki sikap jangan jadi murahan dan jangan kau pikir aku bodoh. Kau mendekati kami semata hanya ingin cari perhatian. Pergi dari sini, Sialan!" Amuk Aziz begitu protektif.


"Saya memang mendekati kalian semata ingin mengenal lebih serta mendapat restu. Saya paham ucapan, Anda. Hanya saja saya minta maaf atas kelancangan ucapan. Saya tidak akan menyerah mendapatkan Adik, Anda. Saya mencintai Mbak Bibah, maka tidak ada kata menyerah!" Tegas Steven seraya tersenyum.


"Kau ....!" Aziz mengeram murka siap menghantam rahang kokoh Steven.


"Hentikan, Tole. Biar Mas yang bicara," ucap Azzam.


"Mas, jangan ikut campur. Mas tahu pria jahanam ini berani mendekati Adik kita. Mas tidak tahu setengah tahun lalu Nduk Bibah menangis akibat pria ini. Aku sebagai Masnya tidak akan pernah mengizinkan siapa pun menyakitinya. Nduk Bibah, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga. Tolong jangan buat aku berdosa membiarkan Adikku pada pria asing. Nduk Bibah, di Kairo untuk menimba ilmu bukan untuk mencari jodoh!" Seru Aziz.


"Tole kendalikan emosi, 'mu. Mas juga paham atas kemarahan Tole. Mas juga marah maka dengarkan Mas untuk kali ini. Biarkan Mas yang bicara," tutur Azzam menggunakan nada lembut seperti biasa.


"Biarkan Mas Azzam bicara, Mas," ucap Bibah.


"Hn," respons Aziz.


Aziz akhirnya mundur membiarkan Azzam maju. Jujur saja dia itu begitu protektif terhadap Adik-Adiknya. Ia begitu kejam terhadap siapa saja yang berani menyakiti Adiknya. Dia tipikal orang yang sangat mencintai Adik-Adiknya. Bahkan Aziz selalu mengalah demi kebahagiaan semua saudaranya.


Azzam maju tepat di depan pria berparas rupawan khas bule. Mata awalnya teduh perlahan menatap tajam. Mata bermanik hazel begitu indah sewaktu menatap teduh kini mata itu menyorot tajam. Walau mata Azzam tidak setajam Aziz, tetapi bisa membuat siapa pun bergetar.


Steven tersenyum melihat Kakak tertua Bibah. Dia menunduk sebelum menatap dalam pria berparas khas timur tengah. Ia akui betapa rupawan pria ini dan aura begitu khas. Steven memutuskan untuk lebih mengenal pria di depannya.


Sementara Bibah beringsut di belakang Aziz. Dia memegang baju belakang Masnya seolah minta perlindungan. Jujur saja ia takut jika terjadi hal kurang mengenakan. Bibah harap semoga saja Steven mau menyerah.


"Tuan ...." Azzam ingin memulai pembicaraan.


"Steven," ucap Steven.


"Anda tahu hukum seorang pria dan wanita bukan mahram, bukan?"


"Iya."


"Lalu kenapa berani mendekati Adik, saya?"


"Karena saya mencintai Mbak Bibah dan ingin menjadikan Istri."


"Anda punya apa ingin menikahi, Adikku? Tuan, bukan saya menolak hajat mulia. Namun, sebagai Mas tidak akan menyerahkan Adiknya begitu mudah."


"Saya punya harta berlimpah. Saya tahu setiap Kakak akan berbicara demikian."


"Astaghfirullah astaghfirullahal'adzim, lihat itu Mas. Dia jawab harta. Harta tidak kau bawa mati, sialan. Aku tidak setuju Adikku menikahi pria tidak punya iman Islam dan ketaatan kepada Allah. Kau terlihat hanya pria mengejar dunia tanpa menyeimbangi meraih akhirat!" Amuk Aziz.


"Mas, tenanglah. Dia wajar begitu karena Tuan Steven seorang mualaf," bela Bibah.


"Mualaf? Pria ini mualaf?" Terkejut Aziz dan Azzam.


"Iya, saya mualaf maka dari itu belum begitu mendalami Islam. Namun, saya akan berusaha lebih giat lagi untuk mempelajari makna Islam. Saya ingin menjadi pria Sholeh senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits. Saya masih belajar dan masih terbata-bata mengaji. Namun, saya akan terus berusaha lantaran dari awal saya jadi mualaf karena cintaku kepada Allah SWT. Tiga bulan saya mualaf bertemu Adik kalian. Di sini saya langsung jatuh hati. Selama 30 tahun hidup saya ini kali pertama saya merasa jatuh cinta ....


... Saya selama hidup hanya belajar, belajar, bekerja dan bekerja tidak punya percintaan. Saya seorang Dokter di rumah sakit pusat. Kedua orang tua saya memiliki segudang pengetahuan. Ayah saya ilmuan sedangkan Ibu seorang wanita pengusaha. Hidup saya sedari kecil hanya pendidikan. Semua keluarga saya Nasrani, tetapi sewaktu saya di Mesir hatiku terenyuh. Saya minta maf atas kesombongan yang saya miliki. Terima kasih atas waktunya, Tuan."


"...."


Aziz memang dasarnya orang baik dan begitu pengertian perlahan mendekat. Antahlah yang jelas ia tersentuh dan tahu gambaran pria ini. Dia paham jika pria ini berusaha pasti mendapat hasil memuaskan. Aziz menepuk bahu Steven berusaha memberikan semangat.


Steven terkejut menerima tepukan hangat dari Aziz. Bahkan pria ini tadi begitu menakutkan bahkan terlihat sangat tidak bersahabat. Namun, dia tidak pernah membayangkan pria ini mampu bersikap demikian. Steven bergetar melihat mata tajam pria di depannya meneduh.


Azzam sendiri terdiam mendengar klarifikasi Steven. Lebih terkejut melihat Aziz begitu luluh pada penjelasan pria dewasa. Jika di ingat lebih jauh Adiknya sangat mudah tersentuh. Azzam jadi khawatir Aziz dimanfaatkan sebagai bahan lonjakan mencari sesuatu.


Bibah tersenyum melihat respons Aziz begitu bersahabat. Namun, detik berikutnya ia menunduk dalam menyembunyikan wajah. Dia ingat tadi Steven mengatakan Ayah ilmuwan, Ibu pengusaha. Rasa ciut di dekat Steven membuat Bibah minder.


"Saya minta maaf, tetapi untuk sekarang maafkan saya tidak merestui. Tetaplah Istiqomah dalam menjalankan ibadah. Dari sekarang mulailah taat kepada Allah SWT. Jangan malu belajar mengaji bersama anak-anak. Jika Anda sudah punya keimanan kokoh datanglah padaku. Aku orang pertama yang akan mendukung dirimu meraih restu ke dua orang tuaku. Walau sulit tetaplah berjuang dalam menjalankan tugas. Hai kami itu hanya orang tidak punya, mungkin keluarga kalian berat menerima. Saya ingin kamu pikirkan masak-masak jangan salah mengambil keputusan ....


... Namaku Aziz, jika ingin bertemu kami datang ke Mesir. Aku harap Anda datang membawa pengetahuan agama Islam kuat supaya nanti jadi bekal. Jika Adikku salah Anda bisa menuntun ke jalan yang benar. Itu pun jika Allah menjodohkan kalian. Namun, jika nanti tidak berjodoh jangan putus asa. Percaya pada Allah bahwasanya ada pengganti lebih baik dari Adikku. Sekali lagi tolong jangan pernah berpikir berubah atau memperbaiki diri semata hanya karena wanita. Lebih lagi dalam urusan cinta pada Allah hanya karena wanita itu sia-sia. Niatkan hati lebih baik lagi atas nama Allah. Jika niatmu salah kamu akan terjerumus dalam kesakitan. Namun, jikalau niat atas nama Allah, insya Allah semua hajat akan tercapai, Aamiin."


"...."


"Itu saja, kami pergi."


"Tole."


"Mas, percaya padaku bahwa seorang mualaf apa lagi niat dari hati pasti punya keinginan kuat. Aku memang lemah bisa luluh begitu saja. Hanya saja mendengar ceritanya hatiku terenyuh. Mas, maafkan aku berkata demikian. Maafkan Aziz begitu lemah mudah sekali terharu sekaligus mudah percaya. Aziz, hanya melihat satu kebenaran sekaligus keseriusan. Tolong maafkan aku."


"Kita bahas di hotel saja. Ayo pulang."


"Baik."


"Kami permisi."


"Wassalamu'alaikum."


"Hati-hati. Wa'alaikumussalam."


Aziz tersenyum lagi sebelum berlalu membawa Bibah pergi. Dia harap semoga saja ini jadi tolak balik pria itu semakin mempelajari Islam. Ia tahu bakal sulit memperoleh restu lebih lagi ke dua orang tuanya begitu taat agama, begitu juga dengan mereka. Apa lagi tahta keluarga serta semua yang ada akan menyudutkan mereka. Aziz hanya bisa berharap semoga saja Steven mampu.


Sedangkan Steven terharu bahkan air mata tanpa sadar berlinang deras. Sampai mereka pergi ia tetap menitikkan air mata haru. Orang yang awalnya begitu menentang mampu berbuat demikian. Kini Steven akan berusaha lebih baik lagi memperbaiki diri niat atas nama Allah.


Sedangkan Azzam dan Bibah hanya diam seraya menatap Aziz dalam. Memang benar adanya saudara mereka ini begitu banyak kelebihan serta selalu membawa hal positif. Apa lagi selalu bisa membuat orang terharu. Azzam dan Bibah selalu mengidolakan Aziz karena sikapnya luar biasa.


Dan dari sini semua kisah cinta Steven dan Bibah di mulai. Begitu banyak air mata, penolakan, pengorbanan dan kesakitan. Namun, mereka begitu saling mencintai walau tidak bisa bersatu. Mereka bukan jodoh, tetapi bagi Steven dan Bibah cinta mereka murni nan tulus dari hati.


...Flashback Off!...


Steven menitikkan air mata ingat kisah cinta bersama Bibah. Begitu besar pengorbanan Aziz untuk menyatukan mereka. Walau begitu semua tetap sama yaitu tidak da hasil. Dia juga sangat menghormati Azzam karena pria itu juga berjasa untuk semua. Hanya saya Steven lebih akrab ke Aziz walau pun akrab juga pada Azzam.


Besok atau lusa untuk pertama kalinya setelah 18 tahun berpisah akhirnya bertemu lagi. Rasanya dia tidak sabar ingin bertemu sahabat sekaligus teman baiknya. Kini ia berharap banyak hal tentang pertemuan pertama setelah lama tidak berjumpa. Steven ingin melabuhkan rindu walau cintanya sudah jadi milik orang lain.


"Aku tidak sabar menunggu, 'mu. Aku masih sangat mencintai kamu, Dik. Maaf dan terima kasih," lirih Steven.


...Cut....


...Perjalanan kisah Steven dan Bibah itu menguras air mata. Aku ambil sedikit saja kisahnya....


...Apa lagi saat ke dua orang tua Steven menolak keras hubungan mereka. Steven dan Bibah memilih jalan terbaik walau masih ada cinta....


...Hingga pertemuan pertama kali setelah tiga bulan tidak bertemu membawa bencana....


...Steven adalah cinta pertama Bibah begitu pula sebaliknya....


...Namun, cinta sejati serta terakhir Ning Bibah adalah Gus Khalid....


...Cinta sejati sehidup semati dan semoga bersatu di Jannah, Aamiin....


...Salam cinta Rose....


...14_11_20...


...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....