
Waktu terus berjalan begitu cepat, tidak terasa sudah setengah tahun keluarga Aziz pulang ke Yogyakarta. Meski mereka tinggal di Indonesia, tetapi terus kepikiran Zaviyar yang ada di Iraq.
Rasa gundah sering melingkupi hati mereka tatkala dalam keadaan sendiri. Ingatan tentang Zaviyar terus berkobar membakar pikiran dan hati.
Tiga bulan yang lalu Aziz mendapatkan panggilan dari pihak kepolisian bahwa ada anak kecil koma kisaran 3 tahun. Anak itu di temukan warga dalam keadaan wajah rusak parah
Kondisi anak tersebut sangat memprihatikan, tetapi nahas meninggal dua bulan lalu. Sungguh malang nasib si kecil dan masih menjadi misteri siapa keluarga kandung si kecil.
Aziz sempat datang ke Iraq guna memastikan siapa anak tersebut. Namun, dia kembali kecewa karena anak itu tidak menggunakan kalung dan gelang, bahkan DNA tidak cocok.
Pupus sudah harapan Aziz sekeluarga akibat tidak ada titik temu. Sampai setengah tahun ini mereka mereka hidup agak sunyi.
"Mas," panggil Khumaira seraya meletakkan kopi di meja kerja Aziz.
"Dalem, Dek," sahut Aziz langsung menghentikan aktivitas.
"Ada yang ingin Adek sampaikan, tetapi rasanya berat."
"Sampaikan saja tidak perlu sungkan, Dek."
"Adek lihat Mas sering berhubungan dengan pihak Iraq yang pastinya berhubungan langsung dengan, Tole Zavi. Tiga bulan lalu Mas juga pergi ke Iraq untuk memastikan anak tersebut Tole Zavi atau bukan. Intinya jika dipikir lebih lanjut kita telah mengeluarkan uang sangat besar untuk mencari Tole Zavi bahkan Mas juga tidak segan pulang pergi ke Iraq tanpa peduli apa pun."
"Jadi, Adek ingin Mas bagaimana?"
"Ayo kita pindah ke Iraq, Mas. Kita bisa lebih leluasa mencari Tole Zavi bahkan jika ada kejadian seperti tiga bulan lalu lebih menghemat biaya. Kita punya anak yang memiliki cita-cita setinggi langit. Bukankah kita harus berhemat serta menabung untuk masa depan? Adek tahu Mas juga ingin tinggal di sana. Yang terpenting anak-anak sudah naik kelas dan sekarang tahun ajaran baru. Kita bisa mendaftarkan anak-anak di sana tentunya tidak ketinggalan pelajaran."
"Apa yang Adek ucapkan memang benar. Mas pun demikian ingin membahas masalah ini pada Adek. Kalau sudah yakin Mas ingin kita menetap di Iraq. Antah kapan kita kembali ke sini, setidaknya sebelum Tole ditemukan kita akan tetap tinggal. Kita bicarakan masalah ini pada anak-anak."
Khumaira tersenyum simpul mendengar jawaban Aziz. Tanpa buang waktu ia dekap erat Suaminya dengan perasaan haru. Setidaknya dengan keputusan Khumaira membuat Aziz tidak terlalu terbebani.
Anak-anak memiliki cita-cita setinggi langit. Cita-cita tersebut juga sudah mantap. Khumaira yakin anak-anak bisa meraihnya dengan kecerdasan di atas rata-rata.
Oleh sebab itu, Khumaira rela berpisah dengan keluarga kemudian hidup baru di negara orang untuk kebaikan bersama. Terlebih ingin mencari Zaviyar dan semoga saja lekas ditemukan.
Aziz merenung memikirkan usulan Khumaira yang tepat. Dia telah berpikir untuk menetap di Iraq untuk menghemat biaya. Ternyata tanpa keinginan Aziz disampaikan Khumaira lebih dahulu menyampaikan.
Senyum lega terukir di bibir Aziz berkat Khumaira. Dengan pindahnya ia sekeluarga akan memberi luka. Namun, Aziz akan memberi pengertian pada Abah dan Umminya.
Semoga saja keinginan mereka untuk pindah ke Iraq mendapat restu meskipun susah. Abah dan Ummi akan kehilangan Aziz sekeluarga. Walau pindah Aziz janji akan selalu memberi kabar.
"Mas."
"Dalem, Dek."
"Bagaimana dengan pekerjaan, Mas?"
"Tenang saja Mas ini arsitek terkenal pastinya sudah profesional. Di Baghdad ada perusahaan kontraktor terbesar, Mas akan bekerja di sana. Mas akan mendaftar sebagai manager jika rezeki dari Allah berlimpah Insya Allah akan kembali menjadi CEO. Jejak prestasi Mas sudah banyak pastinya kita memiliki modal lebih banyak di sana. Kita bisa menyekolahkan anak-anak setinggi mungkin serta bisa mencari Tole Zavi tanpa terhalang biaya."
"Adek juga mau kerja di sana, untuk mencari kesibukan."
"Jadi guru, Dek? Adek tidak perlu bekerja biar Mas saja."
"Tetap saja Adek tidak mau tinggal diam. Pokoknya Adek mau kerja supaya ekonomi terjamin. Adek akan menjadi tukang jahit, kalau guru sulit. Di sana bahasa Arab dan Inggris lancar jaya, sedangkan Adek bahasa keduanya pas-pasan."
"Lucunya jika Istriku begini. Tahu tidak ... meski Adek tidak terlalu menguasai bahasa Inggris dan Arab, setidaknya Adek telah menguasai bahasa cintanya, Mas."
"Mas."
Aziz terkekeh kecil melihat tingkah Khumaira yang menggemaskan. Dia kecup pipi tembem Istrinya sebelum mendekap erat. Tubuh Khumaira berisi membuat nyaman Aziz mendekap erat.
Khumaira menyamankan dalam dekapan Aziz senantiasa hangat. Rasa cinta pada sang Suami kian bertambah. Alhamdulillah, berkat Sang Kuasa rasa cinta Khumaira untuk Aziz tetap kokoh.
Lain sisi Mumtaaz dan Faakhira bermain tanpa ada suara. Keduanya rindu Kakak beserta Adik bungsu. Mumtaaz dan Faakhira jadi kepingin ke Iraq lagi untuk bertemu Zaviyar.
Sampai kedua bocah menggemaskan dikagetkan oleh dekapan hangat Ayah dan Umi. Keduanya tersenyum ceria akhirnya ada teman bermain. Jujur saja kedua anak menggemaskan ini membutuhkan dekapan Ayah dan Umi.
"Sedang bermain apa anak-anak?" Tanya Aziz seraya mengecup pipi kedua anaknya.
"Main ular tangga, Ayah," jawab kompak Mumtaaz dan Faakhira.
"Kami boleh ikut bermain?" Tanya Khumaira diiringi senyum manis.
"Boleh!" Seru Mumtaaz dan Faakhira.
"Ayah pastikan, kalian akan kalah. Ayah selalu menang dalam permainan ini," ujar Aziz penuh percaya diri.
"Jangan sombong, Ayah. Kakak lebih hebat, lihat dari tadi menang!" Seru Mumtaaz tidak mau kalah.
"Kalian jangan remehkan Dedek FaaFaa ya. Kakak tahu Dedek FaaFaa itu dari tadi tidak fokus mIn. Lihat saja Dedek FaaFaa yang akan menang. Lagian beberapa kali Dedek mengalahkan Kakak!" Seru Faakhira.
"Hai, Kakak kalah itu pun tidak niat main. Ayo buktikan siapa yang menang!" Seru Mumtaaz berapi-api.
"Ok, siapa takut," ujar Faakhira.
"Anak Umi memang pandai main ular tangga. Ayo buktikan siapa yang menang," tutur Khumaira.
"Jelas aku!" Seru Mumtaaz dan Faakhira serempak.
Permainan di mulai Mumtaaz dan Faakhira saling berebut. Keduanya bermain sangat semangat tentu dengan seru-seruan mengejek. Mumtaaz atau pun Faakhira tidak akan pernah mau kalah.
Melihat permainan seru Mumtaaz dan Faakhira membuat Aziz serta Khumaira tersenyum teduh. Kedua anaknya sangat pandai dan lihat saat saling ejek sangat menggemaskan. Aziz dan Khumaira bersyukur setidaknya dengan melihat mereka begini beban sedikit terangkat.
Pada akhirnya permainan selesai dengan Khumaira sebagai pemenang. Untuk Aziz mengalah demi kesenangan anak dan Istri. Sementara, Mumtaaz dan Faakhira cemberut seolah tidak percaya dikalahkan Umi Khumaira.
Usai permainan keluarga kecil Aziz merebahkan diri di karpet. Ke empat orang beda usia memikirkan banyak hal, tetapi lebih utama memikirkan Zaviyar.
"Menurut kalian bagaimana dengan negara, Iraq?" Tanya Ayah memulai pembicaraan.
"Cukup bagus, tetapi menurut Kakak buruk. Negara Iraq telah menghancurkan banyak hati. Di Baghdad kita semua kehilangan Bibi, Paman serta Zaviyar. Pokoknya buruk," sahut Mumtaaz.
"Tidak ada yang istimewa," imbuh Faakhira.
"Kota penuh kenangan pahit," timpal Khumaira.
"Lalu bagaimana kalau kita tinggal di kota penuh duka itu?" Tanya Aziz memastikan.
"Apa?" Kejut Mumtaaz dan Faakhira.
"Kita bisa leluasa mencari Tole Zavi jika tinggal di sana. Dengan begitu kita frekuensi bertemu Tole Zavi akan segera tercapai," ujar Aziz.
"Kami manut," komen Mumtaaz lantaran ingin kembali ke kota Baghdad.
"Lalu bagaimana dengan Kakak gede?" Tanya Faakhira.
"Alhamdulillah kalau setuju, Ayah tinggal mengurus berkas penting. Untuk Kakak gede akan segera ikut bersama kita."
Pembicaraan telah usai, lalu hasil kesepakatan akan segera pindah ke Iraq. Semoga saja di sana kehidupan nyaman tanpa kendala. Meskipun terasa berat meninggalkan kota penuh kenangan, tetapi inilah takdir.
Aziz meminta anak serta Istrinya untuk tidur. Sudah pukul sembilan, kalau dirinya akan tidur setelah mengerjakan tugas. Tugas kantor menumpuk membuat Aziz harus lembur malam ini.
"Ayah," panggil Mumtaaz sebelum masuk kamar.
"Dalem, Kak," sahut Aziz.
"Apa kita besok akan ke Lirboyo bertemu Kakak gede?"
"Iya."
"Apa nanti Abi akan merelakan Kakak gede ikut kita?"
"Insya Allah. Biarkan masalah itu menjadi urusan Ayah dan Umi. Kita akan pindah sekeluarga tanpa terkecuali."
"Lalu kalau Kakak gede tetap ingin bersama Abi bagaimana? Kakak kangen Kakak gede jik tidak ikut. Kita sudah kehilangan maka Kakak tidak mau kehilangan lagi!"
"Kita tidak akan kehilangan, Insya Allah dalam keadaan apa pun keluarga kit tetap bersama. Kakak gede akan ikut bersama kita."
"Apa tidak terlalu egois, Ayah?"
"Maksudnya? Bukankah Kakak ingin Kakak gede ikut bersama kita?"
Mumtaaz beku mendengar perkataan Ayahnya lalu menghela napas panjang. Terdengar egois lantaran akan memisahkan Abi dari Ridwan yang notabene anak kandung. Di usia nyaris sepuluh tahun Mumtaaz sudah tahu semua.
Abi Azzam telah banyak merelakan kebahagiaan demi Ayahnya. Pertama merelakan Ummi kemudian Kakak gede. Kalau Kakak gede ikut bersama mereka bagaimana perasaan, Abi Azzam?
Memikirkan itu membuat Mumtaaz tidak enak hati. Sesungguhnya ia teramat menghormati Abi Azzam, tetapi tidak akan pernah rela Ayahnya terluka. Yang jelas Mumtaaz ingin Ayah tetap tersenyum dan bisa membawa Kak Ridwan bersama mereka.
Untuk Aziz mencerna setiap kata yang diucapkan Mumtaaz. Seolah tahu isi hati serta pikiran anaknya membuat dia tersenyum miris. Di pikir lebih panjang memang Azzam begitu banyak berkorban untuk Aziz.
Lalu apa yang harus Aziz lakukan?
Meninggalkan Ridwan itu tidak mungkin pastilah Khumaira menolak. Aziz berada dalam lembah tak berujung terasa menyesakkan. Maju salah, mundur lebih salah.
Andai boleh memilih Aziz ingin membawa Ridwan bersama mereka. Tiba-tiba keinginan buyar mengingat Azzam pasti terluka kesekian kalinya atas perbuatannya. Miris sekali Aziz seolah tidak punya hak maju atau mundur.
"Ayah, apa kita terlalu egois menginginkan Kakak gede?"
"Tidak, Nak. Abi pasti mengerti, biarkan Ayah bicara masalah ini pada Umi, 'mu. Tidurlah Kak kita akan bicarakan ini besok sebelum berangkat ke Lirboyo."
"Kalau begitu perjuangan kan Kakak gede agar tetap bersama kita. Umi pasti akan tersiksa jauh Kakak gede begitu pula dengan kami. Kalau begitu Kakak tidur dulu."
"Insya Allah. Tidur yang nyenyak, Kakak cilik."
Mumtaaz berlalu membawa pikiran mengenai Ridwan. Dia merasa aneh memiliki Kakak beda Ayah, walau demikian teramat menghormati. Mumtaaz awalnya terkejut serta agak menjauh saat tahu kebenaran masa lalu kedua orang tuanya serta Abi Azzam.
Melihat punggung Mumtaaz semakin menjauh Aziz mendongak ke atas. Dia lagi-lagi menarik napas berat memikirkan beban hati. Apa bisa Aziz menghadapi Azzam untuk meminta izin?
Sedangkan di balik tembok ada Khumaira yang mendengar pembicaraan Suami dan Putranya. Ada rasa sesak kala mengetahui fakta bahwa Ridwan juga milik Azzam. Rasanya Khumaira begitu tertekan mengingat masa lalu.
Bagaimana jika Azzam tidak memberikan izin untuk membawa Ridwan bersama mereka?
Karena terlalu fokus melamun Khumaira tidak menyadari ada Aziz di sampingnya. Pikiran melalang buana diiringi derai air mata. Khumaira merasa bersalah, tetapi juga harus tegas menyikapi permasalahan kali ini.
"Dek," panggil Aziz.
"...." Khumaira masih bungkam.
"Apa Adek mendengar semua lalu kepikiran masa lalu?" Tanya Aziz seraya menepuk pelan pundak Khumaira.
"Astaghfirullahal'adzim, ma-maaf Adek tidak tahu kalau Mas ada di sini. Em, apa?" Gugup Khumaira buru-buru menyeka air mata.
"Kita bicara di kamar!" Tegas Aziz seraya membawa Khumaira ke kamar.
"...." Khumaira hanya bungkam mengikuti Aziz ke kamar.
Sampai di kamar Aziz meminta Khumaira duduk di sampingnya. Dalam keheningan ia merasa berdosa atas kejadian selama ini menimpa. Aziz berpikir jikalau waktu di putar ulang pasti Khumaira akan menjadi miliknya lebih awal.
Khumaira tertunduk seraya melirik ke arah Aziz. Apa yang akan Suaminya bicarakan sampai beberapa kali menghela napas? Apa nanti Aziz akan membahas Azzam? Memikirkan itu membuat Khumaira jadi pusing.
"Mas," panggil Khumaira lembut pada akhirnya.
"Dek maafkan Mas," lirih Aziz tanpa menyahut panggilan Khumaira.
"Untuk apa, Mas?"
"Untuk segalanya. Pertama, Mas telah melakukan hal besar. Saat Ms Azzam dulu dinyatakan tiada dengan tergesa-gesa meminta Adek jadi Istri, Mas. Adek pun tahu alasan Mas tergesa mengambil keputusan besar karena Tole Ridwan kala itu terabaikan. Kedua, semenjak menikah dengan Mas banyak sekali prahara rumah tangga kita dari ringan sampai berat. Ketiga, kejadian di Singapura itu begitu menyakitkan untuk kita semua. Keempat, Mas tidak bisa tegas dalam bersikap. Terakhir, lagi-lagi ujian datang dengan dahsyatnya. Jika boleh memutar waktu Mas ingin Adek menjadi milik Mas tanpa ada Mas Azzam ....
... Mas telah merebut Adek dari Masku sendiri. Mas juga telah membuat Ayah dan anak terpisah. Dipikir lebih dalam Mas sudah menjadi orang yang tamak dan dzolim pada, Mas Azzam. Pertama Istri, kedua anak dan terakhir memaksakan kehendak agar Masku rela jika nanti kita minta izin untuk membawa, Tole Ridwan. Sungguh Dek rasanya serba salah, Mas merasa inilah ganjaran yang harus ditempuh. Akibat keserakahan yang Mas perbuat Allah tidak membiarkan bahagia. Bahagia sesaat lalu di uji lagi dengan cobaan berat. Mas sangat menyesal menjadi orang tamak nan serakah, Dek."
"...."
"Tolong maafkan Mas membuat Adek memiliki takdir yang berliku. Akibat keserakahan Mas ... Adek kena imbasnya."
"...."
"Maaf, Dek."
Aziz menggenggam tangan Khumaira dan berkali-kali meminta maaf. Dia berharap semoga saja Istrinya tidak salah paham atas perkataannya. Aziz berharap Khumaira mampu memberikan kata-kata pendukung.
Mendengar perkataan Aziz terasa menusuk qalbu Khumaira. Kenapa Suaminya malah menyalahkan diri sendiri? Di sini Khumaira juga turut adil dalam masalah ini.
"Adek kecewa mendengar perkataan Mas seolah takdir kita adalah kesalahan. Jika waktu bisa di putar Adek ingin lebih dahulu bertemu, Mas. Namun, jika takdir tetap mentakdirkan Mas Azzam yang pertama maka Adek ingin mengulang waktu. Adek tidak mau menerima Mas sebagai Suami. Andai saja waktu itu bisa tegas tetap kukuh dalam pendirian mungkin takdir tidak sepahit ini. Bersama Mas prahara rumah tangga kita tidak ada habisnya. Tidak ada kebahagiaan bertahan lama, pastilah sementara ....
... Allah itu Maha Besar lagi Maha Agung. Jika ingin menyalahkan diri Adek lah orang yang patut di salahkan. Adek memilih Mas dan melepaskan Mas Azzam. Adek juga tahu kemudian hari akan menjadi bumerang seperti ini. Tole Ridwan akan kena imbasnya, sekarang terbukti Tole Ridwan harus memilih antara kita atau Abi, 'nya? Kita juga harus berhadapan dengan Mas Azzam jika ingin membawa, Tole Ridwan."
'...."
"Mas tahu bukan Mas Azzam orangnya pencemburu dan selalu terbawa suasana. Saat Tole Ridwan sungkan lantaran lebih sayang pada Mas, lalu bagaimana respons, Mas Azzam? Mas pastilah tahu untuk ini kita butuh persiapan untuk mendapat keikhlasannya. Adek juga tidak ingin terlalu dalam menyakiti serta menuntut, Mas Azzam. Mas tahu betapa terluka Mas Azzam atas keputusan yang Adek tuturkan. Biarkan Allah yang memberi keajaiban. Semoga saja Tole Ridwan memilih antara kita atau Abinya. Semoga saja Mas Azzam melepas ikhlas kepergian Tole Ridwan ikut bersama kita."
"...."
"Mas, kita tidak boleh saling menyalahkan dalam takdir. Kita harus maju, Allah telah mentakdirkan kita menjadi pasangan. Adek ditakdirkan untuk Mas Aziz bukan Mas Azzam. Begitu pula dengan Mas hanya ditakdirkan bersama Adek. Syukri apa yang Allah takdirkan niscaya kita akan selalu bersyukur serta bahagia. Adek mohon tersenyum karena itu menambah kadar ketampanan, Mas."
"Ya Allah, Dek."
Aziz mendekap erat Khumaira sembari mengatakan terima kasih serta maaf. Benar adanya Istrinya hanya miliknya seorang. Apa pun yang ditakdirkan adalah anugerah maka Aziz tidak boleh kembali mengingat masa lalu dan kembali bangkit untuk Khumaira beserta anak-anak.
Khumaira tersenyum teduh mendapat dekapan erat Aziz. Dia tersenyum haru karena bisa menjadi pelipur lara Suaminya dalam keadaan begini. Khumaira berharap semoga saja Aziz senantiasa tegar menyikapi semua permasalahan.