Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Kebersamaan Penuh Cinta!



Hello, sudah siapkan pisah sama Keluarga Narsis bin ajaib. Siap pisah dengan Gank somplak King narsis Aziz dan anak-anak semplak - Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz?


2 generasi ajaib nurun sempurna Ayah Aziz! Sabar Ayah Aziz akan selalu menemani kalian karena setelah Story ini END Ayah Aziz mau jadi Misua Rose, Uhuy!


Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


***~•Happy Reading Baby•~***


Azzam tersenyum saat Mahira sedang sibuk mengganti pakaian si kecil Ayeza. Sudah 2 tahun lebih mereka menikah, tetapi kata cinta belum pernah keluar dari bibir tipisnya. Bukan apa-apa Azzam hanya belum berani mengatakan cinta pada Mahira. Jika boleh jujur ada setitik cinta yang masih tersimpan rapat di lubuk hati yang paling dalam untuk mantanya.


Bagaimana bisa lupa karena selama kurang lebih 4 tahun hidup bersama penuh cinta. Azzam pertama kali jatuh hati padanya bahkan kisah itu masih tersimpan rapi. Namun, itu dulu bukan yang sekarang. Sejak Mahira mengandung benih cintanya mulai tumbuh. Azzam mulai belajar mencintai Istrinya sedikit demi sedikit.


Mahira menengok ke arah belakang sembari tersenyum tipis. Dia sudah mengganti pakaian Putrinya yang cantik. Ia tersenyum saat Ayeza minta asi karena haus. Dengan sayang dia memberi asi untuk si cantik seraya mencium pelipis. Mahira kembali menatap Azzam sedemikian rupa pasalnya sang Suami diam.


Azzam merengkuh Mahira dari belakang. Tangan kekarnya terulur untuk mengusap pipi gembul Putrinya. Benar saja anaknya meraih jari telunjuknya untuk di genggam. Pada akhirnya ia duduk di samping Istrinya lalu menggendong si kecil dalam pangkuannya usai menyusu. Azzam tersenyum ketika Ayeza sangat menggemaskan.


"Bi," panggil Ayeza.


Anak cantik berumur 1 tahun lebih dua bulan ini tampak lincah. Dia baru bisa berjalan satu atau dua langkah. Sangat menggemaskan ketika berceloteh atau sedang merajuk. Tangan kecil itu terulur untuk menarik jambang Abinya. Melihat Abinya meringis Ayeza semakin tertawa sembari bertepuk tangan.


Azzam yang gemas menciumi wajah cantik Putrinya. Tangan kekarnya tidak henti-hentinya mencubit gemas pipi gembul Ayeza. Dia rengkuh tubuh gempal Putrinya  sembari menciumi puncak kepalanya. Azzam tidak pernah sangka betapa besar kebahagiaannya mendapat Ayeza dalam hidup.


Mahira tersenyum tatkala Suami dan Putrinya bermain. Hawanya sangat sejuk membuat dia terus tersenyum. Ia juga memberikan usapan sayang di pipi gembul anaknya. Sesekali ia akan memberikan ciuman sayang di pelipis si anak cantik. Mahira juga memberikan ciuman lembut di rahang Azzam otamatis sang Suami menatap dalam.


"Mas, sudah makan?"


"Mas mau makan di rumah saja buatan, Istriku," sahut Azzam sembari mencium pelipis Mahira membalas kejahilan sang Istri.


Wajah cantik Mahira bersemu mendengar perkataan serta ciuman Azzam. Dia memilih beranjak memanaskan makanan. Ia masih saja gugup hidup bersama Suaminya yang terkesan kalem. Sampai dapur ia bergegas mengambil gelas dan sendok. Mahira akan membuat kopi hitam tanpa gula kesukaan Azzam.


Azzam mengecup kening Ayeza ketika Putri kecilnya tetidur pulas. Dia berjalan ke kamar menidurkan Putrinya. Oh iya seprtinya dia lupa belum melihat Zoya dan Zayn. Di mana anak-anaknya? Apa mereka sedang bermain bersama Adik sepupu? Antahlah yang jelas dua anaknya tidak terlihat. Azzam mungkin akan tanya pada Mahira di mana si kembar.


Mahira meracik bumbu untuk membuat sup. Ia lupa memberi tahu Azzam bahwa Zayn dan Zoya sedang di ndalem. Tadi Azura serta Adik ipar bermain ke rumah alhasil anak-anak ikut mereka. Oleh sebab itu pagi-pagi sudah ngilang ditelan ndalem. Mahira  kembali sibuk meracik bumbu untuk masak sup dan nasi goreng.


Azzam merengkuh Mahira dari belakang yang sibuk meracik bumbu. Dia kecup pelipis Istrinya sembari tersenyum manis. Ia berbisik sedikit intim saat Istrinya diam saja. Azzam tersenyum tatkala Mahira mencubit perutnya.


"Mas, minum kopi gih Adek sudah buatkan. Jangan goda ini masih pagi, Mas," ucap Mahira seraya mengusap lengan kekar Azzam.


"Mas tidak mau kopi hari ini maunya susu, tapi susunya untuk Dedek Aye. Tetapi, silakan Mas goda? Ayo kita melakukan itu, Dek." Azzam semakin rapat membisikkan kata-kata manis.


Saat Azzam hendak melakukan hal lebih sebuah bel terdengar. Dia menyengit saat sang tamu terlihat bruntal menekan bel rumah. Tamunya benar-benar membuat sakit karena terganggu. Ia meminta izin untuk membuka pintu sementara Mahira kembali meneruskan masakan. Azzam masih berusaha tenang agar tidak terlihat baru mau melakukan itu dan sitamu menganggu.


Azzam hendak menegur orang yang nakal menekan bel seperti orang kesurupan. Saat di buka nyaris ia terjungkal saat anak 7 tahun lompat ke arahnya. Dia dekap anak sangat tampan duplikat Adiknya telah merengkuh erat. Rasanya rindu sekali pada bocah nakal nan menggemaskan ini. Azzam begitu sayang pada Mumtaaz layaknya anak kandung sendiri.


Seulas senyum merekah saat ingat waktu dulu. Persis Aziz nakalnya sama. Azzam akui Mumtaaz ini begitu jahil sama persis seperti Aziz. Wajar saja anak kandung yang jelas menurun sempurna. Mereka sama-sama usil bin jahil tidak tertolong. Mau tahu sebuah rahasia maka Azzam akan bercerita.


Dulu sewaktu kecil Aziz juga bertingkah sangat nakal. Suka jahil pada warga yang menjalani hari. Aziz suka menekan bel secara brutal. Ketika pintu di buka akan memberi kejutan melempar kecoa mainan. Lalu si jahil bersembunyi agar tidak di marahi. Aziz kecil sepantaran Mumtaaz itu sangat jahil, tetapi begitu menggemaskan.


Pernah ada Ibu sampai berteriak heboh gara-gara melihat kecoa mainan yang di lempar Aziz. Usai jahil si tengil akan tersenyum miring penuh kepuasan dan tertawa keras. Jika ingat dulu Azzam jadi ingin mencubit lengan Aziz secara kasar karena sangat nakal. Ingat itu semua membuat rindu membludak dihatinya akan sosok Adik kesayangannya yang rela berkorban demi kebahagiaan.


Mumtaaz mengoceh panjang lebar karena Abi tidak membuka pintu dengan cepat. Dia dan Ridwan datang ke Kediri untuk berlibur. Umi dan Ayah sedang membawa oleh-oleh untuk Abinya. Oleh sebab itu mereka berkunjung duluan. Mumtaaz masih betah minta gendong Abinya tanpa peduli pinggang sang Abi.


Ridwan mengucap salam kan anak baik jadi si kalem mengucap salam. Usai mendapat ciuman dan usapan lembut ia nyelonong masuk ingin main game. Namun, sebelum itu ia meminta Adiknya turun dari gendongan Abinya. Ridwan lalu mendekap Abi serat mungkin lalu pergi mau masuk mencari game.


Tadi dia bertemu dengan Adik tirinya (Zoya dan Zayn) tepatnya di ndalem. Tunggu si nakal itu membuat pusing suka berteriak saat kalah main game. Ridwan paham betapa heboh Mumtaaz saat main game. Apa lagi saat game over maka si kecil akan mengacak rambut tebalnya. Kebuasan lucu Adiknya ketika kalah adu tanding akan merenggut lucu. Ridwan sampai hafal luar dalam sikap Mumtaaz yang sangat lucu.


Mumtaaz mencium pipi Azzam lalu meminta turun untuk adu tanding. Kali ini akan menang mengalahkan Ridwan. Dia lupa belum menyalami Ibu tiri dan lihat Kakaknya baru salaman pada Mahira. Dia meminta salaman pada Ibu tiri sembari tersenyum polos. Jujur saja Mumtaaz juga sayang pada Mahira layaknya Ibu walau agak canggung.


Mahira mencium kening Ridwan lalu memberikan ciuman sayang untuk Mumtaaz. Baginya anak-anak mantan Suaminya alias Adik ipar sudah di anggap anak sendiri. Kalau boleh jujur ia sangat bangga bisa menjadi bagian keluarga Suaminya. Bagaimana tidak bangga jika Adik ipar dan kakak ipar berbakat semua serta sukses semua. Apa lagi Aziz begitu multitalenta yang mampu memporak-porandakan segala hal.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz dan Khumaira.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, ayo masuk. Dedek Faafaa cantik sekali aini gendong Paman." Azzam sambut penuh suka cita.


Faakhira masih diam sembari menatap Umi dan Ayahnya. Pada akhirnya ia mengulurkan tangan mau di gendong Azzam. Ia tetap Ayahnya saat memberikan pada Pamannya. Hingga senyum terbit saat Paman menciumi pipinya yang gembil menggemaskan. Faakhira tersenyum manis sembari mencium manis pipi Paman tampan.


Aziz menggandeng tangan Khumaira menuju dalam, tetapi tidak mau beranjak. Dia tersenyum melihat Istrinya tampak lucu saat merengut. Sejak mengandung Istrinya begitu menggemaskan. Gampang marah, pendiam, dingin, selalu berbicara tajam dan lebih ekstrem sering duduk di depan kulkas yang terbuka. Aziz sampai pusing ketika Khumaira menikmati sensasi dingin kulkas menerpa tubuh.


Pernah sekali Aziz tidak memperbolehkan Khumaira ngemil es batu. Besoknya Istrinya sakit tidak mau apa-apa. Saat makan es ajaib Istrinya sembuh. Dia tidak menyangka kelakuan Istrinya begitu lucu saat meminta. Kini Istri gembulnya mau gendong di depan umum. Ok, Aziz mau menuruti, tetapi ini rumah Masnya dan masih banyak bocah.


Khumaira memberengut lucu akan tingkah Aziz. Dia masih sebal Suaminya tidak mau itu sebelum datang kemari. Bahkan dengan jahil Suaminya malah menggoda dia ingin itu-itu. Bukan itu yang di pinta hanya mau kecup mesra itu saja. Kalau dapat plus-plus juga boleh itu bonus. Ya Allah, inikah Khumaira begitu geser saat mengandung.


"Merengut terus Mas kecup," bisik Aziz.


"Hn."


Khumaira mengerjap mendengar gertakan Aziz. Dia malah tambah merengut lucu biar mendapat itu. Entahlah aneh sekali mengandung kali ini berasa menjadi orang lain. Dia ingin lihat apa Suaminya berani mencium bibirnya? Khumaira yakin Aziz tidak akan berani mencium bibirnya di tempat umum.


Aziz hanya diam sembari menggandeng tangan mungil Khumaira. Lihat Istrinya tidak mau beranjak dari tempat berdirinya. Ok, si gembul mengemaskan ini mau gendong atau ciuman? Kalau mau dirinya bahkan bisa ekstrem. Aziz ok aja berbuat demikian sehingga menghabisi bibir Khumaira tanpa ada hari esok.


Mahira terdiam melihat Aziz dan Khumaira saling diam di depan pintu masuk.  Dia menyikut pelan lengan kekar Suaminya meminta penjelasan akan tingkah mereka. Mendapat respons kurang bagus membuatnya sebal. Dengan kesal Mahira menginjak punggung kaki Azzam untuk membuat minum.


Mendapat injakan Mahira pada akhirnya Azzam meringis ngilu. Dia protes lewat mata lalu terdiam saat Istrinya mengkode pasangan lucu. Ia melihat arah kode wanitanya. Kenapa Aziz dan Khumaira diam tanpa mau masuk bahkan lihat wajah cantik Adik iparnya merengut kesal.


Lain sisi Ridwam dan Mumtaaz sudah heboh main game. Sesekali bibir mungil mereka akan merengut, mencebik imut serta mengatupkan bibirnya. Baik Ridwan dan Mumtaaz sudah sering rusuh di rumah Abinya. Bagi keduanya rumah Abi rumah mereka. Untuk rumah di Pagerharjo rencana awal itu hak milik Ridwan. Jika besar nanti Ridwan-lah penghuni rumah Abi dan Umi sewaktu masih bersama. Kini rumah itu di tinggali Najah serta keluarganya.


Untuk Mumtaaz akan menepati rumah? Dia tidak ambil pusing untuk itu karena masih kecil. Rencananya ia akan kuliah sampai manjadi Doktor. Meraih segalanya seperti Ayahnya. Mumtaaz ingin usaha dari nol seperti sang Ayah. Karena dari awal panutan dan cita-citanya hanya satu sukses seperti Ayah. Multitalenta di segala bidang dan membangun rumah mewah untuk Ayah dan Uminya.


Kembali ke Aziz dan Khumaira yang setia di depan pintu. Karena lelah akhirnya Aziz meraih Khumaira untuk di gendong menuju dalam. Syukurlah ia kuat menghadapi si gembul pendek menggemaskan ini. Ingat Aziz yang membuat Khumaira hamil itu siapa? Berani berbuat berani menanggung semua. Maka dari itu Aziz kali ini benar-benar harus ekstra bersabar, pasalnya Khumaira mengandung kali ini begitu luar biasa aneh. Sabar orang sabar tambah tampan menawan kayak Aziz.


Lain sisi Azzam tersenyum melihat kelakuan pasangan Suami Istri fenomenal. Dasar mereka membuat iri saja ingin seperti itu. Tunggu ia juga bisa pasalnya sudah ada teman yang manis. Ada Mahira yang siap ia goda atau bermain di ranjang? Sudahlah jangan mesum di siang hari atau dirinya ketularan tidak waras. Azzam ingin sehat tidak seperti Aziz seperti orang gila


"Mas Azzam, lihat Tole Aziz jahat sama Adek," lapor Khumaira.


"...."


Azzam mengerjap melihat Khumaira berbicara begitu. Degup jantungnya begitu miris ingat waktu bersama. Ya Allah jadi ingat dulu ketika mantan Istrinya sedang mengandung Ridwan. Saat Aziz jahil itu kata-kata Khumaira melapor manja padanya. Maka dirinya akan berceloteh pada Aziz biar kapok. Azzam jadi gemas sendiri akan tingkah Khumaira dan Aziz. Namun, di balik itu ada kegetiran menyeruak raga ingat masa indah itu.


Khumaira merengut lucu lalu melaporkan tingkah Aziz pada Masnya. Sungguh Suami tengilnya kali ini benar-benar menyebalkan. Apa salahnya minta cium? Yang enak siapa coba? Kan dia juga enak Suaminya tambah enak. Khumaira begitu kesal pada Aziz tidak mau mencium dirinya.


"Ya Allah,  tole Aziz eling Nduk Khumaira sedang mengandung, jangan jahil. Lihat dia merengut sebal ayo turuti keinginannya. Mas cubit loh biar Tole jera!"


"Mas Azzam, lihat si gembul ini masak minta cium di depan anak-anak bahaya. Ciumable Aziz mau sampai napas sesak. Kalau cium di sini kan berabe masih ada 3 tuyul polos. Makhluk tampan tidak terbantahkan ini harus bagaimana?"


"Itu tentangan bagus sepertinya menarik. Tiga tuyul di kandang dulu biar mata mereka tidak ternodai oleh kalian. Coba makhluk tampan menari Chaiya nehi biar dapat ide," sahut Azzam kalem.


"Mas ...." Khumaira sebal.


Aziz meringis kesakitan saat Khumaira mencubit lengan kekarnya keras. Dia salah bicara tentang Istrinya yang gembul. Bisa tambah marah berabe nanti ia kerepotan. Ia jadi pusing memikirkan bagaimana mencium tanpa di lihat 3 tuyul? Mendengar jawaban Azzam membuat Aziz frustrasi.


Khumaira langsung berdiri menjauhi Aziz. Kini ia memilih duduk di samping Azzam dengan mata berkaca. Bibir maju siap menangis meminta pembelaan dari si narsis. Khumaira sebel melihat Aziz mengejeknya gembul. Dia gembul salah siapa coba? Suaminya yang membuat gendut masak ngga mau tanggung jawab?


Azzam menepuk puncak kepala Khumaira sembari tersenyum tipis. Adik iparnya lucu sekali ketika merengut sebal begini. Dia menodongkan rempot Tv saat Aziz hendak mendekat ke arah mereka. Azzam yang masih memangku Faakhira dengan nakal mencium pipi gembul keponakannya.


Mahira hanya tersenyum melihat kelucuan antara Aazzam, Khumaira dan Aziz. Mereka sangat lucu membuat gemas akan tingkah ketiganya. Dia memilih duduk di samping Aziz sembari tersenyum manis. Lihat Khumaira menatap mereka lebih lucu lagi. Manis sekali Ibu hamil satu ini seperti anak kecil menggemaskan.


"Mas Azzam lihat!" rengek Khumaira menunjuk Aziz sebal.


"Tidak usah kasih jatah 1 bulan biar kapok," sahut Azzam sembari mencubit gemas pipi gembul Faakhira.


Faakhiara malaa memilih rusuh di antara dua Kakaknya. Tubuh gempalnya sangat menggemaskan saat turun dan berjalan ke arah Ridwan dan Mumtaaz. Faakhira akhirnya sampai di tempat dan langsung minta pangku Ridwan.


Ridwan memangku Faakhira lalu melanjutkan acara main game. Dia tidak kerepotan saat Adiknya rusuh dengan menabok lengannya. Ia sangat  konsentrasi lalu Mumtaaz sesekali mencubit gemas pipi Adiknya. Mumtaaz tersenyum bangga akhirnya bisa mengalahkan Ridwan juga. Lalu untuk Ridwan kesal bisa dikalahkan Mumtaaz. Untuk Faakhira hanya diam menikmati perdebatan dua Kakaknya.


"Mas itu pengecualian, Dek ampuni Mas yang ganteng ini. Ayo sini Mas beri hadiah termanis."


"Ayah kami tidak di kasih hadiah!" seru Ridwan dan Mumtaaz kompak.


"Orang bilang hadiah baru nyahut, risiko punya anak-anak usil," gumam Aziz. Dia berdehem sebentar untuk menyahut, "nanti Ayah beri hadiah cilok!"


"Kurang enak itu mah, pokoknya kami minta bakso bebek!" kor Ridwan dan Mumtaaz sembari ngikik jahil.


"Anak-anak sudah jahil kayak kamu, Le. Itu yang kami rasakan ketika kamu jahil tidak terbantahkan. Sudah sekarang minum dulu. Eh Dek Maira tidur nih, cepat sekali tidurnya," ucap Azzam melihat Khumaira sudah tertidur pulas.


"Hm," sahut Aziz.


Aziz tersenyum saja mendengar perkataan Azzam. Dia tersenyum pada Mahira meminta tempat untuk menidurkan sang Istri. Ia mendekat ke arah Khumaira lalu merengkuh sang Istri agar merasa nyaman. Aziz meminta satu kamar untuk menidurkan si gembul mengemaskan. Entahlah ia sangat suka memanggil Syafa-nya gembul menggemaskan. Semoga saja Aziz selamat setiap kali mengejek sayang panggilan gembul.


Azzam tersenyum ketika Mahira memberitahu kamar mana yang di pakai. Dia melangkah menuju tiga anak manis yang sibuk main. Lihat anak paling cantik menatap dua Kakak cogan penuh tanda tanya. Dirinya begitu senang tiga anak ini memberikan warna. Azzam ikut gabung lalu memberikan ciuman sayang di ubun-ubun tiga anak rupawan.


ΦAssalamu'alaikum Imamku 2Φ


Mahira memberikan ciuman di punggung tangan Azzam lalu memberikan usapan lembut. Jujur saja ia ingin shalat berjamaah bersama Suaminya. Hanya saja sedang ada tamu bulanan sehingga hanya bisa menatap Suaminya dikala Shalat. Sungguh hatinya berdesir ketika Suaminya melantunkan surah Al Kahfi tanpa membaca Al-Qur'an. Masya Allah, kini Mahira begitu senang lantaran Azzam itu adalah seorang hafidz yang memiliki banyak wawasan.


"Kenapa ikut bangun?"


"Sudah kebiasaan Adek terbangun di sepertiga malam. Kita biasanya sholat sunah tahajud bersama. Saat Adek sedang haid maka Adek menunggu Mas. Ayo kita tidur lagi nanti terlambat bangun."


"Kenapa cepat tertidur? Mas masih ingin terjaga sembari menikmati hari bersama, Adek."


"Nanti kita telat bangun bagaimana, Mas? Baiklah ayo kita terjaga."


Pada akhirnya Mahira mengaguk ketika Azzam membawanya ke balkon. Di jam 3 pagi menikmati hari berdua sembari pelukan rasanya begitu hangat.  Dalam dekapan ia menatap mata hazel sang Suami penuh makna. Manik Suaminya sungguh indah membuatnya selalu larut dalam tatapan teduh. Mahira tidak bisa berpaling dari mata Azzam walau hanya sesaat saja.


Azzam mencium kening Mahira lalu menyandarkan kepala di bahu sang Istri. Dia teringat akan memberikan hadiah untuk Istrinya. Dengan senyum teduh ia meminta sang Istri untuk duduk di sini menunggunya. Azzam buru-buru mengambil hadiah yang sangat manis untuk Mahira. Semoga saja Istrinya suka pemberian manisnya wali hanya sederhana.


Mahira menunggu Azzam sembari menatap hamparan lampu. Hingga ia tetsentak saat benda dingin melingkar di lehernya. Dia terkejut saat tahu kalung emas kristal terpasang indah di lehernya. Mahira terharu sampai air matanya luruh deras.


Azzam tahu makanya memilih mendekap Mahira dari belakang. Dia begitu senang menerima kebahagiaan kedua dari sang Khaliq. Kini ia hanya bisa berharap selalu mendapat limpahan kebahagiaan dari sang Khaliq. Tidak ada kebahagiaan selain takdir Allah mewarnai setiap luapan syukur. Azzam begitu bersyukur Allah berkenan menitipkan segala cinta pada hamba-Nya.


"Hadiah untuk, Istriku. Apa Adek suka dengan hadiah ini?" bisik Azzam sembari mencium pelipis Mahira.


"Sangat suka, Adek sangat suka hadiah, Mas," sahut Mahira.


"Syukurlah, jika suka Mas senang sekali."


"Sangat suka, sungguh ini hadiah terindah. Terima kasih, Mas!"


Mahira berbalik menghadap Azzam lalu beranjak untuk merengkuh erat sang Suami. Dia tidak pernah menyangka kebahagiaan menyertai ketika hidup bersama sang Suami. Dirinya pikir dulu mendapatkan Azzam hal mustahil. Namun, kini rasa mustahil itu telah sirna digantikan kenyataan penuh warna. Mahira masih ingat tatkala Azzam menyatakan ingin menikahinya. Saat Suaminya dengan tegas melamarnya di depan kedua orang tuanya yang ada di Pakistan.


Azzam tersenyum saat Mahira tampak manis ketika tersipu. Ia juga tidak pernah menyangka mampu meraih kebahagiaan tanpanya. Walau berat ia sudah melangkah bersama Mahira dan anak-anaknya. Kini tujuannya hanya satu membahagiakan Mahira serta anak-anaknya. Untuk Ridwan ia akan mendidik sepenuh hati. Azzam sangat berterima kasih pada Aziz telah menjadikan Ridwan anak sholeh walau sedikit somplak.


"Mas sangat menyayangi, Adek."


"Adek juga sangat menyayangi, Mas."


Azzam mengangkat dagu Mahira lalu berakhir berciuman. Tidak ada lumatan hanya sebuah ciuman penuh perasaan. Usai ciuman ia rengkuh Istrinya erat penuh kebahagiaan. Azzam juga sesekali mencium puncak kepala Mahira. Semoga saja semua berakhir manis penuh kebahagiaan.


Mahira menyamankan diri dalam dekapan hangat Azzam. Senang rasanya melakukan pelukan hangat Suaminya. Tidak pernah berubah karena pelukan terbaik adalah milik Suaminya. Dia begitu bahagia bisa mendapat Suami sesempurna ini. Mahira akan selalu mencintai Azzam laksana air mengalir walau belum menerima ungkapan cinta. 


Lain sisi Khumaira mengganggu Aziz tidur begitu pulas. Merasa sebal Suaminya tidak bangun dengan nekat ia masukan sepotong es batu ke mulut sang Suami. Ini kebiasaan uniknya makan es batu jika ingin. Dia ingin Suaminya menemani sampai merasa mengantuk. Khumaira belum kantuk sehingga alternatif menganggu Aziz.


Aziz terbangun merasakan hawa dingin di mulutnya. Dia menatap Istrinya sebal telah membangunkan secara tidak elit. Ia rengkuh pinggul Khumaira sembari menciumi perut buncit sang Istri gembul. Aziz meringis saat Istrinya malah menaruh potongan es batu ke tubuhnya. Ya Allah, ia sabar menghadapi kenakalan Khumaira tersayang.


"Pilih cium basah di atas atau bawah!" gertak Aziz merasa frustrasi.


"Hm." Khumaira masih acuh.


"Cium di bawah!"


"Eh?"


Khumaira mengerjap imut mendengar gertakan Aziz. Dia mendorong tubuh Suaminya supaya menjauh. Dengan santai ia menggigit serpihan es batu. Seakan tidak peduli pada Suami mendelik ke arahnya. Khumaira tahu Aziz itu tidak bisa marah padanya maka dari itu anteng adem ayem.


Aziz frustrasi menghadapi Khumaira yang nakal. Dia memilih pura-pura marah biar Istrinya berhenti ngemil es. Ia rampas mangkuk dari tangan Istrinya, alhasil si gembul menatap protes. Aziz menatap Khumaira tanpa arti bahkan ekspresi itu terlihat dingin tidak bersahabat.


"Pilih es batu atau. Mss?" tanya Aziz dingin.


"Es batu," sahut Khumaira polos.


Raut wajah Aziz terlihat dingin mendengar jawaban Khumaira. Dia letakan mangkuk di tangan Istrinya dan beranjak dari ranjang. Kesal sendiri pada Istrinya seperti alien yang suka aneh-aneh. Aziz mengambil  sarung untuk tidur di luar guna jadi selimut.


Khumaira terdiam melihat Aziz mengambil sarung. Apa Suaminya mau ronda malam atau mau jadi ninja Hatori? Suaminya lucu sekali sampai dirinya heran. Dari pada memikirkan itu ia langsung anteng menggigit potongan es. Khumaira masih setia menatap Aziz yang bertampang lempeng.


"Makan terus es itu jangan pedulikan, Mas. Es itu lebih berarti bukan? Maka biarkan Mas tidur di luar!"


Setelah mengatakan itu Aziz berlalu tanpa mau menatap Khumaira. Dia berjalan ke arah luar dengan tampang dingin. Ia menuju ruang tamu untuk tidur nyaman tanpa si gembul. Is merebahkan tubuh di sofa setelah sampai di ruang tamu. Tanpa selimut Aziz langsung menyamankan diri di sofa lalu menutup kaki pakai sarung.


Khumaira memiringkan kepala lucu menatap kepergian Aziz. Dia mengerjap imut melihat Suaminya seperti bocah. Ia kembali mengigit sepotong es batu sembari nganguk-angguk. Khumaira merengut melihat Aziz tidak kunjung masuk kamar. Apa Suaminya benar-benar marah?


"Mas Aziz itu kenapa sih? Kayak bocah ingusan saja sedikit-dikit merajuk. Mana bisa tidur tanpa pelukan Masku. Maaf ya es aku pilih Suamiku dulu soalnya si narsis merajuk."


Khumaira beranjak meninggalkan kamar menuju ruang tamu. Di sana tidak menemukan Suaminya. Lalu kemana si tampan berada? Aha, Khumaira tahu Suaminya pasti di ruang keluarga. Benar saja si narsis sedang tidur di sofa sembari bersedekap dada. Khumaira melihat sofa itu kecil tidak muat untuk orang dua. Ia duduk di tepi sofa sembari mengusap pipi tirus Aziz.


Aziz diam saja tidak mau meladeni Khumaira atau gemas melanda. Dia tahu si gembul sedang merengek minta peluk mau tidur. Tanpa pelukan mana bisa Istrinya tidur lelap. Sungguh paham apa yang diinginkan wanitanya yang super manis. Aziz akan berusaha menahan diri agar Syafa-nya merajuk.


"Sudah jangan merajuk sekarang Adek milih Mas, soalnya esnya habis. Ayo tidur di kamar Adek ngga bisa tidur tanpa, Mas," ucap Khumaira polos.


Aziz mengatupkan bibir rapat ingin mengeluarkan kata manis. Sabar Aziz karena orang sabar tambah tampan menawan tidak terbantahkan, asyik. Jika begini ingin rasanya ia meraih bibir sang Istri  sampai puas. Aziz frustrasi kenapa bisa Khumaira jadi begini? Seunik apa anaknya kelak?


Khumaira mengguncang bahu lebar Aziz, tetapi tidak kunjung mendapat respons. Ide jahil muncul di otak jahilnya. Tangannya terulur untuk memijat inti Suaminya cukup sesual. Benar saja tangan besar Suaminya menahan lengannya. Khumaira tersenyum cerah akhirnya Aziz bangun. Tetapi, bukan bangun Suaminya malah nembantu memijat.


"Remas yang kuat, Mas ngantuk tidur sana. Jangan pedulikan Mas!"


Khumaira mengerjap saat Aziz melepas tangannya. Kini Suaminya tidur memunggungi dirinya tanpa mau menatap. Dia menunduk sedih sembari menangis sesegukan. Suaminya nakal tidak sayang lagi padanya. Apa karena sekarang badannya gembul sehingga Suaminya mengabaikan? Khumaira sedih sendiri memikirkan Aziz sangat nakal tidak mau menyayanginya lagi.


Aziz yang tahu itu drama memilih duduk dan meraih si gembul. Lihat Khumaira tampak mengenaskan dengan mata berkaca. Dia pangku Istrinya sembari menciumi leher jenjang si gembul. Sungguh Aziz sangat suka Khumaira jadi empuk dengan badan gembul begini. Ia suka meluk tetapi sebel saat lagi menyebalkan.


"Sudah, ayo tidur Ratuku," bisik Aziz.


"Gendong," sahut Khumaira.


"Baik, beri ciuman dulu!"


"Emuach!"


Khumaira mencium pipi Aziz lalu memberikan ciuman sayang di bibir. Setelah itu menyandarkan kepalanya di bahu lebar Suaminya yang sangat nyaman. Lalu tersenyum tatkala sang Suami menggendong tubuhnya secara hati-hati. Dalam gendong manis Khumaira kecup rahang tegas Aziz sembari mengatakan cinta.


Aziz balas mengecup pelipis Khumaira lalu mengatakan cinta. Istrinya begitu manis mana kala bertingkah menggemaskan. Dia tidak sabar mendekap tubuh gembul Istrinya di malam indah. Aziz begitu senang Syafa-nya begitu manja apa lagi tubuh sang Istri tambah empuk untuk didekap. Abaikan kini saatnya bersenang-senang selamat beriri ria.


"Mas, maafkan Adek bertingkah aneh akhir-akhir ini. Sungguh Adek sangat mencintai Mas atas nama Allah dan atas segala Dzat yang Maha Cinta limpahkan. Adek begitu mencintai Mas sepenuh hati!"


"Mas sudah memaafkan Adek tanpa di pinta. Kalau Mas punya salah maafkan juga ya, Dek. Sungguh Mas juga sangat mencintai Adek atas nama Allah dan atas segala Dzat yang Maha cinta. Mas juga begitu mencintai Adek sepenuh hati."


Aziz dan Khumaira saling tersenyum lalu melabuhkan kecupan manis manis. Mereka saling mendekap lalu memutuskan untuk tidur. Sebelum tidur mereka berdoa meminta segala harapan. Kini Aziz dan Khumaira akan tidur nyenyak.


Semoga saja Allah selalu memberikan segala cinta untuk mereka. Semoga saja Allah senantiasa memberikan kebahagiaan melimpah. Aziz dan Khumaira hanya meminta harapan agar Allah berkenan membuat anak-anak selalu penuh kasih sayang. Lebih lagi semoga saja mereka bisa bersatu selamanya.


****ΦΦ~•To be Continued•~ΦΦ****


Maaf belum tak koreksi dan edit jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum!


Chap depan Ending!


Terima kasih banyak ya Sayangku, maaf baru bisa Up.


Bonus Pick Ayah-Umi dan Abi-Mama!






Rose harap kalian senang pasalnya chap Ini tembus 4 ribu kata lebih. Aku ambil itu agar mereka terlihat sudah berumur.


Tolong berikan dukungan!


Jangan lupa klik vote, like dan komentar.


Lalu ucapkan besok adalah akhir kisah ini!


I love you!


Sayang kalian semua, emuach!


Rose_Crystal_030199!