
2 bulan kemudian setelah ungkapan cinta Aziz, Khumaira semakin manja. Tepat jam 1 dini hari mata besar Khumaira terbuka dan menatap Aziz intens. Dia mengguncang bahu lebar Suaminya sembari memanggil manja.
"Mas, bangun ... Mas, bangun ih," rengek Khumaira.
Aziz terbangun gara-gara mendapat guncang Khumaira. Matanya menyipit melihat jam dinding. Ya Allah, jam 1 dini hari Istrinya mau apa?
"Ada apa, Dek?" tanya Aziz dengan suara parau khas bangun tidur. Aziz merenggangkan otot sebentar lalu merengkuh Khumaira posesif.
"Lapar, mau bakso jumbo."
"Ok, besok Mas belikan. Ayo tidur lagi Mas mengantuk sekali."
"Belikan sekarang, Mas. Adek mohon ini Debay yang pengen. Mas, bangun belikan bakso Adek lapar pengen bakso, bangun Mas," rengek Khumaira seraya mendusel manja. Bahkan tangan kecilnya langsung mencubit roti sobek Suaminya.
Aziz langsung melek mendengar permintaan Khumaira. Dan lihat Istrinya seperti kucing minta di pungut. Mata besar berkaca-kaca dengan bibir maju imut dan itu membuat Aziz tidak kuasa menolak.
"Baik, Mas akan beli. Tunggu ya, Sayangku."
Aziz mengecup kening Khumaira mesra, lalu beranjak dari ranjang. Di pikir pakai logika jam 1 dini hari bakso apa yang buka? Apa bakso Nyonya kunti atau bakso Tuan Goblin?
"Dek, serius ini jam 1 loh. Mas serius suruh membeli bakso?"
"Memang kenapa? Jangan bilang tidak mau, his Mas jahat sama Adek, ngambek nih. Sekarang Mas tidak cinta sama, Adek, huhuhu kejam. Mas sudah tidak sayang sama, Adek. Jahat sekali Suamiku ini, hiks," drama Khumaira seraya menangis memilukan.
Aziz kalang kabut mendengar perkataan Khumaira yang penuh drama. Dia hendak menyentuh Istrinya, tetapi tertapis kasar. Ia tidak kuasa melihat Istrinya menangis sampai tersedu-sedu begitu.
"Jangan sentuh, Adek sebelum ada bakso!" tegas Khumaira.
Aziz memijat pangkal hidung sedikit kasar. Ya Allah, izinkan Aziz memakan Khumaira lalu minta jatah. Dia menghembus napas ringan kemudian tersenyum semanis mungkin.
"Dek, nanti Mas ketemu Mbak Kunti bagaimana?"
Khumaira mencebik bibir mendengar perkataan Aziz. Dia memajukan bibir menandakan betapa sebal dirinya. Suaminya banyak alasan membuat Khumaira ingin mengucek pipi tirus itu.
"Ajak kenalan."
"Serius? Nanti Mas di gondol Mbak Kunti bagaimana? Kan Mas tampan menawan tidak terbantahkan pasti banyak wanita mengerubungi Mas. Yah, Mbak Kunti itu pasti mengajak kencan lalu minta no Wa. Nah kalau minta selfie bagaimana?"
Aziz menyandarkan tubuh di lemari seraya tangan bersedekap dada. Alisnya dia naik turunkan untuk menggoda Khumaira. Biar saja sesekali dia goda Istri nakalnya.
Khumaira malah tertawa mendengar balasan Aziz. Sungguh Suaminya sangat konyol soal kenarsisan. Memang ada Mbak Kunti minta no Wa dan mengajak foto. Dasar orang aneh dan itu Suaminya.
"Mbak Kunti juga ngga bakal mau sama, Mas. Memang Mbaknya punya ponsel pakai minta no Wa dan foto. Gih belikan bakso sekarang!"
"He, Kunti jaman now sangat berbahaya, Dek. Mereka mengincar cowok ganteng macam, Mas. Bahaya lagi kalau Mas ketemu sama Mbak cantik pesan 200 tusuk sate dan ngga bayar. Ada-ada saja dasar ngga modal, mau makan kok ngga bayar. 200 tusuk sate itu banyak dan si Mbak mengutang di akhirat dapat denda gara-gara malak ngga mau bayar."
Aziz mengomel dengan tampang lugu. Dia memainkan alis agar terlihat keren. Wajah tampannya begitu menjengkelkan minta di tabok sandal. Semua terasa lucu ketika Aziz kumat jadi orang aneh.
Khumaira tertawa renyah mendengar perkataan Aziz. Ya Allah, kenapa bisa ia hidup bersama orang macam Aziz? Tolong siapa pun ikat Suaminya di pohon toge.
"Baiklah, Mas cepat berangkat cari bakso Adek lapar!" Khumaira tidak mau Aziz semakin parah melawak. Bisa gawat kalau terus di lanjut Suaminya bakal di unyel-unyel.
"Baiklah, Mas berangkat dulu."
Aziz menyelong pergi tanpa sadar akan kondisinya. Dia berhenti di depan pintu saat Khumaira memanggil. Ia menaikan satu alisnya minta penjelasan. Sebenarnya ada apa dengan khumaira sehingga menahan Aziz?
"Mas mau membeli bakso hanya pakai kolor?"
Aziz melihat dirinya dan benar hanya kolor yang menutup area privasi dan semua polos. Pria tampan ini menyengir polos seraya menggaruk pipinya tidak gatal. Aziz buru-buru meraih jaket dan celana training tanpa dalaman kaus.
"Mas pergi dulu, doakan para Fans tidak menculik, Mas!"
“Iya, terserah Mas saja mau bilang apa. Sana pergi beli bakso!"
“Baiklah Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,” salam Aziz setelah itu pergi mencari pesanan Khumaira.
“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Khumaira hanya menggeleng kepala melihat kelakuan Aziz. Kenapa bisa mendapat Suami super aneh sepeti Aziz? Karena kelucuan Aziz hari-harinya sangat berwarna. Tidak terasa tangan mungil Khumaira mengusap perutnya yang mulai membuncit.
"Sabar ya Dedek, Ayah akan belikan bakso."
Khumaira sedang asyik ngemil seraya nonton TV, sementara Aziz pening mencari penjual bakso jumbo. Kedua orang ini sangat lucu jika saling debat atau meminta sesuatu. Semakin hari hubungan Aziz dan Khumaira semakin dekat penuh cinta.
***
Apa yang lebih menjengkelkan dari pada ini. Di bangunkan jam 1 dini hari suruh membeli bakso. Aku mencari ke sana kemari mencari penjual bakso yang buka. Setelah di pusat kota Yogyakarta akhirnya menemukan rumah makan.
Bersyukurlah wahai makhluk tampan karena ada bakso. Aku pesan bakso biasa dan jumbo. Kemudian pulang dan saat sampai rumah Istriku menyambut dengan senyuman. Lega rasanya, tetapi langsung kicep saat Dek Syafa mengatakan sudah tidak membutuhkan bakso. Alhasil aku merajuk di pojok ruangan.
Allahu akbar Walillaahil-Hamd, hamba begitu ingin melepas kendali. Ingin menjamah Istriku penuh hasrat. Arghh, Dek Syafa membuat pening. Sabar wahai Aziz si mahluk tampan overdose.
Sekarang jam setengah 3 pagi, sekalian Shalat tahajud lalu membaca Al-Qur'an beberapa ruku. Aku taruh bakso di kulkas, mungkin besok pagi kami makan. Apa lagi Dedek Ridwan sangat suka bakso.
"Ayo, Mas ... tapi, gendong."
Aku tersenyum mendengar kemanjaan Istriku. Aku angkat tubuh berisinya menuju kamar. Semua terasa membahagiakan untukku. Awalnya ingin merajuk, tapi saat mendapat kecupan sayang di pipi membuatku luluh. Tahu saja jika Mas marah ingin cium, hihihi.
Setelah Shalat tahajud, aku dan Dek Syafa membaca Al-Qur'an. Benar saja Istriku tertidur pulas usai mengaji. Dia bersandar di bahuku dan lihat betapa manis Istriku ini. Aku mengagumi sosok bidadari di sampingku ini.
Aku sudahi membaca Al-Qur'an, kemudian melepas mukena Istriku. Aku lepas sarung dan kopiah sebelum itu menidurkan Istriku hati-hati. Perlahan tetapi pasti aku lepas mukena Istriku lalu melipatnya. Usai semua itu dengan hati-hati aku mengangkat Dek Syafa agar berbaring di ranjang.
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."
Aku juga mengantuk makanya memilih tidur kembali sembari merengkuh Istriku. Aku cium beberapa kali wajahnya yang merona alami. Aku mencari kenyamanan sebelum tidur menyusul Istriku.
3 hari kemudian, Dek Syafa merengek manja. Persia kucing minta di pungut, ya Allah kuatkan hamba menerima cobaan keimutan Istriku.
"Ada apa, Dek? Mau minta apa, Hm?"
Sudah ku duga Istriku ingin sesuatu. Benar saja Dek Syafa bertepuk tangan heboh kemudian merengkuh pinggulku posesif. Ya Allah, imut sekali. Kalau mintanya menggemaskan seperti ini mana bisa menolak. Bahkan dengan senang hati akan kuberikan apa pun keinginan, Dek Syafa.
"Mas, nanti setelah pulang kantor belikan Adek bakwan."
Alhamdulillah ya Allah, Istriku tidak minta yang aneh-aneh. Aku mengaguk setuju, setelah mengatakan iya aku mengecup bibirnya.
"Tapi bakwan rasa semangka, Mas."
Eh? Tunggu, demi kolor Seponbob memang ada bakwan rasa semangka? Katakan padaku, apa Istri mengidam begitu absurd?
Allahu Akbar, kuatkan makhluk tampan ini ya Allah.
"Dek, apa ada bakwan rasa semangka? Nanti deh Mas searching tentang bakwan rasa semangka."
"Harus ada, pokoknya yang banyak ya Mas."
"Baik, Mas berangkat kantor dulu. Dedek, Ayah berangkat dulu, sini Ayah cium."
Tole Ridwan tersenyum cerah kemudian mendekat. Si kecil meminta ikut alhasil aku bawa Dedek ke kantor. Lagian di kantor begitu sepi tanpa ocehan Putraku. Aku bawa Tole alasannya karena ingin selalu bersama Dedek Ridwan.
Kami berangkat, Dek Syafa menciumi pipi gembul Dedek Ridwan dan memberikan wejangan panjang. Ok sekarang aku harus kena karma soal Dek Syafa menyumpahi aku dulu. Ksrma is real, benar?
Aku kecup kening Istriku dan dia mengecup punggung tanganku. Sebelum pergi aku sempatkan mengecup pipi gembul luar biasa menggemaskan itu. Setelah itu aku berangkat kantor bersama Dedek Ridwan.
***
Apa lagi ini, aku di suruh Istriku membeli jus buah naga tanpa biji buahnya. Ajaib, demi Upan dan Ipon yang gundul tidak pernah besar aku frustrasi.
Banyak sekali mengidam aneh Dek Syafa sampai kepala pusing. Dan paling tidak ku suka saat ini, banyak karyawan menatap aku penuh arti. Mereka menahan geli dan tawa.
Astagfirullahaladzim, orang tampan ngga boleh mundur. Jangan tertawa juga mariman atau aku lempar dolar.
Mau tahu alasannya kenapa mereka tertawa geli? Ini alasanya, tetapi jangan tertawa geli!
Dek Syafa, menyuruh aku memakai pakaian warna Baby blue, Alhamdulillah. Pasalnya aku punya jas dan celana warna lembut itu. Tetapi, ingat ada tetapi yang bikin gedek setengah mampus. Pokoknya gedeknya sampai mau bakar semua hal berbau bandana.
Aku harus pakai bandana kucing warna senada. Wasalam, tolong aku dari tawa mereka. Sehari penuh aku pakai bandana ini dan saat rapat mereka tidak konsentrasi. Gara-gara Dek Syafa si biang kerok kalau tidak cinta mana sudi aku begini. Ingat si ganteng overdose macam Aziz itu karismanya begitu memikat tentunya machoable. Kalau begini aku terkesan jatuh ke dasar jurang gara-gara Istriku yang sangat kucintai. Dasar budak cinta!
Ya Allah, apa anakku kelak begitu ajaib? Ngidam Dek Syafa saja ajaibnya minta ampun pasti ya ajaib. Ampun semoga tidak ketularan gila, Ayahnya.
Hah, rasanya lucu juga merasakan hormon kehamilan Istriku. Dia begitu imut saat manja dan merengek. Bahkan ia dengan suka cita meminta tanpa rasa sungkan.
Aku akui, semua yang di idamkan Dek Syafa ngga ada yang normal, tetapi aku sangat bahagia bisa siap siaga. Walau kepala terasa mau pecah menghadapi betapa aneh Istriku. Tidak apa karena aku bisa merasakan betapa beruntung menjadi Suami dan calon Ayah siap siaga.
"Mas ... besok belikan rendang rasa bebek ya, Mas."
Pertanyaan paling indah, sampai kapan Istriku mengidam begitu absurd? Ok sekarang aku harus minta restoran ternama buat rendang rasa bebek paling enak. Tidak masalah asal Istriku senang aku juga senang.
Sabar Aziz, orang sabar tambah tampan. Asyik ....!
"Insya Allah, kita akan beli itu sekalian jalan bareng menuju taman kota. Dedek Ridwan pasti sangat senang di bawa ke taman. Adek juga boleh minta apa pun."
"Serius, Mas?"
Perasaan apa ini seperti ada terompet kesialan akan terjadi. Aku merasa tidak enak mendengar perkataan Istriku yang manis. Semoga di taman besok aku tidak mendapat hal aneh. Semoga saja Aziz si ganteng tidak terbantahkan tidak di kerjai Istrinya, Amin.
Dedek Ridwan, mendusel di pelukan Dek Syafa. Akhirnya setelah lama mengoceh akhirnya Dedek kecil tertidur begitu pun dengan Dek Syafa. Kini kedua malaikatku tidur dalam dekapanku. Aku Dek Syafa dan Dedek tidur bertiga penuh suka cita.
Aku sangat mencintai kalian, semoga kita bahagia selalu, Amin. Aku kecup kening Istri dan Putraku penuh sayang. Semoga kalian mimpi indah. Amin.