
Jujur saja aku takut banget baca komentar kalian.
Rose sadar kok stori ini anti-mainstream banget. Banyak konflik dan ngebosenin.
Maka dari itu Rose Izinkan kalian unfavorit lalu jangan baca.
Jika mau menunggu Insya Allah 6_7 Chapter lagi mereka bertemu. Dan mereka akan bersama atas izin Allah melalui perantara Mas Azzam.
Aku takut banget baca komentar kalian jadi maaf ya ngga baca.
Sekali lagi tolong jika kalian setia sama stori' ngebosenin ini tolong bertahan. Jika tidak kalian bisa berhenti baca novel Rose yang anti-mainstream ini.
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
***///~•~\*
Jasmin mengambil ponsel dan dompet Aziz yang terlempar cukup jauh. Dia tersenyum tipis saat melihat ponsel prianya masih bisa menyala. Dengan sini ia mendecih sebal saat tahu ponsel ini memakai sandi rumit. Dengan sebal Jasmin ambil sim card supaya bisa stalking Aziz.
"Sial, aku ingin jadi Stalker, Kak Aziz."
Jasmin membanting ponsel Aziz sampai remuk. Dia lempar ponsel itu ke tengah jalan. Biarkan saja ponsel hancur asal sim card ada di tangannya. Buru-buru Jasmin datangi koper Aziz yang terlempar di pinggir jalan. Hingga ia kikuk saat Polisi menanyai kenapa bisa mengenal barang milik korban?
Setelah menjawab panjang lebar pertanyaan Polisi, akhirnya Jasmin lolos dari mereka. Tanpa babibu lagi ia berjalan cepat menuju mobil seraya membawa koper Aziz. Jasmin menaruh koper di bagasi dan memasukkan dompet Aziz di dasbor.
10 menit kemudian, Jasmin tiba di rumah sakit yang ada di pusat kota Singapura. Dia langsung keluar sembari membawa ponsel dan tasnya. Sesampainya di dalam Jasmin bertanya mengenai pasien korban kecelakaan.
Jasmin tersenyum setelah tahu Aziz ada di mana. Dengan segera ia berjalan ke tempat Aziz di tangani. Tubuhnya bergetar ketakutan saat Suster dan Dokter keluar. Dari sepengetahuan pasti ada kabar duka yang akan disampaikan.
"Hubungi Rumah Sakit lain meminta bantuan transfusi darah. Kita harus melakukan operasi besar untuk menyelamatkan nyawanya. Katakan pada Doktor Andrea, kita butuh darah AB+ segera!" titah Doktor Timothy.
"Baik, Prof!"
Suster itu nyaris beranjak sebelum suara merdu mengalun indah. Dia menyengit melihat seorang gadis cantik berperawakan tinggi semampai berseru. Sangat cantik dengan keanggunan memikat.
Doktor Timothy dan Suster saling pandang. Ada gerangan apa gadis cantik ini menghentikan mereka? Sungguh tidak ada waktu meladeni gadis itu. Pasalnya nyawa pasien dalam keadaan kritis buruh penanganan segera.
Jasmin bersikap seanggun mungkin agar mereka bisa ditaklukkan. Masa bodoh yang jelas ia harus bisa menyelamatkan pria itu. Ini salahnya wajar bersikap gila seperti halnya seorang wanita murahan. Jasmin akan taklukan Aziz apa pun caranya walau harus berbuat licik.
"Maaf kami tidak ada waktu meladeni perkataan, Anda!" seru Suster sebelum pergi.
"Saya akan mendonorkan darah, pasalnya rasio darah kami sama. Dia orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Ayah saya. Jadi, ayo segera ambil darah saya untuk menyelamatkan nyawanya."
Jasmin cukup bersyukur karena darahnya memiliki golongan yang sama. Dengan begini setidaknya bisa menebus kesalahannya telah membuat Aziz kecelakaan. Senyum merekah saat mereka mengucap syukur. Hingga akhirnya Jasmin mengikuti Suster di ruang yang di siapkan.
Suster mengambil 200 cc (cubic centimeter) darah Jasmin. Usai melakukan transfusi darah Suster menyarankan Jasmin istirahat dulu. Tidak lama salah satu perawat memberikan vitamin pada Jasmin dan Suster tadi sudah beranjak ke ruang operasi.
"Apa Anda tahu pasien kecelakaan harus melakukan operasi besar apa?" tanya Jasmin pada salah satu Suster dan perawat.
"Pasien mengalami luka serius, Nona. Kata Dokter pasien mengalami pendarahan pada otak akibat benturan cukup serius. Pasien mengalami cedera kepala dan harus melakukan operasi tulang. Akibat kecelakaan tadi pasien mengalami luka serius seperti : tulang rusuk patah, bekas operasi tulang di bahu mengalami pergeseran. Tangan kiri dan kaki kanan patah. Kondisi pasien kata Dokter Jack sangat mengkhawatirkan."
Jawaban salah satu dari mereka membuat Jasmin bergetar ketakutan. Dampaknya hebat sekali sampai separah itu. Jika di ingat lagi ia yang melakukan konspirasi kecelakaan Aziz. Dari mengancam Hans agar melakukan itu semua. Dia membuat rem blong pada mobilnya.
Jasmin bahkan dengan kejam melakukan kesepakatan pada Hans. Saat itu anak Hans butuh biaya untuk melakukan operasi transplantasi ginjal. Karena Hans tidak punya biaya terpaksa menyetujui permintaan gilanya. Dia akan membiayai operasi besar anak Hans jika mau melakukan sebuah permintaan gilanya.
Karena dari itu Jasmin berhasil membuat Hans menuruti keinginannya. Namun, dari sini semua tidaklah sama pasalnya kecelakaan itu begitu mengerikan. Mau tidak mau ia harus menebus kesalahannya dengan menjaga Aziz. Apa pun itu Jasmin akan menjaga Aziz walau harus tertolak.
Mungkin dari itu Jasmin akan meraih segala kesempatan agar Aziz jadi miliknya. Cintanya begitu besar pada pria rupawan itu yang sukses mengambil atensinya. Dia tidak pernah jatuh cinta, tetapi saat bertemu pria itu rasa itu datang membuatnya gila. Sedari kecil Jasmin sudah mendapat apa pun yang diinginkan. Maka dari itu Aziz harus jadi miliknya.
***///•\*
Jasmin menatap tidak percaya Aziz dari ruang usai melakukan operasi besar. Tadi dia menunggu kurang lebih 10 jam untuk menerima hasil operasi. Dengan rasa syukur Jasmin panjatkan ketika operasi berhasil.
Wajah Jasmin menyendu saat Dokter mengatakan bahwa Aziz koma. Dia merasa gila telah membuat prianya terluka begitu parah. Hatinya begitu ngilu ketika banyak selang bersarang pada tubuh kekar pria itu. Jasmin jadi ingin meraih Aziz lalu memberikan segala kebahagiaan.
"Maaf, Kak."
Sedari tadi ponselnya berdenting dan ia tercengang saat tahu Istri Aziz yang menelepon. Jasmin mengambil peran manis yang mengatakan bahwa Aziz tidak bisa pulang untuk beberapa hari ke depan. Pasalnya kontrak kerja masih panjang atau di penjara karena telah membatalkan kontrak. Banyak berbohong tidak apa kan?
Jasmin tersenyum penuh kemenangan saat Istri Aziz di kulabui perihal kondisi sebenarnya. Dia memanipulasi sakit Aziz dengan dalih ingin bersama. Gadis ini tidak akan memberitahu tentang Aziz yang terkulai lemah. Biarkan mereka berspekulasi bahwa prianya kerja tanpa bisa pulang.
Bahkan Kakak prianya menelepon menanyakan kabar Aziz. Tetapi, Jasmin tetap menjawab pertanyaan seperti sebelumnya. Dari semua yang dia tangkap hal mengejutkan terjadi saat tahu Khumaira adalah mantan Istri Kakak ipar Aziz. Dia tanpa sengaja menyebut nama Khumaira dan Azzam refleks mengatakan Istriku.
"Ribet, sekali ya. Jadi Khumaira mantan Kak Azzam. Lalu Kak Aziz menikahi Khumaira. Aku harus mencari tahu lebih banyak mengenai masalah ini. Aku akan sewa seseorang untuk menyelidiki ini semua."
Lain sisi Khumaira terlihat gelisah memikirkan kondisi Suaminya. Sejak semalam Aziz tidak memberi kabar apa pun. Saat menelepon malah wanita yang mengangkat panggilannya. Jujur saja ia kesal saat seorang wanita yang mengangkat panggilannya. Namun, Khumaira berusaha berpikir positif agar tidak salah paham pada Aziz.
Dia yang pusing memutuskan untuk tidak ambil pusing siapa Jasmin. Mungkin saja wanita itu hanya sekretaris atau seseorang yang di kenal Suaminya. Mau tidak mau Khumaira harus bersikap rasional agar bahtera cinta mereka tidak ada yang mencekal. Khumaira berharap semoga saja Aziz baik-baik saja dan tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita bernama Jasmin.
Ridwan dan Mumtaaz selalu menangis sesenggukan sembari menyebut Ayah. Keduanya begitu tertekan memikirkan kondisi Ayahnya yang tenggelam tidak ada kabar. Entah kenapa hati kedua anak tampan ini begitu khawatir memikirkan Ayah mereka.
Khumaira tidak tahu yang jelas setiap menelepon Aziz yang mengangkat Jasmin. Jika melakukan video call maka tidak yang mengangkat wanita itu lagi. Sampai 5 hari tetap sama dan itu membuat Khumaira merasa geram pada Jasmin.
Kalau Khumaira mengirim pesan maka Jawabannya seperti biasa. Jika tidak pasti terdengar aneh bukan terlihat rancu. Kenapa Khumaira merasa ada yang aneh dengan Aziz? Kenapa ia merasa Suaminya berada dalam keadaan kurang baik.
"Mas Aziz, kapan pulang? Adek rindu dengan Mas. Tolong angkat panggilan Adek karena kami begitu khawatir. Mas tolong katakan sebenarnya ada apa? Kenapa perasaan Adek begitu khawatir mengenai kondisi Mas. Sebenarnya apa yang terjadi pada, Mas Aziz? Hatiku selalu menolak saat wanita itu bilang Masku baik-baik saja. Aku merasa Masku ada masalah yang membuat ia tidak mampu apa-apa. Mas Aziz, tolong maafkan Adek yang selalu berpikir negatif tentang kesehatan, Mas. Adek merasa hal besar terjadi pada, Mas. Setiap saat jantungku terasa sesak dan selalu menangis jika teringat, Mas. Aku merasa firasat buruk tentang, Suamiku. Ya Allah, hamba selalu meminta agar Engkau melindungi Suamiku. Ya Allah, jika Mas Aziz dalam keadaan kurang baik maka lindungi dan beri kesehatan untuknya. Aku sangat mencintaimu karena Allah. Semoga Mas baik-baik saja dan lekas pulang. Adek serta anak-anak menunggu kedatangan, Mas. Kami sangat merindukan Mas dan sangat khawatir. Semoga Mas Aziz lekas pulang agar penantian kami terbayar," monolog Khumaira.
Khumaira terus merapal kata penenang bagi dua anaknya. Dia tidak akan sanggup melihat Ridwan dan Mumtaaz menangis histeris memanggil Ayah. Hatinya sakit merasakan apa yang di rasakan kedua Putranya. Sehingga Khumaira harus berjuang keras untuk menenangkan Ridwan dan Mumtaaz dari rasa gelisah.
***///•\*
20 hari kemudian ....
Mata tajam itu perlahan terbuka setelah 20 hari tertutup rapat. Aziz menggeram kesakitan tatkala bergerak. Dia merasa Kepalnya terasa berdenyut nyeri. Apa lagi tubuhnya terasa kebas sangking sakitnya. Aziz merasa frustrasi menerima sakit luar biasa pada sekujur tubuh.
Jasmin menekan tombol darurat agar Dokter cepat menangani Aziz. Dia khawatir saat pria dewasa itu menggeram kesakitan. Ia bersyukur mengetahui Aziz sudah siuman dari koma. Tadi ia berniat menunggu pria itu siuman sembari membaca novel. Namun, sebuah erangan membuat Jasmin langsung memanggil Dokter.
Dokter memberikan penanganan pertama untuk Aziz. Mereka cukup bersyukur pasien mereka tidak mengalami komplikasi. Para Dokter berharap Aziz lekas sembuh dari cedera. Walau membutuhkan waktu sanggatlah lama.
"Di mana aku?" tanya Aziz tampak bingung melihat Dokter dan Suster. Di juga sudah minum air cukup banyak.
"Anda berada di rumah sakit, Tuan. Istirahatlah karena kondisi Anda tidak memungkinkan untuk lama terjaga."
"Apa rumah a? Saya harus ke Singapura, Dokter. Ada kontrak kerja yang harus saya laksanakan," lirih Aziz.
Jasmin kaget mendengar perkataan Aziz yang lirih. Apa ada sesuatu yang terjadi pada pria ini? Kenapa tidak ingat perihal Singapura? Apa jangan-jangan Aziz kehilangan memori? Kalau benar itu sebuah keuntungan untuk Jasmin memanfaatkan keadaan Aziz.
"Ya Tuhan. Apa yang Anda ingat?" tanya Dokter Timothy berusaha memastikan.
Aziz bingung sendiri memikirkan apa yang di ingat. Dia merasa melupakan sesuatu yang penting. Namun, apa yang dia lupakan sampai menjanggal pikiran dan rasanya begitu menyakitkan? Dia berusaha ingat namun Aziz tetap lupa. Rasanya sakit sampai dia menggerang kesakitan.
Doktor Timothy merasa kasihan melihat Aziz begitu tersiksa. Semoga saja pasiennya tidak kehilangan memori. Dia harus membuat pasien ingat walau sedikit demi sedikit. Sebagai Dokter sudah tugasnya berusaha membuat pasien sehat. Doktor Timothy berharap agar Aziz ingat walau sedikit saja.
"Jangan di paksa jika tidak ingat. Anda mengenal nama sendiri bukan? Di mana Anda tinggal? Apa Anda sudah berkeluarga?"
"Nama saya Muhammad Abdul Aziz, tinggal di Berbah Yogyakarta. Saya sudah berkeluarga, Istriku namanya Khumaira Syafa Al-Marwa dan saya punya dua anak tampan seperti saya. Saya sangat mencintai mereka dan entah kenapa berada di sini. Seingat saya ... saya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Singapura. Setelah itu tidak ingat apa yang terjadi. Sebenarnya ada yang saya lupa tetapi apa?"
Penjelasan Aziz begitu lugas mengungkapkan segalanya. Dia menunduk sedih saat ingat perpisahan sebelum berangkat ke Singapura. Aziz begitu sedih sampai air mata luruh deras mengingat kesedihan itu. Namun, ia langsung menghapus air matanya kasar. Tidak boleh lama pasalnya Aziz harus tegar agar Khumaira dan Azzam bahagia.
Ingatan kelabu seperti ada hal besar yang di lupakan membuat Aziz tertekan. Kepalanya berdenyut nyeri sampai pandangan berputar-putar. Karena tidak kuat ia memutuskan untuk istirahat menuruti perkataan Dokter. Aziz harap setalah bangun akan ingat apa yang di lupakan.
Jasmin tersenyum penuh kemenangan mendengar percakapan Dokter dan Aziz. Jika begini ia bisa melakukan sesuatu yang fatal. Sedikit mengadu domba agar mereka pisah sepertinya manis. Jasmin akan menjadikan hilang ingatan sebagian memori 1 bulan terakhir sebagai tombak kemenangannya.
1 hari Aziz diam tanpa suara mengingat rasa pilu ingat perpisahan bersama Khumaira. Walau belum berpisah namun ia sadar kurang 3 bulan lebih maka surat itu akan ada di tangan. Sebenarnya apa yang di lupakan olehnya? Aziz seperti kehilangan sebuah harapan serta segala cinta yang di punya?
"Kak," panggil Jasmin.
"Siapa Anda?" tanya Aziz dingin.
"Aku Jasmin teman Kakak. Aku putri pemilik Douglas Company. Pasti ingat siapa aku?"
Aziz heran sendiri pada Jasmin yang sok kenal. Dasar gadis aneh sok kenal sekali sampai membuatnya risi. Dia mendecih sebal karena gadis ini begitu sok akrab. Siapa gadis aneh ini? Aziz tidak peduli sikap sinisnya menyakiti gadis bernama Jasmin.
Jasmin berusaha akrab agar Aziz mempercayai tipu daya. Segala rencana telah tersusun maka ia akan berjuang menaklukkan prianya. Tidak peduli caranya yang pasti harus menghancurkan hubungan sakral pria ini. Jasmin akan mengambil Aziz dari Khumaira apa pun caranya.
"Maaf aku tidak kenal Anda! Pergilah jangan temui saya. Jangan berani menyentuh saya karena kita bukan mahram. Aku sudah punya Istri yang sangat kucintai dan jangan berharap lebih!" tegas Aziz terdengar sangat dingin di dengar.
Jasmin tersenyum kecut mendengar jawaban Aziz. Pria ini dingin seperti kutub utara. Sangat tajam sampai Jasmin ingin marah pada Aziz. Dari awal memang pria ini terkesan dingin tidak ada manis-manisnya. Namun, sikap inilah yang menariknya agar memadatkan pria ini.
"Anda sudah bercerai dengan Istrimu. Anda tahu kita begitu dekat bahkan Kakak sudah menggagap aku Adik sendiri. Kakak sudah 5 bulan di Singapura dan kalian sudah pisah. Lihat tidak ada cincin kawin pengikat Kak Aziz dan Mbak Khumaira. Istrimu bahkan tega mengundang Kakak untuk menghadiri acara membangun pernikahan kembali bersama Suami pertamanya yaitu Azzam. Kak Aziz tahu gara-gara memenuhi undangan pernikahan itu kamu kecelakaan hebat. Sebelum sampai bandara Kak Aziz mengalami insiden mengerikan. Ponsel Kakak rusak parah tidak bisa di gunakan. Jadi, saya tidak bisa menelepon mereka. Lalu saya kenal Khumaira dan Azzam dari Kakak karena Kakak anggap saya adalah Adik sendiri."
Jasmin berusaha memainkan peran utama yang baik. Semoga saja Aziz percaya dengan kebohongan yang ia ucapkan. Dia bisa tahu semua itu karena jasa informan. Jasmin cukup bersyukur bisa memainkan peran yang sempurna.
Aziz menyengit bingung mendengar penjelasan Jasmin. Apa 5 bulan di sini? Pisah dengan Khumaira? Kapan? Sepertinya Aziz sedang di permainkan oleh wanita aneh ini. Enak saja membodohi dirinya seenak jidat.
"Saya bukan orang bodoh yang bisa di tipu. Di mana cincinku? Kamu tidak usah mengarang cerita karena saya bukan orang bodoh yang bisa di adu domba. Cinta dan keyakinanku kuat bahwa kami belum berpisah. Kami saling mencintai tanpa syarat dan ingat saya tidak kenal Anda. Yakinlah satu hal saya sangat mencintai Istri dan anak-anakku. Pergilah dan jadilah artis karena dramamu tidak berarti!"
Aziz berucap begitu sarkasme ciri khasnya. Jika tidak mengenalnya maka semua orang akan beranggapan ia adalah kutub utara berlidah tajam. Namun, jika sudah nyaman dan kenal maka sosoknya begitu hangat penuh canda tawa. Tidak ada yang tahu betapa gila dirinya jika bersama orang-orang yang disayangi. Aziz sanggatlah tajam apa lagi lidahnya begitu menusuk jantung jika sudah bicara.
Jasmin merasa tertohok mendengar jawaban sinis Aziz. Dia kira pria ini mudah di tipu oleh akal bulusnya. Sepertinya dia harus ekstra hati-hati mempengaruhi Aziz yang keras penuh tantangan. Jasmin akan melakukan berbagai cara agar Aziz jadi miliknya apa pun caranya.
Melihat Jasmin tetap berdiri di sisi ranjangnya membuat Aziz meradang. Dia usir kasar wanita gila ini bahkan tanpa segan meninggikan suara. Masa bodoh dia sangat jijik melihat wanita dok kenal sok akrab dan apa itu mempengaruhi pikirannya. Jangan harap terkelabu oleh perkataan wanita itu. Aziz masih sangat yakin Syafa-nya masihlah jadi Istrinya.
"Dek Syafa, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku lupa sesuatu tetapi apa? Istriku apa Adek baik-baik saja? Dek, tolong katakan pada Mas semua ini omong kosong. Mas yakin ada sesuatu yang terlupakan. Anak-anakku sayang maafkan Ayah belum bisa menghubungi kalian. Ingat Nak kita akan berjumpa kembali Insya Allah secepatnya. Aku begitu bingung kenapa ada di sini? Kenapa aku tidak ingat beberapa bulan terakhir? Istri dan anak-anakku sayang, apa kalian begitu merindukan, Ayah? Sungguh kami sangat merindukan kalian. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Ayah sangat mencintai dan merindukan Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz sepenuh hati. Semoga Ayah cepat sembuh agar bisa pulang. Aku harus pulang agar cepat tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ya Allah, kenapa aku lupa beberapa bulan terakhir?" monolog Aziz dalam hati.
Aziz murung memikirkan keadaannya begitu menyedihkan. Dia ingin ingat namun kepalanya terasa sakit saat berusaha ingat. Karena lelah akhirnya Aziz tertidur pulas. Sungguh ia tidak ingin sebuah luka membuatnya lemah. Semoga saja Aziz mampu berjuang melewati segalanya.
Harapan terbesar Aziz lekas pulih lalu pulang ke Indonesia menemui anak-anak dan Istrinya. Lalu meminta kejelasan perihal kenapa bisa ada di sini. Sepertinya dia ini tidaklah mungkin lupa sebuah kisah cinta. Keyakinan itu ada dan pastinya mereka belum berpisah. Aziz berharap semoga Allah memberikan hidayah agar dirinya lekas sembuh. Dengan kesembuhan itu Aziz bisa bertemu Khumaira dan anak-anak tersayang.
****////~•~\\****
Aku cepetin alurnya biar Mas Aziz cepat pulang.
Sekadar informasi Mas Aziz tidak kan bisa ditaklukkan Jasmin. Bahkan ia tetap kukuh cinta sama Dek Syafa.
Mereka akan bersama atas takdir indah yang Allah berikan. Dan perantara mereka bersama adalah Mas Azzam.
Jelas bukan stori ini begitu gila, banyak konflik, anti-mainstream dan menguras emosi.
Jika kalian mau mundur mundurlah. Jika kalian setia Alhamdulillah.