Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Welcome to Malaysia!



*Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Bagaimana kabar kalian?


Penasaran Mas Emran itu siapa?


Cus ikuti saja kisah ini*.


***///\ ***


Aziz menyeret koper menuju perkarakan rumah. Hari ini adalah hari paling mendebarkan, pasalnya dia akan pergi ke Malaysia selama 6 minggu. Di depan gerbang sudah ada mobil Van milik perusahaan. Pasti Aziz akan sangat rindu pada Khumaira dan anak-anak. Sebenarnya mau mengajak mereka, tetapi Ridwan sekolah. Alhasil Aziz sendiri yang pergi tanpa di temani Istri serta anak-anak tersayang.


Khumaira tersenyum teduh mengantar Aziz sampai gerbang rumah. Terlihat dua Putranya tetap meraih tangan besar Suaminya agar tidak pergi. Mereka pasti sangat rindu pada Aziz jika sang Ayah pergi lama. Jujur Khumaira juga tidak rela Suaminya ke Malaysia.


"Maafkan Ayah harus pergi cukup lama. Janji Ayah akan membawa hadiah banyak untuk kalian. Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz ngga boleh nakal selagi Ayah ke Malaysia. Ingat, jangan merepotkan Umi berlebih. Jika bisa kerjakan sendiri jangan jadi manja. Anak-anakku tersayang sini peluk, Ayah."


Aziz memberikan petuah pada Ridwan dan Mumtaaz. Semoga saja wajengan panjang kali lebar mempan untuk dua Putranya. Dia merengkuh erat Ridwan dan Mumtaaz sembari menciumi puncak kepala sang Putra. Entah kenapa rasanya akan terasa berat Aziz merengkuh mereka lagi.


Ridwan dan Mumtaaz merengkuh Aziz sembari menangis sesegukan. Bagi mereka Ayah mereka adalah panutan selain Ibunya. Mereka tidak bisa pisah lama dengan Aziz ,apa lagi sampai 6 minggu. Semoga saja cepat pulang membawa berkah dengan hadiah berlimpah.


Aziz merengkuh Khumaira erat setelah melepas pelukan pada dua anaknya. Dia mencium kening Istrinya di depan umum. Siapa peduli? Kalau pingen pulang ke rumah cari pasangan. Dia tidak akan sanggup pisah lama dengan Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz. Bagi Aziz mereka adalah hidup serta dunia penuh kebahagiaan.


Khumaira tersenyum malu-malu saat mendapati teman-teman Aziz tampak menggoda mereka. Dia tidak tahu kenapa bisa Suaminya pamer kemesraan di depan umum? Kalau begini ia jadi tidak mau di tinggal Suaminya walau sebentar saja. Dari pada memikirkan banyak hal lebih baik ia fokus. Khumaira jadi berdegup kencang saat ingat Aziz akan lama ke luar negeri.


"Ya sudah, Ayah berangkat dulu. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." salam Aziz


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, hati-hati Ayah. Jangan lupa berdoa sepanjang perjalanan. Kami sayang, Ayah!" kor khumaira dan anak-anak.


Aziz tersenyum mendengar perkataan Istri dan anak-anaknya. Keluarga kecil salaman dengan mengecup punggung tangannya.  Lalu dia berikan ciuman sayang di kening Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz. Setelah itu melangkah menuju dalem mobil. Aziz melambaikan tangan seraya tersenyum teduh melihat mereka.


Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz membalas lambaian tangan Aziz. Mereka tersenyum tatkala kepala keluarga melempar senyum teduh. Sungguh hati mereka sangat sakit di tinggal cukup lama. Biasanya kepala keluarga itu pergi paling lama satu Minggu. Mau tidak mau harus menahan rindu yang membuncah pada Aziz.


Mobil Van melaju meninggalkan area rumah Aziz. Mobil kantor melaju dengan kecepatan sedang membelah kecamatan Berbah, Sleman, Yogyakarta. Tujuan mereka ada di Bandar udara internasional Adisutjipto. Cukup dekat dari rumah Aziz, pasalnya kurang dari 15 menit mereka sampai bandara.


Aziz menelepon Khumaira memberi tahu telah sampai bandara. Dia tersenyum saja saat Romli dan rekan lainya menggoda. Sudah biasa menerima godaan makanya Aziz lempeng. Selagi menunggu pesawat take Off  Aziz menyibukkan diri membalas pesan khumaira. Padahal baru 15 menit berpisah sudah rindu setengah hidup.


Bibir Aziz tampak merekah ketika tersenyum teduh. Sesekali dia terkekeh geli melihat anak-anaknya merajuk manja. Lihat tiga rekannya tampak terkekeh geli melihat kelakukannya. Meihat kekehan rekan-rekanya membaut Aziz tersenyum polos. Abaikan mereka, pasalnya ia tipe masa bodo. Asal bahagia Aziz senang.


"Dek, Mas mau masuk pesawat, soalnya 10 menit lagi mau take Off. Mas mencintai Adek karena Allah. Salam untuk dua Putra tampanku jangan nakal."


Aziz mengirim pesan pada Khumaira, kemudian beranjak bersama rekanya menuju pintu masuk pesawat. Dalam perjalanan masuk mereka tersenyum tatkala melempar guyonan garing padanya. Mendengar mereka heboh tentu saja ia senang walau sedikit kesal. Semoga saja perjalanan menuju Malaysia selamat sampai tujuan, Aamiin.


Ponsel Aziz berdenting menandakan pesan masuk. Sontak pria dewasa ini membuka pesan dari Khumaira. Senyum manis terukir indah tatkala membaca pesan Istrinya. Pintar sekali Istrinya menggoda sampai ingin pulang. Kalau begini Aziz jadi ragu mau meninggalkan Khumaira dan anak-anak.


"Alhamdulillah kalau mau take Off. Jangan lupa baca doa dan terus meminta perlindungan, Allah. Adek juga mencintai Mas karena Allah. Sudah Adek sampaikan, mereka bilang ngga janji. Anak nakal sama seperti Ayahnya. Adek rindu Mas, emuach."


Aziz membalas pesan khumaira dengan godaan. Setelah pesan terbalas ia matikan ponsel lalu membaca buku bisnis. Dia melihat seksama betapa rumit proyek kali ini. Namun, baginya proyek kali ini adalah tantangan terbesar. Semoga saja Aziz pulang mendapat hasil memuaskan untuk mengharumkan kantornya.


***///\***


At Kuala Lumpur International Airport 11:30 AM!


Emran menatap seseorang di depan sana dengan pandangan sulit di artikan. Dia merasa familiar dengan pria berkemeja hitam celana hitam. Siapa pria itu? Mata teduh Emran tidak bisa lepas dari pria yang baru keluar dari pesawat. Sepertinya ia pernah kenal pada pria itu. Tetapi, siapa gerangan pria itu?


Mahira menepuk bahu lebar Emran berusaha menyadarkan. Sedari tadi dia lihat Emran selalu menatap arah timur. Siapa yang di lihat pria tinggi berwajah tampan nan teduh ini? Mata besar Mahira menatap arah pandangan Emran, tetapi tidak ada yang spesial.


Emran sadar dari mari menatap pria itu beralih menatap Mahira. Dia berjalan mengikuti wanita itu ke arah luar. Mungkin hanya perasaannya saja punya hubungan dengan pria tadi. Entah kenapa hati Emran meronta ingin kembali melihat pria tadi. Namun, Mahira menarik lengannya karena mobil jemputan telah tiba.


Aziz merasa di pandang intens sontak menatap arah pandangan orang itu. Mata tajam berpupil cokelat keemasan membulat sempurna melihat postur pria tadi. Dari belakang jelas Aziz sadar postur tubuh kekar itu mirip dengan almarhum Kakaknya. Degup jantung Aziz semakin gila merasakan sebuah hal paling ditakutkan.


"Ada apa, Ziz?" tanya Romli.


"Aku pergi dulu, tolong bawa koperku. Aku ada urusan penting!"


Aziz berlari menyusul orang itu namun sampai luar tidak menemukan siapa-siapa. Ya Allah, apa dia salah lihat? Tetapi, kenapa ia merasa orang itu benar-benar Kakaknya? Dengan tubuh lemas dia jatuh seraya menangis dalam diam. Tidak peduli tanggapan pengunjung bandara internasional Kuala Lumpur. Aziz hanya ingin meluapkan rasa sakitnya akibat teringat almarhum Masnya.


Emran menatap luar mobil dan kembali melihat pria tadi jatuh tertunduk dengan air mata. Kenapa rasanya sakit melihat pria itu rapuh? Siapa sebenarnya pria malang itu?  Ingin rasanya dia berlari menghampirinya. Namun, itu tidak akan terjadi karena Emran tidak kenal siapa pria itu.


"Ada apa, Emran? Kenapa sedari tadi melihat belakang?" tanya Mahira memecahkan keheningan.


"Aku melihat pria malang yang membuat jantung sesak. Aku merasa punya ikatan batin dengan pria itu. Mahira, katakan siapa diriku? Kenapa bisa aku selalu bermimpi aneh?"


"Emran, jangan terlalu di pikirkan pria tadi. Mungkin saja orang itu hanya orang yang kamu kasihani. Kamu Emran Saeed Khan, mimpi hanya bunga tidur tidak perlu di pikiran terlalu."


Mahira tersenyum teduh berusaha membuat Emran tenang. Namun, prianya tetap melihat belakang dengan pandangan sendu. Sebenarnya siapa yang Emran lihat sampai sebegitu kalut. Semoga saja bukan dari masa lalu pria yang sangat dia cintai. Karena harapan Mahira sederhana yaitu tetap bersama Emran apa pun yang terjadi.


Lain sisi Romli dan lainnya merasa miris melihat Aziz tampak kacau. Mereka kaget melihat atasan mereka duduk di lantai airport dengan keadaan mengenaskan. Sebenarnya apa yang terjadi pada Aziz sampai membuat terpuruk?


"Aziz, ayo kita ke mobil karena jemputan sudah sampai. Katakan ada apa sebenarnya?" tanya Romli hati-hati.


Aziz menghapus air mata kasar lalu berdiri. Dia mengukir senyum kecut tanpa menjawab langsung berlalu. Sungguh ia tidak mau di cap cengeng namun sudah menangis lama. Hatinya sakit mengingat orang tadi. Mungkin halusinasi makanya semua terasa nyata. Namun, sudut hatinya yakin bahwa pria tadi ada kitanya dengan almarhum Masnya.


Romli dan yang lain saling pandang mencari jawaban kenapa Aziz jadi aneh? Selagi berpikir mereka mengikuti pria itu menuju mobil Van jemputan kantor. Tidak ada percakapan pasalnya biang kerok tampak murung.


Aziz memikirkan orang itu dengan sedih. Kenapa halusinasi itu terasa nyata. Bahkan dia bisa merasakan Kakaknya sedang menatap dari jauh. Sejatinya ia bisa merasakan hawa seseorang. Bisa merasakan siapa saja yang menatapnya begitu intens. Bahkan bisa membedakan tatapan orang yang menatapnya. Termasuk pandangan almarhum. Pandangan almarhum begitu teduh dan penuh intimidasi saat menatapnya. Lalu tadi Aziz merasakan pandangan itu kembali setelah 5 tahun tidak merasakan.


"Mas Azzam," gumam Aziz sembari menangis dalam diam.


"Aziz, tolong katakan ada apa?"


"Aku melihat almarhum Mas Azzam dan merasakan hawa teduh serta pandangan teduh darinya. Aku merasakan Masku kembali," sahut Aziz pada akhirnya.


Jawaban Aziz membuat Romli serta yang lain terpaku. Bukanya Azzam sudah meninggal kenapa bisa bangkit lagi? Mungkin Aziz hanya berhalusinasi sehingga membayangkan Masnya. Semoga saja apa yang di lihat Aziz melesat jauh.


"Kamu sendiri sudah menyelidiki ulang kasus Mas Azzam, bukan? Baju, celana dan cincin di jenazah itu sama dengan yang di kenakan almarhum Masmu. Bahkan 1 tahun kamu menguak mencari tahu hasilnya sama bahwa Mas Azzam benar-benar sudah meninggal. Aziz, tolong sadarlah sesuatu yang sudah kembali ke Rahmatullah tidak mungkin kembali. Tolong sadar dan segera istighfar."


Romli berharap apa yang di katakan mampu mebuat Aziz sadar. Apa lagi jika ingat jasad korban kecelakaan 5 tahun lalu benar-benar mencirikan Azzam. Semoga saja Aziz kembali konsentrasi agar pekerjaan lancar. Lalu almarhum tetap tenang di alam sana, Aamiin.


Aziz menatap Romli berharap apa yang di katakan sahabatnya benar adanya. Pada akhirnya ia menuruti perkataan temanya dengan mengucap istighfar berulang kali. Dia memijat pelipis karena terasa nyeri akibat mengingat semuanya. Karena lelah akhirnya Aziz memutuskan untuk tidur dalam perjalanan menuju hotel bintang lima yang di sediakan pihak perusahaan.


Melihat Aziz tidur mereka tersenyum miris sekaligus lega. Mereka berharap apa yang ditakutkan tidak terjadi seperti pernyataan pria ini. Bos mereka harus konsentrasi biar bisnis tetap berjalan lancar. Sedikit egois jika Aziz down maka bisnis gagal maka mereka berusaha memulihkan emosi bosnya.


Dalam tidurnya Aziz hanya punya harapan lebih baik lagi. Tidak ada yang lebih menyakitkan jika benar Masnya kembali lagi. Bukan tidak senang hanya saja mearsa pedih karena akan ada hati yang merelakan. Aziz tidak mungkin melawan karena sedari awal duitnya selalu berkorban banyak. Sekarang harapan hanya satu semoga saja bukan Masnya, Aamiin.


***///\***


Mahira datang bersama sekretaris-nya. Sementara prianya bersama dua malaikatnya. Dia meninggalkan Emran di hotel bersama dua anaknya. Anak? Iya, Mahira sudah menikah namun di tinggal pergi Suaminya untuk selamanya. Saat itu Suaminya ke Amerika Serikat untuk membantu tentara Amerika melawan *******. Namun, di medan perang Abimanyu gugur sebagai pejuang.


Mahira datang ke USA dengan duka mendalam. Hingga bertemu Emran untuk pertama kali di rumah sakit pusat Amerika. Dalam suka ada juga rasa syukur dalam hati. Sungguh waktu itu  dia beruntung karena Emran mampu menjadi pelipur lara Putri dan Putranya.


Semua terasa indah pada waktunya, itulah yang di rasakan Mahira. Dia akan berusaha keras mendapatkan proyek besar ini. Jika memperoleh proyek maka semua usaha semakin berkembang penuh keberhasilan. Semoga saja Mahira mampu mencetuskan sesuatu yang memuaskan untuk menang.


Aziz datang bersama Romli, Arga dan Setiawan. Mereka akan berusaha keras mendapat proyek besar dengan harga fantastis. Sementara pria berparas timur tengah tampak anteng walau jantung bertalu-talu. Dalam hati Aziz terus mengucap doa agar mampu menjalankan tugasnya sebagai perwakilan yang baik.


Melihat Aziz yang dingin tidak tersentuh membuat mereka merinding. Bagaimana tidak merinding ini kali pertama orang paling disegani datang dalam forum. Padahal lima tahun ini pria berparas rupawan ini tidak menunjukkan batang hidung. Kalau sudah ada pria ini maka ucapkan selamat pada Aziz.


Memang jika sudah serius maka Aziz bertransformasi menjadi pria dingin tidak tersentuh. Sangat tegas dengan wajah sangar, apa lagi kedua mata tajamnya. Maka siapa saja akan segan terhadap dirinya jika sudah behini. Namun, bagi orang yang kenal jauh Aziz sejatinya alien paling gila dari planet Uranus.


Aziz mengatupkan bibir rapat tidak peduli tentang obrolan basa-basi sebelum rapat di mulai. Dia hanya diam seraya bersedekap dada tanpa ikut bicara. Ia tatap banyak orang satu-persatu seolah melihat lawannya. Lumayan banyak orang baru walau sedikit banyak ia tahu. Aziz menghembus napas pelan sebelum meletakan tangan di atas meja.


Rapat di mulai para pebisnis handal mencetuskan ide kreatif mereka. Saling menonjolkan sisi kesempurnaan. Mereka berebut menang tanpa mau di kalahkan.


Aziz tidak ambil pusing tentang proyek. Idenya memang sering membuat orang geleng kepala. Pada akhirnya Aziz mencetuskan hal unik, sederhana namun sangat elegan. Ciri khasnya yang unik tidak terprediksi membuat mereka tercengang.


Mahira menatap Aziz kagum, hebat seperti kabar burung bahwasanya Aziz paling berbahaya jika soal ide. Sudah 5 tahun pria ini pensiun lalu kenapa muncul kembali? Apa yang mereka katakan benar adanya, Aziz benar-benar luar biasa.


Romli, Agra dan Setiawan tersenyum bangga pada Aziz. Berkat kerja keras pria unik itu tender besar di menangkan mereka. Kini tinggal membangun proyek di pimpin Aziz.  Sementara perusahan besar yang lain ikut serta walau tidak banyak.


Semua berjabat tangan, kini giliran Aziz dan Mahira yang berjabat tangan. Mereka melempar senyum tipis kemudian pergi. Mahira heran kenapa Aziz begitu dingin? Setelah mengatakan selamat ia memutuskan pergi mencari makan.


Aziz berdiri di balkon berniat menghubungi Khumaira. Setelah mengucap salam dan Istrinya membalas salamnya sontak melempar candaan seperti biasanya. Dia tersenyum tulus ketika Istrinya tersenyum lebar lewat layar ponsel. Sungguh Aziz rindu pada Khumaira. Tahu saja si gembul ia rindu makanya siap siaga mengangkat telepon.


"Mas kangen, Adek, apa kabar?"


"*Adek juga kangen, Mas. Alhamdulillah kurang baik karena menahan rindu. Bagaimana kabar, Masku Aziz? Apa yang terjadi hari ini?"


"Alhamdulillah*, Mas juga kurang baik karena rindu membludak untuk, Adek. Alhamdulillah, kami memenangkan tender."


"Alhamdulillah ya rabbil'alamin, Mas berhasil. Sekarang semangat membangun proyek, Ayah. Aku, anak-anak ini tidak mau diam baiklah Umi berikan jangan berebut."


Aziz tersenyum melihat Khumaira tersipu malu mendengar jawabannya. Dia ingin mencubit gemas pipi gembul Istrinya. Lalu tambah tersenyum melihat Mumtaaz heboh melihatnya begitu pun Ridwan. Lihat Istrinya di ganggu anak-anak saat asyik bicara padanya. Hingga akhirnya  memberikan ponsel pada dua anaknya. Aziz sangat senang melihat dia anaknya tampak heboh setelah menerima ponsel itu.


Mereka saling mengobral ria dengan tawa lepas. Karena waktu habis Aziz berniat memutus sambungan. Sebelum itu ia mencium mereka jarak jauh. Tentu diseberang sana mereka juga membalas ciuman jarak jauh. Kalau begini Aziz tidak sabar pulang guna mendekap tubuh dua anaknya dan Istri tercinta.


"Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, jaga diri baik-baik ya anak-anak dan Umi. Ayah akan kembali bawa oleh-oleh banyak. Ayah sangat sayang kalian karena Allah!"


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah juga jaga diri baik-baik. Kami menanti kedatangan Ayah kembali. Kami juga sangat sayang Ayah karena Allah!"


Panggilan terputus membuat Aziz tersenyum teduh. Hingga saat berbalik ia kaget melihat Romli sudah ada di belakangnya. Dasar aneh temanya ini asal muncul membuat terlonjak. Aziz ingin menampol kepala Romli karena asal muncul tanpa tahu situasi dan kondisi.


"Ayo kita keluar cari makan. Romantis banget jadi, Suami. Dikit-dikit telepon bilang kangen."


"Cerewet, ayo pergi!"


Aziz menarik dari Romli tanpa peduli sahabatnya meronta. Salah sendiri berbuat jahil padanya maka tanggung konsekuensi. Untung saja kaki dan tangannya tidak bersarang di tubuh sahabatnya. Kalau sudah bersarang maka tamat sudah riwayat si gila. Masa bodoh yang pasti Aziz ingin makan banyak lalu tidur siang sebelum besok mulai kerja rodi bagai kuda.


Romli sendiri merasa tercekik akibat ulah Aziz yang jadi kebiasaan. Dulu saat kuliah di Mesir pria ini akan melakukan hal gila jika kesal padanya. Contohnya menarik dasinya tanpa peduli ia tercekik. Memang ini salahnya maka di gila bertindak begini. Masa bodoh asal Aziz senang ia ikhlas di perlakukan begini. Toh nanti Romli dapat traktiran gratis dari sahabat sekaligus bosnya.


****////\****


**Inilah kisah paling dramatis dari story Ini. Jika konflik selesai maka ucapkan selamat tinggal pada story ini.


Sekadar informasi bahwa story Ini jauh dari kata sinetron, jika pernah mengikuti pasti akan maksud apa yang kukatakan.


Story dengan alur tidak terduga dan tidak akan kalian bayangkan.


Nantikan ujian cinta Aziz dan Syafa yang sesungguhnya.


Inilah ujian cinta mereka sesungguhnya!


Nantikan kisah akhir story ini yang pastinya happy ending.