
Sudah satu minggu setelah kepulangan Aziz dari Hongkong. Kini keluarga kecil ini terlihat bahagia dengan tingkah konyol Aziz dan Ridwan. Sementara Khumaira hanya bisa tersenyum manis menikmati kekonyolan keduanya.
Rumah mini malis modern penuh tawa ketika Aziz melontarkan kata-kata lucu. Ridwan tertawa keras seraya bertepuk tangan heboh. Melihat itu Khumaira sangat bahagia akan kelucuan Aziz.
Ibu dan Ayahnya Khumaira berkunjung ke rumah pasangan Suami Istri itu. Sholikhin dan Maryam meminta Ridwan menginap. Mereka begitu merindukan cucu gembulnya yang sangat manis. Alhasil, si kecil mengemaskan ikut meninggalkan Ibu dan Ayahnya sendiri di rumah.
Mumpung Ridwan di bawa Ayah dan Ibunya ia bertekad memperjelas sesutau. Khumaira bertekad meminta ke jelasan pada Aziz soal notebook dan patung. Hari ini harus selesai agar tidak ada lagi yang terpendam.
"Mas, ayo ikut Adek."
Aziz menyengit mendengar perkataan Khumaira. Istrinya mau mengajak ke mana? Dengan sayang dia elus pipi gembul Istrinya dan mengecup bibir tebal itu singkat.
"Ayo, mau ke mana?"
"Ikut saja."
Khumaira menarik pergelangan tangan Aziz, kemudian membawa ke ruangan bawah tanah. Dia ingin Suaminya mengakui semuanya agar tidak tertekan.
Aziz menegang ketika Khumaira membawa ke ruangan ini. Kenapa Istrinya membawa ke tempat ini?
"Dek, Mas ada urusan nanti dulu ...."
"Bisa nanti, Mas sebenarnya ini ruangan apa? Seminggu sebelum Mas pulang aku melihat ruangan ini. Ada banyak hal yang ingin kutahu dan dengar langsung dari, Mas. Bisa kita masuk dan menjelaskan semuanya!"
Khumaira tersenyum melihat Aziz merotasikan mata. Dia mengambil kunci di nakas dan memperlihatkan pada Suaminya.
Aziz membisu tanpa kata, bagaimana ini? Apa yang harus dia katakan secara Khumaira sudah tahu isi raungan itu? Apa Istrinya sudah membaca notebook miliknya?
Khumaira membuka pintu lalu menghidupkan sakelar lampu. Semua langsung bersinar dengan gemerlap kemewahan di atap. Dia menengok ke arah Aziz masih terpaku tanpa merubah ekspresi.
Aziz memejamkan mata lama untuk menghadapi Khumaira. Dia menarik pelan lengan Istrinya agar Keluar dari ruangan rahasianya.
"Kita makan ya, Dek. Mas tidak tahu rasanya lapar."
"Kenapa Mas berkeringat dingin? Apa Mas takut aku melihat patung itu atau takut aku membaca notebook?"
Pernyataan Khumaira sukses membuat Aziz lemas. Jadi, Istrinya sudah tahu semuanya. Sekarang tidak mungkin mengelak dan harus memberikan penjelasan.
"Baiklah, ayo turun kita bicarakan di dalam."
Aziz membawa Khumaira menuruni anak tangga hati-hati. Hatinya berasa di cengkeraman kuat oleh tangan tidak kasap mata. Rasanya pedih akan semua konsekuensi yang di hadapi. Hati Aziz terasa pilu dan menyesakkan jika ingat kebencian yang harus di terima. Apa tanggapan Khumaira tentangnya dan perasaan terlarangnya dulu?
Khumaira terdiam ketika Aziz membawanya turun. Ia ingat membaca buku itu rasanya sangat menyakitkan. Apa lagi sebentar lagi akan mendengar langsung. Khumaira terpaku saat Aziz membersihkan ranjang.
Aziz tersenyum miris melihat notebook telah keluar dan bertengger manis di nakas. Semua sudah terungkap apa yang di tutupi?
Khumaira duduk di tepi ranjang begitu pun Aziz. Mereka saling bungkam tanpa kata bahkan udara terasa menyesakkan.
"Tanya saja apa yang ingin ditanyakan!" cetus Aziz memecahkan keheningan.
Khumaira langsung menengok ke arah Aziz. Dia berpaling kembali melihat patung dengan pandangan sendu.
"Semuanya, soal patung, Adiba dan perasaan itu," lirih Khumaira.
"Semua sudah jelas di buku itu, lalu kenapa harus bertanya kembali?"
Aziz berbicara begitu datar dengan ekspresi dingin. Semua terasa menyesakkan jika teringat cintanya sudah terkuak. Apa Khumaira akan menerima cintanya?
Khumaira menangis dalam diam melihat Aziz. Semua terasa dingin tanpa kehangatan. Dia ingin mendengar langsung dari mulut Suaminya. Khumaira tidak suka Aziz bersikap dingin layaknya patung es.
Aziz terpaku mendengar isakan Khumaira. Sebegitu pilu hati Istrinya menerima kenyataan itu. Perlahan dia menghapus air mata Istrinya dengan perasaan kalut. Aziz menangkup pipi gembil Khumaira dengan perasaan campur aduk.
"Maafkan aku, tolong maafkan aku. Jangan menangis kumohon."
Aziz membawa Khumaira dalam dekapannya. Dia juga sedih bahkan sangat menyesal kenapa tidak menghancurkan bukti cintanya? Ia usap punggung dan rambut Istrinya seraya mengatakan maaf. Aziz pedih mendengar Khumaira semakin keras menangis.
"Tolong ceritaan semuanya, Adek mohon," pinta Khumaira.
Aziz mengurai pelukan dan memilih sedikit menjauhkan diri. Napasnya memburu dengan kekalutan membisu. Dengan satu tarikan napas dia siap menjelaskan semuanya.
"Adek, serius ingin mendengar?"
"Iya, aku ingin mendengar semua."
"Baiklah, dulu sewaktu aku masih kecil sampai sekarang banyak wanita mengerubungi, Mas. Mereka sangat mengidolakan Mas tentu karena wajah Mas sangat tampan."
Aziz ingin mencairkan suasana dulu baru bercerita. Lihat Khumaira tidak menangis lagi dan sekarang malah mencibir lucu.
"Narsis."
"Itu kenyataan, aku sangat tampan banyak wanita mencintai, Mas."
"Ok, lalu bangga begitu?"
"Tentu saja, syukur Mas bukan playboy jika iya ribuan wanita jadi pacarku. Jadilah mantan ... Mas museumkan biar menjadi barang antik."
Khumaira memukul pelan lengan kekar Aziz. Dia jadi gemas sendiri akan kenarsisan Suaminya. “serius loh, Mas!”
"6 tahun yang lalu, Mas memiliki begitu banyak penggemar. Hingga suatu hari bertemu dengan Adiba gadis Pakistan. Kami bersahabat sangat dekat bahkan mereka mengira kami punya hubungan. Tetapi, tidak ada apa pun di antara kami. Hingga suatu hari Adiba menyatakan cinta pada, Mas. Dari situ Mas mulai resah akan hubungan kami yang sekedar sahabat, Adik dan Kakak ...,
... Mas memutuskan Shalat Istikharah agar mendapat petunjuk dari Allah, siapa jodoh, Mas. Di mimpi itu Mas bertemu Masku sendiri walau sebentar lalu melihat Gadisku yang manis. Semua semakin indah ketika Gadis itu tersenyum pada, Mas. Pertama bertemu, hati Mas berbunga, kedua bertemu jantung dan pikiran terasa terlenggut olehnya dan ketiga kalinya Mas jatuh cinta padanya karena Allah ...,
... hubungan Mas dan Adiba merenggang karena Mas terus mencari gadis manis nan anggun. 3 bulan mencari ternyata tidak membuahkan hasil. Satu tahun kemudian karena Mas tidak tahan akhirnya membuat pahatan Gadisku yang manis. Semua memuji keindahan patung yang Mas buat. Bahkan Mas Azzam juga memuji dengan tulus ...,
... 3 tahun kemudian, aku baru tahu siapa nama Gadisku. Dia hanya memberi isyarat lewat tulisan arab namanya Syafa. Aku sangat bahagia akhirnya tahu nama Gadisku yang manis. Tetapi, ada belenggu ketika Adiba memutuskan untuk pulang ke Pakistan. Dia meminta Mas agar menikahinya dengan dalih ia akan dijodohkan karena lilitan hutang. Mas gemang, Adiba gadis yang sangat mencintai Mas sepenuh hati dan Dek Syafa gadis yang sangat Mas cintai atas nama Allah ...,
... semua terasa membingungkan alhasil Mas hendak menemui Adiba dan menolong dari jeratan hutang Ayahnya. Mas akan menikainya demi menyelamatkan Adiba dari kehancuran. Tetapi, sebuah fakta mengejutkan terjadi Mas di bohongi soal hutang dan perjodohan. Adiba ingin Mas menemaninya di hari terakhir hidupnya ...,
... Adiba meninggal dunia dengan senyuman ketika Mas datang. Gadis yang sangat Mas sayangi telah meninggal akibat penyakit ganas. Semua sudah berakhir dan mereka mengira Mas mencintai Adiba. Semua salah karena yang sangat Mas cinta adalah Syafa. Karena kalut memikirkan Adiba yang meninggal Mas Azzam dan Dek Najah meminta Mas pulang ke Indonesia untuk melaksanakan ibadah puasa ...,
... sebenarnya Mas ingin ikut ke Pagerharjo waktu itu. Tetapi, Mas urungkan untuk membalah kitab di pesantren. 9 hari kemudian, Mas Azzam mencetuskan untuk menikah. Kami sangat bahagia begitu pun dengan, Mas ...,
... hal yang sangat membahagiakan dalam hidup adalah melihat Gadis yang sangat Mas cintai karena Allah untuk pertama kalinya. Jantung terasa terpacu dengan hati mereka ruah dan tanpa sadar menangis. Tetapi, di situ juga Mas merasa begitu hancur tanpa sisa. Masku menikahinya dengan penuh kebahagiaan. Aku tersenyum bahagia melihat kalian sangat bahagia. Karena bagiku kebahagiaan orang yang kita sayangi di atas kebahagiaan diriku. Mas senang melihat kalian bahagia walau sejatinya saat itu hatiku sudah hancur tidak berbentuk ...,
... tidak apa Mas ikhlas menerima semua itu dengan lapang dada. Mas Azzam dan Gadisku itu sangat berharga di atas segalanya. Biarkan aku mundur dan ikhlas merelakan orang yang sangat aku cintai bersanding bersama Masku. Walau rasanya begitu berat menerima kenyataan menyakitkan itu ....,
... Adek ingat waktu pertama kali datang ke rumah Mas? Mas dengan jahil menggoda Mas Azzam sampai marah. Sepertinya itu kesalahan terbesar karena membuat kalian cekcok untuk pertama kalinya. Mas begitu kalut jika ingat masalah itu sampai membuat Adek terluka. Aku menegang melihat Adek keluar dari balik kamar mandi. Hatiku teremas kuat melihat air matamu. Gara-gara aku dua orang yang sangat berarti terluka. Aku ingin meminta maaf, tetapi tidak bisa ...,
... dan untuk pertama kalinya aku merasakan masakkan Adek, rasanya begitu membahagiakan. Aku langsung sadar dan bertekad mengubur cintaku. Semua akan padam tanpa cahaya aku tidak akan menerangi kembali. Namun, perasaan itu muncul dikala Adek mengalami hal buruk. Hal paling menyakitkan dan mengkhawatirkan yaitu saat Adek nyaris tertabrak mobil ...,
... tanpa pikir panjang Mas meraih Adek waktu itu. Biarkan aku terluka asal jangan kalian. Jika Adek sampai tertabrak pasti Mas Azzam sangat menderita. Kalian akan kehilangan calon buah hati kalian. Aku tidak akan membiarkan kalian terluka dan menderita. Aku hanya ingin kebahagiaan menyertai kalian bukan kesedihan ...,
... Hahaha, aku sangat tertekan sampai rasanya begitu kalut. Aku perlahan menjauh agar dukaku tidak terlihat. 3 tahun kemudian, Mas Azzam memberikan amanah yang sangat sulit dan sangat berat. Semua terjadi begitu saja, Allah berkehendak lain Masku meninggal. Kenapa Allah sangat tega padaku, Dek? Katakan kenapa Masku harus pergi di kala aku benar-benar ikhlas lahir batin? ...,
... Mas sangat hancur dan tidak ingin menikahi, Adek. Satu minggu aku melihat Adek dan Tole begitu terpuruk tanpa cahaya. Kalian begitu mengenaskan dan dari situlah aku memutuskan untuk menikahi Adek walau ujunya sangat sulit. Pernikahan Mas dan Mbak Zahira batal secara baik-baik ...,
... Adek, tahu cinta yang ku pendam 3 tahun agar bisa ikhlas melepas Adek untuk Masku terbuka kembali saat semua orang mengatakan Sah. Apa dayaku, karena sangat mencintai Adek sehingga semua terbuka kembali. Di halaman terakhir tertulis bukan, di situ Mas sedang pilu dan akhirnya sebuah untaian kata tertulis ...,
... itu penjelasan dari semuanya. Tidak kurang tidak lebih. Maaf atas dosa yang Mas simpan selama ini. Maaf sangat lancang mencintai Adek. Maaf begitu hina karena mencintai Adek di kala menjadi Kakak ipar. Maafkan aku, Dek ... maafkan kesalahan yang selama ini aku perbuat. Mas tidak meminta lebih, terus cintai Mas Azzam sampai kapan pun. Jaga semua itu untuk Masku, cukup Adek dalam pandanganku dan berada di sisiku Mas sangat bahagia. Mas sangat mencintai Adek karena Allah, sangat cinta sampai Mas tidak tahu seberapa besar cinta itu. Jangan balas apa pun karena semua akan baik-baik saja. Cintai Masku sepenuh hati Adek, jangan biarkan ada keraguan. Cinta kalian begitu murni dan aku tidak akan menyela cinta suci kalian ...,
... Adek, maafkan Mas telah membebani pikiran, Adek. Sekarang tidak ada rahasia yang Mas simpan. Semua sudah terkuak dan Mas sudah lega akhirnya cintaku terucap. Dek Syafa, tetaplah tinggal karena Mas sangat mencintai Adek karena Allah!"
Aziz menutup penjelasan dengan senyum tulus. Entah sejak kapan air matanya luruh deras membasahi pipi. Tetapi, buru-buru dia usap agar tidak terlihat begitu lemah. Ia sangat bahagia akhirnya cintanya terucap. Semua beban terasa terangkat penuh suka cita. Azix senang bisa menyampaikan cintanya yang terpendam lama.
Khumaira tidak bisa berkomentar apa-apa, rasanya lebih menyakitkan dari pada membaca buku itu. Rasanya lebih terluka dengan rasa bersalah membelenggu. Begitu sakit akan penyesalan sampai Khumaira tidak sanggup untuk membendung air mata. Sebegitu tulus dan suci hati Suaminya. Sebegitu mulia cinta Suaminya untuk wanita bodoh sepertinya. Semua begitu menyiksa dan hanya air mata yang mampu dia keluarkan. Khumaira begitu beruntung mendapat Suami seperti Aziz yang sangat berwarna penuh akan cinta dan kasih sayang.