
Lap ingus dulu ya Sayangku.
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
👇👇👇
*.*.*.*
Khumaira terdiam kaku melihat foto Aziz tergeletak tidak berdaya. Dia meminta Ridwan dan Mumtaaz agar menjauh. Dengan tangan bergetar Khumaira menyapu bersih serpihan kaca dan bingkai. Tubuh mungilnya bergetar menahan gejolak tinggi yaitu air mata. Khumaira tidak boleh menangis tergugu atau Ridwan dan Mumtaaz menangis keras.
Ridwan menangis dalam diam melihat Khumaira. Dia langsung merengkuh Mumtaaz karena Adiknya menangis histeris. Sontak Ibunya langsung merengkuh Mumtaaz. Sebagai kakak ia harus bisa menjaga Adiknya walau dengan cara sederhana. Ridwan memilih bungkam dengan mata terus berlinang bahkan Iskan kecil mulai lolos dikala Mumtaaz semakin menangis keras.
Karena tangisan Mumtaaz dan Ridwan rasa yang dia tahan akhirnya lolos. Khumaira ikut menangis sembari merengkuh erat Ridwan dan Mumtaaz. Hatinya sangat resah memikirkan Aziz. Pada akhirnya ia menunjukan kelemahan saat mendekap dua anaknya. Khumaira tidak bisa berhenti menangis dikala dua anaknya tambah menangis keras.
Dalam keresahan khumaira Berisha tenang guna menenangkan Mumtaaz dan Ridwan. Dia harus bisa membuat anaknya tenang walau rasanya sulit. Ia ingin mereka tenang, tetapi malah menangis dalam diam. Khumaira sangat pedih merasakan sesak dalam hati mengingat Aziz yang jauh di sana.
"Mas, apa yang terjadi? Kenapa Mas membuat Adek takut? Mas jangan terluka karena Adek tidak sanggup melihat Masku tersakiti. Mas Aziz, semoga Allah selalu melindungi Mas dari mara bahaya. Adek sangat berharap Allah senantiasa melindungi Mas di setiap langkah. Ya Allah, tolong jaga Suamiku dari bencana. Ya Allah yang Maha Besar, tolong kabulkan permintaan hamba yang sederhana. Tolong jaga dan lindungi Suamiku. Tolong jauhkan Suamiku dari mara bahaya. Ya Allah, tolong Mas Aziz dalam kesusahan. Hamba sangat berharap Suamiku baik-baik saja, Amin," doa Khumaira dalam hati.
"Ya Allah, tolong jaga, Ayah. Cukup Abi yang meninggalkan kami. Jangan renggut Ayah dari kami ya Allah. Kakak berharap Allah mau mendengar permintaan ini. Jauhkan Ayah dari musibah karena kami sangat menyayangi, Ayah," monolog Ridwan dalam hati.
Khumaira dan Ridwan terus berdoa pada Allah agar Aziz baik-baik saja. Semua doa mereka labuhkan pada Allah untuk keselamatan kepala keluarga. Mereka berharap Allah selalu menjaga kepala keluarga. Khumaira dan Ridwan takut sesuatu yang buruk menimpa Aziz maka terus berdoa dalam hati.
Dalam setiap memori tercetak jelas ketika Aziz tersenyum. Saat Aziz mengajak bercanda mereka. Membuat warna bagi keluarga kecil dengan sikap penuh warna. Semua tentang Aziz meluncur bebas bagai air terjun. Kini harapan terus terkabul demi keselamatan Aziz.
Khumaira terdiam sepi seraya menangis dalam diam. Hatinya sakit memikirkan Suaminya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Aziz? Kenapa perasaannya begitu panik dan khawatir? Dia tidak sanggup berkata apa pun karena lidahnya kelu.
Dengan rasa sedih dia berusaha tenang dalam kekalutan hati. Tangan mungil Khumaira terus mengusap rambut Mumtaaz dan Ridwan bergantian supaya tenang. Dia berharap dua Putra kecilnya tenang tidak histeris. Khumaira sampai lelah mendengar tangisan Mumtaaz terus menerus, apa lagi Ridwan sampai tergugu. Kalau begini ia harus ekstra menenangkan kedua anaknya.
Mumtaaz meraung seraya menyebut Ayah. Dalam tangis ia menuding pintu keluar karena ingin menemui Aziz. Tangis tidak mampu berhenti karena Ayahnya dalam bahaya. Dia terus meronta dengan tangis keras menuding kelaut minta bertemu Ayahnya.
Ridwan hanya terdiam seraya berdoa ketika tangis mulai reda. Dalam hati resah ia menatap foto Ayahnya yang sedang tersenyum tulus. Air mata kembali luruh deras mengingat Abinya sudah tiada karena tragedi mengerikan. Ridwan berharap Ayahnya baik-baik saja tidak akan meninggalkan dirinya.
Khumaira memberi susu pada Mumtaaz, tetapi di tolak keras. Putranya terus menangis tanpa mau berhenti. Sementara Ridwan sudah mau tenang walau masih menangis dalam diam. Sungguh Khumaira sangat kalut akan situasi ini.
*.*.*.*
Romli yang hendak mengantar Istrinya terpaku melihat kecelakaan mengerikan tepat di depan mata. Dia belum sadar mobil siapa yang mengalami kehilangan kendali. Ia kasihan saat mobil mewah seperti dikenal menghantam ruas jalan. Mata cokelat gelap Romli mendelik horor melihat sosok Aziz keluar dari mobil. Jantungnya terasa berhenti saat mobil truk melaju kencang ke arah sahabatnya.
Semua berasa kalau saat teriakan nyaring terdengar dari warga. Mereka menutup mata tidak berani menatap adegan mengerikan. Salah satu dari mereka langsung melapor polisi karena sadar sesuatu.Â
"Aziz, ya Allah tolong sahabatku."
Romli dan para pengunjung menutup mata erat tidak sanggup melihat hal mengerikan. Mereka bergetar ketakutan dengan doa terus terucap. Semua menutup mata saat nanti suara tubuh remuk di Gilas mobil terdengar.
Aziz menahan rasa sakit ketika mobil truk semakin dekat. Dia terus merapalkan do'a pada Allah agar mampu menggerakan tubuhnya. Ia menitikkan air mata takut merasa sebuah akhir telah datang.
Kurang 1 meter mobil itu melindas Aziz, sebuah keajaiban terjadi ketika dirinya mampu bergerak dan berguling cepat sampai membentur pembatas jalan. Tubuhnya sakit semua tetapi cukup bersyukur dia lolos.
"Arghhh ....!!!" teriak mereka ketakutan ketika mendengar bunyi menakutkan.
Aziz perlahan berbaring terlentang di pinggir jalan. Tubuhnya bersimpah darah membuat dia mual dengan sakit luar biasa menghantam jiwa. Dia terus mengucap dzikir dan rasa syukur pasalnya Allah telah menyelamatkan nyawanya.
"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar Walillaahil-Hamd, terima kasih ya Allah telah melindungi hamba. Kebesaran-Mu sangatlah Agung dengan memberikan pertolongan. Allahu Akbar Walillaahil-Hamd," tutur Aziz dalam hati.
Mobil truk itu langsung melaju kencang meninggalkan tempat perkara. Pria itu mengumpat kasar saat Aziz tidak mampu tersentuh dengan ban mobil. Pria ini sangat murka kenapa bisa Aziz begitu beruntung?
"*******, aku tidak akan membiarkan kamu selamat dalam rencana kali ini, Aziz. Kenapa kamu selalu beruntung, Sialan? Aku akan membunuhmu!" geram pria itu.
Perlahan mata mereka terbuka melihat kejadian. Mata mereka membulat sempurna melihat Aziz sudah pindah tempat. Dengan cepat salah satu dari mereka menelepon ambulance dan menelepon Polisi. Dalam hati mereka mengucap syukur Alhamdulillah saat Aziz selamat dari maut.
Setelah dirasa aman mereka langsung berhambur menolong Aziz. Kebetulan salah satu dari mereka membawa kotak P3K sontaknlangsung mengambilnya. Dia meraih kotak P3k untuk penanganan pertama sang korban kecelakaan.
Romli langsung menghampiri Aziz yang terbaring dengan mata tertutup. Tubuhnya bergetar hebat melihat darah segar terus keluar. Dia pangku kepala sahabatnya di sertai tangisan dalam diam. Ia tidak mungkin menepuk pipi sahabatnya karena ada luka. Romli sangat takut melihat Aziz begitu menyedihkan.
"Aziz, tolong buka matamu," pinta Romli.
Mendengar suara sahabatnya Aziz membuka mata perlahan dengan napas memburu. Dia memejamkan mata kembali saat rasa menyakitkan hinggap. Ia berusaha tenang dalam kebahagiaan karena Allah masih percaya pada-Nya. Aziz sangat bersyukur Allah melindungi dirinya di saat terakhir sebelum tragedi terjadi.
Salah satu dari mereka mengulurkan kotak P3k untuk mengobati Aziz. Tentu Romli langsung memberi pertolongan pertama dengan menghalau darah yang keluar dari pelipis dan kepala Aziz. Dia meringis sedih melihat tangan sahabatnya penuh luka. Romli meringis ngilu ketika sadar tubuh sahabatnya penuh luka.
"Mas, ya Allah!" panik Istri Romli.
"Dek, pulanglah dulu aku akan ke rumah sakit mengantar, Aziz."
"Baik Mas. Semoga Mas Aziz baik-baik saja Amin."
"Aamiin."
Ambulance datang dengan cepat begitu pun dengan para Polisi. Tandu langsung di dekatkan di samping Aziz.
Tubuh Romli bergetar ketika Aziz diam saja. Dia ingin sahabatnya mengatakan satu kata walau nyatanya tidak akan bisa. Secara luka yang di alami sahabatnya sangat parah. Romli akan terus berusaha menjaga kesadaran Aziz agar tetap ada. Demi apa ia sangat takut jika sesuatu terjadi pada sahabatnya yang sudah memberikan pertemanan yang baik.
Rasa sakit menguar kuat dalam tubuh membuat dia memilih diam. Namun, Aziz sangat terharu pasalnya Allah begitu baik telah menyelamatkan nyawanya. Dengan begini ia masih bisa bersama keluarganya. Bisa menjaga Khumaira da dia anaknya yang manis.
"Aziz, aku akan menelepon rumahmu agar mereka tahu."
Aziz mengaguk setuju atas perkataan Romli. Dia sudah sangat lelah akan luka di sekujur tubuh. Napasnya terputus-putus merasa sakit pada sekujur tubuh. Dia butuh istirahat agar rasa skait berkurang. Hingga akhirnya Aziz tidur di kala Dokter menyuntik lengangnya.
Romli memberi kabar Khumaira melalui panggilan rumah. Dia tidak ingin membuat Istri sahabatnya histeris makanya memberikan masukan. Romli menelepon Khumaira melalui telepon rumah. Saat panggilan terjawab dia memberitahu khumaira jika Aziz mengalami kecelakaan.
"Mbak Maira, bisa datang di RS. Umum Pusat Dr. Sardjito. Maaf Mbak mengatakan ini Suami Anda mengalami kecelakaan. Sekarang Aziz sedang dalam perjalanan ke RS. Anda tidak perlu khawatir terlalu berlebihan karena Aziz sudah mendapatkan penanganan medis. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Khumaira terjatuh di lantai dengan pandangan kosong. Air mata luruh deras dengan isakan menyayat hati. Pandangan mengabur karena tidak sanggup menopang air mata.
Setelah sedikit tenang Khumaira memberi kabar tentang Aziz pada keluarga Suaminya yang ada di Kediri dan pada keluarganya. Khumaira merengkuh foto Aziz erat seraya menangis histeris.
Kenapa cobaan selalu menghantam Aziz? Kenapa Allah menguji Suaminya begitu besar? Khumaira tidak sanggup bertahan jika Aziz kenapa-napa. Doa terus terucap karena berterima kasih pada Allah telah memberi keselamatan pada Suaminya. Walau sekarang di ruang UGD, setidaknya Aziz selamat dari maut.
"Mas, tunggu kami datang."
Khumaira dengan tubuh bergetar melangkah menuju kamar untuk mengambil baju ganti Ridwan, Mumtaaz, dirinya dan Aziz. Dia memasuka beberapa setel baju untuk anak-anaknya di tas jinjing.
Mata sembab Khumaira menatap dua anaknya yang tertidur pulas karena lelah menangis. Hati rapuhnya semakin rapuh mengingat kondisi Aziz sekarang.
Khumaira mengambil handuk, sabun dan sampo si kecil. Setelah semua selesai ia bangunkan Ridwan lalu menggendong Mumtaaz dalam gendongan bayi. Tersenyum tipis ketika Ridwan terbangun.
"Umi, ada apa?" tanya si kecil polos.
"Ayo kita jenguk Ayah, gih kita pergi."
Ridwan bingung memilih menurut ketika Khumaira menggandeng tangannya menuju keluar rumah. Sebenarnya kenapa Ibunya menangis begitu? Apa terjadi sesuatu pada Ayahnya?
Khumaira membawa tas jinjing di bahu kiri lalu menggandeng erat tangan kecil Ridwan. Dia kunci pintu kemudian berlalu dengan doa menyertai setiap langkah.
*.*.*.*
Khumaira duduk di kursi tunggu dengan pandangan kosong. Ridwan tidak berhenti menangis ketika tahu Aziz kecelakaan. Putranya merengkuh tubuhnya erat sedangkan Mumtaaz masih lelap tanpa terganggu.
Romli pulang setelah Khumaira datang. Dia undur diri setelah keluarga sahabatmya datang. Semoga Allah memberikan Kuasa-Nya untuk membuat Aziz kuat.
Setelah 1 jam keluarga Khumaira datang. Mereka langsung merengkuh Khumaira. Ridwan dan Mumtaaz seraya mengatakan kata penenang.
Mumtaaz terbangun ketika merasa sumpek. Dia terbangun dengan cepat menangis histeris. Tidak peduli apa pun namun Mumtaaz langsung histeris di kala terbangun dari tidurnya.
Khumaira meminta maaf pada mereka untuk menenangkan Mumtaaz. Dia bawa Putranya di ruang tertutup untuk menyusui. Selagi bisa ia terus menyusui anaknya yang rewel tidak mau berhenti menangis.
Dia cukup tenang saat Putranya yang besar di pangku Ayahnya. Khumaira bersyukur keluarganya cepat datang sehingga mempermudah menjaga Mumtaaz dan Ridwan. Kini ia punya sandaran yaitu keluarganya.
Cukup lama akhirnya Mumtaaz diam. Tangan kecilnyw terulur untuk mengusap matanya. Dia sangat takut hal buruk terjadi pada Aziz sehingga membuatnya rewel. Mumtaaz ingin bertemu Ayahnya lalu minta gendong.
Khumaira menatap depan tanpa ada pancaran kehidupan. Dia sangat terpukul mengetahui Aziz kecelakaan. Jika sampai Summinya tidak tertolong mungkin dirinya bisa gila. Jelas sangat takut akan rasa takut kehilangan. Apa lagi Khumaira belum sempat mengatakan cinta pada Aziz.
Pandangan itu kembali hidup ketika Ridwan dan Laila memanggil. Mereka meminta menunggu Aziz di depan pintu UGD. Khumaira mengaguk lemah menyetujui permintaan mereka. Pada akhirnya ia menuruti perkataan mereka.
Ridwan menatap Khumaira sedih pasalnya ini kali kedua melihat sang Umi begitu terpuruk. Dia tidak mampu berkata apa pun sehingga hanya diam terpaku seraya berdoa dalam hati. Ia hanya bisa mendoakan Ayahnya agar bertahan. Ridwan tidak mau kehilangan. Maka dari itu berusaha berdoa terus menerus agar Ayahnya selamat.
Khumaira ingin masuk ke dalam karena ini sangatlah lama. Apa keadaan Aziz begitu parah? Kenapa para Dokter tidak lekas keluar?
Tolong jangan membuat Khumaira menunggu lama. Dia ingin melihat Suaminya agar rasa sesak terobati. Ingin sekali ia marah pada dirinya yang lemah. Khumaira ingin Aziz baik-baik saja walau kenyataannya bohong.
"Mas Aziz," gumam Khumaira sembari bersandar di bahu Ibunya.
Khumaira sangat rapuh ingin berada di dekapan hangat Suaminya. Dia ingin Aziz memberi kata penenang seraya memberi pelukan. Di saat lemah hanya Suaminya yang mampu membuatnya bangkit. Kini sumber kekuatannya terkapar lemah tanpa tenaga, lalu siapa yang mampu menopang tubuhnya? Haruskah Khumaira meraung-raung agar Aziz bertahan. Dia sangat ketakutan di luar menerima fakta Suaminya mengalami hal buruk.
*.*.*.*.*
Maaf ya, bikin sesak.
Sudah bahagia bukan Masku Aziz baik-baik saja?
Tenang, Mas Aziz peran utama mana bisa tumbang mudah?
Sampai jumpa, kembali di part selanjutnya!
Maaf kurang memuaskan, maafkan Rose!