
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!
Mumpung Rose baik ya update satu Minggu sekali, eyakkkk (canda)!
Kan story Ini tinggal penutupan lalu kelar jadi tak update sesuka hati. Sekali lagi maaf karena deadline masih numpuk.
Karena masanya sudah habis sudah saatnya gantian, ok!
Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
...***...***...
Semilir angin menerpa wajah Khumaira yang sedang bermain bersama anak-anaknya. Dedek Zavi berusia baru empat bulan tampak aktif mengajak celoteh. Untuk Faakhira sedang asyik main boneka dan Mumtaaz sedang asyik bermain rubik. Melihat anak-anaknya adem ayem tentu saja Khumaira sangat senang.
Lihat anak-anak sangat aktif ketika adu mulut. Sedangkan Khumaira mendekap si kecil belum mau lepas dari dekapan. Kalau Aziz sedang di kantor meeting besar pulang nanti malam. Pekerjaan Suaminya tidak bisa di ganggu gugat pasalnya proyek besar akan di rilis. Sebagai Istri seorang CEO jadi harus sabar menghadapi pekerjaan sang Suami.
Apa lagi gaji Suaminya satu bulan tembus 100 juta lebih itu belum masuk uang kompensasi. Mungkin jika Suaminya kerja di luar Negeri jadi triliuner sampai Indonesia. Tetapi, Khumaira tidak akan pernah bisa melepaskan Aziz apa pun yang terjadi. Ingat tragedi di Singapura saja membuat darahnya mendidih akan penderitaan Suaminya.
Oleh sebab itu Khumaira tidak akan pernah bisa melepas Aziz apa pun itu. Dia akan selalu ikut ke mana pun Suaminya berada. Cukup posesif biarkan asal Suaminya akan santosa. Soal protective itu wajar karena takut suatu terjadi. Dia hanya ingin Suaminya selalu aman tanpa ada yang menyakiti atau lebih ekstrem obsesi gila macam Jasmin. Kini harapan Khumaira bahtera rumah tangga mereka tetap adem ayem penuh cinta.
Zaviyar haus sehingga tangan gembulnya meraih hijab Uminya. Bibir mungilnya kelametan minta asi dan ajaibnya tidak menangis. Catat Dedek Zavi tidak suka menangis. Bayi keren harus kece badai bin cool. Walau kadang menangis pada waktu tertentu. Intinya Baby Zavi tercinta tidak suka rewel. Rewel jika sedang demam atau sakit apalah itu.
Untuk Mumtaaz ia bosan karena rubik sudah ia selesaikan dalam waktu kurang lebih 50 detik. Paling lama satu menit itu pun ogah-ogahan. Asli ia begitu genius mirip Ayah dan Uminya tentu saja. Otaknya begitu encer membuat anak ganteng males belajar, tetapi anehnya peringkat. Mumtaaz paling malas di suruh belajar jika bukan kemauan sendiri. Satu hal yang pasti anak ini sangat genius, walau tidur di kelas suruh maju menerangkan pasti detail penjabaran.
Faakhira yang bosan pada akhirnya berdiri menghampiri Mumtaaz. Tubuh gempalnya dengan manja minta pangku Kakak keduanya. Dia mendusal manja dalam tubuh sedikit kurus Kakaknya. Ia tersenyum saja ketika Kakaknya mencium pipi gembul. Faakhira masih sibuk bermain pada hari Mumtaaz yang indah.
Melihat anak-anak sudah mulai bosan Khumaira putuskan mengambil camilan dalam kulkas. Dua anaknya suka puding coklat dan vanilla. Anehnya semua puding tidak mau manis. Yang suka manis hanya Faakhira mirip dirinya dan dua putranya ogah makan manis. Kadang Khumaira heran padahal manis itu enak lah Suami dan anak-anak Lanang tidak mau manis.
"Kak Mumi," panggil Faakhira masih asyik main jari Mumtaaz.
"Hn," sahut Mumtaaz menumpu dagu pada puncak kepala Faakhira.
"Kakak apa nanti puasa Kakak Wan Pulang?"
"Hn, Kakak gede pulanglah. Tapi, puasa ke dua puluh satu. Nanti Ayah yang jemput."
"Hore, kakak WanWan pulang, Dedek senang sekali. Nanti di gendong yeee, Kakak Ridwan yang terbaik. Ngga kayak Kakak Mumi ngga kuat gendong Dedek," celoteh Faakhira.
"Bagaimana mau gendong saat tubuhmu gembul kayak tahu bulat? Yang kuat gendong buntalan nasi ya cuma Ayah dan Kak gede," sengit Mumtaaz.
"Huwaaa kakak Mumi jahat!"
Faakhira menangis keras sembari menggigit bahu Mumtaaz. Dia sebal masak di hina buntalan tahu enak saja. Ia yang kesal spontan mengigit pipi sedikit gembul Kakaknya. Sedikit peringatan dirinya barbar suka melakukan sesuatu. Faakhira tidak peduli Mumtaaz merintih kesakitan gara-gara kenakalannya.
Mumtaaz kapok menghina Faakhira ketika berada dalam pangkuan. Awas saja habis itu pipi gembul gemesin. Sudah gembul bulat kayak bola nakal lagi, lengkap sudah. Dia akan hina nanti jika berada dalam radius jauh. Mumtaaz kapok membuat Faakhira merajuk alhasil sikap barbar keluar drastis.
Khumaira hanya menggeleng melihat kenakalan Faakhira dan Mumtaaz. Dua anaknya itu memang jahil bin nakal suka sekali berulat. Kalau ingat dua anaknya itu tentu ingat cerita Azzam dulu ketika bercerita tentang Aziz sewaktu kecil begitu nakal. Lebih parah malah bahkan kecilnya dulu suka merusuh suka jahilin tangga. Jadi maklum saja jika Mumtaaz dan Faakhira nakal begitu.
Wanita yang masih cantik bahkan semakin cantik meletakan Bayinya dalam boks. Khumaira pada akhirnya meraih Faakhira agar tidak nakal pada Mumtaaz. Lalu tangan lembutnya mengusap pipi putranya terdapat bekas gigitan. Lucu sekali dua anak manisnya ketika bercanda. Khumaira pada akhirnya menasihati Faakhira agar tidak menggigit jika kesal. Begitupun dengan Mumtaaz supaya jangan jahil jika tidak kena imbas.
Apa akhirnya Mumtaaz dan Faakhira diam lalu merengkuh sembari mengatakan maaf. Kakak dan Adik saling tersenyum mengukir senyum manis. Selalu begini jika berantem naikkan dengan pelukan dan ciuman pipi. Manis bukan dua anak rupawan ini? Mumtaaz dan Faakhira itu tipikal anak hiperaktif sedikit bar-bar maka jangan heran jika bertingkah lucu.
Lain sisi Aziz baru pulang awal setelah rapat penting selesai. Dia pulang lebih awal pasalnya sangat rindu. Padahal ia bilang pulang malam ternyata tidak. Dirinya beranjak menuju parkiran untuk pulang. Namun, terhenti ketika Romli bilang sesuatu. Aziz menuruti perkataan Romli yang bahas proyek.
Romli sebenarnya tidak enak hati, tetapi apa daya tidak paham. Terlalu rumit dan sangat unik untuk ukurannya. Dia heran kenapa bisa Sahabatnya memiliki ide ribet, unik dan elegan. Romli sih tidak heran pasalnya Aziz itu luar biasa fantastis. Pada akhirnya ia maksud setelah sahabatnya mendetail menjabarkan ide itu. Kini dirinya bisa tidur nyenyak.
...***...
Aziz menatap Zaviyar yang sedang menatap sembari mengemut Ibu jari tangan. Anaknya seolah mengisyaratkan gendong Dedek Zavi Ayah. Tatapan itu begitu polos sampai dirinya tidak mampu berkutik selain menoel pipi gembul anaknya. Atas segala kegemasan ia begitu gemas pada putranya. Anak tampannya terus memandang minta gendong.
Cukup tahu tadi Aziz berangkat pagi sekali bahkan Dedek Zavi belum bangun. Alhasil si kecil rindu dirinya sampai begitu menggemaskan. Dia menunduk untuk mencium kening anak rupawan. Lihat tangan kecil anaknya terangkat minta gendong. Aziz yang gemas mencium pipi gembul Zaviyar lalu berdiri seolah menggoda Zaviyar.
Zaviyar merengut lucu saat Ayahnya tidak mau gendong. Pada akhirnya ia kembali ke posisi semula dengan diam diri sembarangan menatap dalam Ayahnya. Ibu jari terhisap sementara mata berkaca-kaca minta gendong Ayahnya. Dasar Ayah jahat sudah pakai jurus imut tetap terabaikan.
Pada akhirnya Zaviyar tetap menatap Ayahnya dalam seolah awas saja kalau tidak di gendong. Dan benar adanya ia malah di tinggal sendiri sehingga matanya berkaca-kaca siap menangis keras. Awas saja tidak ada yang menolong ngambek permanen.
Aziz hanya pura-pura pergi ketika terdengar senggukan tentu saja langsung muncul. Dia gendong tubuh gempal anaknya sembari mencium gemas. Anaknya begitu manis ketika tersenyum tidak jadi menangis. Sungguh dirinya sangat gemas pada anaknya sellau bertingkah manja. Maklum saja Aziz termasuk kesayangan para anak kecil.
Bahkan semua Keponakan menjadikannya idola. Sering sekali jika datang para anak-anak manis berebut pelukan. Hingga punya anak juga sukses menjadi rebutan sampai Ridwan dan Mumtaaz cemburu. Ingat itu tentu saja Aziz begitu rindu pada dua anaknya super ganteng bin jahil.
"Aaaa shsgfebagfav acafxebva msvhryevva," sahut Zaviyar pakai bahasa planet Uranus. Tangan kecilnya juga ikut serta menepuk pipi tirus Ayahnya.
"Apa hm? Bahasa Dedek ajaib banget Ayah tidak maksud. Apa mau susu atau min sama, Ayah?"
"Shsghagahvb aajshg asas bdhgrvrh hsvdbhdvdv."
"Oh, main sama Ayah, ayo kita main Sayangku. Kangen Ayah ya makanya ngoceh mulu kayak Umi. Dedek ngajak bicara, tapi Ayah tidak maksud."
"Huwavdvrvr shhsgsvabdv vsvscwbgve avegyrubsv asvvrhrvv."
Aziz terkekeh geli mendengar jawaban Zaviyar begitu lugu. Bahasa planet anaknya luar biasa sampai dirinya pening menerjemahkan. Orang segenius dirinya saja tidak mampu menerjemahkan apa lagi mereka. Sungguh gemas bikin haru di kala anaknya ngoceh. Aziz sangat terharu anaknya begitu aktif sampai gemas sendiri.
Zaviyar tertawa khas bayi kecil menggemaskan. Dia begitu luar biasa pasalnya sudah bisa ngoceh panjang. Walau bahasa bayi setidaknya mau mengajak bicara. Dirinya termasuk bayi hiperaktif begitu aktif dan ingin lekas bisa bicara. Zaviyar juga sudah mulai aktif mengerjai Ayah dan Uminya sampai pusing.
Melihat Aziz bercanda gurau bersama Zaviyar tentu saja Khumaira senang sekali. Anak ya terus menanjak bicara seolah tidak lelah. Walau pakai bahasa alien setidaknya ia sangat terharu dan bersyukur anaknya pandai berceloteh ria. Untuk Mumtaaz dan Faakhira sedang tidur setelah ditidurkan Suaminya. Dua anaknya itu merengek minta pelukan Ayah. Alhasil Aziz menidurkan anak-anak, sementara dirinya membuat makanan untuk nanti malam.
Setelah semua selesai Khumaira beranjak untuk membangunkan anak-anak. Ini waktunya shalat ashar maka dari itu membangunkan si ganteng Mumtaaz dan si cantik Faakhira untuk menunaikan ibadah shalat ashar. Sampai kamar pribadi anak-anak ia melihat Mumtaaz tidur sembari mendekap guling, sementara Faakhira tidur sembari mendekap boneka kelinci. Khumaira tersenyum melihat anak-anak tampak lucu ketika tidur.
"Dedek FaaFaa, ayo bangun Nak mandi." Khumaira membangunkan si kecil dulu lalu memberi ciuman di pelipis.
"Enghh," lenguh Faakhira sebelum namplok seperti bunglon pada Uminya.
"Mandi baru shalat lalu mengaji bareng Ayah."
"Umh."
Khumaira menggendong Faakhira untuk membangunkan Mumtaaz. Sampai di sisi ranjang anaknya ia usap pipi anaknya lembut. Dia tepuk pelan pipi anaknya agar lekas bangun. Bahkan ia tidak segan mencubit gemas pipi anaknya. Benar adanya Mumtaaz paling malas bangun jika sudah tidur lelap.
Mumtaaz mengerjap melihat Uminya begitu lembut membangunkan. Dia pada akhirnya bangun setelah mendapat ciuman pelipis. Ia akan mandi, shalat lalu ke Masjid mau mengaji. Sebelum beranjak dirinya kecup pipi Uminya sebelum beranjak dari ranjang. Mumtaaz mau gendong, tapi mana kuat Uminya dia sudah besar tinggi. Jika Ayah baru kuat menggendongnya.
Khumaira pada akhirnya memandikan Faakhira, untuk Mumtaaz mandi sendiri. Selesai mandi Mumtaaz dan Faakhira wudhu lalu beranjak ke kamar. Dia lap tubuh anak-anaknya sebelum memakaikan pakaian. Ia terkekeh geli saat ank ganteng sudah malu tidak mau dipakaikan baju. Saat memberikan bedak anaknya mau sendiri, untuk Faakhira masih manut.
Mumtaaz dan Faakhira berjalan beriringan menuju pasholstan. Kedua anak tampan ini menunggu Ayah mengimami baru mengaji. Sebelum shalat keduanya saling berbicara lalu tertawa ringan. Sangat menggemaskan apa lagi kasih sayang begitu tulus. Walau sering adu mulut Mumtaaz dan Faakhira saling mencintai setulus hati. Jika jauh rindu, tetapi ketika dekat adu Malut.
Lain sisi Aziz nyengir karena Khumaira menatap dalam. Dia tersenyum gaje pasalnya belum mandi gara-gara Dedek Zavi terus mengajak berceloteh. Alhasil dari Sabang sampai Merauke tetap menanggapi celoteh anak ganteng. Aziz gemas sendiri sehingga membuatnya terus berceloteh. Bahasa manusia vs bahasa planet tentu menang si kecil.
Khumaira meraih Zaviyar dari dekapan Aziz. Heran jika bersama Ayahnya si kecil cerewet sekali. Dia langsung sadar ketika bersama Suaminya pertama kali sikap asli cerewet muncul. Jadi si Dedek Zavi adakah duplikatnya yang pendiam, pandai menyimpan rasa dan tidak suka bicara. Jika bersama Ayah maka bisa berceloteh panjang lebar. Khumaira sangat sadar betapa kuat magnet Suaminya sampai membuat orang nyaman dan asyik bicara.
"Cepat mandi Mas lalu shalat. Itu anak-anak sudah siap mau Shalat dan mengaji. Maaf ya Mas belum suci jadi belum ikut jama'ah."
"Hm. Sini cium Mas, dulu baru mandi."
"Emuach, cepat mandi."
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."
"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."
Khumaira mengecup pipi Aziz lalu memberikan ciuman di rahang. Setelah itu duduk manis menyiapkan baju ganti Suaminya. Setelah itu ia membiarkan Suaminya mencium bibirnya. Walau si kecil menyusu dan Suaminya malah mencium mesra bibirnya. Khumaira sangat tahu betapa gemas Aziz mencurahkan isi hati.
Aziz mencium gemas bibir Khumaira sebelum mencium pelipis anaknya. Dia langsung beranjak sebelum itu menggerling nakal. Ia tutup pintu kamar mandi untuk mandi bebek. Cukup lima menit tidak usah lama asal mandi. Kalau lama pasti Mumtaaz dan Faakhira merajuk alhasil harus gendong dua anaknya. Bisa sakit pinggang bahaya sehingga membuat Aziz harus cepat.
Cut ....!!!!
Maaf belum tak koreksi dan edit jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.
Warning
Event masih berlaku, cus ikutan semoga kalian senang.
Update jika Rose senggang.
Bonus Pick Dedek Zavi!
Salam cinta dari Rose!