
...Aziz POV On!...
Aku berjalan menuju ruang bawah tanah. Dengan langkah santai aku menuruni anak tangga. Ah, iya setelah 3 hari sakit dan dua hari sehat akhirnya kami kembali ke rumahku.
Aku membawa Mbak Maira dan Tole Ridwan ke rumahku. Rumah desain unik yang aku rancang sendiri dan tentunya dari hasil jerih payah sendiri. Aku membeli lahan pekarangan di berbah dan membangun rumah dengan hasil jerih payah sendiri. Aku menabung demi mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membahagiakan Istriku.
Semua menjadi istana saat aku berhasil mendirikan rumah. Walau terkesan mini malis, tetapi sangat mewah. Ada ruang bawah tanah itu tempat rahasia. Aku juga punya dua mobil dan tentunya suka mengoleksi jam tangan mewah.
Saat sudah di ruangan unik ini semua terasa kosong ketika tanpa sengaja aku melihat patung berhijab memakai pakaian muslim. Kapan aku membuat patung ini? Seperti sudah sangat lama, tetapi kapan?
Iya aku ingat patung ini di buat sekitar 5 tahun silam. Tepatnya saat umurku 24 tahun aku memahat patung dirinya. Sangat cantik dan anggun sesuai karakternya yang manis menggemaskan.
Aku usap wajahnya penuh dengan tangisan. Ya Allah, takdir menyatukan kami dengan sangat kejam. Aku sangat mencintaimu sepenuh hati. Kenapa takdir begitu kejam padaku?
Ingin tahu sebuah rahasia besar yang hanya Allah yang tahu. Jika mau mendengar maka aku akan ceritakan. Jangan lewatkan agar kalian paham tentang rahasia besar ini. Aku akan mulai bercerita tentang sebuah kebenaran.
Dahulu kala tepatnya 6 tahun yang lalu, aku menerima banyak pernyataan cinta dari gadis belahan dunia. Namun, semua tertolak karena tujuanku belajar mencari ilmu dunia dan akhirat.
Saat itu aku melanjutkan studi di Kairo. Hingga awalnya bertemu gadis Pakistan bernama Adiba. Kami saling mendukung dan menjalin persahabatan dengan erat.
Hingga suatu hari, Adiba menyatakan cinta padaku. Aku bingung dan terasa kalut pasalnya dia gadis sudah kuanggap Adik sendiri.
Akhirnya aku putuskan untuk Shalat Istikharah penuh keyakinan. Dalam hajat itu aku hanya ingin tahu siapa jodoh yang di kirim Allah untukku.
Alhasil, aku bermimpi yang datangnya dari sang Pencipta alam semesta. Aku melihat seorang gadis sangat cantik nan manis dengan senyum teduh terus menatapku.
Aku mencari tahu apa ada gadis itu di Al-Azhar. Ternyata tidak ada, sungguh di mana kamu berada? Wajahnya begitu manis apa lagi senyumannya itu membuat aku terpesona. Aku terus mencari tetapi hasilnya nihil.
3 kali aku memimpikan gadis cantik itu dan aku langsung jatuh cinta. Setiap 1 minggu sekali pasti gadis itu muncul ke permukaan mimpi. Membuat hariku berwarna penuh kebahagiaan.
Aku jadi semakin cinta padanya bahkan cintaku terkesan sangat tulus. Aku sangat mencintaimu karena Allah wahai Gadisku tersayang. Mulai dari situ aku hanya mengenal cintanya sepenuh hati tanpa ada keraguan.
Di setiap hembusan aku selalu memikirkan tentang gadisku. Aku selalu berdoa bisa bertemu dengan dirinya agar rasaku tersampaikan. Aku ingin bertemu denganmu wahai sang Bidadari impianku.
Senyum manis di sertai suara lembut mengalun indah ketika memanggil namaku. Gadisku yang manis, itukah takdirku. Aku semakin jatuh hati padanya tanpa bisa kukendalikan. Yang jelas aku begitu mencintainya karena Allah.
1 tahun kemudian, aku tidak tahan dan bertekad memahat dirinya di sebuah patung. Selama 3 bulan aku membuat gadisku. Akhirnya patung ini selesai dengan hasil memuaskan. Teman seangkatanku bersorak gembira dan terus memuji karyaku. Mereka begitu antusias melihat patung buatan ku yang katanya seperti hidup.
Aku tidak tahu yang pasti aku membuatnya dari hati yang paling dalam. Pasti hasilnya sangat nyata jika di buat setulus hati. Itulah aku kata mereka multitalenta. Aku tidak merasa begitu, pasalnya Aziz hanya pria penuh kekurangan.
Aku biasa saja atas semua komentar mereka. Bahkan ada yang mau membeli patung buatan ku dan tentunya aku tolak secara tegas. Hingga suatu hari Mas Azzam tahu aku membuat patung. Dia tersenyum sembari menepuk bahuku. Mas Azzam memuji hasil karyaku seperti nyata. Almarhum begitu suka akan hasil karyaku sampai Masku bilang aku cocok jadi seniman. Tidak mau jadi seniman aku mau jadi pengusaha sukses yang bisa keliling dunia.
Aku terdiam sepi saat teringat mimpi indah yang selalu hadir. Sebuah cinta dalam mimpi yang di turunkan Allah untukku. Sebuah gadis manis yang sangat aku cintai karena Allah.
Hingga aku berumur 26 tahun, aku baru tahu namanya. Di mimpi itu aku memanggil Dek Syafa, cantik sekali bukan. Namanya begitu cantik seperti orangnya. Aku sangat mencintainya tanpa syarat apa. Pun. Aku mencintainya sebening embun di pagi hari.
Saat hendak kembali ke Indonesia, aku memasukkan patung ini di peti besar. Aku terus berharap semua aman sampai tujuan. Sampai rumah aku tetap menaruh di peti dan ku simpan di lemari.
3 tahun aku begitu mencintai Dek Syafa bahkan di dalam doa selalu ku sebut namanya. Gadis pilihan dari Allah yang sangat aku cinta karena-Nya. Aku begitu berharap Allah lekas mempertemukan kami.
Kalian tahu hal paling membahagiakan adalah ia muncul di depanku. Aku sangat bahagia sampai menitikkan air mata. Gadisku yang manis ada di depanku. Tepi, tunggu kenapa dia memakai kebaya?
Allahu Akbar, rasa sakit menghantam jantung dan hati tatkala tahu gadis selama ini singgah dalam hati di nikahi Masku. Pedih sekali sampai rasanya ingin berteriak lantang. Aku ingin meraihnya dan membawanya kabur dari masjid ini. Tolong siapa pun ini sangat menyakitkan ketika gadis yang sangat kucintai menikah dengan Masku sendiri.
Aku tertawa keras sembari menangis di bukit yang ada di Pagerharjo. Sakit, hancur, remuk dan tidak berbentuk itulah aku saat itu. Aku seperti orang gila menangis lalu tertawa keras meratapi nasib indah ku. Aku begitu hancur tidak berbentuk tepat di hari pernikahan mereka.
Aku menangis mengadu pada Allah, kenapa Dek Syafa menjadi Kakak iparku? Kenapa bukan aku yang menjadi Suaminya? Kenapa Allah begitu kejam padaku. Kenapa? Kenapa harus Masku? Kenapa bukan aku yang menjadi Suaminya?
Aku sangat frustrasi sampai lupa masih banyak gadis. Aku sakit sampai tidak sanggup menjabarkan betapa hancur hatiku. 3 tahun cinta bersemi laksana bumi dan kini hancur laksana matahari.
Andai aku tidak Shalat Istikharah, pasti Mbak Khumaira tidak akan muncul dan cintaku tidak akan bersemi. Namun, semua Cuma bsa berandai belaka. Omong kosong jangan suka berandai karena waktu tidak bisa di putar kembali.
Pertemuan kedua kami saat Mas Azzam membawa pulang Mbak Khumaira. Rasa sakit yang ku pendam rapat terkoyak melihat betapa romantis mereka. Hancur lebur melihat keduanya sangat romantis. Tenang aku kuat tidak boleh terlihat kepedihan mu, Aziz. Tidak seharusnya cintamu masih utuh padanya. Ingat ia Kakak ipar bukan takdirmu!
Namun, apa daya hati serta pikiran tidak pernah bohong. Aku masih sangat mencintai Gadisku walau menjadi Kakak ipar. Cukup ini salah jangan lakukan tindakan terlarang Aziz.
Aku pandang dirinya dari kejauhan seperti di mimpi. Dek Syafa begitu anggun dan manis ketika tersenyum. Ya Allah, sakit sekali sampai aku tidak mampu untuk berlalu. Sudah cukup jangan membuat aku tambah dosa dengan mencintai Kakak ipar sendiri.
1 bulan setengah mimpi itu hilang dan datang kembali dengan sesuatu yang lebih membahagiakan. Di mimpi itu kami memiliki 3 anak dan hidup bahagia. Bahkan kami begitu saling mencintai tanpa terpisahkan. Mimpi itu benar-benar gila membuat sakit kepala.
Sakit, cukup tolong hilangkan mimpi indah sekaligus menyakitkan itu. Ya Allah, tolong jangan pernah Dek Syafa muncul lagi dalam hidupku. Cukup aku tidak mau memiliki perasaan gila ini. Tolong hentikan rasanya sangat menyakitkan.
Dia Kakak ipar yang harus ku hormati bukan Kupikirkan penuh cinta. Mereka saling mencintai dan tidak pantas rasanya memikirkan Istri orang. Maka dari situ aku melupakan segalanya dengan lapang dada. Dia Istri Masku yang sangat kusayangi dan sangat kucintai.
Biarkan aku mengalah mungkin itu hanya bunga tidur. Bunga tidur seharusnya tidak pernah singgah. Lagian aku sangat menyayangi Mas Azzam dan akan selalu membuatnya bahagia. Masku adalah segalanya untukku maka biarkan aku mundur perlahan dan berusaha lapang mengikhlaskan Dek Syafa.
Mbak Khumaira iya aku akan memanggil kamu begitu agar rasa cintaku hilang. Tidak ada lagi Dek Syafa atau pun hal membahagiakan lainya. Cukup Mbak Khumaira tidak lebih dan tidak kurang. Mulai sekarang tidak akan ada cinta tetapi rasa sayang sebagai ipar. Kita ipar hanya ipar dan hanya ipar tidak lebih. Kamu Kakakku dan aku akan menghormati dirimu layaknya Kakak ipar.
Jangan takut karena aku akan melupakan cintaku. Cukup sampai sini maka semuanya berakhir. Aku ikhlas engkau jadi milik Masku, pasalnya ia sangat cocok untukmu. Masku begitu sempurna dan engkau pasti akan selalu bahagia bersama dirinya.
Beberapa bulan kemudian untuk pertama kali aku makan makanan Mbak, rasanya begitu lezat seperti di masa depanku. Astaghfirullahal'adzim, bisakah aku melupakan Mbak Khumaira? Tolong jangan lagi karena aku sudah berusaha melupakan cinta ini.
Tolong jangan buat aku mencintai Kakak ipar sampai separah ini. Cukup sudah karena waktu 3 tahun mencintai seseorang harus di musnahkan. Aku sudah ikhlas merelakan engkau dengan Masku. Cukup sampai sini maka semua akan tertutup rapat tanpa ada yang tahu. Cukup Allah yang tahu aku pernah mencintaimu.
Tepat 3 bulan aku menjadi Dosen di kampus Gadjah Mada. Aku sering bertemu Mbak Khumaira di sini dan aku sudah mulai teebiasa akan takdir. Hingga rasa panik luar biasa hadir ketika Mbak Khumaira nyaris di tabrak mobil. Aku langsung menolongnya tanpa peduli kondisiku sendiri.
Jika lukakku bisa menyelamatkan nyawamu maka biarkan aku terluka lebih dalam. Biarkan aku melindungi dirimu dengan caraku. Tolong maafkan aku merengkuh tubuhmu untuk pertama kalinya. Aku sadar akibat kecelakaan itu tubuhku jadi lemah dan aku bersyukur Dek Syafa dan calon keponakan tersayang baik-baik saja.
Aku akan menjagamu semampu dan sebisaku. Maafkan aku Mas Azzam mencintai Istrimu. Andai Mas tahu, aku mencintai Mbak Khumaira terlebih dahulu bahkan 3 tahun sebelumnya.
Mas, aku ikhlas menyerahkan dia padamu. Mas aku tahu cintamu sangat besar untuk Dek Syafa maka jagalah dia sepenuh hatimu. Aku tahu cinta kalian begitu tulus maka biarkan aku berlalu agar tidak menjadi bumerang. Biarkan cinta ini aku simpan dalam diam. Semoga kalian bahagia selalu tanpa terpisahkan. Doaku selalu mengiringi langkah kaki kalian. Doaku akan selalu hadir demi kebahagiaan kalian.
Cintaku cukup sampai sini karena semua juga tidak benar. Tiga tahun ku lewati bersama mimpi indah kini musnah di telan ombak. Kini aku labuhkan cinta ini di sungai Nil. Aku akan belajar menerima bahwa Dek Syafa bukan takdirku melainkan Kakak ipar. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan menyertaimu bersama Mas Azzam.
3 tahun kemudian, hal menyakitkan terjadi tatkala Mas Azzam pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Takdir apa ini Tuhan? Kenapa Engkau mempermainkan emosiku? Hatiku hancur saat Masku Azzam pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Almarhum sudah kembali ke Rahmatullah secara tidak terduga. Sebelum itu almarhum Masku memberi amanah yang sangat sulit.
Aku sudah bertunangan bahkan sebentar lagi menikah. Namun, harus rela berakhir demi sebuah amanah dan rasa tanggung jawab. Aku harus rela menjadi orang kedua demi amanah Mas Azzam. Aku tahu konsekuensi jika menjadi kedua. Kini takdir benar-benar mempermainkan hidupku.
Cinta yang ku pendam 3 tahun terbuka kembali ketika Mbak Khumaira sah menjadi Istriku. Aku terdiam sepi ketika cinta yang kututup 3 tahun lebih terbuka kembali. Cintaku kembali bersemi bahkan semakin besar saat Dek Syafa menjadi Istriku.
Cinta ini, rahasia ini, dosa ini dan semua rasa melebur menjadi kesatuan. Sebuah rahasia hanya aku dan Allah yang tahu. Semoga saja bisa ku pendam sampai waktunya tiba.
Rahasia bahwa aku sangat mencintai Mbak Khumaira dari 6 tahun yang lalu. Aku sangat mencintainya karena Allah. Cinta yang di berikan langsung oleh Allah. Cinta penuh luka akan segera aku tempuh tanpa ada cahaya. Dan sekarang kami bersatu dengan jalan menyakitkan. Aku bersama Dek Syafa bersatu tanpa kami kehendaki. Kenapa kami bsrsama secara menyedihkan?
Sekarang aku hanya perlu menunggu Mbak Khumaira membalas cintaku. Tetapi, mustahil pasalnya Mbak hanya mencintai Mas Azzam. Tidak apa, aku akan sabar menanti.
Mbak Khumaira, aku akan menunggu dan ikhlas lahir batin menjalani rumah tangga yang kita jalani. Cintailah Mas Azzam sampai kapan pun dan terus jaga cintamu. Tidak apa, aku sudah sangat bahagia bisa melihat Mbak. Aku sudah sangat bahagia bisa memiliki dirimu. Setidaknya aku bisa bersama selamanya.
Soal cinta biarkan aku yang mencintaimu sepenuh hati. Cukup cintai Masku sepenuh hati jangan sungkan. Jaga cintamu karena aku tidak meminta balasan.
Aku sangat mencintaimu karena Allah. Aku mencintaimu layaknya binatang serta cahaya sang surya. Aku sangat mencintaimu seperti kuku. Walau terpotong tidak di anggap serta terus di sakiti maka cinta itu akan selalu tumbuh tanpa lelah.
Ternyata mimpi indah itu menjadi nyata walau harus ada kesakitan yang aku lalui. Takdir di mimpi menjadi nyata, tetapi harus sabar mendapati Mbak membalas cintaku.
Terima kasih ya Allah!
...Aziz POV Off!...