Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Tercengang Sekaligus Duka Mendalam!



**Siapkan tisu yang banyak ya, Sayangku!


Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Mohon dukungannya melalui vote sebanyak-banyaknya. Mode maksa, eyak eyakkkk!


Kalian jangan ikut Dedeng kayak Rose yang manis ini, okay**!


***///\*


At Lirboyo, Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur 06:00 PM!


Aziz serta keluarga kecil sudah sampai di tempat tujuan. Mobil Kakaknya (Nakhwan) sudah parkir di garasi. Kemarin dia pulang meminjam mobil Masnya agar lebih cepat sampai. Kini Aziz keluar mobil lalu membuka pintu untuk Khumaira. Dalam hati ingin berlari kencang membawa lariĀ  Istri dan anak-anaknya. Namun, apa daya ini ini takdir yang Allah berikan.


Khumaira terdiam sepi saat tangan Aziz terulur. Entah kenapa ia berat melangkah keluar dari mobil. Dirinya mau berbalik meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Namun, apa daya dirinya terlalu lemah melangkah. Khumaira pada akhirnya meraih tangan itu sebelum itu membenarkan posisi dua anaknya.


"Mas, anak-anak tidur," ujar Khumaira.


"Biar Mas gendong Kakak Ridwan dan Adek gendong Dedek Mumtaaz."


"Enggeh, tolong keluarkan Dedek dulu biar Adek gendong."


Aziz mengeluarkan Mumtaaz hati-hati lalu menyerahkan pada Khumaira. Dia juga meraih Ridwan hati-hati agar tidak bangun. Senyum sendu terukir saat merengkuh Ridwan erat. Dengan sayang ia mengecup pelipis Putranya. Aziz sampai ingin menangis saat tangan kecil Ridwan melingkar di lehernya. Sesak sekali sampai rasanya ingin menangis mendekap tubuh anaknya.


Khumaira diam melihat Aziz tampak lama meraih Ridwan. Ada apa sebenarnya pada sang Suami? Ingin rasanya ia tanya hanya saja tidak enak hati. Alhasil dirinya bungkam supaya sang Suami mau berbagi cerita. Khumaira akan menunggu saat Aziz menceritakan semuanya.


"Nak, semoga kelak jadi pria hebat dan Sholeh, Aamiin," batin Aziz sebalum mengeluarkan Ridwan.


Aziz berjalan beriringan bersama Khumaira. Langkah kaki terasa berat memasuki teras rumah. Detak jantung terasa menggila membuat ia sesak. Dia tengok Istrinya penuh akan makna. Namun, tatapan Aziz lebih menjurua ke sendu akan kehilangan kebersamaan bersama Khumaira.


Khumaira merasa degup jantung terasa bertalu-talu tanpa bisa di kendalikan. Dia merasa takut melangkah masuk ke dalam menuju rumah orang tua Aziz. Setitik ketakutan hinggap tatkala Suaminya menatap sendu. Tolong khumaira begitu tersiksa menerima rasa sesak ini. Dengan langkah bergetar akhirnya dia dan Aziz memasuki rumah.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz dan Khumaira kompak.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut keluarga Aziz kompak.


Aziz tersenyum tatkala kedua orang tuanya menyambut ramah. Dia dan Khumaira masuk seraya tersenyum teduh. Mereka rebahkan anak-anak di sofa, kemudian menyalami Hasyim dan Safira. Hati Aziz begitu ngilu ketika Umminya merengkuh erat dirinya seraya menangis tersedu. Untuk Ayahnya dia mendapat tepukan penyemangat. Aziz hanya tersenyum berusaha kuat merasakan dukungan orangtuanya serta saudara-saudarinya.


Khumaira tersentak ketika Safira menangis histeris merengkuh tubuhnya. Sebenarnya ada apa? Kenapa Ummi tampak sedih mendekap tubuhnya? Lagi-lagi Khumaira merasa janggal ketika Hasyim menepuk puncak kepalanya dengan pandangan sendu. Ini kenapa jadi sedih semua? Khumaira jadi serba salah menerima orang-orang jadi aneh semua.


Rasanya hati Khumaira merasa sesak melihat saudara-saudari ipar menatap lemah. Dari pancaran mata jelas terlihat mereka begitu mengasihani dia. Sebenarnya apa arti dari semua ini? Khumaira jadi paranoid memikirkan spekulasi buruk. Sebenarnya ada apa?


Ridwan dan Mumtaaz terbangun dari tidur lelap. Mereka merengek meminta pelukan dari kedua orang tuanya. Bersyukur saja langsung mendapat dekapan hangat Ayah dan Umi. Alhasil Ridwan dan Mumtaaz dapat dekapan hangat kedua orangtuanya.


Khumaira memberi susu untuk Mumtaaz sementara Ridwan diberikan usapan. Dia usap kepala Ridwan dan Mumtaaz bersamaan agar keduanya tenang. Benar mereka terlihat membaik dan tersenyum sedikit lebar. Dengan penuh ceria Ridwan salaman pada Kakek, Nenek, Paman dan Bibinya. Sementara Mumtaaz masih asyik dalam pangkuan Khumaira dengan dot menyumpal mulutnya. Dia akan salaman setelah rasa haus berkurang nakal jahil titisan Aziz.


Mereka mencium pipi gembul Ridwan dan Mumtaaz karena gemas. Namun, dalam hati terasa menyakitkan ketika teringat akan takdir yang akan di terima sebentar lagi. Rasa miris membuat mereka tidak tahan membendung air mata.


Aziz tersenyum miris di tatap menyedihkan oleh keluarganya. Demi Allah ia jadi merasa menyedihkan. Bisakah dia tahan akan segalanya jikalau hari ini adalah akhir? Dengan tatapan penuh kesakitan Aziz bertanya lewat mata di mana Masnya?


Nakhwan yang paham menjawab ada di kamar. Namun, lewat isyarat agar khumaira tidak curiga. Dia mengaguk setuju bagitu pun yang lain ketika Aziz izin menbawa Khumaira dan Ridwan ke kamar Azzam.


"Ayah punya kejutan untuk Istriku dan Kakak Ridwan. Kalian mau melihat sesuatu yang kalian rindu?"


Aziz tersenyum saat Istri dan anaknya tampak bingung mendengar perkataannya. Sebenarnya ini sangat berat ketika harus mempertemukan keduanya. Semoga saja kejutan itu mampu membuat Khumaira dan Ridwan sangat bahagia. Demi kebahagiaan anak Istri dan Masnya biarkanlah Aziz terluka.


"Ayah, Dedek ngga di kasih kejutan?"


Mumtaaz protes pada Ayahnya, pasalnya Umi dan Kakaknya dapat hadiah. Kenapa dia tidak mendapat hadiah dari Ayahnya? Si kecil merajuk gara-gara Aziz tidak memberi hadiah di sini. Rasanya Mumtaaz ingin menangis saja.


"Dedek hadiahnya nyusul, sini gendong Ayah."


Khumaira dan Ridwan mencerna perkataan Aziz. Mata mereka membulat sempurna setelah berpikir ke arah jauh. Tidak akan terjadi, mana mungkin Aziz berikan kejutan semustahil itu. Dengan langkah bergetar Khumaira dan Ridwan melangkah mengikuti Aziz.


Sampai di depan pintu kamar Azzam, pria tampan yang menggendong anaknya. Aziz meminta keduanya untuk tetap diam dan menunggu di luar. Terlebih dahulu ia masuk dan melihat Azzam usai berwudhu. Aziz berusaha kuat demi Mumtaaz yang polos dalam gendongan.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas." salam Aziz.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Tole."


Aziz tersenyum saat Mumtaaz menatapnya penuh tanya. Si kecil bertanya siapa orang di depannya? Diq hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mumtaaz. Ya Allah kuatkan Aziz menerima semua ini.


Mumtaaz melihat pria dewasa yang sangat asing baginya. Mata besar itu menatap Ayahnya lalu balik tatap ke depan. Siapa sih kan Dedek kecil bingung siapa Paman itu? Mumtaaz hanya diam saja Diana gendong Ayahnya. Sesekali si kecil menatap Azzam polos karena asing.


"Mas, ini Mumtaaz, Putraku yang sangat tampan seprtiku," ujar Aziz.


"Masya Allah, Tole menggemaskan sekali. Mas tidak menyangka ini lucu sekali, Ke," sahut Azzam begitu kagum.


Azzam yang gemas langsung mengecup pipi bulat Mumtaaz. Dia cubit pipi gembul keponakan dengan sayang. Memang sangat tampan mirip Adiknya yang narsis. Seulas senyum haru menghiasi bibir Azzam tatkala Mumtaaz meminta salaman.


Mumtaaz tahu mungkin pamannya maka dari itu mengulurkan tangan minta salaman. Dia selalu di ajari sopan santun agar menjadi ank baik. Kalau salaman harus sopan pada orang yang lebih tua. Begitupun Mumtaaz mengikuti ajaran orangtuanya dalam kebaikan.


"Mas sangat senang melihat anakmu, Le. Dia sangat manis," puji Azzam.


"Paman, Dedek Mumtaaz ngga manis, tapi ganteng!" protes Mumtaaz tidak mau dikatai manis.


Azzam tertawa mendengar protes Mumtaaz. Dia langsung menggendong Mumtaaz dan menciumi wajah rupawan keponakannya. Wajah tampannya begitu menggemaskan dan itu membuat Azzam rindu Ridwan dan anaknya yang bungsu.


Di sini Azzam belum tahu Khumaira pendarahan hebat menyebabkan janin malang itu keguguran. Aziz hanya bercerita tentang Ridwan tanpa membahas duka pilu itu. Sebenarnya ingin namun Aziz tidak mau membuat Azzam terluka. Sehingga Azzam tahunya Ridwan dan anak bungsunya.


Melihat itu tidak ayal membuat Aziz pedih menerima semua ini. Azzam sangat tulus perhatian serta sangat mencintai Mumtaaz. Mungkin keputusan benar I titipkan anak manisnya pada Masnya. Setidaknya di tangan Azzam Insya Allah Mumtaaz jadi anak hebat. Aziz jadi lega bisa menyerahkan sedikit hak pada Masnya merawat wajah buah hati tercinta.


"Aziz punya kejutan untuk Mas."


"Apa itu,Le?"


"Tunggu, kami keluar dulu."


Aziz meminta Mumtaaz dari Azzam setalah anaknya mengulurkan tangan. Dia gendong Putranya untuk keluar kamar yang akan jadi saksi bisu pertemuan anak Istrinya. Senyum tampan terukir indah tatkala melihat Khumaira dan Ridwan cemberut. Dengan sayang Aziz kecup pipi gembul Istri dan anaknya.


Khumaira dan Ridwan memberengut lucu akan kelamaan menunggu. Sejatinya apa sih yang akan jadi hadiah? Jujur saja mereka sangat penasaran akan hadiah Ayah tersayang. Mau tidak mau Khumaira dan Ridwan menunggu kurang lebih 10 menit baru Aziz dan Mumtaaz keluar.


"Hadiah kalian ada di dalam. Semoga senang menerima kejutan dari, Ayah. Nah silakan masuk jangan lupa ucap salam!"


Setelah mengatakan itu Aziz meminta keduanya masuk. Setelah Khumaira dan Ridwan membuka pintu ia memilih pergi bersama Mumtaaz. Hatinya sudah kebal menerima takdir ini semua. Semoga saja setelah ini semua akan baik-baik saja. Seluas samudra setinggi langit Aziz ingin bertahan melampaui batas.


Mumtaaz hanya diam ketika Ayah semakin erat mendekapnya. Sejatinya ada apa sih? Kenapa kakak dan Umi masuk tanpa mereka? Lalu kenapa Ayah menangis? Mumtaaz yang belum tahu apa-apa memilih bungkam sembari mengusap air mata Ayah. Alhasil tubuhnya terengkuh erat dengan ciuman di berikan padanya.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Khumaira dan Ridwan.


Ridwan membatu melihat sosok pria berdiri membelakangi mereka. Siapa pria itu yang sangat familiar untuknya? Dengan penasaran ia mendongak menatap Uminya meminta kejelasan siapa pria itu? Ridwan tidak tahu siapa pria dewasa setinggi Ayahnya?


"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Terasa terhempas di langit tujuh itu yang di rasakan khumaira. Dia tidak pernah tahu seberapa tercengang dirinya menerima kenyataan pelik ini. Air mata luruh deras tidak mampu berkata apa-apa. Khumaira sangat hafal siapa orang di depannya.


Ridwan memiringkan kepala berusaha mengingat siapa gerangan pemilik suara lembut itu. Dia langsung diam dengan mata terbelalak melihat orang itu berbalik menghadap mereka. Kalau begini Ridwan jelas tahu siapa pria itu yang berlutut sembari membentangkan tangan.


"Abi," lirih Ridwan dengan derai air mata.


Azzam menangis melihat Khumaira dan Ridwan. Dia tidak sanggup menatap Putranya yang sudah besar dan tumbuh tampan. Rasanya ia ingin meraung meminta maaf atas hilangnya ingatan. Azzam ingin menangis keras dalam dekapan Ridwan dan Khumaira.


Ridwan langsung berlari ke arah Azzam dan langsung merengkuh erat. Dia meraung histeris mengatakan betapa bahagianya atas pulangnya Abi. Si kecil terus mengucap syukur pada Allah telah mengembalikan Abinya. Ridwan tidak pernah percaya ternyata ini kado paling mengharukan yang pernah Ayahnya beri.


Khumaira masih sok berat melihat Azzam mendekap Ridwan. Dia tidak bergeming seinci pun untuk datang pada Suami pertamanya. Jiwanya terasa kaku tidak mau di gerakan walau selangkah. Semua terasa menyakitkan sekaligus membahagiakan melihat orang yang dia rindu. Sungguh Khumaira sangat bahagia penuh luapan haru melihat Azzam-nya kembali.


Azzam merengkuh erat Ridwan sembari memciumi kepala Putranya. Dia tangkup pipi gembil Putranya penuh rindu. Dengan tangis haru ia ciumi wajah rupawan Ridwan. Dia kembali merengkuh Putranya erat seraya mengatakan maaf. Sebuah kelegaan Azzam rasa saat Ridwan masih mengenalnya.


Ridwan merengkuh Azzam erat sembari menangis histeris. Dia tidak pernah menyangka Abinya kembali setelah lama pergi. Hati sucinya terlampau bahagia atas hadiah yang Ayahnya berikan. Dengan begini Ridwan punya 2 Ayah. Senang sekali rasanya dapat bertemu Azzam kembali.


Azzam mencium kening Ridwan penuh sayang. Dia beranjak mendekati Khumaira. Rasa rindu menyeruak di hatinya melihat Istrinya diam tanpa bergerak. Dia tahu pasti Khumaira begitu terkejut menerima kejutan ini. Dengan lembut Azzam menarik Istrinya dalam dekapannya.


Khumaira diam merasakan pelukan hangat Azzam yang selalu meneduhkan. Dia tidak sanggup membalas karena jiwanya terasa kaku tidak mampu bergerak. Air mata Khumaira terus berlinang tanpa ada suara isakan. Jiwanya meronta ingin membalas pelukan seseorang yang masih berkuasa di lubuk hati yang paling dalam.


Azzam menangkup pipi gembil Khumaira dan memberikan ciuman sayang di seluruh wajah cantik nan manis sang Istri. Dia berikan ciuman lama di kening Istrinya serat akan rasa rindu membuncah. Sungguh Azzam sangat senang akhirnya bisa merengkuh Khumaira kembali.


"Mas pulang Dek. Mas sangat merindukan Adek dan Tole Ridwan. Mas sangat merindukan kalian sampai sesak. Mas sangat bahagia akhirnya bisa pulang lagi. Mas mencintai Adek karena Allah."


Khumaira yang tidak sanggup menerima segalanya merasa pusing. Hingga pada akhirnya dia pingsan tanpa bisa menjawab perkataan Azzam. Dia sangat sok mengetahui fakta ini yang sangat membahagiakan sekaligus menyakitkan. Khumaira begitu tertekan tidak mampu menyembunyikan duka paling dalam.


Azzam menangkap tubuh mungil Istrinya yang nyaris jatuh. Dia langsung mengangkat Khumaira untuk di rebahkan di ranjang. Dengan hati-hati merebahkan sang Istri di ranjang. Wajah Istrinya masih sama dan sekarang tambah dewasa. Masih sangat manis sampai Azzam ingin menatap Khumaira lamat-lamat.


Ridwan diam saat Abi membiarkan Uminya untuk istirahat. Dia di pangku Abinya seraya mendapat pelukan hangat. Anak ini berspekulasi pasti Uminya sok berat akan situasi ini. Bahkan Ridwan tidak mampu berkata apa-apa selain menangis.


"Tole sudah besar ya. Abi sangat merindukan Dedek Ridwan."


Ridwan menyandarkan kepala di bahu lebar Abinya. Jika mengingat lagi Azzam pergi sewaktu ia masih kecil. Rasa rindu membuncah membaut mata sewarna Abinya menatap dalam. Banyak pertanyaan yang ingin Ridwan tanyakan namun tercekat di ujung lidah.


Azzam menatap Ridwan dan Khumaira penuh arti. Sungguh ia sangat bahagia bisa bertemu keduanya. Tunggu dulu ia merasa heran tidak melihat anaknya yang lain. Di mana anaknya yang terakhir? Apa anaknya tidak ikut menemukan? Seraya memikirkan sang anak bungsu tangan kekarnya terus mengusap rambut tebal Ridwan. Sesekali Azzam mencium pelipis serta puncak kepala anaknya. Sementara matanya terus mencuri pandang ke arah Khumaira.


***///\*


Tepat jam delapan malam Aziz di datangi Azzam. Dua saudara ini tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka sibuk merangkai kata untuk jadi awal pembicaraan. Aziz yang diam tanpa suara, sementara Azzam tampak tenang.


Kakak dan Adik ini saling diam memikirkan topik obrolan. Keduanya tidak pernah tahu jika Allah begitu misterius mentakdirkan hidup begitu runyam. Entahlah yang jelas mereka tidak ada yang mau bicara. Baik Aziz maupun Azzam sama-sama bungkam.


"Le, terima kasih sudah menjaga Istri dan Putraku."


"Sama-sama, Mas."


"Takdir itu lucu ya, Le."


"Maksud, Mas?"


Azzam menatap Aziz terluka untuk pertama kalinya. Mata teduhnya berpancar kecewa pada Adiknya. Dia berpaling menyembunyikan duka yang sangat dalam. Kenapa takdir begitu kejam mempermainkan takdir Azzam dan dua orang yang disayangi?


Aziz tersenyum kecut menerima kenyataan pahit siap saji. Rasanya begitu menyiksa sampai ia ingin menyerah pada takdir. Dia mendongak menyembunyikan air mata. Pasti Azzam sangat kecewa pada Aziz.


"Kamu tahu Jawabanya, Le. Aku baru sadar saat ingat kamu datang bersama Istri dan Putraku serta anakmu. Saat aku masih jadi Emran teringat sesuatu bahwa di dompetmu ada foto kalian berempat. Bodohnya aku baru sadar Adikku telah mengkhianati Masnya. Kamu mengambil anak dan Istriku. Lalu kemana anak bungsu ku?"


Aziz membisu mendengar perkataan sarkasme Azzam. Dia remas ujung bajunya kasar merasa begitu tertekan. Apa yang di katakan Azzam benar adanya. Jadi tidak boleh sedih akan kenyataan itu. Lalu bagaimana jawaban akan anak bungsu Masnya yang telah tiada? Dengan tersenyum kecut Aziz menatap Azzam hendak menjawab.


"Maafkan aku telah mengambil milik, Mas. Namun, percaya Aziz tidak ada niat berkhianat pada, Mas. Waktu itu Dek Syafa ah maaf Dek Khumaira dan Tole Ridwan begitu mengenaskan di tingal pergi Mas. Mereka begitu terpuruk sampai aku ambil keputusan untuk jadi sandaran. Maaf menepati amanat Mas dengan cara memiliki mereka dengan sah. Maafkan Aziz tega merebut Dek Syafa dan Tole Ridwan dari Mas. Namun, sat itu keadaan begitu memprihatinkan. Saat itu Istri dan anak Mas begitu terpuruk. Maka dari itu Aziz maju ingin memberikan sandaran ...,


... maaf, maafkan aku, Mas tidak mampu menjaga.anak bungsu, Mas. Anak Mas di ambil Allah tepat di mana Mas menerima musibah. Saat itu Dek Khumaira begitu tersiksa, tertekan serta begitu terpuruk saat tahu Mas kecelakaan. Dari situ Dek Khumaira mengalami pendarahan hebat menyebabkan kembalinya titipan ke Rahmatullah. Tolong maafkan Aziz tidak bisa menjaga anak kalian. Maaf, maafkan Aziz melakukan ini semua, Mas."


Azzam tidak sanggup mendengar jawaban Aziz. Mulutnya terbuka erat dengan derai air mata berlinang. Sebegitu parah keadaan anak Istrinya atas kepergiannya. Sampai buah hatinya yang kedua tidak mampu bertahan. Sesak sekali sampai Azzam mengucap istighfar berulang kali. Tidak lupa mengucap 'Innalillahi wa innaillaihi rojiu'un.' Pedih sampai air matanya tidak mampu dibendung. Azzam begitu tersiksa mengingat itu semua apa lagi saat tahu anak bungsunya telah tiada.


Aziz tidak akan sanggup menatap mata Azzam. Mungkin saat ini Masnya begitu emosional padanya. Sungguh dia ingin menangis meluapkan emosi. Melihat kepedihan Masnya tidak sanggup rasanya ia egois. Apa lagi saat tahu calon anak manis itu telah tiada sebelum melihat dunia. Bolehkah Aziz mengutarakan perasaannya pada Azzam? Bolehkah ia meraih Masnya lalu membuat duka menjadi kebahagiaan?


Azzam menepuk bahu lebar Aziz dengan keyakinan walau hatinya begitu pedih menerima ini semua. Dia tersenyum getir melihat Adiknya merasa bersalah begitu. Pasti hati Adiknya begitu tertekan memikirkan takdir. Dengan kepedihan Azzam merengkuh Aziz untuk memberikan dukungan serta mencari kekuatan akan duka.


Ada akhirnya duka tetap ada di hati Azzam. Mau tidak mau pria ini harus netral demi meluruskan permasalahan. Dirinyalah tidak akan sanggup menerima jikalau ini tetap larut. Intinya segala doa telah terlabuh untuk almarhum anaknya.


"Maafkan Mas."


Aziz bingung tadi Azzam terkesan marah dan sekarang terkesan begitu penyayang. Masnya berusaha menutupi duka mendalam dengan berusaha keras ekspresif. Kenapa Masnya minta maaf? Dia mengerjap saat Azzam mengusak rambutnya persis seperti waktu masih remaja. Biasanya Kakaknya akan begini jika dia sedang merajuk. Aziz jadi heran pada Azsam karena sang Mas malah berekspresi begitu mengkhawatirkan?


Azzam mengusak rambut Aziz persis seperti dulu sewaktu kecil dan remaja. Adik kesayangan walau nakal nan usil minta ampun. Dia tidak menyangka Adiknya tega walau ini murni kesalahannya. Azzam akui disinilah dirinya yang salah terhadap takdir Aziz dan Khumaira. Karena itu semua calon anaknya juga telah tiada. Miris sekali takdir yang Allah berikan sehingga membuat duka.


"Maaf karena apa?"


"Merebut cintamu yang sangat kamu cintai. Ingat kenapa Mas memberi amanah padamu karena Mas tahu kamu yang mampu menjaga Dek Khumaira dan Tole Ridwan? Mas baru sadar pertama kali saat tanpa sengaja melihat patung ukir itu yang pernah Tole tunjukan dulu. Di sana Mas tahu kebenaran itu semua. Mas sangat menyesal telah mengambil cintamu, Le. Mas tahu ujungnya kalian akan menikah makanya amanat itu Mas ikatkan padamu. Mas pikir sudah meninggal namun malah hidup lagi. Jadi terasa lucu ketika menikahi wanita yang sama-sama kita cintai."


Penjelasan Azzam sukses membuat Aziz tercengang. Dia tidak pernah tahu di balik amanat itu terdapat kebenaran menyakitkan. Tubuhnya panas dingin tidak sanggup mengucap apa pun. Kenapa jadi begitu menyakitkan untuk di ingat. Aziz ingat 5 tahun silam Masnya berkunjung ke rumah. Dia tidak menyangka sebuah kebenaran terungkap.


Azzam mengingat semua ketika tanpa sengaja masuk ruang bawah tanah. Hal mengejutkan terjadi saat melihat patung yang pernah Aziz tunjukan. Bahkan dengan bodohnya membaca notebook berisi isi hati Aziz. Semua terasa menyakitkan bagi Azzam tatkala itu hendak pergi ke Brunei.


Hingga dia mencetuskan amanat terakhir agar mempersatukan Aziz dan Khumaira. Dia kira Allah tidak akan menyelamatkan hidupnya. Namun, kini Azzam kembali berhadapan dengan dua orang yang sangat dicintai. Sungguh sangat tahu akhirnya Aziz akan menikahi Khumaira. Maka dari itu amanat itu Azzam berikan untuk Adiknya.


Sekarang takdir mempermainkan kedua Kakak dan Adik. Siapakah yang akan berkorban dan pergi? Semua terasa menyakitkan untuk di ingat. Semua terasa minum madu tercampur racun mematikan. Hati keduanya terasa hancur jika teringat mereka menikahi wanita yang sama-sama di cintai.


Manakah yang akan di pilih Khumaira? Dua pria mementingkan kebahagiaan satu sama lain. Tanpa peduli perasaan sang korban. Akankah Khumaira bertahan jikalau terus begini? Mundur atau memilih salah satu dari dua pria yang teramat dicintai?!


****////\\****


**Marem ngga uhuy, Rose update buanyak kata sampai tiga ribu kata. Mantap!!!!


Kebiasaan buruk Rose, nulis langsung update tanpa edit atau revisi. Maaf ya kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan.


Semoga mimpi indah Sayangku!


Walau ingus kalian meler lap dulu.


.Rose_Crystal_030199**.