
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Special Chapter Ming Bibah dan Gus Khalid....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......***.......
Steven kedatangan pasien berumur kisaran 90 tahunan. Dia tersenyum memberi salam pada perawat akibat sakit orang lanjut usia. Dirinya memang Dokter spesialis, tetapi juga begitu cerdas dalam hal apa pun. Steven bahkan di penjara membantu perawat jika para tahanan ada yang sakit.
Meskipun ada dalam jeruji besi Steven tetap belajar dan belajar. Dia menunduk akibat Nenek tua ini terkena serangan jantung. Akibat itu semua Nenek jadi setruk dan keluarga juga sedikit. Steven yang kasihan berjanji akan selalu merawat Nenek sampai sembuh.
Nenek itu tidak lain adalah Ibu kandung Ummi Safira. Dia memilih tinggal di Iraq karena ini tanah kelahirannya. Kalau di Pakistan ia selalu mengingat almarhum Suaminya. Singkatnya Nenek hidup di Iraq bersama kerabat sekaligus cucu dari anaknya yang terakhir.
Jika boleh berharap Nenek ingin sekali berjumpa bersama anak-anaknya. Yang terpenting bertemu cucu-cucu kesayangan lebih utama Aziz. Cucu kesayangan itu sudah lama sekali tidak ke Iraq. Padahal dulu sewaktu libur panjang akan ke Iraq bersama Azzam. Nenek jadi rindu Azzam yang notabene cucu begitu alim dengan paras maskulin nan tampan.
"Assalamu'alaikum, Nek." Steven tersenyum ramah pada Nenek yang sudah di rawat kurang lebih tiga hari.
"Wa'alaikumussalam, Nak," sahut Nenek lewat gerakan mata.
"Bagaimana kabar, Nenek?" Tanya Steven seraya mengusap punggung tangan Nenek renta.
"Alhamdulillah sudah membaik, Dok." Nenek menjawab seperti tadi.
"Alhamdulillah yaa Rabb, sekarang Nenek jangan terlalu banyak berpikir. Nanti, Insya Allah anak sekaligus cucu Nenek akan segera tiba. Kalau begitu saya permisi dulu, wassalamu'alaikum."
"...."
Setelah memeriksa Steven berlalu di ikuti perawat. Dalam kesunyian ia menuju ruangannya untuk membaca daftar nama sekaligus keluh kesah para pasien hendak konsultasi. Dia jadi rindu rumah ingin pulang ke Kanada. Namun, Steven tidak akan bisa pulang pasalnya kedua orang tuanya serta keluarga yang lain sudah mendepak dari mereka.
Akibat jadi mualaf sekaligus melakukan tindakan kriminal Steven dibenci sekaligus tidak di anggap ada. Mereka membenci malah terkesan jijik pada tingkahnya. Dia meratapi diri seolah tiada ujung sewaktu ingat semua. Steven yang frustasi sekaligus terluka memilih hidup di negeri orang.
"Aku rindu kalian. Kapan kalian mau memaafkan aku? Kalian tahu aku mualaf bukan karena cinta. Aku memang benar-benar tersentuh sewaktu sering mendengar adzan sekaligus bacaan Al-Qur'an. Aku juga berharap mendapatkan dia karena sudah masuk Islam. Kalian marah sewaktu aku masuk Islam, kemudian akibat perbuatan tercela tanpa sadar sekaligus tanpa sengaja kalian mendepak dan begitu benci tanpa tahu perasaanku. Aku sakit hati ingin mengatakan betapa hancur hati ini. Aku tahu perbuatan yang akan ku lakukan adalah dosa. Hanya saja aku tidak bisa diam saja ingin menuntut balas," batin Steven.
Lain sisi tepatnya di Kediri wanita cantik sedang mengajar santriwati. Kebetulan dia liburan ke Kediri beberapa hari makanya jadi ustadzah. Wanita ini tidak lain adalah Shabibah anak keempat Abah Hasyim dan Ummi Safira. Adik kandung kesayangan Ayah dan Abi sekaligus Abi Nakhwan.
Selesai mengajar Bibah berpapasan dengan Azzam. Tentu saja ia tersenyum manis melihat Masnya . Dengan jahil ia colek pinggang Masnya. Lihat Masnya langsung mencubit pipi tembemnya. Bibah hanya tersenyum sewaktu Azzam memerlukan layaknya bocah.
Azzam tersenyum saat Bibah jahil padanya. Antah kenapa setiap dekat Adiknya ada perasaan pedih sekaligus tidak rela. Dia merasa akan ada musibah menimpa Adik keduanya sekaligus ipar Suami Adiknya. Azzam merasa kebersamaan bersama Bibah dan Khalid tidak akan bertahan lama.
Antahlah yang jelas Azzam selalu merasa firasat buruk tentang Adiknya. Setiap melihat senyum serta tawa Adiknya hati teriris. Dia jadi ingat kejadian 19 tahun silam sewaktu Adiknya menjalin hubungan terlarang dengan Dokter Amerika. Azzam tidak suka Bibah pacaran itu tidak baik dan padahal Adiknya tahu itu, tetapi tetap saja melanjutkan.
"Nduk," panggil Azzam.
"Iya, Mas," sahut Bibah.
"Tidak."
"Mas ini, bagaimana kabar Mbak ipar dan empat keponakan, 'ku?"
"Alhamdulillah, selalu dalam perlindungan Allah. Lalu bagaimana keadaan Nduk, Adik ipar sekaligus tiga keponakan, Mas?"
"Alhamdulillah, kami juga selalu dalam perlindungan Allah. Aamiin dan semoga saja selalu begitu."
"Aamiin, doa Mas selalu menyertakan kalian."
"Mas."
"Dalem."
"Ada yang ingin kukatakan, bisa ikut ke ndalem?"
Antahlah Bibah ingin menyampaikan sesuatu pada Azzam. Dia hanya merasa waktunya tidak banyak bersama anak-anaknya. Apa lagi bersama keluarganya dan ini terjadi dari tiga bulan lalu. Bibah merasa jika Allah sudah memberikan tanda padanya tentang datangnya maut.
Bibah hanya ingin tiga anaknya selalu dalam perlindungan Allah sekaligus di asuh oleh keluarganya. Dia juga mempercayakan tiga anaknya di asuh pihak keluarga Suaminya. Keluarga Suaminya begitu taat agama dan sangat baik hati serta penyayang. Hanya saja Bibah tidak akan sanggup jikalau anaknya terabaikan.
Mendengar perkataan Bibah membuat Azzam diam. Dia pada akhirnya mau ikut Adiknya ke Ndalem. Lagian sudah tiga hari tidak ke ndalem akibat kesibukan. Azzam sekalian mau sambang dan pulang telat.
Sampai ndalem Azzam memberi salam kemudian memberi salaman. Baru setelah itu ia duduk menunggu Adiknya yang masuk ke kamar. Dia selagi menunggu berbincang-bincang pada ke-dua orang tuanya sekaligus saudaranya. Azzam sebenarnya rindu keluarganya berkumpul.
Azmi masih di Kairo untuk menimba ilmu dunia akhirat. Sekarang Adik bungsunya sedang melanjutkan study S3. Apa lagi Adiknya itu sudah Hafidz Al-Qur'an sehingga menambah banyak wawasan. Sedangkan Hazza sudah punya anak dua dan Suaminya lulusan dari Universitas Al Ahgaff Hadramaut Yaman. Walau tidak punya silsilah keluarga Kiyai, tapi Suami Hazza begitu cerdas dan luas wawasan.
Untuk Najah juga sudah menikah dengan pemuda asli Timur tengah Dubai. Masih punya silsilah Keluarga kerajaan atau bisa dibilang sultan. Apa lagi pemuda ini seorang Dosen handal di usia muda. Wajah tampan, berakhlak mulia sekaligus sangat dermawan. Sekarang Adiknya itu ikut Suami di Dubai setelah tinggal di Indonesia beberapa waktu.
Lalu di sini hanya ada Mas Nakhwan dan dirinya. Sedangkan Aziz ada Yogyakarta jarang kemari. Sehingga hanya tersisa Azzam dan Nakhwan yang tetap tinggal. Sebenarnya Azzam ada rumah di Pagerharjo, tetapi belum bisa kembali sehingga di tempati Adik sepupunya.
Tidak lama Bibah duduk manis di samping Umminya. Sedangkan di pangkuan ada anak bungsu baru berusia lima tahun. Dia ingin sekali memberi tahu pada mereka pesan untuk menjaga tiga anaknya.
"Ada apa, Nduk? Abah perhatikan sedari tadi murung. Tole Khalid juga murung, sebenernya ada apa?" Tanya Abah Hasyim.
"Tentu saja, Nduk. Ayo katakan apa permintaan, Nduk?" Tandas Ummi Safira.
"Apa bisa Bibah minta kalian menjaga anak-anak kami? Begini, Bibah dan Mas Khalid akan pergi maka bisakah kalian jaga? Tolong berikan ilmu agama dan dunia. Berikan kasih sayang sepenuh hati. Kami titip anak-anak selagi kami pergi. Tolong, jadikan anak-anak menjadi pemuda dan pemudi shalihah dan shalihah," tutur Bibah.
"Dek," lirih Khalid.
"Nduk ini bicara apa? Memang mau pergi ke mana? Mau berapa lama?" Todong Ummi Safira begitu takut ini sebuah perpisahan.
"Kami mau pergi ke tempat yang indah, Ummi. Insya Allah tidak lama," sahut Khalid.
"Benar kata Mas Khalid, kami akan pergi sebentar. Sebagai umat akhir zaman pasti akan segera kembali. Abah-Ummi, Kakak dan yang lainnya tolong jaga anak-anak kami. Tole Ghassan, sebentar lagi mau masuk ke perguruan tinggi. Anak kami yang kedua juga masih kelas empat dan anak bungsu kami masih taman kanak-kanak. Bisakah ajari dua putri kami hafidz? Untuk Tole Ghassan, biarkan mu menentukan takdirnya. Yang jelas tolong tuntun anak kami ke jalan yang benar," pinta Bibah.
"Nduk," lirih mereka merasa begitu pilu.
"Kami tidak tahu yang jelas ada pertanda dari Allah. Tanda paling banyak kami rasakan sewaktu Allah memberikan tanda. Kami tidak punya banyak waktu maka dari itu berharap semoga saja Allah menerima amal ibadah kami. Anak-anak adalah salah satu kunci agar bisa mendoakan kami untuk tenang. Doa kalian juga akan kami rindukan," tutur Khalid begitu lugas.
"Mas," lirih Bibah karena Suaminya memang begitu baik dan sangat tahu tanda-tanda seseorang akan wafat.
"Le, apa benar itu?" Tanya Abah bergetar.
"Apa yang dirasakan Mas Khalid benar, Abah. Kami sudah membicarakan dua hari lalu sebelum datang kemari. Kami antah kenapa merasakan dua tanda sebelum menjelang datang malaikat Izrail. Tepat hari ke 100 dan 40 kami merasakan tanda itu telah tiba. Seorang hamba yang mencintai Allah dan Rasul-Nya akan merasa nikmat menerima tanda itu. Abah, dunia ini hanya fatamorgana dan akhirat adalah kehidupan nyata. Kami ingin segera kembali dengan begitu dunia kami telah di mulai," jawab Bibah.
"Allahu Akbar," takbir mereka seraya menitikkan air mata.
"Anak-anak masih kecil, tetapi akan jadi yatim-piatu. Namun, ada kalian serta keluarga Mas, jadi tidak terlalu gelisah. Kami mohon rawatlah anak-anak dengan tulus," pinta Bibah.
"Insya Allah," cicit mereka.
"Alhamdulillah," ucap Bibah dan Khalid.
"Alhamdulillah yaa Allah."
Melihat kepergian Bibah dan Khalid mereka menunduk sedih. Benar yang dikatakan oleh keduanya jika Allah sudah memberikan tanda di hari ke 100 bagi umat muslim yang taat agama pasti merasa begitu senang. Beda dengan umat muslim kurang taat akan gelisah.
Mau bagaimana lagi setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke sisi-Nya. Bahkan bagi umat muslim yang taat perintah Allah dan Rasul-Nya pasti menanti hari ini. Walau takut siksa kubur dan pedihnya siksa neraka, tetapi bagi orang beriman punya keberanian mempertanggungjawabkan semua.
Bibah dan Khalid pada akhirnya masuk kamar setelah menyampaikan pesan. Di sini Uzza sudah tidur sedangkan Jadda di Tebuireng Jombang Jawa timur tempat Abinya tinggal. Untuk Ghassan juga sekolah di tempat yang sama. Bibah dan Khalid ingat jika si sulung bercita-cita ingin sekolah di Universitas Al Ahgaff Hadramaut Yaman.
Mau tidak mau Bibah dan Khalid menyetujui permintaan Ghassan. Terlebih di Yaman sana pasti anaknya akan tumbuh jadi pemuda hebat. Bisa melindungi serta mengayomi dua Adik perempuannya. Tiada kata yang terucap sampai Bibah merasakan dekapan Khalid.
"Apa benar kita sehidup semati, Dek? Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui akan takdir hamba-Nya. Jika Allah menghendaki niscaya terjadi lah. Kenapa kita bisa merasa hal sama padahal itu begitu mustahil? Apa benar kita memang akan bersama selamanya baik dunia maupun akhirat?"
"Insya Allah, Mas. Atas kehendak Allah maka kita ditakdirkan bersama bahkan pulang ke Rahmatullah juga bersama. Apa yang lebih indah dari pada ini, Mas? Cinta kita abadi insya Allah bersama sampai Jannah. Dan sebentar lagi akan terjadi dan kita tidak tahu meninggal kita dengan cara bagaimana? Tidak ada yang mustahil bagi Allah sang Pencipta. Insya Allah, Mas."
"Allahu Akbar, Maha Besar Allah dengan segala kuasa-Nya. Aamiin semoga saja, Dek. Tidak ada, Dek. Bisa ditakdirkan bersama dengan cinta atas nama Allah dengan syafa'at Rasullullah kita bersama. Dengan syafa'at Al-Qur'an kita selalu bersama sampai maut. Allahu Akbar, tiada yang lebih indah dari pada ini, Dek. Aamiin Allahuma Aamiin. Apa pun takdir kita akan kembali ke sisi-Nya, tetapi yang utama kembali dalam keadaan Husnul khatimah Aamiin. Benar, Dek. Bagi Allah tidak ada yang mustahil karena diri-Nya Maha Bisa. Insya Allah."
"Ya Allah, alangkah beruntung Adek mendapat, Mas. Jika waktu itu Adek tidak menerima perjodohan itu mungkin saja Adek tidak akan punya imam senantiasa membimbing ke jalan yang benar. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Adek begitu mencintai Mas karena Allah dan berharap kita selalu bersama selamanya bahkan di pertemukan di Surga-Nya, Aamiin."
"Mas juga beruntung mendapatkan Adek jadi pendamping sampai Surga-Nya. Adek wanita luar biasa jika tidak bersama Mas mungkin akan mendapat imam jauh lebih baik. Mas hanya pria penuh dosa tidak sebaik itu, Dek. Mas juga sangat mencintai Adek karena Allah. Sangat cinta atas kuasa-Nya dan menteladani Rasulullah. Aamiin yaa Rabb."
"Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillaahil-Hamd Alhamdulillah yaa Rabb Engkau berikan pasangan begitu baik."
Tanpa buang waktu Shabibah mendekap erat Khalid seraya menangis dalam diam. Dia tidak akan pernah bisa menjabarkan betapa beruntung bisa mendapat Suami sebaik ini. Cinta pertamanya memang pemuda mualaf hebat yang mampu menggetarkan hati. Sedangkan cinta terakhir sekaligus cinta sejatinya adalah sang Suami tercinta. Bibah tidak akan bisa mengatakan apa-apa selain selalu mengucap syukur atas kebesaran Allah telah mentakdirkan bersama Khalid.
Sedangkan Khalid tersenyum teduh atas semua yang diberikan Allah. Harapan hanya satu sebelum kepergian mereka ingin membahagiakan ketiga buah hati. Dia harap semoga saja anak-anaknya tumbuh menjadi manusia berakhlak mulia. Khalid juga begitu beruntung sekaligus begitu terharu bisa memiliki Bibah dalam hidupnya.
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Semoga cinta kita sampai Surga-Nya Aamiin."
"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah. Aamiin yaa Allah."
...Cut ....!!!!...
...Chap depan special chapter Ayah dan Umi. ...
...Aku ngilu huhuhu....
...Jika ada kesalahan dalam penulisan dan penjelasan harap maklum. Belum tak koreksi jadi kalau banyak kesalahan harap maklum....
...Sampai jumpa lagi....
...Salam cinta Rose....
...04_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....