Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Bonus Chap AI 2 - Kumpul Keluarga Besar Ayah!



Assalamu'alaikum, semua.


Maafkan Rose baru muncul, eyakkkk.


Tugasku di Story Ini sudah berakhir update setiap hari. Beberapa bulan aku prioritaskan sekarang gantian.


Harap maklum ya Say!


Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini.


....***....


Ridwan dengan semangat menyambut kedatangan Ayahnya. Dia begitu senang akhirnya pulang juga setelah puasa ke 21. Sungguh ia sudah menunggu di ruang tamu bersama Mbah Kakung sekeluarga besar. Em, kira-kira siapa yang di bawa Ayah? Ridwan penasaran siapa gerangan yang di bawa Ayahnya?


Um, mungkin Mumtaaz atau Faakhira?


Atau malah datang sendiri seperti kemarin?


Mungkin saja datang sendiri tanpa ada yang menemani. Tetapi, tidak mungkin sendiri pasti ada yang menemani. Memikirkan itu semua Ridwan tidak sabar bertemu Ayahnya lalu pulang bertemu Umi, dan ketiga Adiknya terutama si kecil Dedek Zavi.


Azzam tersenyum melihat Ridwan sangat antusias menunggu kedatangan Aziz. Ia begitu tahu seberapa besar kasih sayang anaknya itu untuk si Adik. Bahkan mata Hazel sang putra senantiasa cerah mendengar dia bercerita tentang Aziz. Antah kenapa rasa tidak rela anaknya pergi menghantui pikiran. Azzam hanya manusia biasa memiliki rasa cemburu, iri dan segala rasa jika kehilangan.


Buru-buru Azzam istighfar saat perasaan cemburu itu datang lagi. Seharusnya sangat bersyukur Adiknya telah membuat Ridwan sudah tidak canggung lagi padanya dan Mahira. Kini ia sudah punya empat anak dari Mahira lalu Ridwan akan ia lihat lagi usai lebaran. Jadi Azzam tidak boleh berpikir negatif tentang rasa.


Keluarga besar Abah Hasyim telah menanti kedatangan Aziz. Hingga mereka mendengar suara deru mesin mobil telah terdengar. Sontak Ridwan lari menuju luar menyambut kedatangan Ayah tersayang. Mereka ikut keluar melihat kedatangan biang narsis.


Aziz keluar dan meminta para penghuni mobil diam dulu. Saat di luar ia langsung membentangkan tangan menyambut dekapan Ridwan. Benar saja anak sulungnya langsung mendekap erat tubuhnya. Dia balas dekapan anaknya penuh kerinduan. Aziz ciumi puncak kepala Ridwan lalu memberikan ciuman sayang di kening. Saat sadar sesuatu ia langsung mengucapkan salam dengan wajah polosnya. Syukur mereka begitu baik mau memaafkan kenakalannya.


Ridwan tersenyum haru akhirnya bisa melihat Ayahnya. Dia langsung merengek manja mengatakan banyak kata rindu lalu mengatakan segala hal. Ia sangat rindu walau agak kecewa Ayahnya datang sendiri. Padahal Ridwan ingin melihat salah satu Adiknya atau Uminya. Ridwan tetap berpikir positif mungkin Ayahnya bawa kucing cucunya Vivi lalu punya cucu itu punya anak lagi.


Nah Vivi di sebut apa? Mbah buyut?


"Ayah, bawa siapa?" Tanya Ridwan masih betah namplok di tubuh Ayahnya.


"Bawa cucunya, Vivi. Mau lihat?" Aziz tersenyum saja melihat respons Ridwan berbinar.


"Tentu saja mu lihat generasi ketiga si, Vivi. Ada dalam mobil atau bagasi?"


"Dalam, lepas dulu pelukannya biar Ayah salaman pada Mbah Kakung, Mbah Uti dan yang lain."


"Hehehe, masih mau peluk Ayah ngga mau lepas. Kangen Ayah ngga mau lepas."


"Lalu bagaimana lihat si kucing? Gih leaps ngga enak di lihat banyak orang. Ayah juga kangen banget sama, Kakak."


"Kakak jauh lebih kangen, Ayah. Ok, Kakak lihat dulu ya si generasi ketiganya, Vivi."


"Hm."


Aziz tersenyum saat Ridwan melepas dekapannya. Dia beralih menuju keluarga lalu memberikan salaman pada kedua orangtuanya lalu saudara dan saudari sekaligus ipar. Saat berhadapan dengan Azzam ia merasa tidak enak hati pasalnya sang ank sulung begitu mencintainya. Dia tahu Masnya cemburu maka dari itu mendekap sang Kakak sembari mengatakan kata sayang. Aziz tidak mau memonopoli Ridwan walau rasa sayangnya begitu besar. Namun, cinta Masnya jauh lebih besar dan tidak boleh egois.


Azzam membalas dekapan Aziz sekaligus mengatakan maaf. Maaf karena ia itu pada Adiknya. Maaf karena hatinya selalu sensitif. Maaf karena berpikir negatif yang membuat hati gundah. Azzam sangat tahu Aziz akan memaafkan karena tahu sikap sang Adik. Jadi wajar jika Ridwan begitu mencintai Aziz laksanakan orang tua biologis.


Dalam mobil Khumaira dan anak-anak tampak diam melihat momen manis antara Aziz dan Ridwan. Mereka tersenyum senang melihat si sulung telah terlihat. Dalam pancaran mata tersirat banyak makna ketika menatap keharuan Ayah dan anak. Hingga Ridwan memutuskan jalan ke arah mereka dengan mata berbinar terang.


Untuk Abah Hasyim dan yang lainnya menatap Aziz dan Azzam dalam. Mereka lalu menatap Dean melihat Ridwan sudah siap membuka pintu mobil depan. Saat terbuka mereka diam saat Ridwan tiba-tiba memekik. Apa ada sesuatu dalam mobil sampai heboh? Jelas ada kan ada kucing menggemaskan jadi Ridwan sangat senang.


Ridwan terbelalak tidak percaya melihat Umi sedang menggendong Dedek Zavi. Lalau ia melihat dua Adiknya nyengir kuda di belakang sang Umi. Matanya berkaca-kaca saat tahu Ayahnya telah membawa hadiah jauh lebih indah. Dia bahkan langsung diam saat tangan kecil Adiknya Zaviyar mendarat di pipinya. Ridwan sadar Dedek Zavi kaget makanya merajuk dengan menepuk pipinya keras pakai tangan gembul menggemaskan.


Zaviyar kaget gara-gara Ridwan memekik alhasil tangan kecilnya menepuk pipi kakaknya. Setelah sadar ia langsung menangis histeris akibat ulah Kakaknya. Tangan serta kaki kecilnya berusaha membuah Kakak sulung pergi. Zaviyar tidak mau melihat Ridwan salah sendiri nakal.


Khumaira menyambut salaman si sulung lalu menciumi wajah Ridwan sebelum memberikan asi pada Zaviyar. Anak gantengnya ini tetap meminta si Kakak tidak muncul takut tiba-tiba Melik lagi buat kaget. Khumaira sejatinya mau peluk, tetapi anak tampannya belum mau lepas minum asi.


Ridwan merengut di usir Adik bungsu alhasil memilih masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang. Dia dengan sayang menyalami Adik-Adiknya lalu memberikan dekapan hangat. Saat mendekap Mumtaaz dan Faakhira si kecil mengintip dari celah. Ridwan gemas sendiri pada Adiknya yang imut lucu.


Mumtaaz dan Faakhira saling berebut mendekap erat Ridwan. Mereka tidak peduli Kakaknya pengap gara-gara ini. Masa bodoh asal pelukan hangat tetap terjalin. Keduanya masih manja gemas mendekap kakaknya erat. Mumtaaz dan Faakhira tersenyum lebar akhirnya Ridwan bisa di lihat. Sungguh keduanya sangat rindu pada Kakak sulung mentok sampai ujung.


Di luar Aziz tersenyum manis ketika keluarganya sadar. Dia hanya tersenyum mengatakan membawa Istri dan anak-anakku. Alhasil mereka tersenyum cerah tidak sabar melihat anak-anak manis. Lalu si kecil Zaviyar.


Pada akhirnya Khumaira keluar usai menyusui. Dia gendong Zaviyar sementara Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira jalan beriringan. Si cantik di tengah mengandeng tangan dua Kakak ganteng. Alhasil mereka begitu manis untuk di culik jadi pajangan.


....***....


Setelah acara mengharu biru Ridwan berusaha mendekati Zaviyar, tetapi si kecil tidak mau. Bahkan semua orang kecuali orang yang familiar batu mau. Mereka hanya bisa melihat bayi gembul itu berceloteh panjang lebar mengajak bicara Mumtaaz dan Faakhira. Saat ada yang menoel pipi atau lengang si kecil menepis bahkan mengusap. Zaviyar tidak cengeng malah suka sinis jika belum kenal sok akrab.


Aziz yang tahu mereka ingin gendong Zaviyar terutama di Kakak Ridwan. Dia gendong bayi gembulnya lalu mendekat pada Ridwan. Tetapi Anaknya malah menyembunyikan wajah di bahu lebar Ayahnya. Ya Allah, kenapa anaknya tidak suka di sentuh orang yang belum familiar. Alhasil Aziz harus membujuk Zaviyar.


"Dedek Zavi," panggil Aziz sembari mencium kepala anaknya yang tertutup kupluk.


"Stavbhsrz jgngsfs nftvbfs," sahut Zaviyar sambil dumel pakai bahasa alien.


"Kakak Taaz dan Faa, mana?" Pancing Aziz berusaha membuat Zaviyar mau ikut mereka.


Zaviyar langsung tersenyum lebar sembari bertepuk tangan heboh. Sontak tangan kecil itu menuding Mumtaaz dan Faakhira penuh senyuman. Tentu melihat itu semua mengundang gelak tawa gemas akan kecerdasan si kecil. Zaviyar ikut tertawa saat Ayah, Umi serta yang lain tertawa.


"Umi mana?" Tanya Aziz lagi seraya mencium pipi gembul Zaviyar.


"Mimmm ... Sbevgrya vsbrhrbvsv," riang Zaviyar mu gendong Uminya setelah Ayah menyebut Umi.


"Lalu Ayah?"


Sontak saja Zaviyar merengkuh leher Ayah lalu mengigit pipi. Dia tersenyum manis saat Ayahnya menggeleng lucu. Ia kembali melakukan hal sama sampai puas. Zaviyar kemudian menatap Ayah kala mengusap pipi.


"Kak Wan, Mana?"


"....?" Zaviyar bingung siapa Kak Wan?


"Kak Wan, Kakaknya Dedek Zavi. Jadi jangan nangis sama Kak Wan. Ayo Mana Kak Wan?" Terang Aziz.


"Hsbvrvgah bzbdhhehav bdhejhsvvabs mdnbtkrje sbsbehueuev."


"Hu'um, Kakaknya Dedek Zavi. Ayo ikut jangan takut kalau nakal nanti Ayah cubit."


Aziz mengulurkan tangan agar Ridwan dekat padanya. Sewaktu dekat ia raih tangan si sulung untuk mengusap pipi gembul Zaviyar. Awalnya mau menolak, tetapi si kecil tetap mau di elus. Setelah terbuai ia serahkan tubuh gempal si bungsu pada anak sulungnya. Dan akhirnya Aziz berhasil membuat Zaviyar mau di gendong Ridwan.


Ridwan begitu senang Ayahnya mampu menaklukkan Zaviyar lalu akhilnya si kecil ada dalam gendongannya. Ia ciumi wajah bulat Adik kecilnya lalu duduk sembari mengucap syukur. Saat dia sedikit bersenandung shalawat Adiknya tampak senang. Aja, Ridwan punya kuncinya Zaviyar bakal anteng jika dirinya bersholawat.


Pada akhirnya berkat Aziz dan Khumaira yang telaten mengenalkan satu-satu anggota keluarga akhilnya Zaviyar mau di gendong. Walau hanya sebentar pasalnya ia mau duduk dekat Ridwan karena ingin dengar sholawatan. Zaviyar bahkan menepuk-nepuk paha Kakaknya lalu matanya menyorot memohon.


Tentu saja Ridwan maksud langsung bersenandung shalawat Nabi. Tangannya bertepuk tangan dan di ikuti si kecil. Sungguh pemandangan manis ketika Zaviyar jadi tontonan akibat kelucuannya. Ridwan jadi begitu senang Adiknya begitu menggemaskan.


Mahira dan Azzam tersenyum gemas melihat Zaviyar begitu menggemaskan. Lihat saat Khumaira menggendong Emran anak bungsu Adik ipar tampak merengut. Si kecil merengut menatap Umminya di ambil Dedek bayi. Mahira menyenggol Azzam agar mengambil Zaviyar.



Zaviyar menatap Uminya berbinar setelah kena notice. Ia sudah melepas kupluk sehingga terlihat menggemaskan. Bayi ganteng umur sebelas bulan ini berjalan ke arah Umi. Takut nanti ASI-nya di ambil Adik bayi dalam dekapan Uminya. Zaviyar merentangkan tangan minta gendong, tetapi malah berakhir di gendong Pakdenya. Matanya berkaca-kaca tidak mau di gendong Pakde maunya Umi.


Khumaira menyerahkan bayi manis berumur sepuluh delapan Minggu pada Mahira. Kemudian ia mengambil anaknya dari Azzam. Dia minta maaf pada Mas ipar akan tingkah Zaviyar begitu lucu. Khumaira menyengit ketika Zaviyar minta asi.


Aziz yang paham meminta Khumaira masuk ke kamarnya. Toh kelihatan sekali Zaviyar mengantuk lalu meminta Faakhira ikut karena sang princess mengantuk. Dia duduk manis meminta Emran nama anak ke empat Masnya. Nama Keponakannya yaitu Muhammad Emran Ali Khusain. Aziz menciumi pipi tembem bayi tampan sang kakek.



Matanya menyorot polos pada Pamannya. Lalu ia memilih mengemut Ibu jarinya. Dia anak yang manis mau di ajak pada siapa saja asal punya darah yang sama. Kalau bukan menangis keras sehingga membuat gemas.


"Tole Aziz, piawai banget mengurus anak kecil. Padahal dulu saat muda begitu jahil dan sekarang begitu di cinta anak-anak," komen Nakhwan.


"Betul, Mas. Dulu saja sangat manja sering kali minta ini itu padaku," kekeh Azzam.


"Bahkan dulu saat pertama gendong Rizky dikencingi. Hahaha," imbuh Shabibah.


"Lalu saat di Al-Azhar dulu Mas Aziz malah yang sering ngerekek pada, Mas Azzam. Bahkan Mas Aziz suka mengambil jatah Najah," nimbrung Najah.


"Walau begitu Mas Aziz baik kok sering mengajari Hazza," bela Hazza.


"Mas Aziz juga yang selalu mengirim uang ke Azmi untuk uang jajan. Mas Aziz baik banget deh," imbuh Azmi si bungsu baru masuk 23 tahun. Masih sekolah di Al-Azhar Mesir.


"Astaghfirullah, kalian ghibah ingat umur. Sudah tuan ghibah bikin malu saja," respons Aziz merasa geli akan masa mudanya telatnya ketika umurnya 26 tahun ke bawah ancur harga diri akibat begitu narsis, gila, jahil, usil, urakan dan manja.


Tawa langsung pecah mendengar respons Aziz. Sedangkan Mumtaaz dan Ridwan hanya ikut ngakak saja dari pada kena slantap. Pada akhirnya keluarga ini saling tersenyum lalu berhenti ketika bunyi adzan ashar berkumandang. Mereka memutuskan untuk shalat Jam'aah.


Lagian Gus Azmi ada kelas mengajari para Santriwan. Dia kebetulan mengajar kelas enam setara dengan Mantiq. Ia masih muda, tetapi jangan salah sudah hafidz satu tahun lalu. Kini dirinya sedang meraih gelar master di Universitas Al-Azhar. Rencana mau ambil gelar Doktor sekalian karena sudah hafidz.


Cut ....!!!


Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan karena belum tak edit. Nanti tak edit setelah tak publis.


Maaf ya tidak bisa update setiap hari karena kurang beberapa chap lagi habis.


Biar ngga sedih aku kasih foto Dedek Zavi kecil deh.





Sudah ya Aunty jika mau culik Dedek Zavi besok saja umur tiga tahun. Mwuhehehe.


Nah senyum kalian sebentar lagi hilang pasalnya badai benar-benar datang dengan hilangnya si menggemaskan Dedek Zavi. So sad 😭😭😭🙏🙏🙏


Wassalamu'alaikum.


Rose.